Lanjutan Tulisan Bang Win Wan Nur tentang Interpeace ALA:
Makin lama saya membaca tulisan-tulisan serinen saya Kosasih, semakin banyak saya menemukan kesamaan antara kami. Saya dapat merasakan kecintaan serinen saya Kosasih yang bahkan tidak lahir dan tidak pernah menetap di Gayo ini terhadap Gayo. Meskipun secara ide besar, seperti Edhie Kelana, saya juga tetap tidak setuju dengan serien
Kosasih bahwa ALA bisa menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh orang Gayo.
Besarnya rasa cinta serinen Kosasih terhadap Gayo ini misalnya dapat dilihat dalam tulisan Kosasih yang mengomentari tulisan saya tentang Isu ALA di Konferensi Interpeace. Ada banyak alasan logis yang dikemukakan Kosasih mengenai pentingnya pembentukan ALA dan terus terang saya setuju dengan garis besar argumen serinen saya Kosasih secara garis besar, tapi bukan pada detail. Saya tidak setuju dengan detailnya karena seperti biasa data-data dan argumen yang dikemukakan oleh serinen Kosasih seringkali 'ngelantur' dan 'prematur' serta tidak berbasis fakta. Data-data dan argumen Yang diajukan serinen Kosasih saya sebut PREMATUR karena terlalu banyak faktor penting yang tidak diperhitungkan oleh serinen Kosasih ketika memaparkan impiannya.
Supaya serinen Kosasih tidak berprasangka kepada saya, perlu saya jelaskan kalau saya tidaklah sepenuhnya menolak ide pemisahan Provinsi. Saya sepenuhnya mengerti kalau pembentukan sebuah administrasi pemerintahan berdasarkan kelompok etnis adalah
kecenderungan dari setiap etnis manapun di dunia. Suatu etnis yang bisa mencapai tingkat peradaban (SDM) yang setara dengan etnis yang lebih besar yang menguasai wilayahnya memang cenderung untuk memisahkan diri. Contohnya bisa kita lihat dari seluruh negara di Eropa, selain Swiss, Belgia dan Luksemburg bisa dikatakan seluruh
negara eropa adalah 'etnostate'.
Sebagai orang Gayo, seperti yang saya ulas dalam tulisan saya tentang Konferensi Interpeace. Sayapun mengakui adanya rasa tertekan sebagai minoritas. Ada tekanan, ada represi dan ada arogansi suku Aceh yang ditujukan terhadap kita suku Gayo dan suku-suku minoritas lainnya. Dan terus terang pula seandainya ide tentang ALA seperti yang serinen dukung itu diajukan dengan konsep yang rasional dan matang. Saya
sendiri akan berdiri bersama serinen di barisan terdepan untuk memperjuangkan terbentuknya provinsi impian ini.
Saya menolak ide pembentukan ALA adalah karena saya sepenuhnya sependapat dengan Tengku Ali Jadun yang sempat saya wawancarai di rumah beliau saat saya berada di Takengan beberapa waktu yang lalu. Kami berdua memiliki pandangan yang persis sama tentang ALA ini. Kalaupun harus pisah Tengku Ali Jadun dan juga saya menginginkan
pisahnya Gayo dengan Aceh itu adalah pisah yang seperti istilah yang diungkapkan oleh Tengku Ali Jadun, pisahnya adalah pisah 'JAWE' bukan pisah 'CERE'.
Ada perbedaan besar dalam dua cara berpisah ini, serinen.
JAWE adalah pisah dengan alasan rasional, JAWE adalah pisah yang merupakan keharusan untuk mencapai kemandirian. Kalau pisah dengan cara JAWE maka apa yang Serinen Kosasih sampaikan seperti "SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo" . Akan bisa kita capai.
Sebaliknya dengan CERE, ini adalah cara berpisah yang EMOSIONAL, perpisahan model ini hampir selalu meninggalkan rasa sakit dan permusuhan. Pisah dengan cara seperti ini disamping menghabiskan energi di masa pembentukan, sampai kapanpun kita bakal terus dihantui permasalahan kebencian dan permusuhan. Alih-alih membangun SDM Gayo
yang maju, pisah dengan cara ini akan membuat kita orang Gayo akan terus ribut sesama kita sendiri di dalam dan dimusuhi oleh etnis Aceh di luar.
Akan ada banyak permasalahan sosial rumit yang akan terjadi kalau serinen tetap berkeras tetap membentuk ALA secara emosional.
Diantaranya coba saya uraikan :
Benar kalau ALA terbentuk orang Gayo bisa melepaskan ketergantungan dari Aceh dengan lebih berafiliasi ke Medan. Tapi bagaimana nasib lebih dari 6000 Orang Gayo yang tinggal di Banda Aceh?, apakah mereka akan serinen biarkan sebagai tumbal untuk dijadikan sasaran kemarahan dan bulan-bulanan orang Aceh atas pilihan PISAH serinen yang emosional itu?. Apakah untuk itu supaya tidak dijadikan tumbal solusinya mereka
harus serinen pindahkan secara massal ke Medan atau sekalian ke Takengen dan Redelong?.
Kemudian pertanyaannya lagi apakah dengan dipindahkan itu mereka itu semuanya akan merasa nyaman dengan suasana Medan yang rasis dan barbar?. Pertanyaan ini perlu saya ajukan karena selama saya berada di Banda Aceh ini saya menemui banyak sekali orang Gayo yang sudah merasa nyaman berbaur dengan Orang Aceh dan merasa nyaman berada dalam relasi sosial yang setara secara individu.
Seiring dengan mencuatnya isu ALA yang dipropagandakan dengan nada-nada penuh kebencian seperti yang serinen lakukan ini. Banyak diantara 6000-an orang Gayo ini yang merasa sangat terganggu relasi sosialnya dengan rekan-rekan etnis Aceh yang merupakan teman bergaul mereka sehari-hari.
Permasalahan seperti ini yang saya lihat sama sekali tidak ada sedikitpun dijadikan bahan pertimbangan oleh serinen dan pendukung ALA lainnya yang mengaku sebagai intelektual Gayo dalam mengambil sebuah tindakan. Kalau saya, saya bisa memaklumi alasannya, itu karena serinen dan rekan-rekan pendukung ALA yang mengaku intelek lainnya hampir semuanya berbasis pendidikan tinggi di luar Aceh. Jadi serinen dan pendukung ALA lainnya sama sekali tidak bisa merasakan permasalahan orang Gayo yang sehari-harinya tinggal dan bergaul dalam komunitas besar etnis Aceh.
Cuma masalahnya tidak semua orang bisa memaklumi dan mengerti latar belakang orang seperti serinen dan para pendukung ALA lainnya. Sekarang ada indikasi orang Aceh menganggap stereotip Orang Gayo adalah yang seperti serinen itu. Dan saya lihat dari
postingan-postingan serinen selama ini. Stereotip bahwa Orang Gayo adalah orang yang seperti KOSASIH inilah yang ingin serinen bangun. Belakangan ini pula saya melihat ada kesan dan opini yang ingin diciptakankan bahwa Orang Gayo hanya bisa disebut intelek kalau dia mendukung ALA (menempuh pendidikan tinggi di luar Aceh).
Padahal faktanya ada banyak orang Gayo yang juga memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Bukan cuma serinen dan orang-orang Gayo yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di luar Aceh. Ada ribuan orang Gayo yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di Aceh. Dan bisa saya pastikan tingkat intelektual mereka tidak lebih rendah dibandingkan tingkat intelektual serinen dan pendukung ALA lainnya yang mendapatkan pendidikan tinggi di luar Aceh. Dan merekapun tidak sama seperti Stereotip Orang Gayo yang sedang serinen bangun. Dan mereka juga merasakan permasalahan yang sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan serinen itu.
Pertanyaan lain, jika ALA serinen bentuk secara emosional begini, salah satunya karena seperti serinen Kosasih yang sangat membenci GAM. Lalu kalau bagaimana dengan nasib orang Gayo yang secara kultural adalah pendukung setia GAM. FAKTA, ada beberapa kampung di Gayo yang selama konflik dimasukkan ke dalam daftar hitam. Bahkan sebelum ALA terbentukpun ketika Bener Meriah dikomandani seorang Bupati yang merupakan Ikon perjuangan ALA. Orang-orang Gayo di kampung ini sudah merasa sangat tertekan dan merasa dianak tirikan. Lalu, kalau provinsi ALA yang sangat anti GAM nantinya terbentuk bagaimana nasib orang-orang yang tinggal di kampung ini?. Apakah kalau ALA yang sangat anti GAM ini terbentuk orang seperti serinen Kosasih yang lahir
dan besar di Jawa akan mengusir mereka dari Tanoh Gayo, dari kampung halaman mereka tempat mereka dan seluruh nenek moyang mereka tinggal turun temurun?.
Atau apakah oleh serinen Kosasih yang lahir dan besar diJawa serta tidak pernah menetap di Tanoh Gayo ini. Mereka yang hidup dan mencari nafkah di Gayo ini akan kembali diperlakukan seperti di masa konflik dulu? dijemput satu persatu dari rumah dan dihari berikutnya disuruh diambil oleh sanak keluarga mereka dalam kondisi tubuh babak belur, kadang tercabik-cabik dan sudah menjadi mayat?.
Lalu bagaimana pula kalau mereka resisten, tidak bersedia dengan ikhlas dijemput paksa begitu saja tanpa perlawanan dan kemudian meminta bantuan ke Aceh, mempersenjatai diri dan kemudian menyerang balik Orang Gayo pendukung ALA atau orang Jawa?. Detail-detail berdasarkan fakta nyata seperti ini tidak pernah sama sekali saya lihat dipikirkan oleh semua 'pejuang' ALA yang mengaku intelek.
Kalau ALA dibentuk dengan cara penuh kebencian seperti yang serinen promosikan sekarang ini, yang saya khawatirkan serinen. Bukannya impian serinen tentang Gayo yang sejahtera, Gayo yang makmur dan impian muluk lainnya yang kita dapatkan. Tapi justru PERANG BODOH yang tidak berkesudahan.
Karena itulah serinen, saya dalam kapasitas saya sebagai ketua Forum Pemuda Peduli Gayo, yang dari nama forumnya saja ada kata PEDULI. Yang artinya forum ini kami bentuk karena kepedulian kami terhadap Gayo. Apa yang kami perjuangkan adalah sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi orang Gayo. Bukan yang membawa kemudharatan.
Jadi kembali sebagai kesimpulan akhir tulisan saya yang panjang dan bisa jadi membosankan bagi sebagain orang ini. Sebagai orang yang PEDULI Gayo, saya bukanlah sepenuhnya dalam posisi menolak pembentukan Provinsi baru yang akan bisa mengakomodir kepentingan seluruh orang Gayo.
Jika serinenku yang lahir dan besar diJawa serta tidak pernah menetap di Tanoh Gayo ini melihat sampai sejauh ini saya tidak sepakat dengan ide pembentukan ALA. Perlu serinenku yang lahir dan besar diJawa serta tidak pernah menetap di Tanoh Gayo ketahui, itu adalah karena SAYA YANG LAHIR, BESAR, TUMBUH, MENGALAMI DAN MERASAKAN SENDIRI APA YANG TERJADI DI TANOH GAYO melihat ada banyak resiko yang tidak perlu yang akan terjadi kalau Provinsi yang serinen cita-citakan ini dibentuk SEKARANG.
Wassalam
Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
www.gayocare. blogspot. com
NB : Sedikit koreksi buat serinen Kosasih, Kosovo bukan bagian dari Rusia tapi Sebia, secara geografis itu sangat jauh serinen. Poso itu di Sulawesi bukan di Philipina. Yang di Philiphina itu MORO, bukan di Thailand. Betul di Thailand juga ada konflik di provinsi-provinsi selatan yang berbasis Melayu, seperti Pattani, Narathiwat dan Yala.
Tapi konflik di Thailand itu tidak sepenuhnya berbasis agama melainkan wilayah. Tiga Provinsi di selatan Thailand yang saya sebutkan di atas secara kultural dan sejarah merupakan bagian dari Malaysia. Putra Mahkota kerajaan Pattani bernama Tengku Ismail Denudom yang sekarang tinggal di pengasingan dalam suatu bincang-bincang saat makan siang pernah mengatakan kepada saya kalau di Pattani, selain melayu muslim juga ada sekelompok suku Melayu Tua yang bukan muslim yang juga ikut bergabung dengan Melayu muslim Pattani menuntut pemisahan dari Thailand. Jadi bukan hanya Melayu yang islam yang ingin memisahkan diri.
Di Thailand, juga ada sebuah provinsi di Selatan bernama Songkla yang juga bekas kerajaan melayu dan sampai sekarang tatap dihuni oleh mayoritas Melayu-muslim yang tidak ikut dalam tuntutan memisahkan diri ini. Itu terjadi karena memang secara kultural dan sejarah mereka bukan bagian dari Malaysia. Padahal jumlah penduduk melayu-muslim di provinsi ini lebih besar dibandingkan Narathiwat dan Yala.
Kalau dikaitkan dengan konflik antara muslim dan penduduk non-muslim, benar Aceh tidak bisa disamakan dengan Kashmir, Chechnya, Moro. Tapi kalau isunya negara mayoritas Islam dan penduduk islam, Aceh juga tidak bisa serinen samakan dengan pemberontakan Tamil di Sri Lanka. Karena ada dua masalah di sana, pertama Tamil yang ingin memisahkan diri dari Sri Lanka bukan Islam, Kedua pemberontakan Macan Tamil
itupun seperti Chechnya, Isu utamanya perbedaan agama dan budaya antara Tamil yang Hindu dengan Sri lanka yang Buddha.
Kalau konteksnya pemberontakan wilayah islam terhadap negara yang berpenduduk mayoritas Islam juga, Aceh bisa serinen kaitkan dengan Ide pemisahan diri Kurdi dari Irak dan Turki atau pemberontakan kelompok-kelompok mujahiddin di Afghanistan. Serta
pemberontakan- pemberontakan lain di Kazakhtan, Uzbekistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya.
Jawaban Kosasih Bakar:
Pemulo berijin aku sawahen ku Bang Win Wan Nur atas koreksian ne, gelah tulisen aku si gere semperne ni mujadi lebih sempurne. Ike salah turah I peren salah, ike benar turah I peren benar. Ini turah mujadi peraturen te berdikusi.
Gere sepakat antara kite oya biasa we Bang Win Wan Nur, si paling penting sara, tujuante mubangun tanoh gayon te. Beribu maaf pe tangkuh ari tulisenku karena aku peg ere we ilen sepakatmengenai ALA ken Serinen.
Mengenai data yang menurut Bang Win Wan Nur masih ‘ngelantur’ atau ‘prematur’, tidak sepenuhnya saya bisa mengakuinya, karena sepertinya saya tidak mengungkapkan data yang real, saya hanya mencoba mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang Serinen setujui. Alasan saya tidak menampilkan data real karena saya mengetahui bahwa saya belum mendapatkan data yang betul dengan sebetul-betulnya. Walau demikian saya sudah mendapatkan beberapa data tentang Aceh dengan sebenarnya dari buku “Beranda Perdamaian, Aceh Tiga Tahun Pasca MoU Helsinky”, banyak data dan pemikiran yang kiranya bisa dijadikan rujukan dalam diskusi kita ke depan.
Ketika Bang Win Wan Nur mengatakan tidak setuju dengan pemekaran ALA akan tetapi Bang Win Wan Nur setuju dengan kemajuan yang dicapai melalui persukuan atau 'etnostate' menurut serinen. Begitu juga ketika Bang Win Wan Nur mengatakan bahwa antara Aceh dan Gayo itu bukan di ‘cere’ akan tetapi di ‘jawe’. Menurut kesimpulan saya Serinen menyatakan setuju akan tetapi dengan sebuah persayaratan.
Kemudian persayaratan- persayaratan tersebut lantas di uraikan oleh Bang Win Wan Nur dalam beberapa alenia.
Sebelum saya menjawabnya, satu hal yang menurut saya penting untuk dijadikan sebagai prinsip dasar kita dalam memperjuangkan orang Gayo, yaitu menghargai perbedaan yang ada, menghargai setiap sejarah urang Gayo, menghargai adat dan marwah orang Gayo.
Bang Win Wan Nur saya mengerti maksud Abang, perpisahan yang diperjuangkan adalah dengan sebuah perdamaian, dengan sebuah hujjah, dengan sebuah pendekatan secara cultural.
Sebelum saya menjawabnya saya akan sedikit bercerita tentang Sejarah Gayo, Kekeberen, sebuah sejarah yang terkadang dilupakan oleh anak cucu kita, sebuah sejarah yang dianggap dongeng belaka tanpa mau melihat ada beberapa kebenaran yang ada disana. Dalam kekeberen tersebut terungkap bahwa Reje-Reje Gayo dan keturunannya berhasil menjadi Raja Pase yang pertama, menjadi Raja Aceh yang pertama sekaligus menjadi Raja Linge yang pertama, bahkan menjadi Raja-raja di daerah Pesisir Barat dan Selatan.
Salah satu hal yang menyebabkan orang Gayo bisa menguasai pesisir utara Sumatera ini adalah sebuah ketegasan, dan ketika kita belajar sejarah maka kita akan menemukan bahwa dalam kepemimpinannya Sultan-Sultan Kutereje bersifat tegas dengan menggunakan pendekatan Agama Islam. Itu juga yang terjadi ketika masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda atau sebelumnya Sultan Ali Mugayat Syah Al Kahhar, mereka keras dalam menegakkan syariat Islam, banyak kisah atau sejarah yang bisa kita dapatkan dari buku sejarah.
Kenapa saya mengungkapkan ini, saya ingin mengatakan bahwa untuk berhadapan dengan orang Aceh ini perlu sebuah ketegasan-ketegasan , perlu sebuah prinsip, perlu sebuah jati diri. Bukan lantas menjadi lemah, menjadi amat tergantung, menjadi ‘pegeson’.
Bang Win Wan Nur sudah 30 tahun rakyat Aceh dalam PERANG BODOH ini dengan alasan untuk mencapai seperti 30 tahun ZAMAN KEEMASAN SULTAN ISKADAR MUDA,belum cukupkan korban bagi Bang Win Wan Nur ? Tidakkah Serinen merasa takut akan penerus kita yang dalam pikirannya hanya ada PERANG BODOH dengan segala dampaknya.
Sebagai klarifikasi kepada Bang Win Wan Nur bahwa saya tidak pernah mengatakan bahwa Aceh adalah musuh yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini, saya hanya tidak menyukai GAM yang telah mengorbankan puluhan ribu rakyat Aceh hanya karena mengatakan ingin membebaskan diri dari Penjajah Indon –Jawa. Menurut saya ini amat tidak pantas, karena orang Aceh tidak pernah membenci suku manapun, ketika zaman Iskandar Muda di Kutereje ada sebuah Kampung Jawa. Dengan alasan itu pula mereka melakukan pembunuhan-pembunuh an terhadap orang-orang Jawa di Gayo, Aceh Barat dan Aceh Selatan, saya rasa tidak perlu saya ungkapkan satu persatu tempatnya.
Atau ketika TNI juga melakukan hal yang sama dengan membunuh orang-orang Aceh yang dianggap GAM atau mata-mata, seperti juga halnya dengan GAM membunuh TNI atau mata-mata TNI.
Bang Win Wan Nur dalam berbagai tulisan saya mengatakan bahwa sampai kapanpun Aceh tidak akan pernah merdeka selama tujuan mereka hanya untuk kepentingan golongan, bukan kepentingan untuk menegakkan Agama Allah atau melawan kuffar.
Bahkan Bang Win Wan Nur, salahkah saya ketika mengatakan bahwa TNI itu adalah orang luar, orang yang bertugas menjaga daerahnya ketika ada pemberotakkan disana. Salahkah GAM disebut dengan Pemberontak ? Ketika Daud Beureuh dan seluruh rakyat Aceh menyatakan bersatu dengan NKRI lantas kemudian Hasan Tiro melakukan pemberontakkan dengan konsep yang salah. Tidak kah Hasan Tiro pernah berpikir berapa banyak Tengku yang menjadi korban dari peta konflik yang dibuat oleh Soeharto dan LB Moerdani.
Ketika Soekarno menangis, ia menangisi mengapa Aceh bisa sedemikian merdeka ketika Indoensia selalu dalam penjajahan. Ketika Megawati menangis, ia menangisi rakyat Aceh yang menjadi korban Perang ini. Ketika Megawati memberikan DOM, maka ia memberikannya kepada GAM. Siapa yang salah Bang ? Siapa ? Megawatikah ? GAM kah ? Atau semuanya adalah ego dengan mengorbankan rakyat Aceh.
Bang, saya tidak pernah membenci saudara-saudara kita yang berasal dari Aceh yang berdagang, bertani, berkebun di Tanoh Gayo. Bahkan saya juga seringkali mengatakan bahwa banyak dari saudara saya yang menikah dengan orang Aceh, saya tidak membenci mereka sedikitpun.
Tulisan pembuka dalam blog saya mengisahkan bahwa seorang manusia tidak pernah tahu ia akan lahir dari rahim siapa, dari rahim ibu yang bersuku Jawa, dari rahim ibu yang bersuku-suku di Aceh atau dari rahim ibu yang bersuku Gayo. Namun demikian saya juga mengatakan bahwa perbedaan itu adalah rahmat dari Allah SWT, perbedaan itu yang akan membuat kita saling mengenal, perbedaan itu yang akan membuat kita menjadi satu. Dengan catatan kita harus menghargai perbedaan tersebut, dengan catatan kita tidak berupaya menyatukan dengan pemaksaan-pemaksaan . Seperti yang Bang Win Wan Nur katakan dengan Cere dan Jawe.
Mengenai persoalan rumit yang Bang Win Wan Nur ungkapkan adalah sebuah ketakutan yang tidak pada tempatnya, dan ini pulalah yang dahulu menjadi bahan diskusi awal kita, hanya kali ini Serinen menambahkan data-data dalam tulisannya.
Abangku, Serinenku, ketika bang mengungkapkan bahwa sebanyak 6000 orang Gayo yang tinggal di Banda Aceh dalam bahaya, atau dikatakan tumbal itu menjadi tidak benar. Karena tidak mungkin sekian ribu orang kemudian akan merubah sekian ratusribu orang di Banda Aceh. Minoritas itu tidak akan menjadi tumbal dalam pemekaran ini. Saya yakin itu, karena mereka sudah lama bertempat tinggal disana dan bergaul di sana.
Namun apakah Abang pernah memikirkan puluhan ribu orang Gayo yang tinggal di ALA, yang selama ini dalam keadaan tertekan sehingga kehilangan segenap potensinya menjadi orang yang pintar, cerdas, dan mampu menjadi yang terbaik.
Pernahkan Abang berpikir dengan pola perjuangan GAM yang begitu membenci orang Jawa, sehingga orang Jawa yang tinggal di Gayo akan ketar-ketir, padahal begitu banyak saudara kita yang sudah menikah dengan orang Jawa, bahkan jumlah penduduk antara Gayo dan Jawa sekarang sudah hampir sama. Tidakkah Abang takut dengan konflik horizontal yang akan terjadi jika Jawa kemudian diusir orang Aceh, akan tetapi tetap di bela orang Gayo.
Ketakutan serinen sepertinya tidak menjadi rasional, karena puluhan ribu orang Aceh dan 6000 orang Gayo yang sudah hidup bersama sudah barang tentu tidak akan kemudian menjadi bertempur dengan adanya ALA. Begitu juga dengan puluhan ribu orang Gayo yang sudah berpadu dengan puluhan ribu Jawa ditambah dengan ribuan Aceh tidak akan mungkin berperang bila tidak ada yang memprovokasi mereka.
Nah, yang menjadi permasalahannya adalah orang yang memprovokasi tersebut, dan selama ini yang menyebut-nyebutnya adalah Gerakan Aceh Merdeka atau GAM yang tidak setuju dengan pemekaran hanya karena kepentingan golongan atau isu kejayaan masa lalu yang semu.
Bang Win Wan Nur yang saya hormati, apakah salah ketika saya sebagai orang Gayo mengeluarkan apa yang selama ini ada pda hati orang Gayo, yang sudah muak dengan PERANG BODOH, apakah salah saya mengankat harkat dan martabat orang Gayo dengan marwahnya, apakah salah saya mengatakan bahwa orang Gayo itu bukan Pegeson atau suku yang bisa terus diinjak dan dikatakan sebagai suku terkebelakang. Apakah salah ?
