29 November 2008

Isu ALA di Konferensi Interpeace

Tanggal 19 November yang lalu, bertempat di Hotel Hermes Palace, saya mengikuti konferensi internasional yang diprakakarsai oleh Interpeace dan ASEM networks. Konferensi yang diberi tema "Locals, "Outsiders" and Conflict ini salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan
informasi baru dan analisa yang solid tentang bagaimana komunitas lokal dan komunitas pendatang mempengaruhi dinamika perdamaian dan konflik.

Berbeda dengan diskusi di acara peluncuran buku yang saya hadiri dua hari sebelumnya, dalam konferensi yang dihadiri oleh banyak ahli dari berbagai negara dengan membawa informasi dan pengalaman masing-masing dalam memetakan dan menangani konflik ini saya menemukan banyak informasi baru yang dapat digunakan untuk memetakan dan menemukan solusi yang tepat untuk menangani situasi perpolitikan Aceh saat ini.

Khusus untuk memahami permasalahan yang terjadi di kampung halaman saya berkaitan dengan isu ALA. Saya merasa sangat tertarik pada makalah dari dua pembicara dalam konferensi ini. Pertama makalah dari pembicara asal Aceh, Dr.Humam Hamid yang dan yang kedua adalah makalah dari pembicara asal Barcelona, Dr.Jordi Urgell.

Dalam makalahnya dia beri judul `Dynamics of Ethnic Relationships in Aceh' Dr.Humam mengatakan bahwa berkembangnya isu diskriminasi etnis di Aceh belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah dan masyarakat Aceh pesisir yang merupakan etnis dominan di provinsi ini yang kurang menghormati budaya etnis minoritas yang juga merupakan penduduk asli provinsi Aceh.

Makalah Dr.Humam ini menarik bagi saya karena ide-ide yang ditulis Dr.Humam dalam makalahnya banyak yang sejalan dengan pandangan saya selama ini. Misalnya dalam berbagai tulisan yang saya post di blog saya www.winwannur. blogspot. com dan www.gayocare. blogspot. com, saya selalu membedakan antara Aceh sebagai sebuah wilayah dan Aceh sebagai sebuah etnis. Aceh sebagai etnis adalah Orang Aceh yang tinggal di pesisir, sedangkan Aceh sebagai sebuah wilayah adalah Aceh yang dihuni oleh 9 macam etnis penduduk asli.

Seperti yang sering saya nyatakan dalam berbagai tulisan saya. Dalam makalahnya Dr.Humam juga menjelaskan hal yang sama. Sayangnya menurut Dr.Humam kenyataan ini tidak disadari atau pura-pura tidak disadari oleh etnis Aceh dan juga pemerintah Aceh yang didominasi oleh orang Aceh yang berasal dari etnis Aceh.

Dalam kultur yang plural seperti di Aceh ini idealnya etnis-etnis minoritas yang juga merupakan penghuni asli wilayah Aceh diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri baik secara politik, ekonomi maupun budaya.
Saya sangat setuju dengan pandangan Dr.Humam karena kenyataannya dominasi suku Aceh dalam setiap aspek kehidupan di provinsi ini memang sangat terasa. Bahkan dalam hal berkesenianpun. Ketika orang Aceh memperkenalkan kesenian Aceh ke dunia luar, baik dalam maupun luar negeri. Yang selalu ditonjolkan adalah kesenian Aceh pesisir.

Seolah-olah semua kesenian yang ada di Aceh ini hanyalah kesenian milik Aceh pesisir. Padahal kesenian etnis lain juga banyak yang tidak kalah menariknya. Misalnya dalam seni tari selain Seudati yang merupakan tari klasik Aceh pesisir dan berbagai tarian Aceh pesisir kreasi baru lainnya. Sebenarnya di Aceh ada banyak tarian klasik dari suku lain misalnya Saman Gayo, Tari Bines dan Tari Guel yang berasal
dari Gayo. Saya yakin ada banyak tarian asli Aceh lain milik suku Tamiang, Singkil, Kluet, Aneuk Jamee dan lain-lain, tapi semua jarang sekali ditampilkan sehingga orang luar hanya mengenal kesenian Aceh
hanyalah kesenian Aceh pesisir.

Orang Gayo yang merupakan etnis terbesar kedua di provinsi ini setelah ertnis Aceh seringkali merasa mereka direpresi oleh suku Aceh secara kultural. Banyak orang Gayo yang merasa eksistensi kultural mereka diabaikan oleh orang Aceh. Tapi di sisi lain orang Gayo melihat beberapa karya budaya mereka dibajak dan diakui sebagai karya budaya milik suku Aceh. Misalnya banyak seni tari Aceh kreasi baru sebenarnya adalah tarian modifikasi dari tarian klasik milik suku Gayo terutama tari Saman Gayo. Tapi oleh seniman yang menciptakannya tarian hasil modifikasi itu dinamai dengan berbagai nama khas Aceh pesisir tanpa sedikitpun menjelaskan bahwa tarian itu adalah hasil adaptasi dari tari Gayo klasik yang bernama tari Saman. Karena tidak ada penjelasan, para penonton yang menikmati tarian itu merasa seolah-olah bahwa tarian yang mereka saksikan dengan penuh kekaguman itu adalah tarian klasik Aceh pesisir. Ini sangat menyakitkan bagi orang Gayo.

Hal yang sama juga terjadi dengan karya seni bordir khas orang Gayo yang disebut Kerawang Gayo. Karya seni Kerawang Gayo ini adalah karya cipta kebanggaan orang Gayo. Motif-motif bordirannya yang khas dapat kita lihat dalam sertiap pakaian adat orang Gayo. Tapi ketika belakangan orang-orang Aceh pesisir mulai mempelajari teknik pembuatan kerawang dan mulai memproduksi kerajinan kerawang. Merekapun mulai memperkenalkannya karya seni ini sebagai Kerawang Aceh. Sama seperti dalam hal tarian dalam hal inipun orang Gayo yang minoritas merasa dirampok.

Kebetulan dalam konferensi ini panitia menghadirkan pertunjukan tarian Aceh sebagai selingan saat jeda menjelang coffee break pertama. Salah satu tari yang ditampilkan adalah tarian Aceh kreasi baru yang banyak menampilkan gerakan-gerakan Saman Gayo dalam koreografinya. Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, saat saya menanggapi pemaparan makalah Dr. Humam. Tarian yang ditampilkan ini langsung saya angkat sebagai salah satu contoh kurangnya penghormatan terhadap budaya minoritas.

Dalam forum yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara ini saya katakan bahwa tarian itu adalah salah satu bentuk pembajakan terhadap karya seni milik suku minoritas oleh suku mayoritas. Ketika menyebut kata pembajakan dalam forum ini saya menggunakan kata `hijack' bukan `piracy'. Kata ini saya pilih karena saya menganggap kata `hijack' lebih tepat untuk menggambarkan kasarnya aktivitas pembajakan cultural yang dilakukan oleh suku Aceh terhadap karya seni orang Gayo ini.

Pernyataan saya itu sepenuhnya diamini oleh Dr.Humam. Beliau sama sekali tidak menampik apa yang saya paparkan, malah beliau menambahkan kalau selama ini memang banyak hambatan kultural dan dominasi etnis Aceh pesisir yang membuat etnis-etnis minoritas di provinsi ini merasa asing di tanah mereka sendiri.

Setelah hal itu saya ungkapkan di forum ini, banyak peserta konferensi dari luar negeri yang mendekati saya untuk menanyakan lebih jauh tentang tari Saman Gayo yang gerakan-gerakannya dibajak oleh tari Aceh yang kami saksikan tadi dan dengan senang hati saya jelaskan. Sayangnya tidak semua konferensi internasional tentang Aceh atau pertunjukan seni Aceh dihadiri oleh orang Gayo.

Perasaan-perasan negatif yang dirasakan oleh etnis minoritas seperti ini, jika terus dibiarkan terjadi di provinsi yang pernah lama berada dalam situasi konflik ini tidak bisa tidak, pasti akan menghadirkan
konflik baru antara mayoritas dengan minoritas. Bibit-bibit konflik ini sudah mulai disemai dengan cara mengeksploitir isu dominasi suku Aceh atas suku Gayo oleh orang-orang yang menamakan dirinya pejuang ALA.

Sebenarnya situasi seperti yang kita alami di Aceh sekarang ini adalah situasi yang jamak terjadi di wilayah dunia manapun yang pernah mengalami konflik vertikal.


Dr.Jordi Urgell dari School for a Culture of Peace, Autonomous University of Barcelona yang juga menjadi pembicara dalam konferensi yang saya hadiri ini. Dalam makalahnya yang dia beri judul `Minorities Within Minorities in South East Asia', mengatakan bahwa dalam banyak konflik antara pusat yang mayoritas dengan daerah yang merupakan minoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak dari konflik itu terjadi disebabkan oleh cara pemerintah sebuah negara yang memperlakukan kelompok minoritas dengan cara pikir dan pola perlakuan ala kelompok mayoritas di negara tersebut.

Tapi ketika konflik terselesaikan dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas secara nasional. Hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang
merupakan minoritas secara lokal (minorities within minorities).

Konflik sering terjadi karena kelompok yang merupakan minoritas secaranasional yang kini menjadi mayoritas secara lokal melalui kekuasaan yang lebih besar yang baru mereka dapatkan memperlakukan minorities within minorities ini seperti mereka dulu diperlakukan oleh kelompok mayoritas nasional sehingga minorities within minorities merasa terancam eksistensinya.


Perlakuan ini misalnya bisa dilihat dari sikap Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh di depan publik yang sering tidak menunjukkan rasa hormat kepada suku-suku Aceh minoritas. Sikap itu mereka tunjukkan dengan perilaku berbahasa mereka yang hanya mau berbahasa Aceh kepada orang Aceh mana saja yang menjadi lawan bicara mereka, tidak peduli asal-usul sukunya.


Situasi seperti ini seringkali membuat minorities within minorities merasa lebih terjamin eksistensinya ketika kelompok yang minoritas secara nasional ini masih dalam posisi minoritas.

Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.


Wassalam

Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
www.gayocare. blogspot. Com


Bravo bang Win Wan Nur..
Kusewahen rasa salutku ken pemikiran ni abang....

saya sangat tertarik dengan penuturan Bang Nur, ini fakta yang sudah terjadi sejak dulu, kenapa saya katakan sejak dulu, saya menggunakan ukuran ketika perihal relasi antara suku aceh dan gayo kepada kakek - kakek dan nenek-nenek yang ada di Tanoh Gayo, mengatakan bahwa dari dulu kita memang tidak pernah cocok dengan Urang Aceh, saya pikir argumentasi para pendahulu kita dulu ada benarnya juga, hal ini terlihat dari peminggirin suku Gayo dari seluruh aspek kehidupan di Aceh mulai dari Pendidikan, pemerintahan sampai kepada budaya pun mereka dengan percaya diri hadir sebagai plagiator seni dan sebagai penguasa tunggal daerah, terkesan bahwa selain suku aceh adalah pendatang (hal ini juga kami dengar langsung dari Alm. Prof Dr. Abdullah Ibrahim (sejarawan UGM) yang notabene suku Aceh), ini sama saja memutarbalikkan fakta yang mengatakan bahwa SUKU PENDALAMAN merupakan suku asli suatu daerah. saya pikir kasusnya sama dengan apa yang terjadi di lampung yang jadi korban adalah masyarakat lampung tengah, juga seperti betawi.

fakta ini kemudian dijadikan oleh orang - orang ALA untuk "menyakinkan" masyarakat gayo untuk melakukan pemisahan dengan NAD, pun pada perjalanan "perjuangan" mereka tidak begitu mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat Gayo.

Akar masalahnya sebenarnya adalah ketidakadilan dan penindasan dari segala aspek yang dilakukan oleh suku mayoritas (aceh) terhadap 8 suku minoritas yang ada di Aceh. pertanyaannya kemudian apakah ada jaminan ketika ALA terbentuk suku minoritas bisa serta merta merubah keadaan menjadi lebih baik? sulit bagi saya untuk mengatakan YA.

Sebenarnya ketika kita sudah mengetahui akar masalahnya kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan marwah gayo di luar Aceh bahkan Internasional, tapi sejujurnya saya juga belum menemukan formula yang pas untuk bangkit dari ketertindasan suku mayoritas dalam hal ini aceh. nah untuk itu saya ingin menggali pemikiran bang win wan nur, karena abang seperti yang saya kutip dibawah ini pernyataan abang tentang penyelesaian masalahnyapun tidak bisa lepas dari bingkai ini

Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang
terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within
minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.


karena kami yang selama ini ada di Tanoh Gayo merasakan betapa, kerawang, saman telah mengoyak hati kami, ketika kami berada di yogyapun dalam kurun waktu 1995-2006 , yang ditonjolkan selalu saman dengan diberi embel-embel inong jadi nama tarian SAMAN INONG dari ACEH. belum lagi kebijakan yang diskriminatif, atas nama Gayo nomor dua saja, terlebih saat ini ada kerawang aceh seperti yang dikatakan oleh bang win wan nur, tambahan dari saya, ukiran kerawang aceh sering pula menghiasi gedung-gedung sebagai ornamen gedung untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa ini lho ciri khas aceh, padahal itu jelas-jelas gayo PUWE. jadi seolah-olah seperti gedung-gedung pemerintahan yang ada di sumatra barat.

berejen bang atas penjelasanne, mokot di nge kite tertindas wan segala aspek kehidupan, cume kurasa pisah rum NAD nume jeweben cerdas,, tolong bang, mungkin ara formula si lebih elegan, berejen atas penjelesanne. .


regards,,

edhie gayo

Ulasan Kosasih Bakar:

Sebelum Bang Win Wan Nur membalas ini, perkenankan saya memberikan beberapa masukan.
Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan Bang Win Wan Nur:
Pertama, Bang Win Wan Nur mengakui adanya ketidakadilan terhadap suku Gayo yang diberlakukan oleh orang Aceh Pesisir (demikian sebuatan Bang Win Wan Nur), baik dari segi pemerintahan maupun kebudayaan juga sejarah, hal yang paling membuat terlihat usaha itu adalah ketika penggantian nama Kute Reje menjadi Banda Aceh.
Kedua, kemudian permasalahan ‘minorities within minorities’ atau Bang Win Wan Nur menjelaskannya dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas mak hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang merupakan minoritas secara lokal.
Kemudian tambahan dari Edi Kelana yang mencoba untuk mengangkat sukuisme dari Gayo, dengan mengatakan bahwa Gayo adalah pemilik dari Aceh.
Sebenarnya saya masih menunggu tulisan dari Bang Win Wan Nur selanjutnya, karena sudah menjadi kebiasaan dari Beliau dalam setiap penulisannya untuk menyetujui segala hal yang saat ini menjadi permasalahan, namun kemudian Beliau dengan elegan mencoba mempertahankan apa yang selama ini menjadi keyakinannya, untuk tidak setuju dengan pemekaran ALA. Dan hal ini sudah diindikasikan oleh Bang Win Wan Nur dalam akhir tulisannya yang kemudian dicoba diperjelas oleh Edhi.
Baiklah, untuk kesimpulan pertama saya sepenuhnya setuju dengan Win Wan Nur, begitu juga dengan alasan Edi Kelana, amat setuju.
Untuk kesimpulan ke dua, saya hanya bisa berucap setuju juga dengan Win Wan Nur, saya juga mengerti jika Win Wan Nur mengajak kita untuk berpikir bahwa dengan Gayo pisah, maka Jawa juga akan meminta pisah nantinya, atau sering saya katakana sebagai lingkaran setan.
Sebelum saya lanjutkan, sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang menyebabkan banyak dari kaum intelektual Gayo tidak setuju dengan pemekaran, ini merupakan hasil catatan saya ketika mengikuti teleconference dengan muda-mudi Gayo.

