25 Juni 2009

Falsafah Tari Guel

Tulisan ini merupakan tanggapan dari Saudara saya, serinen saya Tengku Yusra Habib Abdul Gani yang menjelaskan falsafah tari guel yang diterbitkan dalam koran Serambi, 21 Juni 2009 atau dapat dilihat pada http://yusrahabib.blogspot.com/2009_06_01_archive.html, Juni 2009, dengan judul Falsafah Tari Guel. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Saudara Yusra bahwa memang dikatakan bahwa asal mula tari guel tersebut adalah penjelmaan Bener Meriah yang dibunuh oleh Reje Linge ke XIII, tapi perlu ada pelurusan sejarah dalam tulisannya bahwa dalam kekeberen (jika memang ini yang digunakan Saudara Yusra untuk mengangkat asal muasal Tari Guel, dapat dilihat http://cossalabuaceh.blogspot.com/search/label/Sejarah%20dan%20Sastra, dengan judul Kekeberen) menceritakan bagaimana sesungguhnya Reje Linge ke XIII sama sekali tidak mengetahui kalau Bener Meriah dan Sengeda tersebut merupakan saudara sedarahnya sendiri, kemarahannya muncul berdasarkan ketika melihat keduanya memiliki rencong dan cincin yang bertuliskan Reje Linge. Kedengkiannya timbul karena beranggapan bahwa ayahnya, Reje Linge ke XII telah diracun, mereka dianggap sebagai orang-orang yang ingin mengambil kekuasaannya. Kejadian ini lebih merupakan sebuah pertahanan diri dalam mempertahankan kekuasaannya dari musuh yang dianggap berpura-pura menjadi seorang teman. Bahkan dalam sejarah terlihat bagaimana Sengeda bisa selamat dari pembunuhan karena sifat kasihan atau sifat anti kejahatan oleh Panglima Serule, dengan menggantikan darah Sengeda dengan darah kucing.
Kemudian penjelmaan Bener Meriah menjadi Gajah Putih merupakan sebuah ungkapkan adanya bukti bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap Bener Meriah.
Dan Sengeda telah berusaha untuk mengungkapkan hal tersebut melalui Putri Raja Aceh untuk kemudian untuk tertarik kepada Gajah Putih tersebut, sehingga diumumkan untuk segera mencari Gajah Putih tersebut, yang ujungnya adalah terungkapnya permasalahan ini sehingga tergantikannya Reje Linge ke XIII oleh Sengeda, dan tampilnya Datu Beru sebagai pemersatu masyarakat Gayo pada umumnya.
Melihat sejarah ini adalah memperlihatkan betapa besarnya bangsa Gayo itu, dan betapa santunnya masyarakat Gayo tersebut dalam menyelesaikan persoalan internal di antara mereka serta bagaimana cara merebut kekuasaan tanpa harus ada peperangan besar, lebih kepada sebuah trik dan intrik serta takdir yang telah menentukan garis tangannya.
Kalau Tari Guel tersebut dikatakan oleh Saudara Yusra dengan sebutan sebuah “Musium Gerak Tanpa Bangunan” berkenaan dengan sifat orang Gayo yang tega untuk membunuh saudaranya sendiri adalah terlalu naif, karena itu hanyalah sebagian kecil dari banyak pesan yang ingin disampaikan dalam Tari Guel tersebut. Musium Gerak ini bahkan mengungkapkan bagaimana santunnya dan cerdiknya orang Gayo dalam menampilkan bukti-bukti yang dianalogikan pada Gajah Putih dengan berbagai gerakan, sehingga orang-orang akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelum mengungkapkan falsafah Tari Guel tersebut ada baiknya kita paham betul tentang akar filosofi dari Tari Guel ini, yaitu sebuah upaya untuk membawa bukti-bukti sebuah kejahatan dari Gayo menuju Kutereje yang dikarenakan ketidaksengajaan atau ketidaktahuan sehingga menimbulkan dengki dalam pembunuhan Bener Meriah tersebut. Jadi sekali lagi bukan sebagai sifat orang Gayo yang suka membunuh saudaranya, karena ini amat berbahaya dalam penafsiran dari setiap gerakan nantinya.