Anda salah kalau mengatakan yang mendukung ALA itu hanya kaum intelek saja, yang mendukung ALA ini adalah para milisi korban PERANG BODOH, yang mendukung ALA ini adalah para Petani yang tidak bisa bertani dan berkebun lagi, yang mendukung ALA ini adalah pemuda dan anak-anak yang marah karena kampong halamannya yang selalu dinistakan dan dihina, yang mendukung ALA ini adalah anak-anak muda yang sudah sangat kasihan melihat Gayo hancur dalam tekanan, yang mendukung ALA adalah wanita-wanita yang kasihan melihat anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Kaum intelek seperti kami hanya bisa menulis di mailing list ini, mengungkapkan apa yang dirasakan mereka yang selama ini terdiam, menceritakan kegundahan mereka yang selama ini diam.
Serinenku Win Wan Nur, Win yang selalu di dalam cahaya Allah, takutkan kau hidup sebagai orang Gayo? Malukah kau hidup sebagai orang Gayo? Banggakah kau hidup sebagai orang Gayo? Kami tidak pernah meragukan intelektualitas dari serinen-serinen kami di Banda Aceh, kami hanya menyesalkan pola pikir mereka yang tidak mendukung ALA.
Apakah karena mereka sudah lama tinggal tinggal di Gayo, sudah lama peninggalkan tanoh datunya lantas ia merasa bahwa telah berhutang kepada orang Aceh untuk kemudian menjual tanah muyang datunya dengan harga yang teramat murah.
Janganlah kau jual tanah kami ini dengan harga murah, dengan harga engkau mendapatkan harta di sana, mendapatkan rumah disana, mendapatkan beasiswa disana, tapi tolong berpikir sebagai rakyat Gayo yang ada di tanoh Gayo, bukan seperti rakyat Gayo yang berada di Aceh. Jangan lagi rakyat Gayo ini menjadi melempem kembali, kembali tertekan, potensi akal pikiran yang sering dikatakan sebagai manusia pilihan Aceh kini menjadi manusia yang selalu dalam tekanan.
Serinenku Win Wan Nur, Win yang selalu dalam cahaya Allah, ALA adalah untuk kemashalatan rakyat Gayo yang ada di Gayo, jadi ketika Engkau sedang menuntut ilmu, sedang merantau, maka bantulah rakyat Gayo ni dengan tulus dan ikhklas.
Bang Win Wan Nur, salahkan rakyat Gayo membenci GAM? Salahkah orang Jawa membenci GAM? Apa yang mereka perjuangkan MoU Helsinky hanya untuk anggota GAM ? Apa yang bisa diharapkan, hanya orang-orang mantan combatan yang banyak tida berpendidikan dan tidak mempunyai keterampilan hidup. Apa yang bisa dilindungi, hanya intelektual yang begitu bangga dengan Acehnya tapi begitu membenci Jawa, sehingga pikiran mereka menjadi begitu rendah dan picik.
Nah, ketika ada Kampung di Gayo yang GAM, silahkan saja, namun tentu mereka mengerti resikonya. Begitu juga ketika ALA mau lepas dari NAD, tentu kami tahu resikonya bukan. Peperangan, intimidasi, kecemburuan, dan lain sebagainya. Yang paling penting adalah bagaimana mereka membawa diri, karena mereka tidak berpihak kepada NKRI.
Selain itu Serinen, seharusnya perlu anda ceritakan juga kepada seluruh dunia bahwa GAM juga banyak membunuh rakyat Aceh, ceritakan juga bahwa di NAD itu tidak semuanya mendukung GAM, katakana juga bahwa GAM itu merupakan minoritas yang bersenjata, menggunakan senjatanya untuk mencari dukungan, dengan ancaman. Jangan lupa juga katakana bahwa ternyata ALA dan ABBAS itu aspirasi rakyat bawah yang sudah muak dengan PERANG BODOH, bukan karena keinginan segelintir elit.
Sekali lagi Serinen, nasib mereka sudah tentu akan baik, kami bukan pemakan daging manusia, kami bangsa yang beradab. Adat istiadat kami sangat tinggi. Sudah tentu mereka akan hidup dengan bahagia setelah ALA lahir. Anak-anak mereka akan tenang bersekolah dari pikiran PERANG BODOH.
Serinen Win Wan Nur, Pemuda yang selalu dalam cahaya Allah, saya memang besar di Jawa tapi saya sering ke Takengon dan kerap kali mengikuti berita di sana. Seperti juga hanya Bang Win Wan Nur yang baru saja tiba di Takengon setelah bertahun-tahun lamanya tinggal di negeri orang yang merantau.
Bang Win Wan Nur tampaknya terlalu menganggap rendah budaya kami, sepertinya anda terlalu picik dengan budaya kami. Kami bukan suku pemberontak, kami termasuk suku yang diam bila tidak diganggu. Namun ketika kami diganggu maka kami akan lebih buas dari binatang yang paling buas sekalipun.
Lihatlah adat istiadat kami, mungkinkah kami dapat berbuat itu ? Jangan lah terlalu melebih-lebihkan.
Anda begitu bangga mengatakan lahir, besar, tumbuh, mengalami dan merasakan sendiri apa yang terjadi di tanoh Gayo. Tapi anda melupakan bahwa anda telah PULUHAN TAHUN meninggalkan tanoh Gayo, dan SEPERTINYA ABANG TIDAK TAHU PERSIS SESUNGGUHNYA APA YANG TERJADI SEKARANG BILA ALA TIDAK SECEPATNYA MENJADI PROVINSI.
Baiklah, saya akan menceritakan sedikit bila ALA tidak segera terbentuk.
Sesungguhnya perdamaian di NAD ini masih bisa dikatakan semu, karena masing-masing pihak sedang mempersiapkan senajatanya masing-masing. Permasalahan utamanya adalah Keamanan, ketika dana BRR habis untuk membayar tunjangan bagi anggota GAM, Pemilu 2009, Partai Lokal seperti Partai ACEH, Partai SIRA dan Partai Rakyat Aceh mengalami kekalahan. Maka yang terjadi adalah instabilisasi kembali. Peperangan kembali. Hal ini dipicu oleh mantan anggota GAM yang tidak punya pendidikan dan keterampilan, karena hanya pandai membunuh dan mengangkat senjata, mereka akan kembali ke hutan. Dalam keadaan demikian peperangan akan berkobar untuk tebas habis anggota GAM.
Belum lagi dengan adanya prediksi Partai Lokal Menang maka yang akan terjadi adalah gejolak di Aceh yang berimbas kepada Gayo. Sebagian dari GAM menginginkan tetap Aceh Merdeka, yaitu dengan cara menguasai Pimpinan Daerah, menguasai legislative dengan Partai Lokalnya, kemudian mendeklarasikan Kemerdekaan. Pernyataan ini sudah barang tentu tidak sesuai dengan MoU Helsinky,namun demikian GAM telah megatakan bahwa bila ada persoalan maka aka dibawa ke Uni Eropa danAustralia, pertempuran kembali terjadi yang kemudian berimbas kepada Gayo. Bahkan Gayolah dan Jawa yang terlebih dahulu melakukan kekacauan bila ini terjadi.
Aceh aman bersama Gayo, namun masih ada ketakutan kami disni, sekali lagi saya katakana bahwa Gayo SDA nya akan diambil alih hanya untuk kepentingan yang belum tentu ada ujungnya.
Pemarin ku Abang Wan Win Nur si kuhormati, mari ini ike nguk si kite diskusinen kune carae kite membangun tanoh Gayo ni.
NB : Tolong jangan samakan Aceh dengan Afganistan, karena perjuangan Aceh ini tidak punya konsep yang jelas. Afganistan hanya berotak kepada Penjajah USA dan URRS serta boneka-boneka mereka. Perjuanga Taliban juga jelas untuk menegakkan kalimah Allah, buka mencari kekayaan dari MoU Helsinky. Sedangkan perang ashobiyah lainnya silahkan saja, karena itulah konsep PERANG BODOH yang dilaknat Allah.
Aceh merupakan sebuah wilayah yang begitu dihormati sejak adanya Raja-raja Eropa dahulu kala, namun semuanya menjadi hancur ketika segelintir orang Aceh mencanangkan sebuah peperangan yang membawa rakyat Aceh kedalam kebodohan dan dendam.
Tampilkan postingan dengan label ALA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALA. Tampilkan semua postingan
15 Desember 2008
12 Desember 2008
Nasionalisme Aceh ?
Berdasarkan wikepedia dikatakan bahwa:
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Jadi jelas bahwa memang ada perbedaan antara ideology dan nasionalisme, ideology akan masuk ke dalam nasionalisme ketika mereka mencoba untuk mencari sebuah konsep identitas dari kelompok masyarakat tersebut.
Bahkan bila dilihat dari sini maka Gayo seharusnya bukan menjadi bagian dari Aceh Merdeka, karena Gayo merasa bukan bagian dari orang Aceh, orang Gayo tidak mau dikatakan sebagai orang Aceh, apakah ini dibuat-buat ? Silahkan tanya kepada hati nurani kita dan muyang datu kita.
Kemudian para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme, pengasingan dan sebagainya.
Dalam pengertian dasar, sebuah republik adalah sebuah negara di mana tampuk pemerintahan akhirnya bercabang dari rakyat, bukan dari prinsip keturunan bangsawan. Istilah ini berasal dari bahasa Latin res publica, atau "urusan awam", yanng artinya kerajaan dimilik serta dikawal oleh rakyat. Namun republik berbeda dengan konsep demokrasi.
Uraian anda:
Jadi pertama sekali, ada kesalahan dalam menilai idiologi. Misalnya dalam NKRI, R disana adalah republik. Kata republik ini saja sudah membantah kalau Indonesia lahir dari pengalaman Indonesia sendiri. Penyebutan Republik disana jelas menyontoh revolusi Prancis. Kemudian dalam mengartikan republik, republik itu kok sepertinya diterjemahkan sebagai pemerintah, pedahal republik punya arti kepetingan bersama. Ada juga yang lebih konyol lagi, terdiri dari orang berpikiran picik panatik yang mengemukakan arti republik adalah re (kembali), publik (publik).
Jawaban saya:
Saya tidak mengerti bagaimana anda dapat menyimpulkan seperti ini, mungkin karena pemahaman anda tentang pengertian Republik dan Nasionalisme masih rendah. Yang hanya bisa saya katakana kepada anda adalah bahwa sesungguhnya Indonesia telah mengambil bentuk negaranya menjadi Republik karena Indonesia bukan sebuah Negara Kerajaan atau Kesultanan, memilih rakyatnya langsung dari rakyat, yang dahulu dipilihj oleh legislative sekarang oleh rakyat.
Uraian anda:
Bagaimana konsepti Hasan Tiro tentang Aceh sebetulnya dapat dipelajari dari tulisannya mengenai "Negara Senambung" kira-kira intinya Hasan Tiro tidak berniat sama sekali mengubah Aceh, dia hanya menginginkan kelanjutan Aceh sediakala menuju masa depannya.
Kemudian mengenai hasil-hasil perjuangan Hasan Tiro, kalau kita meletakkannya pada konsepsi Thomas Hobbes dalam teori kontrak sosial, sudah barang tentu mencerminkan kemajuan pikirannya Hasan Tiro. Mengikuti konsepsi republik (kepentingan rakyat), Indonesia katakanlah tidak ada manakala yang ada cuma kepentingan segelintir elit berkuasa. Dari sini Hasan Tiro kemudian akhirnya bisa memaksa, dan Indonjesia mau tidak mau harus memperbaiki kontrak sosialnya. Kontrak untuk menjamin kepentingan bersama ini bisa dilihat dalam Helsinki.
Jawaban saya:
Yang dapat ditangkap dari tulisan anda adalah mengatakan bahwa Hasan Tiro menginginkan Aceh kembali bentuknya seperti dahulu kala, seperti masa Kesultanan Iskandar Muda yang dianggap sebagai kejayaan Aceh.
Hal-hal ini tentunya sah-sah saja, akan tetapi kita seorang pemikir yang ulung itu perlu bisa melihat kondisi yang sekarang serta mampu melihat apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Ketika Hasan Tiro mengatakan tidak akan mengubah Aceh sudah barang tentu kami dari Kerajaan Linge bisa saja mengatakan bahwa kami ingin berdiri sendiri seperti zaman dahulu ketika Raja Aceh adalah berasal dari keturunan Linge.
Ironisnya lagi ketika anda mengatakan bahwa Indonesia dikatakan hanya segelintir orang yang berkuasa, anda juga tampaknya harus lihat seperti apa para Panglima Sago dengan segala kenikmatannya, para anggota GAM dengan segala bantuan dari dana BRR, apakah ini tidak dikatakan sebagai kepentingan segelintir orang, GAM saja.
Untuk permasalahan MoU Helsinky silahkan lihat pada www.cossalabuaceh, blogspot. com dengan label ALA, dan judul Pemekaran ALA (dialog dengan Ahmad Sudirman), bagaimana tidak adil dan berbahayanya MoU tersebut bagi keutuhan NKRI dan rakyat Gayo khususnya.
Ulasan anda:
KIta tidak akan memperkarakan apakah kontrak baru ini akan memuaskan semua atau belum. Tetapi secara teoritik, yang ingin saya tunjukkan adalah bagaimana pandangan Kosasih Bakar, enggak nyampe-nyampe sama sekali. Pandanganya sebagaimana tudingan saya semula kepada pendukung ALA, hanya disandarkan pada pendapat emosionil.
Jawaban saya:
Saya hanya bisa katakana bahwa anda tidak bisa berdiskusi dengan baik, jika saya dalam posisi anda saya akan mengatakan hal yang lebih buruk lagi dengan mengatakan bahwa pendukung ALA itu bodoh, karena tidak mau merdeka, untuk apa menjadi Provinsi, bukankah lebih baik merdeka bersama Aceh sehingga kita berdaulat dan bisa membangun rakyat Gayo dengan baik.
Atau kemudian saya menjawabnya dengan lebih konyol lagi dengan mengatakan bahwa Aceh Merdeka itu seperti petir disiang bolong, tidak akan mungkin terjadi, dalam MoU Helsinky sudah amat jelas dan Pemerintah NKRI bukan orang bodoh seperti yang anda perkirakan.
Atau dengan lebih bodoh lagi saya mengatakan kepada anda, berapa besar uang yang anda terima sehingga anda mau menjual Tanoh Gayo ini dengan teramat murah, dengan janji dijadikan Caleg, atau anda sudah menerima mobil bagus dan rumah bagus, atau anda sudah disekolahkan oleh GAM ? Sebegitu murahkah sehingga kita akn dikuasai oleh GAM, sehingga bahasa nasional adalah bahasa Aceh yang kebanyakan dari orang Gayo tidak memenguasainya dan harus dipaksa menguasainya. Bahkan lebih jauh lagi seberapa banyak sebutan Gayo akan digati dengan bahasa Aceh seperti Kutereje diganti menjadi Banda Aceh, atau berapa banyak lagi kebudayaan Gayo kemudian diadopsi untuk kemudian dikatakan sebagai budaya Aceh, seperti halnya Kerawang dan Tari Saman, sebegitu rendahnya kah anda menjual penaringen muyang datu ini, sebegitu rendahkah anda menjual kami semua, sehingga anak-anak kami tidak lagi bangga menjadi orang Gayo, lebih bangga menjadi orang Aceh.
Ulasan anda:
Mari kita lihat asal muasal istilah "rentang kendali" yang muncul dalam pemekaran Provinsi Banten. Istilah ini merujuk kepada teritori Banten persis yang berada disamping Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Jadi menurut mereka karena korupsi, pemotongan yang terjadi di Bandung, barulah duit pembangunan baru memutar ke Banten. Dari segi urusan pusat - daerah jelas terlihat berurusan ke Bandung makan waktu. Dengan demikian Banten, yang berada disamping Tanjung Priok ingin langsung saja menuju istana merdeka, tanpa harus terlebih dahulu ke Bandung, disana keunikannya. Dalam perkembangannya, pengertian rentang kendali ini bisa saja meluas, disisi yang lain bisa menyempit menurut political will pemerintah dalam soal pemekaran.
Jawaban saya:
http://bantenmuda. multiply. com/reviews/ item/47 , dapat dilihat dari link ini bagaimana akhirnya Banten bisa berdiri menjadi Provinsi sendiri, atau dapat dilihat dari sebuah buku "Mengawal Aspirasi Masyarakat Banten Menuju Iman Taqwa, Memori Pengabdian DPRD Banten Masa Bakti 2001 – 2004, sebuah perjuangan yang panjang juga penuh dengan pro dan kontra seperti juga dengan ALA dan ABBAS.
Ini bukan saja permasalahan rentang kendali akan tetapi permasalahan akar budaya dan kebanggaan menjadi orang Banten. Silahkan teman-teman membacanya agar ini bisa dijadikan sebagai contoh perjuangan Provinsi ALA dan ABBAS. Sebagai tambahan lagi bahwa Provinsi Banten saat ini APBD sudah mengalahkan Provinsi Jawa Barat, bahkan pembangunan sudah amat maju disana. Kabupaten/kota yang dahulu tertinggal sekarang begitu luar biasa percepatan pembangunannya, yang tentunya juga harus diimbangi dengan percepatan SDM untuk mengawalnya.
Ulasan anda:
Lalu apakah ada perang bodoh? studi tentang insurgency, sektor keamanan (pertahanan) , hukum humaniter memberikan jawaban bahwa perang pharus pula diletakkan dalam kerangka tujuan mulia. Namun tentu saja para seniman seperti Shaggy bisa saja melontarkan perang AS di Irak sebagai perang bodoh. Pendapat Shaggy ini bukan tidak bisa didekati, paling tidak perang AS di Irak ternyata tidak sebagaiaman dikatakan pemerintah Bush karena Irak memiliki senjata pemusnah massal, akhirnya dibuktikan bahwa perang ini dilandasi keinginan menguasai minyak. Jadi Shaggy dalam hal ini mengatakan perang bodoh karena negaranya dan pemimpinnya telah mengelabui rakyat AS.
Adapun tudingan Kosasih Bakar terhadap perang bodoh = GAM = Aceh, hanyalah dilandasi kebencian-kebencian yang tidak memiliki landasan pemikiran yang jelas, dengan menyebut Hasan Tiro punya nasionalisme terlalu tinggi.
Boleh jadi ada banyak faktor kegagalan dalam tubuh GAM, tetapi itu bukan salah Hasan Tiro, sebagaimana menjadi penegetahuan umum, kesalahannya ada pada administratif GAM yang tidak lagi dibawah kendali Hasan Tiro.
Jawaban saya:
Perang Aceh yang dikumandangkan oleh Hasan Tiro adalah PERANG BODOH merupakan sebuah kejelasan yang tidak dapat disangkal lagi, dan bukan tanpa kerangka pikir yang jelas, silahkan lihat tulisan saya pada www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Perbandingan Hasan Tiro dan Daud Beureuh.
Seorang pemimpin yang baik, sudah barang tentu ia berpikir ke depan, ia tidak akan mengorbankan rakyat Aceh yang begitu banyak hanya untuk pragmatism GAM. Konsep perjuangannya adalah Membebaskan diri dari Pemerintah Jawa-Indon, sebuah peperangan yang dilandasi dengan Ashobiyah, dan ini tentunya tidak sesuai dengan karakter orang Aceh sehingga GAM mendapati kenyataan bahwa banyaknya komponen Aceh yang menolak yang berujung dengan adanya keinginan ALA dan ABBAS, karena rasa muak mereka terhadap peperangan yang telah menghancurkan generasi penerus Aceh.
Atau dapat dilihat dari tulisan saya www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Adakah Indikasi GAM disusupi CIA dan Zionis.
Dengan adanya PERANG BODOH ini berakibat yang diluar Hasan Tiro perkirakan, karena ia termakan ntah sengaja atau tidak dengan peta konflik yang digelar oleh Soeharto dan LB Moerdani, indikasinya adalah TNI yang dikirimkan pertama kali adalah orang-orang batak, untuk mengental sentiment agama di Aceh, sehingga konflik horizontal yang terjadi antara Agama semakin kental sesuai dengan harapan dari LB Moerdani untuk menyapu bersih para Tengku-tengku yang ada. Dapat dilihat sekarang sudah semakin berkurangnya Tengku yang ada di Aceh karean banyak dari mereka yang tentunya berafiliasi kepada GAM demi menegakkan syariat Islam atau itu yang ditawarkan oleh Hasan Tiro.
Belum lagi hilangnya satu generasi di Aceh, hanya karena PERANG BODOH, inikah yang engkau banggakan dari Hasan Tiro, sudah menghalalkan darah sesame muslim, konsep perjuangan yang membuat orang mati dalam keadaan jahiliyah, akhir yang hanya menguntungkan segelintir orang saja, yaitu kelompok GAM. Apakah ini tidak perang bodoh ? Belum lagi kita membahas ini dari rakyat Gayo, semakin menderita lah kita rasanya.
Ulasan anda:
Selanjutnya pendapat emosionil Kosasih Bakar tentang adanya perang saudara di Aceh sama sekali keliru. Pertama sekali berdasarkan UUD 45 bahwa negara Indonesia bukanlah negara beridiologi Islam. Kedua; Aceh sendiri sebagaimana disebut adalah Kerajaan Aceh Darussalam, menskipun seperti Indonesia juga mengadopsi ajaran-ajaran Islam, tidak meletakkan AL-Qur'an dan Hadits sebagai Konstitusi negaranya.
Jadi disana tidak ada perang saudara sesama muslim, alasan agama disini justru digunakan untuk perdamaian sebagaimana mengutip Teungku Ali Jadun yang berkata "Gere ara uren si gere sidang, gere ara perang si gere rede". Gayo-gayo palsu seperti anda ini silakan saja membuktikannya.
Jawaban saya:
Silahkan lihat www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Propaganda GAM Menggunakan Islam.
NKRI memang bukan Negara Islam akan tetapi pemeluk terbesarnya beragama Islam, bahkan sebagai Negara terbesar pemeluk agama Islam di dunia.
Pepatah gayo itu tidak mengajarkan kita untuk melakukan sebuah peperangan tanpa dasar yang jelas, setiap peperangan yang dinamakan Jihad harus mempunyai 1 niat yang Lillahita’ala, menegakkan kalimat Allah. Sedangkan apabila ada pertikaian antara 2 pihak yang berasal dari muslim maka perdamaian adalah yang lebih diutamakan. Inilah kesalahan Hasan Tiro, ketika ia mengatasnamakan Islam, konsep perjuangannya salah, yang akibatnya sungguh menyayatkan hati. Ketika konsep nasionalisme yang dia perjuangkan tidak semua orang Aceh suka dengan perjuangan dia, ironis bukan.
Kalau zaman Iskadar Muda Aceh dalam kejayaan, maka masa pemberontakan Hasan Tiro adalah masa-masa yang paling menderita buat rakyat Aceh karena kita telah kehilangan generasi penerus, kehilangan 1 generasi untuk memperlihatkan bahwa orang Aceh itu adalah sebuah bangsa yang diperhitungkan, akan tetapi saat ini adalah sebuah bangsa yang hanya pandai memberontak. Sebagai bukti cobalah lihat anggota-anggota GAM, kebanyakan tidak berpendidikan dan tidak mempunyai life skill, karena perekrutannya lama-kelamaan adalah orang –orang yang menjadi korban perang, bukan kaum intelektual yang bersifat independent dan bebas. Apapun yang diawali dengan dendam maka hasilnya tentunya tidak akan baik.
Bukti apa lagi yang harus saya buktikan bahwa saya orang Gayo asli, saya tidak tahu, apakah karena saya tidak mendukung GAM maka saya bukan orang Gayo asli. Pikiran anda sangat picik, ada baiknya anda mencuci muka terlebih dahulu dan mempertanyakan diri anda apakah dengan ikut GAM itu anda berarti telah menjual penaringen datum ni dengan harga yang amat murah.
Mana yang lebih Gayo, mereka yang mau berdiri diatas kakinya sendiri, melawan pemberontak atau mereka yang mau berlindung di ketiak Aceh Merdeka.
Yang menjadi tidak habis pikir adalah ketika orang Gayo tidak mau untuk memperjuangkan ALA, inilah yang saya pertanyakan kenapa ? Padahal ini adalah jembatan emas untuk menuju perbaikan orang-orang Gayo, banyak konsep yang bisa diterapkan, banyak hal yang bisa dikerjakan.
Berijin.