Tidak Setuju Pemekaran
Alasan Pertama, Aceh adalah milik Gayo, jadi tidak ada alasan kalau kita memisahkan diri, jujur saja saya juga dulu berpendapat seperti ini, sampai-sampai ama, ine, pak cik dan pun-pun saya tentang dengan hujjah seperti ini. Saya teringat bahwa pernah mengatakan kepada Pun saya, dengan nada keras “Cik, enti anggap lemah urang Gayo ni, kite si empun tempat, hana kati kite mulepas daerah si kite kuasai. Sawah ku ujung langit pe muyang datun te gere perah ijin kin pemekaren ni.” Waktu itu sampai merinding saya mengatakannya, karena ketidaksukaan dengan isu pemekaran ini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir keras, kebetulan saya tinggal di Jakarta, bekerja di salah satu Departemen Pemerintah dengan anggaran yang paling tinggi saat ini. Saya juga sering mendampingi atasan saya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dan kebetulan ia senang mengunjungi daerah-daerah yang tertinggal. Saya pernah mengunjungi seluruh wilayah NTT dalam 2 kali kunjungan kerja, saya sangat miris bagaimana daerah kota di NTT lebih bagus dengan kecamatan yang ada di Jawa. Saya juga ke Papua, Kalimantan, Sulawesi dan banyak lagi, sepertinya hampir setiap provinsi di Indonesia saya pernah kunjungi.
Tiba-tiba kesombongan saya itu runtuh, saya baru sadar bahwa sekarang zaman sudah berbeda, sudah tidak ada lagi Raja Gayo yang kita banggakan sebagai penguasa Sumatera, saya seperti sadar baru menginjak bumi, sekarang ini adalah menghadapi kenyataan yang ada untuk memperbaikinya. Pola pikir saya langsung berubah, tiba-tiba saya sadar bahwa dengan daerah saya Gayo pun tidak lebih baik dari daerah-daerah yang saya kunjungi, utamanya kampong halaman saya.
Lantas saya teringat bahwa pada daerah-daerah pemekaran yang saya kunjungi, ternyata ada yang sedemikian maju seperti Banten dan Gorontalo, mereka begitu menggeliat dengan pembangunannya. Begitu juga dengan Bangka Belitung. Belum lagi pada beberapa Kabupaten/Kota seperti di NTT, terlihat bahwa Kabupate/Kota pemekaran tersebut selalu berusaha untuk menggeliat mencapai apa yang mereka perjuangkan dengan adanya pemekaran tersebut. Namun demikian saya juga menyadari ada beberapa daerah yang belum bisa dengan optimal melakukan pembangunan. Saya pun lantas mempelajari kenapa mereka berpisah, ternyata salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan kultur, bahkan diantara mereka juga berucap seperti yang Edi Kelana katakan. Seperti saya teringat orang Banten mengatakan bahwa sesungguhnya Jakarta itu dulunya ada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten, seharusnya mejadi milik Banten. Atau ketika orang Betawi berkata dengan sombongnya saya pemilik Jakarta, namun pada umumnya mereka amat tertinggal dari segala aspek kehidupan dibanding dengan orang pendatang ke Jakarta.
Inilah yang saya takutkan bila kita tidak segera melepaskan diri dari tekanan-tekanan, kebebasan kita untuk segera bangkit dan dapat membangun orang Gayo.
Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa pemekaran tidak harus sama dengan wilayah yang dipunyai karena perkembangan zaman, akan tetapi ada juga diakibatkan oleh ikatan-ikatan perbedaan kultur yang memang bila disatukan akan menjadi permasalahan. Kelemahan dari intelektual kita adalah mencoba mengignore ini semua, padahal ini berdampak kepada keamanan dan percepatan pembangunan yang dilakukan, atau dapat dikatakan ‘feel like home’. Allah saja tidak pernah mengatakan kita harus satu akan tetapi lebih untuk saling mengenal.
Saya juga tidak bisa salah bagi orang-orang yang tidak menganggap ini menjadi masalah, tapi seperti yang dituliskan Win Wan Nur bahwa memang kita sudah tertekan, kita merasa ada di rumah orang padahal ada dirumah sendiri, tragis bukan.

Kedua, Pimpinan Daerah, mereka beralasan bahwa pemekaran ini hanya kepentingan segelintir elit politik saja, mereka yang mau menjadi pejabat pada daerah pemekaran.
Untuk alasan yang satu ini saya hanya bisa tertawa, sekarang ini adalah zamannya PILKADA, siapapun yang mau jadi pimpinan silahkan pulang dan berlomba-lomba untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa jadi pemimpin. Bahkan ada sisi baiknya disini, Gubernur dan Wagub serta pejabat-pejabatnya adalah orang Gayo, atau yang mengaku orang Gayo atau yang bisa berbahasa Gayo atau yang berbudaya Gayo. Sudah barang tentu mereka akan lebih focus untuk membangun daerahnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan mengenai perebutan kekuasaan disana dari masing-masing suku, rasanya bukan masalah besar, karena kita menggunakan bahasa dan adat yang sama.

Ketiga, otonomis daerah, ada benarnya bahwa sekarang zaman otonomi daerah Pemerintah Kabupaten/Kota lebih berkuasa atau wewenang, tapi jangan lupakan juga kalau wewenang seorang Gubernur amat besar dalam menyalurkan dana Dekon serta menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Pusat. Saya tahu betul, saat ini dalam APBN kami dimarahi oleh DPR, mereka mengatakan sudah tidak diperbolehkan lagi mengalirka dana langsung ke Kabupaten/Kota, semuanya harus ke Provinsi terlebih dahulu. Ini semua akibat anggapan dari Pusat bahwa terlalu jauh tangan Pusat untuk bisa mengawasi Kabupaten/Kota, intinya adalah mencoba untuk membangun kembali kewibawaan dari Provinsi.
Nah, bila ini terjadi alangkah baiknya kalau orang Gayo punya Provinsi sendiri, selama ini jelas kita selalu ketinggalan dari berbagai kebijakan Pusat, bahkan untuk aliran dana saja daerah ALA selalu ketinggalan, ini juga tidak terlepas dari perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang kita dahulu. Kita harus ingat bahwa bila nenek muyang mereka membunuh atau menipu nenek muyang kita tentu aka nada pengaruhnya kepada kita.
Yang terpenting lagi adalah kita bisa mengelola SDA di Gayo yang banyak ini, keamanan di Gayo bukan karena GAM, tapi ada pada orang Gayo sendiri. Kalau GAM berontak lagi kita akan bisa mendongakkan kepala kita, kita punya tentara sendiri. Dan lagi perputaran uang akan lebih banyak di Provinsi ALA.

Keempat, minorities within minorities, hal ini tidak akan mungkin terjadi, rasanya orang Gayo sudah cukup teruji dengan hal ini, dengan karakter terbukanya sejak zaman Kerajaan Linge sampai saat ini. Rasanya tidak ada satu suku pun yang bisa seterbuka suku Gayo, mereka bisa beradptasi dengan Batak, Padang, Jawa, Bugis, China bahkan Aceh sekalipun, walau pun dengan Aceh memang tidak bisa sepenuhnya. Terlebih lagi karakteristik antara Gayo dan Aceh itu jauh berbeda. Karakteristik orang yang berasal dari Melayu tentu berbeda dengan orang yang berasal dari Tamil.
Saya yakin tidak akan terjadi kalau pemekaran ALA lantas semua orang Aceh kemudian dibunuh, seperti halnya GAM membunuh orang Jawa dan Gayo di Aceh Tengah, ada yang unik dari orang Gayo. Keislaman mereka selalu dinomorsatukan, malu mereka selalu dinomorsatukan. Ini pula yang menyebabkan ketika Daud Beureuh ia berjuang lama di dataran tinggi Gayo, karena ia membawa kalimat Laa Ilaha Illallah, ini juga yang menyebabkan perjuangan GAM tidak di dukung oleh orang Gayo, karena perjuangan mereka tidak karena kalimat itu, hanya karena ketidakpuasan pada awalnya.
Sebagai contoh, kita lihat bagaimana orang Gayo tidak pernah demo karena harga bensin naik, waktu DOM bahakan pokok langka, mereka semua tenang-tenang saja, inilah keunikkan Gayo yang saya juga agak heran sampai sekarang. Mereka lebih mementingkan perdamaian di Gayo, inilah yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gayo sekarang ini, daripada berafiliasi dengan GAM mereka memilih berafiliasi dengan TNI, mereka sadar dengan sifat dari orang Gayo, bukan seorang pemberontak yang bodoh. Tapi jika diajak dengan kalimat Syahadat, baru bisa dilihat bagaimana orang Gayo marahnya.
Untuk ketakutan kita terhadap suku Jawa yang menguasai daerah Gayo rasanya terlalu berlebih-lebihan, dan ini adalah amat berbahaya apabila dipermasalahkan hingga menimbulkan konflik horizontal. Karena rasanya sekarang ini banyak sudah perkawinan silang antara suku Gayo dan Jawa. Rasanya sudah terlambat atau adalah salah jika tema ini disebarluaskan, karena tidak aka nada artinya. Mereka sudah lama terikat dalam satu penderitaan ketika DOM, setiap aksi atau provokasi yang mencoba mengadudomba mereka hanya akan membuat ketidaknyamanan di Gayo, bahkan bisa jadi kemudian mereka mengatakan ini adalah aksi GAM yang tidak mau melihat Gayo aman dan damai.
Kemudian saya juga bisa katakan bahwa suku Jawa itu bukanlah sebuah suku yang suka melakukan kekerasan atau pemberontakkan seperti halnya suku Aceh, mereka relative lebih bisa tunduk dengan kebudayaan setempat, bila kita dapat memimpin atau memeberikan tempat kepada mereka mereka sepertinya akan menjadi teman yang baik, mereka punya loyalitas atau seperti Bang Win Wan Nur katakan ‘Feodal’. Sedangkan dengan Aceh, saya yakin kita akan selalu bertarung dalam hati kita dengam mereka, karena ini terjadi sejak nenek muyang kita.

Setuju Pemekaran
Alasan pertama, bisa mengangkat harkat, martabat dan marwah orang Gayo. Keyakinan mereka dengan lahirnya pemimpin-pemimpin Gayo yang berasal dari Gayo sudah barang tentu akan lebih memikirkan orang Gayo dengan lebih maksimal. Mereka mempunyai keyakinan bahwa siapapun Gubernurnya dengan segala macam kejelekkannya bila berasal dari Tanoh Gayo sudah barang tentu akan berpikir untuk orang Gayo, kasarnya untuk urangnya pasti dipikirkannya.
Yang lebih mereka pikirkan lagi adalah timbul-timbul pejabat yang berasal dari Gayo, dan sudah barang tentu ini akan membuat percepatan-percepatan SDM yang harus dilakukan. Seorang Gubernur Gayo tentunya harus mulai berpikir seperti seorang Gubernur mau tidak mau, ia harus mempersiapkan kapasitasnya sebagai seorang Gubernur, begitu juga dengan pejabat lainnya.
Anak cucu kita akan bangga dengan ini semua, bahkan mereka kemudian bercita-cita menggantikan senior-seniornya, ada peluang besar ke situ. Setiap orang akan bangga dengan Gayonya.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah kita bisa dengan lebih leluasa melakukan penelitian-penelitian tentang sejarah Gayo, dan mengaktualisasikannya sebagai eksistesi orang Gayo, bahkan memperkuat adat Gayo yang menjalankan syariat Islam sejak ratusan tahun lalu.
Sekali lagi untuk orang Jawa, saya akan memperlihatkan sebuah Provinsi Lampung yang notabene hampir 60% jawa, tetap Gubernur mereka orang Lampung asli, inilah salah satu keunikan orang Jawa.
Terlebih lagi suku Gayo adalah salah satu suku yang selalu berhasil perpaduan budaya dengan suku manapun, sebagai contoh di Aceh Barat dan Aceh Selatan bahasa padang tidak hilang dari kehidupan mereka, ini menandakan bahwa Aceh tidak pernah bisa memenangkan budaya mereka terhadap suku Jamnee. Lihat di Gayo, Aceh Tenggara yang merupakan perpaduan Aceh dan Padang, bahasa Padang hilang digantikan dengan bahasa Gayo.
Selain itu, sudah barang tentu pada awal-awal pemerintahan orang Gayo akan memimpin ALA selama beberapa generasi, kita dapat mempersiapkan mereka, generasi Gayo, dengan lebih baik lagi tentunya.
Terakhir, masa yang akan datang, bukan suku lagi yang dipikirkan orang tapi bagaimana semua menjadi sejahtera, Islam menjadi tujuan. SBY yang pernah ke Gayo mengatakan bahwa Gayo adalah Indonesia Mini di Indonesia, maka jadikan Gayo sebagai sebutan bagi orang-orang yang mengikuti adat Gayo dan berbahasa Gayo.
Kedua, percepatan pembangunan, ini kiranya sudah jelas, seperti yang saya jelaskan pada awal tadi, bahwa ke depan untuk otonomi daerah peran daerah tingkat I atau Provinsi akan diperkuat, yang bertujuan memperkuat nasionalisme sekaligus mempermudah untuk melakukan pengawasan terhadap Kabupaten/Kota yang ada pada regional mereka. Atau bahasa kerennya adalah memperpendek rentang kendali.
Mau tidak mau SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo. Yang saya herankan adalah ketika orang mengatakan bahwa orang Jawa akan membawa kekayaan Gayo ke Jawa, ini adalah sesuatu yang amat bodoh di era otonomi daerah.
Namun, hal itu bisa terjadi apabila Gayo terjadi konflik, kita jangan terprovokasi untuk hal ini. Salah satunya adalah dengan wacana Gayo Merdeka, ini amat berbahaya. Bila kita berkaca kepada Aceh, maka ada wacana bahwa GAM tersebut merupakan sebuah scenario untuk menghabiskan SDA Arun dengan mudah. Bayangkan, sejak Arun dimenangkan USA kemudian timbul pemberontakkan GAM yang sepertinya sama sekali tidak ada upaya yang serius untuk menggagalkan kekayaan alam tersebut di bawa ke USA, jelas sekali yang mendapatkan keuntungan besar dari proyek Arun adalah Exxon. Dalam pemikiran mudah kita, seharusnya target utama GAM adalah tidak berjalannya proyek Arun, kenyataannya sudah hampir habis SDAnya. Jadi adalah wajar ketika kita mengatakan bahwa ada main mata antara GAM, oknum TNI dan USA untuk menjadikan Aceh tidak aman sehingga bisa menggerus habis Arun sekaligus menghabiskan para Tengku yang berbahaya bagi Soeharto.
Begitu juga halnya bila Gayo Merdeka menjadi sebuah perjuangan, ini akan dianggap sebagai kaki tangan GAM. Salah satu tahapan dari Gerakan Gayo Merdeka (baca Kaki Tangan GAM) adalah dengan menjadikan konflik horizontal antara Gayo dan Jawa, dengan mengangkat kesukuan atau Chauvisme Gayo. Bayangkan ketidakamanan yang akan diderita orang Gayo dan tentunya orang Aceh (baca GAM) akan tertawa dengan riang, bahkan oknum TNI akan senang melihatnya, ada proyek penggerusan baru. Ini yang harus kita jaga.
Dengan ALA, semuanya akan menjadi lebih mudah, dengan ALA nasionalisme kita akan mendapatkan penghargaan dari NKRI, kesempatan membangun kita akan lebih besar, karena daerah Gayo terkenal sebagai daerah putih, atau daerah yang mendukung NKRI. Gayo akan aman dan anak cucu kita bisa menggapai cita-citanya.
Ketiga, keamanan, dengan ALA kita akan mempunyai teritori sendiri untuk mengamankan daerah kita, kita akan punya Kodam sendiri. Daerah konflik akan lebih mudah ditangani, GAM akan lebih mudah dibrangus. Rakyat Gayo sudah punya kepercayaan diri untuk menghancurkan GAM, mereka sudah punya kekuatan yang jelas dari TNI.
Bahkan dengan terbelahnya Aceh, maka yang bisa diprediksikan tidak ada lagi konsep Aceh Merdeka oleh GAM, semuanya gugur. Tidak perlu lagi rakyat Gayo menjadi korban dari PERANG BODOH selama puluhan tahun yang membuat rakyat Gayo menderita, terancam, terintimidasi, kekurangan pangan, sandang dan papan, kehilangan kepercayaan diri. Ini semua dapat kita hilangkan dengan pemekaran ini.
Tiga hal ini saja, maka dapat dipastikan Gayo sekarang akan berbeda dengan Gayo 10 tahun yang akan datang, kita akan lihat anak-anak kita menjadi seorang Profesor, kita akan lihat tenaga kerja yang baik, perkebunan yang aman, pendidikan yang maju, perekonomian yang bergerak.