Kebetulan saya adalah seorang Penari Guel yang sudah menghantarkan puluhan pengantin ke pelaminan, saya akan mencoba menceritakan perasaan-perasaan yang saya rasakan untuk kemudian dipadukan ke dalam falsafah Tari Guel tersebut. Satu hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya adalah bahwa ada kenikmatan tersendiri ketika saya sampai pada tahapan ekstase ketika menarikannya, seolah-olah saya sudah menyatu dengan alam ini, seolah-olah bumi sudah menjadi pentas utama saya, bahkan seolah-olah muyang datu saya sudah masuk ke dalam raga saya untuk menarikan tarian kebanggaan orang Gayo ini.
Dalam Tari Guel ini dibagi menjadi 2 tahapan yang terdiri dari beberapa gerakan. Tahapan pertama adalah kumpulan gerakan-gerakan yang merayu Gajah Putih hingga mau untuk diajak atau dituntun oleh sang Penari Guel. Selanjutnya tahapan kedua adalah tahapan dimana Penari Guel menuntun sekaligus menjaga langkah Gajah Putih tersebut sampai pada tujuannya.
Tahapan Merayu
Tahapan pertama atau tahapan merayu ini seringkali saya katakan sebagai tahapan kerja keras atau tahapan yang paling berat, atau dalam ilmu sekarang ini disebut dengan tahapan meyakinkan atau meloby. Dalam ilmu komunikasi tahapan inilah yang paling sulit, tahapan dimana kita mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang ingin kita yakini, atau mendapat gelar amanah bagi Rosulullah SAW, atau dipercaya dalam berbisnis. Tahapan ini merupakan kunci utama dalam setiap kegiatan kehidupan, hablum minannas. Dan yang paling penting diingat adalah pada tahapan ini upuh ulen-ulen masih dilingkarkan pada leher belakang penari belum betul-betul diuleskan di belakang bagian tubuh penarii
Sebelum memulai menari biasanya penari melakukan gerakan menghentakan kaki dan ulesnya untuk kemudian berlari secara berjinjit ketika akan memasuki gelanggang perayuan untuk kemudian mengambil posisi Munatap. Gerakan ini menunjukkan sebuah sifat orang Gayo yang ketika akan memasuki gelanggang apapun ia pertama kali akan menunjukkan eksistensi dirinya, atau menggertak dengan berbagai cara terlebih dahulu untuk kemudian mengambil posisi secara diam-diam tanpa diketahui. Ini juga yang sering digunakan dalam peperangan yang dinamakan menggertak terlebih dahulu untuk menarik perhatian lawan untuk kemudian diam-diam melakukan persiapan-persiapa sesuai dengan perencanaan.
Munatap, gerakan ini seringkali disebut dengan gerakan belalai Gajah, gerakan dimana belalai gajah dianalogikan dengan 2 buah tangan kita. Karena belalai merupakan bagian paling penting dari seekor Gajah. Selain sebagai indra penciuman juga disitu terdapat senjata untuk mempertahankan diri sekaligus tempat masuknya makanan seekor gajah. Gerakan munatap ini seperti gerakan belalai gajah seolah-olah merayu Sang Gajah bahwa kita tahu betul tentang dirinya, tahu betul rahasia dan kebutuhannya. Dalam munatap ini biasanya dilakukan dengan arah ke depan, kanan dan kiri yang seolah-olah juga ingin menunjukkan sebuah sikap rasa percaya diri bahwa penari tahu betul tentang rahasia yang akan dirayu. Ini tentunya lebih kepada sebuah ancaman awal kepada Gajah Putih bahwa Sengeda tahu betul tentang dirinya.
Dan ini seharusnya menjadi sifat orang Gayo, bahwa setiap peperangan atau tindak tanduknya ia harus tahu betul kondisi dari lawannya atau apa yang harus dihadapinya. Dan ini sudah diawali dengan gertakan awal dan lari menjinjit untuk mencari tahu atau dalam ilmu modern sudah mengatahui analisa SWOT nya. Dan uniknya karena sifat berani orang Gayo, para lawan itu digertak sedemikian rupa untuk mengetahui kemampuan kita bahwa kita mampu menghadapi mereka atau tahu rahasia terdalam mereka.