Kosasih Bakar
www.cossalabu. blogspot. com
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Jadi jelas bahwa memang ada perbedaan antara ideology dan nasionalisme, ideology akan masuk ke dalam nasionalisme ketika mereka mencoba untuk mencari sebuah konsep identitas dari kelompok masyarakat tersebut.
Bahkan bila dilihat dari sini maka Gayo seharusnya bukan menjadi bagian dari Aceh Merdeka, karena Gayo merasa bukan bagian dari orang Aceh, orang Gayo tidak mau dikatakan sebagai orang Aceh, apakah ini dibuat-buat ? Silahkan tanya kepada hati nurani kita dan muyang datu kita.
Kemudian para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme, pengasingan dan sebagainya.
Dalam pengertian dasar, sebuah republik adalah sebuah negara di mana tampuk pemerintahan akhirnya bercabang dari rakyat, bukan dari prinsip keturunan bangsawan. Istilah ini berasal dari bahasa Latin res publica, atau "urusan awam", yanng artinya kerajaan dimilik serta dikawal oleh rakyat. Namun republik berbeda dengan konsep demokrasi.
Uraian anda:
Jadi pertama sekali, ada kesalahan dalam menilai idiologi. Misalnya dalam NKRI, R disana adalah republik. Kata republik ini saja sudah membantah kalau Indonesia lahir dari pengalaman Indonesia sendiri. Penyebutan Republik disana jelas menyontoh revolusi Prancis. Kemudian dalam mengartikan republik, republik itu kok sepertinya diterjemahkan sebagai pemerintah, pedahal republik punya arti kepetingan bersama. Ada juga yang lebih konyol lagi, terdiri dari orang berpikiran picik panatik yang mengemukakan arti republik adalah re (kembali), publik (publik).
Jawaban saya:
Saya tidak mengerti bagaimana anda dapat menyimpulkan seperti ini, mungkin karena pemahaman anda tentang pengertian Republik dan Nasionalisme masih rendah. Yang hanya bisa saya katakana kepada anda adalah bahwa sesungguhnya Indonesia telah mengambil bentuk negaranya menjadi Republik karena Indonesia bukan sebuah Negara Kerajaan atau Kesultanan, memilih rakyatnya langsung dari rakyat, yang dahulu dipilihj oleh legislative sekarang oleh rakyat.
Uraian anda:
Bagaimana konsepti Hasan Tiro tentang Aceh sebetulnya dapat dipelajari dari tulisannya mengenai "Negara Senambung" kira-kira intinya Hasan Tiro tidak berniat sama sekali mengubah Aceh, dia hanya menginginkan kelanjutan Aceh sediakala menuju masa depannya.
Kemudian mengenai hasil-hasil perjuangan Hasan Tiro, kalau kita meletakkannya pada konsepsi Thomas Hobbes dalam teori kontrak sosial, sudah barang tentu mencerminkan kemajuan pikirannya Hasan Tiro. Mengikuti konsepsi republik (kepentingan rakyat), Indonesia katakanlah tidak ada manakala yang ada cuma kepentingan segelintir elit berkuasa. Dari sini Hasan Tiro kemudian akhirnya bisa memaksa, dan Indonjesia mau tidak mau harus memperbaiki kontrak sosialnya. Kontrak untuk menjamin kepentingan bersama ini bisa dilihat dalam Helsinki.
Jawaban saya:
Yang dapat ditangkap dari tulisan anda adalah mengatakan bahwa Hasan Tiro menginginkan Aceh kembali bentuknya seperti dahulu kala, seperti masa Kesultanan Iskandar Muda yang dianggap sebagai kejayaan Aceh.
Hal-hal ini tentunya sah-sah saja, akan tetapi kita seorang pemikir yang ulung itu perlu bisa melihat kondisi yang sekarang serta mampu melihat apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Ketika Hasan Tiro mengatakan tidak akan mengubah Aceh sudah barang tentu kami dari Kerajaan Linge bisa saja mengatakan bahwa kami ingin berdiri sendiri seperti zaman dahulu ketika Raja Aceh adalah berasal dari keturunan Linge.
Ironisnya lagi ketika anda mengatakan bahwa Indonesia dikatakan hanya segelintir orang yang berkuasa, anda juga tampaknya harus lihat seperti apa para Panglima Sago dengan segala kenikmatannya, para anggota GAM dengan segala bantuan dari dana BRR, apakah ini tidak dikatakan sebagai kepentingan segelintir orang, GAM saja.
Untuk permasalahan MoU Helsinky silahkan lihat pada www.cossalabuaceh, blogspot. com dengan label ALA, dan judul Pemekaran ALA (dialog dengan Ahmad Sudirman), bagaimana tidak adil dan berbahayanya MoU tersebut bagi keutuhan NKRI dan rakyat Gayo khususnya.
Ulasan anda:
KIta tidak akan memperkarakan apakah kontrak baru ini akan memuaskan semua atau belum. Tetapi secara teoritik, yang ingin saya tunjukkan adalah bagaimana pandangan Kosasih Bakar, enggak nyampe-nyampe sama sekali. Pandanganya sebagaimana tudingan saya semula kepada pendukung ALA, hanya disandarkan pada pendapat emosionil.
Jawaban saya:
Saya hanya bisa katakana bahwa anda tidak bisa berdiskusi dengan baik, jika saya dalam posisi anda saya akan mengatakan hal yang lebih buruk lagi dengan mengatakan bahwa pendukung ALA itu bodoh, karena tidak mau merdeka, untuk apa menjadi Provinsi, bukankah lebih baik merdeka bersama Aceh sehingga kita berdaulat dan bisa membangun rakyat Gayo dengan baik.
Atau kemudian saya menjawabnya dengan lebih konyol lagi dengan mengatakan bahwa Aceh Merdeka itu seperti petir disiang bolong, tidak akan mungkin terjadi, dalam MoU Helsinky sudah amat jelas dan Pemerintah NKRI bukan orang bodoh seperti yang anda perkirakan.
Atau dengan lebih bodoh lagi saya mengatakan kepada anda, berapa besar uang yang anda terima sehingga anda mau menjual Tanoh Gayo ini dengan teramat murah, dengan janji dijadikan Caleg, atau anda sudah menerima mobil bagus dan rumah bagus, atau anda sudah disekolahkan oleh GAM ? Sebegitu murahkah sehingga kita akn dikuasai oleh GAM, sehingga bahasa nasional adalah bahasa Aceh yang kebanyakan dari orang Gayo tidak memenguasainya dan harus dipaksa menguasainya. Bahkan lebih jauh lagi seberapa banyak sebutan Gayo akan digati dengan bahasa Aceh seperti Kutereje diganti menjadi Banda Aceh, atau berapa banyak lagi kebudayaan Gayo kemudian diadopsi untuk kemudian dikatakan sebagai budaya Aceh, seperti halnya Kerawang dan Tari Saman, sebegitu rendahnya kah anda menjual penaringen muyang datu ini, sebegitu rendahkah anda menjual kami semua, sehingga anak-anak kami tidak lagi bangga menjadi orang Gayo, lebih bangga menjadi orang Aceh.
Ulasan anda:
Mari kita lihat asal muasal istilah "rentang kendali" yang muncul dalam pemekaran Provinsi Banten. Istilah ini merujuk kepada teritori Banten persis yang berada disamping Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Jadi menurut mereka karena korupsi, pemotongan yang terjadi di Bandung, barulah duit pembangunan baru memutar ke Banten. Dari segi urusan pusat - daerah jelas terlihat berurusan ke Bandung makan waktu. Dengan demikian Banten, yang berada disamping Tanjung Priok ingin langsung saja menuju istana merdeka, tanpa harus terlebih dahulu ke Bandung, disana keunikannya. Dalam perkembangannya, pengertian rentang kendali ini bisa saja meluas, disisi yang lain bisa menyempit menurut political will pemerintah dalam soal pemekaran.
Jawaban saya:
http://bantenmuda. multiply. com/reviews/ item/47 , dapat dilihat dari link ini bagaimana akhirnya Banten bisa berdiri menjadi Provinsi sendiri, atau dapat dilihat dari sebuah buku "Mengawal Aspirasi Masyarakat Banten Menuju Iman Taqwa, Memori Pengabdian DPRD Banten Masa Bakti 2001 – 2004, sebuah perjuangan yang panjang juga penuh dengan pro dan kontra seperti juga dengan ALA dan ABBAS.
Ini bukan saja permasalahan rentang kendali akan tetapi permasalahan akar budaya dan kebanggaan menjadi orang Banten. Silahkan teman-teman membacanya agar ini bisa dijadikan sebagai contoh perjuangan Provinsi ALA dan ABBAS. Sebagai tambahan lagi bahwa Provinsi Banten saat ini APBD sudah mengalahkan Provinsi Jawa Barat, bahkan pembangunan sudah amat maju disana. Kabupaten/kota yang dahulu tertinggal sekarang begitu luar biasa percepatan pembangunannya, yang tentunya juga harus diimbangi dengan percepatan SDM untuk mengawalnya.
Ulasan anda:
Lalu apakah ada perang bodoh? studi tentang insurgency, sektor keamanan (pertahanan) , hukum humaniter memberikan jawaban bahwa perang pharus pula diletakkan dalam kerangka tujuan mulia. Namun tentu saja para seniman seperti Shaggy bisa saja melontarkan perang AS di Irak sebagai perang bodoh. Pendapat Shaggy ini bukan tidak bisa didekati, paling tidak perang AS di Irak ternyata tidak sebagaiaman dikatakan pemerintah Bush karena Irak memiliki senjata pemusnah massal, akhirnya dibuktikan bahwa perang ini dilandasi keinginan menguasai minyak. Jadi Shaggy dalam hal ini mengatakan perang bodoh karena negaranya dan pemimpinnya telah mengelabui rakyat AS.
Adapun tudingan Kosasih Bakar terhadap perang bodoh = GAM = Aceh, hanyalah dilandasi kebencian-kebencian yang tidak memiliki landasan pemikiran yang jelas, dengan menyebut Hasan Tiro punya nasionalisme terlalu tinggi.
Boleh jadi ada banyak faktor kegagalan dalam tubuh GAM, tetapi itu bukan salah Hasan Tiro, sebagaimana menjadi penegetahuan umum, kesalahannya ada pada administratif GAM yang tidak lagi dibawah kendali Hasan Tiro.
Jawaban saya:
Perang Aceh yang dikumandangkan oleh Hasan Tiro adalah PERANG BODOH merupakan sebuah kejelasan yang tidak dapat disangkal lagi, dan bukan tanpa kerangka pikir yang jelas, silahkan lihat tulisan saya pada www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Perbandingan Hasan Tiro dan Daud Beureuh.
Seorang pemimpin yang baik, sudah barang tentu ia berpikir ke depan, ia tidak akan mengorbankan rakyat Aceh yang begitu banyak hanya untuk pragmatism GAM. Konsep perjuangannya adalah Membebaskan diri dari Pemerintah Jawa-Indon, sebuah peperangan yang dilandasi dengan Ashobiyah, dan ini tentunya tidak sesuai dengan karakter orang Aceh sehingga GAM mendapati kenyataan bahwa banyaknya komponen Aceh yang menolak yang berujung dengan adanya keinginan ALA dan ABBAS, karena rasa muak mereka terhadap peperangan yang telah menghancurkan generasi penerus Aceh.
Atau dapat dilihat dari tulisan saya www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Adakah Indikasi GAM disusupi CIA dan Zionis.
Dengan adanya PERANG BODOH ini berakibat yang diluar Hasan Tiro perkirakan, karena ia termakan ntah sengaja atau tidak dengan peta konflik yang digelar oleh Soeharto dan LB Moerdani, indikasinya adalah TNI yang dikirimkan pertama kali adalah orang-orang batak, untuk mengental sentiment agama di Aceh, sehingga konflik horizontal yang terjadi antara Agama semakin kental sesuai dengan harapan dari LB Moerdani untuk menyapu bersih para Tengku-tengku yang ada. Dapat dilihat sekarang sudah semakin berkurangnya Tengku yang ada di Aceh karean banyak dari mereka yang tentunya berafiliasi kepada GAM demi menegakkan syariat Islam atau itu yang ditawarkan oleh Hasan Tiro.
Belum lagi hilangnya satu generasi di Aceh, hanya karena PERANG BODOH, inikah yang engkau banggakan dari Hasan Tiro, sudah menghalalkan darah sesame muslim, konsep perjuangan yang membuat orang mati dalam keadaan jahiliyah, akhir yang hanya menguntungkan segelintir orang saja, yaitu kelompok GAM. Apakah ini tidak perang bodoh ? Belum lagi kita membahas ini dari rakyat Gayo, semakin menderita lah kita rasanya.
Ulasan anda:
Selanjutnya pendapat emosionil Kosasih Bakar tentang adanya perang saudara di Aceh sama sekali keliru. Pertama sekali berdasarkan UUD 45 bahwa negara Indonesia bukanlah negara beridiologi Islam. Kedua; Aceh sendiri sebagaimana disebut adalah Kerajaan Aceh Darussalam, menskipun seperti Indonesia juga mengadopsi ajaran-ajaran Islam, tidak meletakkan AL-Qur'an dan Hadits sebagai Konstitusi negaranya.
Jadi disana tidak ada perang saudara sesama muslim, alasan agama disini justru digunakan untuk perdamaian sebagaimana mengutip Teungku Ali Jadun yang berkata "Gere ara uren si gere sidang, gere ara perang si gere rede". Gayo-gayo palsu seperti anda ini silakan saja membuktikannya.
Jawaban saya:
Silahkan lihat www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Propaganda GAM Menggunakan Islam.
NKRI memang bukan Negara Islam akan tetapi pemeluk terbesarnya beragama Islam, bahkan sebagai Negara terbesar pemeluk agama Islam di dunia.
Pepatah gayo itu tidak mengajarkan kita untuk melakukan sebuah peperangan tanpa dasar yang jelas, setiap peperangan yang dinamakan Jihad harus mempunyai 1 niat yang Lillahita’ala, menegakkan kalimat Allah. Sedangkan apabila ada pertikaian antara 2 pihak yang berasal dari muslim maka perdamaian adalah yang lebih diutamakan. Inilah kesalahan Hasan Tiro, ketika ia mengatasnamakan Islam, konsep perjuangannya salah, yang akibatnya sungguh menyayatkan hati. Ketika konsep nasionalisme yang dia perjuangkan tidak semua orang Aceh suka dengan perjuangan dia, ironis bukan.
Kalau zaman Iskadar Muda Aceh dalam kejayaan, maka masa pemberontakan Hasan Tiro adalah masa-masa yang paling menderita buat rakyat Aceh karena kita telah kehilangan generasi penerus, kehilangan 1 generasi untuk memperlihatkan bahwa orang Aceh itu adalah sebuah bangsa yang diperhitungkan, akan tetapi saat ini adalah sebuah bangsa yang hanya pandai memberontak. Sebagai bukti cobalah lihat anggota-anggota GAM, kebanyakan tidak berpendidikan dan tidak mempunyai life skill, karena perekrutannya lama-kelamaan adalah orang –orang yang menjadi korban perang, bukan kaum intelektual yang bersifat independent dan bebas. Apapun yang diawali dengan dendam maka hasilnya tentunya tidak akan baik.
Bukti apa lagi yang harus saya buktikan bahwa saya orang Gayo asli, saya tidak tahu, apakah karena saya tidak mendukung GAM maka saya bukan orang Gayo asli. Pikiran anda sangat picik, ada baiknya anda mencuci muka terlebih dahulu dan mempertanyakan diri anda apakah dengan ikut GAM itu anda berarti telah menjual penaringen datum ni dengan harga yang amat murah.
Mana yang lebih Gayo, mereka yang mau berdiri diatas kakinya sendiri, melawan pemberontak atau mereka yang mau berlindung di ketiak Aceh Merdeka.
Yang menjadi tidak habis pikir adalah ketika orang Gayo tidak mau untuk memperjuangkan ALA, inilah yang saya pertanyakan kenapa ? Padahal ini adalah jembatan emas untuk menuju perbaikan orang-orang Gayo, banyak konsep yang bisa diterapkan, banyak hal yang bisa dikerjakan.
Berijin.
Kosasih Bakar
www.cossalabu. blogspot. com
04 Desember 2008
Selamat Ulang Tahun Deklarasi Pemekaran ALA dan ABBAS
Tepat saat ini kita memperingati 2 kejadian yang amat dinantikan oleh rakyat Aceh, baik bagi mereka yang pro Kemerdekaan dan pro Pemekaran Wilayah, tepat pada hari ini tanggal 4 Desember 2008.
Tepat hari ini juga setlah sekian lama saya mengikuti mailing list ini saya mencoba menceritakan pandangan-pandangan saya tentang keadaan Aceh pada saat ini.
Aceh tempo Dulu dan Sekarang
Sudah sejak puluhan tahun yang lalu Aceh selalu dalam ketidakamanan, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Sejak zaman Iskandar Muda dan seterusnya selalu dipenuhi dengan pertikaian yang terjadi antara sesama penguasa atau antara penguasa dengan bangsawan, sudah sejak lama terjadi. Naiknya seorang Sultan Iskandar Muda juga penuh dengan intrik dalam perebutan kekuasaan begitu juga setelahnya sampai dengan hilangnya Kesultanan Aceh kembali menjadi Kerajaan-Kerajaan Kecil seperti Kerajaan Pasai, Kerajaan Pidie dan Kerajaan di dataran tinggi Gayo.
Kesultanan Iskandar Muda bisa bertahan lama karena persatuan keimanan yang kuat pada rakyat Aceh untuk bertahan dari serangan kuffar Portugis dan Eropa lainnya, sekaligus kepemimpinan dari Iskandar Muda yang memang keras pada masa itu. Di sejarah dikatakan bahwa ia bisa membunuh para bangsawan yang sudah tidak lagi lebih memperhatikan rakyat Aceh, juga dengan militer yang amat kuat waktu itu untuk menjaga kewibawaan dari Sultan Iskandar Muda, sebuah sistem pemerintahan modern yang bersinergi antara Sipil dan Militer, sehingga keamanan dapat terjaga dengan baik.
Dilanjutkan pada masa penjajahan Belanda, kembali Aceh dalam pergolakkan ketika masa penjajahan Belanda, bahkan seorang Yusran Habib, orang Gayo sekaligus teman dekat Hasan Tiro menulis secara khusus tentang perjuangan dari Tengku Cik Di Tiro dan keluarganya. Pada masa-masa ini semua rakyat Aceh kembali tanpa sebuah kesultanan yang besar bersatu padu hanya dengan satu tujuan, perang suci, JIHAD, membunuh Kuffar Penjajah Belanda. Timbullah pemimpin-pemimpin lokal seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Aman Dimot, dsb.
Lantas sejarah berlanjut dengan masa transisi kemerdekaan NKRI, Aceh bersatu dengan NKRI melawan Belanda yang pada waktu itu tokohnya adalah Daud Beureuh, seorang tokoh agama yang mempunyai pemikiran agama yang dalam. Beliau lebih mendahulukan kepentingan agamanya dibandingkan dengan kekuasaan (lihat di www.blogspot.com dengan judul 'Perbedaan Hasan Tiro dan Daud Beureuh"), ketika dalam pemberontakkan yang dilakukannya lebih kepada memperjuangkan syariah Islam berdiri di Aceh, sehingga ia bergabung dengan daerah lain di Indonesia untuk membentuk NII. Dalam akhir perjuangannya ia mengumpulkan semua rakyat Aceh untuk kembali ke saudara seimannya NKRI, walau ia sadar banyak hal yang membuat ia kecewa dengan Soekarno pada waktu itu, hanya karena keimanan itulah ia bisa bersatu kembali. Hal yang baik adalah ketia ia mengumpulkan semua rakyat Aceh di Blang Padang untuk bermusyawarah mengambil keputusan tentang hubungan Aceh dengan RI, yang berujung berdamai dengan NKRI.
Sejarah kemudian dilanjutkan dengan pemberontakkan yang dilakukan Hasan Tiro, yang berawal dari penilaian beliau bahwa ada ketidakadilan dari Pemerintah NKRI dengan tidak mengikutsertakan rakyat Aceh dalam Proyek Arun, ia merasakan bahwa dengan hal seperti ini maka pelecehan kembali dari RI kepada rakyat Aceh. Padahal waktu itu ia merupakan salah satu kader NKRI ke depan dengan disekolahkan oleh uang negara, ia seorang Dubes dari NKRI. Selama puluhan tahun terjadi pemberontakkan dengan mengedepankan konsep perjuangan kebencian kepada satu suku (Indon – Jawa), ini yang selalu dikedepankan dalam perjuangan mereka, puluhan ribu orang telah meninggal dunia, ratusan ribu orang dalam tekanan, jutaan orang meneteskan air mata, puluhan juta orang terprovokasi atau tergugah atas nama perang yang menginginkan kemerdekaan tersebut. Sudah begitu banyak yang dilakukan cara untuk mendamaikan perang tersebut, sudah begitu banyak fasilitator yang mencoba menengahinya, yang akhirnya berujung kepada MoU Helsinky.
Perjanjian yang menurut Yusran Habib, draft finalnya baru dibaca oleh Hasan Tiro ketika akan ditandatangani. Perjanjian yang isinya lebih menguntungkan anggota GAM pada Bab tentang Reintegrasi anggota GAM, dimana setiap anggota GAM didahulukan untuk mendapatkan rumah, tanah dan materi lainnya selain membentuk KPA sebagai wadah untuk kepentingan-kepentingan tersebut yang dananya berasal dari BRR. Implikasinya dapat terlihat sekarang adalah bahwa setiap Panglima Sago sudah memiliki mobil mewah, rumah dan perkebunan, tapi bukan lebih mementingkan kepentingan rakyat Aceh. Belum lagi point-point lain yang bisa diprediksikan bahwa MoU ini selain hanya menguntungkan GAM juga berindikasikan akan memasukkan GAM ke dalam lubang kehancuran yang mau tidak mau dibangunnya sendiri, seperti indikasi GAM menuju kemerdekaan dengan KPA, Partai Lokal, Deklarasi Kemerdekaan (lihat di www.cossalabu.com dengan judul “Strategi GAM”). Ini hampir sama dengan kejadian pemberontakkan GAM yang ternyata mengakibatkan hampir tebunuhnya Tengku-tengku yang mempunyai wawasan ilmu yang luas karena dianggap memberontak melalui GAM. Ketidaksabaran-ketidaksabaran inilah yang seharusnya dipikirkan oleh petinggi GAM, karena ujungnya adalah kembali ketidakamanan bagi rakyat Aceh menjadi korban konflik kembali.
Penduduk Aceh (bisa dilihat www.cossalabu.blogspot.com dengan judul ”Filosofi Kata Aceh Masih Dipertanyakan”)
Setiap keluarga di Aceh sudah barang tentu tidak menginginkan terjadinya perang lagi, sudah cukup generasi penerus kita disuguhi oleh perang dan dendam, yang mengakibatkan generasi penerus Aceh semakin terpuruk, inilah yang dikatakan sebauh cara sistematis untuk membodohi rakyat Aceh secara sadar atau tidak sadar kita menuju kearah sana.
Semua orang tahu bahwa potensi rakyat Aceh luar biasa, saya sangat terprovokasi denga tulisan-tulisan Yusran habib Abdul Gani, ia yang begitu bangga menjadi seorang Aceh sekaligus bangga menjadi orang gayo. Aceh itu sesungguhnya sudah tidak ada lagi yang dikatakan sebagai suku asli (dari keling, Gujarat, Tamil, Ruum, Arab, Melayu, Jawa, Batak, Jamnee), perbedaannya hanyalah kepada budaya dan bahasa mereka serta populasi terbesar yang ada pada mereka. Yang mengatakan orang Aceh hanya karena ia panda berbahasa Aceh dan menggunakan adat Aceh dalam kesehariannya, yang mengaku gayo sesungguhnya mereka yang dominant berasal dari Melayu, juga hasil perpaduan berbagai suku saat ini yang menggunakan adat dan bahasa gayo, yang dari suku Jamnee karena ia berbahasa dan menggunakan bahasa Jamnee.
Namun apabila mereka dikatik-kaitkan tentunya sudah tidak ada lagi yang suku asli dari mereka, keberagaman Aceh inilah yang membuat kita menjadi semakin cerdas, dalam ilmu genetika semakin banyak perpaduan sebuah suku akan melahirkan manusia-manusia cerdas, ini pulalah yang membedakan pendudukan Aceh pada zaman Iskandar Muda dengan penduduk daerah Sumatera lainnya.
Namun demikian, karakteristik penduduk Aceh adalah begitu heterogen sehingga akan sulit untuk bisa menjadi satu saat ini, karena sifat mereka yang keras serta diantara mereka terlalu mengangkat nilai kesukuan mereka dengan terlalu tinggi. Bahkan perang yang terjadi sekarang ini telah terlalu berbekas kepada rakyat yang tidak mendukung GAM, sebagai contoh rakyat Gayo, Meulaboh dan Tapak Tuan, banyak dari mereka yang merasa menjadi korban dari TNI dan GAM, karena mereka lebih memilih untuk diam atau lebih memilih untuk tidak mengikuti GAM.
ALA dan ABBAS adalah SOLUSI
Hal yang membuat rakyat Aceh semakin terpecah belah adalah karena adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kita semua sudah mengetahi bahwa memang ada perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang dahulu, yang bisa mulai diindikasikan dari sejarah yang agak jelas pada zaman Iskandar Muda kemudian yang semakin pudar kejayaan Aceh. Kepemimpinan yang keras saja yang mampu membuat rakyat Aceh itu menjadi bersatu serta mengatasnamakan keimanan dan persaudaraan sesame muslim yang membuat bersatu rakyat Aceh.
Perseteruan-perseteruan itu sudah dapat dilihat dari permasalahan perbedaan bahasa, yang menggambarkan dengan jelas ada perbedaan antara Aceh dengan Gayo yang tidak bisa dimungkiri,begitu juga halnya Aceh dengan Jamnee, factor-faktor seperti ini jelas tidak bisa dianggap tidak ada, karena berpengaruh amat besar dalam kehidupan.
Ini semakin meruncing ketika GAM mencoba untuk merangkul semua rakyat Aceh untuk membantu mereka dalam memerdekakan diri, namun ternyata tidak mendapat dukungan seperti yang mereka harapkan. Ini terjadi karena konsep perjuangan mereka yang tidak bisa diterima oleh rakyat Aceh pada umumnya, mereka lebih mengedepankan permusuhan dengan Jawa – Indon. Seharusnya GAM sadar bahwa untuk lebih merangkul rakyat Aceh bukan dengan perjuangan yang diatasnamakan Jihad, bukan ketidapuasan saja, karena rakyat Aceh itu sudah terbiasa dengan konflik antar golongan atau tingkatan social dan mereka amat menikmatinya, tapi jika dengan Jihad mereka akan berusaha sampai dengan tetesan darah terakhir mereka.
Ketika GAM memaksakan kehendaknya maka yang terjadi adalah mereka lebih mementingkan golongan mereka, rakyat gayo lebih mementingkan keamanan pada daerah mereka dibandingkan harus ikut konflik yang menyengsarakan mereka, rakyat Jamnee amat kesal dengan limpahan orang-orang GAM ke daerah mereka padahal mereka tidak menyetujui perjuangan ini. Ketika ini semua terjadi maka semakin nyata-nyata korban konflik yang terjadi, di Gayo timbul milisi yang berasal dari Gayo dan Jawa untuk mempertahankan diri mereka dari GAM, tentunya berafiliasi dengan TNI, lantas mereka mengusulkan juga dengan pemekaran Provinsi ALA. Di Jamnee atau Barat Selatan mereka menyimpan api dalam sekam yang kemudia meletus dengan pengusulan adanya provinsi baru ABBAS.
Tidak Setuju Pemekaran
Alasan Pertama, Aceh adalah milik Gayo, jadi tidak ada alasan kalau kita memisahkan diri, jujur saja saya juga dulu berpendapat seperti ini, sampai-sampai ama, ine, pak cik dan pun-pun saya tentang dengan hujjah seperti ini. Saya teringat bahwa pernah mengatakan kepada Pun saya, dengan nada keras “Cik, enti anggap lemah urang Gayo ni, kite si empun tempat, hana kati kite mulepas daerah si kite kuasai. Sawah ku ujung langit pe muyang datun te gere perah ijin kin pemekaren ni.” Waktu itu sampai merinding saya mengatakannya, karena ketidaksukaan dengan isu pemekaran ini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir keras, kebetulan saya tinggal di Jakarta, bekerja di salah satu Departemen Pemerintah dengan anggaran yang paling tinggi saat ini. Saya juga sering mendampingi atasan saya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dan kebetulan ia senang mengunjungi daerah-daerah yang tertinggal. Saya pernah mengunjungi seluruh wilayah NTT dalam 2 kali kunjungan kerja, saya sangat miris bagaimana daerah kota di NTT lebih bagus dengan kecamatan yang ada di Jawa. Saya juga ke Papua, Kalimantan, Sulawesi dan banyak lagi, sepertinya hampir setiap provinsi di Indonesia saya pernah kunjungi.
Tiba-tiba kesombongan saya itu runtuh, saya baru sadar bahwa sekarang zaman sudah berbeda, sudah tidak ada lagi Raja Gayo yang kita banggakan sebagai penguasa Sumatera, saya seperti sadar baru menginjak bumi, sekarang ini adalah menghadapi kenyataan yang ada untuk memperbaikinya. Pola pikir saya langsung berubah, tiba-tiba saya sadar bahwa dengan daerah saya Gayo pun tidak lebih baik dari daerah-daerah yang saya kunjungi, utamanya kampong halaman saya.
Lantas saya teringat bahwa pada daerah-daerah pemekaran yang saya kunjungi, ternyata ada yang sedemikian maju seperti Banten dan Gorontalo, mereka begitu menggeliat dengan pembangunannya. Begitu juga dengan Bangka Belitung. Belum lagi pada beberapa Kabupaten/Kota seperti di NTT, terlihat bahwa Kabupate/Kota pemekaran tersebut selalu berusaha untuk menggeliat mencapai apa yang mereka perjuangkan dengan adanya pemekaran tersebut. Namun demikian saya juga menyadari ada beberapa daerah yang belum bisa dengan optimal melakukan pembangunan. Saya pun lantas mempelajari kenapa mereka berpisah, ternyata salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan kultur, bahkan diantara mereka juga berucap seperti yang Edi Kelana katakan. Seperti saya teringat orang Banten mengatakan bahwa sesungguhnya Jakarta itu dulunya ada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten, seharusnya mejadi milik Banten. Atau ketika orang Betawi berkata dengan sombongnya saya pemilik Jakarta, namun pada umumnya mereka amat tertinggal dari segala aspek kehidupan dibanding dengan orang pendatang ke Jakarta.
Inilah yang saya takutkan bila kita tidak segera melepaskan diri dari tekanan-tekanan, kebebasan kita untuk segera bangkit dan dapat membangun orang Gayo.
Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa pemekaran tidak harus sama dengan wilayah yang dipunyai karena perkembangan zaman, akan tetapi ada juga diakibatkan oleh ikatan-ikatan perbedaan kultur yang memang bila disatukan akan menjadi permasalahan. Kelemahan dari intelektual kita adalah mencoba mengignore ini semua, padahal ini berdampak kepada keamanan dan percepatan pembangunan yang dilakukan, atau dapat dikatakan ‘feel like home’. Allah saja tidak pernah mengatakan kita harus satu akan tetapi lebih untuk saling mengenal.
Saya juga tidak bisa salah bagi orang-orang yang tidak menganggap ini menjadi masalah, tapi seperti yang dituliskan Win Wan Nur bahwa memang kita sudah tertekan, kita merasa ada di rumah orang padahal ada dirumah sendiri, tragis bukan.
Kedua, Pimpinan Daerah, mereka beralasan bahwa pemekaran ini hanya kepentingan segelintir elit politik saja, mereka yang mau menjadi pejabat pada daerah pemekaran.
Untuk alasan yang satu ini saya hanya bisa tertawa, sekarang ini adalah zamannya PILKADA, siapapun yang mau jadi pimpinan silahkan pulang dan berlomba-lomba untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa jadi pemimpin. Bahkan ada sisi baiknya disini, Gubernur dan Wagub serta pejabat-pejabatnya adalah orang Gayo, atau yang mengaku orang Gayo atau yang bisa berbahasa Gayo atau yang berbudaya Gayo. Sudah barang tentu mereka akan lebih focus untuk membangun daerahnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan mengenai perebutan kekuasaan disana dari masing-masing suku, rasanya bukan masalah besar, karena kita menggunakan bahasa dan adat yang sama.
Ketiga, otonomi daerah, ada benarnya bahwa sekarang zaman otonomi daerah Pemerintah Kabupaten/Kota lebih berkuasa atau wewenang, tapi jangan lupakan juga kalau wewenang seorang Gubernur amat besar dalam menyalurkan dana Dekon serta menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Pusat. Saya tahu betul, saat ini dalam APBN kami dimarahi oleh DPR, mereka mengatakan sudah tidak diperbolehkan lagi mengalirka dana langsung ke Kabupaten/Kota, semuanya harus ke Provinsi terlebih dahulu. Ini semua akibat anggapan dari Pusat bahwa terlalu jauh tangan Pusat untuk bisa mengawasi Kabupaten/Kota, intinya adalah mencoba untuk membangun kembali kewibawaan dari Provinsi.
Nah, bila ini terjadi alangkah baiknya kalau orang Gayo punya Provinsi sendiri, selama ini jelas kita selalu ketinggalan dari berbagai kebijakan Pusat, bahkan untuk aliran dana saja daerah ALA selalu ketinggalan, ini juga tidak terlepas dari perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang kita dahulu. Kita harus ingat bahwa bila nenek muyang mereka membunuh atau menipu nenek muyang kita tentu aka nada pengaruhnya kepada kita.
Yang terpenting lagi adalah kita bisa mengelola SDA di Gayo yang banyak ini, keamanan di Gayo bukan karena GAM, tapi ada pada orang Gayo sendiri. Kalau GAM berontak lagi kita akan bisa mendongakkan kepala kita, kita punya tentara sendiri. Dan lagi perputaran uang akan lebih banyak di Provinsi ALA.
Keempat, minorities within minorities, hal ini tidak akan mungkin terjadi, rasanya orang Gayo sudah cukup teruji dengan hal ini, dengan karakter terbukanya sejak zaman Kerajaan Linge sampai saat ini. Rasanya tidak ada satu suku pun yang bisa seterbuka suku Gayo, mereka bisa beradptasi dengan Batak, Padang, Jawa, Bugis, China bahkan Aceh sekalipun, walau pun dengan Aceh memang tidak bisa sepenuhnya. Terlebih lagi karakteristik antara Gayo dan Aceh itu jauh berbeda. Karakteristik orang yang berasal dari Melayu tentu berbeda dengan orang yang berasal dari Tamil.
Saya yakin tidak akan terjadi kalau pemekaran ALA lantas semua orang Aceh kemudian dibunuh, seperti halnya GAM membunuh orang Jawa dan Gayo di Aceh Tengah, ada yang unik dari orang Gayo. Keislaman mereka selalu dinomorsatukan, malu mereka selalu dinomorsatukan. Ini pula yang menyebabkan ketika Daud Beureuh ia berjuang lama di dataran tinggi Gayo, karena ia membawa kalimat Laa Ilaha Illallah, ini juga yang menyebabkan perjuangan GAM tidak di dukung oleh orang Gayo, karena perjuangan mereka tidak karena kalimat itu, hanya karena ketidakpuasan pada awalnya.
Sebagai contoh, kita lihat bagaimana orang Gayo tidak pernah demo karena harga bensin naik, waktu DOM bahakan pokok langka, mereka semua tenang-tenang saja, inilah keunikkan Gayo yang saya juga agak heran sampai sekarang. Mereka lebih mementingkan perdamaian di Gayo, inilah yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gayo sekarang ini, daripada berafiliasi dengan GAM mereka memilih berafiliasi dengan TNI, mereka sadar dengan sifat dari orang Gayo, bukan seorang pemberontak yang bodoh. Tapi jika diajak dengan kalimat Syahadat, baru bisa dilihat bagaimana orang Gayo marahnya.
Untuk ketakutan kita terhadap suku Jawa yang menguasai daerah Gayo rasanya terlalu berlebih-lebihan, dan ini adalah amat berbahaya apabila dipermasalahkan hingga menimbulkan konflik horizontal. Karena rasanya sekarang ini banyak sudah perkawinan silang antara suku Gayo dan Jawa. Rasanya sudah terlambat atau adalah salah jika tema ini disebarluaskan, karena tidak aka nada artinya. Mereka sudah lama terikat dalam satu penderitaan ketika DOM, setiap aksi atau provokasi yang mencoba mengadudomba mereka hanya akan membuat ketidaknyamanan di Gayo, bahkan bisa jadi kemudian mereka mengatakan ini adalah aksi GAM yang tidak mau melihat Gayo aman dan damai.
Kemudian saya juga bisa katakan bahwa suku Jawa itu bukanlah sebuah suku yang suka melakukan kekerasan atau pemberontakkan seperti halnya suku Aceh, mereka relative lebih bisa tunduk dengan kebudayaan setempat, bila kita dapat memimpin atau memeberikan tempat kepada mereka mereka sepertinya akan menjadi teman yang baik, mereka punya loyalitas atau seperti Bang Win Wan Nur katakan ‘Feodal’. Sedangkan dengan Aceh, saya yakin kita akan selalu bertarung dalam hati kita dengam mereka, karena ini terjadi sejak nenek muyang kita.
Setuju Pemekaran
Alasan pertama, bisa mengangkat harkat, martabat dan marwah orang Gayo. Keyakinan mereka dengan lahirnya pemimpin-pemimpin Gayo yang berasal dari Gayo sudah barang tentu akan lebih memikirkan orang Gayo dengan lebih maksimal. Mereka mempunyai keyakinan bahwa siapapun Gubernurnya dengan segala macam kejelekkannya bila berasal dari Tanoh Gayo sudah barang tentu akan berpikir untuk orang Gayo, kasarnya untuk urangnya pasti dipikirkannya.
Yang lebih mereka pikirkan lagi adalah timbul-timbul pejabat yang berasal dari Gayo, dan sudah barang tentu ini akan membuat percepatan-percepatan SDM yang harus dilakukan. Seorang Gubernur Gayo tentunya harus mulai berpikir seperti seorang Gubernur mau tidak mau, ia harus mempersiapkan kapasitasnya sebagai seorang Gubernur, begitu juga dengan pejabat lainnya.
Anak cucu kita akan bangga dengan ini semua, bahkan mereka kemudian bercita-cita menggantikan senior-seniornya, ada peluang besar ke situ. Setiap orang akan bangga dengan Gayonya.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah kita bisa dengan lebih leluasa melakukan penelitian-penelitian tentang sejarah Gayo, dan mengaktualisasikannya sebagai eksistesi orang Gayo, bahkan memperkuat adat Gayo yang menjalankan syariat Islam sejak ratusan tahun lalu.
Sekali lagi untuk orang Jawa, saya akan memperlihatkan sebuah Provinsi Lampung yang notabene hampir 60% jawa, tetap Gubernur mereka orang Lampung asli, inilah salah satu keunikan orang Jawa.
Terlebih lagi suku Gayo adalah salah satu suku yang selalu berhasil perpaduan budaya dengan suku manapun, sebagai contoh di Aceh Barat dan Aceh Selatan bahasa padang tidak hilang dari kehidupan mereka, ini menandakan bahwa Aceh tidak pernah bisa memenangkan budaya mereka terhadap suku Jamnee. Lihat di Gayo, Aceh Tenggara yang merupakan perpaduan Aceh dan Padang, bahasa Padang hilang digantikan dengan bahasa Gayo.
Selain itu, sudah barang tentu pada awal-awal pemerintahan orang Gayo akan memimpin ALA selama beberapa generasi, kita dapat mempersiapkan mereka, generasi Gayo, dengan lebih baik lagi tentunya.
Terakhir, masa yang akan datang, bukan suku lagi yang dipikirkan orang tapi bagaimana semua menjadi sejahtera, Islam menjadi tujuan. SBY yang pernah ke Gayo mengatakan bahwa Gayo adalah Indonesia Mini di Indonesia, maka jadikan Gayo sebagai sebutan bagi orang-orang yang mengikuti adat Gayo dan berbahasa Gayo.
Kedua, percepatan pembangunan, ini kiranya sudah jelas, seperti yang saya jelaskan pada awal tadi, bahwa ke depan untuk otonomi daerah peran daerah tingkat I atau Provinsi akan diperkuat, yang bertujuan memperkuat nasionalisme sekaligus mempermudah untuk melakukan pengawasan terhadap Kabupaten/Kota yang ada pada regional mereka. Atau bahasa kerennya adalah memperpendek rentang kendali.
Mau tidak mau SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo. Yang saya herankan adalah ketika orang mengatakan bahwa orang Jawa akan membawa kekayaan Gayo ke Jawa, ini adalah sesuatu yang amat bodoh di era otonomi daerah.
Namun, hal itu bisa terjadi apabila Gayo terjadi konflik, kita jangan terprovokasi untuk hal ini. Salah satunya adalah dengan wacana Gayo Merdeka, ini amat berbahaya. Bila kita berkaca kepada Aceh, maka ada wacana bahwa GAM tersebut merupakan sebuah scenario untuk menghabiskan SDA Arun dengan mudah. Bayangkan, sejak Arun dimenangkan USA kemudian timbul pemberontakkan GAM yang sepertinya sama sekali tidak ada upaya yang serius untuk menggagalkan kekayaan alam tersebut di bawa ke USA, jelas sekali yang mendapatkan keuntungan besar dari proyek Arun adalah Exxon. Dalam pemikiran mudah kita, seharusnya target utama GAM adalah tidak berjalannya proyek Arun, kenyataannya sudah hampir habis SDAnya. Jadi adalah wajar ketika kita mengatakan bahwa ada main mata antara GAM, oknum TNI dan USA untuk menjadikan Aceh tidak aman sehingga bisa menggerus habis Arun sekaligus menghabiskan para Tengku yang berbahaya bagi Soeharto.
Begitu juga halnya bila Gayo Merdeka menjadi sebuah perjuangan, ini akan dianggap sebagai kaki tangan GAM. Salah satu tahapan dari Gerakan Gayo Merdeka (baca Kaki Tangan GAM) adalah dengan menjadikan konflik horizontal antara Gayo dan Jawa, dengan mengangkat kesukuan atau Chauvisme Gayo. Bayangkan ketidakamanan yang akan diderita orang Gayo dan tentunya orang Aceh (baca GAM) akan tertawa dengan riang, bahkan oknum TNI akan senang melihatnya, ada proyek penggerusan baru. Ini yang harus kita jaga.
Dengan ALA, semuanya akan menjadi lebih mudah, dengan ALA nasionalisme kita akan mendapatkan penghargaan dari NKRI, kesempatan membangun kita akan lebih besar, karena daerah Gayo terkenal sebagai daerah putih, atau daerah yang mendukung NKRI. Gayo akan aman dan anak cucu kita bisa menggapai cita-citanya.
Ketiga, keamanan, dengan ALA kita akan mempunyai teritori sendiri untuk mengamankan daerah kita, kita akan punya Kodam sendiri. Daerah konflik akan lebih mudah ditangani, GAM akan lebih mudah dibrangus. Rakyat Gayo sudah punya kepercayaan diri untuk menghancurkan GAM, mereka sudah punya kekuatan yang jelas dari TNI.
Bahkan dengan terbelahnya Aceh, maka yang bisa diprediksikan tidak ada lagi konsep Aceh Merdeka oleh GAM, semuanya gugur. Tidak perlu lagi rakyat Gayo menjadi korban dari PERANG BODOH selama puluhan tahun yang membuat rakyat Gayo menderita, terancam, terintimidasi, kekurangan pangan, sandang dan papan, kehilangan kepercayaan diri. Ini semua dapat kita hilangkan dengan pemekaran ini.
Tiga hal ini saja, maka dapat dipastikan Gayo sekarang akan berbeda dengan Gayo 10 tahun yang akan datang, kita akan lihat anak-anak kita menjadi seorang Profesor, kita akan lihat tenaga kerja yang baik, perkebunan yang aman, pendidikan yang maju, perekonomian yang bergerak.
Walau demikian pada 3 tahun pertama, merupakan masa-masa sulit, kita akan diuji dengan kemampuan kita untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah GAM yang pasti akan menggagalkan ini, karena Aceh Merdeka akan hilang dari muka bumi ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan kemampuan untuk menarik banyak investor, kemampuan untuk mencarikan formulasi yang terbaik sesuai dengan kondisi dataran tinggi Gayo yang tidak merusak alam dan menegakkan syariah Islam.
Kesimpulan
Kepada masyarakat Gayo, utamanya generasi mudanya mari kita berpikir luas dan tidak sempit, dengan ALA kita dapat membangun dengan cepat SDM dan mengelola SDA bagi SDM kita. Kita tidak akan lagi ketakutan dengan PERANG BODOH atau agenda-agenda Aceh Merdeka. Kita bisa membuktikan bahwa ALA bukan hanya mensejahterakan orang Gayo tapi segala suku yang ada di ALA dengan sebaik-baiknya, sebuah Indonesia Mini.
Kita tidak bisa mempercayakan nasib kita kepada GAM atau orang Aceh, kebencian mereka terhadap suku Jawa adalah luar biasa, bila ini kita biarkan maka sama saja kita bunuh diri menciptakan konflik pada daerah kita sendiri yang kemudian kita akan sesali.
Pemberontakkan tidak akan pernah menang sekarang ini, jangan samakan Aceh dengan Kosovo, Kosovo punya Rusia, itupun sulitnya bukan main. Siapa yang mau membela Aceh, Gayo saja tidak bisa mereka rangkul, tentu dunia internasional akan terus mempertanyakan hal ini.
Namun, kita bisa samakan Aceh dengan Tamil di Sri Lanka, dan ini memang nenek muyangnya.
Tapi kita tidak bisa samakan Aceh dengan Khasmir di India, Poso di Fhilipinna, Chencya di Rusia, Moro di Thailand, apalagi Hamas di Palestina. Mereka memperjuangkan nasionalisme dengan menghalalkan darah sesame muslim, sehingga hanya membuat murka di sisi Allah.
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK DEKLARASI PEMEKARAN ALA DAN ABBAS, SEMOGA RAKYAT ACEH SEMAKIN MAJU KEDEPANNYA.
Tepat hari ini juga setlah sekian lama saya mengikuti mailing list ini saya mencoba menceritakan pandangan-pandangan saya tentang keadaan Aceh pada saat ini.
Aceh tempo Dulu dan Sekarang
Sudah sejak puluhan tahun yang lalu Aceh selalu dalam ketidakamanan, saya akan membaginya menjadi beberapa bagian. Sejak zaman Iskandar Muda dan seterusnya selalu dipenuhi dengan pertikaian yang terjadi antara sesama penguasa atau antara penguasa dengan bangsawan, sudah sejak lama terjadi. Naiknya seorang Sultan Iskandar Muda juga penuh dengan intrik dalam perebutan kekuasaan begitu juga setelahnya sampai dengan hilangnya Kesultanan Aceh kembali menjadi Kerajaan-Kerajaan Kecil seperti Kerajaan Pasai, Kerajaan Pidie dan Kerajaan di dataran tinggi Gayo.
Kesultanan Iskandar Muda bisa bertahan lama karena persatuan keimanan yang kuat pada rakyat Aceh untuk bertahan dari serangan kuffar Portugis dan Eropa lainnya, sekaligus kepemimpinan dari Iskandar Muda yang memang keras pada masa itu. Di sejarah dikatakan bahwa ia bisa membunuh para bangsawan yang sudah tidak lagi lebih memperhatikan rakyat Aceh, juga dengan militer yang amat kuat waktu itu untuk menjaga kewibawaan dari Sultan Iskandar Muda, sebuah sistem pemerintahan modern yang bersinergi antara Sipil dan Militer, sehingga keamanan dapat terjaga dengan baik.
Dilanjutkan pada masa penjajahan Belanda, kembali Aceh dalam pergolakkan ketika masa penjajahan Belanda, bahkan seorang Yusran Habib, orang Gayo sekaligus teman dekat Hasan Tiro menulis secara khusus tentang perjuangan dari Tengku Cik Di Tiro dan keluarganya. Pada masa-masa ini semua rakyat Aceh kembali tanpa sebuah kesultanan yang besar bersatu padu hanya dengan satu tujuan, perang suci, JIHAD, membunuh Kuffar Penjajah Belanda. Timbullah pemimpin-pemimpin lokal seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Aman Dimot, dsb.
Lantas sejarah berlanjut dengan masa transisi kemerdekaan NKRI, Aceh bersatu dengan NKRI melawan Belanda yang pada waktu itu tokohnya adalah Daud Beureuh, seorang tokoh agama yang mempunyai pemikiran agama yang dalam. Beliau lebih mendahulukan kepentingan agamanya dibandingkan dengan kekuasaan (lihat di www.blogspot.com dengan judul 'Perbedaan Hasan Tiro dan Daud Beureuh"), ketika dalam pemberontakkan yang dilakukannya lebih kepada memperjuangkan syariah Islam berdiri di Aceh, sehingga ia bergabung dengan daerah lain di Indonesia untuk membentuk NII. Dalam akhir perjuangannya ia mengumpulkan semua rakyat Aceh untuk kembali ke saudara seimannya NKRI, walau ia sadar banyak hal yang membuat ia kecewa dengan Soekarno pada waktu itu, hanya karena keimanan itulah ia bisa bersatu kembali. Hal yang baik adalah ketia ia mengumpulkan semua rakyat Aceh di Blang Padang untuk bermusyawarah mengambil keputusan tentang hubungan Aceh dengan RI, yang berujung berdamai dengan NKRI.
Sejarah kemudian dilanjutkan dengan pemberontakkan yang dilakukan Hasan Tiro, yang berawal dari penilaian beliau bahwa ada ketidakadilan dari Pemerintah NKRI dengan tidak mengikutsertakan rakyat Aceh dalam Proyek Arun, ia merasakan bahwa dengan hal seperti ini maka pelecehan kembali dari RI kepada rakyat Aceh. Padahal waktu itu ia merupakan salah satu kader NKRI ke depan dengan disekolahkan oleh uang negara, ia seorang Dubes dari NKRI. Selama puluhan tahun terjadi pemberontakkan dengan mengedepankan konsep perjuangan kebencian kepada satu suku (Indon – Jawa), ini yang selalu dikedepankan dalam perjuangan mereka, puluhan ribu orang telah meninggal dunia, ratusan ribu orang dalam tekanan, jutaan orang meneteskan air mata, puluhan juta orang terprovokasi atau tergugah atas nama perang yang menginginkan kemerdekaan tersebut. Sudah begitu banyak yang dilakukan cara untuk mendamaikan perang tersebut, sudah begitu banyak fasilitator yang mencoba menengahinya, yang akhirnya berujung kepada MoU Helsinky.
Perjanjian yang menurut Yusran Habib, draft finalnya baru dibaca oleh Hasan Tiro ketika akan ditandatangani. Perjanjian yang isinya lebih menguntungkan anggota GAM pada Bab tentang Reintegrasi anggota GAM, dimana setiap anggota GAM didahulukan untuk mendapatkan rumah, tanah dan materi lainnya selain membentuk KPA sebagai wadah untuk kepentingan-kepentingan tersebut yang dananya berasal dari BRR. Implikasinya dapat terlihat sekarang adalah bahwa setiap Panglima Sago sudah memiliki mobil mewah, rumah dan perkebunan, tapi bukan lebih mementingkan kepentingan rakyat Aceh. Belum lagi point-point lain yang bisa diprediksikan bahwa MoU ini selain hanya menguntungkan GAM juga berindikasikan akan memasukkan GAM ke dalam lubang kehancuran yang mau tidak mau dibangunnya sendiri, seperti indikasi GAM menuju kemerdekaan dengan KPA, Partai Lokal, Deklarasi Kemerdekaan (lihat di www.cossalabu.com dengan judul “Strategi GAM”). Ini hampir sama dengan kejadian pemberontakkan GAM yang ternyata mengakibatkan hampir tebunuhnya Tengku-tengku yang mempunyai wawasan ilmu yang luas karena dianggap memberontak melalui GAM. Ketidaksabaran-ketidaksabaran inilah yang seharusnya dipikirkan oleh petinggi GAM, karena ujungnya adalah kembali ketidakamanan bagi rakyat Aceh menjadi korban konflik kembali.
Penduduk Aceh (bisa dilihat www.cossalabu.blogspot.com dengan judul ”Filosofi Kata Aceh Masih Dipertanyakan”)
Setiap keluarga di Aceh sudah barang tentu tidak menginginkan terjadinya perang lagi, sudah cukup generasi penerus kita disuguhi oleh perang dan dendam, yang mengakibatkan generasi penerus Aceh semakin terpuruk, inilah yang dikatakan sebauh cara sistematis untuk membodohi rakyat Aceh secara sadar atau tidak sadar kita menuju kearah sana.
Semua orang tahu bahwa potensi rakyat Aceh luar biasa, saya sangat terprovokasi denga tulisan-tulisan Yusran habib Abdul Gani, ia yang begitu bangga menjadi seorang Aceh sekaligus bangga menjadi orang gayo. Aceh itu sesungguhnya sudah tidak ada lagi yang dikatakan sebagai suku asli (dari keling, Gujarat, Tamil, Ruum, Arab, Melayu, Jawa, Batak, Jamnee), perbedaannya hanyalah kepada budaya dan bahasa mereka serta populasi terbesar yang ada pada mereka. Yang mengatakan orang Aceh hanya karena ia panda berbahasa Aceh dan menggunakan adat Aceh dalam kesehariannya, yang mengaku gayo sesungguhnya mereka yang dominant berasal dari Melayu, juga hasil perpaduan berbagai suku saat ini yang menggunakan adat dan bahasa gayo, yang dari suku Jamnee karena ia berbahasa dan menggunakan bahasa Jamnee.
Namun apabila mereka dikatik-kaitkan tentunya sudah tidak ada lagi yang suku asli dari mereka, keberagaman Aceh inilah yang membuat kita menjadi semakin cerdas, dalam ilmu genetika semakin banyak perpaduan sebuah suku akan melahirkan manusia-manusia cerdas, ini pulalah yang membedakan pendudukan Aceh pada zaman Iskandar Muda dengan penduduk daerah Sumatera lainnya.
Namun demikian, karakteristik penduduk Aceh adalah begitu heterogen sehingga akan sulit untuk bisa menjadi satu saat ini, karena sifat mereka yang keras serta diantara mereka terlalu mengangkat nilai kesukuan mereka dengan terlalu tinggi. Bahkan perang yang terjadi sekarang ini telah terlalu berbekas kepada rakyat yang tidak mendukung GAM, sebagai contoh rakyat Gayo, Meulaboh dan Tapak Tuan, banyak dari mereka yang merasa menjadi korban dari TNI dan GAM, karena mereka lebih memilih untuk diam atau lebih memilih untuk tidak mengikuti GAM.
ALA dan ABBAS adalah SOLUSI
Hal yang membuat rakyat Aceh semakin terpecah belah adalah karena adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kita semua sudah mengetahi bahwa memang ada perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang dahulu, yang bisa mulai diindikasikan dari sejarah yang agak jelas pada zaman Iskandar Muda kemudian yang semakin pudar kejayaan Aceh. Kepemimpinan yang keras saja yang mampu membuat rakyat Aceh itu menjadi bersatu serta mengatasnamakan keimanan dan persaudaraan sesame muslim yang membuat bersatu rakyat Aceh.
Perseteruan-perseteruan itu sudah dapat dilihat dari permasalahan perbedaan bahasa, yang menggambarkan dengan jelas ada perbedaan antara Aceh dengan Gayo yang tidak bisa dimungkiri,begitu juga halnya Aceh dengan Jamnee, factor-faktor seperti ini jelas tidak bisa dianggap tidak ada, karena berpengaruh amat besar dalam kehidupan.
Ini semakin meruncing ketika GAM mencoba untuk merangkul semua rakyat Aceh untuk membantu mereka dalam memerdekakan diri, namun ternyata tidak mendapat dukungan seperti yang mereka harapkan. Ini terjadi karena konsep perjuangan mereka yang tidak bisa diterima oleh rakyat Aceh pada umumnya, mereka lebih mengedepankan permusuhan dengan Jawa – Indon. Seharusnya GAM sadar bahwa untuk lebih merangkul rakyat Aceh bukan dengan perjuangan yang diatasnamakan Jihad, bukan ketidapuasan saja, karena rakyat Aceh itu sudah terbiasa dengan konflik antar golongan atau tingkatan social dan mereka amat menikmatinya, tapi jika dengan Jihad mereka akan berusaha sampai dengan tetesan darah terakhir mereka.
Ketika GAM memaksakan kehendaknya maka yang terjadi adalah mereka lebih mementingkan golongan mereka, rakyat gayo lebih mementingkan keamanan pada daerah mereka dibandingkan harus ikut konflik yang menyengsarakan mereka, rakyat Jamnee amat kesal dengan limpahan orang-orang GAM ke daerah mereka padahal mereka tidak menyetujui perjuangan ini. Ketika ini semua terjadi maka semakin nyata-nyata korban konflik yang terjadi, di Gayo timbul milisi yang berasal dari Gayo dan Jawa untuk mempertahankan diri mereka dari GAM, tentunya berafiliasi dengan TNI, lantas mereka mengusulkan juga dengan pemekaran Provinsi ALA. Di Jamnee atau Barat Selatan mereka menyimpan api dalam sekam yang kemudia meletus dengan pengusulan adanya provinsi baru ABBAS.
Tidak Setuju Pemekaran
Alasan Pertama, Aceh adalah milik Gayo, jadi tidak ada alasan kalau kita memisahkan diri, jujur saja saya juga dulu berpendapat seperti ini, sampai-sampai ama, ine, pak cik dan pun-pun saya tentang dengan hujjah seperti ini. Saya teringat bahwa pernah mengatakan kepada Pun saya, dengan nada keras “Cik, enti anggap lemah urang Gayo ni, kite si empun tempat, hana kati kite mulepas daerah si kite kuasai. Sawah ku ujung langit pe muyang datun te gere perah ijin kin pemekaren ni.” Waktu itu sampai merinding saya mengatakannya, karena ketidaksukaan dengan isu pemekaran ini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir keras, kebetulan saya tinggal di Jakarta, bekerja di salah satu Departemen Pemerintah dengan anggaran yang paling tinggi saat ini. Saya juga sering mendampingi atasan saya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dan kebetulan ia senang mengunjungi daerah-daerah yang tertinggal. Saya pernah mengunjungi seluruh wilayah NTT dalam 2 kali kunjungan kerja, saya sangat miris bagaimana daerah kota di NTT lebih bagus dengan kecamatan yang ada di Jawa. Saya juga ke Papua, Kalimantan, Sulawesi dan banyak lagi, sepertinya hampir setiap provinsi di Indonesia saya pernah kunjungi.
Tiba-tiba kesombongan saya itu runtuh, saya baru sadar bahwa sekarang zaman sudah berbeda, sudah tidak ada lagi Raja Gayo yang kita banggakan sebagai penguasa Sumatera, saya seperti sadar baru menginjak bumi, sekarang ini adalah menghadapi kenyataan yang ada untuk memperbaikinya. Pola pikir saya langsung berubah, tiba-tiba saya sadar bahwa dengan daerah saya Gayo pun tidak lebih baik dari daerah-daerah yang saya kunjungi, utamanya kampong halaman saya.
Lantas saya teringat bahwa pada daerah-daerah pemekaran yang saya kunjungi, ternyata ada yang sedemikian maju seperti Banten dan Gorontalo, mereka begitu menggeliat dengan pembangunannya. Begitu juga dengan Bangka Belitung. Belum lagi pada beberapa Kabupaten/Kota seperti di NTT, terlihat bahwa Kabupate/Kota pemekaran tersebut selalu berusaha untuk menggeliat mencapai apa yang mereka perjuangkan dengan adanya pemekaran tersebut. Namun demikian saya juga menyadari ada beberapa daerah yang belum bisa dengan optimal melakukan pembangunan. Saya pun lantas mempelajari kenapa mereka berpisah, ternyata salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan kultur, bahkan diantara mereka juga berucap seperti yang Edi Kelana katakan. Seperti saya teringat orang Banten mengatakan bahwa sesungguhnya Jakarta itu dulunya ada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten, seharusnya mejadi milik Banten. Atau ketika orang Betawi berkata dengan sombongnya saya pemilik Jakarta, namun pada umumnya mereka amat tertinggal dari segala aspek kehidupan dibanding dengan orang pendatang ke Jakarta.
Inilah yang saya takutkan bila kita tidak segera melepaskan diri dari tekanan-tekanan, kebebasan kita untuk segera bangkit dan dapat membangun orang Gayo.
Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa pemekaran tidak harus sama dengan wilayah yang dipunyai karena perkembangan zaman, akan tetapi ada juga diakibatkan oleh ikatan-ikatan perbedaan kultur yang memang bila disatukan akan menjadi permasalahan. Kelemahan dari intelektual kita adalah mencoba mengignore ini semua, padahal ini berdampak kepada keamanan dan percepatan pembangunan yang dilakukan, atau dapat dikatakan ‘feel like home’. Allah saja tidak pernah mengatakan kita harus satu akan tetapi lebih untuk saling mengenal.
Saya juga tidak bisa salah bagi orang-orang yang tidak menganggap ini menjadi masalah, tapi seperti yang dituliskan Win Wan Nur bahwa memang kita sudah tertekan, kita merasa ada di rumah orang padahal ada dirumah sendiri, tragis bukan.
Kedua, Pimpinan Daerah, mereka beralasan bahwa pemekaran ini hanya kepentingan segelintir elit politik saja, mereka yang mau menjadi pejabat pada daerah pemekaran.
Untuk alasan yang satu ini saya hanya bisa tertawa, sekarang ini adalah zamannya PILKADA, siapapun yang mau jadi pimpinan silahkan pulang dan berlomba-lomba untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa jadi pemimpin. Bahkan ada sisi baiknya disini, Gubernur dan Wagub serta pejabat-pejabatnya adalah orang Gayo, atau yang mengaku orang Gayo atau yang bisa berbahasa Gayo atau yang berbudaya Gayo. Sudah barang tentu mereka akan lebih focus untuk membangun daerahnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan mengenai perebutan kekuasaan disana dari masing-masing suku, rasanya bukan masalah besar, karena kita menggunakan bahasa dan adat yang sama.
Ketiga, otonomi daerah, ada benarnya bahwa sekarang zaman otonomi daerah Pemerintah Kabupaten/Kota lebih berkuasa atau wewenang, tapi jangan lupakan juga kalau wewenang seorang Gubernur amat besar dalam menyalurkan dana Dekon serta menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Pusat. Saya tahu betul, saat ini dalam APBN kami dimarahi oleh DPR, mereka mengatakan sudah tidak diperbolehkan lagi mengalirka dana langsung ke Kabupaten/Kota, semuanya harus ke Provinsi terlebih dahulu. Ini semua akibat anggapan dari Pusat bahwa terlalu jauh tangan Pusat untuk bisa mengawasi Kabupaten/Kota, intinya adalah mencoba untuk membangun kembali kewibawaan dari Provinsi.
Nah, bila ini terjadi alangkah baiknya kalau orang Gayo punya Provinsi sendiri, selama ini jelas kita selalu ketinggalan dari berbagai kebijakan Pusat, bahkan untuk aliran dana saja daerah ALA selalu ketinggalan, ini juga tidak terlepas dari perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang kita dahulu. Kita harus ingat bahwa bila nenek muyang mereka membunuh atau menipu nenek muyang kita tentu aka nada pengaruhnya kepada kita.
Yang terpenting lagi adalah kita bisa mengelola SDA di Gayo yang banyak ini, keamanan di Gayo bukan karena GAM, tapi ada pada orang Gayo sendiri. Kalau GAM berontak lagi kita akan bisa mendongakkan kepala kita, kita punya tentara sendiri. Dan lagi perputaran uang akan lebih banyak di Provinsi ALA.
Keempat, minorities within minorities, hal ini tidak akan mungkin terjadi, rasanya orang Gayo sudah cukup teruji dengan hal ini, dengan karakter terbukanya sejak zaman Kerajaan Linge sampai saat ini. Rasanya tidak ada satu suku pun yang bisa seterbuka suku Gayo, mereka bisa beradptasi dengan Batak, Padang, Jawa, Bugis, China bahkan Aceh sekalipun, walau pun dengan Aceh memang tidak bisa sepenuhnya. Terlebih lagi karakteristik antara Gayo dan Aceh itu jauh berbeda. Karakteristik orang yang berasal dari Melayu tentu berbeda dengan orang yang berasal dari Tamil.
Saya yakin tidak akan terjadi kalau pemekaran ALA lantas semua orang Aceh kemudian dibunuh, seperti halnya GAM membunuh orang Jawa dan Gayo di Aceh Tengah, ada yang unik dari orang Gayo. Keislaman mereka selalu dinomorsatukan, malu mereka selalu dinomorsatukan. Ini pula yang menyebabkan ketika Daud Beureuh ia berjuang lama di dataran tinggi Gayo, karena ia membawa kalimat Laa Ilaha Illallah, ini juga yang menyebabkan perjuangan GAM tidak di dukung oleh orang Gayo, karena perjuangan mereka tidak karena kalimat itu, hanya karena ketidakpuasan pada awalnya.
Sebagai contoh, kita lihat bagaimana orang Gayo tidak pernah demo karena harga bensin naik, waktu DOM bahakan pokok langka, mereka semua tenang-tenang saja, inilah keunikkan Gayo yang saya juga agak heran sampai sekarang. Mereka lebih mementingkan perdamaian di Gayo, inilah yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gayo sekarang ini, daripada berafiliasi dengan GAM mereka memilih berafiliasi dengan TNI, mereka sadar dengan sifat dari orang Gayo, bukan seorang pemberontak yang bodoh. Tapi jika diajak dengan kalimat Syahadat, baru bisa dilihat bagaimana orang Gayo marahnya.
Untuk ketakutan kita terhadap suku Jawa yang menguasai daerah Gayo rasanya terlalu berlebih-lebihan, dan ini adalah amat berbahaya apabila dipermasalahkan hingga menimbulkan konflik horizontal. Karena rasanya sekarang ini banyak sudah perkawinan silang antara suku Gayo dan Jawa. Rasanya sudah terlambat atau adalah salah jika tema ini disebarluaskan, karena tidak aka nada artinya. Mereka sudah lama terikat dalam satu penderitaan ketika DOM, setiap aksi atau provokasi yang mencoba mengadudomba mereka hanya akan membuat ketidaknyamanan di Gayo, bahkan bisa jadi kemudian mereka mengatakan ini adalah aksi GAM yang tidak mau melihat Gayo aman dan damai.
Kemudian saya juga bisa katakan bahwa suku Jawa itu bukanlah sebuah suku yang suka melakukan kekerasan atau pemberontakkan seperti halnya suku Aceh, mereka relative lebih bisa tunduk dengan kebudayaan setempat, bila kita dapat memimpin atau memeberikan tempat kepada mereka mereka sepertinya akan menjadi teman yang baik, mereka punya loyalitas atau seperti Bang Win Wan Nur katakan ‘Feodal’. Sedangkan dengan Aceh, saya yakin kita akan selalu bertarung dalam hati kita dengam mereka, karena ini terjadi sejak nenek muyang kita.
Setuju Pemekaran
Alasan pertama, bisa mengangkat harkat, martabat dan marwah orang Gayo. Keyakinan mereka dengan lahirnya pemimpin-pemimpin Gayo yang berasal dari Gayo sudah barang tentu akan lebih memikirkan orang Gayo dengan lebih maksimal. Mereka mempunyai keyakinan bahwa siapapun Gubernurnya dengan segala macam kejelekkannya bila berasal dari Tanoh Gayo sudah barang tentu akan berpikir untuk orang Gayo, kasarnya untuk urangnya pasti dipikirkannya.
Yang lebih mereka pikirkan lagi adalah timbul-timbul pejabat yang berasal dari Gayo, dan sudah barang tentu ini akan membuat percepatan-percepatan SDM yang harus dilakukan. Seorang Gubernur Gayo tentunya harus mulai berpikir seperti seorang Gubernur mau tidak mau, ia harus mempersiapkan kapasitasnya sebagai seorang Gubernur, begitu juga dengan pejabat lainnya.
Anak cucu kita akan bangga dengan ini semua, bahkan mereka kemudian bercita-cita menggantikan senior-seniornya, ada peluang besar ke situ. Setiap orang akan bangga dengan Gayonya.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah kita bisa dengan lebih leluasa melakukan penelitian-penelitian tentang sejarah Gayo, dan mengaktualisasikannya sebagai eksistesi orang Gayo, bahkan memperkuat adat Gayo yang menjalankan syariat Islam sejak ratusan tahun lalu.
Sekali lagi untuk orang Jawa, saya akan memperlihatkan sebuah Provinsi Lampung yang notabene hampir 60% jawa, tetap Gubernur mereka orang Lampung asli, inilah salah satu keunikan orang Jawa.
Terlebih lagi suku Gayo adalah salah satu suku yang selalu berhasil perpaduan budaya dengan suku manapun, sebagai contoh di Aceh Barat dan Aceh Selatan bahasa padang tidak hilang dari kehidupan mereka, ini menandakan bahwa Aceh tidak pernah bisa memenangkan budaya mereka terhadap suku Jamnee. Lihat di Gayo, Aceh Tenggara yang merupakan perpaduan Aceh dan Padang, bahasa Padang hilang digantikan dengan bahasa Gayo.
Selain itu, sudah barang tentu pada awal-awal pemerintahan orang Gayo akan memimpin ALA selama beberapa generasi, kita dapat mempersiapkan mereka, generasi Gayo, dengan lebih baik lagi tentunya.
Terakhir, masa yang akan datang, bukan suku lagi yang dipikirkan orang tapi bagaimana semua menjadi sejahtera, Islam menjadi tujuan. SBY yang pernah ke Gayo mengatakan bahwa Gayo adalah Indonesia Mini di Indonesia, maka jadikan Gayo sebagai sebutan bagi orang-orang yang mengikuti adat Gayo dan berbahasa Gayo.
Kedua, percepatan pembangunan, ini kiranya sudah jelas, seperti yang saya jelaskan pada awal tadi, bahwa ke depan untuk otonomi daerah peran daerah tingkat I atau Provinsi akan diperkuat, yang bertujuan memperkuat nasionalisme sekaligus mempermudah untuk melakukan pengawasan terhadap Kabupaten/Kota yang ada pada regional mereka. Atau bahasa kerennya adalah memperpendek rentang kendali.
Mau tidak mau SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo. Yang saya herankan adalah ketika orang mengatakan bahwa orang Jawa akan membawa kekayaan Gayo ke Jawa, ini adalah sesuatu yang amat bodoh di era otonomi daerah.
Namun, hal itu bisa terjadi apabila Gayo terjadi konflik, kita jangan terprovokasi untuk hal ini. Salah satunya adalah dengan wacana Gayo Merdeka, ini amat berbahaya. Bila kita berkaca kepada Aceh, maka ada wacana bahwa GAM tersebut merupakan sebuah scenario untuk menghabiskan SDA Arun dengan mudah. Bayangkan, sejak Arun dimenangkan USA kemudian timbul pemberontakkan GAM yang sepertinya sama sekali tidak ada upaya yang serius untuk menggagalkan kekayaan alam tersebut di bawa ke USA, jelas sekali yang mendapatkan keuntungan besar dari proyek Arun adalah Exxon. Dalam pemikiran mudah kita, seharusnya target utama GAM adalah tidak berjalannya proyek Arun, kenyataannya sudah hampir habis SDAnya. Jadi adalah wajar ketika kita mengatakan bahwa ada main mata antara GAM, oknum TNI dan USA untuk menjadikan Aceh tidak aman sehingga bisa menggerus habis Arun sekaligus menghabiskan para Tengku yang berbahaya bagi Soeharto.
Begitu juga halnya bila Gayo Merdeka menjadi sebuah perjuangan, ini akan dianggap sebagai kaki tangan GAM. Salah satu tahapan dari Gerakan Gayo Merdeka (baca Kaki Tangan GAM) adalah dengan menjadikan konflik horizontal antara Gayo dan Jawa, dengan mengangkat kesukuan atau Chauvisme Gayo. Bayangkan ketidakamanan yang akan diderita orang Gayo dan tentunya orang Aceh (baca GAM) akan tertawa dengan riang, bahkan oknum TNI akan senang melihatnya, ada proyek penggerusan baru. Ini yang harus kita jaga.
Dengan ALA, semuanya akan menjadi lebih mudah, dengan ALA nasionalisme kita akan mendapatkan penghargaan dari NKRI, kesempatan membangun kita akan lebih besar, karena daerah Gayo terkenal sebagai daerah putih, atau daerah yang mendukung NKRI. Gayo akan aman dan anak cucu kita bisa menggapai cita-citanya.
Ketiga, keamanan, dengan ALA kita akan mempunyai teritori sendiri untuk mengamankan daerah kita, kita akan punya Kodam sendiri. Daerah konflik akan lebih mudah ditangani, GAM akan lebih mudah dibrangus. Rakyat Gayo sudah punya kepercayaan diri untuk menghancurkan GAM, mereka sudah punya kekuatan yang jelas dari TNI.
Bahkan dengan terbelahnya Aceh, maka yang bisa diprediksikan tidak ada lagi konsep Aceh Merdeka oleh GAM, semuanya gugur. Tidak perlu lagi rakyat Gayo menjadi korban dari PERANG BODOH selama puluhan tahun yang membuat rakyat Gayo menderita, terancam, terintimidasi, kekurangan pangan, sandang dan papan, kehilangan kepercayaan diri. Ini semua dapat kita hilangkan dengan pemekaran ini.
Tiga hal ini saja, maka dapat dipastikan Gayo sekarang akan berbeda dengan Gayo 10 tahun yang akan datang, kita akan lihat anak-anak kita menjadi seorang Profesor, kita akan lihat tenaga kerja yang baik, perkebunan yang aman, pendidikan yang maju, perekonomian yang bergerak.
Walau demikian pada 3 tahun pertama, merupakan masa-masa sulit, kita akan diuji dengan kemampuan kita untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah GAM yang pasti akan menggagalkan ini, karena Aceh Merdeka akan hilang dari muka bumi ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan kemampuan untuk menarik banyak investor, kemampuan untuk mencarikan formulasi yang terbaik sesuai dengan kondisi dataran tinggi Gayo yang tidak merusak alam dan menegakkan syariah Islam.
Kesimpulan
Kepada masyarakat Gayo, utamanya generasi mudanya mari kita berpikir luas dan tidak sempit, dengan ALA kita dapat membangun dengan cepat SDM dan mengelola SDA bagi SDM kita. Kita tidak akan lagi ketakutan dengan PERANG BODOH atau agenda-agenda Aceh Merdeka. Kita bisa membuktikan bahwa ALA bukan hanya mensejahterakan orang Gayo tapi segala suku yang ada di ALA dengan sebaik-baiknya, sebuah Indonesia Mini.
Kita tidak bisa mempercayakan nasib kita kepada GAM atau orang Aceh, kebencian mereka terhadap suku Jawa adalah luar biasa, bila ini kita biarkan maka sama saja kita bunuh diri menciptakan konflik pada daerah kita sendiri yang kemudian kita akan sesali.
Pemberontakkan tidak akan pernah menang sekarang ini, jangan samakan Aceh dengan Kosovo, Kosovo punya Rusia, itupun sulitnya bukan main. Siapa yang mau membela Aceh, Gayo saja tidak bisa mereka rangkul, tentu dunia internasional akan terus mempertanyakan hal ini.
Namun, kita bisa samakan Aceh dengan Tamil di Sri Lanka, dan ini memang nenek muyangnya.
Tapi kita tidak bisa samakan Aceh dengan Khasmir di India, Poso di Fhilipinna, Chencya di Rusia, Moro di Thailand, apalagi Hamas di Palestina. Mereka memperjuangkan nasionalisme dengan menghalalkan darah sesame muslim, sehingga hanya membuat murka di sisi Allah.
SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK DEKLARASI PEMEKARAN ALA DAN ABBAS, SEMOGA RAKYAT ACEH SEMAKIN MAJU KEDEPANNYA.
29 November 2008
Isu ALA di Konferensi Interpeace
Tanggal 19 November yang lalu, bertempat di Hotel Hermes Palace, saya mengikuti konferensi internasional yang diprakakarsai oleh Interpeace dan ASEM networks. Konferensi yang diberi tema "Locals, "Outsiders" and Conflict ini salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan
informasi baru dan analisa yang solid tentang bagaimana komunitas lokal dan komunitas pendatang mempengaruhi dinamika perdamaian dan konflik.
Berbeda dengan diskusi di acara peluncuran buku yang saya hadiri dua hari sebelumnya, dalam konferensi yang dihadiri oleh banyak ahli dari berbagai negara dengan membawa informasi dan pengalaman masing-masing dalam memetakan dan menangani konflik ini saya menemukan banyak informasi baru yang dapat digunakan untuk memetakan dan menemukan solusi yang tepat untuk menangani situasi perpolitikan Aceh saat ini.
Khusus untuk memahami permasalahan yang terjadi di kampung halaman saya berkaitan dengan isu ALA. Saya merasa sangat tertarik pada makalah dari dua pembicara dalam konferensi ini. Pertama makalah dari pembicara asal Aceh, Dr.Humam Hamid yang dan yang kedua adalah makalah dari pembicara asal Barcelona, Dr.Jordi Urgell.
Dalam makalahnya dia beri judul `Dynamics of Ethnic Relationships in Aceh' Dr.Humam mengatakan bahwa berkembangnya isu diskriminasi etnis di Aceh belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah dan masyarakat Aceh pesisir yang merupakan etnis dominan di provinsi ini yang kurang menghormati budaya etnis minoritas yang juga merupakan penduduk asli provinsi Aceh.
Makalah Dr.Humam ini menarik bagi saya karena ide-ide yang ditulis Dr.Humam dalam makalahnya banyak yang sejalan dengan pandangan saya selama ini. Misalnya dalam berbagai tulisan yang saya post di blog saya www.winwannur. blogspot. com dan www.gayocare. blogspot. com, saya selalu membedakan antara Aceh sebagai sebuah wilayah dan Aceh sebagai sebuah etnis. Aceh sebagai etnis adalah Orang Aceh yang tinggal di pesisir, sedangkan Aceh sebagai sebuah wilayah adalah Aceh yang dihuni oleh 9 macam etnis penduduk asli.
Seperti yang sering saya nyatakan dalam berbagai tulisan saya. Dalam makalahnya Dr.Humam juga menjelaskan hal yang sama. Sayangnya menurut Dr.Humam kenyataan ini tidak disadari atau pura-pura tidak disadari oleh etnis Aceh dan juga pemerintah Aceh yang didominasi oleh orang Aceh yang berasal dari etnis Aceh.
Dalam kultur yang plural seperti di Aceh ini idealnya etnis-etnis minoritas yang juga merupakan penghuni asli wilayah Aceh diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri baik secara politik, ekonomi maupun budaya.
Saya sangat setuju dengan pandangan Dr.Humam karena kenyataannya dominasi suku Aceh dalam setiap aspek kehidupan di provinsi ini memang sangat terasa. Bahkan dalam hal berkesenianpun. Ketika orang Aceh memperkenalkan kesenian Aceh ke dunia luar, baik dalam maupun luar negeri. Yang selalu ditonjolkan adalah kesenian Aceh pesisir.
Seolah-olah semua kesenian yang ada di Aceh ini hanyalah kesenian milik Aceh pesisir. Padahal kesenian etnis lain juga banyak yang tidak kalah menariknya. Misalnya dalam seni tari selain Seudati yang merupakan tari klasik Aceh pesisir dan berbagai tarian Aceh pesisir kreasi baru lainnya. Sebenarnya di Aceh ada banyak tarian klasik dari suku lain misalnya Saman Gayo, Tari Bines dan Tari Guel yang berasal
dari Gayo. Saya yakin ada banyak tarian asli Aceh lain milik suku Tamiang, Singkil, Kluet, Aneuk Jamee dan lain-lain, tapi semua jarang sekali ditampilkan sehingga orang luar hanya mengenal kesenian Aceh
hanyalah kesenian Aceh pesisir.
Orang Gayo yang merupakan etnis terbesar kedua di provinsi ini setelah ertnis Aceh seringkali merasa mereka direpresi oleh suku Aceh secara kultural. Banyak orang Gayo yang merasa eksistensi kultural mereka diabaikan oleh orang Aceh. Tapi di sisi lain orang Gayo melihat beberapa karya budaya mereka dibajak dan diakui sebagai karya budaya milik suku Aceh. Misalnya banyak seni tari Aceh kreasi baru sebenarnya adalah tarian modifikasi dari tarian klasik milik suku Gayo terutama tari Saman Gayo. Tapi oleh seniman yang menciptakannya tarian hasil modifikasi itu dinamai dengan berbagai nama khas Aceh pesisir tanpa sedikitpun menjelaskan bahwa tarian itu adalah hasil adaptasi dari tari Gayo klasik yang bernama tari Saman. Karena tidak ada penjelasan, para penonton yang menikmati tarian itu merasa seolah-olah bahwa tarian yang mereka saksikan dengan penuh kekaguman itu adalah tarian klasik Aceh pesisir. Ini sangat menyakitkan bagi orang Gayo.
Hal yang sama juga terjadi dengan karya seni bordir khas orang Gayo yang disebut Kerawang Gayo. Karya seni Kerawang Gayo ini adalah karya cipta kebanggaan orang Gayo. Motif-motif bordirannya yang khas dapat kita lihat dalam sertiap pakaian adat orang Gayo. Tapi ketika belakangan orang-orang Aceh pesisir mulai mempelajari teknik pembuatan kerawang dan mulai memproduksi kerajinan kerawang. Merekapun mulai memperkenalkannya karya seni ini sebagai Kerawang Aceh. Sama seperti dalam hal tarian dalam hal inipun orang Gayo yang minoritas merasa dirampok.
Kebetulan dalam konferensi ini panitia menghadirkan pertunjukan tarian Aceh sebagai selingan saat jeda menjelang coffee break pertama. Salah satu tari yang ditampilkan adalah tarian Aceh kreasi baru yang banyak menampilkan gerakan-gerakan Saman Gayo dalam koreografinya. Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, saat saya menanggapi pemaparan makalah Dr. Humam. Tarian yang ditampilkan ini langsung saya angkat sebagai salah satu contoh kurangnya penghormatan terhadap budaya minoritas.
Dalam forum yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara ini saya katakan bahwa tarian itu adalah salah satu bentuk pembajakan terhadap karya seni milik suku minoritas oleh suku mayoritas. Ketika menyebut kata pembajakan dalam forum ini saya menggunakan kata `hijack' bukan `piracy'. Kata ini saya pilih karena saya menganggap kata `hijack' lebih tepat untuk menggambarkan kasarnya aktivitas pembajakan cultural yang dilakukan oleh suku Aceh terhadap karya seni orang Gayo ini.
Pernyataan saya itu sepenuhnya diamini oleh Dr.Humam. Beliau sama sekali tidak menampik apa yang saya paparkan, malah beliau menambahkan kalau selama ini memang banyak hambatan kultural dan dominasi etnis Aceh pesisir yang membuat etnis-etnis minoritas di provinsi ini merasa asing di tanah mereka sendiri.
Setelah hal itu saya ungkapkan di forum ini, banyak peserta konferensi dari luar negeri yang mendekati saya untuk menanyakan lebih jauh tentang tari Saman Gayo yang gerakan-gerakannya dibajak oleh tari Aceh yang kami saksikan tadi dan dengan senang hati saya jelaskan. Sayangnya tidak semua konferensi internasional tentang Aceh atau pertunjukan seni Aceh dihadiri oleh orang Gayo.
Perasaan-perasan negatif yang dirasakan oleh etnis minoritas seperti ini, jika terus dibiarkan terjadi di provinsi yang pernah lama berada dalam situasi konflik ini tidak bisa tidak, pasti akan menghadirkan
konflik baru antara mayoritas dengan minoritas. Bibit-bibit konflik ini sudah mulai disemai dengan cara mengeksploitir isu dominasi suku Aceh atas suku Gayo oleh orang-orang yang menamakan dirinya pejuang ALA.
Sebenarnya situasi seperti yang kita alami di Aceh sekarang ini adalah situasi yang jamak terjadi di wilayah dunia manapun yang pernah mengalami konflik vertikal.
Dr.Jordi Urgell dari School for a Culture of Peace, Autonomous University of Barcelona yang juga menjadi pembicara dalam konferensi yang saya hadiri ini. Dalam makalahnya yang dia beri judul `Minorities Within Minorities in South East Asia', mengatakan bahwa dalam banyak konflik antara pusat yang mayoritas dengan daerah yang merupakan minoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak dari konflik itu terjadi disebabkan oleh cara pemerintah sebuah negara yang memperlakukan kelompok minoritas dengan cara pikir dan pola perlakuan ala kelompok mayoritas di negara tersebut.
Tapi ketika konflik terselesaikan dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas secara nasional. Hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang
merupakan minoritas secara lokal (minorities within minorities).
Konflik sering terjadi karena kelompok yang merupakan minoritas secaranasional yang kini menjadi mayoritas secara lokal melalui kekuasaan yang lebih besar yang baru mereka dapatkan memperlakukan minorities within minorities ini seperti mereka dulu diperlakukan oleh kelompok mayoritas nasional sehingga minorities within minorities merasa terancam eksistensinya.
Perlakuan ini misalnya bisa dilihat dari sikap Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh di depan publik yang sering tidak menunjukkan rasa hormat kepada suku-suku Aceh minoritas. Sikap itu mereka tunjukkan dengan perilaku berbahasa mereka yang hanya mau berbahasa Aceh kepada orang Aceh mana saja yang menjadi lawan bicara mereka, tidak peduli asal-usul sukunya.
Situasi seperti ini seringkali membuat minorities within minorities merasa lebih terjamin eksistensinya ketika kelompok yang minoritas secara nasional ini masih dalam posisi minoritas.
Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
www.gayocare. blogspot. Com
Bravo bang Win Wan Nur..
Kusewahen rasa salutku ken pemikiran ni abang....
saya sangat tertarik dengan penuturan Bang Nur, ini fakta yang sudah terjadi sejak dulu, kenapa saya katakan sejak dulu, saya menggunakan ukuran ketika perihal relasi antara suku aceh dan gayo kepada kakek - kakek dan nenek-nenek yang ada di Tanoh Gayo, mengatakan bahwa dari dulu kita memang tidak pernah cocok dengan Urang Aceh, saya pikir argumentasi para pendahulu kita dulu ada benarnya juga, hal ini terlihat dari peminggirin suku Gayo dari seluruh aspek kehidupan di Aceh mulai dari Pendidikan, pemerintahan sampai kepada budaya pun mereka dengan percaya diri hadir sebagai plagiator seni dan sebagai penguasa tunggal daerah, terkesan bahwa selain suku aceh adalah pendatang (hal ini juga kami dengar langsung dari Alm. Prof Dr. Abdullah Ibrahim (sejarawan UGM) yang notabene suku Aceh), ini sama saja memutarbalikkan fakta yang mengatakan bahwa SUKU PENDALAMAN merupakan suku asli suatu daerah. saya pikir kasusnya sama dengan apa yang terjadi di lampung yang jadi korban adalah masyarakat lampung tengah, juga seperti betawi.
fakta ini kemudian dijadikan oleh orang - orang ALA untuk "menyakinkan" masyarakat gayo untuk melakukan pemisahan dengan NAD, pun pada perjalanan "perjuangan" mereka tidak begitu mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat Gayo.
Akar masalahnya sebenarnya adalah ketidakadilan dan penindasan dari segala aspek yang dilakukan oleh suku mayoritas (aceh) terhadap 8 suku minoritas yang ada di Aceh. pertanyaannya kemudian apakah ada jaminan ketika ALA terbentuk suku minoritas bisa serta merta merubah keadaan menjadi lebih baik? sulit bagi saya untuk mengatakan YA.
Sebenarnya ketika kita sudah mengetahui akar masalahnya kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan marwah gayo di luar Aceh bahkan Internasional, tapi sejujurnya saya juga belum menemukan formula yang pas untuk bangkit dari ketertindasan suku mayoritas dalam hal ini aceh. nah untuk itu saya ingin menggali pemikiran bang win wan nur, karena abang seperti yang saya kutip dibawah ini pernyataan abang tentang penyelesaian masalahnyapun tidak bisa lepas dari bingkai ini
Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang
terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within
minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.
karena kami yang selama ini ada di Tanoh Gayo merasakan betapa, kerawang, saman telah mengoyak hati kami, ketika kami berada di yogyapun dalam kurun waktu 1995-2006 , yang ditonjolkan selalu saman dengan diberi embel-embel inong jadi nama tarian SAMAN INONG dari ACEH. belum lagi kebijakan yang diskriminatif, atas nama Gayo nomor dua saja, terlebih saat ini ada kerawang aceh seperti yang dikatakan oleh bang win wan nur, tambahan dari saya, ukiran kerawang aceh sering pula menghiasi gedung-gedung sebagai ornamen gedung untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa ini lho ciri khas aceh, padahal itu jelas-jelas gayo PUWE. jadi seolah-olah seperti gedung-gedung pemerintahan yang ada di sumatra barat.
berejen bang atas penjelasanne, mokot di nge kite tertindas wan segala aspek kehidupan, cume kurasa pisah rum NAD nume jeweben cerdas,, tolong bang, mungkin ara formula si lebih elegan, berejen atas penjelesanne. .
regards,,
edhie gayo
Ulasan Kosasih Bakar:
Sebelum Bang Win Wan Nur membalas ini, perkenankan saya memberikan beberapa masukan.
Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan Bang Win Wan Nur:
Pertama, Bang Win Wan Nur mengakui adanya ketidakadilan terhadap suku Gayo yang diberlakukan oleh orang Aceh Pesisir (demikian sebuatan Bang Win Wan Nur), baik dari segi pemerintahan maupun kebudayaan juga sejarah, hal yang paling membuat terlihat usaha itu adalah ketika penggantian nama Kute Reje menjadi Banda Aceh.
Kedua, kemudian permasalahan ‘minorities within minorities’ atau Bang Win Wan Nur menjelaskannya dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas mak hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang merupakan minoritas secara lokal.
Kemudian tambahan dari Edi Kelana yang mencoba untuk mengangkat sukuisme dari Gayo, dengan mengatakan bahwa Gayo adalah pemilik dari Aceh.
Sebenarnya saya masih menunggu tulisan dari Bang Win Wan Nur selanjutnya, karena sudah menjadi kebiasaan dari Beliau dalam setiap penulisannya untuk menyetujui segala hal yang saat ini menjadi permasalahan, namun kemudian Beliau dengan elegan mencoba mempertahankan apa yang selama ini menjadi keyakinannya, untuk tidak setuju dengan pemekaran ALA. Dan hal ini sudah diindikasikan oleh Bang Win Wan Nur dalam akhir tulisannya yang kemudian dicoba diperjelas oleh Edhi.
Baiklah, untuk kesimpulan pertama saya sepenuhnya setuju dengan Win Wan Nur, begitu juga dengan alasan Edi Kelana, amat setuju.
Untuk kesimpulan ke dua, saya hanya bisa berucap setuju juga dengan Win Wan Nur, saya juga mengerti jika Win Wan Nur mengajak kita untuk berpikir bahwa dengan Gayo pisah, maka Jawa juga akan meminta pisah nantinya, atau sering saya katakana sebagai lingkaran setan.
Sebelum saya lanjutkan, sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang menyebabkan banyak dari kaum intelektual Gayo tidak setuju dengan pemekaran, ini merupakan hasil catatan saya ketika mengikuti teleconference dengan muda-mudi Gayo.
Tidak Setuju Pemekaran
Alasan Pertama, Aceh adalah milik Gayo, jadi tidak ada alasan kalau kita memisahkan diri, jujur saja saya juga dulu berpendapat seperti ini, sampai-sampai ama, ine, pak cik dan pun-pun saya tentang dengan hujjah seperti ini. Saya teringat bahwa pernah mengatakan kepada Pun saya, dengan nada keras “Cik, enti anggap lemah urang Gayo ni, kite si empun tempat, hana kati kite mulepas daerah si kite kuasai. Sawah ku ujung langit pe muyang datun te gere perah ijin kin pemekaren ni.” Waktu itu sampai merinding saya mengatakannya, karena ketidaksukaan dengan isu pemekaran ini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir keras, kebetulan saya tinggal di Jakarta, bekerja di salah satu Departemen Pemerintah dengan anggaran yang paling tinggi saat ini. Saya juga sering mendampingi atasan saya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dan kebetulan ia senang mengunjungi daerah-daerah yang tertinggal. Saya pernah mengunjungi seluruh wilayah NTT dalam 2 kali kunjungan kerja, saya sangat miris bagaimana daerah kota di NTT lebih bagus dengan kecamatan yang ada di Jawa. Saya juga ke Papua, Kalimantan, Sulawesi dan banyak lagi, sepertinya hampir setiap provinsi di Indonesia saya pernah kunjungi.
Tiba-tiba kesombongan saya itu runtuh, saya baru sadar bahwa sekarang zaman sudah berbeda, sudah tidak ada lagi Raja Gayo yang kita banggakan sebagai penguasa Sumatera, saya seperti sadar baru menginjak bumi, sekarang ini adalah menghadapi kenyataan yang ada untuk memperbaikinya. Pola pikir saya langsung berubah, tiba-tiba saya sadar bahwa dengan daerah saya Gayo pun tidak lebih baik dari daerah-daerah yang saya kunjungi, utamanya kampong halaman saya.
Lantas saya teringat bahwa pada daerah-daerah pemekaran yang saya kunjungi, ternyata ada yang sedemikian maju seperti Banten dan Gorontalo, mereka begitu menggeliat dengan pembangunannya. Begitu juga dengan Bangka Belitung. Belum lagi pada beberapa Kabupaten/Kota seperti di NTT, terlihat bahwa Kabupate/Kota pemekaran tersebut selalu berusaha untuk menggeliat mencapai apa yang mereka perjuangkan dengan adanya pemekaran tersebut. Namun demikian saya juga menyadari ada beberapa daerah yang belum bisa dengan optimal melakukan pembangunan. Saya pun lantas mempelajari kenapa mereka berpisah, ternyata salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan kultur, bahkan diantara mereka juga berucap seperti yang Edi Kelana katakan. Seperti saya teringat orang Banten mengatakan bahwa sesungguhnya Jakarta itu dulunya ada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten, seharusnya mejadi milik Banten. Atau ketika orang Betawi berkata dengan sombongnya saya pemilik Jakarta, namun pada umumnya mereka amat tertinggal dari segala aspek kehidupan dibanding dengan orang pendatang ke Jakarta.
Inilah yang saya takutkan bila kita tidak segera melepaskan diri dari tekanan-tekanan, kebebasan kita untuk segera bangkit dan dapat membangun orang Gayo.
Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa pemekaran tidak harus sama dengan wilayah yang dipunyai karena perkembangan zaman, akan tetapi ada juga diakibatkan oleh ikatan-ikatan perbedaan kultur yang memang bila disatukan akan menjadi permasalahan. Kelemahan dari intelektual kita adalah mencoba mengignore ini semua, padahal ini berdampak kepada keamanan dan percepatan pembangunan yang dilakukan, atau dapat dikatakan ‘feel like home’. Allah saja tidak pernah mengatakan kita harus satu akan tetapi lebih untuk saling mengenal.
Saya juga tidak bisa salah bagi orang-orang yang tidak menganggap ini menjadi masalah, tapi seperti yang dituliskan Win Wan Nur bahwa memang kita sudah tertekan, kita merasa ada di rumah orang padahal ada dirumah sendiri, tragis bukan.
Kedua, Pimpinan Daerah, mereka beralasan bahwa pemekaran ini hanya kepentingan segelintir elit politik saja, mereka yang mau menjadi pejabat pada daerah pemekaran.
Untuk alasan yang satu ini saya hanya bisa tertawa, sekarang ini adalah zamannya PILKADA, siapapun yang mau jadi pimpinan silahkan pulang dan berlomba-lomba untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa jadi pemimpin. Bahkan ada sisi baiknya disini, Gubernur dan Wagub serta pejabat-pejabatnya adalah orang Gayo, atau yang mengaku orang Gayo atau yang bisa berbahasa Gayo atau yang berbudaya Gayo. Sudah barang tentu mereka akan lebih focus untuk membangun daerahnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan mengenai perebutan kekuasaan disana dari masing-masing suku, rasanya bukan masalah besar, karena kita menggunakan bahasa dan adat yang sama.
Ketiga, otonomis daerah, ada benarnya bahwa sekarang zaman otonomi daerah Pemerintah Kabupaten/Kota lebih berkuasa atau wewenang, tapi jangan lupakan juga kalau wewenang seorang Gubernur amat besar dalam menyalurkan dana Dekon serta menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Pusat. Saya tahu betul, saat ini dalam APBN kami dimarahi oleh DPR, mereka mengatakan sudah tidak diperbolehkan lagi mengalirka dana langsung ke Kabupaten/Kota, semuanya harus ke Provinsi terlebih dahulu. Ini semua akibat anggapan dari Pusat bahwa terlalu jauh tangan Pusat untuk bisa mengawasi Kabupaten/Kota, intinya adalah mencoba untuk membangun kembali kewibawaan dari Provinsi.
Nah, bila ini terjadi alangkah baiknya kalau orang Gayo punya Provinsi sendiri, selama ini jelas kita selalu ketinggalan dari berbagai kebijakan Pusat, bahkan untuk aliran dana saja daerah ALA selalu ketinggalan, ini juga tidak terlepas dari perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang kita dahulu. Kita harus ingat bahwa bila nenek muyang mereka membunuh atau menipu nenek muyang kita tentu aka nada pengaruhnya kepada kita.
Yang terpenting lagi adalah kita bisa mengelola SDA di Gayo yang banyak ini, keamanan di Gayo bukan karena GAM, tapi ada pada orang Gayo sendiri. Kalau GAM berontak lagi kita akan bisa mendongakkan kepala kita, kita punya tentara sendiri. Dan lagi perputaran uang akan lebih banyak di Provinsi ALA.
Keempat, minorities within minorities, hal ini tidak akan mungkin terjadi, rasanya orang Gayo sudah cukup teruji dengan hal ini, dengan karakter terbukanya sejak zaman Kerajaan Linge sampai saat ini. Rasanya tidak ada satu suku pun yang bisa seterbuka suku Gayo, mereka bisa beradptasi dengan Batak, Padang, Jawa, Bugis, China bahkan Aceh sekalipun, walau pun dengan Aceh memang tidak bisa sepenuhnya. Terlebih lagi karakteristik antara Gayo dan Aceh itu jauh berbeda. Karakteristik orang yang berasal dari Melayu tentu berbeda dengan orang yang berasal dari Tamil.
Saya yakin tidak akan terjadi kalau pemekaran ALA lantas semua orang Aceh kemudian dibunuh, seperti halnya GAM membunuh orang Jawa dan Gayo di Aceh Tengah, ada yang unik dari orang Gayo. Keislaman mereka selalu dinomorsatukan, malu mereka selalu dinomorsatukan. Ini pula yang menyebabkan ketika Daud Beureuh ia berjuang lama di dataran tinggi Gayo, karena ia membawa kalimat Laa Ilaha Illallah, ini juga yang menyebabkan perjuangan GAM tidak di dukung oleh orang Gayo, karena perjuangan mereka tidak karena kalimat itu, hanya karena ketidakpuasan pada awalnya.
Sebagai contoh, kita lihat bagaimana orang Gayo tidak pernah demo karena harga bensin naik, waktu DOM bahakan pokok langka, mereka semua tenang-tenang saja, inilah keunikkan Gayo yang saya juga agak heran sampai sekarang. Mereka lebih mementingkan perdamaian di Gayo, inilah yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gayo sekarang ini, daripada berafiliasi dengan GAM mereka memilih berafiliasi dengan TNI, mereka sadar dengan sifat dari orang Gayo, bukan seorang pemberontak yang bodoh. Tapi jika diajak dengan kalimat Syahadat, baru bisa dilihat bagaimana orang Gayo marahnya.
Untuk ketakutan kita terhadap suku Jawa yang menguasai daerah Gayo rasanya terlalu berlebih-lebihan, dan ini adalah amat berbahaya apabila dipermasalahkan hingga menimbulkan konflik horizontal. Karena rasanya sekarang ini banyak sudah perkawinan silang antara suku Gayo dan Jawa. Rasanya sudah terlambat atau adalah salah jika tema ini disebarluaskan, karena tidak aka nada artinya. Mereka sudah lama terikat dalam satu penderitaan ketika DOM, setiap aksi atau provokasi yang mencoba mengadudomba mereka hanya akan membuat ketidaknyamanan di Gayo, bahkan bisa jadi kemudian mereka mengatakan ini adalah aksi GAM yang tidak mau melihat Gayo aman dan damai.
Kemudian saya juga bisa katakan bahwa suku Jawa itu bukanlah sebuah suku yang suka melakukan kekerasan atau pemberontakkan seperti halnya suku Aceh, mereka relative lebih bisa tunduk dengan kebudayaan setempat, bila kita dapat memimpin atau memeberikan tempat kepada mereka mereka sepertinya akan menjadi teman yang baik, mereka punya loyalitas atau seperti Bang Win Wan Nur katakan ‘Feodal’. Sedangkan dengan Aceh, saya yakin kita akan selalu bertarung dalam hati kita dengam mereka, karena ini terjadi sejak nenek muyang kita.
Setuju Pemekaran
Alasan pertama, bisa mengangkat harkat, martabat dan marwah orang Gayo. Keyakinan mereka dengan lahirnya pemimpin-pemimpin Gayo yang berasal dari Gayo sudah barang tentu akan lebih memikirkan orang Gayo dengan lebih maksimal. Mereka mempunyai keyakinan bahwa siapapun Gubernurnya dengan segala macam kejelekkannya bila berasal dari Tanoh Gayo sudah barang tentu akan berpikir untuk orang Gayo, kasarnya untuk urangnya pasti dipikirkannya.
Yang lebih mereka pikirkan lagi adalah timbul-timbul pejabat yang berasal dari Gayo, dan sudah barang tentu ini akan membuat percepatan-percepatan SDM yang harus dilakukan. Seorang Gubernur Gayo tentunya harus mulai berpikir seperti seorang Gubernur mau tidak mau, ia harus mempersiapkan kapasitasnya sebagai seorang Gubernur, begitu juga dengan pejabat lainnya.
Anak cucu kita akan bangga dengan ini semua, bahkan mereka kemudian bercita-cita menggantikan senior-seniornya, ada peluang besar ke situ. Setiap orang akan bangga dengan Gayonya.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah kita bisa dengan lebih leluasa melakukan penelitian-penelitian tentang sejarah Gayo, dan mengaktualisasikannya sebagai eksistesi orang Gayo, bahkan memperkuat adat Gayo yang menjalankan syariat Islam sejak ratusan tahun lalu.
Sekali lagi untuk orang Jawa, saya akan memperlihatkan sebuah Provinsi Lampung yang notabene hampir 60% jawa, tetap Gubernur mereka orang Lampung asli, inilah salah satu keunikan orang Jawa.
Terlebih lagi suku Gayo adalah salah satu suku yang selalu berhasil perpaduan budaya dengan suku manapun, sebagai contoh di Aceh Barat dan Aceh Selatan bahasa padang tidak hilang dari kehidupan mereka, ini menandakan bahwa Aceh tidak pernah bisa memenangkan budaya mereka terhadap suku Jamnee. Lihat di Gayo, Aceh Tenggara yang merupakan perpaduan Aceh dan Padang, bahasa Padang hilang digantikan dengan bahasa Gayo.
Selain itu, sudah barang tentu pada awal-awal pemerintahan orang Gayo akan memimpin ALA selama beberapa generasi, kita dapat mempersiapkan mereka, generasi Gayo, dengan lebih baik lagi tentunya.
Terakhir, masa yang akan datang, bukan suku lagi yang dipikirkan orang tapi bagaimana semua menjadi sejahtera, Islam menjadi tujuan. SBY yang pernah ke Gayo mengatakan bahwa Gayo adalah Indonesia Mini di Indonesia, maka jadikan Gayo sebagai sebutan bagi orang-orang yang mengikuti adat Gayo dan berbahasa Gayo.
Kedua, percepatan pembangunan, ini kiranya sudah jelas, seperti yang saya jelaskan pada awal tadi, bahwa ke depan untuk otonomi daerah peran daerah tingkat I atau Provinsi akan diperkuat, yang bertujuan memperkuat nasionalisme sekaligus mempermudah untuk melakukan pengawasan terhadap Kabupaten/Kota yang ada pada regional mereka. Atau bahasa kerennya adalah memperpendek rentang kendali.
Mau tidak mau SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo. Yang saya herankan adalah ketika orang mengatakan bahwa orang Jawa akan membawa kekayaan Gayo ke Jawa, ini adalah sesuatu yang amat bodoh di era otonomi daerah.
Namun, hal itu bisa terjadi apabila Gayo terjadi konflik, kita jangan terprovokasi untuk hal ini. Salah satunya adalah dengan wacana Gayo Merdeka, ini amat berbahaya. Bila kita berkaca kepada Aceh, maka ada wacana bahwa GAM tersebut merupakan sebuah scenario untuk menghabiskan SDA Arun dengan mudah. Bayangkan, sejak Arun dimenangkan USA kemudian timbul pemberontakkan GAM yang sepertinya sama sekali tidak ada upaya yang serius untuk menggagalkan kekayaan alam tersebut di bawa ke USA, jelas sekali yang mendapatkan keuntungan besar dari proyek Arun adalah Exxon. Dalam pemikiran mudah kita, seharusnya target utama GAM adalah tidak berjalannya proyek Arun, kenyataannya sudah hampir habis SDAnya. Jadi adalah wajar ketika kita mengatakan bahwa ada main mata antara GAM, oknum TNI dan USA untuk menjadikan Aceh tidak aman sehingga bisa menggerus habis Arun sekaligus menghabiskan para Tengku yang berbahaya bagi Soeharto.
Begitu juga halnya bila Gayo Merdeka menjadi sebuah perjuangan, ini akan dianggap sebagai kaki tangan GAM. Salah satu tahapan dari Gerakan Gayo Merdeka (baca Kaki Tangan GAM) adalah dengan menjadikan konflik horizontal antara Gayo dan Jawa, dengan mengangkat kesukuan atau Chauvisme Gayo. Bayangkan ketidakamanan yang akan diderita orang Gayo dan tentunya orang Aceh (baca GAM) akan tertawa dengan riang, bahkan oknum TNI akan senang melihatnya, ada proyek penggerusan baru. Ini yang harus kita jaga.
Dengan ALA, semuanya akan menjadi lebih mudah, dengan ALA nasionalisme kita akan mendapatkan penghargaan dari NKRI, kesempatan membangun kita akan lebih besar, karena daerah Gayo terkenal sebagai daerah putih, atau daerah yang mendukung NKRI. Gayo akan aman dan anak cucu kita bisa menggapai cita-citanya.
Ketiga, keamanan, dengan ALA kita akan mempunyai teritori sendiri untuk mengamankan daerah kita, kita akan punya Kodam sendiri. Daerah konflik akan lebih mudah ditangani, GAM akan lebih mudah dibrangus. Rakyat Gayo sudah punya kepercayaan diri untuk menghancurkan GAM, mereka sudah punya kekuatan yang jelas dari TNI.
Bahkan dengan terbelahnya Aceh, maka yang bisa diprediksikan tidak ada lagi konsep Aceh Merdeka oleh GAM, semuanya gugur. Tidak perlu lagi rakyat Gayo menjadi korban dari PERANG BODOH selama puluhan tahun yang membuat rakyat Gayo menderita, terancam, terintimidasi, kekurangan pangan, sandang dan papan, kehilangan kepercayaan diri. Ini semua dapat kita hilangkan dengan pemekaran ini.
Tiga hal ini saja, maka dapat dipastikan Gayo sekarang akan berbeda dengan Gayo 10 tahun yang akan datang, kita akan lihat anak-anak kita menjadi seorang Profesor, kita akan lihat tenaga kerja yang baik, perkebunan yang aman, pendidikan yang maju, perekonomian yang bergerak.
Walau demikian pada 3 tahun pertama, merupakan masa-masa sulit, kita akan diuji dengan kemampuan kita untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah GAM yang pasti akan menggagalkan ini, karena Aceh Merdeka akan hilang dari muka bumi ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan kemampuan untuk menarik banyak investor, kemampuan untuk mencarikan formulasi yang terbaik sesuai dengan kondisi dataran tinggi Gayo yang tidak merusak alam dan menegakkan syariah Islam.
Kesimpulan
Kepada masyarakat Gayo, utamanya generasi mudanya mari kita berpikir luas dan tidak sempit, dengan ALA kita dapat membangun dengan cepat SDM dan mengelola SDA bagi SDM kita. Kita tidak akan lagi ketakutan dengan PERANG BODOH atau agenda-agenda Aceh Merdeka. Kita bisa membuktikan bahwa ALA bukan hanya mensejahterakan orang Gayo tapi segala suku yang ada di ALA dengan sebaik-baiknya, sebuah Indonesia Mini.
Kita tidak bisa mempercayakan nasib kita kepada GAM atau orang Aceh, kebencian mereka terhadap suku Jawa adalah luar biasa, bila ini kita biarkan maka sama saja kita bunuh diri menciptakan konflik pada daerah kita sendiri yang kemudian kita akan sesali.
Pemberontakkan tidak akan pernah menang sekarang ini, jangan samakan Aceh dengan Kosovo, Kosovo punya Rusia, itupun sulitnya bukan main. Siapa yang mau membela Aceh, Gayo saja tidak bisa mereka rangkul, tentu dunia internasional akan terus mempertanyakan hal ini.
Namun, kita bisa samakan Aceh dengan Tamil di Sri Lanka, dan ini memang nenek muyangnya.
Tapi kita tidak bisa samakan Aceh dengan Khasmir di India, Poso di Fhilipinna, Chencya di Rusia, Moro di Thailand, apalagi Hamas di Palestina. Mereka memperjuangkan nasionalisme dengan menghalalkan darah sesame muslim, sehingga hanya membuat murka di sisi Allah.
Berijin.
informasi baru dan analisa yang solid tentang bagaimana komunitas lokal dan komunitas pendatang mempengaruhi dinamika perdamaian dan konflik.
Berbeda dengan diskusi di acara peluncuran buku yang saya hadiri dua hari sebelumnya, dalam konferensi yang dihadiri oleh banyak ahli dari berbagai negara dengan membawa informasi dan pengalaman masing-masing dalam memetakan dan menangani konflik ini saya menemukan banyak informasi baru yang dapat digunakan untuk memetakan dan menemukan solusi yang tepat untuk menangani situasi perpolitikan Aceh saat ini.
Khusus untuk memahami permasalahan yang terjadi di kampung halaman saya berkaitan dengan isu ALA. Saya merasa sangat tertarik pada makalah dari dua pembicara dalam konferensi ini. Pertama makalah dari pembicara asal Aceh, Dr.Humam Hamid yang dan yang kedua adalah makalah dari pembicara asal Barcelona, Dr.Jordi Urgell.
Dalam makalahnya dia beri judul `Dynamics of Ethnic Relationships in Aceh' Dr.Humam mengatakan bahwa berkembangnya isu diskriminasi etnis di Aceh belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah dan masyarakat Aceh pesisir yang merupakan etnis dominan di provinsi ini yang kurang menghormati budaya etnis minoritas yang juga merupakan penduduk asli provinsi Aceh.
Makalah Dr.Humam ini menarik bagi saya karena ide-ide yang ditulis Dr.Humam dalam makalahnya banyak yang sejalan dengan pandangan saya selama ini. Misalnya dalam berbagai tulisan yang saya post di blog saya www.winwannur. blogspot. com dan www.gayocare. blogspot. com, saya selalu membedakan antara Aceh sebagai sebuah wilayah dan Aceh sebagai sebuah etnis. Aceh sebagai etnis adalah Orang Aceh yang tinggal di pesisir, sedangkan Aceh sebagai sebuah wilayah adalah Aceh yang dihuni oleh 9 macam etnis penduduk asli.
Seperti yang sering saya nyatakan dalam berbagai tulisan saya. Dalam makalahnya Dr.Humam juga menjelaskan hal yang sama. Sayangnya menurut Dr.Humam kenyataan ini tidak disadari atau pura-pura tidak disadari oleh etnis Aceh dan juga pemerintah Aceh yang didominasi oleh orang Aceh yang berasal dari etnis Aceh.
Dalam kultur yang plural seperti di Aceh ini idealnya etnis-etnis minoritas yang juga merupakan penghuni asli wilayah Aceh diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan diri baik secara politik, ekonomi maupun budaya.
Saya sangat setuju dengan pandangan Dr.Humam karena kenyataannya dominasi suku Aceh dalam setiap aspek kehidupan di provinsi ini memang sangat terasa. Bahkan dalam hal berkesenianpun. Ketika orang Aceh memperkenalkan kesenian Aceh ke dunia luar, baik dalam maupun luar negeri. Yang selalu ditonjolkan adalah kesenian Aceh pesisir.
Seolah-olah semua kesenian yang ada di Aceh ini hanyalah kesenian milik Aceh pesisir. Padahal kesenian etnis lain juga banyak yang tidak kalah menariknya. Misalnya dalam seni tari selain Seudati yang merupakan tari klasik Aceh pesisir dan berbagai tarian Aceh pesisir kreasi baru lainnya. Sebenarnya di Aceh ada banyak tarian klasik dari suku lain misalnya Saman Gayo, Tari Bines dan Tari Guel yang berasal
dari Gayo. Saya yakin ada banyak tarian asli Aceh lain milik suku Tamiang, Singkil, Kluet, Aneuk Jamee dan lain-lain, tapi semua jarang sekali ditampilkan sehingga orang luar hanya mengenal kesenian Aceh
hanyalah kesenian Aceh pesisir.
Orang Gayo yang merupakan etnis terbesar kedua di provinsi ini setelah ertnis Aceh seringkali merasa mereka direpresi oleh suku Aceh secara kultural. Banyak orang Gayo yang merasa eksistensi kultural mereka diabaikan oleh orang Aceh. Tapi di sisi lain orang Gayo melihat beberapa karya budaya mereka dibajak dan diakui sebagai karya budaya milik suku Aceh. Misalnya banyak seni tari Aceh kreasi baru sebenarnya adalah tarian modifikasi dari tarian klasik milik suku Gayo terutama tari Saman Gayo. Tapi oleh seniman yang menciptakannya tarian hasil modifikasi itu dinamai dengan berbagai nama khas Aceh pesisir tanpa sedikitpun menjelaskan bahwa tarian itu adalah hasil adaptasi dari tari Gayo klasik yang bernama tari Saman. Karena tidak ada penjelasan, para penonton yang menikmati tarian itu merasa seolah-olah bahwa tarian yang mereka saksikan dengan penuh kekaguman itu adalah tarian klasik Aceh pesisir. Ini sangat menyakitkan bagi orang Gayo.
Hal yang sama juga terjadi dengan karya seni bordir khas orang Gayo yang disebut Kerawang Gayo. Karya seni Kerawang Gayo ini adalah karya cipta kebanggaan orang Gayo. Motif-motif bordirannya yang khas dapat kita lihat dalam sertiap pakaian adat orang Gayo. Tapi ketika belakangan orang-orang Aceh pesisir mulai mempelajari teknik pembuatan kerawang dan mulai memproduksi kerajinan kerawang. Merekapun mulai memperkenalkannya karya seni ini sebagai Kerawang Aceh. Sama seperti dalam hal tarian dalam hal inipun orang Gayo yang minoritas merasa dirampok.
Kebetulan dalam konferensi ini panitia menghadirkan pertunjukan tarian Aceh sebagai selingan saat jeda menjelang coffee break pertama. Salah satu tari yang ditampilkan adalah tarian Aceh kreasi baru yang banyak menampilkan gerakan-gerakan Saman Gayo dalam koreografinya. Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, saat saya menanggapi pemaparan makalah Dr. Humam. Tarian yang ditampilkan ini langsung saya angkat sebagai salah satu contoh kurangnya penghormatan terhadap budaya minoritas.
Dalam forum yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara ini saya katakan bahwa tarian itu adalah salah satu bentuk pembajakan terhadap karya seni milik suku minoritas oleh suku mayoritas. Ketika menyebut kata pembajakan dalam forum ini saya menggunakan kata `hijack' bukan `piracy'. Kata ini saya pilih karena saya menganggap kata `hijack' lebih tepat untuk menggambarkan kasarnya aktivitas pembajakan cultural yang dilakukan oleh suku Aceh terhadap karya seni orang Gayo ini.
Pernyataan saya itu sepenuhnya diamini oleh Dr.Humam. Beliau sama sekali tidak menampik apa yang saya paparkan, malah beliau menambahkan kalau selama ini memang banyak hambatan kultural dan dominasi etnis Aceh pesisir yang membuat etnis-etnis minoritas di provinsi ini merasa asing di tanah mereka sendiri.
Setelah hal itu saya ungkapkan di forum ini, banyak peserta konferensi dari luar negeri yang mendekati saya untuk menanyakan lebih jauh tentang tari Saman Gayo yang gerakan-gerakannya dibajak oleh tari Aceh yang kami saksikan tadi dan dengan senang hati saya jelaskan. Sayangnya tidak semua konferensi internasional tentang Aceh atau pertunjukan seni Aceh dihadiri oleh orang Gayo.
Perasaan-perasan negatif yang dirasakan oleh etnis minoritas seperti ini, jika terus dibiarkan terjadi di provinsi yang pernah lama berada dalam situasi konflik ini tidak bisa tidak, pasti akan menghadirkan
konflik baru antara mayoritas dengan minoritas. Bibit-bibit konflik ini sudah mulai disemai dengan cara mengeksploitir isu dominasi suku Aceh atas suku Gayo oleh orang-orang yang menamakan dirinya pejuang ALA.
Sebenarnya situasi seperti yang kita alami di Aceh sekarang ini adalah situasi yang jamak terjadi di wilayah dunia manapun yang pernah mengalami konflik vertikal.
Dr.Jordi Urgell dari School for a Culture of Peace, Autonomous University of Barcelona yang juga menjadi pembicara dalam konferensi yang saya hadiri ini. Dalam makalahnya yang dia beri judul `Minorities Within Minorities in South East Asia', mengatakan bahwa dalam banyak konflik antara pusat yang mayoritas dengan daerah yang merupakan minoritas yang terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak dari konflik itu terjadi disebabkan oleh cara pemerintah sebuah negara yang memperlakukan kelompok minoritas dengan cara pikir dan pola perlakuan ala kelompok mayoritas di negara tersebut.
Tapi ketika konflik terselesaikan dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas secara nasional. Hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang
merupakan minoritas secara lokal (minorities within minorities).
Konflik sering terjadi karena kelompok yang merupakan minoritas secaranasional yang kini menjadi mayoritas secara lokal melalui kekuasaan yang lebih besar yang baru mereka dapatkan memperlakukan minorities within minorities ini seperti mereka dulu diperlakukan oleh kelompok mayoritas nasional sehingga minorities within minorities merasa terancam eksistensinya.
Perlakuan ini misalnya bisa dilihat dari sikap Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh di depan publik yang sering tidak menunjukkan rasa hormat kepada suku-suku Aceh minoritas. Sikap itu mereka tunjukkan dengan perilaku berbahasa mereka yang hanya mau berbahasa Aceh kepada orang Aceh mana saja yang menjadi lawan bicara mereka, tidak peduli asal-usul sukunya.
Situasi seperti ini seringkali membuat minorities within minorities merasa lebih terjamin eksistensinya ketika kelompok yang minoritas secara nasional ini masih dalam posisi minoritas.
Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.
Wassalam
Win Wan Nur
Ketua Forum Pemuda Peduli Gayo
www.gayocare. blogspot. Com
Bravo bang Win Wan Nur..
Kusewahen rasa salutku ken pemikiran ni abang....
saya sangat tertarik dengan penuturan Bang Nur, ini fakta yang sudah terjadi sejak dulu, kenapa saya katakan sejak dulu, saya menggunakan ukuran ketika perihal relasi antara suku aceh dan gayo kepada kakek - kakek dan nenek-nenek yang ada di Tanoh Gayo, mengatakan bahwa dari dulu kita memang tidak pernah cocok dengan Urang Aceh, saya pikir argumentasi para pendahulu kita dulu ada benarnya juga, hal ini terlihat dari peminggirin suku Gayo dari seluruh aspek kehidupan di Aceh mulai dari Pendidikan, pemerintahan sampai kepada budaya pun mereka dengan percaya diri hadir sebagai plagiator seni dan sebagai penguasa tunggal daerah, terkesan bahwa selain suku aceh adalah pendatang (hal ini juga kami dengar langsung dari Alm. Prof Dr. Abdullah Ibrahim (sejarawan UGM) yang notabene suku Aceh), ini sama saja memutarbalikkan fakta yang mengatakan bahwa SUKU PENDALAMAN merupakan suku asli suatu daerah. saya pikir kasusnya sama dengan apa yang terjadi di lampung yang jadi korban adalah masyarakat lampung tengah, juga seperti betawi.
fakta ini kemudian dijadikan oleh orang - orang ALA untuk "menyakinkan" masyarakat gayo untuk melakukan pemisahan dengan NAD, pun pada perjalanan "perjuangan" mereka tidak begitu mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat Gayo.
Akar masalahnya sebenarnya adalah ketidakadilan dan penindasan dari segala aspek yang dilakukan oleh suku mayoritas (aceh) terhadap 8 suku minoritas yang ada di Aceh. pertanyaannya kemudian apakah ada jaminan ketika ALA terbentuk suku minoritas bisa serta merta merubah keadaan menjadi lebih baik? sulit bagi saya untuk mengatakan YA.
Sebenarnya ketika kita sudah mengetahui akar masalahnya kita bisa melakukan sesuatu untuk mewujudkan marwah gayo di luar Aceh bahkan Internasional, tapi sejujurnya saya juga belum menemukan formula yang pas untuk bangkit dari ketertindasan suku mayoritas dalam hal ini aceh. nah untuk itu saya ingin menggali pemikiran bang win wan nur, karena abang seperti yang saya kutip dibawah ini pernyataan abang tentang penyelesaian masalahnyapun tidak bisa lepas dari bingkai ini
Fenomena inilah yang terjadi di Aceh sekarang, jadi isu ALA yang
terjadi sekarangpun harus kita lihat dari kacamata minorities within
minorities ini dan penyelesaian masalahnyapun tidak bisa kita lepaskan
dari bingkai ini.
karena kami yang selama ini ada di Tanoh Gayo merasakan betapa, kerawang, saman telah mengoyak hati kami, ketika kami berada di yogyapun dalam kurun waktu 1995-2006 , yang ditonjolkan selalu saman dengan diberi embel-embel inong jadi nama tarian SAMAN INONG dari ACEH. belum lagi kebijakan yang diskriminatif, atas nama Gayo nomor dua saja, terlebih saat ini ada kerawang aceh seperti yang dikatakan oleh bang win wan nur, tambahan dari saya, ukiran kerawang aceh sering pula menghiasi gedung-gedung sebagai ornamen gedung untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa ini lho ciri khas aceh, padahal itu jelas-jelas gayo PUWE. jadi seolah-olah seperti gedung-gedung pemerintahan yang ada di sumatra barat.
berejen bang atas penjelasanne, mokot di nge kite tertindas wan segala aspek kehidupan, cume kurasa pisah rum NAD nume jeweben cerdas,, tolong bang, mungkin ara formula si lebih elegan, berejen atas penjelesanne. .
regards,,
edhie gayo
Ulasan Kosasih Bakar:
Sebelum Bang Win Wan Nur membalas ini, perkenankan saya memberikan beberapa masukan.
Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan Bang Win Wan Nur:
Pertama, Bang Win Wan Nur mengakui adanya ketidakadilan terhadap suku Gayo yang diberlakukan oleh orang Aceh Pesisir (demikian sebuatan Bang Win Wan Nur), baik dari segi pemerintahan maupun kebudayaan juga sejarah, hal yang paling membuat terlihat usaha itu adalah ketika penggantian nama Kute Reje menjadi Banda Aceh.
Kedua, kemudian permasalahan ‘minorities within minorities’ atau Bang Win Wan Nur menjelaskannya dengan memberi keleluasaan dan kekuasaan yang lebih besar kepada kelompok yang minoritas mak hal ini seringkali dirasa sebagai ancaman oleh kelompok yang merupakan minoritas secara lokal.
Kemudian tambahan dari Edi Kelana yang mencoba untuk mengangkat sukuisme dari Gayo, dengan mengatakan bahwa Gayo adalah pemilik dari Aceh.
Sebenarnya saya masih menunggu tulisan dari Bang Win Wan Nur selanjutnya, karena sudah menjadi kebiasaan dari Beliau dalam setiap penulisannya untuk menyetujui segala hal yang saat ini menjadi permasalahan, namun kemudian Beliau dengan elegan mencoba mempertahankan apa yang selama ini menjadi keyakinannya, untuk tidak setuju dengan pemekaran ALA. Dan hal ini sudah diindikasikan oleh Bang Win Wan Nur dalam akhir tulisannya yang kemudian dicoba diperjelas oleh Edhi.
Baiklah, untuk kesimpulan pertama saya sepenuhnya setuju dengan Win Wan Nur, begitu juga dengan alasan Edi Kelana, amat setuju.
Untuk kesimpulan ke dua, saya hanya bisa berucap setuju juga dengan Win Wan Nur, saya juga mengerti jika Win Wan Nur mengajak kita untuk berpikir bahwa dengan Gayo pisah, maka Jawa juga akan meminta pisah nantinya, atau sering saya katakana sebagai lingkaran setan.
Sebelum saya lanjutkan, sebelumnya saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang menyebabkan banyak dari kaum intelektual Gayo tidak setuju dengan pemekaran, ini merupakan hasil catatan saya ketika mengikuti teleconference dengan muda-mudi Gayo.
Tidak Setuju Pemekaran
Alasan Pertama, Aceh adalah milik Gayo, jadi tidak ada alasan kalau kita memisahkan diri, jujur saja saya juga dulu berpendapat seperti ini, sampai-sampai ama, ine, pak cik dan pun-pun saya tentang dengan hujjah seperti ini. Saya teringat bahwa pernah mengatakan kepada Pun saya, dengan nada keras “Cik, enti anggap lemah urang Gayo ni, kite si empun tempat, hana kati kite mulepas daerah si kite kuasai. Sawah ku ujung langit pe muyang datun te gere perah ijin kin pemekaren ni.” Waktu itu sampai merinding saya mengatakannya, karena ketidaksukaan dengan isu pemekaran ini.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya berpikir keras, kebetulan saya tinggal di Jakarta, bekerja di salah satu Departemen Pemerintah dengan anggaran yang paling tinggi saat ini. Saya juga sering mendampingi atasan saya melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dan kebetulan ia senang mengunjungi daerah-daerah yang tertinggal. Saya pernah mengunjungi seluruh wilayah NTT dalam 2 kali kunjungan kerja, saya sangat miris bagaimana daerah kota di NTT lebih bagus dengan kecamatan yang ada di Jawa. Saya juga ke Papua, Kalimantan, Sulawesi dan banyak lagi, sepertinya hampir setiap provinsi di Indonesia saya pernah kunjungi.
Tiba-tiba kesombongan saya itu runtuh, saya baru sadar bahwa sekarang zaman sudah berbeda, sudah tidak ada lagi Raja Gayo yang kita banggakan sebagai penguasa Sumatera, saya seperti sadar baru menginjak bumi, sekarang ini adalah menghadapi kenyataan yang ada untuk memperbaikinya. Pola pikir saya langsung berubah, tiba-tiba saya sadar bahwa dengan daerah saya Gayo pun tidak lebih baik dari daerah-daerah yang saya kunjungi, utamanya kampong halaman saya.
Lantas saya teringat bahwa pada daerah-daerah pemekaran yang saya kunjungi, ternyata ada yang sedemikian maju seperti Banten dan Gorontalo, mereka begitu menggeliat dengan pembangunannya. Begitu juga dengan Bangka Belitung. Belum lagi pada beberapa Kabupaten/Kota seperti di NTT, terlihat bahwa Kabupate/Kota pemekaran tersebut selalu berusaha untuk menggeliat mencapai apa yang mereka perjuangkan dengan adanya pemekaran tersebut. Namun demikian saya juga menyadari ada beberapa daerah yang belum bisa dengan optimal melakukan pembangunan. Saya pun lantas mempelajari kenapa mereka berpisah, ternyata salah satunya adalah karena perbedaan budaya dan kultur, bahkan diantara mereka juga berucap seperti yang Edi Kelana katakan. Seperti saya teringat orang Banten mengatakan bahwa sesungguhnya Jakarta itu dulunya ada di bawah kekuasaan Kerajaan Banten, seharusnya mejadi milik Banten. Atau ketika orang Betawi berkata dengan sombongnya saya pemilik Jakarta, namun pada umumnya mereka amat tertinggal dari segala aspek kehidupan dibanding dengan orang pendatang ke Jakarta.
Inilah yang saya takutkan bila kita tidak segera melepaskan diri dari tekanan-tekanan, kebebasan kita untuk segera bangkit dan dapat membangun orang Gayo.
Lantas saya mengambil kesimpulan bahwa pemekaran tidak harus sama dengan wilayah yang dipunyai karena perkembangan zaman, akan tetapi ada juga diakibatkan oleh ikatan-ikatan perbedaan kultur yang memang bila disatukan akan menjadi permasalahan. Kelemahan dari intelektual kita adalah mencoba mengignore ini semua, padahal ini berdampak kepada keamanan dan percepatan pembangunan yang dilakukan, atau dapat dikatakan ‘feel like home’. Allah saja tidak pernah mengatakan kita harus satu akan tetapi lebih untuk saling mengenal.
Saya juga tidak bisa salah bagi orang-orang yang tidak menganggap ini menjadi masalah, tapi seperti yang dituliskan Win Wan Nur bahwa memang kita sudah tertekan, kita merasa ada di rumah orang padahal ada dirumah sendiri, tragis bukan.
Kedua, Pimpinan Daerah, mereka beralasan bahwa pemekaran ini hanya kepentingan segelintir elit politik saja, mereka yang mau menjadi pejabat pada daerah pemekaran.
Untuk alasan yang satu ini saya hanya bisa tertawa, sekarang ini adalah zamannya PILKADA, siapapun yang mau jadi pimpinan silahkan pulang dan berlomba-lomba untuk meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa jadi pemimpin. Bahkan ada sisi baiknya disini, Gubernur dan Wagub serta pejabat-pejabatnya adalah orang Gayo, atau yang mengaku orang Gayo atau yang bisa berbahasa Gayo atau yang berbudaya Gayo. Sudah barang tentu mereka akan lebih focus untuk membangun daerahnya sendiri dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan mengenai perebutan kekuasaan disana dari masing-masing suku, rasanya bukan masalah besar, karena kita menggunakan bahasa dan adat yang sama.
Ketiga, otonomis daerah, ada benarnya bahwa sekarang zaman otonomi daerah Pemerintah Kabupaten/Kota lebih berkuasa atau wewenang, tapi jangan lupakan juga kalau wewenang seorang Gubernur amat besar dalam menyalurkan dana Dekon serta menyampaikan kebijakan-kebijakan dari Pusat. Saya tahu betul, saat ini dalam APBN kami dimarahi oleh DPR, mereka mengatakan sudah tidak diperbolehkan lagi mengalirka dana langsung ke Kabupaten/Kota, semuanya harus ke Provinsi terlebih dahulu. Ini semua akibat anggapan dari Pusat bahwa terlalu jauh tangan Pusat untuk bisa mengawasi Kabupaten/Kota, intinya adalah mencoba untuk membangun kembali kewibawaan dari Provinsi.
Nah, bila ini terjadi alangkah baiknya kalau orang Gayo punya Provinsi sendiri, selama ini jelas kita selalu ketinggalan dari berbagai kebijakan Pusat, bahkan untuk aliran dana saja daerah ALA selalu ketinggalan, ini juga tidak terlepas dari perseteruan tradisional sejak zaman nenek muyang kita dahulu. Kita harus ingat bahwa bila nenek muyang mereka membunuh atau menipu nenek muyang kita tentu aka nada pengaruhnya kepada kita.
Yang terpenting lagi adalah kita bisa mengelola SDA di Gayo yang banyak ini, keamanan di Gayo bukan karena GAM, tapi ada pada orang Gayo sendiri. Kalau GAM berontak lagi kita akan bisa mendongakkan kepala kita, kita punya tentara sendiri. Dan lagi perputaran uang akan lebih banyak di Provinsi ALA.
Keempat, minorities within minorities, hal ini tidak akan mungkin terjadi, rasanya orang Gayo sudah cukup teruji dengan hal ini, dengan karakter terbukanya sejak zaman Kerajaan Linge sampai saat ini. Rasanya tidak ada satu suku pun yang bisa seterbuka suku Gayo, mereka bisa beradptasi dengan Batak, Padang, Jawa, Bugis, China bahkan Aceh sekalipun, walau pun dengan Aceh memang tidak bisa sepenuhnya. Terlebih lagi karakteristik antara Gayo dan Aceh itu jauh berbeda. Karakteristik orang yang berasal dari Melayu tentu berbeda dengan orang yang berasal dari Tamil.
Saya yakin tidak akan terjadi kalau pemekaran ALA lantas semua orang Aceh kemudian dibunuh, seperti halnya GAM membunuh orang Jawa dan Gayo di Aceh Tengah, ada yang unik dari orang Gayo. Keislaman mereka selalu dinomorsatukan, malu mereka selalu dinomorsatukan. Ini pula yang menyebabkan ketika Daud Beureuh ia berjuang lama di dataran tinggi Gayo, karena ia membawa kalimat Laa Ilaha Illallah, ini juga yang menyebabkan perjuangan GAM tidak di dukung oleh orang Gayo, karena perjuangan mereka tidak karena kalimat itu, hanya karena ketidakpuasan pada awalnya.
Sebagai contoh, kita lihat bagaimana orang Gayo tidak pernah demo karena harga bensin naik, waktu DOM bahakan pokok langka, mereka semua tenang-tenang saja, inilah keunikkan Gayo yang saya juga agak heran sampai sekarang. Mereka lebih mementingkan perdamaian di Gayo, inilah yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Gayo sekarang ini, daripada berafiliasi dengan GAM mereka memilih berafiliasi dengan TNI, mereka sadar dengan sifat dari orang Gayo, bukan seorang pemberontak yang bodoh. Tapi jika diajak dengan kalimat Syahadat, baru bisa dilihat bagaimana orang Gayo marahnya.
Untuk ketakutan kita terhadap suku Jawa yang menguasai daerah Gayo rasanya terlalu berlebih-lebihan, dan ini adalah amat berbahaya apabila dipermasalahkan hingga menimbulkan konflik horizontal. Karena rasanya sekarang ini banyak sudah perkawinan silang antara suku Gayo dan Jawa. Rasanya sudah terlambat atau adalah salah jika tema ini disebarluaskan, karena tidak aka nada artinya. Mereka sudah lama terikat dalam satu penderitaan ketika DOM, setiap aksi atau provokasi yang mencoba mengadudomba mereka hanya akan membuat ketidaknyamanan di Gayo, bahkan bisa jadi kemudian mereka mengatakan ini adalah aksi GAM yang tidak mau melihat Gayo aman dan damai.
Kemudian saya juga bisa katakan bahwa suku Jawa itu bukanlah sebuah suku yang suka melakukan kekerasan atau pemberontakkan seperti halnya suku Aceh, mereka relative lebih bisa tunduk dengan kebudayaan setempat, bila kita dapat memimpin atau memeberikan tempat kepada mereka mereka sepertinya akan menjadi teman yang baik, mereka punya loyalitas atau seperti Bang Win Wan Nur katakan ‘Feodal’. Sedangkan dengan Aceh, saya yakin kita akan selalu bertarung dalam hati kita dengam mereka, karena ini terjadi sejak nenek muyang kita.
Setuju Pemekaran
Alasan pertama, bisa mengangkat harkat, martabat dan marwah orang Gayo. Keyakinan mereka dengan lahirnya pemimpin-pemimpin Gayo yang berasal dari Gayo sudah barang tentu akan lebih memikirkan orang Gayo dengan lebih maksimal. Mereka mempunyai keyakinan bahwa siapapun Gubernurnya dengan segala macam kejelekkannya bila berasal dari Tanoh Gayo sudah barang tentu akan berpikir untuk orang Gayo, kasarnya untuk urangnya pasti dipikirkannya.
Yang lebih mereka pikirkan lagi adalah timbul-timbul pejabat yang berasal dari Gayo, dan sudah barang tentu ini akan membuat percepatan-percepatan SDM yang harus dilakukan. Seorang Gubernur Gayo tentunya harus mulai berpikir seperti seorang Gubernur mau tidak mau, ia harus mempersiapkan kapasitasnya sebagai seorang Gubernur, begitu juga dengan pejabat lainnya.
Anak cucu kita akan bangga dengan ini semua, bahkan mereka kemudian bercita-cita menggantikan senior-seniornya, ada peluang besar ke situ. Setiap orang akan bangga dengan Gayonya.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah kita bisa dengan lebih leluasa melakukan penelitian-penelitian tentang sejarah Gayo, dan mengaktualisasikannya sebagai eksistesi orang Gayo, bahkan memperkuat adat Gayo yang menjalankan syariat Islam sejak ratusan tahun lalu.
Sekali lagi untuk orang Jawa, saya akan memperlihatkan sebuah Provinsi Lampung yang notabene hampir 60% jawa, tetap Gubernur mereka orang Lampung asli, inilah salah satu keunikan orang Jawa.
Terlebih lagi suku Gayo adalah salah satu suku yang selalu berhasil perpaduan budaya dengan suku manapun, sebagai contoh di Aceh Barat dan Aceh Selatan bahasa padang tidak hilang dari kehidupan mereka, ini menandakan bahwa Aceh tidak pernah bisa memenangkan budaya mereka terhadap suku Jamnee. Lihat di Gayo, Aceh Tenggara yang merupakan perpaduan Aceh dan Padang, bahasa Padang hilang digantikan dengan bahasa Gayo.
Selain itu, sudah barang tentu pada awal-awal pemerintahan orang Gayo akan memimpin ALA selama beberapa generasi, kita dapat mempersiapkan mereka, generasi Gayo, dengan lebih baik lagi tentunya.
Terakhir, masa yang akan datang, bukan suku lagi yang dipikirkan orang tapi bagaimana semua menjadi sejahtera, Islam menjadi tujuan. SBY yang pernah ke Gayo mengatakan bahwa Gayo adalah Indonesia Mini di Indonesia, maka jadikan Gayo sebagai sebutan bagi orang-orang yang mengikuti adat Gayo dan berbahasa Gayo.
Kedua, percepatan pembangunan, ini kiranya sudah jelas, seperti yang saya jelaskan pada awal tadi, bahwa ke depan untuk otonomi daerah peran daerah tingkat I atau Provinsi akan diperkuat, yang bertujuan memperkuat nasionalisme sekaligus mempermudah untuk melakukan pengawasan terhadap Kabupaten/Kota yang ada pada regional mereka. Atau bahasa kerennya adalah memperpendek rentang kendali.
Mau tidak mau SDM Gayo akan maju, baik dengan cara transfer knowledge dengan pihak luar, memperkuat pendidikan, membangun budaya lokal. Yang terpenting adalah SDA dataran tinggi Gayo bisa dikelola penuh oleh orang Gayo dan dipergunakan untuk kemashalatan orang Gayo. Yang saya herankan adalah ketika orang mengatakan bahwa orang Jawa akan membawa kekayaan Gayo ke Jawa, ini adalah sesuatu yang amat bodoh di era otonomi daerah.
Namun, hal itu bisa terjadi apabila Gayo terjadi konflik, kita jangan terprovokasi untuk hal ini. Salah satunya adalah dengan wacana Gayo Merdeka, ini amat berbahaya. Bila kita berkaca kepada Aceh, maka ada wacana bahwa GAM tersebut merupakan sebuah scenario untuk menghabiskan SDA Arun dengan mudah. Bayangkan, sejak Arun dimenangkan USA kemudian timbul pemberontakkan GAM yang sepertinya sama sekali tidak ada upaya yang serius untuk menggagalkan kekayaan alam tersebut di bawa ke USA, jelas sekali yang mendapatkan keuntungan besar dari proyek Arun adalah Exxon. Dalam pemikiran mudah kita, seharusnya target utama GAM adalah tidak berjalannya proyek Arun, kenyataannya sudah hampir habis SDAnya. Jadi adalah wajar ketika kita mengatakan bahwa ada main mata antara GAM, oknum TNI dan USA untuk menjadikan Aceh tidak aman sehingga bisa menggerus habis Arun sekaligus menghabiskan para Tengku yang berbahaya bagi Soeharto.
Begitu juga halnya bila Gayo Merdeka menjadi sebuah perjuangan, ini akan dianggap sebagai kaki tangan GAM. Salah satu tahapan dari Gerakan Gayo Merdeka (baca Kaki Tangan GAM) adalah dengan menjadikan konflik horizontal antara Gayo dan Jawa, dengan mengangkat kesukuan atau Chauvisme Gayo. Bayangkan ketidakamanan yang akan diderita orang Gayo dan tentunya orang Aceh (baca GAM) akan tertawa dengan riang, bahkan oknum TNI akan senang melihatnya, ada proyek penggerusan baru. Ini yang harus kita jaga.
Dengan ALA, semuanya akan menjadi lebih mudah, dengan ALA nasionalisme kita akan mendapatkan penghargaan dari NKRI, kesempatan membangun kita akan lebih besar, karena daerah Gayo terkenal sebagai daerah putih, atau daerah yang mendukung NKRI. Gayo akan aman dan anak cucu kita bisa menggapai cita-citanya.
Ketiga, keamanan, dengan ALA kita akan mempunyai teritori sendiri untuk mengamankan daerah kita, kita akan punya Kodam sendiri. Daerah konflik akan lebih mudah ditangani, GAM akan lebih mudah dibrangus. Rakyat Gayo sudah punya kepercayaan diri untuk menghancurkan GAM, mereka sudah punya kekuatan yang jelas dari TNI.
Bahkan dengan terbelahnya Aceh, maka yang bisa diprediksikan tidak ada lagi konsep Aceh Merdeka oleh GAM, semuanya gugur. Tidak perlu lagi rakyat Gayo menjadi korban dari PERANG BODOH selama puluhan tahun yang membuat rakyat Gayo menderita, terancam, terintimidasi, kekurangan pangan, sandang dan papan, kehilangan kepercayaan diri. Ini semua dapat kita hilangkan dengan pemekaran ini.
Tiga hal ini saja, maka dapat dipastikan Gayo sekarang akan berbeda dengan Gayo 10 tahun yang akan datang, kita akan lihat anak-anak kita menjadi seorang Profesor, kita akan lihat tenaga kerja yang baik, perkebunan yang aman, pendidikan yang maju, perekonomian yang bergerak.
Walau demikian pada 3 tahun pertama, merupakan masa-masa sulit, kita akan diuji dengan kemampuan kita untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah GAM yang pasti akan menggagalkan ini, karena Aceh Merdeka akan hilang dari muka bumi ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan kemampuan untuk menarik banyak investor, kemampuan untuk mencarikan formulasi yang terbaik sesuai dengan kondisi dataran tinggi Gayo yang tidak merusak alam dan menegakkan syariah Islam.
Kesimpulan
Kepada masyarakat Gayo, utamanya generasi mudanya mari kita berpikir luas dan tidak sempit, dengan ALA kita dapat membangun dengan cepat SDM dan mengelola SDA bagi SDM kita. Kita tidak akan lagi ketakutan dengan PERANG BODOH atau agenda-agenda Aceh Merdeka. Kita bisa membuktikan bahwa ALA bukan hanya mensejahterakan orang Gayo tapi segala suku yang ada di ALA dengan sebaik-baiknya, sebuah Indonesia Mini.
Kita tidak bisa mempercayakan nasib kita kepada GAM atau orang Aceh, kebencian mereka terhadap suku Jawa adalah luar biasa, bila ini kita biarkan maka sama saja kita bunuh diri menciptakan konflik pada daerah kita sendiri yang kemudian kita akan sesali.
Pemberontakkan tidak akan pernah menang sekarang ini, jangan samakan Aceh dengan Kosovo, Kosovo punya Rusia, itupun sulitnya bukan main. Siapa yang mau membela Aceh, Gayo saja tidak bisa mereka rangkul, tentu dunia internasional akan terus mempertanyakan hal ini.
Namun, kita bisa samakan Aceh dengan Tamil di Sri Lanka, dan ini memang nenek muyangnya.
Tapi kita tidak bisa samakan Aceh dengan Khasmir di India, Poso di Fhilipinna, Chencya di Rusia, Moro di Thailand, apalagi Hamas di Palestina. Mereka memperjuangkan nasionalisme dengan menghalalkan darah sesame muslim, sehingga hanya membuat murka di sisi Allah.
Berijin.
Langganan:
Postingan (Atom)