Walau demikian pada 3 tahun pertama, merupakan masa-masa sulit, kita akan diuji dengan kemampuan kita untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah GAM yang pasti akan menggagalkan ini, karena Aceh Merdeka akan hilang dari muka bumi ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan kemampuan untuk menarik banyak investor, kemampuan untuk mencarikan formulasi yang terbaik sesuai dengan kondisi dataran tinggi Gayo yang tidak merusak alam dan menegakkan syariah Islam.

Kesimpulan
Kepada masyarakat Gayo, utamanya generasi mudanya mari kita berpikir luas dan tidak sempit, dengan ALA kita dapat membangun dengan cepat SDM dan mengelola SDA bagi SDM kita. Kita tidak akan lagi ketakutan dengan PERANG BODOH atau agenda-agenda Aceh Merdeka. Kita bisa membuktikan bahwa ALA bukan hanya mensejahterakan orang Gayo tapi segala suku yang ada di ALA dengan sebaik-baiknya, sebuah Indonesia Mini.
Kita tidak bisa mempercayakan nasib kita kepada GAM atau orang Aceh, kebencian mereka terhadap suku Jawa adalah luar biasa, bila ini kita biarkan maka sama saja kita bunuh diri menciptakan konflik pada daerah kita sendiri yang kemudian kita akan sesali.
Pemberontakkan tidak akan pernah menang sekarang ini, jangan samakan Aceh dengan Kosovo, Kosovo punya Rusia, itupun sulitnya bukan main. Siapa yang mau membela Aceh, Gayo saja tidak bisa mereka rangkul, tentu dunia internasional akan terus mempertanyakan hal ini.
Namun, kita bisa samakan Aceh dengan Tamil di Sri Lanka, dan ini memang nenek muyangnya.
Tapi kita tidak bisa samakan Aceh dengan Khasmir di India, Poso di Fhilipinna, Chencya di Rusia, Moro di Thailand, apalagi Hamas di Palestina. Mereka memperjuangkan nasionalisme dengan menghalalkan darah sesame muslim, sehingga hanya membuat murka di sisi Allah.

Berijin.

27 November 2008

Apakah ada Indikasi GAM disusupi Zionis dan CIA ?

Baru-batu ini kita dikagetkan dengan berita yang menyebutkan bahwa ternyata Adam Malik mendapat bantuan sekitar 50 juta tahun tersebut untuk menghancurkan PKI di Indonesia, sekaligus mengindikasikan ia adalah agen dari CIA. Sudah barang tentu ini tidak diterima oleh keluarganya, bagi mereka menjadi agen asing adalah sebuah kotoran yang dilemparkan pada wajah keluarga tersebut.

Bila kita melihat GAM sejak awal berdirinya hingga saat ini, kemudian diintegrasikan dengan ketokohan dari Hasan Tiro maka sepertinya bisa saja hal ini terjadi. Ada baiknya setelah ini dengan terpilihnya Presdien Baru USA maka semuanya akan terbuka, akan terbuka wajah dari topeng Hasan Tiro dan pendukungnya.

Pertama. ketika GAM berdiri pada waktu itu Hasan Tiro menjadi Dubes RI untuk USA, sehingga sedikit banyak ia berinteraksi dengan orang-orang USA. Pada waktu itu NKRI dan Aceh dalam keadaan kurang baik karena adanya pemeberontakkan Daud Beureuh, yang pada akhirnya dapat diselesaikan dengan Ukhuwah Islamiyah.
Kedua, proyek untuk Aroen ternyata dimenangkan oleh pihak USA, pada saat itulah Hasan Tiro melakukan pemberontakkan mengatasnamakan ketidakadilan yang terjadi di Aceh, mempertanyakan kenapa tidak ada rakyat Aceh yang menjadi pekerja disana.
Ketiga, selama masa konflik daerah Arun dan sekitarnya relatif aman, sumber daya alam disedot terus oleh USA hingga kini sudah habis, ada suatu keanehan disini, seharusnya jika memang GAM ingin ketidakadilan itu tidak berlanjut ia memfokuskan kepada daerah Arun tersebut sehingga tidak berjalan lagi proyek disana, tapi ternyata semuanya masih aman-aman saja.
Keempat, adanya indikasi bahwa Aceh ini dijadikan proyek oleh oknum TNI, banyak perdagangan senjata yang dilakukan antara TNI dengan GAM pada era Soeharto.
Kelima, sosok Hasan Tiro jelas amat diragukan, terlebih lagi ia telah menikahi yahudi, terlebih lagi ia seringkali disebut sebagai orang yang berbisnis senjata.
Keenam, Hasan Tiro selalu menggunakan Uni Eropa dan USA sebagai pengawasnya, berbeda dengan Daud Beureuh yang lebih mengutamakan kepentingan dari berbagai golongan rakyat Aceh untuk berdamai dengan NKRI tanpa ada campur tangan pihak asing.

Bila dilihat dari keenam faktor ini rasanyadominasi Yahudi dan USA pada permasalahan Aceh adalah menjadi sangat besar, atau dapat dikatakan Aceh adalah proyek USA dan Soeharto dengan Hasan Tiro untuk membuat instabilitas di Aceh hingga pengurasan SDA Arun dapat selesai dengan baik, dan saling berbagi.

Sekarang ini sepertinya juga seperti itu Hasan Tiro, dkk ingin menjual negeri ini kepada USA dan UE melalui MoU Helsinky. Tapi sepertinya kali ini Pemerintah NKRI tidak memberikan kesepakatan, malah ada kemungkinan dengan lemahnya USA dan UE dengan urusan dalam negeri masing-masing maka yang akan terjadi GAM akan ditinggal atau akan dihabisi oleh NKRI bila mereka melakukan kesalahan-kesalahan .

Ada yang menarik bagi rakyat ALA dan ABBAS, saat ini kita perlu menunjukkan sebuah keseriusan untuk hal ini, karena sepertinya giliran daerah ini yang akan dihabisi SDAnya oleh orang-orang tersebut, mereka hendak menjual tambang-tambang yang ada pada daerah tersebut, ini semua perlu dipikirkan.

Sebagai awal diskusi ini, silahkan anda membaca tulisan sayat tentang indikasi GAM disusupi oleh CIA/Zionis.

Kepada orang Gayo seluruhnya, berhati-hatilah dengan ajakan Gayo Merdeka, karena ternyata semakin ada indikasi yang jelas beberapa orang/oknum ingin menjadikan daerah Gayo sebagai tempat konflik baru, seperti halnya yang mereka telah lakukan dengan menggunakan GAM.

Dengan GAM mereka berhasil menghabiskan para Tengku sekaligus dengan aman menggerus SDA Aceh di Arun.

Kemudian dengan Gayo Merdeka mereka berniat kembali membuat dataran tinggi Gayo tidak aman, sekaligus menggerus SDA di Gayo, jadi berhati-hatilah kepada orang Gayo. Rasanya ALA dan ABBAS memang menjadi satu-satunya jalan untuk mempertahankan tanoh Gayo dari penjualan kepada Kuffar CIA dan Uni Eropa.

GAYO MERDEKA AKAN MENJADIKAN GAYO seperti ACEH, tidakkah kalian kasihan dengan anak cucu kita wahai orang Gayo, memang kurang ajar Ateh itu, kalaupun kita berperang bukan dengan Jawa tapi Gerakan Ateh Merdeka.

Selamat merenung.

Gayo Merdeka atau Kepanjangan GAM

From: gayo.iwan
Subject: [IACSF] DEKLARASI GAYO MERDEKA

Kepada bangsa kami dan semua bangsa GAYO Dimanapun berada di
seluruh pelosok dunia:

Kami yang tergabung dalam Panitia Persiapan Gayo Merdeka (PPGM) dengan ini menyatakan bahwa akan tetap meneruskan perjuangan Gayo merdeka dan menuntut keadilan yang lebih luas dan merata di tanah leluhur kami, Gayo, dengan penghormatan terhadap hukum-hukum
international.

Diakui bahwasanya terdapat aspek positif dari Gayo merdeka, bangsa gayo lebih dulu merdeka dari pada bangsa Aceh dan bangsa jawa. Bangsa Aceh telah menjajah bangsa gayo ratusan tahun lamannya, bahkan sampai sekarang. Hak-hak kami telah di rampas oleh bangsa aceh pesisir, harta benda dan hasil bumi kami dirampok untuk kepentingan bangsa Aceh.

Kami para pejuang setia Gayo Merdeka telah berdiri tegak dan bersatu dalam barisan PPGM ini bertekad : melanjutkan perjuangan kemerdekaan; mengembalikan kedaulatan Negara dan Bangsa; mempersiapkan berdirinya suatu pemerintahan yang bebas dan demokrat di bumi gayo; memperjuangkan aspirasi bangsa gayo yang tertindas dan terabaikan. Semua maksud tersebut akan kami jalankan demi kebaikan bangsa kami agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia dalam kontribusinya untuk memperjuangkan perdamaian dunia, hak asasi manusia, kemerdekaan, keadilan, dan demokrasi.

Kami percaya bahwa tidak ada suatu alasanpun yang dapat menghalangi kelanjutan perjuangan ini. Aspirasi Bangsa gayo telah jelas tertulis dalam Proklamasi gayo Merdeka 20 Mei 1945, dan terpahat dalam setiap jiwa bangsa gayo, khususnya mereka yang telah berjuang tak kenal
lelah untuk mencapai cita-cita tersebut.

Dengan ini kami memanggil semua bangsa gayo di mana pun berada agar bangkit bersama dalam suatu barisan untuk merebut kembali kedaulatan serta martabat bangsa dan Negara gayo. Dalam rangka menyusun kembali perjuangan besar yang kita warisi ini, telah kita dirikan panitia Persiapan gayo Merdeka yang akan mengambil langkah-langkah penting dalam meraih maksud tersebut.

Atu lintang, 20 Nopember 2008
Panitia Persiapan Gayo Merdeka

Ulasan Kosasih Bakar:

Sebelum saya memberikan tanggapan tentang Gayo Merdeka, sebenarnya ada yang menarik di sini. Ini semua akan menjadi pembelajaran bagi orang Aceh semua.

PRRI
Kita sudah seringkali mendengar pemberontakkan yang dahulu dilakukan oleh para tokoh-tokoh nasional, saya akan mengambil contoh Moh Natsir, ia diindikasikan telah berupaya atau turut bergabung dalam PRRI, padahal ia merupakan seorang Muslim yang begitu sederhana dan kaffah, integritas dan kejujurannya amat sangat luar biasa. Hal ini sudah barang tentu membuat semua orang terkaget-kaget.

Namun, itu ternyata merupakan sebuah pembelajaran, seorang Moh Natsir yang sekarang resmi diangkat menjadi Pahlawan Nasional ternyata ingin mengingatkan Soekarno yang telah berafiliasi dengan Komunis. Didahului oleh Bung Hatta, maka ini terus berlanjut ketika Bung Karno mendekatkan diri kepada Komunis hampir semua tokoh Islam yang waktu itu lebih banyak dari Minang melakukan perlawanan-perlawan an. Salah satunya adalah PRRI.

Pemberontakkan itu ternyata tidak dilakukan oleh masyarakat Minang akan tetapi ternyata notabene TNI yang berasal dari Minang, sehingga korban relatif sedikit dan tidak ada. Mereka juga amat membenci Jawa waktu itu, namun sekali lagi karena Islam merupakan Rahmatan Lil Alamin maka perdamaian dapat terjadi, seperti halnya dengan DI/TII di NAD.

Wacana Gayo Merdeka
Ada yang menarik dari Gayo Merdeka ini, wacana ini sesungguhnya bisa jadi merupakan reaksi dari rakyat Gayo yang memang mereka benar-benar merasa tidak dihargai oleh NKRI yang melama-lamakan perpisahannya dengan NAD sehingga membuat rakyat Gayo ini menjadi semakin menderita, ini dapat dikatakan seperti apa yang dilakukan oleh Moh Natsir, mempertanyakan keseriusan SBY dan JK dalam memperhatikan wilayah yang selama ini terdepan dalam mempertahankan keutuhan NKRI di NAD.
Namun, disisi lain ada hal yang berbahaya disini, bila ini dilakukan maka yang akan bertepuk tangan adalah GAM, mereka akan langsung mengambil uluran tangan ini untuk kembali memperjuangkan Aceh Merdeka yang kiranya sekarang sudah ada Gerakan Gayo Merdeka yang mendukungnya.
Sekarang rakyat Aceh tinggal melihat akan kemana mereka tujuannya, jika mereka tujuannya seperti halnya Muh Natsir, tentunya sebagian rakyat Gayo akan mendukung mereka secara wait and see saja. Tapi bila ini bertujuan untuk berafiliasi dengan GAM maka akan rakyat Aceh lihat bahwa Gerakan ini ternyata sama saja dengan Panglima Tingga Gayo yang diberikan organisasi baru, mari kita lihat isi dari yang mendeklarasikan Gayo Merdeka tersebut.

Bahayanya Gerakan Gayo Merdeka
Namun bila Gerakan Gayo Merdeka didukung oleh GAM maka yang terjadi adalah ketidakamana bagi rakyat Gayo, karena GAM kemudian akan membuat sebuah peperangan antar suku dengan mengangkat Chauvisme Gayo, padahal dalam Gayo tidak mengenal Chauvisme, dalam Gayo hanya mengenal siapapun yang berbahasa Gayo dan menggunakan adat Gayo maka layak disebut dengan Bangsa Gayo. Ini semua terlihat dari berbagai hasil perpaduan yang ada di dataran tinggi Gayo saat ini, kebanyakan mereka sudah melakukan perpaduan budaya.
Bila chauvisme ini berhasil diangkat maka yang terjadi adalah geonesida, pertama kali yang dilakukan oleh GAM adalah mengadu antara Suku Gayo dengan suku pendatang, utamanya Jawa, maka perang akan berlanjut, citra ALA akan semakin hancur, TNI akan berpikir ulang untuk memberikan ALA, yang terjadi adalah peperangan antara Gayo dan TNI. Tapi rasanya skenario ini juga akan seperti buih air, karena tidak mungkin setelah sekian tahun bersama mereka akan mudah diadudomba. Kembali orang-orang tersebut akan diindikasikan sebagai kepanjangan GAM oleh NKRI.

Sikap Rakyat Gayo
Rasanya sudah jelas sikap rakyat Gayo, mereka agar pertama kali melihat aktor berdirinya Gerakan Gayo Merdeka, bila itu memang tokoh yang memperjuangkan kedamaian Gayo, maka yang terbaik dilakukan adalah wait and see, karena mereka sudah pasti tidak ingin mengorbankan rakyat Gayo ke dalam sebuah konflik yang selama ini selalu dijaga oleh para tokoh Gayo.
Namun bila itu berasal dari GAM maka jelas apa yang harus dilakukan oleh rakyat Gayo.

Pentingnya Aktor Dibalik Gayo Merdeka
Rakyat Aceh atau Gayo khususnya sudah barang tentu tahu betul mana yang memperjuangkan rakyat Gayo atau hanya memperkeruh keamanan pada rakyat Gayo. Kita rakyat Gayo harus tahu betul untuk yang satu ini, siapa aktornya.
Selama ini aktor-aktor yang memperjuangkan Gayo dalam keadaan aman adalah aktor-aktor yang menginginkan adanya ALA, sedikit selain dari itu, ada beberapa sebab, karena Gayo sudah amat heterogen, tentunya perjuangan model ini belum tentu disetujui yang lainnya.

Ulasan Kedua Kosasih Bakar:

Dalam istilah masyarkat Gayo atau Aceh pada umumnya, tidak ada MERDEKA ATAU MATI. Kemerdekaan itu datangnya dari Allah. Bukan dari Manusia.

Yang ada MATI SYAHID atau HIDUP MULIA, jadi setiap kematian itu hanya diperuntukkan untuk memperjuangkan kalimah Laa Ilaha Illallah.

Salah satu hal yang menyebabkan perjuangan GAM hancur adalah karena sifat perjuangannya Ashobiyah, kesukuan. Dalam Islam tidak dikenal membenci satu suku, yang ada bagaimana memeperjuangkan kalimah Allah, dan yang terpenting mengutamakan perdamaian ketika ada perselisihan dengan saudaranya seiman.

Inilah perbedaab orang Gayo dengan orang Aceh, GAM, mereka lebih rela untuk menumpahkan darah sesama muslim dari pada berdamai.

Mereka tidak melihat tokoh-tokoh muslim dahulu yang telah membentuk NKRI, salah satunya Daud Beureuh, mereka berjuang hanya kepentingan kelompoknya. Ini jelas bukan orang Gayo, ini jelas bukan yang diajarkan kepada Muslim.

24 November 2008

Perbedaan Hasan Tiro dan Daud Beureuh

Indonesia sebenarnya tidak hanya Aceh saja yang melakukan pemberontakkan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), selain Aceh juga ada tokoh-tokoh muslim lainnya seperti Karto Suwiryo, Kahar Muzakkar, Amor Fattah, Ibnu Hadjar, sedangkan dari Aceh adalah Daud Beureuh.

Daud Beureuh Mendukung Kemerdekaan RI dan Mengutamakan Saudara Seiman
Hal yang menarik adalah ternyata Daud Beureuh itu adalah seorang pendidik, ialah yang memulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam melalui Pendidikan, dengan mendirikan Madrasah Sa'adah Ahadiyah di Blang Paseh di Sigli. Bahkan beliau amat aktif untuk terus mensosialisasikan pemikiran tentang pembaharuan pendidikannya. Selain itu ia juga mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Indonesia), yang kemudian menjadi penggerak untukmelakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Kedatangan Soekarno ke Aceh tahun 1948 mendapatkan sambutan yang luar biasa dari ribuan rakyat Aceh, ada yang menarik dari dialog antara Soekarno dan Daud Beureuh:

Soekarno: "Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekaran berkibar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan tanggal 17 Agustus 1945"

Daud Beureuh: Saudara Presiden, kami rakyat Aceh dengan segala senang hati memenuhi permintaan itu. Namun Daud Bereuh mengatakan bahwa Perang yang dilakukan ini adalah perang Jihad melawan kuffar Belanda.

Bahkan dalam sebuah surat kabar "Semangat Merdeka" yang terbit di Kuta Raja, 23 Maret 1949, ia tetap menyatakan kesetiaannya kepada NKRI:

"Perasaan kedaerahan di Aceh itu tidak ada. Sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk sebuah Aceh Raya dan lain-lain karena kita disini adalah bersemangat Republiken. Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita anggap sebagai tidak ada saja, dan karena itu tidak kita balas saja. Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI bukan dibuat-buat serta diada-adakan. Tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh pasti tahu bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah negara per negara tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kemerdekaan yang abadi"

Hebatnya lagi Daud Beureuh memegang kata-kata ini sampai akhir hayatnya, ia tetap komitmen untuk lebih tunduk kepada NKRI yang ia anggap sebagai saudara seiman dan sebagai Ulil Amrinya.

Namun demikian keunikan seorang Daud Beureuh memang layak dijadikan sebagai contoh, ketika ia melihat Soekarno terus menerus membuat sakit hati orang Aceh, maka ketika ia mendengar bahwa Karto Suwiryo memproklamirkan Negara Islam Indonesia maka ia bersegera mendukungnya dan menyatakan bahwa Negara Islam Indonesia salah satunya adalah Aceh, dari sini terlihat betul bahwa Daud Beureuh tidak mau melepaskan diri sedikitpun dari saudara seimannya dengan mengatakan bahwa Negara Islam Aceh, luar biasa.Ia hanya menginginkan sebuah daerah yang betul-betul yang menyelenggarakan syariat Islam dengan kaffah, tidak ada niatnya sedikitpun menjadi penguasa.

Setelah ia mencanangkan ini tentunya ia melakukan perlawanan terhadap pemerintah NKRI, ia naik kegunung, lagi-lagi daerah dataran tinggi gayo dijadikan sebagai basis perlawanannya, ia menyentuh rakyat Gayo dengan pemikiran Islam, walau demikian pada awalnya ia didukung rakyat luas, lama-kelamaan mereka kembali berhasil direkrut oleh NKRI dengan janji untuk memberikan daerah istimewa kepada NAD, serta merangkul teman-teman dari DI/TII , antara lain pendekatan yang dilakukan oleh M. Jasin, Kolonel Infantri. Dengan metode warkatul ikhlas maka perdamaian di Aceh dapat terjadi. Tepatnya pada tanggal 9 Mei 1962, yang diikuti dengan sebuah perjanjian Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh, yang puncaknya ikrar mereka di Blang Padang, Kutaraja.

Hasan Tiro Menuju MoU Helsinky dengan Korban Ribuan Rakyat Aceh

Silahkan dibaca dari wawancara dengan Saudara Nedzar dari hasil penelitiannya, maaf saya bisa saja mencarikan dari sumber lain, tapi dari Suadara Nedzar rasanya sudah cukup bagus.

Perbedaan Daud Beereuh dan Hasan Tiro

Pertama, ini amat penting, Daud Beureuh adalah seorang pemikir Islam sejati, seorang Pendidik dan seorang pemberani. Ia mau melakukan perubahan-perubahan dalam pemikirannya untuk Islam, ia mengatasnamakan perjuangannya berdasarkan kehendaknya atau ternyata lebih kepada Ashobiyah, ia lebih menekankan kepada konsep perjuangan dengan sebutan "Penjajah Jawa-Indon", sedangkan Daud Beureuh tetap konsisten dengan penegakkan syariat Islam di Aceh seperti halnya yang ada pada zaman Iskandar Muda.

Dalam banyak kesempatan ia selalu berujar:

"Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya impian. Kami mendambakan masa kekuasaan Kesultanan Iskandar Muda, pada masa Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan memiliki 2 cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran Agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan modern. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu"

Kedua, Daud Beureuh memimpin langsung perjuangannya di Aceh, ia naik kehutan, berjuang dengan memimpin langsung, sedangkan Hasan Tiro berjuang dari Swedia, bagi rakyat Aceh ini merupakan sebuah kehinaan, terlebih lagi bagi masyarakat dataran tinggi Gayo yang dulu melihat sosok seorang Daud Beureuh atau DI sebagai pemberani akhirnya melihat GAM sebagai pengecut saja.

Ketiga, Daud Beureuh selalu hidup dalam kesederhanaan, ia lebih menyukai Agama Islam, ia lebih mencintai untuk menyebarkan Islam di Aceh. Hasan Tiro penuh dengan politik, silahkan lihat buku-bukunya yang semuanya ternyata lebih mengangkat ashobiyah dan lebih kepada memecahkan Negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Ia lebih menyukai kemewahan di Swedia dibandingkan tinggal di Aceh.

Keempat, Daud Beureuh tahu ia kapan harus berhenti, ia lebih mencintai rakyat Aceh, ketika terjadi DI/TII, ia lebih mendahulukan damai daripada peperangan terus, akhir hayatnya ia dipuja rakyat Aceh. Berbeda dengan Hasan Tiro semasa hidupnya ia tidak memperdulikan berapa banyak korban yang jatuh dari rakyat Aceh, bahkan sampai ribuan jiwa orang Aceh. Ia lebih mengetengahkan 'Hilangkan Penjajah Indon-Jawa, dibandingkan 'Merdeka atau Syahid', karena ia tahu, bahwa sesama muslim itu lebih mendahulukan perdamaian dibandingkan saling membunuh. Ini yang selalu saya pikirkan, apakah ribuan orang itu syahid atau mati dengan sia-sia ?

Kelima, MoU Helsinky tentunya amat ditentang oleh Daud Beureuh jika ia masih hidup, Daud Beureuh amat benci dengan Kuffar dan Yahudi, bandingkan dengan Hasan Tiro ia rela menjual tanahnya ke Uni Eropa dan USA, MoU tersebut seolah-olah menyerahkan permasalahan internal muslim kepada orang asing.

Bila rakyat Aceh berpikir jernih, maka sudah barang tentu nama Hasan Tiro itu tidak bisa diangkat menjadi Wali Nanggroe, yang lebih cocok itu adalah Daud Beureuh. Pola pikirnya jelas memperjuangkan dan melindungi rakyat Aceh, dibandingkan dengan Hasan Tiro.

Bila anggota GAM berpikir, tentunya ia tidak lagi bertujuan kemerdekaan, sudah cukup tingkah polah Hasan Tiro untuk mengorbankan rakyat Aceh, belum lagi jika mereka menerima dana dari MoU Helsinky, dana yang berasal dari darah rakyat Aceh.

Bila kita melihat sejarah, sepertinya Aceh ini tidak akan pernah aman, terkecuali punya pemerintahan yang kuat seperti Iskandar Muda, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana Aceh bisa menjadi kuat apabila ternyata GAM memperjuangkan perjuangannya kepada Ashobiyah, bukan kepada penegakkan syariat Islam. Saat ini seharusnya Irwandy CS bukan saatnya lagi memperjuangkan anggotanya saja, akan tetapi lebih memperjuangkan rakyat Aceh dengan betul-betul menegakkan syariat Islam.

Orang Gayo melihat pemberontakkan ini hanya membawa kesedihan dan kesengsaraan bagi rakyat Aceh, sedangkan Aceh daerah pesisir barat dan selatan lebih melihat ini perjuangan sekelompok orang saja, dan ini semakin terlihat setelah adanya MoU Helsinky.

Sebenarnya ada cara yang akan membawa Aceh kepada damai, membelah Aceh menjadi 3 provinsi, setiap Aceh diwajibkan menegakkan syariat Islam, setiap provinsi bisa melakukan otonomi khusus pada daerahnya masing-masing. ALA dan ABBAS merupakan salah satu solusi kita menuju perdamaian Aceh sejati, jika memang ingin mensejahterakan rakyat Aceh, bukan lagi hanya mementingkan kepentingan golongan saja.

21 November 2008

Gayo Bukan Chauvisme (Dialog Dengan Win Wan Nur)

Ulasan Win Wan Nur:

Beberapa hari setelah kunjungan kami ke Borobudur, aku bersama klienku berkunjung ke Kraton Yogyakarta, dalam kunjungan ke keraton ini kami tidak bersama-sama dengan Pak Bekti. Di sini kami langsung
ditemani oleh Guide resmi Keraton yang berpakaian batik warna merah. Guide inilah yang menjelaskan setiap detail bangunan, pernak-pernik dan adat dalam keraton.

Dalam lingkungan keraton yang luasnya 1 kilometer persegi ini terdapat banyak sekali bangunan-bangunan dengan berbagai fungsi.

Di setiap bangunan dan halaman yang sangat bersih dalam lingkungan keraton ini aku melihat banyak sekali pekerja yang ternyata adalah para abdi dalem keraton. Mereka berpakaian biru dengan blangkon dan
sarung khas jawa. Mereka ada yang sekedar duduk khusuk seperti bersemedi, bersila langsung di atas pasir tanpa alas, ada yang menyapu halaman, membersihkan debu yang melekat di instrument musik dan perabotan milik keraton dan ada pula yang membaca buku-buku yang ditulis dalam huruf sanskerta dan bahasa jawa.

Pemandangan seperti ini jauh lebih menarik perhatianku daripada sekedar mendengarkan penjelasan guide tentang sejarah dan seluk-beluk keraton, bagiku Manusia adalah bagian paling menarik dari seluruh
alam semesta

Sebelumnya, aku sudah sering mendengar cerita tentang bagaimana taatnya para abdi dalem ini kepada sultan junjungan mereka. Tapi rasanya tentu berbeda kalau aku mendengarkan cerita itu langsung dari orangnya. Karena saat ini aku berada di keraton ini aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenallangsung manusia yang disebut Abdi Dalem ini. Aku ingin merasakan langsung emosi mereka merasakan sendiri bagaimana bentuk ketaatan mereka yang melegenda terhadap raja junjungan mereka.

Aku mendekati seorang Abdi Dalem yang sedang membersihkan debu di salah satu bangunan keraton, aku duduk di sampingnya dan mulai mengajaknya bercakap-cakap. Aku menanyakan nama dan bertanya
bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang Abdi dalem di keraton ini. Namanya Pak Muchlosid, dia mengaku telah menjadi Abdi dalem di keraton ini sejak beberapa tahun yang lalu.

Pak Muchlosid bercerita kalau sekarang di Keraton ini sekarang ada peraturan yang mensyaratkan bahwa yang boleh melamar untuk menjadi Abdi Dalem harus yang berumur di bawah 40 tahun. Mendengar ini aku
merasa penasaran dan menanyakan jumlah gaji yang diterimanya. Ketika itu kutanyakan, Pak Muchlosid dengan bangga mengatakan kalau dia tidak digaji apa-apa. Dia bekerja sebagai Abdi Dalem murni karena Lillahi Ta'ala. Pekerjaan sebagai Abdi Dalem yang dia lakukan sejak pagi hingga sore ini adalah bentuk pengabdiannya yang tulus dan tanpa pamrih kepada Sultan junjungannya. Pak Muchlosid pun tampak begitu bangga akan pengambdiannya ini, karena menurutnya sebenarnya banyak sekali orang lain yang berminat menjadi Abdi Dalem tapi ditolak. Kata Pak Muchlosid, dalam keraton ini Abdi Dalemlah yang membutuhkan Keraton, bukan sebaliknya.