Gerakan Redep dan ketibung merupakan gerakan yang selalu digunakan dalam antara berbagai tahapan gerakan Tari Guel. Gerakan redep merupakan gerakan bahu yang turun naik diikuti dengan gerakan tangan dan jemarinya yang terlihat berlenggak-lenggok. Seringkali gerakan bahu tersebut dianalogikan dengan kipasan dari kuping gajah atau kuping Gajah yang tergelitik, karena ada sebuah ungkapan bahwa Gajah paling suka bila digelitik kupingnya. Dalam menggerakkan kuping bagi seorang manusia memerlukan energi yang besar serta sebuah kemauan, begitu juga halnya dengan Gajah. Ketika Gajah menggerakkan kupingnya maka ia menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Gerakan ini juga memperlihatkan kerja keras dan kesombongan sekaligus gerakan manja untuk merayu. Gerakan ini diikuti dengan gerakan 2 tangan dan jari-jarinya bebas untuk berliak-liuk seperti halnya dengan belalai gajah. Kesemuanya merupakan sebuah usaha merayu, mengancam, menawarkan Gajah Putih.
Ini semua dapat diartikan sebagai sebuah sikap tawar menawar antara Sengeda dan Gajah Putih agar Sang Gajah mau mengikuti Sengeda. Dalam dunia modern ini dikatakan sebagai take and give, melakukan tawar menawar.
Kepintaran Sengeda ditambah dengan gerakan hentakan tangan dan kaki diikuti dengan anggukan kepala. Gerakan ini dinamakan dengan gerakan ketibung, atau dikatakan sebagai shock terapi terhadap gajah tersebut. Ini menunjukkan bahwa Sengeda ingin mengatakan kalau ia bisa memberikan kenikmatan yang diinginkan Gajah. Namun ia juga mengatakan bahwa kenikmatan itu bisa hilang atau bisa dinikmati lagi, ada sedikit ancaman dan kenikmatan. Dalam ilmu modern ini seringkali disebut dengan tarik ulur hingga apa yang diinginkan tercapat atau diikuti. Orang Gayo juga punya potensi untuk hal yang satu ini, mereka amat pandai untuk bernegosiasi hingga keinginan mereka tercapai dengan lembut maupun sesekali keras.
Setelah melakukan sebuah kesepakatan-kesepakatan maka kemudian Sengedal akan melakukan gerakan Sengker Kalang, atau sering kali disebut dengan gerakan terbang elang untuk mengamankan jalannya, melihat keadaan yang ada di bawahnya. Seperti yang dikatakan Saudara Yusra memang gerakannya melingkar atau melengkung dengan tubuh yang runduk, miring dan berlari kecil dengan berjinjit sambil mengepakkan sayapnya. Inilah fase dimana pengintaian dengan mata yang jeli. Dalam ilmu modern dinamakan dengan mengindentifikasi permasalahan-permasalahan yang mungkin saja terjadi mengganggu kesepakatan yang sudah ada tadi.
Biasanya setelah gerakan ini penari sudah menggunakan upuh ulon-ulonnya menutupi sebagian tubuhnya, yang berartikan sudah siap memakai pelindung, sudah mempersiapkan senjatanya untuk mengamankan apa yang sudah disepakati dan melakukan perencanaan dari hasil pemantauan pada gerakan pertama tadi.
Barulah kemudian dilanjutkan dengan gerakan Kepur Nunguk, suatu gerakan mengibaskan upuh ulon-ulonnya dengan berputar-putar, maju atau mundur dengan gerakan yang menghentak atau tegas. Seperti yang dikatakan oleh Saudara Yusra, memang Kepur itu artinya mengibas atau membersihkan dengan menundukkan badannya. Ini menandakan bahwa orang Gayo itu dalam menghilangkan halangan-halangan itu walau dengan tegas dan menantang tapi selalu dalam keadaan tertunduk atau katakan dengan dingin. Menghilangkan halangan-halangan yang bisa merusak kesepakatan-kesepakatan yang sudah disepakati.