Ketika kutanyakan bagaimana caranya dia menghidupi keluarganya kalau seluruh waktu produktifnya dihabiskan dengan bekerja di Keraton ini, Pak Muchlosid menjawab kalau unytuk itu dia memelihara ayam yang
dikelola oleh istrinya. Urusan ekonomi keluarga itu sama sekali bukan urusannya. Aku benar-benar takjub mendengar penuturan Pak Muchlosid ini, lebih takjub lagi ketika aku mendengar pengakuan yang sama keluar dari mulut Abdi Dalem lain yang kuajak bicara.

Sehabis dari keraton, kami berjalan-jalan di pasar burung. Pasar ini sangat bersih, sangat berbeda dengan Pajak Petisah di Medan atau Pasar Ampera dekat rumahku di Jakarta . Ketika aku bertanya mengenai hal ini kepada beberapa pedagang yang berjualan di sana , kenapa pasar ini bisa sedemikian bersihnya. Mereka mengatakan, itu karena mereka tidak ingin pasar terlihat kotor jika tiba-tiba Sultan datang berkunjung kesana.

Begitu dahsyatnya pengaruh Sultan dalam kehidupan Orang Jogja, begitu besarnya rasa taat dan rasa hormat mereka kepada raja junjungan mereka. Bahkan Islam, agama yang katanya sangat egaliter dan memandang setiap manusia dengan derajat yang samapun tidak mampu mengikis 'mentalitas borobudur' dari dalam diri orang Jogja. Dengan mentalitas seperti ini tidak heranlah kalau makna Demokrasi bagi orang Jogja yang merupakan salah satu pusat dunia intelektual di Indonesia ini adalah meminta Sultan untuk menjadi penguasa seumur hidup.

Sehabis dari pasar burung, kami kembali ke hotel. Sore harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dengan menumpang kereta api.

Saat berada dalam gerbong kereta yang membawaku menuju Surabaya . Aku merenungkan apa yang kurasakan dan kualami selama di Jogja. Membayangkan Borobudur yang megah, membayangkan Pak Muchlosid dan
para Abdi Dalem lainnya yang memiliki kesetiaan tanpa batas terhadap rajanya.

Kemudian aku mencoba membayangkan apa jadinya jika ada orang yang berencana membangun Borobudur di Aceh. Sekuat apapun aku berusaha aku tidak berhasil membayangkannya. Aku teringat pada ucapan seorang
antropolog Belanda bernama Snouck itu, Belanda yang paling dibenci di Aceh ini mengatakan. Orang Gayo adalah 'True Republican'. Berdasarkan hasil penelitiannya, Hurgronje mengatakan berkebalikan denan Jawa,
Orang Gayo adalah orang-orang yang bebas dari rasa takut terhadap raja atau pemimpinnya. Tidak seperti orang Jawa yang selalu mengatakan 'Inggih' terhadap semua titah rajanya, Orang Gayo selalu berani dan tidak pernah merasa ada beban jika mengatakan hal-hal yang berbeda dengan pendapat pemimpinnya.

Masyarakat dengan karakter jenis ini sampai kapanpun tidak akan pernah mampu membangun karya seni seagung dan seindah Borobudur .

Aku merenung sebentar, lalu kuperhatikan wajah-wajah klien perancisku yang 3 hari belakangan ini terus bersamaku. Wajah-wajah dari orang-orang yang mematuhi apapun yang aku katakan dalam setiap aktivitas
yang mereka lakukan.

Kemudian aku mengingat kembali wajah-wajah mereka yang sangat antusias mendengarkan aku bercerita saat kami mengobrol di Meja makan, saat aku bercerita tentang hal-hal kecil. Tentang diriku, keluarga dan juga tentang putri kecilku yang sekarang tumbuh besar dalam kesadaran sebagai seorang warga dunia yang tidak mengenal batas-batas artifisial yang disebut negara.

Aku juga mengingat saat akupun mendengarkan cerita mereka tentang kampung dan keluarga mereka, tentang budaya minum anggur mereka, tentang keju Perancis yang jenisnya ratusan banyaknya. Seperti mereka
yang penuh antusias mendengarkan ceritaku akupun mendengarkan cerita mereka dengan antusiasme yang sama. Saat itu aku dapat merasakan dengan jelas betapa indahnya hidup seperti ini, hidup dalam perasaan setara, tidak ada rasa lebih rendah atau perasaan lebih tinggi sebagai sesama manusia.

Mengingat itu tiba-tiba aku merasa bersyukur, aku sadar Gayo dengan karakter khasnya memang tidak akan pernah bisa membangun karya seni berbentuk fisik yang nyata dan bisa diraba seindah dan seagung Borobudur yang kini menjadi kekagumanku dan juga dunia. Sebuah artefak yang menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat yang membangunnya dulu.

Tapi kepadaku dan semua orang Gayo generasi sekarang, muyang datuku berhasil mewariskan karya seni lain yang tidak kalah indah dan agungnya dibandingkan Borobudur . Bedanya karya seni warisan muyang datuku ini hanya dapat dirasakan tapi tidak dapat dilihat dan diraba secara fisik. Karya seni Gayo yang indah dan agung itu adalah mentalitas Gayo yang oleh Hurgronje digambarkan sebagai mentalitas 'TRUE REPUBLICAN' yaitu perasaan setara dalam relasi antar sesama manusia.

Karya seni warisan muyang datuku ini adalah karya seni yang sama seperti yang bisa kita temukan dalam eindahan setiap relief peradaban modern di berbagai belahan dunia.

Inilah 'Borobudur Gayo' warisan muyang datuku yang paling berharga yang akan kujaga baik-baik dan akan kuwariskan kepada gayo-gayo keturunanku.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur. blogspot. com


Tanggapan Kosasih Bakar:

Pluralisme

Marilah bersama kita lihat bersama sebuah ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang pluralisme dan kebersamaan. Seperti:

Ide tentang pluralisme dalam Al-Quran sudah disebutkan sejak penciptaan manusia. Tuhan sebagai Dzat yang transenden menciptakan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan, dan dari keduanya dijadikanlah manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS 49:13)

Seandainya terjadi perselisihan antar sesama mukmin hendaklah dikembalikan kepada Al_Qur’an dan Assunah, karena keduanya adalah pegangan setiap mukmin. Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian akan selamat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya”. (HR. Abu Dzar)

Jadi, adalah teramat jelas berdasarkan ayat-ayat itu bahwa sesungguhnya semua manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, yang membedakannya adalah keimannya. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu ketika lahir di dunia ini, apakah ia bersuku Aceh, bersuku Jawa, bersuku Gayo atau lainnya. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan berkulit putih atau hitam atau sawo matang, yang mereka tahu hanyalah menangis sebagai awal kehidupan mereka.

Bahkan semakin membuat saya terhenyak dan mengeluarkan air mata adalah ketika tahu bahwa Hasan Tiro dan penerusnya melalui Gerakan Aceh Mereka telah menghalalkan darah sesame muslim yang tumpah di bumi Indonesia, sebuah bumi dengan mayoritas terbesar penduduknya Islam, sebuah Negara yang kaya dan terdiri dari berbagai macam suku, sebuah Negara yang seringkali dikatakan sebagai Macan Asia Yang Tidur, Negara tersebut kini masih dalam kesulitan-kesulitan yang mendera karena berbagai ragam kesulitan-kesulitan baik KKN, separatism, Krisis Moneeter dan lain sebagainya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (Perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)

Terbayang oleh saya ketika GAM berperang mengatakan “Allahu Akbar,” kemudian di sisi yang lain TNI yang notabene muslim juga mengatakan “Allahu Akbar,” merinding saya membayangkannya. Dalam perang semua bisa terjadi, jangan katakana kejahatan perang hanya dilakukan oleh TNI, kejahatan perang juga dilakukan oleh GAM. Seperti GAM menceritakan bahwa Rakyat Aceh diperkosa, dibunuh, dicincang oleh TNI, begitu juga sebagian rakyat Aceh mengatakan bahwa mereka juga diperkosa, dicincang, dibakar oleh GAM. Semua berlomba untuk mengabadikan setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing lawannya.

Kesalahan dari GAM adalah ketika ia membenci Suku Jawa, karena merasa NKRI itu diwakilkan oleh Jawa, padahal NKRI itu terdiri dari banyak suku bangsa. Mereka berupaya membangun nasionalisme rakyat Aceh tersebut melalui hal tersebut, kesalahan konsep ini berakibat fatal ketika ternyata rakyat Aceh sudah banyak yang berasal dari suku Jawa sejak zaman Iskandar Muda, bahkan pada zaman kemerdekaan. Sekaligus ini menafikkan salah satu sunnatullah bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah berbagai ragam untuk saling mengenal.

Hal ini semakin menarik, dikala permusuhan tradisional antara Aceh dan Gayo mencuat, ketika sejarah memperlihatkan bahwa Aceh dan Gayo itu mempunyai bahasa yang amat berbeda, ketika Aceh dan Gayo mempunyai adat yang berbeda, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Gayo tidak mau dikatakan Aceh atau Aceh tidak mau dikatakan Gayo, atau ketika mereka saling memperolok dengan sebutan ‘Gayo Re’ dari orang Aceh atau ‘Aceh Pungo’ dari orang Gayo yang sudah demikian tertanam sejak zaman nenek muyangnya.

Ketika dipertanyakan siapa suku asli di Aceh, maka sudah jelas jawabannya adalah suku Gayo, akan tetapi ketika dipertanyakan sejauh mana kemurnian suku Gayo sekarang ini atau siapa yang benar-benar suku Gayo? Abad pertama yang menceritakan tentang Kerajaan Linge seringkali dikatakan sebuah generasi pertama dari suku Gayo. Namun, abad-abad berikutnya dan seterusnya sudah tentu generasi itu melakukan perkawinan silang, terlebih lagi dengan sifat orang Gayo yang labih menyukai untuk perkawinan angkap atau mengambil menantu dari luar daerahnya. Ini sangat memungkinkan, karena dalam suku Gayo tidak diperkenankan menikah dalam satu kampong dan hukumannya adalah di parak dahulu. Keterbukaan orang Gayo memang luar biasa. Setelah selama hampir 19 abad dengan banyaknya perkawinan maka yang akan menjadi pertanyaan adalah siapa suku Gayo itu ? Jawaban yang termudah adalah suku yang tetap menggunakan bahasa Gayo dan tetap mempertahankan adat Gayo untuk menjalani kehidupannya.

Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABBAS) merupakan salah satu akibat dari konsep kemerdekaan GAM tersebut, sebuah konsep yang pragmatis. Selama ini hampir dalam setiap statemennya GAM mengatakan bahwa isu ALA dan ABBAS disebarkan oleh pihak-pihak NKRI tanpa pernah mau melihat kenyataan bahwa memang pada daerah tersebut sering terjadi ketidakadilan yang kerap kali diterima, banyak hal sebenarnya, sebagai contoh ketika masih zaman Orde Baru setiap pimpinan yang ditunjuk dari Pusat kebanyak orang-orang Aceh pada daerah Gayo, ini tentu menandakan bahwa usaha mereka menganggap orang Gayo itu lemah dan tidak mampu dalam mengelola daerahnya, atau dampak lainnya adalah ketika SDM yang ada di Gayo amat rendah, sampai sekarang masih bisa dihitung yang S2 atau S3 nya, belum pernah ada seorang Menteri dari Gayo, padahal sebenarnya ada beberapa tokoh dari Gayo yang jelas bisa menduduki jabatan ini, ini adalah akibat dari permusuhan tradisional antara Gayo dan Aceh seperti halnya yang terjadi antara suku Sunda dan Jawa sampai saat ini.

ALA dan ABBAS merupakan salah satu strategi untuk dapat mengamankan Aceh di masa yang akan datang, dengan ALA dan ABBAS maka konsep Aceh Merdeka akan hilang, adalah tidak memungkinkan Aceh Merdeka hanya sebanyak 30% dari wilayah Aceh sekarang. Kembali kembali kepada suku Jawa, ironisnya pada daerah ALA dan ABBAS sudah begitu banyak transmigran yang ada, bahkan telah melakukan perkawinan antar suku, sehingga ikatan batin dari kedua-dua suku tersebut sudah amat mengental.

Sesungguhnya ini juga yang ditakutkan bila GAM berhasil memerdekakan diri mereka dengan konsep 4 negara bagian, akan timbul peperangan sebelumnya antara suku Jawa dengan suku-suku lain yang ada, ini akan mengakibatkan ketidakamanan kembali, yang akan terjadi adalah peperangan antar etnik. Kemudian apa yang akan terjadi dengan anak-anak yang merupakan hasil dari perkawinan silang, haruskah mereka memilih kepada suku siapa, ama atau inenya ? Setelah ini selesai pertentangan antara Gayo dan Aceh juga tidak akan berhenti, karena sebagian orang Gayo sudah amat keras mengatakan Asal Linge Awal Serule, mereka adalah penguasa Aceh dahulunya. Ini akan terus berlanjut, kemudian akan timbul yang namanya Gayo Merdeka yang sudah barang tentu akan didukung oleh suku Jawa. Terbayang oleh saya sebuah peperangan yang tidak akan pernah habis dari bumi Aceh yang kita cintai karena Faham Chauvinisme (Kesukuan yang tinggi) dari suku Aceh. Yang akan terjadi adalah Geonesida (pemusnahan satu suku) Jawa, lantas kemudian Gayo.

Selain dengan perang, maka salah satu jalan untuk menghilangkan satu suku adalah dengan budayanya, seperti halnya Kute Reje diganti dengan Banda Aceh, ini adalah satu contoh bagaimana Aceh akan menghilangkan kembali sejarah Gayo. Bisa dibayangkan nama-nama yang diberikan pada daerah Aceh dahulunya sekarang sudah berganti, nama-nama yang didapat dari perjalanan Sengeda bersama Gajah Putih, seperti Biren, dsb. Inilah yang mereka lakukan, GAM akan menjadikan bahasa Aceh sebagai bahasa nasional bahkan mengganti semua sebutan-sebutan yang berbau Gayo, bila ini terjadi maka anak cucu kita tidak akan pernah mengenal Gayo lagi seperti halnya kita sekarang tidak betul-betul mengetahui Kerajaan Linge denagn sesungguhnya. Ada sebuah anekdot, ketika 50 tahun nanti sewaktu Aceh Merdeka dan tidak mampu menghilangkan Chauvinismenya maka anak-anak dari orang Gayo akan menanyakan kepada orangtuanya “Ama, Gayo itu apa sih,” (dalam bahasa Aceh), lalu ayahnya menjawab “Gayo itu adalah batu hitam yang dulu berasal dari daerah bernama atu lintang,”. Sungguh menyedihkan bukan. Apakah Tanah leluhur kita akan dijual dengan semudah itu, wahai serinenku yang mendukung GAM.

Belum cukupkah kita yang menguasai seluruh Aceh kini hanya tinggal di dataran tinggi, dan seringkali mereka takut kepada kita seperti halnya melihat orang yang tertinggal atau tidak berpendidikan, Penguasa Daerah Pesisir Utara Sumatera. Tidakkah kita pernah berpikir kenapa kita sampai terusir ke atas gunung, tidakkah kita berpikir ini semua karena kita memang seringkali perang oleh Aceh, kita selalu termakan oleh tipu Aceh. Serinenku, mari kita berpikir jauh sekali ke depan. Sudah kita hancur oleh Perang Bodoh ini, kemudian kita menjual tanah leluhur kita dengan harga murah dan dengan mengorbankan sejarah kita yang seringkali mereka korbankan.

Berijin.

Pernyataan Muhammad AL Qubra Sekaligus Penghinaan Terhadap Umat Muslim

Coba simak kata-kata ini

Hasan Tiro pulang ke Acheh atas pengertian politik made in Indonesia. Artinya melakukan penipuan terhadap Indonesia. Kenapa bisa menipu? Bolehkah orang beriman menipu? Menipu itu tak boleh terkecuali menipu demi mencari redha Allah pasti dibenarkanNya. Ketika seseorang menanyakan kepada Rasulullah orang yang hendak dibunuh tanpa dibenarkan Allah dan Rasulnya. Rasulullah menjawab bahwa selama beliau disana tidak ada orang yang lewat. Memang Rasulullah berpindah tempat satu langkah saat itu, tapi menggeser satu langkah adalah untuk menipu orang tersebut bukan? Kenapa Rasulullah tidak mengatakan yang sebenarnya? Andaikata Rasulullah mengatakan yang sebenarnya justru Rasulullahpun ambil bagian dalam pembunuhan tersebut. Orang semacam anda terlalu bodoh untuk memahami hakikat perjuangan”

Muhammad Al Qubra mengatakan bahwa Rasulullah adalah penipu, bahkan Allah juga membenarkan penipuan, maka orang seperti ini yang bisa dipegang omongannya? Ia bahkan telah membawa nama Allah ketika menceritakannya. Ia sepertinya tidak mengetahui arti dari strategi dan tipu, apakah Nabi pernah menipu orang ? Perlukah saya jelaskan ini kepada majelis semua ? Nabi yang terkenal sebagai orang yang dipercaya tidak pernah menipu orang, laknatullah kau Muhammad Al Qubra. Jangan kau samakan itu tipuan Rasulullan dalam becandapun tidak pernah menipu, jangan samakan dengan Hasan Tiromu itu, kau sendiri yang sudah menjelaskan ia berpindah dengan melangkahkan kakinya, ia jujur. Ini adalah kesantunan budi dari Rosulullah, tapi bukan Penipu.

Hasan Tiro melakuakan itu ? Tidak mungkin. Rasulullah tidak pernah meninggalkan medan jihad, Rosulullah tidak pernah lari dari perang yang dipimpinnya, jangan kau terlalu banyak ungkit yang lain-lain Kau Muhammad Al Qubra, karena perjuangan mu ini sudah salah. Hasan Tiro memimpin perang dari Swedia, inikah pemimpin kalian ?

Propaganda GAM Sejati Dengan Agama (Dialog Dengan Muhammad Al Qubra)

Ulasan Muhammad Al Qubra:

"Rabbisyrahli sadri wayasirli amri wahlul uqdatam minlisani yafqahu qauli"

Andaikata kutau persis bahwa tanggapan balikku ini hanya dibaca oleh Kosasih Bakar, sungguh tak perlu kutanggapi. Tapi sebagai pendakwah yang berislah, insya Allah tulisan ini bermanfaat buat orang lainnya. Berdakwah versi Islah (muslihun) relatif beresiko dunia, kecuali pendakwah berkhidmad(fasad fil ardh atau mufsidun)


Kecuali peneliti dalam system yang redha Allah, yang lainnya taklebih daripada "pakturut" yang merupakan bagian dari orang yang bersekongkol dalam meninabobokkan rakyat jelata. Orang seperti itu mendapat "sedekah" dari penguasa dhalim.. Bagi orang semacam anda kosasih, masih butuh wawasan seperti itu. Yang anda belum faham bahwa peneliti itu kosong dari ideology. para peneliti sama dengan ilmuan. Mereka itu netral tidak memiliki ide untuk menyatakan benar - atau salah buat objek yang diteliti. Mereka bekerja untuk mendapat pujian orang ramai bukan untuk mencari keredhaan Allah. Paling banter peneliti itu mengatakan bahwa berdasarkan penelitian tentang kehidupan orang kamung bahwa rata-rata mereka morat - marit hidunya. Ketika kita tanyakan apa penyebab morat - marit itu, mereka cenderung diam kalau penyebabnya penguasa dhalim. Lazimnya mereka malah menyembunyikan penyebab yang sebenarnya dengan "mengkambinghitamka n" penyebab klasik disebabkan mereka tidak rajin bekerja", demikian kira-kira jawaban mereka.

Dalam pemahaman GAM, anda masih keliru. GAM sebagai singkatan dari Gerakan Acheh Merdeka terdiri dari siapa saja orang Acheh yang berkeyakinan bahwa manusia harus berdaya upaya untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S.
7 .157). Berdasarkan pemahaman yang demikian, saya termasuk GAM lah. Ketika anda menyaksikan ada anggota GAM yang tidak mamppu melihat materi, anda tidak boleh menyalahkan GAM secara intuisi. Lagipun kesalahan tersebut lebih disebabkan penipuan yang diciptakan oleh pihak Indonesia itu sendiri dengan menghamburkan uang buat pancingannya sebagaimana kerjanya Belanda dulu.
Penyebab utama kekejian pastinya Indonesia yang tidak adil dan menindas bukan saja terhadap orang Acheh tapi rakyatnya sendiri di Jawa yang berani memprotes kebiadabannya. GAM juga atas nama TNA semula tidak memerangi tni dan polri. Kami hanya menyatakan bahwa kami berdaulat diatas tanah pusaka kami sendiri. Tni dan polri tidak menyerahkan persoalan ini kepada pihak hakim Dunia. Justru itulah terjadinya perang. Kalau anda mengira pemberotakan itu menyengsarakan rakyat Acheh, terindikasi bahwa anda tidak memahami sucinya perjuangan membela kaum dhuafa dan anda juga tidak memahami bahwa setiap perjuangan pasti adanya pengorbanan. Tidakkah anda pahami betapa banyak korban perjuangan Rasulullah dulu dalam membela kaum dhuafa. Apakah anda mengira pengorbanan itu sia-sia? Persoalannya dimana dimana saja muncul pemimpin kaum dhuafa disitu adanya perjuangan dan ketika itulah "pintu Syahid" terbuka. Tanpa perjuangan tidak akan ada istilah syahid. Persoalan ALA dan ABBAS meruakan sandiwara yang dimainkan pihak Indonesia dengan memanfaatkan "orang -orang bodoh" sebagai peluru yang tidak berbunyi. Puja keusuma di Takengon merupakan buktinyata kelicikan kerja pihak kolonialis. Hal tersebut sudah begitu jelas diungkapkan saudara Winwannur dari Acheh Tengah. Kalau anda belum membacanya, silakan telusuri tulkisan tersebut.
Sudah 60 tahun Acheh dibawah penjajahan Indonesia, apa keuntungannya bagi orang Acheh? Ini membuktikan bahwa benar takdapat dipersatukan. Bagaimana mungkin penjajah dipersatukan dengan korbannya? Sekarang saksikanlah dengan penglihatan yang jujur setelah berdamai dengan pihak yang hipokrit, adakah pihak Indonesia berlaku jujur atau menjalankan kelicikannya sebagai watak asli mereka yang munafiq. Anda kira sekarang Acheh dalam keadaan aman? Aman bagi siapa? Pahamkah anda dengan istilah "aman" dipasung? Kami orang Acheh yang tidak ingin dijajah, lebih baik memilih hidup liar daripada hidup dalam istilah aman dipasung, kecuali orang bodohlah yang tidak memahami istilah aman dipasung.
Ketika anda berbicara perkawinan silang, nampak sekali akal bulus penjajah menyatu dengan pribadi anda. Justru itu sebetulnya anda sudah buta mata hati, anugerah Allah. Anda tak obahnya orang kesurupan, dimana jiwa anda telah didominasi makhluk non manusia. Pahamkah anda? Betapapun GAM itu lebih baik dari orang-orang macam anda. Andaikata pihak Indonesia jujur dalam menyikapi MoU Helsinki, kan tidak terjadi perpecahan di kalangan Pejuang Acheh - Sumatra. Jadi perpecahan antar pejuang dan antar daerah adalah sepakterjang kaum kolonialis untuk menghancurkan perjuangan dengan menjalankan politik "devide et empere" pusaka dari guru kalian si Belanda putih.
Ada hal yang sebaiknya tidak saya tanggapi. Sebab pikiran anda sudah mencapai klimaknya dalam kesurupan. Tsunami itu adalah hukuman Allah untuk menghancurkan tni dan polri yang berjaga-jaga di pantai serta orang-orang apapun yang bersenang-senang di gedung-gedung mewah tanpa mau peduli terhadap perjuangan membela kaum dhuafa. Andaikata bala tersebut untuk TNA, pastinya gunung yang diledakkan Allah, bukan laut.. Pahamkah anda?
Alinia anda selanjutnya juga terindikasi anda buta pemahaman agama yang haq. Bagaimana saya berbicara agama dengan orang yang dungu macam anda. Pemberontakan terhadap system Taghut yang dhalim dan hipokrit merupakan proses "Esensi Manusia". Nabi Ibrahim adalah pemberontak terhadap system Namrud, Musa pemberontak terhadap system Firaun, Muhammad pemberontak terhadap system Abu Sofyan bin Harb, Imam Khomaini pemberontak terhadap tatanan Syah Redha Palevi dan Hasan Tiro pemberontak terhadap system taghutnya Indonesia yang dhalim dan munafiq. Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS, 90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan untuk membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS, 7:157 & QS, 90:12-18). Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan sistem Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25).
Rakyat di jawa saja gak bisa makmur disebabkan Indonesia sudah menjadi negara koruptor, bagaimana mungkin mau memakmurkan Acheh sebagai jajahannya? Apakah anda sedang mimpi? Anak cucu anda itu puja Keusuma, bukan? Itu orang macam benalu setelah mengisap makanan dipohon orang, membunuh pohonnya lagi. .Enyahlah kalian dari bumi Acheh, kalau demikian nafsu jahat kalian. Dimata basyar macam kalian jelas kalian kira perang bodoh sebab tempat kalian berpijak adalah puncasilap (baca Pancasila) Berdasarkan pikiran yang demikian dungu untuk menanggapi tulisan saya, dapat dipastikan bahwa kitab pedoman hidup kalian Pancasila, nabi kalian Gusdur dan tuhan kalian adalah Soekarno, Suharto, Gusdur (doble fungsi bagi kalian), Megawati dan sekarang Yudhoyono. (Itulah yang kalian maksudkan ketuhannan dalam puncasilap, bukan? Fahamkah kalian makna daripada menuhankann manusia?
Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah swt.
Pemilik Dunia menyatakan dengan jelas apa tujuan hidup di Dunia ini: "Wamaa khalaqtul Jinna wal Insa illaa liya`buduuni" (Q.S. 51:56). Yang artinya: Tidaklah Kujadikan Jin dan Manusia kecuali untuk tunduk patuh kepada Ku. Sementara orang-orang pujakusuma tidak tunduk patuh kepada Allah dalam hidup ini tapi mereka tunduk patuh kepada penguasa dhalim.yang telah saya sebutkan diatas. Justru itu apapun ibadah ritual yang kalian lakukan semuanya sirna, tak ada nilai disisi Allah. Nilainya kalian peroleh disisi penguasa hipokrit tadi. Kuntoro sebagai sampelnya, bagaimana dia meraih hak para korban tsunami atas perintah "tuhannya", Yudhoyono. Jadi kalau menurut Pancasila alias puncasila, uud 45 made in belanda, KUHP (kasih uang habis perkara), kalian nanti akan masuk surga sedangkan orang acheh yang syahid masuk neraka. Sebaliknya menurut Al Qur-an semua orang Syahid itu masuk Syurga kelak tanpa hisab sedangkan orang-orang yang bersatupadu dalam system taghut dhalim dan munafiq macam Indonesia semuanya masuk neraka, kecuali orang-orang yang terpaksa bertaqiy yah. Mampukah kalian menangkap penjelasan ini?
Hasan Tiro pulang ke Acheh atas pengertian politik made in Indonesia. Artinya melakukan penipuan terhadap Indonesia. Kenapa bisa menipu? Bolehkah orang beriman menipu? Menipu itu tak boleh tapi menipu demi mencari redha Allah pasti dibenarkanNya. Ketika seseorang menanyakan kepada Rasulullah orang yang hendak dibunuh tanpa dibenarkan Allah dan Rasulnya. Rasulullah menjawab bahwa selama beliau disana tidak ada orang yang lewat. Memang Rasulullah berindah tempat satu langkah saat itu, tapi menggeser satu langkah adalah untuk menipu orang tersebut bukan? Kenapa Rasulullah tidak mengatakan yang sebenarnya? Andaikata Rasulullah mengatakan yang sebenarnya justru Rasulullahpun ikut ambil bagian dalam pembunuhan tersebut. Orang semacam anda terlalu bodoh untuk memahami hakikat perjuangan. Nilai pemimin sama dengan nilai keseluruhan pengikutnya. Andaikata Hasan Tiro tidak hijrah ke negara lain, tentara dan polisi yang menuhankan Megawati dan sekarang Yudhoyono akan menembaknya dan tamatlah perjuangan. Tapi beliau dapat mengendalikan perjuangan dari jarak - jauh, kenapa kalian demikian bodoh cara berpikir? Ketika Rasulullah terperangkap di medan Uhud akibat sebagian besar tentara pemanah yang diperintahkan agar tidak berpindah posisinya dilereng gunung Uhud, tidak mematuhinya akibat hijau matanya melihat demikian banyak harta rampasan, Semua sahabat setia perjuangan tidak lagi menghiraukan diri mereka sebaliknya melingkari Rasulullah sebagai benteng sambil menembaki musuh. Itulah nilai pemimpin dalam perjuangan. Berdasarkan Al Qur-an justru kalian yang bersatupadu dalam bingkai Indonesialah yang benar-.benar munafiq.
Soal pajak nanggroe terlalu dibesar-besarkan pihak yang pro penjajah. Disebabkan tidak adanya dana untuk perang, Allah mengizinkan untuk mengambil paksa milik siapapun andaikata tidak diberikan secara sukarela. Itu harta semuanya milik Allah pada hakikatnya. perang itupun tujuannya untuk membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penjajahan sebagai perintah Allah, kenapa kalian tak mampu berpikir? Sebabnya kalian bukan manusia tapi basyar yang tidak jauh berbeda dengan gorella atau mawas.
TNA "bermandikan" nyamuk dihutan dan sesekali bermandikan peluru. Tidak wajarkah mengambil pajak perang pada pengusaha tegel, misalnya sebagai ikut bertanggung jawab dalam membebaskan kaum dhuafa? Siapapun yang tidak memihak kepada perjuangan Acheh untuk membela kaum dhuafa sebagai perintah Allah swt, saya haqqul yakin mereka akan masuk neraka kelak, kecuali yang bertaqiyah dan yang bertaubat. Pernyataan saya ini kontraversi dengan pernyataan anda yang pancasilais. Kalau anda melihat ada TNA yang salahkaprah paska MoU Helsinki, pengikut Rasulullah saja banyak yang "lari kebelakang" sepeninggal beliau, konon pula pengikut pemimin biasa macam Hasan Tiro. Itu semua ujian Allah bagi seluruh orang Acheh, ada yang lulus ujian dan ada juga yang tidak. Sementara kalian orang yang bersatupadu dalam bingkai Puncasilap, takperlu lagi di uji Allah, sebab sudah pasti masuk neraka? Kenapa demikian? Sebabnya kalian adalah penyembah berhala Garuda Pancasila, bukan penyembah Allah. Kalau kalian masih mengaku sebagai penyembah Allah, itu namanya "al munafiqun". (QS, 2 :8)
Penduduk Indonesia mayoritas adalah orang-orang munafiq. Ini versi Qur-an bukan versi Pancasila. Kosasih punya "barang" adalah versi Puncasilap. Justru itu wajar dia itu silap dan sesat. Sungguh bodoh sekali anda mengira Indonesia itu negara Islam. Ilmu apa saja yang anda miliki tidak ada arti satu senpun selama anda belum memahami definisi daripada negara Islam. Hal ini erat hubungannya dengan Aqidah yang haq.
Saya takkatakan orang jawa itu kafir tapi siapapun yang bersatupadu dengan yakin dalam system Indonesia yang dhalim dan munafiq sama dengan orang munafiq. Orang munafiqlah yang berbahaya bagi kemanusiaan bukan orang kafir. Orang kafir ada yang berbahaya (baca kafir Harbi) dan ada yang tidak berbahaya (baca kafir Jimmi) Yang benar Indonesia itu adalah negara pura-pura, tidak memiliki keabsahan ditinjau dari sudut hukum Internasional. Kalau ditinjau hukum Allah pasti bathil, membangun atas keruntuhan negara lain. Hal ini sama dengan orang-orang yang mencari kesenangan diatas penderitaan orang lain, pasti neraka ujungnya kelak (hanya menunggu waktu saja). Negara RI hanya pulau Jawa dan Madura saja pada mulanya. Kemudian mulailah mencaplok wilayah lainnya dengan kekerasan dan penipuan sebagai watak khasnya orang Indonesia pada umumnya. Hal ini perlu saya nyatakan berdasarkan ucapan anda sendiri yang begitu ngaur dan menyebalkan.
Panglima sagoe yang duduk mobil masih wajar, kalau dibandingkan Penguasa dhalim Indonesia yang merampok minyak bumi di Acheh bukan untuk kesejahteraan rakyat jawa tapi untuk kesejahteraan keluarganya sendiri sampai 7 keturunan. Panglima sagoe dulu bermandikan hutan, peluru dan air mata, lalu penguasa anda menghamburkan uang diantara mereka untuk menetralisasi ide perjuangan mereka. Jadi andaikata mereka itu disalahkan, kesalahan itu berpunca dari kedhaliman dan kemunafikan ,penguasa anda melalui sepakterjang si Kontoro cs yang sekarang sudah merasa aman dari kritikan orang Acheh, tapi dia pasti masuk Neraka kelak (hanya menunggu waktu saja, nauzubillahi min zalik).
Kalian menyeru orang Acheh atau orang puja kusuma? Saya ini insya Allah pendakwah bukan tukang intimidasi. Dulu ketika ada orang Acheh yang mengkritik penguasa Indonesia lansung tni dan polisinya menyatakan itu suppersip. Apabila seseorang sudah kena stempel hantu itu, orang tersebut sudah bisa bersiap-siap untuk masuk bui. Prediksi saya, anda ini masih mengidap "penyakit" tersebut. Daripada anda berbohong untuk membangun Acheh sebagaimana bedebah-bedebah lainnya berbuih mulutnya dalam musim kampagnye untuk menipu rakyat demi kursi empuk, pulangkan saja ke Jawa untuk kalian bangun rumah buat mereka yang begitu banyak menghuni dibawah jembatan dan ditempat-tempat kumuh lainnya.
Tni itu musuh utama orang Acheh, tau? Orang Acheh sekarang hanya sekedar bermanis muka saja dengan basyar-basyar yang berani karena senjata itu, tau? Dihati orang Acheh pasti benci kepada tentara dan polisi Indonesia, kecuali orang acheh palsu. Tangan basyar-basyar itu belum kering dari lumuran darah orang Acheh. Gambar yang sering di forward saudara Warwick- Acheh di Australia merupakan bukti bisu yang menjadi memori bagi kami orang Acheh. Anda mau tuduh kami pendendam? Kalau kalian hengkang dari bumi Acheh dan kami sanggup mengatur sendiri negara pusaka yang cukup untuk mensejahtrakan bangsa kami, baru kami dapat memaafkan kalian dan kami serahkan kalian kemahkamah Internasional, khususnya mereka yang bertanggung jawab atas kerusakan negeri kami, Acheh - Sumatra. Anda hai kosasih sebaiknya pergi dulu ke rumah sakit jiwa sebelum menanggapi tulisan Al Qubra, Acheh - Sumatra.
Billahi fi sabililhaq
(alqubra)

Jawaban Kosasih Bakar:

Bismillahirrahmanir rahiim

“Saya bukan lah seorang pendawah, karena berdawah itu amat berat tanggung jawabnya, dalam berdawah kita mengajak seseorang itu dengan hujjah yang jelas tanpa ada paksaan”

Saya kembali menangis membaca tulisan dari Bung Muhammad AL Qubra, dengan kembali membawa Agama Islam dalam memperjuangkan Gerakan Aceh Merdeka serta mengatasnamakan tanah leluhur, semakin membuat saya yakin bahwa sebenarnya GAM ini tidak mempunyai ideologi yang benar bagi rakyat Aceh. Dan ironisnya sudah begitu banyak korban dari rakyat Aceh dengan sia-sia. Saya akan membagi dalam tulisan ini menjadi 3 bagian, yaitu Pluralisme Dalam Islam, Nasionalisme, Arti Jihad, Konflik Aceh Dalam Perspektif Internasional. Setelah itu baru saya akan berusaha membahas tulisan Muhammad Al Qubra bila belum terangkum dalam tulisan saya sebelumnya.

Pluralisme

Marilah bersama kita lihat bersama sebuah ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang pluralisme dan kebersamaan. Seperti:

Ide tentang pluralisme dalam Al-Quran sudah disebutkan sejak penciptaan manusia. Tuhan sebagai Dzat yang transenden menciptakan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan, dan dari keduanya dijadikanlah manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS 49:13)

Seandainya terjadi perselisihan antar sesama mukmin hendaklah dikembalikan kepada Al_Qur’an dan Assunah, karena keduanya adalah pegangan setiap mukmin. Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian akan selamat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya”. (HR. Abu Dzar)

Jadi, adalah teramat jelas berdasarkan ayat-ayat itu bahwa sesungguhnya semua manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, yang membedakannya adalah keimannya. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu ketika lahir di dunia ini, apakah ia bersuku Aceh, bersuku Jawa, bersuku Gayo atau lainnya. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan berkulit putih atau hitam atau sawo matang, yang mereka tahu hanyalah menangis sebagai awal kehidupan mereka.

Bahkan semakin membuat saya terhenyak dan mengeluarkan air mata adalah ketika tahu bahwa Hasan Tiro dan penerusnya melalui Gerakan Aceh Mereka telah menghalalkan darah sesame muslim yang tumpah di bumi Indonesia, sebuah bumi dengan mayoritas terbesar penduduknya Islam, sebuah Negara yang kaya dan terdiri dari berbagai macam suku, sebuah Negara yang seringkali dikatakan sebagai Macan Asia Yang Tidur, Negara tersebut kini masih dalam kesulitan-kesulitan yang mendera karena berbagai ragam kesulitan-kesulitan baik KKN, separatism, Krisis Moneeter dan lain sebagainya.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (Perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)

Terbayang oleh saya ketika GAM berperang mengatakan “Allahu Akbar,” kemudian di sisi yang lain TNI yang notabene muslim juga mengatakan “Allahu Akbar,” merinding saya membayangkannya. Dalam perang semua bisa terjadi, jangan katakana kejahatan perang hanya dilakukan oleh TNI, kejahatan perang juga dilakukan oleh GAM. Seperti GAM menceritakan bahwa Rakyat Aceh diperkosa, dibunuh, dicincang oleh TNI, begitu juga sebagian rakyat Aceh mengatakan bahwa mereka juga diperkosa, dicincang, dibakar oleh GAM. Semua berlomba untuk mengabadikan setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing lawannya.

Kesalahan dari GAM adalah ketika ia membenci Suku Jawa, karena merasa NKRI itu diwakilkan oleh Jawa, padahal NKRI itu terdiri dari banyak suku bangsa. Mereka berupaya membangun nasionalisme rakyat Aceh tersebut melalui hal tersebut, kesalahan konsep ini berakibat fatal ketika ternyata rakyat Aceh sudah banyak yang berasal dari suku Jawa sejak zaman Iskandar Muda, bahkan pada zaman kemerdekaan. Sekaligus ini menafikkan salah satu sunnatullah bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah berbagai ragam untuk saling mengenal.

Hal ini semakin menarik, dikala permusuhan tradisional antara Aceh dan Gayo mencuat, ketika sejarah memperlihatkan bahwa Aceh dan Gayo itu mempunyai bahasa yang amat berbeda, ketika Aceh dan Gayo mempunyai adat yang berbeda, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Gayo tidak mau dikatakan Aceh atau Aceh tidak mau dikatakan Gayo, atau ketika mereka saling memperolok dengan sebutan ‘Gayo Re’ dari orang Aceh atau ‘Aceh Pungo’ dari orang Gayo yang sudah demikian tertanam sejak zaman nenek muyangnya.

Ketika dipertanyakan siapa suku asli di Aceh, maka sudah jelas jawabannya adalah suku Gayo, akan tetapi ketika dipertanyakan sejauh mana kemurnian suku Gayo sekarang ini atau siapa yang benar-benar suku Gayo? Abad pertama yang menceritakan tentang Kerajaan Linge seringkali dikatakan sebuah generasi pertama dari suku Gayo. Namun, abad-abad berikutnya dan seterusnya sudah tentu generasi itu melakukan perkawinan silang, terlebih lagi dengan sifat orang Gayo yang labih menyukai untuk perkawinan angkap atau mengambil menantu dari luar daerahnya. Ini sangat memungkinkan, karena dalam suku Gayo tidak diperkenankan menikah dalam satu kampong dan hukumannya adalah di parak dahulu. Keterbukaan orang Gayo memang luar biasa. Setelah selama hampir 19 abad dengan banyaknya perkawinan maka yang akan menjadi pertanyaan adalah siapa suku Gayo itu ? Jawaban yang termudah adalah suku yang tetap menggunakan bahasa Gayo dan tetap mempertahankan adat Gayo untuk menjalani kehidupannya.

Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABBAS) merupakan salah satu akibat dari konsep kemerdekaan GAM tersebut, sebuah konsep yang pragmatis. Selama ini hampir dalam setiap statemennya GAM mengatakan bahwa isu ALA dan ABBAS disebarkan oleh pihak-pihak NKRI tanpa pernah mau melihat kenyataan bahwa memang pada daerah tersebut sering terjadi ketidakadilan yang kerap kali diterima, banyak hal sebenarnya, sebagai contoh ketika masih zaman Orde Baru setiap pimpinan yang ditunjuk dari Pusat kebanyak orang-orang Aceh pada daerah Gayo, ini tentu menandakan bahwa usaha mereka menganggap orang Gayo itu lemah dan tidak mampu dalam mengelola daerahnya, atau dampak lainnya adalah ketika SDM yang ada di Gayo amat rendah, sampai sekarang masih bisa dihitung yang S2 atau S3 nya, belum pernah ada seorang Menteri dari Gayo, padahal sebenarnya ada beberapa tokoh dari Gayo yang jelas bisa menduduki jabatan ini, ini adalah akibat dari permusuhan tradisional antara Gayo dan Aceh seperti halnya yang terjadi antara suku Sunda dan Jawa sampai saat ini.

ALA dan ABBAS merupakan salah satu strategi untuk dapat mengamankan Aceh di masa yang akan datang, dengan ALA dan ABBAS maka konsep Aceh Merdeka akan hilang, adalah tidak memungkinkan Aceh Merdeka hanya sebanyak 30% dari wilayah Aceh sekarang. Kembali kembali kepada suku Jawa, ironisnya pada daerah ALA dan ABBAS sudah begitu banyak transmigran yang ada, bahkan telah melakukan perkawinan antar suku, sehingga ikatan batin dari kedua-dua suku tersebut sudah amat mengental.

Sesungguhnya ini juga yang ditakutkan bila GAM berhasil memerdekakan diri mereka dengan konsep 4 negara bagian, akan timbul peperangan sebelumnya antara suku Jawa dengan suku-suku lain yang ada, ini akan mengakibatkan ketidakamanan kembali, yang akan terjadi adalah peperangan antar etnik. Kemudian apa yang akan terjadi dengan anak-anak yang merupakan hasil dari perkawinan silang, haruskah mereka memilih kepada suku siapa, ama atau inenya ? Setelah ini selesai pertentangan antara Gayo dan Aceh juga tidak akan berhenti, karena sebagian orang Gayo sudah amat keras mengatakan Asal Linge Awal Serule, mereka adalah penguasa Aceh dahulunya. Ini akan terus berlanjut, kemudian akan timbul yang namanya Gayo Merdeka yang sudah barang tentu akan didukung oleh suku Jawa. Terbayang oleh saya sebuah peperangan yang tidak akan pernah habis dari bumi Aceh yang kita cintai karena Faham Chauvinisme (Kesukuan yang tinggi) dari suku Aceh. Yang akan terjadi adalah Geonesida (pemusnahan satu suku) Jawa, lantas kemudian Gayo.

Selain dengan perang, maka salah satu jalan untuk menghilangkan satu suku adalah dengan budayanya, seperti halnya Kute Reje diganti dengan Banda Aceh, ini adalah satu contoh bagaimana Aceh akan menghilangkan kembali sejarah Gayo. Bisa dibayangkan nama-nama yang diberikan pada daerah Aceh dahulunya sekarang sudah berganti, nama-nama yang didapat dari perjalanan Sengeda bersama Gajah Putih, seperti Biren, dsb. Inilah yang mereka lakukan, GAM akan menjadikan bahasa Aceh sebagai bahasa nasional bahkan mengganti semua sebutan-sebutan yang berbau Gayo, bila ini terjadi maka anak cucu kita tidak akan pernah mengenal Gayo lagi seperti halnya kita sekarang tidak betul-betul mengetahui Kerajaan Linge denagn sesungguhnya. Ada sebuah anekdot, ketika 50 tahun nanti sewaktu Aceh Merdeka dan tidak mampu menghilangkan Chauvinismenya maka anak-anak dari orang Gayo akan menanyakan kepada orangtuanya “Ama, Gayo itu apa sih,” (dalam bahasa Aceh), lalu ayahnya menjawab “Gayo itu adalah batu hitam yang dulu berasal dari daerah bernama atu lintang,”. Sungguh menyedihkan bukan. Apakah Tanah leluhur kita akan dijual dengan semudah itu, wahai serinenku yang mendukung GAM.

Belum cukupkah kita yang menguasai seluruh Aceh kini hanya tinggal di dataran tinggi, dan seringkali mereka takut kepada kita seperti halnya melihat orang yang tertinggal atau tidak berpendidikan, Penguasa Daerah Pesisir Utara Sumatera. Tidakkah kita pernah berpikir kenapa kita sampai terusir ke atas gunung, tidakkah kita berpikir ini semua karena kita memang seringkali perang oleh Aceh, kita selalu termakan oleh tipu Aceh. Serinenku, mari kita berpikir jauh sekali ke depan. Sudah kita hancur oleh Perang Bodoh ini, kemudian kita menjual tanah leluhur kita dengan mengorbankan sejarah kita yang seringkali mereka korbankan.

Nasionalisme Semu


Satu hal yang mungkin tidak disadari banyak orang, temasuk umat Islam, adalah kenyataan bahwa nasionalisme sebenarnya adalah ide yang diperalat oleh Barat untuk menjajah dan mendominasi dunia (Abdus Samiأ¢â‚¬â„¢ Hamid, 1998). Negara-negara Kapitalis seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, telah menggariskan langkah politik untuk memperkokoh atau mempertahankan eksistensi dan pengaruhnya dengan cara memecah belah sebuah kekuatan politik dan merekayasa berbagai konflik dan kekacauan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Bila kondisi chaos sudah tercipta, nasionalisme akan datang dengan kedok أ¢â‚¬إ“hak menentukan nasib sendiriأ¢â‚¬?, atau isu أ¢â‚¬إ“bangsa yang berdaulat dan merdekaأ¢â‚¬?, dan sebagainya. Nasionalisme dijadikan landasan untuk menuntut kemerdekaan sekaligus untuk legitimasi perpecahan dan separatisme. Contoh kontemporer yang sangat gamblang, adalah masalah Timor Timur, yang secara sukses telah diceraikan dari Indonesia oleh Barat dengan tekanan-tekanan dan senjata mematikan : jajak pendapat (baca : nasionalisme) .

Rasulullah SAW pun telah mengharamkan ikatan ashabiyah, termasuk?آ nasionalisme :

أ¢â‚¬إTidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)

“Dari Watsilah Ibnul Asqa’; saya bertanya kepada Rasulullah SAW. apakah seseorang yang mencintai kaumnya termasuk ashabiyyah? Rasulullah menjawab: Tidak; tapi yang termasuk ashabiyyah ialah bila ia menolong kaumnya dalam kezaliman.”

Faham Chauvinisme ialah faham yang mengagungkan tanah air secara berlebih-lebihan.
Nabi Muhammad SAW. bersabda “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru keoada ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang atas dasar ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena membela ashabiyyah” (H.R. Abu Dawud). “Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena mempertahankan diri dan berperang karena riya. Manakah yang termasuk di jalan Allah? Rasulullah menjawab: Barangsiapa yang berperang untuk menjunjung tinggi kalimah Allah maka ia di jalan Allah.”

Gayo bukan Chauvinisem adalah amat jelas, Gayo adalah suku terbuka, bahkan bisa menerima Jawa, Padang, Batak, bahkan Aceh itu sendiri sebagai kemudian disebut orang Gayo. Inilah kelebihan suku Gayo, walau sudah berabad-abad lamanya sejak zaman Kerajaan Linge bahasa Gayo itu tetap eksis, budaya Gayo masih tetap eksis, bahkan perpaduan Gayo dengan Padang di Blang Kejern tetap memenangkan suku Gayo yang menjadi pemegang adat. Bandingkan dengan Aceh Selatan yang masih tetap menggunakan bahasa Padang sebagai bahasanya.

Selanjutnya ketika kita membaca hadist-hadist tersebut apa yang terpikirkan oleh kita pertama kali adalah sungguh menyedihkan para pejuang GAM yang telah meninggal, mereka adalah jauh dari syahid, mereka mati dalam keadaan sia-sia. Ketika mereka dikatakan membela kehormatan mereka, tapi mereka telah melupakan arti perdamaian, seluruh rakyat Indonesia juga sama seperti apa yang dirasakan oleh rakyat Aceh, tapi karena merasa sebagai saudara seiman mereka tidak mau melakukan pemberontakkan seperti apa yang dilakukan oleh Hasan Tiro, karena mereka tahu ini tidak baik, mereka tahu bahwa Allah amat membenci hal ini.

Segala sesuatu yang dimulai dari niat yang salah, akan menjadikan hasil yang salah pula.

Jihad

Jihad adalah berjuang – membunuh dan dibunuh – demi Allah semata, dalam rangka menjadikan Kalimah-Nya tertinggi. Adalah sebuah kewajiban yang ditahbiskan di dalam Al Qur'an (lihat al Baqarah 2:216)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (yaitu, Syirik) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. (QS Al Anfal 8:39)

Rasulullah, sallallahu 'alayhi wassallam, bersabda,

"...siapapun yang berjuang di bawah panji-panji emosi, menjadi marah karena sikap berat sebelah ('asabiyah), menyeru ke arah 'asabiyah, atau mendukungnya dan kemudian meninggal, maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah." [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (6/21), dari Abu Hurairah]

Kembali saya tertegun dengan Ayat Al Qur’an dan hadist ini, semakin takut saya nanti Hasan Tiro di akhirat seperti apa pertanggungjawabann ya kepada Allah SWT dan orang-orang yang termakan dengan isu perjuangannya yang pragmatis tersebut.

Ntah apalagi yang harus dikatakan karena semuanya begitu jelas.

Konflik Aceh

Seluruh rakyat Indonesia merasakan apa yang dirasakan oleh Rakyat Aceh, Indonesia bagian Timur juga merasakan hal yang sama dirasakan rakyat Aceh. Mereka merasakan pada zaman Soeharto semuanya tertekan dengan kebijakan-kebijakan Soeharto yang sangat pragmatis atas dasar menyelamatkan nasionalisme Indonesia.

Semua rakyat Indonesia juga tahu bagaimana dwi fungsi ABRI telah menyebabkan pemerintahan otoriter, Soeharto dengan kaki tangannya (baca TNI). Semua rakyat Indonesia merasakah hal yang sama.

Terkait dengan Aceh, semua orang juga tahu yang pertama kali meminta agar Aceh dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer adalah Ibrahim Hasan, orang Aceh yang kalau pulang ke Aceh diam-diam karena takut ia diliecehkan oleh orang Aceh sendiri.

Namun, yang tidak pernah diungkap adalah ternyata ada sebagian rakyat Aceh, khususnya orang Aceh yang tidak mau dikatakan Aceh (baca Gayo) melakukan pendekatan kepada TNI, malah memanggil TNI lebih banyak ke daerah untuk mempertahankan keamanan wilayahnya dari GAM. Bila dibandingkan dengan orang Aceh yang lain, maka korban dari daerah dataran tinggi Aceh relative lebih sedikit, bahkan yang menjadi masalah bagi mereka adalah beban psikis akibat perang ini, mereka tidak bisa lagi menjual hasi tani mereka, banyak yang dipaksa menyerahkan pajak nanggroe. Ini semakin terasa ketika banyak transmigran yang ada di dataran tinggi Aceh harus diperkosa, dirampok, dibunuh, dihina oleh GAM, dan ini juga terjadi kepada orang Gayo yang tidak mengikuti keinginan dari GAM, mereka memaksa anak-anak orang Gayo untuk dapat menjadi anggota GAM dengan ancaman keluarga mereka akan disiksa.

Selama puluhan tahun telah terjadi konflik, hingga tsunami tiba. Seharunsya rakyat Aceh sadar ini adalah peringatan dari Allah atas tumpahnya darah sesame muslim di bumi Aceh yang kita cintai. Ketika mesjid-mesjid diselamatkan dari tsunami, ketika Masjid Raya dinaikkan Allah bagi mereka yang masuk kedalamnya, ketika banyak orang China yang mengucapkan syahadat, ketika rumah-rumah masyarakat yang hancur seperti dipilih oleh tsunami, apakah ini bukan peringatan dari Allah SWT.

Kemudian dikatakan bahwa tsunami telah menghancurkan senjata-senjata yang ada di pinggir laut, ini karena semua rakyat Aceh tahu dimana Polisi dan TNI menyimpan gudang senjatanya. Tapi apakah mereka tahu seberapa banyak senjata GAM yang dibawa oleh air laut, yang tersebar di pinggir-pinggir pantai. Wahai Pimpinan GAM kenapa engkau tidak membuka ini kehadapan public, biar Aceh ini tidak lagi dalam kekerasan, biar Aceh ini aman dari slogan-slogan yang membuat rakyat Aceh menderita kembali. Tidakkah kalian takut dengan bencana yang akan diberikan Allah khusus kepada orang-orang seperti ini ?

Lalu saya membaca tulisan Muhammad Al Qubra tentang Puja Kusuma yang dihubung-hubungkan dengan Penyembaan Berhala, apakah ia tidak berpikir ia selama ini telah menyembah Hasan Tiro ? Berhala Hasan Tiro. Ia juga yang kerapkali berkomentar bahwa perkataan yang hak digunakan untuk yang batil, apakah saya atau dia yang menggunakannya. Belum lagi tentang penyembahan kepada Garuda Pancasila, tapi ia tidak pernah berpikir telah menyembah Bintang dan Bulan melebihi apapun. Siapa yang menggunakan perkataan hak untuk yang batil ?

Orang Islam dari manapun akan menangis atau bahkan tertawa hingga menangis ketika mendengar Hasan Tiro berjuang melawan Thogut NKRI, sesama muslim, bila NKRI itu Kolonialis Belanda yang notabene menjajah, maka Jihad itu bisa dilakukan seperti orang-orang di Iraq, Palestin, Khasmir, Morro, Afganistan, Chencya, tempat itu semua adalah medan jihad dimana semua mujahidin berdatangan dari penjuru dunia, tapi di Aceh ? Astagfirullahal’adzim, apakah ketika sebagian mereka sudah berlatih di Libya kemudian perang ini dikatakan Jihad. Sekali lagi, jangan bodohi lagi orang-orang Aceh, kenapa tidak berikan damai saja kepada kami semua.

Coba simak kata-kata ini

Hasan Tiro pulang ke Acheh atas pengertian politik made in Indonesia. Artinya melakukan penipuan terhadap Indonesia. Kenapa bisa menipu? Bolehkah orang beriman menipu? Menipu itu tak boleh terkecuali menipu demi mencari redha Allah pasti dibenarkanNya. Ketika seseorang menanyakan kepada Rasulullah orang yang hendak dibunuh tanpa dibenarkan Allah dan Rasulnya. Rasulullah menjawab bahwa selama beliau disana tidak ada orang yang lewat. Memang Rasulullah berpindah tempat satu langkah saat itu, tapi menggeser satu langkah adalah untuk menipu orang tersebut bukan? Kenapa Rasulullah tidak mengatakan yang sebenarnya? Andaikata Rasulullah mengatakan yang sebenarnya justru Rasulullahpun ambil bagian dalam pembunuhan tersebut. Orang semacam anda terlalu bodoh untuk memahami hakikat perjuangan”

Muhammad Al Qubra mengatakan bahwa Rasulullah adalah penipu, bahkan Allah juga membenarkan penipuan, maka orang seperti ini yang bisa dipegang omongannya? Ia bahkan telah membawa nama Allah ketika menceritakannya. Ia sepertinya tidak mengetahui arti dari strategi dan tipu, apakah Nabi pernah menipu orang ? Perlukah saya jelaskan ini kepada majelis semua ? Nabi yang terkenal sebagai orang yang dipercaya tidak pernah menipu orang, laknatullah kau Muhammad Al Qubra. Jangan kau samakan itu tipuan Rasulullan dalam becandapun tidak pernah menipu, jangan samakan dengan Hasan Tiromu itu, kau sendiri yang sudah menjelaskan ia berpindah dengan melangkahkan kakinya, ia jujur. Ini adalah kesantunan budi dari Rosulullah. Hasan Tiro melakuakan itu ? Tidak mungkin. Rasulullah tidak pernah meninggalkan medan jihad, Rosulullah tidak pernah lari dari perang yang dipimpinnya, jangan kau terlalu banyak ungkit yang lain-lain Kau Muhammad Al Qubra, karena perjuangan mu ini sudah salah. Hasan Tiro memimpin perang dari Swedia, inikah pemimpin kalian ?

Dan jangan katakan juga bahwa TNI itu musuh rakyat Aceh, TNI bukan musuh masyarakat Gayo, pergi kau ke Gayo banyak TNI di sana, bilang kau GAM dan katakan orang Gayo bodoh karena mau dengan TNI, kau lihat apa yang akan diperbuat orang Gayo disana. Jangan macam-macam Kau dengan orang Gayo wahai Aceh Pungo. Lantas kau pergi ke Aceh Barat dan Selatan, dengarkan apa kata mereka yang mengatakan bahwa Hasan Tiro menipu, GAM penipu telah membawa uang orang Meulaboh untuk beli senjata. Jika tipu seperti ini kau samakan dengan apa ayng dikerjakan Rasulullah tadi maka Laknatullah Kau. Maaf, saya terbawa emosi.

Baiklah, kemudian dikatakan bahwa NKRI penipu, setuju, sebelum era reformasi semua rakyat Indonesia ditipu. Walau demikian uniknya lagi ternyata masih banyak juga yang mengatakan bahwa era Soeharto lebih baik, ntahlah, wallahu’alam bishowab. Permasalahannya adalah ternyata GAM telah melakukan penipuan-penipuan dalam MoU helsinky, siapapun tahu bahwa MoU itu hanya menguntungkan GAM dan anggotanya dan sudah terealisasikan di masyarakat, bukan. Sekarang siapa yang menipu siapa ?

Coba simak ayat yang dibawa untuk Perang Aceh:

Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS, 90:10).

Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan untuk membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS, 7:157 & QS, 90:12-18).

Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan sistem Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25).

QS 7:157 ternyata lebih menceritakan kita semua harus mengikuti Rosulullah, kemudian untuk QS 90:12-18 lebih mengisahkan tentang 2 jalan yang untuk haq dan batil, sedangkan QS Al Hadid:25 menceritakan tentang senjata untuk melakukan peperangan.

Rupanya Muhammad Al Qubra melalui QS 90:12-18, QS Al Hadid:25, mencoba untuk mengatakan bahwa dengan melepaskan diri dari perbudakan, memelihara anak yatim dan menegakkan agama Allah boleh dilakukan dengan kekerasan. Dan ini yang memang harus dilakukan oleh muslimin seluruh dunia, tapi ini tidak sesuai konteksnya di Indonesia.

Pertama: Indonesia merupakan sebuah Negara muslim terbesar di dunia, masih banyak orang-orang yang mengatakan Laa ILaha Illallah, masih banyak yang mengucapkan syahadat. Nah, tentunya ayat-ayat tersebut harus dilakukan sebuah kajian lebih lanjut,

Kedua, terlebih lagi yang diperjuangkan GAM itu bukan menegakkan kalimat Allah Laa Ila Illallah, akan menegakkan thogut Negara Aceh, tentunya amat sangat berbeda. Bila kita mengaitkan Islam tentunya yang diharapkan adalah tegaknya Khilafah Islamiyah, tapi rasanya itu memerlukan waktu yang panjang. Butuh sebuah persamaan persepsi menuju ke sana.

Ketiga, Sudah banyak ayat dan hadist yang mengatakan bila ada permusuhan diantara kamu maka didahulukan perdamaian bukan peperangan, dan penumpahan setetes darah muslim itu amat berat pertanggungjawabann ya.

Keempat: bila memang perjuangan GAM itu menegakkan kalimah Allah, maka sudah barang tentu akan banyak mujahidin internasional yang berbondong-bondong ke Aceh untuk mencari syahid. Malah yang datang ke Aceh adalah Mujahidin-mujahidin dari Indonesia dan internasional yang membantu mengangkat mayat-mayat rakyat Aceh, seluruh rakyat Indonesia.

Selanjutnya saya hanya ingin menyampaikan kepada majelis semua, agar berhati-hati dengan GAM, karena ada kemungkinan telah disusupi olah Yahudi, paling tidak kita pernah tahu bahwa istri Hasan Tiro adalah Yahudi, serta perjungan GAM juga sepertinya didukung USA. Sampai kapanpun Yahudi dan Kafirun tidak akan pernah membiarkan Negara terbesar penduduknya ini damai untuk dengan Islamnya.

Terakhir, siapa yang sakit jiwa Omar Poteh kah ? Atau Kosasih Bakar ? Orang yang gila perang dan membunuh orangkah ? Atau orang yang menginginkan perdamaian abadi dengan ALA dan ABBAS serta tidak ingin Aceh Merdeka ? Silahkan para pembaca memikirkannya ?

Berijin.