Nah, setelah ini barulah dirayakan dengan gerakan Cincang Nangka awal, atau akhir dari tahapan pertama gerakan Tari Guel, kenapa dikatakan awal karena gerakan cincang nangka pertama ini masih gerakan yang dilakukan penari mengajak alam sekitarnya dan Sang Gajah untuk melebur diri, merayu, menyatu dengan berhasilnya kesepakatan tadi. Pada fase inilah Sengeda berhasil merayu Sang Gajah, dengan memegang belalai Sang Gajah untuk dituntun mengikuti Sengeda menuju Kutereje.
Gerakan-gerakan pada fase pertama ini amat mengeluarkan energi yang luar biasa, karen dibutuhkan konsentrasi dan kuda-kuda yang luar biasa kuatnya serta gerakan-gerakan bahu yang bergerakn terus tanpa henti, seolah-olah ingin menunjukkan kekuatan dari Sang Penari atau Sengeda. Gerakan-gerakannya juga tertata sedemikian rupa yang bertujuan untuk dapat merayu Sang Gajah serta mampu melakukan pengamanan-pengamana dari setiap kesepakatan yang sudah disetujui antara Penari dan Sang Gajah.
Tahapan Menuntun
Tahapan ini merupakan tahapan yang paling sedikit gerakannya namundari segi falsafah, gerakan yang paling penting atau penyelesaian akhir.
Setelah berhasil menuntun Sang Gajah, maka Gajah Putih dituntun untuk menujut Kutereje dengan kombinasi gerakan redep dan kepur nunguk dengan melihat kesamping, ke belakang dan ke depan. Ini semua sebagai aksi untuk dapat melindungi perjalanan Sang Gajah Putih tersebut.
Dalam sejarah kita semua mengetahui bahwa tempat-tempat persinggahan Gajah Putih tersebut seringkali diberikan nama sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Gajah Putih, contohnya adalah Timang Gajah. Dan menurut tetua Gayo inilah yang menjadi cikal bakal nama-nama sebutan berbagai daerah di Aceh.
Nah, ketika mendekati Kutereje maka dilakukan kembali Cincang Nangka ke dua, bedanya kali ini adalah Sengeda atau Sang Penari mengajak semua orang yang melihat Gajah Putih untuk ikut menari menyambut kedatangan Sang Gajah Putih tersebut dengan suka cita. Disini juga Sang Penari menggunakan berbagai macam tarian untuk menarik perhatian orang-orang yang melihat Gajah Putih, mengajaknya menari dan bersuka ria.
Setelah itulah Gajah Putih kembali dituntun untuk kemudian dipersembahkan kepada Raja, inilah akhir cerita dari Tari Guel.
Kesimpulan
Tari Guel ini memperlihatkan bagaimana sesungguhnya sifat dari orang Gayo, orang yang selalu melangkah selangkah lebih maju, orang yang selalu mengumumkan kemenangannya, orang yang selalu taat terhadap kesepakatan atau bukan pengkhianat, bisa beradaptasi dan terakhir adalah keegalitaran mereka.
Saudara Yusra seharusnya melihat ini, karena bila saja dibahas dengan lebih dalam maka terdapat sebuah manajemen modern disitu, dan akhirnya kita tahu kenapa dahulu orang Gayo banyak yang menjadi Raja diberbagai tempat.
Bagi orang Gayo sendiri, mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi kita bagaimana banyak pesan dari Tari Guel tersebut, bukan sebagai aurat untuk menutupi sifat orang Gayo yang membunuh saudaranya akan tetapi lebih kepada kecerdikan orang Gayo untuk mengungkapkan permasalahan dengan cara-cara yang cerdik, cerdas dan elegan.
Dan yang paling penting lagi adalah bahwa kesemuanya akan lebih mendarah kepada orang Gayo dalam penggunaan filosofi Tari Guel tersebut, mungkin ini yang dinamakan jati diri dari orang Gayo itu sendiri. Jadi berbanggalah anda menjadi orang Gayo.
Berijin.

Tidak ada komentar: