Oknum GAM : Hai Jawa, anda harus tahu bahwa Aceh ini tidak pernah dijajah, 1 inchi pun tanah ini tidak pernah dijajah, kami punya jiwa Merdeka.
(Walau ternyata di Aceh terdapat bangunan-bangunan Belanda yang saat ini masih berdiri, walau ternyata Snouck Hougronge telah berhasil mengadudomba orang Aceh. Walau ternyata ada sosok Daud Beureuh yang memilih mengikat rakyat Aceh dengan NKRI berlandaskan persaudaraan)
Jawa : Iya Aceh, kalian memang tidak pernah dijajah, bahkan kalian malah mengaku dijajah Jawa, tapi malah mengaku-ngaku dijajah Jawa. Bodoh ya kalian...he he he.
(Bagi Jawa yang sudah berpengalaman dijajah oleh Belanda dan Jepang yang menyebabkan mereka melahirkan strategi perjuangan filosofi blankon jawa merasa lucu dengan orang Aceh. Mereka itu begitu bangga dengan sejarahnya sampai akhirnya mengorbankan semuanya, bagi mereka kemerdekaan adalah nomor 1, sehingga akhirnya harus menggunakan konsep perjuangan BODOH, Penjajah Jawa - Indon)
Oknum GAM : Loh, kami tidak bodoh, kami berjuang, dan dalam berjuang pengorbanan adalah sesuatu yang harus, bagi kami mereka semua adalah syahid, mereka yang tewas adalah pahlawan.
(Walau orang Aceh itu tidak pernah melihat dengan kepala dingin bahwa perjuangan mereka itu adalah ashobiyah, perjuangan mereka itu bukan dari golongan Muhammad, mereka juga tidak pernah menghargai kesepakatan pendahulu mereka yang telah bersumpah untuk di bawah NKRI, ukhuwah Islamiyah. Malah sebagian ulama katakan bila niat mereka salah atau mereka mati tidak dalam rangka membela diri maka dapat dipastikan mereka mati dengan masuk ke dalam neraka, atau syahid. Belum lagi ketika mereka telah membunuh sesama muslim yang juga niatannya adalah membela diri atau menyelesaikan tugas negara, bahkan niat mereka juga mungkin membela agama Allah, karena taat kepada Ulil Amri mereka. Kalau dipikir seperti itu hanya membuat bulu kuduk kita merinding karena telah membawa perang saudara sesama saudara seiman)
Jawa : Apa kalian tidak menyesal, alih-alih meningkatkan SDM malah menurunkan SDM, alih-alih mensejahterakan malah menyengsarakan, alih-alih merdeka malah semakin terjajah, alih-alih menjadi cerdas malah semakin bodoh. Terus apa kalian pikir kami orang Jawa akan membiarkan kamu merdeka, padahal kita sudah jadi satu dalam NKRI sejak dulu ?
(Jawa bagi GAM merupakan sebuah manifesto dari NKRI, sehingga orang Jawa semakin bangga mengatakan bahwa NKRI itu adalah Jawa, padahal bagi NKRI itu terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ntah itu minang, ntah itu bugis, etnis China, dan banyak lainnya)
Oknum GAM : Oh, sudah saya katakan saya tidak peduli, bagi saya merdeka adalah harga mati, maka kami rela akan berjuang hingga tetesan darah terakhir, lebih putih mata kami daripada tulang kami, dan perang adalah sudah menjadi sejarah dalam hidup kami.
( Ada yang menarik, motto mereka sama dengan salah satu provinsi yang memperjuangkan diri untuk melepaskan diri dari Aceh seperti ALA dan ABBAS, seperti halnya oknum GAM yang mengatakan merdeka bagi mereka juga harga mati)
Jawa : Wah hebat sekali ya anda, jiwa patriotisme anda sangat luar biasa, saya salut dengan anda. Bagi anda, anak anda dan rakyat Aceh layak dijadikan korban untuk perjuangan anda. Hebat sekali anda, tapi apakah seluruh rakyat Aceh mendukung perjuangan anda, atau ini hanya propaganda anda saja ?
(Orang Jawa itu mengetahui tentang ALA dan ABBAS yang sekarang tengah merunduk, juga mereka berkepentingan agar tidak terjadi konflik besar disana utamanya adu domba antara suku Jawa dan Gayo salah satu suku di Aceh, karena perbandingan jumlah akan sama, bila mereka berperang maka yang akan terjadi adalah jatuhnya korban yang hanya akan membuat semuanya menderita dan membuat oknum GAM tertawa)
Aceh : Oh iya, seluruh rakyat Aceh mendukung perjuangan kami, karena rakyat Aceh bukan pengecut, rakyat Aceh mempunyai patriotisme yang tinggi, rakyat Aceh lebih baik mati daripada dijajah. Tidak seperti anda, mental anda adalah mental blankon, mental anda itu mental enggih...enggih. ..enggih. .. Kalian itu feodal semua...
(Tapi ternyata orang Aceh itu lupa bahwa mereka juga dari sebuah kerajaan seperti juga halnya Jawa, sehingga sesungguhnya feodalisme itu tetap ada pada diri mereka. Tapi yang membuat mereka mendapatkan semua ketinggian itu adalah nilai-nilai Islam yang sudah terpatri pada rakyat Aceh, yang mengatakan bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan)
Jawa : Yah, kami memang mengakui bahwa selama 350 tahun kami di jajah, dan kami juga berbentuk feodal atau kerajaan. Tapi bukankah memang seperti itu perkembangan peradaban sejak dahulu. Untuk nasionalisme pun sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan sebuah peradaban, seperti halnya perkembangan dari Kerajaan-kerajaan menjadi sebuah negara, bahkan kemudian ada kekhalifahan dalam Islam atau bagaimana Napoleon Bonaparte dan Jengis Khan melebarkan kekuasaannya, bukankah itu salah satu dari perkembangan zaman. Maksud saya apakah anda yakin bahwa anda mau kembali ke era ini yang sepertinya sekarang malah berubah kepada peperangan ideologi atau ekonomi ?
(Orang Jawa ini memang sedikit agak pintar karena ia mengetahui tentang perkembangan seorang manusia, ia melihat bahwa dulu ketika manusia besar melalui kelompok-kelompok kemudian menjadi klan, berkembang lagi menjadi kerajaan, lalu menjadi mengembangkan diri mencari daerah jajahan, sehingga timbul nasionalisme, akhirnya mereka bergabung kembali dalam tataran ideologi dan ekonomi atau regional, semuanya terus bergerak menurut kehendak zaman, inilah yang dipertanyakan apakah Aceh bukannya mundur ?)
Oknum GAM : Kami tidak peduli dengan itu semua, kami hanya ingin merdeka, itu harga mati buat kami. Semua nya akan kami korbankan...
Jawa : Mungkin anda harus belajar dari filosofi kami, itupun kalau anda mau. Yang membuat kami kuat adalah kami tidak mau terlalu frontal, terlebih lagi bila kami dalam keadaan kesulitan atau dalam keadaan lemah. Ini menurut saya ya, anda tu sebenarnya tidak didukung oleh semua rakyat Aceh, karena dalam Islam itu tidak diperkenankan untuk membunuh sesama muslim bahkan anda harus medahulukan perdamaian. Kalau anda dulu kuat karena lawan anda adalah Kafir, maka bantuan Allah terus datang kepada anda. Saya melihat sepertinya anda ini hanya seperti orang yang bodoh dalam perjuangannya, malah anda secara sadar atau tidak sadar telah membawa rakyat anda dalam sebuah kehancuran. Dan saya yakin kalau jika ini anda teruskan maka yang ada hanyalah sebuah bentuk perlawanan baru terhadap gerakan anda.
Oknum GAM : Gini ya, kami itu bukan orang Jawa, kami itu orang Aceh, kami punya sejarah sendiri. Saya tahu anda juga punya sejarah sendiri, dibandingkan Aceh anda bahkan punya tulisan sendiri yang Aceh tidak punya. Bahkan bahasa Jawa merupakan bahasa tersendiri tidak seperti Aceh yang merupakan gabungan dari berbagai bahasa dan jumlah kata yang sangat sedikit. Tapi kami tetap harus merdeka, kami sudah malu, sudah terlanjur.
(Sepertinya oknum GAM itu memang keras kepala, ia tetap tidak peduli walau ia tahu sesungguhnya kalau yang ingin merdeka itu ya Jawa dengan segala sejarahnya yang lebih dahulu dari Aceh. Orang Aceh ini seolah melupakan bahwa Aceh itu dahulu ikut membantu perjuangan Aceh dari kuffar, berusaha melupakan bahwa mereka seiman, berusaha melupakan bahwa korbannya adalah rakyat Aceh juga)
Jawa : Saya sudah tidak tahu berkata apa lagi, yang pasti saat ini orang Jawa lebih maju dari Aceh, anda itu juara 2 untuk termiskin di NKRI, potensi anak-anak anda dipertanyakan malah takutnya nanti anak korban konflik itu hanya jadi suruhan saja atau jadi babu atau jadi penjahat. Kalau anda terus konflik maka nanti akan memegang Aceh adalah kalau tidak orang Gayo atau suku Jamnee atau Jawa, anda akan lihat 20 tahun ke depan. Sudahlah anda fokus saja membangun ketertinggalan anda, kasihan anak cucu anda.
Oknum GAM : Tidak akan pernah, merdeka adalah harga mati.
Jawa : Ya sudah, saya sudah memperingatkan anda, jadi jangan salahkan ketika nanti anda akan dibenci oleh rakyat Aceh sendiri dengan anggapan anda lebih memementingkan kepentingan anda sendiri dengan dalih kemerdekaan dan sejarah, padahal anda tahu korbannya sudah amat banyak dan zaman sudah berubah.
(Oknum GAM tetap dengan prinsipnya yang akhirnya mereka tetap merencanakan kemerdekaan mereka dengan berbagai cara, sedangkan orang Jawa yang sudah berpengalaman itu tentunya tidak akan tinggal diam, sebagai suku tertua tentunya mereka sudah lebih berpengalaman, bahkan sekarang kalau oknum GAM itu menggelar konflik lagi orang Jawa itu mengetahui bahwa NKRI sekarang tidak akan kenal ampun lagi, ALA dan ABBAS pun siap menjadi solusi terbaik rakyat Aceh)
Aceh merupakan sebuah wilayah yang begitu dihormati sejak adanya Raja-raja Eropa dahulu kala, namun semuanya menjadi hancur ketika segelintir orang Aceh mencanangkan sebuah peperangan yang membawa rakyat Aceh kedalam kebodohan dan dendam.
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Sastra. Tampilkan semua postingan
10 Februari 2009
Percakapan di Rumah Sakit Jiwa Antara Tentara dan GAM
Tentara : Hai GAM, asal kau tahu ya, pada dasarnya malas aku ke Aceh sana, lebih baik saya dikirim ke Tim-Tim, malas saya membunuh saudara saya di Aceh. Kenapa ya orang Aceh itu mau-mau saja ikut-ikutan GAM, bingung saya.
Oknum GAM : Kenapa ? Apa kau takut, hilangkan pikiran-pikiran aneh itu dari otakmu, kau ya musuh bagi kami, ini perang bung, kalau kau yang mati ya aku yang mati..
Tentara : Bukan begitu saudara, apa kamu tidak pernah berpikir ketika kamu teriak Allahu Akbar maka aku juga seperti itu. Ini yang selalu jadi pertanyaanku, apakah kita nanti mati syahid atau mati sia-sia ya ?
Oknum GAM : Peduli apa kau pikirkan itu, kita ini prajurit, tugas kita ya perang, kau yang ku tembak atau aku yang menembak kau. Mudah kan. Urusan siapa masuk syurga ya kita serahkan saja kepada pimpinan kita. Bagi GAM, Hasan Tiro bertanggungjawab kepada setiap korban dari anggota GAM..
Tentara : Ha ha ha, sejak kapan orang bisa menanggung dosa orang, emangnya dia itu siapa ? Nabi saja bukan, dia itu hanya manusia biasa kan. Kalau tidak salah kawin sama Yahudi lagi… Heran aku, kenapa ya kalian itu menkultuskan dia? Heran, heran….
Oknum GAM : Jangan sembarangan kau kucincang nanti kau, dia itu orang suci, keringatnya itu kalau kita ambil bisa jadi obat, ludahnya itu bisa jadi emas kalau dioleskan di besi, suaranya itu bisa membuat orang tenang atau membakar semangat orang banyak…
Tentara : Ha ha, kalian anggap kami feudal, tapi kalian lebih dari kami ya feodalnya… ha ha ha…. Kalian begitu menghormati tuan kalian Hasan Tiro tapi malah kalian tidak lebih dari babu nya Hasan Tiro… Kalah ya agama kalian. Asal kau tahu ya dulu kami masuk ke Aceh takut karena Islam kalian, tapi memang semenjak Hasan Tiro kalian itu jadi ketinggalan… he he
Oknum GAM : Wah, jangan seperti itu ya, kalian anggap kami apa ? Hasan Tiro itu manusia suci, anaknya juga suci, mudah-mudahan dia calon pengganti Bapaknya, seperti sultan-sultan di Aceh dulu..
Tentara : Ha ha… sekarang kalian masih pakai system sultan, betul-betul feudal, sangat feudal… Menurut aku kalian itu berubah jauh sekali, kalian telah menghilangkan kebanggaan menjadi orang Aceh…ha ha
Oknum GAM : Kurang ajar kau ya. Dengar ya, orang Aceh itu tidak pernah takut dengan namanya perang, orang Aceh itu pemberani, ah sudahlah tak ngerti kau, kau cuma bisa enggih…enggih… enggih…ha ha
Tentara : Ya ya, tetap saja kalian tidak menang perang kan, sudahlah insyaflah kalian, sudah dihukum Tuhan dengan tsunami, kalau pun perang lagi kalian hanya akan jadi makanan kami, bukan saja orang Jawa tapi NKRI, sadar bung…sadar…
Oknum GAM : Memang apa strategi kalian melawan perang gerilya, coba saya tanyakan kepada kamu…
Tentara : Kami, strategi ? Bung, sekarang itu anda terjepit, sangat terjepit, mikir lah… Selama kalian bawa nasionalisme Aceh kalian akan hancur, karena ya memang itu inti Aceh semangat Islamnya yang kuat, kenapa sih ga sadar-sadar. Kalian itu sudah 30 tahun berjuang dapat apa ? MoU Helsinky ? ha ha ha
Oknum GAM : Jangan salah kau, ini strategi kami untuk mendapatkan senjata kembali, menggalang persatuan, atau mempersiapkan diri untuk hal yang paling buruk sekalipun…he he
Tentara : Lantas apa kami tidak memprediksikannya, lantas apa kami bodoh, ah kau kira semua orang itu bodoh ya. Kalian itu terlalu sombong sehingga tidak sadar kalau diri kalian itu sebenarnya tinggal tunggu hancur aja…
Oknum GAM : Yang penting masih ada semangat di hati kami, masih ada Hasan Tiro di hati kami…
Tentara : Sudahlah, sebenarnya sudah cape saya perang dengan anda. Tapi kalau kau mau lagi ya ayolah semua juga mau, tapi kali ini kau harus berhati-hati sekali. Karena kali ini semua sudah terbukan, lawan dan kawan sudah jelas sekarang, ingat itu.
Oknum GAM : Loh,dari dulu juga sudah jelas kan…he he
Tentara : Apanya yang jelas, kalian membunuh orang Aceh, kami juga membunuh orang Aceh, apa itu yang kau anggap jelas… Jadi curiga saya apa sih sebenarnya kemauan kalian..
Oknum GAM : Kemerdekaan.
Tentara : Ha ha ha, memang kalian ini seperti iblis ya, sombong kalian ini luar biasa, padahal kata orang-orang agama kalian kuat, tapi rasanya tidak mungkin, menurut saya agama kalian ini cetek, amat cetek. Jangan-jangan kalian tidak pandai membaca qur’an..
Oknum GAM : Kurang ajar kau ya. Mana sempat kami baca Qur’an, kami harus masuk keluar hutan, Tuhan juga akan mengerti kok, hati kami ini Cuma penuh dendam, otak kami sudah dicuci…
Tentara : Ya terserah kaulah, memang kalian ini cuma suka perang, kalian ini tidak memperdulikan nasib rakyat Aceh, yang penting kemauan kalian harus dituruti..
Oknum GAM : Hai kau harus tahu orang Aceh, lebih baik putih mata daripada putih tulang…..
Tentara : Sudahlah, apasih kebanggaan kau jadi orang Aceh, ngga ada, kau hanya buat sejarah bahwa kalau orang Aceh itu pemberontak, menghalalkan darah sesama musli, lebih cinta perang daripada perdamaian. Apa yang kau banggakan ?
Oknum GAM : Patritisme Kemerdekaan.
Tentara : Halah, itu itu saja. Kau tau kenapa kemerdekaan mu itu tidak berhasil. Karena tidak semua rakyat Aceh setuju, asal kau tahu itu. Sudahlah sudah cape aku… Sedang apa kau ?
Oknum GAM : Kemerdekaan…kemerdek aan…kemerdekaan. .
Tentara : Ya, aku sudah mengerti, masuk kau ketahanan
Oknum GAM : Kemerdekaan…kemerdek aan…kemerdekaan…
Tentara : Ah, kumat lagi kau
Pembaca yang budiman rupanya tentara dan oknum GAM itu merupakan 2 orang pesakitan di rumah sakit jiwa. Sakitnya tentara itu karena ia trauma perang di Aceh, ia merasa tertekan karena harus membunuh sesama Muslim, ia akhirnya menjadi gila karenanya. Sedangkan oknum GAM itu merasa gila dengan kemerdekaan, ia tidak pernah peduli yang penting bisa merdeka.
Kasihan ya, konflik Aceh ini membuat semakin banyak orang Gila, Gila dengan semuanya, kalau orang bijak dulu katakan yang waras ngalah….he he
Oknum GAM : Kenapa ? Apa kau takut, hilangkan pikiran-pikiran aneh itu dari otakmu, kau ya musuh bagi kami, ini perang bung, kalau kau yang mati ya aku yang mati..
Tentara : Bukan begitu saudara, apa kamu tidak pernah berpikir ketika kamu teriak Allahu Akbar maka aku juga seperti itu. Ini yang selalu jadi pertanyaanku, apakah kita nanti mati syahid atau mati sia-sia ya ?
Oknum GAM : Peduli apa kau pikirkan itu, kita ini prajurit, tugas kita ya perang, kau yang ku tembak atau aku yang menembak kau. Mudah kan. Urusan siapa masuk syurga ya kita serahkan saja kepada pimpinan kita. Bagi GAM, Hasan Tiro bertanggungjawab kepada setiap korban dari anggota GAM..
Tentara : Ha ha ha, sejak kapan orang bisa menanggung dosa orang, emangnya dia itu siapa ? Nabi saja bukan, dia itu hanya manusia biasa kan. Kalau tidak salah kawin sama Yahudi lagi… Heran aku, kenapa ya kalian itu menkultuskan dia? Heran, heran….
Oknum GAM : Jangan sembarangan kau kucincang nanti kau, dia itu orang suci, keringatnya itu kalau kita ambil bisa jadi obat, ludahnya itu bisa jadi emas kalau dioleskan di besi, suaranya itu bisa membuat orang tenang atau membakar semangat orang banyak…
Tentara : Ha ha, kalian anggap kami feudal, tapi kalian lebih dari kami ya feodalnya… ha ha ha…. Kalian begitu menghormati tuan kalian Hasan Tiro tapi malah kalian tidak lebih dari babu nya Hasan Tiro… Kalah ya agama kalian. Asal kau tahu ya dulu kami masuk ke Aceh takut karena Islam kalian, tapi memang semenjak Hasan Tiro kalian itu jadi ketinggalan… he he
Oknum GAM : Wah, jangan seperti itu ya, kalian anggap kami apa ? Hasan Tiro itu manusia suci, anaknya juga suci, mudah-mudahan dia calon pengganti Bapaknya, seperti sultan-sultan di Aceh dulu..
Tentara : Ha ha… sekarang kalian masih pakai system sultan, betul-betul feudal, sangat feudal… Menurut aku kalian itu berubah jauh sekali, kalian telah menghilangkan kebanggaan menjadi orang Aceh…ha ha
Oknum GAM : Kurang ajar kau ya. Dengar ya, orang Aceh itu tidak pernah takut dengan namanya perang, orang Aceh itu pemberani, ah sudahlah tak ngerti kau, kau cuma bisa enggih…enggih… enggih…ha ha
Tentara : Ya ya, tetap saja kalian tidak menang perang kan, sudahlah insyaflah kalian, sudah dihukum Tuhan dengan tsunami, kalau pun perang lagi kalian hanya akan jadi makanan kami, bukan saja orang Jawa tapi NKRI, sadar bung…sadar…
Oknum GAM : Memang apa strategi kalian melawan perang gerilya, coba saya tanyakan kepada kamu…
Tentara : Kami, strategi ? Bung, sekarang itu anda terjepit, sangat terjepit, mikir lah… Selama kalian bawa nasionalisme Aceh kalian akan hancur, karena ya memang itu inti Aceh semangat Islamnya yang kuat, kenapa sih ga sadar-sadar. Kalian itu sudah 30 tahun berjuang dapat apa ? MoU Helsinky ? ha ha ha
Oknum GAM : Jangan salah kau, ini strategi kami untuk mendapatkan senjata kembali, menggalang persatuan, atau mempersiapkan diri untuk hal yang paling buruk sekalipun…he he
Tentara : Lantas apa kami tidak memprediksikannya, lantas apa kami bodoh, ah kau kira semua orang itu bodoh ya. Kalian itu terlalu sombong sehingga tidak sadar kalau diri kalian itu sebenarnya tinggal tunggu hancur aja…
Oknum GAM : Yang penting masih ada semangat di hati kami, masih ada Hasan Tiro di hati kami…
Tentara : Sudahlah, sebenarnya sudah cape saya perang dengan anda. Tapi kalau kau mau lagi ya ayolah semua juga mau, tapi kali ini kau harus berhati-hati sekali. Karena kali ini semua sudah terbukan, lawan dan kawan sudah jelas sekarang, ingat itu.
Oknum GAM : Loh,dari dulu juga sudah jelas kan…he he
Tentara : Apanya yang jelas, kalian membunuh orang Aceh, kami juga membunuh orang Aceh, apa itu yang kau anggap jelas… Jadi curiga saya apa sih sebenarnya kemauan kalian..
Oknum GAM : Kemerdekaan.
Tentara : Ha ha ha, memang kalian ini seperti iblis ya, sombong kalian ini luar biasa, padahal kata orang-orang agama kalian kuat, tapi rasanya tidak mungkin, menurut saya agama kalian ini cetek, amat cetek. Jangan-jangan kalian tidak pandai membaca qur’an..
Oknum GAM : Kurang ajar kau ya. Mana sempat kami baca Qur’an, kami harus masuk keluar hutan, Tuhan juga akan mengerti kok, hati kami ini Cuma penuh dendam, otak kami sudah dicuci…
Tentara : Ya terserah kaulah, memang kalian ini cuma suka perang, kalian ini tidak memperdulikan nasib rakyat Aceh, yang penting kemauan kalian harus dituruti..
Oknum GAM : Hai kau harus tahu orang Aceh, lebih baik putih mata daripada putih tulang…..
Tentara : Sudahlah, apasih kebanggaan kau jadi orang Aceh, ngga ada, kau hanya buat sejarah bahwa kalau orang Aceh itu pemberontak, menghalalkan darah sesama musli, lebih cinta perang daripada perdamaian. Apa yang kau banggakan ?
Oknum GAM : Patritisme Kemerdekaan.
Tentara : Halah, itu itu saja. Kau tau kenapa kemerdekaan mu itu tidak berhasil. Karena tidak semua rakyat Aceh setuju, asal kau tahu itu. Sudahlah sudah cape aku… Sedang apa kau ?
Oknum GAM : Kemerdekaan…kemerdek aan…kemerdekaan. .
Tentara : Ya, aku sudah mengerti, masuk kau ketahanan
Oknum GAM : Kemerdekaan…kemerdek aan…kemerdekaan…
Tentara : Ah, kumat lagi kau
Pembaca yang budiman rupanya tentara dan oknum GAM itu merupakan 2 orang pesakitan di rumah sakit jiwa. Sakitnya tentara itu karena ia trauma perang di Aceh, ia merasa tertekan karena harus membunuh sesama Muslim, ia akhirnya menjadi gila karenanya. Sedangkan oknum GAM itu merasa gila dengan kemerdekaan, ia tidak pernah peduli yang penting bisa merdeka.
Kasihan ya, konflik Aceh ini membuat semakin banyak orang Gila, Gila dengan semuanya, kalau orang bijak dulu katakan yang waras ngalah….he he
09 Februari 2009
Blankon Jawa Memberi Bulan
Muka Win terlihat memerah, tangannya gemetar, hatinya saat ini sedang membara menahan seluruh emosi yang ada pada dirinya. Dirinya sudah tidak kuasa lagi, ia merasa dipermainkan, ia merasa telah ditusuk dari belakang.
“Inikah politik ? Kejam politik itu, aku sudah tidak tahu lagi mana kawan dan lawan, aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, sungguh semuanya membuat aku muak. Dulu politik untuk memperjuangkan gerah di hati, sekarang politik ekonomi, setan kalian semua” katanya dalam hati.
Bagaimana Win tidak marah, semenjak ia berangkat ke pertemuan dengan Bapak Irwan dan proyek yang mereka telaha terima ia hanya kebagian sedikit saja, dan ia juga sepertinya telah dijauhkan dari proyek itu. Mereka semua tidak menghargai dia, walau mereka telah membuang dia dengan teramat santun seperti halnya dengan orang jawa yang sesawo matang kulitnya itu.
Namun ia sadar bahwa kemampuannya hanyalah pas-pasan, kelebihannya hanyalah ia pandai berbahasa Inggris yang sebenarnya Bapak Irwan bisa mendapatkkannya dimanapun, namun dari sisi pendidikan ia kurang, walau ia adalah mantan aktivis yang dahulu begitu mendukung perjuangan dari Bapak Irwan.
Setelah Bapak Irwan mendapatkan jabatannya sepertinya ia telah berubah, dalam merekrut jabatan atau orang-orangnya selalu menggunakan sebuah tim yang terdiri dari orang yang menurut Umar adalah pintar-pintar bodoh. Pintar dalam artian mereka semua sudah bergelar Profesor dan Doktor, tapi mereka bodoh karena menurut Win mereka tidak tahu permasalahan sesungguhnya dari masyarakat sekarang ini.
Walau ia tidak menutupi kenyataan bahwa hidupnya saat ini sedang dalam keadaan sulit, semuanya pas-pasan, padahal ia menginginkan agar anak-anaknya dapat sekolah yang terbaik dan mendapatkan kesempatan seperti orang-orang kaya atau orang-orang borjuis, sebutan Win mengejek kepada orang-orang kaya dahulu sewaktu ia memimpin pergerakan mahasiswa.
Idealisme ia dahulu kini sepertinya sudah luntur ketika Win menghadapi kenyataan hidup sesungguhnya, dalam hati ia menyesal kenapa ia dahulu tidak menamatkan kuliahnya malah lebih asik kepada melakukan gerakan-gerakan bawah tanah yang akhirnya menjadikan ia terlempar dari kuliahnya. Namun untuk menghibur hatinya ia beranggapan bahwa banyak orang-orang besar yang memang seperti dirinya. Ia kemudian tersenyum pedih di hatinya.
Oleh karena itu, ia sadar, ia harus membawa beberapa teman Bapak Irwan untuk bisa meyakinkan dia, atau ia berusaha melakukan sebuah lobby dengannya agar minimal bisa duduk dekat Bapak Irwan dan bisa mengeluarkan seluruh idealismenya, paling tidak Bapak Irwan tahu tentang pemikirannya,” Yah, minimal satu atau dua proyek dapat diraih, minimal anakku selam 10 tahun kedepan aman,” katanya dalam hati.
Namun sekarang semuanya menjadi sia-sia, teman-temannya telah menelikungnya dari belakang, bahkan teman-temannya malah menjerumuskan dirinya setelah pada awalnya telah mangangkatnya dengan tinggi-tinggi.
Ketika melakukan pertemanan dengan Bapak Irwan ia telah mengajak 1 orang kepercayaan pejabat itu bernama Darus, kemudian 2 teman kuliah seperjuangannya Chandra dan Adnan, lantas 1 orang juara lobby yang bernama Irvan dan terakhir adalah Ujang orang yang pandai sekali mencairkan suasana.
Mereka berlima telah berdiri disebuah pintu yang kokoh, sekretaris pribadi dari Bapak Irwan yang bernama Minati telah mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan.
Tok tok tok terlihat pintu digedor oleh Minati. Kreeek, kemudian ia membuka pintu. Terlihat Bapak Irwan sedang sibuk dengan tumpukkan surat-surat yang harus dia disposisikan ke bawahannya agar roda pemerintahan dapat berjalan dengan sebagai mana mestinya.
“Asslm, Pak.” Kata Minati.
“Wasslm, Mi. Siapa tamu kita Mi ?” jawab Irwan sambil melirik kepada Minati.
“Ini Pak, ada teman-teman Pak Darus, mereka ingin bertemu Bapak,” ujar Minati dengan kepala tertunduk dan kata-kata yang pelan dan teramat sopan seperti halnya ketika seorang punggawa berkata kepada Rajanya.
“Darus ? Mmmh, oh ya suruh dia masuk !,” kata Irwan.
Awalnya Darus kemudian diikuti oleh Win dan kawan-kawannya masuk ke ruangan yang cukup tertata dengan baik dan sederhana tapi terlihat mewah tersebut.
“Mmm, silahkan duduk,” kata Bapak Irwan.
Kelima orang tersebut terlihat duduk setelah mereka berjabatan tangan dengan Bapak Irwan.
“Apa kabar mu, Darus ?”tanya Bapak Irwan.
“Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja Pak,” jawab Darus.
Bapak Irwan menganguk-agukkan kepalanya,”Syukur lah, siapa teman-temanmu Rus?” tanyanya.
“Oh ya Pak, ini Win, ia dulu seorang aktifis yang dahulu ikut berjuang memperjuangkan pemikiran Bapak, sampai-sampai kuliahnya ga selesai loh Pak. Dan ini teman Win, Chandra dan Adnan, mereka juga mantan aktivis tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya, tidak seperti Win, he he. Dan yang terakhir ini tentu Bapak masih ingat si tukang rusuh sewaktu dulu kita masih belum jadi apa-apa Pak,” jawab Darus.
Bapak Irwan juga tersenyum, ia juga teringat kembali dengan masa lalu yang memang penuh dengan gerakan-gerakan organisasi, rasanya sudah cukup ia makan asam garam kehidupan, terlebih lagi untuk urusan politik.
Sekilas ia melihat sosok Win, wajahnya memang terlihat betul-betul seperti layaknya seorang penggerak, wajahnya terlihat begitu keras, matanya sedikit agak licik yang memang dibutuhkan dalam dunianya yang keras itu, tapi terlihat ada sedikit kelembutan di wajahnya itu. Kulitnya memang agak hitam, seperti kulit kebanyakan dari suku Jawa yang sawo matang, atau mungkin ada keturunan dari sana pikir Bapak Irwan. Lantas ia melihat kepada Chandra dengan muka yang lumayan menarik, kulit yang bersih, namun matanya menunjukkan terlihat mata yang suka menerawang, sosok manusia yang menurutnya selalu berpikir ke depan. Sedangkan Adnan sepertinya sosok anak mama, mungkin waktu ikut gerakan dulu ia hanya menjadi seorang pelengkap saja. Sedangkan yang dua lagi ia sudah mengetahuinya dengan cukup baik.
“Okelah, jadi apa tujuan ketemu dengan saya…Darus ?”, tanya Bapak Irwan.
Semuanya sejenak terdiam, mereka semua berpikir kalau seseorang menjadi pejabat memang berubah, padahal dahulu sewaktu mereka masih sama-sama susah mereka tidur dalam sartu bantal, merokok bersama dan bercanda bersama. Tapi Darus memang tahu betul sosok Bapak Irwan ini adalah sosok yang keras dan kalau dalam keadaan ia tertekan terkadang emosinya cepat memuncak. Namun dibalik itu semua ia pandai memanfaatkan emosinya itu untuk kepentingannya. Sehingga terkadang teman-temannya selalu berpikir bahwa ia pura-pura marah saja.
“Baik, Pak. Begini Pak, langsung saja ke persoalannya. Kami berlima sedang kesulitan sekarang ini, kami sedang mencoba membuka usaha, tapi kesulitan sekarang karena terbentur modal, kami mohon agar bapak dapat memberikan jalan kepada kami, atau jika memang itu tidak memungkinkan bagaimana caranya agar kami dapat bekerja,” kata Darus.
“Mmmhh, seringkali aku berpikir bagaimana kiranya aku harus balas budi dengan mereka semua, mereka tidak salah, tapi bukankah aku sudah memberikan banyak kesempat pekerjaan kepada mereka, terutama si Darus ini. Darus, Darus, harusnya engkau bisa memberikan mereka sebuah pekerjaan, tapi kau malah bawa pula mereka kesini,” ujar Bang Irwan dalam hatinya.
“Kau bisa apa Win?” tanya Bang Irwan kepada Win.
Win tiba-tiba hatinya sedikit terbang karena ia mendapatkan perhatian dari orang yang dianggapnya sombong itu, tapi ia menyadari juga bahwa kesombongan adalah milik para idealis. Dengan sedikit agak cuek dia berkata dengan meyakinkan, “Saya bisa bahasa Prancis, Inggris, mantan aktifis, saya yakin saya bisa menyelematkan kebijakan Bapak Irwan,”
Bapak Irwan hanya bisa menatap mata Win, lantas dalam hati ia berkata,”Kebijakan apa yang bisa kau selamatkan ? Dari matamu saja aku tahu bahwa kau tak pantas untuk ikut aku, sedikit saja kau tidak dituruti maka kau akan melawan, dirimu memang seperti teman-temanmu korban konflik, tidak panjang pikiran, jiwanmu penuh konflik. Sudah puluhan tahun aku bergabung dengan orang-orang seperti kau Win. Sombong sekali kau ya. Kurasa kau hanya pandai bahasa saja, tapi analisismu masih kurang, sudah bosan aku dengan orang-orang sepertimu. Aku akan test kau”
“Baiklah, aku akan test kalian bertiga, Win, Adnan dan Chandra bila saya ada di dalam sebuah konflik, lantas saya dalam keadaan kesulitan, apa yang akan engkau akan berikan jika punya 3 pilihan yang pertama memberikan aku rokok, kedua memberikan aku pedang atau yang ketiga memberikan aku air. Mana yang kau pilih dan sebutkan dari yang pertama sampai yang terakhir, juga jangan lupa ceritakan alasannya,” tanya Bapak Irwan.
Sejenak Win terdiam, ia tersenyum pongah, kemudian ia berkata,”Aku akan beri Bapak Pedang dahulu agar Bapak bisa menghabisi musuh-musuh Bapak, baru kemudian Air dan terakhir adalah rokok. Dengan memberikan aku pedang terlebih dahulu maka Bapak bisa menghabiskan musuh-musuh Bapak, baru kemudian Bapak bisa minum air untuk menenangkan diri dan bersantai setelah semuanya selesai denganmerokok.”.
Bapak Irwan lantas memandang kepada Adnan.
“Mmmhh, kalau saya tentunya akan memberikan air dulu kepada Bapak, agar Bapak tenang, bapak bisa berpikir. Setelah itu saya akan memberikan pedang kepada Bapak untuk melakukan apa yang Bapak lakukan. Dan terakhir tentunya saya akan memberikan rokok sebagai tanda kemenangan Bapak. Dengan memberikan bapak air maka bapak akan tenang, hingga bapak bisa menghabisi musuh-musuh bapak dan merokok untuk kemenangan bapak” Kata Adnan dengan datar.
“Baiklah. Kau Chandra ya…?” tanya Bapak Irwan.
“Kalau saya Pak, saya akan memberikan bapak rokok dulu agar Bapak tahu arti kemenangan terlebih dahulu, baru kemudian saya memberikan pedang dan terakhir air. Ketika saya memberikan bapak rokok maka saya berharap bapak yakin bahwa kemenangan sudah di tangan Bapak, lalu bapak bisa menghabisi musuh bapak dengan pedang bapak, dan bapak bisa tenang dengan meminum air untuk menghilangkan kecapean Bapak,” jawab Chandra agar terbata-bata.
Mendengar ketiganya Bapak Irwan hanya tersenyum sinis. “Kalau kau apa Ara ?”. Tanyanya kepada si tukang rusuh.
“He he, kalau saya mudah saja Pak. Pertama kali yang saya lakukan adalah saya ajak bapak menjauh dari konflik, kemudian saya suruh Bapak sembunyi dan saya yang akan merokok dulu lantas menebas mereka semua dengan pedang saya kemudian saya akan minum air lantas tertidur…ha ha ha ha”kata Ara dengan tertawa lepas.
Mendengar gurauan si Ara semuanya tertawa lepas, tapi Bapak Irwan menangkap sesuatu yang baru dari pemikiran Ara, ada usaha Ara untuk terlebih dahulu menyelamatkan atasannya untuk kemudian menghadapi persoalannya itu untuk pimpinannya,”Kamu memang hebat Ara dari dulu, rasanya kau tidak menyetujui satupun dari mereka untuk dapat membantuku” kata Bapak Irwan dalam hatinya.
Lalu ia memanggil Darus,”Darus, rasanya tidak satu orangpun yang bisa membela aku semua, si Win itu rasanya hanya akan membawa aku selalu dalam konflik, jiwanya itu jiwa konflik. Si Adnan hanya membawa saya lembat dalam mengambil keputusan, dan si Chandra yang memang ada pemikiran ke depan, tapi Ara yang memang sangat melindungi aku ya…he he he. Kamu akan saya berikan proyek untuk membangun jalan di daerah Berantah, kamu ajak teman-teman kamu dan jadikan Ara yang memimpin ya” ujar Bapak Irwan.
Mendengar hal tersebut Darus hanya tersennyum, memang si Ara itu cerdas tapi berpura-pura seperti orang Gila. Ia sudah mengerti maksud dari Bapak Irwan tersebut. Lantas ia kembali ke tempat duduknya, Bapak Irwan terlihat pergi ke kamar mandinya, lalu tak lama kemudian ia kembali ke tempat duduknya.
“Begini saja ya, tadi saya sudah memberitahukan kepada Darus bahwa mulai besok kamu dapat bekerja semua dengan Darus, pulang dari sini Darus agar ke Minati dan katakana bahwa proyek yang tadi agar dikerjakan oleh kalian.” Kata Bapak Irwan.
Kelima-limanya lantas meninggalkan ruangan Bapak Irwan dengan senang hati , tidak terkecuali Win yang memang sudah sangat berharap itu.
Setelah itu mereka pergi merayakan keberhasilan mereka untuk sebuah proyek itu, lumayan proyek itu seharga 500 juta, mereka akan mengantongi bersih sekitar 25% dari total harga, belum lagi pekerjaan yang didapatkan oleh Adnan dan Chandra sesuai dengan kualifikasi mereka, namun tidak begitu halnya dengan Win yang hanya menguasai ilmu pergerakan dan 2 bahasa yang juga dikuasai oleh kedua temannya tersebut. Ia sedikit agak menyesal sekarang karena tidak menyelesaikan kuliahnya.
Mereka pun melakukan beberapa kali pertemuan, pertemuan pertama mereka membagi uang sisa proyek, pertemuan kedua Win di depak dengan dikatakan bahwa ia sudah tidak dibutuhkan lagi saat ini dengan alasan bahwa ilmunya tidak bisa digunakan dalam proyek ini, tidak seperti halnya Adnan dan Chandra. Mereka mendepaknya seperti halnya strategi blankon jawa, mereka melakukannya secara perlahan, mereka begitu menghormati dia hanya untuk mengambil hatinya untuk kemudian menyuruhnya pergi dengan santun sekali. “Blankon Jawa…” teriaknya dalam hati.
“Inikah politik ? Kejam politik itu, aku sudah tidak tahu lagi mana kawan dan lawan, aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, sungguh semuanya membuat aku muak. Dulu politik untuk memperjuangkan gerah di hati, sekarang politik ekonomi, setan kalian semua” katanya dalam hati.
Bagaimana Win tidak marah, semenjak ia berangkat ke pertemuan dengan Bapak Irwan dan proyek yang mereka telaha terima ia hanya kebagian sedikit saja, dan ia juga sepertinya telah dijauhkan dari proyek itu. Mereka semua tidak menghargai dia, walau mereka telah membuang dia dengan teramat santun seperti halnya dengan orang jawa yang sesawo matang kulitnya itu.
Namun ia sadar bahwa kemampuannya hanyalah pas-pasan, kelebihannya hanyalah ia pandai berbahasa Inggris yang sebenarnya Bapak Irwan bisa mendapatkkannya dimanapun, namun dari sisi pendidikan ia kurang, walau ia adalah mantan aktivis yang dahulu begitu mendukung perjuangan dari Bapak Irwan.
Setelah Bapak Irwan mendapatkan jabatannya sepertinya ia telah berubah, dalam merekrut jabatan atau orang-orangnya selalu menggunakan sebuah tim yang terdiri dari orang yang menurut Umar adalah pintar-pintar bodoh. Pintar dalam artian mereka semua sudah bergelar Profesor dan Doktor, tapi mereka bodoh karena menurut Win mereka tidak tahu permasalahan sesungguhnya dari masyarakat sekarang ini.
Walau ia tidak menutupi kenyataan bahwa hidupnya saat ini sedang dalam keadaan sulit, semuanya pas-pasan, padahal ia menginginkan agar anak-anaknya dapat sekolah yang terbaik dan mendapatkan kesempatan seperti orang-orang kaya atau orang-orang borjuis, sebutan Win mengejek kepada orang-orang kaya dahulu sewaktu ia memimpin pergerakan mahasiswa.
Idealisme ia dahulu kini sepertinya sudah luntur ketika Win menghadapi kenyataan hidup sesungguhnya, dalam hati ia menyesal kenapa ia dahulu tidak menamatkan kuliahnya malah lebih asik kepada melakukan gerakan-gerakan bawah tanah yang akhirnya menjadikan ia terlempar dari kuliahnya. Namun untuk menghibur hatinya ia beranggapan bahwa banyak orang-orang besar yang memang seperti dirinya. Ia kemudian tersenyum pedih di hatinya.
Oleh karena itu, ia sadar, ia harus membawa beberapa teman Bapak Irwan untuk bisa meyakinkan dia, atau ia berusaha melakukan sebuah lobby dengannya agar minimal bisa duduk dekat Bapak Irwan dan bisa mengeluarkan seluruh idealismenya, paling tidak Bapak Irwan tahu tentang pemikirannya,” Yah, minimal satu atau dua proyek dapat diraih, minimal anakku selam 10 tahun kedepan aman,” katanya dalam hati.
Namun sekarang semuanya menjadi sia-sia, teman-temannya telah menelikungnya dari belakang, bahkan teman-temannya malah menjerumuskan dirinya setelah pada awalnya telah mangangkatnya dengan tinggi-tinggi.
Ketika melakukan pertemanan dengan Bapak Irwan ia telah mengajak 1 orang kepercayaan pejabat itu bernama Darus, kemudian 2 teman kuliah seperjuangannya Chandra dan Adnan, lantas 1 orang juara lobby yang bernama Irvan dan terakhir adalah Ujang orang yang pandai sekali mencairkan suasana.
Mereka berlima telah berdiri disebuah pintu yang kokoh, sekretaris pribadi dari Bapak Irwan yang bernama Minati telah mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan.
Tok tok tok terlihat pintu digedor oleh Minati. Kreeek, kemudian ia membuka pintu. Terlihat Bapak Irwan sedang sibuk dengan tumpukkan surat-surat yang harus dia disposisikan ke bawahannya agar roda pemerintahan dapat berjalan dengan sebagai mana mestinya.
“Asslm, Pak.” Kata Minati.
“Wasslm, Mi. Siapa tamu kita Mi ?” jawab Irwan sambil melirik kepada Minati.
“Ini Pak, ada teman-teman Pak Darus, mereka ingin bertemu Bapak,” ujar Minati dengan kepala tertunduk dan kata-kata yang pelan dan teramat sopan seperti halnya ketika seorang punggawa berkata kepada Rajanya.
“Darus ? Mmmh, oh ya suruh dia masuk !,” kata Irwan.
Awalnya Darus kemudian diikuti oleh Win dan kawan-kawannya masuk ke ruangan yang cukup tertata dengan baik dan sederhana tapi terlihat mewah tersebut.
“Mmm, silahkan duduk,” kata Bapak Irwan.
Kelima orang tersebut terlihat duduk setelah mereka berjabatan tangan dengan Bapak Irwan.
“Apa kabar mu, Darus ?”tanya Bapak Irwan.
“Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja Pak,” jawab Darus.
Bapak Irwan menganguk-agukkan kepalanya,”Syukur lah, siapa teman-temanmu Rus?” tanyanya.
“Oh ya Pak, ini Win, ia dulu seorang aktifis yang dahulu ikut berjuang memperjuangkan pemikiran Bapak, sampai-sampai kuliahnya ga selesai loh Pak. Dan ini teman Win, Chandra dan Adnan, mereka juga mantan aktivis tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya, tidak seperti Win, he he. Dan yang terakhir ini tentu Bapak masih ingat si tukang rusuh sewaktu dulu kita masih belum jadi apa-apa Pak,” jawab Darus.
Bapak Irwan juga tersenyum, ia juga teringat kembali dengan masa lalu yang memang penuh dengan gerakan-gerakan organisasi, rasanya sudah cukup ia makan asam garam kehidupan, terlebih lagi untuk urusan politik.
Sekilas ia melihat sosok Win, wajahnya memang terlihat betul-betul seperti layaknya seorang penggerak, wajahnya terlihat begitu keras, matanya sedikit agak licik yang memang dibutuhkan dalam dunianya yang keras itu, tapi terlihat ada sedikit kelembutan di wajahnya itu. Kulitnya memang agak hitam, seperti kulit kebanyakan dari suku Jawa yang sawo matang, atau mungkin ada keturunan dari sana pikir Bapak Irwan. Lantas ia melihat kepada Chandra dengan muka yang lumayan menarik, kulit yang bersih, namun matanya menunjukkan terlihat mata yang suka menerawang, sosok manusia yang menurutnya selalu berpikir ke depan. Sedangkan Adnan sepertinya sosok anak mama, mungkin waktu ikut gerakan dulu ia hanya menjadi seorang pelengkap saja. Sedangkan yang dua lagi ia sudah mengetahuinya dengan cukup baik.
“Okelah, jadi apa tujuan ketemu dengan saya…Darus ?”, tanya Bapak Irwan.
Semuanya sejenak terdiam, mereka semua berpikir kalau seseorang menjadi pejabat memang berubah, padahal dahulu sewaktu mereka masih sama-sama susah mereka tidur dalam sartu bantal, merokok bersama dan bercanda bersama. Tapi Darus memang tahu betul sosok Bapak Irwan ini adalah sosok yang keras dan kalau dalam keadaan ia tertekan terkadang emosinya cepat memuncak. Namun dibalik itu semua ia pandai memanfaatkan emosinya itu untuk kepentingannya. Sehingga terkadang teman-temannya selalu berpikir bahwa ia pura-pura marah saja.
“Baik, Pak. Begini Pak, langsung saja ke persoalannya. Kami berlima sedang kesulitan sekarang ini, kami sedang mencoba membuka usaha, tapi kesulitan sekarang karena terbentur modal, kami mohon agar bapak dapat memberikan jalan kepada kami, atau jika memang itu tidak memungkinkan bagaimana caranya agar kami dapat bekerja,” kata Darus.
“Mmmhh, seringkali aku berpikir bagaimana kiranya aku harus balas budi dengan mereka semua, mereka tidak salah, tapi bukankah aku sudah memberikan banyak kesempat pekerjaan kepada mereka, terutama si Darus ini. Darus, Darus, harusnya engkau bisa memberikan mereka sebuah pekerjaan, tapi kau malah bawa pula mereka kesini,” ujar Bang Irwan dalam hatinya.
“Kau bisa apa Win?” tanya Bang Irwan kepada Win.
Win tiba-tiba hatinya sedikit terbang karena ia mendapatkan perhatian dari orang yang dianggapnya sombong itu, tapi ia menyadari juga bahwa kesombongan adalah milik para idealis. Dengan sedikit agak cuek dia berkata dengan meyakinkan, “Saya bisa bahasa Prancis, Inggris, mantan aktifis, saya yakin saya bisa menyelematkan kebijakan Bapak Irwan,”
Bapak Irwan hanya bisa menatap mata Win, lantas dalam hati ia berkata,”Kebijakan apa yang bisa kau selamatkan ? Dari matamu saja aku tahu bahwa kau tak pantas untuk ikut aku, sedikit saja kau tidak dituruti maka kau akan melawan, dirimu memang seperti teman-temanmu korban konflik, tidak panjang pikiran, jiwanmu penuh konflik. Sudah puluhan tahun aku bergabung dengan orang-orang seperti kau Win. Sombong sekali kau ya. Kurasa kau hanya pandai bahasa saja, tapi analisismu masih kurang, sudah bosan aku dengan orang-orang sepertimu. Aku akan test kau”
“Baiklah, aku akan test kalian bertiga, Win, Adnan dan Chandra bila saya ada di dalam sebuah konflik, lantas saya dalam keadaan kesulitan, apa yang akan engkau akan berikan jika punya 3 pilihan yang pertama memberikan aku rokok, kedua memberikan aku pedang atau yang ketiga memberikan aku air. Mana yang kau pilih dan sebutkan dari yang pertama sampai yang terakhir, juga jangan lupa ceritakan alasannya,” tanya Bapak Irwan.
Sejenak Win terdiam, ia tersenyum pongah, kemudian ia berkata,”Aku akan beri Bapak Pedang dahulu agar Bapak bisa menghabisi musuh-musuh Bapak, baru kemudian Air dan terakhir adalah rokok. Dengan memberikan aku pedang terlebih dahulu maka Bapak bisa menghabiskan musuh-musuh Bapak, baru kemudian Bapak bisa minum air untuk menenangkan diri dan bersantai setelah semuanya selesai denganmerokok.”.
Bapak Irwan lantas memandang kepada Adnan.
“Mmmhh, kalau saya tentunya akan memberikan air dulu kepada Bapak, agar Bapak tenang, bapak bisa berpikir. Setelah itu saya akan memberikan pedang kepada Bapak untuk melakukan apa yang Bapak lakukan. Dan terakhir tentunya saya akan memberikan rokok sebagai tanda kemenangan Bapak. Dengan memberikan bapak air maka bapak akan tenang, hingga bapak bisa menghabisi musuh-musuh bapak dan merokok untuk kemenangan bapak” Kata Adnan dengan datar.
“Baiklah. Kau Chandra ya…?” tanya Bapak Irwan.
“Kalau saya Pak, saya akan memberikan bapak rokok dulu agar Bapak tahu arti kemenangan terlebih dahulu, baru kemudian saya memberikan pedang dan terakhir air. Ketika saya memberikan bapak rokok maka saya berharap bapak yakin bahwa kemenangan sudah di tangan Bapak, lalu bapak bisa menghabisi musuh bapak dengan pedang bapak, dan bapak bisa tenang dengan meminum air untuk menghilangkan kecapean Bapak,” jawab Chandra agar terbata-bata.
Mendengar ketiganya Bapak Irwan hanya tersenyum sinis. “Kalau kau apa Ara ?”. Tanyanya kepada si tukang rusuh.
“He he, kalau saya mudah saja Pak. Pertama kali yang saya lakukan adalah saya ajak bapak menjauh dari konflik, kemudian saya suruh Bapak sembunyi dan saya yang akan merokok dulu lantas menebas mereka semua dengan pedang saya kemudian saya akan minum air lantas tertidur…ha ha ha ha”kata Ara dengan tertawa lepas.
Mendengar gurauan si Ara semuanya tertawa lepas, tapi Bapak Irwan menangkap sesuatu yang baru dari pemikiran Ara, ada usaha Ara untuk terlebih dahulu menyelamatkan atasannya untuk kemudian menghadapi persoalannya itu untuk pimpinannya,”Kamu memang hebat Ara dari dulu, rasanya kau tidak menyetujui satupun dari mereka untuk dapat membantuku” kata Bapak Irwan dalam hatinya.
Lalu ia memanggil Darus,”Darus, rasanya tidak satu orangpun yang bisa membela aku semua, si Win itu rasanya hanya akan membawa aku selalu dalam konflik, jiwanya itu jiwa konflik. Si Adnan hanya membawa saya lembat dalam mengambil keputusan, dan si Chandra yang memang ada pemikiran ke depan, tapi Ara yang memang sangat melindungi aku ya…he he he. Kamu akan saya berikan proyek untuk membangun jalan di daerah Berantah, kamu ajak teman-teman kamu dan jadikan Ara yang memimpin ya” ujar Bapak Irwan.
Mendengar hal tersebut Darus hanya tersennyum, memang si Ara itu cerdas tapi berpura-pura seperti orang Gila. Ia sudah mengerti maksud dari Bapak Irwan tersebut. Lantas ia kembali ke tempat duduknya, Bapak Irwan terlihat pergi ke kamar mandinya, lalu tak lama kemudian ia kembali ke tempat duduknya.
“Begini saja ya, tadi saya sudah memberitahukan kepada Darus bahwa mulai besok kamu dapat bekerja semua dengan Darus, pulang dari sini Darus agar ke Minati dan katakana bahwa proyek yang tadi agar dikerjakan oleh kalian.” Kata Bapak Irwan.
Kelima-limanya lantas meninggalkan ruangan Bapak Irwan dengan senang hati , tidak terkecuali Win yang memang sudah sangat berharap itu.
Setelah itu mereka pergi merayakan keberhasilan mereka untuk sebuah proyek itu, lumayan proyek itu seharga 500 juta, mereka akan mengantongi bersih sekitar 25% dari total harga, belum lagi pekerjaan yang didapatkan oleh Adnan dan Chandra sesuai dengan kualifikasi mereka, namun tidak begitu halnya dengan Win yang hanya menguasai ilmu pergerakan dan 2 bahasa yang juga dikuasai oleh kedua temannya tersebut. Ia sedikit agak menyesal sekarang karena tidak menyelesaikan kuliahnya.
Mereka pun melakukan beberapa kali pertemuan, pertemuan pertama mereka membagi uang sisa proyek, pertemuan kedua Win di depak dengan dikatakan bahwa ia sudah tidak dibutuhkan lagi saat ini dengan alasan bahwa ilmunya tidak bisa digunakan dalam proyek ini, tidak seperti halnya Adnan dan Chandra. Mereka mendepaknya seperti halnya strategi blankon jawa, mereka melakukannya secara perlahan, mereka begitu menghormati dia hanya untuk mengambil hatinya untuk kemudian menyuruhnya pergi dengan santun sekali. “Blankon Jawa…” teriaknya dalam hati.
05 Februari 2009
Anekdot Ketika Tuhan Ingin Menciptkan Manusia Berasal Dari Jawa, Aceh dan Gayo
Suatu ketika Tuhan ingin menciptkan manusia, tapi dia kebingungan akan melahirkan dari suku mana manusia ini, karena dia sudah terlanjur mengatakan bahwa Ia menciptkan manusia dari berbagai suku bangsa, ntah itu Jawa, Aceh, Gayo, Bugis, Arya, Mongolia, dan lain sebagainya. Ia tahu bahwa ini merupakan salah satu hak prerogatifnya, Ia punya kebebasan untuk hal yang satu ini, karena Ia adalah Sang Pencipta, dan semua selain Nya hanyalah karena dari kemurahannya.
Namun, sebelum Ia menciptakan manusia tersebut terlebih dahulu Ia menciptakan nurnya, cahayanya, kalau bisa dikatakan nur itu adalah sebuah main chip pada manusia. Namun demikian sebagai Tuhan maka dibalik keangkuhannya sudah barang tentu Ia harus memberikan dahulu kebebasan kepada makhluk ciptaanNya itu. Sehingga kelak manusia ciptaanNya itu tidak lagi mempersalahkan Nya karena merasa sudah dipaksa untuk menjadi salah satu suku bangsa yang sengaja Ia ciptakan tersebut.
Dalam Kitab Lauh Mahfudz (LM), ia sebenarnya telah menuliskan bahwa yang namanya Erwin Abdullah atau Win saja berasal dari suku Gayo, kemudian Darus berasal dari suku Aceh dan Slamet berasal dari suku Jawa. Namun sebelum ia menjadikan mereka itu manusia Ia ingin menanyakan kepada mereka masing-masing akan pilihan yang diberikannya.
Dari sejarah yang tertulis di kitab LM berdasarkan suku paling tua yang diciptkan maka mengatakan bahwa suku Jawa adalah sebuah suku yang merupakan paling tertua, kemudian dilanjutkan dengan suku Gayo dan terakhir suku Aceh.
Lantas Tuhan kemudian berpikir kepada siapa ia harus bertanya terlebih dahulu, dalam pemikiran normalnya harusnya Tuhan bertanya kepada yang lebih tua baru kepada yang paling muda tentunya. Tapi ia berubah pikiran rupanya ia ingin bertanya dulu kepada suku yang paling muda, yaitu suku Aceh.
Tuhan : “Darus, apa kamu mau lahir dari ibu yang bersuku Aceh, dan bapakmu juga dari Aceh ?
Aceh dalam perspektif Tuhan adalah sebagai masyakarat yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang berbaur menjadi satu, sehingga secara genetic mereka akan melahirkan generasi-generasi yang sangat luar biasa kelak.
Karena dalam pemikiran Tuhan ketika ia menciptakan Adam untuk kemudian beranak pinak sampai dengan adanya Slamet, Win dan Darus. Ketika hanya ada Adam dan Hawa yang merupakan manusia tersempurna yang pernah diciptakan Tuhan maka ia telah membagi kesempurnannya melalui anak cucunya Adam. Yang awalnya anaknya kawin dengan anaknya dan seterusnya mencari hubungan terjauh dari darah mereka dengan harapan akan melahirkan sebuah generasi yang semakin pintar dan cerdas. Ini juga yang terjadi di Aceh, sebuah generasi yang merupakan percampuran dari berbagai macam suku bangsa. Dan tipikal mereka adalah nelayan, pelaut sehingga tipikal mereka tipikal yang keras dan sukar untuk diatur.
Darus : “Apa saya bisa memilih Tuhan ?”
Tuhan : “Oh, tentu, tentu kau bisa, Aku adalah Maha Segalanya, tentu aku akan berikan kebebasan kepadamu untuk memilih”
Darus : “Bagi saya Tuhan saya bangga jadi Aceh, saya tidak suka menjadi Gayo terlebih lagi Jawa, ketidaksukaan saya kepada suku Gayo dan Jawa karena mental mereka itu mental Petani, sedangkan saya terbiasa hidup di lautan yang ganas dan saya membuthkan sebuah kebebasan untuk mengekpresikan diri saya”
Tuhan : “Win, ayo Win jelaskan apa kamu mau lahir dari suku Gayo ?”
Gayo merupakan sebuah suku yang dikenal dari berbagai macam suku bangsa juga, namun ia terlihat lebih santun dengan adat malunya yang amat besar, pada dasarnya Gayo mirip juga dengan Aceh hanya saja ada kekhasan dari Gayo dengan adat malunya dan sedikit sifa ekslusifismenya dan tipikal mereka adalah Petani.
Win : “Bagi saya Tuhan saya bangga jadi Gayo, saya malu kalau melanggar titah dari Tuhan”
Tuhan : “Kalau kau gimana Slamet”
Jawa, merupakan suku tertua, juga merupakan suku yang filosofinya adalah bertani, mirip dengan Gayo.
Slamet : Tuhan, saya ikut saja, apa yang Tuhan perintahkan maka itu akan jadi kewajiban saya”
Tuhan : “Jadi kalian semua tidak keberatan dengan apa yang sudah Saya tetapkan kelak, nah sekarang saya akan sedikit memberikan rahasia saya kepada kamu semua, apa yang akan terjadi kepada kamu semua”
Lanjut Tuhan : “Barus, daerah kamu nantinya akan selalu dilanda konflik yang berkepanjangan karena keturunan kamu itu keras-keras dan susah diatur oleh siapapun, kamu juga punya sifat sombong pada diri kamu, kamu akan selalu disanjung-sanjung untuk kemudian ternyata hanya menghancurkan kamu”
Tuhan berpaling ke Win : “Win, daerah kamu akan menjadi daerah yang diperebutkan, belahan-belahan dari suku kamu senang kali berpecah karena memang dasar kalian juga keras, tapi pertanianlah yang sedikit telah melunakkan hati kalian dan agama kalian.
Suku kamu selalu bersifat mendua karenanya, karena juga memang tidak bisa disatukan, itu juga karena malu kalian yang terlalu besar”
Kemudian ke Slamet : Slamet, suku kamu sangat banyak, lebih banyak dari kedua adikmu itu karena kamu yang tertua, semua sifat kebaikan dan keburukan telah ada pada kamu pada awalnya dan adik-adik kamu itu kemudian mengikutinya. Setiap kejahatan yang adik-adik kamu lakukan pasti sudah kamu lakukan terlebih dahulu, setiap kebaikan dari yang adik-adik kamu lakukan pasti sudah kamu lakukan dulu. Sehingga kamu akhirnya menggunakannya untuk membodoh-bodohi adik-adik kamu”
Semua terdiam mendengar Tuhan.
Tiba-tiba Darus berkata :” Tuhan saya mau jadi orang Jawa saja, saya mau jadi yang pertama kali melakukan semuanya”
Win : “Tidak Tuhan, saya tidak perlu itu semua, saya tetap jadi Gayo saja, selama saya merasa lebih aman dan tenang menjadi Gayo”
Slamet : “Semua saya serahkan kepada Tuhan, apapun perintah Tuhan maka saya akan mematuhinya”
Kemudian Tuhan berkata lagi, saya akan memberikan lagi sebuah rahasia kehidupan kalian kelak : “Darus kalau kamu tetap pada pilihan kamu, maka kamu akan menjadi pemimpin dari persatuan yang nanti terjadi diantara saudara-saudara kamu. Sedangkan kamu Win, kamu ke depan kamu akan terus mencari jatidiri kamu hingga daerah kamu lah yang kemudian akan menjadi ajang pertempuran selama beberapa waktu. Terakhir Slamet, kamu akan mulai goyah, kamu akan mengalami masanya kemunduran karena setiap yang aku ciptkan akan mengalami itu semua. Nah, jadi apa pilihan kalian sekarang ?”
Darus : “Saya mau jadi suku Aceh saja Tuhan, sudahlah itu saja pilihan saya”
Win : “Mmmmh, kalau boleh saya berubah jadi suku Jawa saja Tuhan, mungkin itu jadi lebih baik bagi saya”
Slamet : “Semua perintah daulat Paduku Tuhan selalu akan saya patuhi, karena saya percaya dengan kehendak Tuhan”
Tuhan hanya tersipu-sipu mendengar itu semua.
Baiklah ini rahasiaku terakhir : “Darus, Win dan Slamet, kalian semua akan jadi dikubur, dimakan cacing dan jadi tanah kembali, tidak ada satupun dari kalian langsung masuk syurga, semua dari kalian akan masuk ke dalam neraka terlebih dahulu, apa pilihan kalian ?
Semuanya terkaget-kaget mendengar perkataan Tuhan, kecuali suku Jawa.
Darus : “Tuhan, kalau gitu aku jadi suku Aceh saja, tapi sebelum Tuhan masukkan aku ke neraka maka jadikan dulu aku Penguasa bumi”
Win : “Tuhan, jangan seperti itu Tuhan, pilihkan aku menjadi suku lain saja yang tidak masuk api neraka, malu akau dengan semua saudara-saudaraku kelak, ampuni aku Tuhan”
Slamet : “Apapun yang Tuhan berikan kepada aku maka aku akan menerimanya, titah Engkau adalah jalan hidupku”
Akhirnya Tuhan terdiam kemudian ia memberikan sebuah keputusan yang cukup mengangetkan semuanya : “Darus kamu akan saya lahirkan dari suku Jawa, Win kamu akan aku lahirkan dari suku Aceh dan Slamet akan aku lahirkan dari suku Gayo”.
Semuanya bertanya : “Tuhan kenapa Engkau lakukan itu semua ?”
Tuhan menjawab : “Karena aku punya kuasa, kalian semua tidak akan pernah tahu lahir dari suku mana, aku hanya mengingatkan kepada kalian semua bahwa semuanya sama, dari suku manapun karena kalian tidak pernah tahu mau lahir dari selangkangan perempuan mana. Dan ingat itupun kalau Aku berkenan, karena itu kalian tidak berhak mencaci suku manapun dan merasa lebih baik dari suku manapun. Yang ada pada diri kalian adalah sama Jasad, Rohani dan Nafsu. Yang ada pada lingkungan kalian Cuma 2 kejahatan dan kebaikan. Yang selalu mengikuti kalian juga 2 golongan yaitu malaikat dan syetan. Dan yang akan menghancurkan kalian seperti iblis juga Cuma 1 yaitu kesombongan.”
Dalam cerita ini saya mencoba kepada teman-teman agar tidak lagi terhasut dengan Jawa, Aceh atau Gayo karena semuanya sama, hanya manusia dan lingkungan serta pengaruh lainnya lah yang telah merubah pemikiran mereka. Dan yang terpenting adalah jauhkan sifat sombong dan dendam, karena sampai kapanpun ini akan menjadi lingkaran setan yang hanya akan membuat kita menjadi tertinggal. Kalau pun ada yang bisa menyatukan kita adalah hati nurani kita sebagai seorang manusia.
Ketika saya termenung saya sadar bahwa saya tidak pernah tahu lahir dari suku manapun juga, saya sadar itu, yang ada saya hanya menangis dan menghadapi kehidupan yang keras ini, tanpa tahu akan jadi apa kelak, rasanya semua dari kita juga seperti itu.
Oleh sebab itu, ketika kita memilih sebuah pilihan, maka jadikan pilihan itu yang akan memberikan kemashalatan bagi orang banyak, bukan kemudian membuat orang hancur dalam pertikaian. Kalaupun harus bertikai jangan dengan sesama saudara seiman, bahkan ketika berperang pun kita tidak diperkenankan membunuh anak-anak dan perempuna juga rumah ibadah.
Kenapa saya ceritakan anekdot ini atau apapun namanya, karena siapapun yang terus mengobarkan semangat untuk konflik dengan mengatasnamakan Jawa adalah orang yang teramat picik dengan pemikiran yang teramat sempit dan hatinya penuh dengan kebencian yang akan membuat semua kita menuju kehancuran.
Saya benci GAM dulu, karena ia membawa rakyat Aceh dengan isu kemerdekaan dan perang ashobiyah atau penjajahan indon tanpa melihat bahwa lawannya adalah kaum muslimin juga. Saya tidak suka mengikut didong jalu Win Wan Nur karena saya kasihan dengan jiwanya itu, selalu menginginkan konflik, anda akan bisa melihat nanti dalam tulisan-tulisannya sekarang ini yang menunjukkan keasliannya. Didong dalam Gayo adalah bagaimana berpantun, ini adalah semangat melayu seperti yang ada di padang dan daerah melayu lainnya, bahkan mereka ada yang bersilat, tapi bukan untuk kemudian mencaci maki, karena Islam tidak mengajarkan itu, sudah sering saya katakan.
Siapapun yang kembali mengobarkan konflik di Aceh dengan berbagai macam cara seperti Aceh Merdeka dengan konsep Penajajah Jawa-Indon, Gayo Merdeka, Tengku VS Teuku Jilid ke 2, menjayakan Kesultanan Aceh kembali, semua itu menurut saya adalah sia-sia.
Kemerdekaan bagi saya adalah ketika orang Aceh telah berhasil memegang tampuk kekuasaan di berbagai instansi, HDI orang Aceh meningkat, kesejahteraan orang Aceh tinggi, kesatuan Islam terjalin dengan kuat sehingga tidak lagi diadudomba. Aceh yang kuat tidak terkungkung pada pikiran merdeka, Aceh yang kuat dengan SDM yang kuat, bukan lagi nasionalisme atau sukuisme yang dikedepankan akan tetapi sudah melangkah kepada humanisme, melangkah kepada tataran yang lebih tinggu lagi tataran ilahiah atau hati nurani.
Namun, sebelum Ia menciptakan manusia tersebut terlebih dahulu Ia menciptakan nurnya, cahayanya, kalau bisa dikatakan nur itu adalah sebuah main chip pada manusia. Namun demikian sebagai Tuhan maka dibalik keangkuhannya sudah barang tentu Ia harus memberikan dahulu kebebasan kepada makhluk ciptaanNya itu. Sehingga kelak manusia ciptaanNya itu tidak lagi mempersalahkan Nya karena merasa sudah dipaksa untuk menjadi salah satu suku bangsa yang sengaja Ia ciptakan tersebut.
Dalam Kitab Lauh Mahfudz (LM), ia sebenarnya telah menuliskan bahwa yang namanya Erwin Abdullah atau Win saja berasal dari suku Gayo, kemudian Darus berasal dari suku Aceh dan Slamet berasal dari suku Jawa. Namun sebelum ia menjadikan mereka itu manusia Ia ingin menanyakan kepada mereka masing-masing akan pilihan yang diberikannya.
Dari sejarah yang tertulis di kitab LM berdasarkan suku paling tua yang diciptkan maka mengatakan bahwa suku Jawa adalah sebuah suku yang merupakan paling tertua, kemudian dilanjutkan dengan suku Gayo dan terakhir suku Aceh.
Lantas Tuhan kemudian berpikir kepada siapa ia harus bertanya terlebih dahulu, dalam pemikiran normalnya harusnya Tuhan bertanya kepada yang lebih tua baru kepada yang paling muda tentunya. Tapi ia berubah pikiran rupanya ia ingin bertanya dulu kepada suku yang paling muda, yaitu suku Aceh.
Tuhan : “Darus, apa kamu mau lahir dari ibu yang bersuku Aceh, dan bapakmu juga dari Aceh ?
Aceh dalam perspektif Tuhan adalah sebagai masyakarat yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang berbaur menjadi satu, sehingga secara genetic mereka akan melahirkan generasi-generasi yang sangat luar biasa kelak.
Karena dalam pemikiran Tuhan ketika ia menciptakan Adam untuk kemudian beranak pinak sampai dengan adanya Slamet, Win dan Darus. Ketika hanya ada Adam dan Hawa yang merupakan manusia tersempurna yang pernah diciptakan Tuhan maka ia telah membagi kesempurnannya melalui anak cucunya Adam. Yang awalnya anaknya kawin dengan anaknya dan seterusnya mencari hubungan terjauh dari darah mereka dengan harapan akan melahirkan sebuah generasi yang semakin pintar dan cerdas. Ini juga yang terjadi di Aceh, sebuah generasi yang merupakan percampuran dari berbagai macam suku bangsa. Dan tipikal mereka adalah nelayan, pelaut sehingga tipikal mereka tipikal yang keras dan sukar untuk diatur.
Darus : “Apa saya bisa memilih Tuhan ?”
Tuhan : “Oh, tentu, tentu kau bisa, Aku adalah Maha Segalanya, tentu aku akan berikan kebebasan kepadamu untuk memilih”
Darus : “Bagi saya Tuhan saya bangga jadi Aceh, saya tidak suka menjadi Gayo terlebih lagi Jawa, ketidaksukaan saya kepada suku Gayo dan Jawa karena mental mereka itu mental Petani, sedangkan saya terbiasa hidup di lautan yang ganas dan saya membuthkan sebuah kebebasan untuk mengekpresikan diri saya”
Tuhan : “Win, ayo Win jelaskan apa kamu mau lahir dari suku Gayo ?”
Gayo merupakan sebuah suku yang dikenal dari berbagai macam suku bangsa juga, namun ia terlihat lebih santun dengan adat malunya yang amat besar, pada dasarnya Gayo mirip juga dengan Aceh hanya saja ada kekhasan dari Gayo dengan adat malunya dan sedikit sifa ekslusifismenya dan tipikal mereka adalah Petani.
Win : “Bagi saya Tuhan saya bangga jadi Gayo, saya malu kalau melanggar titah dari Tuhan”
Tuhan : “Kalau kau gimana Slamet”
Jawa, merupakan suku tertua, juga merupakan suku yang filosofinya adalah bertani, mirip dengan Gayo.
Slamet : Tuhan, saya ikut saja, apa yang Tuhan perintahkan maka itu akan jadi kewajiban saya”
Tuhan : “Jadi kalian semua tidak keberatan dengan apa yang sudah Saya tetapkan kelak, nah sekarang saya akan sedikit memberikan rahasia saya kepada kamu semua, apa yang akan terjadi kepada kamu semua”
Lanjut Tuhan : “Barus, daerah kamu nantinya akan selalu dilanda konflik yang berkepanjangan karena keturunan kamu itu keras-keras dan susah diatur oleh siapapun, kamu juga punya sifat sombong pada diri kamu, kamu akan selalu disanjung-sanjung untuk kemudian ternyata hanya menghancurkan kamu”
Tuhan berpaling ke Win : “Win, daerah kamu akan menjadi daerah yang diperebutkan, belahan-belahan dari suku kamu senang kali berpecah karena memang dasar kalian juga keras, tapi pertanianlah yang sedikit telah melunakkan hati kalian dan agama kalian.
Suku kamu selalu bersifat mendua karenanya, karena juga memang tidak bisa disatukan, itu juga karena malu kalian yang terlalu besar”
Kemudian ke Slamet : Slamet, suku kamu sangat banyak, lebih banyak dari kedua adikmu itu karena kamu yang tertua, semua sifat kebaikan dan keburukan telah ada pada kamu pada awalnya dan adik-adik kamu itu kemudian mengikutinya. Setiap kejahatan yang adik-adik kamu lakukan pasti sudah kamu lakukan terlebih dahulu, setiap kebaikan dari yang adik-adik kamu lakukan pasti sudah kamu lakukan dulu. Sehingga kamu akhirnya menggunakannya untuk membodoh-bodohi adik-adik kamu”
Semua terdiam mendengar Tuhan.
Tiba-tiba Darus berkata :” Tuhan saya mau jadi orang Jawa saja, saya mau jadi yang pertama kali melakukan semuanya”
Win : “Tidak Tuhan, saya tidak perlu itu semua, saya tetap jadi Gayo saja, selama saya merasa lebih aman dan tenang menjadi Gayo”
Slamet : “Semua saya serahkan kepada Tuhan, apapun perintah Tuhan maka saya akan mematuhinya”
Kemudian Tuhan berkata lagi, saya akan memberikan lagi sebuah rahasia kehidupan kalian kelak : “Darus kalau kamu tetap pada pilihan kamu, maka kamu akan menjadi pemimpin dari persatuan yang nanti terjadi diantara saudara-saudara kamu. Sedangkan kamu Win, kamu ke depan kamu akan terus mencari jatidiri kamu hingga daerah kamu lah yang kemudian akan menjadi ajang pertempuran selama beberapa waktu. Terakhir Slamet, kamu akan mulai goyah, kamu akan mengalami masanya kemunduran karena setiap yang aku ciptkan akan mengalami itu semua. Nah, jadi apa pilihan kalian sekarang ?”
Darus : “Saya mau jadi suku Aceh saja Tuhan, sudahlah itu saja pilihan saya”
Win : “Mmmmh, kalau boleh saya berubah jadi suku Jawa saja Tuhan, mungkin itu jadi lebih baik bagi saya”
Slamet : “Semua perintah daulat Paduku Tuhan selalu akan saya patuhi, karena saya percaya dengan kehendak Tuhan”
Tuhan hanya tersipu-sipu mendengar itu semua.
Baiklah ini rahasiaku terakhir : “Darus, Win dan Slamet, kalian semua akan jadi dikubur, dimakan cacing dan jadi tanah kembali, tidak ada satupun dari kalian langsung masuk syurga, semua dari kalian akan masuk ke dalam neraka terlebih dahulu, apa pilihan kalian ?
Semuanya terkaget-kaget mendengar perkataan Tuhan, kecuali suku Jawa.
Darus : “Tuhan, kalau gitu aku jadi suku Aceh saja, tapi sebelum Tuhan masukkan aku ke neraka maka jadikan dulu aku Penguasa bumi”
Win : “Tuhan, jangan seperti itu Tuhan, pilihkan aku menjadi suku lain saja yang tidak masuk api neraka, malu akau dengan semua saudara-saudaraku kelak, ampuni aku Tuhan”
Slamet : “Apapun yang Tuhan berikan kepada aku maka aku akan menerimanya, titah Engkau adalah jalan hidupku”
Akhirnya Tuhan terdiam kemudian ia memberikan sebuah keputusan yang cukup mengangetkan semuanya : “Darus kamu akan saya lahirkan dari suku Jawa, Win kamu akan aku lahirkan dari suku Aceh dan Slamet akan aku lahirkan dari suku Gayo”.
Semuanya bertanya : “Tuhan kenapa Engkau lakukan itu semua ?”
Tuhan menjawab : “Karena aku punya kuasa, kalian semua tidak akan pernah tahu lahir dari suku mana, aku hanya mengingatkan kepada kalian semua bahwa semuanya sama, dari suku manapun karena kalian tidak pernah tahu mau lahir dari selangkangan perempuan mana. Dan ingat itupun kalau Aku berkenan, karena itu kalian tidak berhak mencaci suku manapun dan merasa lebih baik dari suku manapun. Yang ada pada diri kalian adalah sama Jasad, Rohani dan Nafsu. Yang ada pada lingkungan kalian Cuma 2 kejahatan dan kebaikan. Yang selalu mengikuti kalian juga 2 golongan yaitu malaikat dan syetan. Dan yang akan menghancurkan kalian seperti iblis juga Cuma 1 yaitu kesombongan.”
Dalam cerita ini saya mencoba kepada teman-teman agar tidak lagi terhasut dengan Jawa, Aceh atau Gayo karena semuanya sama, hanya manusia dan lingkungan serta pengaruh lainnya lah yang telah merubah pemikiran mereka. Dan yang terpenting adalah jauhkan sifat sombong dan dendam, karena sampai kapanpun ini akan menjadi lingkaran setan yang hanya akan membuat kita menjadi tertinggal. Kalau pun ada yang bisa menyatukan kita adalah hati nurani kita sebagai seorang manusia.
Ketika saya termenung saya sadar bahwa saya tidak pernah tahu lahir dari suku manapun juga, saya sadar itu, yang ada saya hanya menangis dan menghadapi kehidupan yang keras ini, tanpa tahu akan jadi apa kelak, rasanya semua dari kita juga seperti itu.
Oleh sebab itu, ketika kita memilih sebuah pilihan, maka jadikan pilihan itu yang akan memberikan kemashalatan bagi orang banyak, bukan kemudian membuat orang hancur dalam pertikaian. Kalaupun harus bertikai jangan dengan sesama saudara seiman, bahkan ketika berperang pun kita tidak diperkenankan membunuh anak-anak dan perempuna juga rumah ibadah.
Kenapa saya ceritakan anekdot ini atau apapun namanya, karena siapapun yang terus mengobarkan semangat untuk konflik dengan mengatasnamakan Jawa adalah orang yang teramat picik dengan pemikiran yang teramat sempit dan hatinya penuh dengan kebencian yang akan membuat semua kita menuju kehancuran.
Saya benci GAM dulu, karena ia membawa rakyat Aceh dengan isu kemerdekaan dan perang ashobiyah atau penjajahan indon tanpa melihat bahwa lawannya adalah kaum muslimin juga. Saya tidak suka mengikut didong jalu Win Wan Nur karena saya kasihan dengan jiwanya itu, selalu menginginkan konflik, anda akan bisa melihat nanti dalam tulisan-tulisannya sekarang ini yang menunjukkan keasliannya. Didong dalam Gayo adalah bagaimana berpantun, ini adalah semangat melayu seperti yang ada di padang dan daerah melayu lainnya, bahkan mereka ada yang bersilat, tapi bukan untuk kemudian mencaci maki, karena Islam tidak mengajarkan itu, sudah sering saya katakan.
Siapapun yang kembali mengobarkan konflik di Aceh dengan berbagai macam cara seperti Aceh Merdeka dengan konsep Penajajah Jawa-Indon, Gayo Merdeka, Tengku VS Teuku Jilid ke 2, menjayakan Kesultanan Aceh kembali, semua itu menurut saya adalah sia-sia.
Kemerdekaan bagi saya adalah ketika orang Aceh telah berhasil memegang tampuk kekuasaan di berbagai instansi, HDI orang Aceh meningkat, kesejahteraan orang Aceh tinggi, kesatuan Islam terjalin dengan kuat sehingga tidak lagi diadudomba. Aceh yang kuat tidak terkungkung pada pikiran merdeka, Aceh yang kuat dengan SDM yang kuat, bukan lagi nasionalisme atau sukuisme yang dikedepankan akan tetapi sudah melangkah kepada humanisme, melangkah kepada tataran yang lebih tinggu lagi tataran ilahiah atau hati nurani.
04 Februari 2009
Gamang Memberi Arti ?
Bagian pertama
Ketika sampai dirumahnya Umar menemukan Win sudah ada di ruang tamunya, duduk di sofa tamunya yang lembut, menunggunya. Umar memang mempunyai rumah yang indah yang lengkap dengan perabotan mewahnya sekaligus halaman yang luas.
“Hmmm. Asslam Win,” sapa Umar
“Hai, Wasslm. Wah saudaraku yang luar biasa ini sudah datang rupanya,” jawab Win.
“Kaifa haluk ?” tanya Umar
“Ahlan wa sahlan, syukron akhi, antum ?” Jawab Win.
“Alhamdulillan baik, ada apa Win, tumben kau kemari, ada yang bisa kubantu,” tanya Umar kembali.
“Hah, jangan begitu kau Umar, aku hanya ingin bercerita kepadamu. Tapi kau jauh berubah sekarang ya, rumahmu mewah sekali, ketika aku ke sini tadi hampir aku tidak percaya ini rumahmu. Anak dan istrimu juga cantik dan gagah-gagah. Kau buat aku iri kawan, iri dengan semuanya. Ketika melihat anakmu yang perempuan aku teringat anakku yang kecelakaan. Aku merindukannya Mar,” kata Win sambil berkaca-kaca air matanya.
“Sabar Win, inget Tuhan…ah sudahlah jangan lah kita berdiskusi kembali tentang Tuhan, aku sudah tahu jawabanmu,” cepat-cepat Umar berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mar, kau ingat tentang pembicaraan kita sebelum aku pergi ke Denmark dan kau ke Mesir tentang Kemerdekaan, waktu itu kita berdebat keras bahwa kemerdekaan menurut kamu adalah ketika kita merdeka dari yang namanya kemiskinan dan kebodohan tanpa harus menjadi sebuah Institusi atau Negara selama mereka tidak melakukan pembudakan. Tapi aku bersikeras bahwa kemerdekaan itu harus diraih bila sudah punya institusi yang mengayomi kepentingan kita, setelah itu baru kita mengejar ketertinggalan, apapun pengorbanannya” kata Win.
“Ha ha, ya aku ingat itu. Kau tetap tidak mau mengakui argumenku bahwa bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah setiap keluarga di dunia ini punya keinginan Merdeka, gila kan kalau ini terjadi, jangan-jangan nanti akan ada Negara Cahaya dan Langit..ha ha ha.” Ujar Umar.
“Ah, aku masih tidak setuju dengan kau Mar. Kau tidak tahu apa-apa tentang kemerdekaan, bagiku lebih baik kita jadi sebuah keluarga yang punya kehormatan dengan mengorbankan yang harus dikorbankan sebagai pahlawan, bukankah itu lebih heroic. Kehormatan Mar, kehormatan…tak ngerti kau Mar tentang hal itu karena kau terlalu banyak baca Kitab sejak dulu,” jawab Win.
“Win, apa yang kau inginkan dari kemerdekaan ? Apa Win ? Bukankah yang kita tuju tetap kepada memerdekakan diri kita dari kemisikinan dan kebodohan dari pada kau sebar itu konflik lantas kita harus masuk ke dalam lingkaran setan berupa dendam dan intimidasi, berpikirlah kau Win,” kata Umar lantang, rupanya ia sudah terbawa kembali masa lalu ketika mereka berdua muda berdebat.
“Itulah kau Mar sejak dulu tidak pernah lepas dari mata kudamu, ya itu dengan Agama gilamu itu, lepas Mar, berpikir merdeka. Kita ini punya darah pejuang, darah anti dijajah orang lain, kita ini punya kelebihan sama orang-orang bodoh di bawah kita itu. Sekarang gimana caranya kita menguasai orang-orang bodoh itu untuk kemudian kita bakar semangat mereka untuk merdeka lantas kita jadi pemimpin dan kemudian kembali membodohi mereka. Jangan lupa kita siapin pengganti kita dari anak-anak kita, ha ha,” ujar Win sambil tertawa.
Umar terheran-heran dengan Win, pemikiran-pemikiran ini pernah ia dapat dari Illuminati sewaktu pertama kali, walau ia mengikutinya ia tetap mempertanyakannya dihatinya, rupanya aku masih punya filter, tapi Win Gila ini menelan habis cerita itu dan bahkan ia sudah punya kemampuan untuk menambah-nambahnya.
Umar menarik nafas panjang kemudian berkata ““Dari dulu aku selalu mengatakan bahwa Islam tidak pernah mengijinkan kita untuk berjuang dengan ashobiyah atau golongan, kau pernah dengar hadistnya kan. Win semakin gila kau Win, lebih dari dulu..he he,” sahut Umar.
“Terserah kau lah. Mar, aku mau minta bantuan kamu untuk itu. Aku mau pimpin Keluarga ini, aku mau turunkan dulu bapak-bapak kita yang sudah tua itu, mereka sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertindak, mereka sudah pikun semua. Aku mau buat cheos keluarga ini sebelum kemudian menghancurkan keluarga Langit,” kata Win bersemangat.
“Ah, kau Win. Kau mau mengambil hakku ya..he he. Tapi sebelum itu kau harus lihat dulu tayangan ini,” kata Umar dengan corak wajah yang tiba-tiba menyendu.
Umar bangkit dari tempat duduknya dan menghidupkan TV serta alat pemutar Video kemudian berkata “Win, aku ada wawancara dengan keluarga kita yang hidupnya tidak seberuntung kita yang aku filmkan, aku melakukan ini tempo hari untuk mejadi bahan penelitianku tentang kondisi keluarga kita yang sudah mulai kehilangan kebersamaannya ini,” kata Umar.
Di layar Televisi terlihat bahwa Umar berjalan-jalan dipinggiran kota, ia mengunjungi sebuah rumah gubuk yang terlihat memiriskan hati bagi orang yang melihatnya.
Tok tok tok, suara pintu diketuk oleh Nur.
“Asslm,” kata Umar.
“Wasslm, siapa ya,” jawab orang yang ada di dalam rumah itu.
“Umar Nek, ini cucu Nenek. Masih ingat kan ? “ ujar Umar.
Terdengar suara batuk-batuk dari dalam rumah tersebut. Krreekk, pintu reot itu terbuka perlahan dan terlihat seorang wanita tua yang sudah agak bungkuk, wajah dan tangannya ditutupi keriput yang menandakan ketuaannya, rambutnya yang sudah memutih semua di tutupi oleh pakaian bersih yang sangat tua tanpa model yang amat dekil, tapi matanya masih terlihat tajam.
“Uh, siapa ni. Nenek da lupa, masuk, masuk, duduk, duduk” kata Nenek lirih.
Terlihat di TV Umar menyalami nenek tersebut sambil mencium tangannya. Win berkata “Wah, kau seperti masih dalam zaman feodal saja..he he,”
Umar hanya melirik saja kepada Win sambil tersenyum sinis.
Kembali ke layar televise, terlihat Umar duduk di sebuah kursi tua yang terbuat dari rotan, kondisinya sudah amat mengharubirukan. Rumah gubuk itu ternyata hanya mempunyai 3 ruangan, ruang tamu bergabung dengan dapur berukuran 4 x 5 m, kemudian sebuah ruangan yang menjadi kamar bagi nenek itu dan sebuah kamar mandi sepertinya dipojok kanan rumah. Ketika nenek itu sedang mempersiapkan minuman bagi mereka berdua tanpa sengaja kameraman memperlihatkan bahwa di dalam kamar nenek itu seorang anak yang sepertinya berumur 9 tahun sedang tertidur dengan pulas.
Melihat hal ini Umar teringat kembali masa-masa kecilnya dahulu yang penuh dengan kehangatan dari nenek dan kakeknya memeliharanya. Walau bedanya ialah anak itu dalam keadaan yang serba kekurangan sedangkan ia dapat dikatakan berkecukupan.
Umar sejak kecil memang sudah yatim piatu sejak berumur 5 tahun, kedua orang tunya telah menjadi korban konflik antara Keluarga Cahaya dan Keluarga Langit. Semenjak itu pula ia di asuh oleh kakek dan neneknya dengan segenap kasih sayang sehingga ia terbebas dari akibat psikologis seperti korban konflik lainnya. Kakek dan Neneknya selalu menyuruhnya untuk dekat kepada Tuhan, tidak boleh mendendam dan memberikannya semua keindahan sebuah keluarga. Ia diasuh oleh keduanya sampai ia pergi ke Mesir. Keduanya meninggalkan dunia ini ketika ia baru 3 bulan di Mesir dan mendengar bahwa keduanya meninggal karena kecelakaan. Semenjak itulah ia di Mesir berusaha untuk dapat menyambung hidup dengan segala upayanya melanjutkan kuliahnya.
Sejarah hidupnya inilah yang mendekatkan dirinya dengan Win, seperti juga dirinya hal ini terjadi juga dengan Win, tapi bedanya Win masa kecilnya agak berbeda dengannya sejak kecil sudah harus membawa dendam dihatinya. Kalau ia diasuh oleh Kakek Neneknya dengan menghilangkan dendam dari hatinya tapi Win hidup dengan pamannya bersama sepupu-sepupunya dalam dendam. Ia megetahui ini karena mereka SD satu bangku, masuk pesantren dari SMP dan SMA juga bersama-sama. Dibalik kebuasannya sebenarnya dalam diri Win masih ada sedikit kelembutan dan kebaikan yang selama ini dicoba ditutupinya juga karena ia terkadang kelepasan dalam setiap ucapan dan tindakkannya. Dan ini menyebabkan ia harus bisa bersikap seperti apa yang ia ucapkan dan tindakannya. “Kasihan kau Win, malah kau sekarang masuk ke dalam perangkap Illuminati, padahal kalau kau tahu kau hanya sebagai pion yang akan dikorbankan tentu kau akan berpikir 1000 kali mengikuti wanita setan itu. Walau aku masuk tapi aku masih punya hal-hal yang kupersiapkan untuk kepentingan aku, aku menggunakan mereka untuk kepentinganku,” ujar Umar dalam hatinya.
“Kamu siapa, tapi wajah kamu sepertinya mengingatkan aku akan seseorang ?” tanya Nenek.
“Saya Umar Nek, anaknya Indah, saya dulu sering main ke sini bersama kakek dan nenek. Mungkin nenek ingat sama dengan Ida, Nenek saya,”kata Umar.
Terlihat nenek itu berpikir keras,tiba-tiba wajahnya semeringah “Iya, nenek inget sekarang, ya ya kamu, da besar dan ganteng lagi sekarang ya…,” katanya. Kemudian nenek bangkit dari duduknya dan memeluknya serta mencium dahinya.
“ Iya Nek, sudah hampir setahun aku ada disini, dan baru bisa mendapatkan alamat Nenek sekarang. Dengan siapa sekarang, Nek ? Kemana om Adi dan Ali, kenapa nenek tidak tinggal bersama mereka, dan itu siapa yang di kamar?” tanya Umar setelah Nenek itu mengenalinya, karena memang Umar sejak dahulu selain sama kakek dan neneknya dekat dengan keluarga ini.
Nenek itu tiba-tiba sesegukan menahan sedihnya, air mata mulai keluar berjatuhan tanpa bisa tertahan lagi, kemudian ia berkata “Umar, semuanya sudah habis karena konflik, semuanya sudah diambil Tuhan, hanya Tari satu-satunya yang tinggal bersama Nenek, dial ah yang mengurus Nenek. Tapi nenek tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya, nenek tidak punya apa-apa, untuk menyabung hidup nenek mendapat bantuan dari saudara-saudaramu hingga sekarang bisa berjualan alakadarnya di pasar dekat rumah ini Umar,” jawab Nenek.
Mendengar hal tersebut hati Umar menangis, tanpa terasa ia meneteskan air matanya. Ia teringat kakek neneknya yang juga berjuang baginya untuk mendapatkan pendidikan yang baik, tapi ini. Ini merupakan sebuah siksaan bagi nenek yang sudah tua ini. “Konflik…konflik…konflik…kenapa kita semua mau ke dalam konflik, apakah kalau kita tidak mau konflik kemudian dikatakan pengecut. Kenapa orang-orang yang gila konflik itu tidak berlaku seperti Mahatma Gandhi yang telah memerdekakan India tanpa harus dengan perang yang mengorbankan orang ribuan. Atau kenapa harus konflik kalau kami yang masih seiman ini masih bisa bersama untuk menjunjung perdamaian. Layakkah perang ini terjadi kalau masih bisa ada kedamaian yang bisa dicapai ? Laknatullah kau yang telah menyukai konflik,” tiba-tiba Umar berteriak dalam hatinya.
Ketika ia tersadar dari teriakan hatinya ia sadar bahwa mungkin ia juga telah terjerumus kedalam konflik ini atau sedang terjerumus. Ketika masuk kedalam kelompok Illuminati ia sudah mengadakan kesepakatan untuk tidak terjebak dengan konflik yang ada pada keluarganya saat ini. Tapi ia telah berulang kali membantu untuk kepentingan Illuminati untuk membuat cheos berbagai keluarga dan membuat hancur berbagai organisasi. Tapi khusus untuk dari kalangan yang seiman dengannya ia hanya memberikan informasi penting tentang actor-aktor yang berperan serta perencanan dari organisasi yang akan dihancurkan tersebut, tapi ia juga tahu actor-aktor yang menghancurkan agamanya itu. Hal inilah yang membuat ia berdua muka. Mukanya tiba-tiba memerah dan tangannya gemetar menahan amarah dan penyesalan yang ada pada dirinya.
Nenek itu bangkit dari kursinya dan mengambil sesuatu dari kamarnya, “Cucunda, nenek diberi fhoto oleh salah satu keluarga kita bagaimana keluarga kami dibantai oleh orang-orang yang tidak dikenal, bahkan pelakunya sampai saat ini belum ditangkap. Tapi dari bukti-bukti ini dilakukan oleh Keluarga Langit…hu hu,” tiba-tiba nenek itu menderu tangisnya.
Foto-foto itu memang menggambarkan kebiadaban dari penbantaian tersebut, bahkan rasanya ini di luar kemanusiaan atau bahkan sengaja dibuat untuk membuat panas situasi orang yang melihatnya. Foto yang disorot oleh Kameranya temannya Umar memperlihatkan bahwa mayat-mayat tersebut sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, bahkan bagian dari terpotong-potong itu terlihat hangus, wajah mereka juga semuanya sekarang sudah tidak dikenal lagi. Terlihat terdapat 4 mayat orang dewasa dan 1 mayat anak kecil.
Melihat fhoto-fhoto ini Umar tak kuasa lagi menahan sedih dan amarahnya, terlihat di layar Televisi itu ia segera keluar rumah tersebut, ntah apa yang dilakukannya.
Umar yang menonton hanya dapat menarik nafas panjang, karena diluar ia memukulkan tangannya ke pohon pisang hingga pohon itu tumbang, karena untuk meluapkan kemarahannya ia telah memukul dengan keras berkali-kali pohon itu menumpahkan segala kemarahannya dan rasa bersalahnya.
Tak lama kemudian Umar memasuki rumah tersebut dengan raut muka yang sudah agak tenang.
“Umar, kedua pamanmu menurut otopsi Pemerintah darahnya telah habis sebelum dibakar, rasanya mereka telah menguras darah dari kedua pamanmu sebelum dibunuh,” lanjut nenek itu sambil sesenggukan.
“Iya Nek, sabar ya Nek, nanti Umar akan cari tahu siapa yang telah membunuh keluarga nenek, harus sabar ya. Ini Nek, ada sedikit rezeki dari saya untuk Nenek, mudah-mudahan Nenek bisa menggunakannya untuk usaha dan ini juga bisa membantu Tari untuk sekolah sampai SMA,”
“Umar, terima kasih Umar, kamu baik sekali, semoga Allah akan memberikan kamu berkah dan rahmatnya. Ingat Umar, jangan tergoda bisikan syetan, semua kekerasan yang sekarang terjadi di daerah kita adalah bisikan iblis yang terkutuk, dimana manusia sudah menjadi serakah, manusia sudah menjadi binatang dan yang lebih bahaya lagi manusia sudah menjadi sombong seperti iblis, sehingga ia merasa dirinya paling mulia dibandingkan manusia lainnya dan merasa pantas untuk bisa menghina manusia lain yang bukan dari golongannya. Terakhir pesan nenek Umar, jangan kamu sekali-kali menyimpan dendam, karena Nabi tidak pernah mengajarkan kita dendam, itu semua adalah perbuatan syetan. Nenek bisa lihat kamu masih ada gundah dengan semuanya, ingat pesan nenek ya Umar..” nenek itu kembali sesenggukan lebih keras kali ini. Seolah-olah nenek itu tahu apa yang ada di hati Umar, seolah-olah ia mengerti apa kegundahan Umar.
Mendengar hal itu Umar tak kuasa memeluk neneknya itu, ia juga meneteskan air matanya. Tak lama kemudian ia membelai pipi nenek itu kemudian kepalanya dan mengecup keningnya, selanjutnya berkata “Iya Nek, terima kasih Nek. Doakan Umar. Asslm,” salam Umar kemudian ia bersama temannya meninggalkan rumah tersebut.
Umar lantas mematikan TV tersebut, dan berkata “Win, gimana Win, kamu da lihat kan akibat konflik, tidak saja fisik tapi juga psikis, dan kita yang menjadi salah satu korbannya, kita juga merasakan kan Win,” ujar Umar.
Win yang sejak tadi diam karena batinnya kembali terlibat konflik hanya menganggukkan kepala saja.
Seperti juga Umar, ketika ia melihat anak kecil tadi ia juga teringat dirinya. Ia telah megarungi hidup yang berat karena konflik, karena ia merupakan korban konflik. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh Keluarga Langit, dendam sudah tertanam dalam hatinya. Ia selalu berniat suatu saat ia harus berhasil menjadi orang yang punya kekuasaan untuk menghancurkan Keluarga Langit bagaimanapun caranya.
Terlintas kembali olehnya dokumen rahasia yang diberikan Nur kepadanya bagaimana upaya dari Illuminati untuk membuat 2 keluarga itu terus bertempur dengan alasan Keluarga Langit memang tidak layak diberikan ada dengan semua ulahnya, ini menyebabkan ada sedikit kesal dalam diri Win. Dokumen yang dibacanya juga menceritakan bahwa Keluarga Cahayalah yang sesungguh lebih baik daripada Keluarga Langit, kemunduran Keluarga Cahaya selama ini karena mereka telah terjajah puluhan tahun lamanya. Bahkan dokumen tersebut juga menunjukkan data-data kebiadaban yang terjadi selama konflik berlangsung.
Semuanya seolah-olah berupaya menunjukkan bahwa yang menyebabkan terjadinya konflik ini adalah karena Keluarga Langit menjajah Keluarga Cahaya, yang menyebabkan kemunduran. Dan yang terpenting menurut Illuminati bahwa Langit harus dienyahkan, dan kedamaian hakiki itu tidak akan pernah ada selama ada Keluarga Langit di muka bumi ini. Hal inilah yang menyebabkan Illuminati selalu berupaya berulangkali dengan strateginya untuk dapat mengobarkan perang kembali untuk mengembalikan kejayaan dari Keluarga Cahaya. Dan adalah hal yang wajar jika yang nantinya sebagian keuntungan akan diberikan kepada actor-aktor yang berjasa, demikianlah yang terpikir di otaknya si Win yang egoismenya kini sudah menjadi Tuhan.
Memikirkan ini semua maka semakin tertutup hati Win, semakin dendam kepada Keluarga Langit dan kepada Tuhan semua itu menjadi tertutup, ia tidak peduli lagi dengan korban tambahan yang harus dikorbankan. Semua itu semakin menjadi ditambah dengan keangkuhannya, yang sudah terlukiskan dengan segala perbuatan dan perkataannya. Yang pasti apapun yang akan diberitahukan kepadanya untuk mencegah konflik kembali adalah seperti masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sungguh ironis…
Bagian kedua
Umar yang melihat Win terdiam saja dengan dingin setelah melihat film tersebut hanya bisa diam juga seperti patung melihat sahabatnya sepertinya sudah tidak lagi mempunyai hati nurani dan akal yang dapat dipergunakan untuk kebaikan keluarganya. Hanya konflik saja yang dipikirkannya. “Sungguh wanita setan itu telah berhasil mempengaruhinya dengan sebaik-baiknya,” dalam hati Umar berkata.
“Win…,” dengan sedikit membentak Nur menghardik Win.
Win yang terdiam, tiba-tiba sadar dari lamunannya. “Afwan Akhi, maaf, apa tadi yang kau katakana ?” tanyanya.
“Apa tanggapan kau tentang film tadi, konflik yang berkepanjangan ternyata hanya membawa anak-anak kembali menjadi seperti kita dahulu, selalu dalam kesulitan dan selalu dalam dendam,” tanyanya kembali.
“Oh, itu tadi adalah salah satu pengorbanan dari keluarga kita untuk mempertahankan kehormatan kita, mereka yang meninggal itu adalah pahlawan keluarga kita,” jawab Win singkat.
“Tapi apa yang mereka dapat kecuali mereka kembali dalam kesusahan, engkau tidak dengan kata-kata terakhir dari nenek kita tadi agar kita tidak memdendam, karena itu adalah perbuatan setan. Lagian menurut aku kalau sesama saudara muslim itu berperang amat dibenci Allah. Win membunuh 1 orang nyawa muslim sama dosanya dengan kita membunuh semua muslim yang ada di dunia ini, bila ada satu orang muslim yang terluka maka kita akan merasakannya juga, apakah kau mau memotong tanganmu sendiri ?” kata Umar.
“Kalau memang tangan itu adalah penyakit maka aku akan rela memotongnya, agar penyakit itu tidak menyebar,” jawab Win.
“Lantas apa engkau yakin bahwa tangan itu memang sakit sehingga engkau mau memotongnya ?” tanya Umar kembali.
“Iya, mereka adalah penyakit, kita seperti sekarang karena tingkah pola mereka, kalau mereka hilang tentu kita akan lebih aman, dan itu lebih baik kita hidup dengan satu tangan daripada hidup 2 tangan dengan satu tangan berpenyakit,” jawab Win dengan lantang karena ia merasa mendapatkan angin segar untuk dapat menekan setiap perkataan dari Umar saat ini.
“Sungguh kau sudah gila Win, kalau kau mau memotong tanganmu sendiri walau engkau tidak tahu mereka itu penyakit atau bukan sudah barang tentu engkau akan rela membunuh keluargamu sendiri untuk mendapatkan ambisi gilamu itu,” kata Umar sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“Gini Win, aku tidak suka dengan pemikiran kamu ini, mereka saudara kita, mereka mengucapkan syahadat, dan lagi yang kita perjuangkan sekarang adalah ashobiyah, barang siapa yang melakukannya maka ia tidak akan masuk ke dalam golongan Nabi Muhammad,” tukas Umar.
“Aku tidak peduli Mar, engkau suka atau tidak suka, aku tetap dengan prinsip aku, kalau perlu aku mati menghancurkan mereka,” kata Win dengan berapi-api.
“Istigfar Win. Kau harus tahu Win sebenarnya yang membuat kita berkelahi dengan mereka hanya karena pepesan kosong yang seharusnya bukan dijadikan alasan untuk perang. Hanya karena dulu nenek moyang kita memperebutkan harta warisan, lantas berlanjut sampai sekarang, kau tahu itu kan. Satu lagi kita merasa paling hebat sejak zaman dulu dari mereka, tapi apa yang kita dapat sekarang mereka sudah berlari menuju bulan kita malah menggali sumur kematian keluarga kita sendiri. Pikirkan ini Win” jawab Umar.
“Aku sudah tidak peduli lagi Mar, aku hanya ingin merebut kembali harta warisan itu, kalau dari belahan lain tidak bisa sekarang adalah giliran aku untuk mendapatkannya,” ujar Win dengan sedikit bersungut-sungut mulutnya menunjukkan kekesalan dirinya.
Umar hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat Win yang begitu keras kepala, sampai-sampai semua perkataannya sepertinya menjadi sia-sia. Kembali ia menarik nafas panjang. “Huh, aku rasa selain nafsu gilamu kau memang sudah berhutang budi terlalu banyak Win dengan Illuminati, apa yang sudah diberikannya uang, harta, tubuhnya atau apa, menyedihkan kau Win,” kata Umar dalam hatinya.
Tiba-tiba Umar bertanya dengan lembut kepada Win,“Win, apakah menurut hati kecilmu hanya untuk mengejar sebuah kehormatan keluarga lantas kita bisa mengorbankan semuanya, bahkan mengorbankan keluarga kita yang lain, itu satu. Yang kedua, untuk tanah warisan itu siapa yang punya Win, hanya Tuhan yang punya, apakah engkau tahu ratusan tahun yang lalu itu tanah kepunyaan siapa ? Jawab Win, apakah aku salah ketika aku katakana ini semua hanya pepesan kosong, jawab Win. Terakhir, sudahkah kau berpikir panjang ke depan atas apa yang terjadi saat ini, untung ruginya bagi keturunan kita kelak ?,”
Tiba-tiba Umar melanjutkan kata-katanya “Sebelum kau menjawab Win, kau ingat apa yang di bilang nenek di video tadi yang mengatakan bahwa darah kedua pamanku habis, itu menandakan bahwa kedua pamanku sudah terkena ritual dari salah satu sekte setan yang menganggap orang itu lebih rendah dari pada dirinya, mereka menggunakan darah dari pamanku untuk pesta agama mereka, dan sekte itulah yang telah merusak semua generasi keluarga kita selalu dalam konflik. Sekarang masihkah kau tidak percaya kalau kita semua ini hanya dijadikan pion untuk mereka mengeruk keuntungan dari pertikaian keluarga cahaya dan keluarga langit,”
Win terlihat galau pada wajahnya, ia mulai meneteskan air matanya, namun matanya masih menunjukkan dendam membara yang ada pada hatinya. Tangannya terlihat mengetuk-ngetuk pinggiran sofa yang didudukinya. Kakinya juga demikian mengantuk-ngatuk ubin yang ada di bawahnya. Seperti halnya iblis yang merasa kehilangan muka ketika Tuhan menciptakan Adam dan menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam. Sejak dari dulu yang menyebabkan manusia ini hancur adalah rasa sombong dan dendam, seperti halnya iblis, seperti apa yang dikatakan nenek tadi.
“Tidak Umar,” teriak Win. “Aku tidak peduli semua, kalau perlu semua akan kuhancurkan, aku hanya mau Keluarga Langit hancur karena mereka telah mengambil hak keluarga kita dan aku dendam kepada mereka, mereka membunuh keluargaku, aku mau bunuh mereka semua, aku mau…aku mau… aku lebih baik dari mereka….” sambil bangkit dari duduknya dan berbicara dengan tersengal-sengal menumpahkan semua kemarahannya dengan berteriak-teriak.
“Win, tenang kau, ini rumahku, jangan bikin malu kau,” tegur Umar secara berbisik keras sambil menarik tangan Umar untuk segera duduk kembali dan menenangkan diri.
“Tenang sobat, tenang, kita teman bukan,” lanjut Umar menenangkan Win.
Win terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sebentara ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Memang wataknya sulit berubah, mungkin ini terjadi hampir kepada semua korban konflik yang ada di dunia ini, perkembangan korteks yang tidak normal dan menimbulkan gangguan emosional. Ini pulalah yang nantinya pada daerah konflik itu akan besar potensi konfliknya karena mereka sudah sedemikian rupa telah dibuat menjadi orang yang bersifat reaksioner dan pendendam. Perlu ada sebuah penanganan khusus bagi anak-anak korban konflik, Umar merupakan contoh mata bagaimana ia bisa keluar dari trauma konflik, adanya kasih sayang dari kedua kakek neneknya. Sehingga ia mampu untuk keluar dari lingkaran itu.
Hati Umar ingin sekali bisa menyadarkan Win bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, bahwa ia akan dijadikan korban dan semua yang ia kumpulkan akan musnah seperti halnya dengan mudah ia mendapatkannya. Ketika istrinya memanggil Umar untuk makan malam, maka Umar lantas mengajak Win untuk makan malam bersama keluarganya yang telah menunggunya. Sejenak Win dan Umar melupakan semua hal yang mereka berdebatkan, mereka membicarakan hal-hal lain berkenaan dengan keluarga Umar, anaknya yang baru bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, istrinya yang kesulitan ke pasar karena tersesat, Umar yang sungkan dengan wanita-wanita Indonesia yang terlalu ramah dan masih banyak hal lain.
Namun sesekali terlihat bahwa wajah Win terbersit kesedihan yang selalu dicoba ditutupinya ketika datang, ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bahagia dengan hidupnya. Ia menceritakan istrinya yang kini sudah terkenal, sebagi figure masyarakat, masuk ke dalam kalangan artis dan elit. Istri Umar yang bernama Anisah itu mungkin tidak dapat melihatnya, tapi Umar jelas dapat melihat perubahan wajah pada sahabatnya itu.
bersambung..
Ketika sampai dirumahnya Umar menemukan Win sudah ada di ruang tamunya, duduk di sofa tamunya yang lembut, menunggunya. Umar memang mempunyai rumah yang indah yang lengkap dengan perabotan mewahnya sekaligus halaman yang luas.
“Hmmm. Asslam Win,” sapa Umar
“Hai, Wasslm. Wah saudaraku yang luar biasa ini sudah datang rupanya,” jawab Win.
“Kaifa haluk ?” tanya Umar
“Ahlan wa sahlan, syukron akhi, antum ?” Jawab Win.
“Alhamdulillan baik, ada apa Win, tumben kau kemari, ada yang bisa kubantu,” tanya Umar kembali.
“Hah, jangan begitu kau Umar, aku hanya ingin bercerita kepadamu. Tapi kau jauh berubah sekarang ya, rumahmu mewah sekali, ketika aku ke sini tadi hampir aku tidak percaya ini rumahmu. Anak dan istrimu juga cantik dan gagah-gagah. Kau buat aku iri kawan, iri dengan semuanya. Ketika melihat anakmu yang perempuan aku teringat anakku yang kecelakaan. Aku merindukannya Mar,” kata Win sambil berkaca-kaca air matanya.
“Sabar Win, inget Tuhan…ah sudahlah jangan lah kita berdiskusi kembali tentang Tuhan, aku sudah tahu jawabanmu,” cepat-cepat Umar berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mar, kau ingat tentang pembicaraan kita sebelum aku pergi ke Denmark dan kau ke Mesir tentang Kemerdekaan, waktu itu kita berdebat keras bahwa kemerdekaan menurut kamu adalah ketika kita merdeka dari yang namanya kemiskinan dan kebodohan tanpa harus menjadi sebuah Institusi atau Negara selama mereka tidak melakukan pembudakan. Tapi aku bersikeras bahwa kemerdekaan itu harus diraih bila sudah punya institusi yang mengayomi kepentingan kita, setelah itu baru kita mengejar ketertinggalan, apapun pengorbanannya” kata Win.
“Ha ha, ya aku ingat itu. Kau tetap tidak mau mengakui argumenku bahwa bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah setiap keluarga di dunia ini punya keinginan Merdeka, gila kan kalau ini terjadi, jangan-jangan nanti akan ada Negara Cahaya dan Langit..ha ha ha.” Ujar Umar.
“Ah, aku masih tidak setuju dengan kau Mar. Kau tidak tahu apa-apa tentang kemerdekaan, bagiku lebih baik kita jadi sebuah keluarga yang punya kehormatan dengan mengorbankan yang harus dikorbankan sebagai pahlawan, bukankah itu lebih heroic. Kehormatan Mar, kehormatan…tak ngerti kau Mar tentang hal itu karena kau terlalu banyak baca Kitab sejak dulu,” jawab Win.
“Win, apa yang kau inginkan dari kemerdekaan ? Apa Win ? Bukankah yang kita tuju tetap kepada memerdekakan diri kita dari kemisikinan dan kebodohan dari pada kau sebar itu konflik lantas kita harus masuk ke dalam lingkaran setan berupa dendam dan intimidasi, berpikirlah kau Win,” kata Umar lantang, rupanya ia sudah terbawa kembali masa lalu ketika mereka berdua muda berdebat.
“Itulah kau Mar sejak dulu tidak pernah lepas dari mata kudamu, ya itu dengan Agama gilamu itu, lepas Mar, berpikir merdeka. Kita ini punya darah pejuang, darah anti dijajah orang lain, kita ini punya kelebihan sama orang-orang bodoh di bawah kita itu. Sekarang gimana caranya kita menguasai orang-orang bodoh itu untuk kemudian kita bakar semangat mereka untuk merdeka lantas kita jadi pemimpin dan kemudian kembali membodohi mereka. Jangan lupa kita siapin pengganti kita dari anak-anak kita, ha ha,” ujar Win sambil tertawa.
Umar terheran-heran dengan Win, pemikiran-pemikiran ini pernah ia dapat dari Illuminati sewaktu pertama kali, walau ia mengikutinya ia tetap mempertanyakannya dihatinya, rupanya aku masih punya filter, tapi Win Gila ini menelan habis cerita itu dan bahkan ia sudah punya kemampuan untuk menambah-nambahnya.
Umar menarik nafas panjang kemudian berkata ““Dari dulu aku selalu mengatakan bahwa Islam tidak pernah mengijinkan kita untuk berjuang dengan ashobiyah atau golongan, kau pernah dengar hadistnya kan. Win semakin gila kau Win, lebih dari dulu..he he,” sahut Umar.
“Terserah kau lah. Mar, aku mau minta bantuan kamu untuk itu. Aku mau pimpin Keluarga ini, aku mau turunkan dulu bapak-bapak kita yang sudah tua itu, mereka sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertindak, mereka sudah pikun semua. Aku mau buat cheos keluarga ini sebelum kemudian menghancurkan keluarga Langit,” kata Win bersemangat.
“Ah, kau Win. Kau mau mengambil hakku ya..he he. Tapi sebelum itu kau harus lihat dulu tayangan ini,” kata Umar dengan corak wajah yang tiba-tiba menyendu.
Umar bangkit dari tempat duduknya dan menghidupkan TV serta alat pemutar Video kemudian berkata “Win, aku ada wawancara dengan keluarga kita yang hidupnya tidak seberuntung kita yang aku filmkan, aku melakukan ini tempo hari untuk mejadi bahan penelitianku tentang kondisi keluarga kita yang sudah mulai kehilangan kebersamaannya ini,” kata Umar.
Di layar Televisi terlihat bahwa Umar berjalan-jalan dipinggiran kota, ia mengunjungi sebuah rumah gubuk yang terlihat memiriskan hati bagi orang yang melihatnya.
Tok tok tok, suara pintu diketuk oleh Nur.
“Asslm,” kata Umar.
“Wasslm, siapa ya,” jawab orang yang ada di dalam rumah itu.
“Umar Nek, ini cucu Nenek. Masih ingat kan ? “ ujar Umar.
Terdengar suara batuk-batuk dari dalam rumah tersebut. Krreekk, pintu reot itu terbuka perlahan dan terlihat seorang wanita tua yang sudah agak bungkuk, wajah dan tangannya ditutupi keriput yang menandakan ketuaannya, rambutnya yang sudah memutih semua di tutupi oleh pakaian bersih yang sangat tua tanpa model yang amat dekil, tapi matanya masih terlihat tajam.
“Uh, siapa ni. Nenek da lupa, masuk, masuk, duduk, duduk” kata Nenek lirih.
Terlihat di TV Umar menyalami nenek tersebut sambil mencium tangannya. Win berkata “Wah, kau seperti masih dalam zaman feodal saja..he he,”
Umar hanya melirik saja kepada Win sambil tersenyum sinis.
Kembali ke layar televise, terlihat Umar duduk di sebuah kursi tua yang terbuat dari rotan, kondisinya sudah amat mengharubirukan. Rumah gubuk itu ternyata hanya mempunyai 3 ruangan, ruang tamu bergabung dengan dapur berukuran 4 x 5 m, kemudian sebuah ruangan yang menjadi kamar bagi nenek itu dan sebuah kamar mandi sepertinya dipojok kanan rumah. Ketika nenek itu sedang mempersiapkan minuman bagi mereka berdua tanpa sengaja kameraman memperlihatkan bahwa di dalam kamar nenek itu seorang anak yang sepertinya berumur 9 tahun sedang tertidur dengan pulas.
Melihat hal ini Umar teringat kembali masa-masa kecilnya dahulu yang penuh dengan kehangatan dari nenek dan kakeknya memeliharanya. Walau bedanya ialah anak itu dalam keadaan yang serba kekurangan sedangkan ia dapat dikatakan berkecukupan.
Umar sejak kecil memang sudah yatim piatu sejak berumur 5 tahun, kedua orang tunya telah menjadi korban konflik antara Keluarga Cahaya dan Keluarga Langit. Semenjak itu pula ia di asuh oleh kakek dan neneknya dengan segenap kasih sayang sehingga ia terbebas dari akibat psikologis seperti korban konflik lainnya. Kakek dan Neneknya selalu menyuruhnya untuk dekat kepada Tuhan, tidak boleh mendendam dan memberikannya semua keindahan sebuah keluarga. Ia diasuh oleh keduanya sampai ia pergi ke Mesir. Keduanya meninggalkan dunia ini ketika ia baru 3 bulan di Mesir dan mendengar bahwa keduanya meninggal karena kecelakaan. Semenjak itulah ia di Mesir berusaha untuk dapat menyambung hidup dengan segala upayanya melanjutkan kuliahnya.
Sejarah hidupnya inilah yang mendekatkan dirinya dengan Win, seperti juga dirinya hal ini terjadi juga dengan Win, tapi bedanya Win masa kecilnya agak berbeda dengannya sejak kecil sudah harus membawa dendam dihatinya. Kalau ia diasuh oleh Kakek Neneknya dengan menghilangkan dendam dari hatinya tapi Win hidup dengan pamannya bersama sepupu-sepupunya dalam dendam. Ia megetahui ini karena mereka SD satu bangku, masuk pesantren dari SMP dan SMA juga bersama-sama. Dibalik kebuasannya sebenarnya dalam diri Win masih ada sedikit kelembutan dan kebaikan yang selama ini dicoba ditutupinya juga karena ia terkadang kelepasan dalam setiap ucapan dan tindakkannya. Dan ini menyebabkan ia harus bisa bersikap seperti apa yang ia ucapkan dan tindakannya. “Kasihan kau Win, malah kau sekarang masuk ke dalam perangkap Illuminati, padahal kalau kau tahu kau hanya sebagai pion yang akan dikorbankan tentu kau akan berpikir 1000 kali mengikuti wanita setan itu. Walau aku masuk tapi aku masih punya hal-hal yang kupersiapkan untuk kepentingan aku, aku menggunakan mereka untuk kepentinganku,” ujar Umar dalam hatinya.
“Kamu siapa, tapi wajah kamu sepertinya mengingatkan aku akan seseorang ?” tanya Nenek.
“Saya Umar Nek, anaknya Indah, saya dulu sering main ke sini bersama kakek dan nenek. Mungkin nenek ingat sama dengan Ida, Nenek saya,”kata Umar.
Terlihat nenek itu berpikir keras,tiba-tiba wajahnya semeringah “Iya, nenek inget sekarang, ya ya kamu, da besar dan ganteng lagi sekarang ya…,” katanya. Kemudian nenek bangkit dari duduknya dan memeluknya serta mencium dahinya.
“ Iya Nek, sudah hampir setahun aku ada disini, dan baru bisa mendapatkan alamat Nenek sekarang. Dengan siapa sekarang, Nek ? Kemana om Adi dan Ali, kenapa nenek tidak tinggal bersama mereka, dan itu siapa yang di kamar?” tanya Umar setelah Nenek itu mengenalinya, karena memang Umar sejak dahulu selain sama kakek dan neneknya dekat dengan keluarga ini.
Nenek itu tiba-tiba sesegukan menahan sedihnya, air mata mulai keluar berjatuhan tanpa bisa tertahan lagi, kemudian ia berkata “Umar, semuanya sudah habis karena konflik, semuanya sudah diambil Tuhan, hanya Tari satu-satunya yang tinggal bersama Nenek, dial ah yang mengurus Nenek. Tapi nenek tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya, nenek tidak punya apa-apa, untuk menyabung hidup nenek mendapat bantuan dari saudara-saudaramu hingga sekarang bisa berjualan alakadarnya di pasar dekat rumah ini Umar,” jawab Nenek.
Mendengar hal tersebut hati Umar menangis, tanpa terasa ia meneteskan air matanya. Ia teringat kakek neneknya yang juga berjuang baginya untuk mendapatkan pendidikan yang baik, tapi ini. Ini merupakan sebuah siksaan bagi nenek yang sudah tua ini. “Konflik…konflik…konflik…kenapa kita semua mau ke dalam konflik, apakah kalau kita tidak mau konflik kemudian dikatakan pengecut. Kenapa orang-orang yang gila konflik itu tidak berlaku seperti Mahatma Gandhi yang telah memerdekakan India tanpa harus dengan perang yang mengorbankan orang ribuan. Atau kenapa harus konflik kalau kami yang masih seiman ini masih bisa bersama untuk menjunjung perdamaian. Layakkah perang ini terjadi kalau masih bisa ada kedamaian yang bisa dicapai ? Laknatullah kau yang telah menyukai konflik,” tiba-tiba Umar berteriak dalam hatinya.
Ketika ia tersadar dari teriakan hatinya ia sadar bahwa mungkin ia juga telah terjerumus kedalam konflik ini atau sedang terjerumus. Ketika masuk kedalam kelompok Illuminati ia sudah mengadakan kesepakatan untuk tidak terjebak dengan konflik yang ada pada keluarganya saat ini. Tapi ia telah berulang kali membantu untuk kepentingan Illuminati untuk membuat cheos berbagai keluarga dan membuat hancur berbagai organisasi. Tapi khusus untuk dari kalangan yang seiman dengannya ia hanya memberikan informasi penting tentang actor-aktor yang berperan serta perencanan dari organisasi yang akan dihancurkan tersebut, tapi ia juga tahu actor-aktor yang menghancurkan agamanya itu. Hal inilah yang membuat ia berdua muka. Mukanya tiba-tiba memerah dan tangannya gemetar menahan amarah dan penyesalan yang ada pada dirinya.
Nenek itu bangkit dari kursinya dan mengambil sesuatu dari kamarnya, “Cucunda, nenek diberi fhoto oleh salah satu keluarga kita bagaimana keluarga kami dibantai oleh orang-orang yang tidak dikenal, bahkan pelakunya sampai saat ini belum ditangkap. Tapi dari bukti-bukti ini dilakukan oleh Keluarga Langit…hu hu,” tiba-tiba nenek itu menderu tangisnya.
Foto-foto itu memang menggambarkan kebiadaban dari penbantaian tersebut, bahkan rasanya ini di luar kemanusiaan atau bahkan sengaja dibuat untuk membuat panas situasi orang yang melihatnya. Foto yang disorot oleh Kameranya temannya Umar memperlihatkan bahwa mayat-mayat tersebut sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, bahkan bagian dari terpotong-potong itu terlihat hangus, wajah mereka juga semuanya sekarang sudah tidak dikenal lagi. Terlihat terdapat 4 mayat orang dewasa dan 1 mayat anak kecil.
Melihat fhoto-fhoto ini Umar tak kuasa lagi menahan sedih dan amarahnya, terlihat di layar Televisi itu ia segera keluar rumah tersebut, ntah apa yang dilakukannya.
Umar yang menonton hanya dapat menarik nafas panjang, karena diluar ia memukulkan tangannya ke pohon pisang hingga pohon itu tumbang, karena untuk meluapkan kemarahannya ia telah memukul dengan keras berkali-kali pohon itu menumpahkan segala kemarahannya dan rasa bersalahnya.
Tak lama kemudian Umar memasuki rumah tersebut dengan raut muka yang sudah agak tenang.
“Umar, kedua pamanmu menurut otopsi Pemerintah darahnya telah habis sebelum dibakar, rasanya mereka telah menguras darah dari kedua pamanmu sebelum dibunuh,” lanjut nenek itu sambil sesenggukan.
“Iya Nek, sabar ya Nek, nanti Umar akan cari tahu siapa yang telah membunuh keluarga nenek, harus sabar ya. Ini Nek, ada sedikit rezeki dari saya untuk Nenek, mudah-mudahan Nenek bisa menggunakannya untuk usaha dan ini juga bisa membantu Tari untuk sekolah sampai SMA,”
“Umar, terima kasih Umar, kamu baik sekali, semoga Allah akan memberikan kamu berkah dan rahmatnya. Ingat Umar, jangan tergoda bisikan syetan, semua kekerasan yang sekarang terjadi di daerah kita adalah bisikan iblis yang terkutuk, dimana manusia sudah menjadi serakah, manusia sudah menjadi binatang dan yang lebih bahaya lagi manusia sudah menjadi sombong seperti iblis, sehingga ia merasa dirinya paling mulia dibandingkan manusia lainnya dan merasa pantas untuk bisa menghina manusia lain yang bukan dari golongannya. Terakhir pesan nenek Umar, jangan kamu sekali-kali menyimpan dendam, karena Nabi tidak pernah mengajarkan kita dendam, itu semua adalah perbuatan syetan. Nenek bisa lihat kamu masih ada gundah dengan semuanya, ingat pesan nenek ya Umar..” nenek itu kembali sesenggukan lebih keras kali ini. Seolah-olah nenek itu tahu apa yang ada di hati Umar, seolah-olah ia mengerti apa kegundahan Umar.
Mendengar hal itu Umar tak kuasa memeluk neneknya itu, ia juga meneteskan air matanya. Tak lama kemudian ia membelai pipi nenek itu kemudian kepalanya dan mengecup keningnya, selanjutnya berkata “Iya Nek, terima kasih Nek. Doakan Umar. Asslm,” salam Umar kemudian ia bersama temannya meninggalkan rumah tersebut.
Umar lantas mematikan TV tersebut, dan berkata “Win, gimana Win, kamu da lihat kan akibat konflik, tidak saja fisik tapi juga psikis, dan kita yang menjadi salah satu korbannya, kita juga merasakan kan Win,” ujar Umar.
Win yang sejak tadi diam karena batinnya kembali terlibat konflik hanya menganggukkan kepala saja.
Seperti juga Umar, ketika ia melihat anak kecil tadi ia juga teringat dirinya. Ia telah megarungi hidup yang berat karena konflik, karena ia merupakan korban konflik. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh Keluarga Langit, dendam sudah tertanam dalam hatinya. Ia selalu berniat suatu saat ia harus berhasil menjadi orang yang punya kekuasaan untuk menghancurkan Keluarga Langit bagaimanapun caranya.
Terlintas kembali olehnya dokumen rahasia yang diberikan Nur kepadanya bagaimana upaya dari Illuminati untuk membuat 2 keluarga itu terus bertempur dengan alasan Keluarga Langit memang tidak layak diberikan ada dengan semua ulahnya, ini menyebabkan ada sedikit kesal dalam diri Win. Dokumen yang dibacanya juga menceritakan bahwa Keluarga Cahayalah yang sesungguh lebih baik daripada Keluarga Langit, kemunduran Keluarga Cahaya selama ini karena mereka telah terjajah puluhan tahun lamanya. Bahkan dokumen tersebut juga menunjukkan data-data kebiadaban yang terjadi selama konflik berlangsung.
Semuanya seolah-olah berupaya menunjukkan bahwa yang menyebabkan terjadinya konflik ini adalah karena Keluarga Langit menjajah Keluarga Cahaya, yang menyebabkan kemunduran. Dan yang terpenting menurut Illuminati bahwa Langit harus dienyahkan, dan kedamaian hakiki itu tidak akan pernah ada selama ada Keluarga Langit di muka bumi ini. Hal inilah yang menyebabkan Illuminati selalu berupaya berulangkali dengan strateginya untuk dapat mengobarkan perang kembali untuk mengembalikan kejayaan dari Keluarga Cahaya. Dan adalah hal yang wajar jika yang nantinya sebagian keuntungan akan diberikan kepada actor-aktor yang berjasa, demikianlah yang terpikir di otaknya si Win yang egoismenya kini sudah menjadi Tuhan.
Memikirkan ini semua maka semakin tertutup hati Win, semakin dendam kepada Keluarga Langit dan kepada Tuhan semua itu menjadi tertutup, ia tidak peduli lagi dengan korban tambahan yang harus dikorbankan. Semua itu semakin menjadi ditambah dengan keangkuhannya, yang sudah terlukiskan dengan segala perbuatan dan perkataannya. Yang pasti apapun yang akan diberitahukan kepadanya untuk mencegah konflik kembali adalah seperti masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sungguh ironis…
Bagian kedua
Umar yang melihat Win terdiam saja dengan dingin setelah melihat film tersebut hanya bisa diam juga seperti patung melihat sahabatnya sepertinya sudah tidak lagi mempunyai hati nurani dan akal yang dapat dipergunakan untuk kebaikan keluarganya. Hanya konflik saja yang dipikirkannya. “Sungguh wanita setan itu telah berhasil mempengaruhinya dengan sebaik-baiknya,” dalam hati Umar berkata.
“Win…,” dengan sedikit membentak Nur menghardik Win.
Win yang terdiam, tiba-tiba sadar dari lamunannya. “Afwan Akhi, maaf, apa tadi yang kau katakana ?” tanyanya.
“Apa tanggapan kau tentang film tadi, konflik yang berkepanjangan ternyata hanya membawa anak-anak kembali menjadi seperti kita dahulu, selalu dalam kesulitan dan selalu dalam dendam,” tanyanya kembali.
“Oh, itu tadi adalah salah satu pengorbanan dari keluarga kita untuk mempertahankan kehormatan kita, mereka yang meninggal itu adalah pahlawan keluarga kita,” jawab Win singkat.
“Tapi apa yang mereka dapat kecuali mereka kembali dalam kesusahan, engkau tidak dengan kata-kata terakhir dari nenek kita tadi agar kita tidak memdendam, karena itu adalah perbuatan setan. Lagian menurut aku kalau sesama saudara muslim itu berperang amat dibenci Allah. Win membunuh 1 orang nyawa muslim sama dosanya dengan kita membunuh semua muslim yang ada di dunia ini, bila ada satu orang muslim yang terluka maka kita akan merasakannya juga, apakah kau mau memotong tanganmu sendiri ?” kata Umar.
“Kalau memang tangan itu adalah penyakit maka aku akan rela memotongnya, agar penyakit itu tidak menyebar,” jawab Win.
“Lantas apa engkau yakin bahwa tangan itu memang sakit sehingga engkau mau memotongnya ?” tanya Umar kembali.
“Iya, mereka adalah penyakit, kita seperti sekarang karena tingkah pola mereka, kalau mereka hilang tentu kita akan lebih aman, dan itu lebih baik kita hidup dengan satu tangan daripada hidup 2 tangan dengan satu tangan berpenyakit,” jawab Win dengan lantang karena ia merasa mendapatkan angin segar untuk dapat menekan setiap perkataan dari Umar saat ini.
“Sungguh kau sudah gila Win, kalau kau mau memotong tanganmu sendiri walau engkau tidak tahu mereka itu penyakit atau bukan sudah barang tentu engkau akan rela membunuh keluargamu sendiri untuk mendapatkan ambisi gilamu itu,” kata Umar sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“Gini Win, aku tidak suka dengan pemikiran kamu ini, mereka saudara kita, mereka mengucapkan syahadat, dan lagi yang kita perjuangkan sekarang adalah ashobiyah, barang siapa yang melakukannya maka ia tidak akan masuk ke dalam golongan Nabi Muhammad,” tukas Umar.
“Aku tidak peduli Mar, engkau suka atau tidak suka, aku tetap dengan prinsip aku, kalau perlu aku mati menghancurkan mereka,” kata Win dengan berapi-api.
“Istigfar Win. Kau harus tahu Win sebenarnya yang membuat kita berkelahi dengan mereka hanya karena pepesan kosong yang seharusnya bukan dijadikan alasan untuk perang. Hanya karena dulu nenek moyang kita memperebutkan harta warisan, lantas berlanjut sampai sekarang, kau tahu itu kan. Satu lagi kita merasa paling hebat sejak zaman dulu dari mereka, tapi apa yang kita dapat sekarang mereka sudah berlari menuju bulan kita malah menggali sumur kematian keluarga kita sendiri. Pikirkan ini Win” jawab Umar.
“Aku sudah tidak peduli lagi Mar, aku hanya ingin merebut kembali harta warisan itu, kalau dari belahan lain tidak bisa sekarang adalah giliran aku untuk mendapatkannya,” ujar Win dengan sedikit bersungut-sungut mulutnya menunjukkan kekesalan dirinya.
Umar hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat Win yang begitu keras kepala, sampai-sampai semua perkataannya sepertinya menjadi sia-sia. Kembali ia menarik nafas panjang. “Huh, aku rasa selain nafsu gilamu kau memang sudah berhutang budi terlalu banyak Win dengan Illuminati, apa yang sudah diberikannya uang, harta, tubuhnya atau apa, menyedihkan kau Win,” kata Umar dalam hatinya.
Tiba-tiba Umar bertanya dengan lembut kepada Win,“Win, apakah menurut hati kecilmu hanya untuk mengejar sebuah kehormatan keluarga lantas kita bisa mengorbankan semuanya, bahkan mengorbankan keluarga kita yang lain, itu satu. Yang kedua, untuk tanah warisan itu siapa yang punya Win, hanya Tuhan yang punya, apakah engkau tahu ratusan tahun yang lalu itu tanah kepunyaan siapa ? Jawab Win, apakah aku salah ketika aku katakana ini semua hanya pepesan kosong, jawab Win. Terakhir, sudahkah kau berpikir panjang ke depan atas apa yang terjadi saat ini, untung ruginya bagi keturunan kita kelak ?,”
Tiba-tiba Umar melanjutkan kata-katanya “Sebelum kau menjawab Win, kau ingat apa yang di bilang nenek di video tadi yang mengatakan bahwa darah kedua pamanku habis, itu menandakan bahwa kedua pamanku sudah terkena ritual dari salah satu sekte setan yang menganggap orang itu lebih rendah dari pada dirinya, mereka menggunakan darah dari pamanku untuk pesta agama mereka, dan sekte itulah yang telah merusak semua generasi keluarga kita selalu dalam konflik. Sekarang masihkah kau tidak percaya kalau kita semua ini hanya dijadikan pion untuk mereka mengeruk keuntungan dari pertikaian keluarga cahaya dan keluarga langit,”
Win terlihat galau pada wajahnya, ia mulai meneteskan air matanya, namun matanya masih menunjukkan dendam membara yang ada pada hatinya. Tangannya terlihat mengetuk-ngetuk pinggiran sofa yang didudukinya. Kakinya juga demikian mengantuk-ngatuk ubin yang ada di bawahnya. Seperti halnya iblis yang merasa kehilangan muka ketika Tuhan menciptakan Adam dan menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam. Sejak dari dulu yang menyebabkan manusia ini hancur adalah rasa sombong dan dendam, seperti halnya iblis, seperti apa yang dikatakan nenek tadi.
“Tidak Umar,” teriak Win. “Aku tidak peduli semua, kalau perlu semua akan kuhancurkan, aku hanya mau Keluarga Langit hancur karena mereka telah mengambil hak keluarga kita dan aku dendam kepada mereka, mereka membunuh keluargaku, aku mau bunuh mereka semua, aku mau…aku mau… aku lebih baik dari mereka….” sambil bangkit dari duduknya dan berbicara dengan tersengal-sengal menumpahkan semua kemarahannya dengan berteriak-teriak.
“Win, tenang kau, ini rumahku, jangan bikin malu kau,” tegur Umar secara berbisik keras sambil menarik tangan Umar untuk segera duduk kembali dan menenangkan diri.
“Tenang sobat, tenang, kita teman bukan,” lanjut Umar menenangkan Win.
Win terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sebentara ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Memang wataknya sulit berubah, mungkin ini terjadi hampir kepada semua korban konflik yang ada di dunia ini, perkembangan korteks yang tidak normal dan menimbulkan gangguan emosional. Ini pulalah yang nantinya pada daerah konflik itu akan besar potensi konfliknya karena mereka sudah sedemikian rupa telah dibuat menjadi orang yang bersifat reaksioner dan pendendam. Perlu ada sebuah penanganan khusus bagi anak-anak korban konflik, Umar merupakan contoh mata bagaimana ia bisa keluar dari trauma konflik, adanya kasih sayang dari kedua kakek neneknya. Sehingga ia mampu untuk keluar dari lingkaran itu.
Hati Umar ingin sekali bisa menyadarkan Win bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, bahwa ia akan dijadikan korban dan semua yang ia kumpulkan akan musnah seperti halnya dengan mudah ia mendapatkannya. Ketika istrinya memanggil Umar untuk makan malam, maka Umar lantas mengajak Win untuk makan malam bersama keluarganya yang telah menunggunya. Sejenak Win dan Umar melupakan semua hal yang mereka berdebatkan, mereka membicarakan hal-hal lain berkenaan dengan keluarga Umar, anaknya yang baru bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, istrinya yang kesulitan ke pasar karena tersesat, Umar yang sungkan dengan wanita-wanita Indonesia yang terlalu ramah dan masih banyak hal lain.
Namun sesekali terlihat bahwa wajah Win terbersit kesedihan yang selalu dicoba ditutupinya ketika datang, ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bahagia dengan hidupnya. Ia menceritakan istrinya yang kini sudah terkenal, sebagi figure masyarakat, masuk ke dalam kalangan artis dan elit. Istri Umar yang bernama Anisah itu mungkin tidak dapat melihatnya, tapi Umar jelas dapat melihat perubahan wajah pada sahabatnya itu.
bersambung..
26 Januari 2009
Ketika Egoisme Menjadi Tuhan
Bagian pertama
Kehilangan anaknya bagi Win merupakan sebuah pukulan yang terberat dalam hidupnya, sejumlah harapan bagi anaknya sudah ada di dalam bayangannya, bahkan sebelum anaknya lahir ke dunia yang menurutnya penuh dengan ketidakadilan ini.
Semenjak ia kehilangan anaknya ia selalu menyalahkan Tuhan dengan berbagai cara, ia tidak menerima Tuhan dengan seenaknya saja merenggut anaknya darinya. Sampai-sampai ia berpikir bahwa Tuhan adalah bodoh karena telah menciptakan semua makhluknya tapi hanya untuk disakiti, hanya untuk diperlombakan mana yang baik dan mana yang benar, yang buruk hanya akan masuk neraka dan yang baik hanya akan masuk syurga. Menurutnya ini adalah permainan bodoh yang diciptakan Tuhan. “Tuhan telah menghina makhluk ciptaanNya sendiri, Tuhan tidak adil, ia tidak sayang kepada ciptaannya” gumamnya dalam hati karena saking kesalnya terhadap yang namanya Tuhan tersebut.
Semenjak itu ia berjanji bahwa ia akan melawan Tuhan, ia sekarang sudah tidak peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah, yang menurut persepsinya benar maka itu yang akan dikerjakannya.
Win akhirnya menjadi manusia yang amat pragmatis, betul-betul pragmatis, tidak ada lagi yang menjadi pegangan hidupnya dalan menjalani kehidupan ini. Baginya yang penting kalau semua keinginannya tercapai.
Yang menjadi keluarga tersebut semakin hancur adalah ternyata istrinya, Wan Azizah atau yang seringkali dipanggil Wan, yang juga mengikuti jejak dari suaminya, yang dahulunya selalu mengikuti perintah Tuhan sekarang ia menjadi perempuan bebas yang ingin menjalankan semua yang diinginkannya.
Namun kerap kali mereka bertengkar bukan karena cemburu ketika suaminya main dengan perempuan lain atau sebaliknya, mereka mempertengkarkan baik atau buruknya kegilaan mereka, mereka mempertengkarkan bagaimana caranya mencapai tujuan kegilaan mereka itu.
“Abang harus tahu kalau abang mau main dengan perempuan harusnya abang kasih tahu saya,” kata Wan.
“Loh, untuk apa saya kan bebas melakukan hubungan dengan siapapun, lagian kalau saya katakana sama kamu maka yang ada kamu akan marah, kamu akan cemburu, hidup kita semakin pusing,” jawab Win.
“Bukan itu Bang, kalau saya tahu siapa perempuannya maka saya akan lebih mudah mencari target laki-laki lain yang akan saya tiduri, minimal suami perempuan dari yang abang tiduri itu yang akan saya dekati,” ujar Wan dengan senyuman nakal setan dibibirnya.
“Astagfirullah, he salah…he he. Wan…Wan… kamu ini ternyata lebih gila dari aku ya, okelah Wan, Tuhan memang tidak pernah mencintai ciptaannya jadi kenapa kita harus mencintai ciptaannya juga. Peduli setan dengan anak-anak mereka, peduli setan dengan kehidupan mereka, yang penting kita nikmati hidup ini. Wan, jangan lupa pakai pelindung ya kalau kau sedang kesetanan dengan laki-laki lain, biar aman.. ha ha ha,” tawa laki-laki aneh itu yang sudah menyerupai iblis.
Keluarga ini kini sudah tidak memperdulikan lagi mana yang baik dan benar, mereka hanya tahu satu hal, mencapai semua hasrat mereka, tidak peduli itu baik atau salah karena bagi mereke sudah tidak ada lagi yang namanya agama, bagi mereka Tuhan itu tidak adil, bagi mereka Tuhan itu bodoh.
Sampai suatu saat Win bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik parasnya. Bagi Win ia menjadi penasaran karena ketika menggunakan jilbab sungguh cantik perempuannya itu, lantas ia membayangkan bagaimana kalau perempuan itu tidak memakai baju sehelaipun. Dalam pikirannya ia membayangkan tubuh wanita itu yang sintal, buah dadanya yang ideal, bokongnya yang pasti akan memuaskan hasratnya, betisnya yang menandakan kenikmatan bagian perempuannya, bahkan kulitnya yang kuning langsat keputihan itu semakin membangkitakan gairah setannya yang sudah menghancurkan banyak keluarga itu.
Gairahnya semakin memuncak ketika ia mengamati wajah wanita itu, bibir yang ranum tidak terlalu tipis dan tebal serta kemerahannya alami, pipinya yang memerah, raut wajahnya seperti daun sirih, hidungnya yang bangir, matanya seperti mata kucing yang menusuk orang-orang yang ditatapnya, sejadi-jadinyalah laki-laki itu menjadi tergila-gila.
“Assalamu’alaikum,” sapa Win. Perempuan itu lantas menatap Win kemudian menundukkan kepalanya dan menjawab “Wassalammu’alaikum, maaf anda siapa dan apa yang bisa saya bantu suami saya sedang menunggu saya di depan,”.
Win bergumam dalam hati “Huh, siapa lagi-laki yang beruntung itu, andai saja aku bisa membunuhnya,”. Kemudian ia menjawab “Oh, tidak saya hanya kagum dengan kecantikkan anda, saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat lagi. Kalau tidak keberatan nama anda siapa dan apa pekerjaan anda ?”.
“Nama saya Nurul Azizah, panggil saya saja Nur, saya bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit,” jawab Nur.
Mendengar pekerjaan Nur, Win menjadi senang karena ia merasa ada kesempatan untuk merusak wanita ini, karena masih ada kesempatan untuk dapat bertemu lagi dengan perempuan cantik itu. Lantas ia bertanya kembali dengan sopan “Alhamdulillah, saya sedang mencari-cari seorang dokter yang kiranya bisa mengobati penyakit kronis saya, sampai saat ini saya belum menemukan seorang dokterpun yang cocok, siapa tahu kita berjodoh, kalau boleh tahu dimana Rumah Sakitnya. Perempuan itu kemudian memberika sebuah kartu nama dari dompetnya dan kemudian berkata “Maaf, itu suami saya sedang di depan, saya harus segera berangkat, silahkan Bapak datang ke kantor saya.”
Hari ini Win begitu senang karena ia mendapatkan mangsa baru, ia pulang dengan bersiul-siul bahkan janjinya dengan perempuan selingkuhan yang akan ditidurinya ia batalkan karena ia begitu senang hari ini. Sampai di rumah ia melihat istrinya sedang tidur, ketika melihat istrinya ia teringat perempuan itu dan hasratnya menjadi tinggi, ia pun lantas mulai menggangu istrinya untuk kemudian menidurinya. Wan menjadi kaget karena Win begitu bersemangat hingga Win dan Wan melakukan hubungan suami istri itu dengan dahsyat. Walau bagi orang pintar dapat melihat bahwa sebenarnya persetubuhan itu adalah antara Win, Wan yang dibayangi oleh Nur dalam pikiran Win.
Setelah itu ia menceritakan kepada istirnya bahwa ia telah menemukan gadis pilihan korbannya saat ini dan menurutnya perempuan itu membuatnya menjadi gila karena ingin meniduri tubuh cantiknya itu. Wan di dalam hati merasa sedih karena setelah menidurinya suaminya malah menceritakan wanita lain, tapi ia hanya tertawa dan kemudian mengingatkan suaminya agar tidak lupa menanyakan nama suami dan pekerjaannya agar ia bisa mendekati suaminya.
Win kemudian menyadari bahwa ia harus mengarang sakit yang akan dideritanya, ia menjadi bingung karena kalau berhubungan dengan seorang dokter maka ia tidak akan bisa berbohong tentang penyakitnya ini. Tapi kemudian ia terigat dengan wanita cantik yang tidak jadi ditidurinya karena terkena penyakit menular TBC, tanpa pikir panjang ia kemudian mendatangi wanita itu dan menidurinya. Lantas ia menunggu selama beberapa minggu dan didapatinya tubuhnya yang sehat itu kini sudah terasa agak lemah dan mulai batuk-batukkan, mulai melemah. Ia tersenyum dengan rasa sakitnya lantas ia pun pergi menuju rumah sakit yang dokternya perempuan idamannya itu.
Sesampai di rumah sakit ia langsung mendaftar dan menanyakan kalau ia ingin ke dokter yang nernama Nur Azizah, ia pun akhirnya mendapatkan no urut untuk dapat memeriksakan kesehatannya kepada dokter Nur tersebut. Akhirnya gilirannya tiba, ia menemukan dokter itu sedang berbincang dengan asistennya seorang laki-laki muda yang tampangnya cukup menarik. Melihat Win datang Nur lantas menyuruh asistennya itu untuk mengambilkan sesuatu. “Selamat datang Pak Win, saya masih ingat anda, anda sakit apa?”, tanyanya. Kali ini terlihat Nur lebih berani memandang wajah Win yang memang menggoda setiap perempuan yang menatapnya. Win yang melihat perubahan dari Nur menjadi semakin menjadi-jadi keberaniannya, “Maaf Nur, saya sudah batuk-batuk seperti ini sejak tahunan, menurut beberapa dokter saya terkena TBC tapi sudah saya coba berobat tetap saja tidak sembuh-sembuh walau tubuh saya masih kuat sampai saat ini. Mendengar hal tersebut Nur segera memeriksa Win dengan cermat dan seksama.
Win betul-betul menikmati ketika Nur memeriksa seluruh tubuhnya, ia merasa dirinya berada ditempat lain dan membayangkan dirinya meniduri Nur, sungguh ia memang sudah menjadi gila. Setelah itu Nur terlihat menuju ke kamar mandi yang ada diruangannya, dengan cepat Win mengikutinya dan tanpa sengaja ia melihat Nur membuka hijabnya dan jas dokternya, terlihat olehnya pakaian ketat di dokter dengan rambut panjang terurai dan leher yang jenjang. Namun matanya tidak lepas dari tattoo pada belakang lehernya seperti sebuah mata yang memandang dirinya. Ia kemudian teringat dengan lambing Illuminati, sebuah lambang organisasi rahasia milik organisasi terjahat saat ini yang kerap kali membuat kekacauan di dunia ini.
Tiba-tiba Nur membalikkan dirinya dan melihat bahwa Win sedang menatapnya, Win menundukkan kepalanya. Anehnya tiba-tiba Nur memanggil dirinya untuk mendekatinya dan tanpa panjang lebar mereka pun melakukan hubungan suami istri di kamar mandi itu. Win yang terkaget-kaget itu lantas tiba-tiba menjadi bergairah kembali dan betul-betul memuaskan hasratnya dan perempuan gila itu.
“Nur, saya kira kamu perempuan yang taat agamanya karena kamu menggunakan jilbab,” ujarnya ketika mereka kembali ke meja setelah hasrat mereka berdua telah dilepaskan.
“Ha ha Win, saya memakai jilbab ini hanya sebagai kedok ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang fanatic, bagi saya jilbab ini hanya menutupi kebobrokan saya, menutupi hedonism saya, menutupi hasrat saya kepada kamu ketika pertama kali melihat kamu. Oh ya, jangan lupa minum ini ya selama sebulan dan jangan berhenti” jawabnya.
“Ha ha, saya membayangkan kalau saya akan kesulitan dalam mendapatkan kamu, baiklah. Oh ya, tanda apa di belakang lehermu dan kapan bisa ketemu lagi ?” tanya Win.
“Oh, itu tanda saya ikut organisasi Illuminati, dan dengan jilbab ini juga saya bisa menutupinya, mau ikutan Win ?” jawabnya. “Huh, banyak Tanya sekali orang ini, mungkin dia tidak tahu bahwa tingkatan tertinggi dari organisasi ini adalah tato di tenguk saya, kalau saja dia tahu siapa saya tentu ia akan takut dengan saya,” gumamnya dalam hati.
Dalam hati Win berkata “Hmm, benar ia ikut Illuminati,”. “Baik lah saya mau coba ikut saya sekarang benci dengan Tuhan, bagi saya Tuhan itu tidak adil, rasanya orang-orang Illuminati bisa terima itu kan,” ujarnya.
“Hmm, rasanya orang bodoh seperti anda, yang hatinya penuh dendam tidak akan bisa jadi pimpinan, anda paling hanya bisa menjadi pion. Rasanya tidak mungkin anda membuat kehancuran di dunia ini untuk kepentingan membangun peradaban baru kami kalau ada dendam, bodoh. Kami saja yang menciptkan dendam tidak pernah memasukkan ke dalam hati kami, bagi kami dendam itu adalah alat untuk menjadikan kalian dalam perang sehingga kami akan ambil keuntungan dari perang itu. Dan kamu sekarang sudah dalam genggaman saya, penyakit kamu akan saya control. Sedangkan saya imun dengan berbagai penyakit karena ada obat khusus untuk kami yang tidak akan kamu dapatkan…ha ha ha ” gumamnya dalam hati. Lantas kemudian ia berkata “Ia Win sayang, kamu betul memang Tuhan itu tidak adil makanya kami ada organisasi ini untuk membuktikan bahwa kitalah Tuhan itu, dan mereka saat ini sudah dibodoh-bodohi dengan yang namanya agama, mereka sudah kehilangan akalnya. Kamu bisa masuk ke organisasi kami,”
Win akhirnya mengikuti organisasi tersebut, ia mendapatkan banyak ilmu lagi bagaimana menghancurkan sebuah peradaban manusia dan membangun peradaban baru sesuai dengan keinginan dari dirinya dan organisasinya. Sungguh ia semakin tenggelam dengan kebenciannya kepada Tuhan. Sampai-sampai ia beranggapan bahwa Tuhan itu adalah seperti dirinya, yang bisa dilawan, yang bisa disakiti. Dan makhluk lainnya adalah makhluk bodoh karena masih mempercayai dengan adanya Tuhan.
Bagian kedua
Win yang sebenarnya bernama lengkap Erwin Abdullah itu kini sudah mulai mahir dalam menguasai berbagai pengetahuan untuk dapat menggerakkan massa sesuai dengan keinginannya, pandai dalam mengangkat berbagai isu untuk kepentingan organisasi, semuanya dia dapat dari Illuminati.
Win sekarang sudah berubah dari seorang yang membenci Tuhan perorangan, kini sudah bergabung dengan pembeni-pembneci Tuhan lainnya, bahkan ia dengan cepat mendapatkan kepercayaan untuk selalu memimpin sebuah operasi yang bertugas membuat cheos dalam sebuah daerah.
Keahliannya dilengkapi dengan kevulgaran dalam organisasi tersebut yang tidak lagi memperdulikan batasan antara laki-laki dan perempuan, sehingga siapapun dapat berhubungan dengan siapapun tanpa peduli lagi. Win benar-benar mendapatkan syurganya disana, ia melihat bahwa organisasi ini benar-benar telah melanggar setiap batasan yang telah di atur oleh Tuhan dari agama manapun yang ia ketahui. Ia benar-benar bisa melakukan hubungan dengan Nur kapanpun dan dimanapun ketika hasrat mereka timbul. Dan yang lebih membahagiakan Win ternyata Nur memprioritaskan dirinya dalam hal apapun, ntah itu materi maupun fasilitas lainnya. Ia dapat menyalurkan hasratnya untuk menghancurkan peradaban manusia ini sesuai dengan hasrat dan kini menjadi hobynya.
Sedangkan istrinya ikut dalam jaringan tersebut dalam level yang lebih rendah lagi akan tetapi dengan tugas yang amat buruk lagi, istrinya menjadi ikon untuk kebebasan yang bertopengkan kedamaian, Wan kini menjadi agen perubahan menuju kebebasan tanpa batas dengan mengatasnamakan kemanusiaan. Kebebasan yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak individu seorang manusia dalam tanpa memperdulikan akibatnya terhadap masyarakat dan di masa yang akan datang.
Suatu saat tiba-tiba Nur memanggil Win dengan ke rumahnya, bila ini terjadinya biasanya Nur ingin memberikannya tugas khusus kepadanya dan mendiskusikan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan dari tugasnya tersebut.
“Win, aku punya tugas baru untuk kamu, keluarga si A yang selama ini selalu dalam keadaan kacau tampaknya sudah mulai berdamai. Dan kebetulan kamu dekat dengan keluarga tersebut,” Nur buka bicara.
“Keluarga siapa Nur ? Terus apa hubungannya dengan aku dan tugasku apa?” ujar Win.
“Ini adalah sebuah keluarga yang bisa berpotensi dapat menghancurkan tujuan organisasi kita di daerah sana, mereka adalah keluarga yang pada awalnya amat teguh dalam memegang agama bodohnya, dan ini sudah terkenal sejak puluhan tahun silam. Sebenarnya kami sudah berhasil untuk membuat cheos keluarga tersebut dengan berbagai cara, namun kini sepertinya ada kejenuhan dalam keluarga tersebut untuk bertempur terus, dan mereka tampaknya mulai berdamai, kita harus dapat membuat cheos lagi Win,” kata Nur.
“Wah itu berikan saja kepada saya tugas itu Nur, saya amat menyukai tugas ini, tapi kenapa kamu bilang mereka dekat dengan keluargaku ?,” tukas Win memotong percakapan Nur.
“Win, sabar, saya belum selesai. Mereka adalah bagian dari keluarga kamu, sejak lama kami sudah memperhatikan bahwa kamu adalah dapat menjadi potensi bagi kami, dan ternyata kamu lebih hebat dari perkiraan kami semua. Kamu memang sudah benar-benar benci dengan yang namanya Tuhan. Ini adalah keluarga besar Cahaya, bukankah kami bagian dari keluarganya ?” tanya Nur.
“Hmmm…iya, memang keluarga yagn terkenal itu adalah bagian dari keluarga saya,” kata Win singkat. Lantas ia terdiam, “Huh, kenapa saya harus menghancurkan keluarga saya, walau saya hancur seperti ini tapi apakah saya sanggup untuk menghancurkan mereka kembali. Padahal mereka baru saja berdamai semuanya. Mereka baru saja bisa saling sapa dengans senyum dan bisa menikmati hidupnya dengan baik. Huh, saya jadi teringat anak saya yang mirip dengan eyangnya….,” ujar Win dalam hatinya.
Nur yang melihat gelagat Win itu melihat ada keraguan dari hatinya Win, lantas ia dengan serta merta mendekati Win dan menciumnya untuk kemudian mengajaknya ke hubungan yang selalu mereka sukai itu. Win yang sedang gundah tersebut sesaat melupakan apa yang dipikirkanya dan mereka pun bergulat untuk mencapai hasrat mereka masing-masing.
Win dan Nur memang tidak pernah bosan melakukan hubungan gila ini, ntah ada setan apa dalam diri mereka masing-masing berdua, jika bertemu pasti mereka akan seperti itu terus.
Rupanya Nur menyadari bahwa Win akan lebih mudah diajak mengikuti keinginannya setalah mereka melakukan hubungan intim tersebut.
“Gimana Win Sayang…dengan tugas yang tadi, aku tahu mereka adalah keluargamu, tapi bukankah kita tidak pernah mengenal yang namanya kebenaran yang bodoh, agama, keluarga, karena ini adalah kebodohan-kebodohan yang hanya membuat kita tidak mampu berbuat tegas, dan membangun dunia baru sesuai dengan keinginan kita semua,” bisiknya ke Win lembut. “Win, Win, kau harus mau, memang kau memuaskan aku, tapi kalau kau tidak mau maka aku harus menyingkirkanmu, peyakitmu memang sepertinya sudah sembuh tapi aku masih memelihara 1 ekor virus lagi yang kemudian akan berkembang biak dalam tubuhmu” kata Nur dalam hatinya.
Win terlihat tertidur pulas ketika Nur mengatakan hal tersebut, ia pura-pura tidur, rupanya ia mencoba memikirkan dengan tenang apa yang dibisikkan wanita idamannya itu.
“Vanesia, ayahmu disuruh menghabiskan keluarga kita sendiri, apa yang harus ayah lakukan. Semua yang ayah lakukan sampai ayah seperti ini karena ayah begitu membenci Tuhan kita yang telah membawa kamu dari sisi Ayah. Haruskan ayah menghancurkan keluarga ayah sendiri…”, katanya dalam hati.
Win membalikkan tubuhnya dari Nur, seolah-olah dalam pura-pura tidurnya ia membutuhkan ruang lagi untuk dapat memikirkan tugas barunya, dan ia tidak ingin melihat Nur melihat air matanya tumpah memikirkan tugas barunya itu. Dan ia pun tertidur ketika memikirkan hal itu terus.
Win memang adalah sosok yang amat mencintai keluarganya, walau ia menghancurkan keluarga orang lain tapi ketika ia disuruh menghancurkan keluarganya sendiri, ini merupakan hal yang berat dalam hidupnya karena sebenarnya keluarganya sudah membesarkannya dengan kasih sayang.
Keesokkan paginya ketika ia bangun dari tidurnya, dilihatnya wanita idamannya masih tertidur dengan tanpa memakai sehelai benangpun sehingga kecantikkannya terlihat dan kembali membangkitkan hasrat Win. Tapi kemudian ia teringat tugas yang diberikan oleh Nur, ia mengurungkan niatnya untuk kembali mengganggu Nur, yang sebenarnya Nur juga suka kalau ketika paginya kembali melakukannya.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dan melihat dirinya dalam kaca tersebut. “Vanes, apa yang harus ayah lakukan ?” ujarnya. Kemudian ia mandi dan kemudian pulang menujua ke rumah, dalam perjalanan pulang ia berpikir mungkinkah ini ia lakukan. Terjadi perang besar kembali dalam dirinya seperti ketika anaknya pergi meninggalkannya.
“Tuhan kau tidak adil, anakku kau ambil, gara-gara kau aku masuk dalam organisasi yang melawanMu. Sekarang aku mendapat tugas untuk membuat berantakkan keluargaku yang baru saja damai ini. Tuhan kenapa engkau menimpakan ini semua kepadaku ? Ketika Engkau menghilangkan kebahagiaanku, kini aku juga harus menghilangkan kebahagiaan keluargaku melalui tanganku. Kenapa harus aku ? Kenapa ? Apakah kau menantangku seperti engkau menantangku dengan mengambil anakku dari sisiku ? Jawab Tuhan, Jawab….,” teriaknya dalam hati. Tiba-tiba air matanya tumpah dan ia pun menangis sejadi-jadinya dengan nanar mata yang marah sambil mendongakkan kepalanya. Mata yang penuh dendam, mata yang penuh keamarahan, mata yang penuh dengan kesedihan dan mata yang penuh kesinisan.
Setelah sampai ke rumah ia mengganti bajunya dan keluar lagi. Hari ini berencana akan menghabiskan waktunya untuk melakukan semua apa yang membuatnya senang, semua yang tidak disukai oleh orang lain, semua yang dilarang oleh Tuhan.
Keesokkan harinya ia datang kepada Nur dengan wajah yang lebih sinis dan kejam lagi, fase kedua dalam hidupnya menuju kebencian kepada Tuhan sudah ia lewati. “Nur, aku siap dengan tugas mu,” sesampai ia di ruangan Nur bekerja di rumah sakit.
Nur tersenyum, kemudian berkata “Wah, itu baru pemimpin baru dari peradaban baru,”. Walau dalam hati Nur bergumam “Iya lah aku tau kau pasti mau, kau penuh dendam, kau akan selalu jadi pionku yang paling aku andalkan, egomu terlalu besar dengan dendammu,”. “Oh ya Win, nanti malam kita diskusikan di rumahku ya tentang strategi yang akan kita atur, ada tamu ku kamu keluar dulu ya, sampai nanti malam,” katanya ketika masuk seorang laki-laki muda yang berwajah menarik.
Malam harinya kembali Win ke rumah Nur untuk mendiskusikan permasalahan penghancuran keluarganya sendiri. Ketika mereka akan membahasnya Nur memberikan beberapa dokumen tentang Keluarga Cahaya, nama keluarganya tersebut dan upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk dapat menghancurkan keluarga tersebut. Ketika membacanya Win terlihat mengerutkan keningnya karena ia melihat bagaimana ternyata penghancuran keluarganya dilakukan secara sistematis, “Sungguh ini adalah sebuah pekerjaan yang benar-benar luar biasa,” ujarnya dalam hati.
Ketika ia asik membaca dokumen-dokumen itu Nur memasak makan malam, mempersiapkan dirinya secantik mungkin dengan wangi-wangian dan pakaian yang memperlihatkan kecantikan tubuhnya.
Win pun lantas menuliskan strategi barunya untuk dapat menghancurkan keluarganya, ia menuliskan di papan tulis yang ada pada ruang kerja tersebut “Hal yang pertama kali dilakukan adalah kembali mengadudomba keluarga tersebut dengan harta, mereka yang keakuan terlalu tinggi dari bagian-bagian keluarga tersebut dan mereka yang memegang teguh ajaran agamanya. Hal yang kedua, menghancurkan moral dari mereka karena selama mereka dekat dengan agama maka semakin sulit mereka untuk dihancurkan, karena inilah kunci mereka memang begitu ditakuti sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ketiga, harus bisa menanamkan bibit-bibit dendam kepada generasi keduanya, tentunya ini akan menjaga kesuburan konflik di antara mereka.”
Ketika Nur memasuki ruang kerjanya ia hanya tertawa dalam hati membaca tulisan Win itu, “Ha ha Win, Win apa yang kau tulis itu adalah benar sekali dan kami sudah melakukannya dengan keluargamu dalam beberapa puluh tahun ini, sehingga kami mengambil banyak keuntungan dari kebesaran nama dan kekayaan keluarga kamu itu, tapi yang kami butuhkan adalah actor utamarnya, dan kamu sadar tidak sadar adalah actor yang sudah kami persiapkan…he he, tapi rasanya kita perlu diskusi lebih detail, karena sepertinya banyak actor baru juga yang ada pada keluargamu”.
“Wah, hebat Win sayang, strategi mu ini luar biasa, rasanya kita bisa jalankan ini dengan baik. Jenius kau sayang…” rayu Nur.
Win kemudian kaget melihat Nur, kemudian ia tertegun dengan pakaian Nur yang demikian seksi itu serta wanginya yang kembali membangkitkan gairahnya. “Iya Nur, sinilah temani aku,” jawabnya.
Nur dengan gatalnya mendekati Win, akhirnya mereka bergulat kembali.
Setelah itu terlihat Nur begitu bersemangat untuk membahas strategi yang dituliskan Win itu.
“Win, menurut kamu bagaimana caranya bisa mengadudomba keluarga kamu itu ?” tanyanya.
“Ha ha, gampang Nur, keluarga kami memang besar tapi masing-masing dari keturunannya atau belahannya satu sama lain suka tidak akut, egoism kami suka sama-sama tinggi. Makanya sebenarnya inilah yang membuat kami akhir-akhir ini terus bertengkar karena memang kami tidak mau kalah. Ada belahan saudara kakekku yang bernama Merah, mereka itu paling tidak mau rugi, apalagi dalam bisnisnya, bahkan kadang kalau mereka tidak segan mengorbankan keluarga lainnya yang penting bisnisnya untung besar,” cerita Win.
Win kemudian menceritakan seluruh rahasia keluarganya, belahan Naga yang keturunan gila kekuasaan, belahan Pedang yang amat suka berperang, belahan Putih yang terkesan netral sesuai dengan kebutuhannya dan terakhir belah hijau yang memegang moral agamanya dengan amat teguh. Win juga menceritakan bahwa ia berasal dari belahan putih, belahan putih ini menurut Win terkadang bergabung dengan belahan yang menurutnya menguntungkan sehingga belahan ini banyak berhubungan dengan berbagai belahan karena masing-masing keturunannya pasti ada ikut dalam belahan lain.
Mendengar hal tersebut Nur dengan senyum manjanya merasa senang mendengarkannya,”Mmmhh, dulu kami menggunakan actor dari belahan Naga, tapi mereka rasanya kurang berhasil karena gabungan mereka dengan belahan Pedang kini terpecah, dan mereka sekarang kalah dengan belahan Merah juga tidak bisa mengancam lagi belahan Hijau. Memang tepat rasanya sekarang menggunakan belahan Putih karena dampaknya sepertinya akan dapat lebih menghancurkan keluarga pengacau ini…ha ha ha,” gumamnya dalam hati Nur.
“Win, terus apa yang akan kamu lakukan untuk dapat mengadudomba mereka semua, agar mereka hancur dan tidak lagi menjadi penghalang bagi membangun peradaban baru kita ?” Tanya Nur.
“Begini sayang, saya sudah lama hidup dalam keluarga ini. Sesungguhnya dalam hati mereka itu masih ada perasaan saling bersaudara yang tinggi, ini akan dibuktikan ketika mereka dalam kesulitan, bagian dari belahan itu tidak bisa melihat keluarganya dalam kesulitan. Ini semua karena mereka tidak mau kehormatan keluarga mereka hancur, bagi mereka ini hal utama,” jawab Win.
“Sepertinya yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghilangkan kehormatan keluarga ini, dengan cara menghancurkan kebanggaan mereka, ini yang menurut saya harus pertama kali dilakukan. Biarpun mereka seperti ini tapi kalau agama mereka dihina mereka akan mempertahankannya. Jadi ini satu hal lagi selain kehormatan mereka adalah agama mereka, ini perlu kita hancurkan atau kita adudomba 2 golongan besar ini dari keluarga saya. Gimana menurut Nur ?”tanyanya.
“Yah, untuk awal rasanya ini bisa dilakukan, 2 golongan ini akan kita panas-panasi terus, maka hal yang harus dilakukan rasanya adalah bagaimana caranya mendapatkan sebuah isu yang bisa membuat keluargamu itu terbelah menjadi 2, apa ya isunya…?” jawab Nur.
“Gini sayang, kalau masalah kehormatan keluargaku mungkin kita bisa mengadunya dengan keluarga besar Langit, karena sebenarnya saingan kami, Keluarga Cahaya adalah Keluarga Langit. 2 keluarga besar ini sejak dari dulu bersaing,” ujar Win.
“Hi hi, engkau betul Win, tapi masalahnya mereka sekarang sedang berbaikan. Itulah masalahnya, mungkinkah ini kita utak-utik lagi, karena sepertinya keluargamu sudah merasa jenuh dengan perangnya dengan keluarga Langit yang tidak berujung pangkal ini, rasanya keluargamu sudah mulai rasional atau kebanggaanya menjadi berkurang..ha ha ha” jawab Nur.
“Bisa sayang, masih bisa, tapi perlu diingat bahwa sekarang ini yang menyebabkan keluarga kami menjadi seperti itu adalah belahan Merah dan Hijau, mereka berhasil mempengaruhi belahan-belahan lainnya. Jika belahan Merah meyakinkan bahwa perang ini malah membuat keluarga kita menjadi tidak sejahtera sedangkan belahan Hijau mengatakan bahwa keluarga Langit juga saudara seiman kita dan mereka meyakinkan bahwa mereka telah melakukan pendekatan untuk keuntungan 2 keluarga di masa yang akan datang. Tapi Nur musti ingat bahwa belahan Pedang masih gusar dengan dendam-dendam yang bergelora dihati mereka, dan belahan Putih masih tersebar di berbagai belahan sehingga kekuatan mereka sebenarnya tidak bisa diperhitungkan, kami hanya punya jaringan di belahan lain” ujar Win.
“Mmmhh, belahan Putih itu lah yang sekarang menurut analisa kami bisa kembali menggoyang perang antara 2 keluarga besar ini Win, walau belahan Putih tidak kuat tapi mereka mempunyai jaringan di belahan lain, bahkan ada diantara anggota keluarga belahan Putih yang memegang peranan cukup besar di belahan lainnya” gumam Nur dalam hati. “Kemudian apa lagi sayang ?” tanya Nur.
“Nah, sudah jelaskan sayang, kita harus bisa membangkitkan kehormatan keluargaku dengan dendam-dendam dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Langit, dan kita juga harus mampu untuk bisa mengadu domba diantara sesama belahan pada keluargaku, utamanya belahan Merah dan belahan Hijau,” terang Win kembali.
Tiba-tiba terdengar alunan lagu Metallica dari HP Win yang berbunyi.
Serta merta Win mengangkat HP nya dan berkata “Hallo,”.
Bagian ke tiga
Terdengar dari suara dibalik sana “Asslm, Win apa kabar ? Lama kita tidak jumpa, gimana kabar keluargamu Wan dan Vanes ?”
“Wasslm, siapa ini ?” tanya Win.
“Wah sudah lupa kau dengan saudaramu Umar ya..he he,” kata Umar di balik HP Win.
“Ough, Umar. Mmmh, Wan baik-baik saja sekarang ia jadi seorang public figur Mar, tapi anakku Vanes sudah tiada, ia meninggal karena kecelakaan,” jawab Win Parau.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun, sabar Win, semua yang diciptakan Tuhan pasti akan kembali kepadanya, semua kita awalnya dari tiada, sabar ya Win,” kata Umar.
Melihat Win terlihat sedih wajahnya Nur kemudian berbisik kepada Win “Siapa Win ?”
“Teman ngaji aku dulu,” jawab Win sambil berbisik kembali, tiba-tiba terlihat matanya memancarkan kemarahan ketika Umar menyebut-nyebut Tuhan.
“Umar, Tuhan mu itu tidak adil, semua dia renggut dari aku, engkau tahu aku kan, baru saja aku mereguk kebahagiaan dengan anakku dan tiba-tiba ia renggut dari aku. Aku sudah muak dengan kata-kata Tuhan,” tiba-tiba suara Win mengeras.
“Win, Istigfar. Anak dan istri adalah cobaan untuk kita, lagian kita ini awalnya tidak ada Win, hanya kebesaran Tuhan yang menyebabkan kita sekarang ada, hanya kasih sayang Tuhan,” ujar Umar seperti menggurui Win.
“Itu lagi, Tuhan itu bodoh Mar, kenapa Dia menciptakan manusia, apakah hanya untuk menunjukkan kesombongannya dengan memperlihatkan siapa yang baik akan masuk surga dan jahat masuk neraka, Tuhan sombong, Tuhan bodoh, Tuhan tidak adil,” teriak Win dengan emosi yang memuncak.
Umar sedikit kaget dengan teriakan Win di ujung telponnya, sesaat ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata “Win, Tuhan berhak untuk sombong karena memang ia yang ada, dan yang lainnya tiada. Tapi kalau engkau katakan Tuhan bodoh dan tidak adil, rasanya kamu kelebihan Win,” jawab Umar dengan suara yang agak berat.
Nur yang juga kaget melihat teriakan Win, kemudian memeluk Win dan menenangkannya, karena kalau sedang marah biasanya dengan pelukan wanita Win akan lebih tenang lagi.
“Coba kau pikir Mar, kalau manusia diciptakan untuk masuk ke neraka dan saling membunuh bukankah itu bodoh,” tukas Win cepat.
Umar sempat terdiam dengan perkataan Win, kemudian berkata “Win, harusnya kau bangga diciptakan Tuhan dengan kondisi sekarang ini, kau sebenarnya sudah mirip dengan Tuhan walau kau bukan Tuhan. Kau diberikan kebebasan untuk berpikir, kau punya otak. Kau mau berbuat salah atau benar itu adalah keputusanmu. Bebas kau menentukan pilihan. Tuhan adil kan Win, Tuhan tidak pernah memaksakan apa yang dikehendakinya,” ujar Umar agak mengeras.
“Naam, ana setuju, Tapi kenapa ia tidak memberikan hidayah kepada setiap orang, kenapa dia tidak mengislamkan semua orang, kalau ia sayang, bukankah Ia sanggup untuk itu atau Ia lemah. Dan yang paling membuatku gusar adalah Ia telah mengambil anakku yang baru saja menghirup dunia, kenapa tidak anak orang lain yang sudah besar saja,” jawab Win.
“Wah, sudah gila anak ini,” gumam Umar dalam hati. “Win itulah yang aku katakan kita bukan Tuhan ada hal-hal yang Tuhan pegang kuasa sebagai ujian buat kita, dan ia mempunyai hak yang lebih untuk menentukannya, tapi tetap memberikan kita kebebasan untuk memilih. Dan kamu harus tahu Win perasaan adil itu relative, bagi mereka yang kaya hidup mereka akan menderita kalau mereka tidak punya kendaraan, tapi bagi orang miskin itu tidak penting yang penting mereka bisa makan, mereka bahagia. Win, ingat syukur Win. Dan itu pulalah yang menyebabkan Tuhan boleh sombong karena hanya dia yang tahu isi hati manusia. Win kau sudah sombong Win, kau sudah serupa dengan Iblis, Istigfar Win” jawab Umar agak lembut.
“Tidak, aku akan tantang Tuhan kalau aku bisa hidup bukan di jalannya. Aku akan tantang Tuhan kalau aku sanggup menentukan hidup dan mati seseorang juga seperti ia mengambil anakku. Aku juga akan buktikan bahwa aku lebih baik masuk neraka menentangnya dari pada memuja-mujanya seperti orang bodoh,” kata Win lantang.
Nur menoleh ke Win ketika mengatakan itu, dan dalam hati berkata “Huh, Win, jangan asal bicara kau, jangan terlalu dendam, aku jadi takut kau akan berlebihan dalam melakukan aksi nantinya,”
Umar terkaget-kaget mendengar ulasan Win, dengan sedikit menahan amarah karena kesal ia berkata “Istigfar Win, kita ini makhluk lemah, melawan tsunami saja kita tidak bisa, belum nanti ketika kita mati dan dihadapkan di depannya, atau ketika kita masuk neraka. Istigfar Win, bolehlah kau tak takut neraka. Tapi asal kau tahu Win siksaan paling rendah dineraka itu seperti kita berdiri di batu bara sampai otak kita mendidih,” jawab Umar dengan suara parau.
Win sedikit bergidik juga mendengar ucapan dari Umar. Sesaat ia teringat dengan pesan guru ngajinya tadi tentang bagaimana dikatakan bahwa api neraka itu panasnya jutaan kali dari panas api yang sekarang kita gunakan.
“Ah peduli neraka,” katanya dalam hati. “Terserah kau lah Mar, tapi seperti yang kau katakan Tuhan kan tidak akan memaksakan kehendaknya, sekarang aku akan tantang Tuhan bahwa aku akan melakukan kerusakan di muka bumi ini, aku akan melakukan apa yang dilarangnya, aku mau tahu apakah ia bisa menghentikanku atau tidak,” kata Win.
Sambil menghela nafas panjang Umar berkata “Wallahualambishowab, mudah-mudahan kamu mendapat hidayah dari Tuhan dan selalu dalam perlindungannya. Ya sudah Win, nanti kita lanjutkan lagi. Asslm”. “Win, Win, tidak usahlah kau tantang Tuhan. Bukan itu ukurannya kau menang dari Tuhan, kalau saja Tuhan seperti kau tentu Iblis Laknat itu sudah lama jadi debu dibakarnya. Kau sepertinya lama-kelamaan menjadi Iblis, tapi kau bukan Iblis malah seperti sampah bagi manusia,” katanya dalam hati.
“Wasslm,” saut Win diujung telepon.
Umar adalah teman Win ketika ia sekolah, mereka berdua menamatkan pesantren secara bersamaan, ketika Umar melanjutkan kuliahnya di Mesir, rupanya Win lebih tertarik melanjutkan kuliahnya di dunia filsafat di Denmark.
Nur yang sejak dari tadi membelai-belai kepala Win dengan manja sepertinya ingin kembali melakukan pergulatan, dan terjadilah. Akhirnya mereka berdua tertidur kelelahan hingga keesokkan harinya.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Win pulang ke rumahnya agar tidak terlihat orang banyak, karena bagi masyarakat sekitar Nur adalah sosok wanita muslimah yang amat dihormati dan dihargai, bahkan dianggap sebagai salah satu tokoh muslim yang terkenal darmawan dan ringan tangan dalam membantu setiap kesusahan kaum muslimin.
Wan rupanya tidak pulang juga ke rumah malam itu, mereka memang sudah berjanji untuk tidak membawa perempuan lain atau laki-laki lain ke rumah mereka, biarlah ini menjadi rumah kenangan mereka berdua dengan Vanesia.
Win pun mulai merancang jabaran strategi global yang telah disepakati tadi malam menjadi aksi-aksi dengan jadwal yang sudah tersusun serta actor-aktor yang bisa direkrutnya untuk memulai membangkitkan konflik antara Keluarga Langit dengan keluarganya dengan tujuan dapat menghancurkan keluarganya kelak dan ia bisa mengendalikan keluarga besarnya untuk kepentingan organisasi iblis yang bernama Illuminati.
Kemudian ia memeriksanya sekali lagi, setelah ia yakin lantas ia menelpon anggota timnya dan actor-aktor pilihannya yang akan membantunya nanti. Ia merencanakan untuk melakukan pertemuan awal sebagai upaya untuk dapat menyamakan persepsi sekaligus mendengarkan masukan-masukan untuk kemudian melakukan pembagian tugas dalam memulai aksi gila mereka itu.
Akhirnya ia membagi timnya itu menjadi beberapa kelompok dengan aksi yang bertahap. Ia membagi menjadi 4 bagian. Bagian Propaganda yang bertugas melakukan aksi propaganda, pengangkatan isu-isu dan wacana-wacana, terdiri dari kelompok media, kelompok masyarakat umum, kelompok pemuda dan mahasiswa, kelompok wanita, dan kelompok elit. Kemudian Bagian Perekrutan yang bertugas untuk dapat melihat actor-aktor baru yang bisa direkrut untuk menjadi bagian dari tim pada 2 keluarga untuk lebih mengkutubkan perseteruan sekaligus menjadi pemimpin ketika cheos sudah selesai. Lantas Bagian Umum yang bertugas untuk dapat membackup baik dari sisi administrasi maupun keuangan dan lain-lain. Terakhir, Sekretariat Khusus yang bertugas untuk dapat membantu koordinasi antara Win dengan anggota timnya atau hal-hal yang bersifat khusus dan rahasia.
Perencanaan untuk tahapan pertama adalah tahapan sosialisasi yang kiranya dilakukan oleh Bagian Propaganda, ini dilakukan selama 1 tahun secara umum jika memungkinkan atau diam-diam secara bawah tanah, tahapan ini juga memungkinkan untuk melihat-lihat actor-aktor baru yang akan direkrut bagi peradaban baru mereka, yang tentunya harus mengetahui betul kemampuan dan loyalitas mereka. Tahapan kedua adalah tahapan perekrutan juga dalam waktu 1 tahun, dalam perekrutan aktornya harus diberikan ujian-ujian yang kiranya akan mampu untuk dapat mengetahui loyalitas dari actor tersebut, sekaligus memulai propaganda untuk melakukan perang fisik kecil-kecilan sebagai api-api kecil yang kemudian akan dibumbui dengan dendam-dendam lama konflik. Tahap ketiga, pemberian senjata kepada masing-masng actor yang sudah loyal untuk diberikan kepada tiap-tiap anggotanya untuk menciptakan cheos, namun Win berpesan kepada timnya aga cheos ini dapat dikendalikan sesuai dengan keuntungan mereka.
Namun dalam catatan rahasia Win yang tidak diberikan kepada tim adalah bahwa pada tahun ke 2 sudah harus ada cheos dari keluarga Cahaya sebelum adanya cheos total. Win merancang agar dari cheos ini akan timbul pemimpin-pemimpin baru dari keluarganya yang nantinya akan mudah mengikutinya untuk mendirikan peradaban baru menurut versi gilanya itu. Setelah itu ia mengkoordinasikan dengan timnya dan juga mensosialisasikan system mereka dalam mengevaluasi, dalam berbagai cara baik menggunakan media maupun sesekali pertemuan langsung.
Kemudian ia menuju ke rumah sakit tempat Nur bekerja untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan rancangan kegiatannya serta dokumen-dokumennya. Nur ketika mendengar laporan dari Win amat senang dengan ceritanya, ia bergumam “He he pionku sudah mulai bekerja, bagus Win, kami sebenarnya bisa tapi kami tahu kami butuh actor lokal, kamu memang pilihan yang tepat,”
Waktu berlalu dan terus berlalu.
Tahun pertama rencana yang dilakukan Win dikeluarganya mendapatkan penentangan dari belahan merah dan belahan hijau dengan amat berat sesuai dengan perkiraannya. Memang ia tahu betul bahwa inilah permasalahan utamanya, belahan merah sudah tidak mau lagi hidup susah karena peperangan dengan Keluarga Langit dan mereka juga sudah melakukan kerjasama yang sudah menguntungkan, sedangkan belahan Hijau menganggap perang ini adalah perang yang sia-sia, utamanya menurut belahan itu keluarga Langit adalah saudara seiman bahkan mereka sudah melakukan berbagai kerjasama untuk dapat memajukan Agama mereka itu.
Sedangkan belahan Pedang sudah dapat dikuasainya, karena mereka hanya bisa berperang, terlebih lagi mereka sedang ada masalah dengan belahan Merah yang biasanya membantu perekonomian mereka, begitu juga dengan belahan Naga yang memang sekarang sepertinya sudah dilangkahi wewenangnya oleh belahan Merah dan Hijau atas provokasinya. Untuk belahan Putih ia menggunakan kebesaran namanya yang kiranya dapat meredam mereka semua untuk dapat mengikutinya, namun masalahnya adalah Umar, yang terus melakukan perlawanan dengannya, bahkan ia terus mencari dukungan dari belahan-belahan lain di keluarganya.
Bahkan si Umar inilah yang sepertinya menjadi lawan dari Win dalam setiap aksinya. Otak si Win berpikir keras apa yang harus dilakukan untuk ini.
Bagian ke empat
Sebagai langkah awal Win mencoba untuk mengetahui tentang Umar terlebih dahulu, yang nama lengkapnya adalah Umar Putih, nama Putih merupakan nama belakang dari keluarga besarnya. Sebenarnya Win juga ada gelar Putihnya dibelakang namanya, namun ia enggan menggunakannya karena ia merasa tidak leluasa bergerak bebas dengan nama keluarganya tersebut. Ketika ia melihat berkas Umar Putih dari database yang ada pada organisasi Illuminati yang amat lengkap dan selalu update tersebut.
Sekilas ia teringat ketika pertama kali masuk dalam organisasi ini, ia diterangkan tentang lambang dari organisasi Illuminate, sebuah mata yang seolah-olah melihat semuanya, inilah yang menjadi sebuah tujuan dari organisasi ini bagaimana mereka dapat menguasai informasi untuk kepentingannya. Dan inilah yang tertera pada tattoo dari Nur teman tidurnya itu.
Ketika ia menemukan dokumen tentang Umar ia terpesona dengan track record dari Umar, saat ini ternyata ia sudah mempunyai 2 orang anak dan berhasil mengambil gelar Doktor di Universitas terkenal di Mesir. ternyata di Mesir ia mengikuti banyak organisasi yang salah satunya adalah Ikhwanul Muslim, yang menurut Illuminati merupakan salah satu organisasi yang harus dimusnahkan.
Karena organisasi inilah yang pertama kali membuat permasalahan Palestina menjadi permasalahan dunia internasional dan menggalang dukungan bagi Negara-negara Arab. Bukan itu saja menurut organisasinya Ikhwanul Muslim ini merupakan salah satu organisasi berbahaya yang amat pintar menggalang masa dan mampu menarik simpati nasional dari mereka yang mengikutinya serta orang-orangnya juga mempunyai dedikasi yang kuat baik pekerjaan dan komitmen mereka terhadap organisasi. Bagi Illuminati gerakan organisasi ini lawan utama, karena mereka menggunakan pola yang hampir sama dengan gerakan mereka. Bedanya adalah Ikhwanul Muslim berusaha menggunakan nilai-nilai Ilahi untuk mencapat tujuannya sedangkan Illuminati sebaliknya.
Organisasi ini lah yang sesungguhnya menjadi perusak setiap rencana bagi Illuminati untuk membangun peradaban baru yang lebih rasional dan tidak dibodoh-bodohi oleh pemikiran sempit dari agama-agama. Yang membuat orang menjadi begitu menurut dengan pimpinannya tanpa ada kebebasan, tidak seperti mereka yang bebas itu.
Umar di Mesir menjadi Guru Teladan disana dengan nilai yang amat baik, bahkan ia menikahi anak dari salah satu Guru Besarnya yang kini sudah dibawanya bersamanya. Namun yang membuat ia bingung adalah ternyata nama Umar juga sebagai anggota kehormatan dalam Illuminati. Ketika ia mencoba akses ke situ ia tidak bisa memasukinya. Win tidak mengerti, dengan serta merta ia menelpon Nur.
“Halo Nur, ini aku Win, aku mau bertanya kepadamu,” ujarnya.
“Ya Win ada apa ?” tanya Nur terbangun dari tidurnya.
“Nur, ketika aku membuka arsip di Illuminati aku menemukan bahwa saudaraku Umar juga mengikuti organisasi kita bahkan ia menjadi anggota kehormatan. Tolong beritahu aku yang sebenarnya,” ujar Win dengan sedikit agak kesal.
“Sebentar ya Win, telpon rumahku berbunyi aku akan menjawabnya sebentar,” ujarnya. Mendengar hal tersebut Nur agak kaget bahwa Win bisa akses kepada informasi yang sebenarnya belum waktunya ia bisa mengetahui. Sesaat ia menelpon kepada stafnya yang bertugas untuk menjaga akses dari orang-orang yang bisa memasukinya, sebentar ia berbicara kemudian menutup telpon rumahnya. Kemudian cepat-cepat ia mengangkat telpon Win kembali.
“Win sayang, bagaimana kau bisa masuk ke akses arsip itu, apakah kau menggunakan namaku ya,” tanyanya manja dan tegas.
“Mmmh, iya, maaf aku tidak memberitahumu terlebih dahulu karena kepalaku sudah muak dengan makhluk yang namanya Umar,” jawab Win dengan sedikit perasaan bersalah dan kesal. Memang Win itu adalah manusia yang unik, kalau ia berbuat salah kemudian dikerasi maka ia akan menjadi lebih keras lagi, tapi kalau dilembuti ia akan sedikit melunak. Rupanya Nur sudah mengerti betul karakter dari Win. Sebuah karakter yang didapatkan dari anak-anak korban konflik yang kini sudah dewasa. Nur tahu betul bahwa anak-anak pada masa konflik mempunyai sedikit kelainan pada pertumbuhan otaknya, pada limbiknya. Dalam otak terdapat sebuah batang otak yang bernama korteks, ketika seseorang itu ketika kecilnya selalu dalam tekanan dan kekerasan maka korteksnya akan membesar dan ini mempengaruhi emosinya pada masa yang akan kehidupannya mendatang. Manusia ini sifatnya lebih kepada reaksi, ketika seseorang menghinanya maka reaksinya yang lebih awal terlihat bukan dengan pemikiran terlebih dahulu. “He he memang konflik adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan derajat orang tersebut, mereka akan lebih mudah di cocok hidungnya seperti kerbau, karena pikiran mereka sudah menjadi pendek, sungguh cara ini adalah cara yang paling efektif untuk dapat membuat orang semakin bodoh dan bergantung kepada kita..ha ha,” tawa Nur dalam hati.
“Lain kali jangan seperti itu ya Win. Begini Win, tadi aku ditelpon stafku dari kantor Illuminati, kamu tidak salah Win memang ada yang namanya Umar Putih, tapi itu bukan saudaramu, dia orang arab yang kini sedang ada tugas khusus di sini. Dia adalah salah satu actor senior kita yang mengetahui betul tentang permasalahan Timur Tengah, orang itulah yang membantu kita hingga kini bisa membuat Timur Tengah menjadi terpecah-pecah seperti sekarang, hanya kebetulan saja sama” jawabnya. Namun dalam hati Nur berkata dengan geram “ Dasar kurang ajar, bukan wewenangmu masuk ke situ, kalaupun aku kasih tahu bahwa Ia saudaramu tentunya kamu akan bingung dan tidak akan seserius ini bekerja. Lagian kamu tidak harus tahu semua strategiku, dengan menjadikan Umar sebagai lawanmu maka aku dapat mengetahui siapa-siapa yang kiranya melakukan perlawanan terhadap tujuan kita, dan kita dapat mengantisipasinya. Kalaupun aku kasih tau kau, maka cuma emosi di wajahmu dan dendam di otakmu, rasanya sulit aku membicarakan itu denganmu,”.
Terlihat memang kekaliberan dari Nur dalam memimpin organisasi ini, ia mampu untuk memanaj anak-anak buahnya dan tidak terbawa perasaan terlalu dalam. Dibalik kecantikkan, kesantunan dan kelembutannya memang tersimpan hati batu dan pemikiran iblis. Sungguh organisasi Illuminati memang telah menempa anggotanya menjadi manusia-manusia yang menuhankan akal sehingga tanpa perasaan dan juga tidak mempunyai aturan untuk menggapai tujuannya, mereka menghalalkan segala cara. Bayangkan saja bila ada seorang manusia sempurna secara fisik dan jenius yang tidak berperasaan dan menghalalkan segala cara menggunakan kejeniusannya untuk mencapai tujuannya, gold dan glory untuk membangun peradaban baru versi mereka, sungguh mengerikan.
Dan yang membuat organisasi ini semakin membahayakan adalah kemampuannya dalam melakukan perekrutan actor-aktor lokal, meyakinkan mereka, menghancurkan sifat moralitas mereka, secara sistematis membuat ketergantungan terhadap mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka sehingga ketika seseorang itu masuk ke dalamnya maka ia akan teramat kesulitan untuk keluar lagi, seperti sudah memasuki lingkaran setan. Yang lebih unik lagi mereka tidak pernah memusuhi pihak-pihak Polisi, mereka bahkan merekrut banyak dari mereka untuk kepentingannya. Bagi mereka menguasai media dan pihak-pihak militer atau keamanan merupakan salah satu agenda utama mereka. Kemudian Pemikiran gila mereka lagi adalah ‘No Drugs for us But Yes for others’, mereka punya tidak mau hancur karena narkotika tapi mereka membiarkan hancur orang lain dengan narkotika, edan.
Jadi ketika kita bertemu pimpinan dari kelompok mereka jangan bayangkan dengan wajah-wajah yang kejam, lusuh, kotor dan seperti pembunuh akan tetapi mereka terlihat intelek, santun, necis, agamis, penuh dedikasi dan terlihat bersih dari segala kekotoran dunia. Mereka seringkali ikut dalam organisasi social masyarakat untuk membantunya dan menikmati pertunjukkan seni dan budaya bahkan menjadi members tetapnya. Mereka mampu mengesampingkan sisi lain dari keliaran mereka pada tempatnya. Mmmhhh.
Keesokkan harinya Nur menelpon stafnya meminta aga stafnya menelpon Umar untuk mengadakan pertemuan di Perpustakaan Al Huda, sebuah tempat favorite mereka dalam melakukan pertemuan. Yang menarik dalam organisasi ini adalah ketika mereka melakukan pertemuan dengan yang hampir selevel maka mereka melakukannya pada tempat-tempat yang terkesan jauh dari kotornya dunia. Selain itu Nur juga tahu bahwa ia amat berkepentingan dengan pemikiran dari Umar yang lebih matang dan rasional dari Win.
Siang harinya Nur ijin kepada atasannya di rumah sakit untuk kemudian melakukan pertemuan dengan Umar. Sesampai di sana terlihat Umar sudah sampai terlebih dahulu dan sedang membaca buku.
“Halo, gimana kabar Sob, lama ga jumpa ?” sapa Nur sambil tersenyum.
“Hai, kabar baik Nur, semua baik-baik aja kok. Kamu sendiri gimana ?” tanya Umar.
“Baiklah, aku kan tidak terikat siapa-siapa, jadi hidupku ya suka-suka aku lah,” jawab Nur.
“Ha ha ha,” kedua-duanya tertawa lepas.
“Ada apa Nur, tumben-tumbenan kamu mengajak aku bertemu, biasanya kalau tidak begitu penting kau tidak mau bertemu. Dan lagi jadwal kita masih on time kan, tidak ada masalah,” ujar Umar.
“Begini Umar, kemarin Win telpon aku, dia bisa akses ke database tentang keorganisasian kita dan dia menggunakan namaku untuk akses, sungguh kurang ajar anak itu. Dia menemukan bahwa namamu ada pada Anggota Kehormatan, walau aku sudah klarifikasi bahwa itu Umar yang lain, aku hanya takut bahwa dia nanti akan memaksa kamu,” jawab Nur.
“He he, tenanglah Nur, tahu aku lah, tidak mudah terpancing,” jawab Umar.
“Hmm ia kau tidak terpancing tapi kau juga pion bagi kami, kau hanya gila harta dan kekuasaan tapi kau tidak seberani Win di lapangan. Kami berhasil meyakinkan kamu karena kami berhasil membantu kamu menyelesaikan kuliah sampai dapat gelar Doktor di Mesir, mengangkat derajat kamu dengan memasukkan kamu untuk mengajar pada Universitas paling ternama di kota ini dan kota-kota lain juga ke dalam member kelas elit,” gumam Nur dalam hati.
“Iya Umar, oh ya gimana hasil dari kerja kamu, laporannya donk.” tukas Nur.
“Hmm. Banyak yang tidak suka dengan cara-cara Win, ia terlalu mudah terpancing emosi dan dendam, kata-katanya kadang keluar dari control. Menurut saya ini berbahaya bagi tujuan kita. Tapi walau begitu ia berhasil mengambil hati belahan pedang dan naga, sedangkan belahan kami sendiri hanya seperempat saja,” jawab Umar. “Iya lah, kerjanya hanya menghina Tuhan terang-terangan, bodoh”, kata Umar dalam hati.
“Tapi gimana dengan dari orang-orang yang sekarang mendukung kamu melawan Win, kamu kan bisa cerita sedikit lah kepada ku, biar aku pandai mengambil langkah,” kata Nur. “Percuma kau kami kualihin atau sekalian saja kau kami bunuh,” gumam Nur.
“Inilah yang menjadi masalah ternyata mereka lebih banyak dari yang mendukung Win, kelihatan betul bahwa mereka sudah cape dengan perang ini, malah yang generasi kedua dari aku, mereka lebih aktif dan militant. Tapi yang menarik adalah kebencian mereka kepada kelompoknya si Win semakin meningkat, mereka tidak lagi memikirkan perang mereka, tapi bagaimana menghancurkan si Win. Aku terkadang harus mengerem mereka dengan berbagai cara. Ini sekarang masalah ku Nur,” jawab Umar.
“Lantas apa yang akan kamu lakukan,” tanya Nur. “Ha ha ini adalah pertanda baik bagi organisasi kami, sekali dayung 2, 3 pulau terlampui. Kami akan menghajar kalian semua dari atas dan bawah nantinya, Kami akan mengorbankan kau dan Win dalam sebuah konflik pribadi. Setelah itu kami akan mencari jalan untuk membuat konflik pribadi ini membesar dan terjadilah perang yang kami inginkan,” pikir Nur.
“Sekarang ini aku sedang mencoba masuk secara perlahan untuk bisa meyakinkan mereka untuk berjalan seperti yang sekarang ini, kedamaian, kebencian mereka kepada Win kijadikan sebagai salah satu propaganda aku, tapi tetap aku kontrol. Dan yang terpenting adalah tugasku adalah mengetahui perkembangan dari mereka yang tidak menginginkan adanya peperangan, bukankah begitu Nur. Nanti diakhir pertemuan ini akan aku berikan laporannya, mapping dan keadaan saat ini, per orang dan per sikon” jawab Umar.
Umar walau pintar namun ia merupakan orang yang menyimpan segala ambisinya sehingga ia terkesan menurut dengan apa yang ditugaskannya, yang penting kesejahterannya terpenuhi dan selama itu menguntungkannya, lain halnya dengan Win, ia cerdas tapi sering kali meletup-letup dan kadang tidak terkontrol karena sifatnya reaksioner. Memikirkan hal tersebut Nur hanya tertawa terpingkal-pingkal dalam hatinya karena ia merasa belum mendapat lawan yang cocok semuanya masih bisa diatasi sesuai dengan rencananya.
“Gini Umar, kamu harus bisa membangun loyalitas mereka kepada kamu. Ini tugas kamu tambahan, semua kebutuhan kamu untuk itu akan aku usahakan, dan aku juga sedang berpikir kalau kamulah nantinya yang aku perjuangkan untuk dapat memimpin Keluarga Cahaya setelah selesai masa konflik ini,” ucap Nur tiba-tiba.
Mendengar ucapan Nur, Umar agak terkaget-kaget karena ini tentunya amat menguntungkannya, bukan itu saja karena ini semua merupakan ambisinya yang selalu ia pendam-pendam. Ia sebenarnya selama ini sudah bosan diperintah oleh wanita ini, yang menurutnya membuatnya menjadi gila. Ia sudah berencana untuk dapat keluar dari organisasi gila itu, yang sudah memberikannya banyak hal tersebut. Tadinya ia mencoba untuk memanfaatkan Win sahabatnya, ternyata ia juga sudah masuk dalam lingkaran setan seperti dirinya itu, dan sekarang menjadi musuhnya juga.
“Ah, aku tidak berminat, tapi aku pikirkan terlebih dahulu ya Nur,” jawab Umar sedikit sungkan. Ia berusaha meredam gejolak dirinya, berusaha menahan kegembiraannya dengan ambisinya.
“Sudah lah, tidak usah dipikir panjang kali ini seperti yang sudah-sudah, aku tahu kamu mau kan,” tukas Nur dengan sedikit merayu. “Ayolah, maulah kau betul-betul jadi pion kami, selama ini kau selalu pintar mengelak, kali ini kami tawarkan kekuasaan yang besar kepadamu. Karena kali ini sekali kau masuk maka aku hanya dapat katakan selamat datang di level ke dua” ujar Nur dalam hatinya.
Nur melihat Umar bisa berpotensi untuk ke level selanjutnya. Seorang Umar adalah seorang yang amat rasionalis dan ambisius, inilah yang terpenting. Ia juga tidak gila wanita dan lain sebagainya, ia cerdas. Orang-orang seperti inilah yang bisa jadi pimpinan di organisasi Illimunati penuh ambisi. Tinggal mengarahkan bagaimana caranya mengeluarkan seluruh ambisi gilanya dan mendoktrinnya hingga rasionalitasnya bisa mengalahkan Tuhan.
“Baiklah, saya akan mencoba membuat planningnya untuk kemudian dibicarakan dengan kamu,”ujar Umar dengan datar, walau matanya terlihat berbinar-binar menahan gembiranya dan tangannya bergetar ingin menunjukkan kegembiraannya.
Melihat hal tersebut Nur hanya tertawa dan berkata dalam hati “ Semua sesuai dengan rencana dan SELAMAT DATANG DI LEVEL KE 2.”
Bersambung…
bersambung..
Kehilangan anaknya bagi Win merupakan sebuah pukulan yang terberat dalam hidupnya, sejumlah harapan bagi anaknya sudah ada di dalam bayangannya, bahkan sebelum anaknya lahir ke dunia yang menurutnya penuh dengan ketidakadilan ini.
Semenjak ia kehilangan anaknya ia selalu menyalahkan Tuhan dengan berbagai cara, ia tidak menerima Tuhan dengan seenaknya saja merenggut anaknya darinya. Sampai-sampai ia berpikir bahwa Tuhan adalah bodoh karena telah menciptakan semua makhluknya tapi hanya untuk disakiti, hanya untuk diperlombakan mana yang baik dan mana yang benar, yang buruk hanya akan masuk neraka dan yang baik hanya akan masuk syurga. Menurutnya ini adalah permainan bodoh yang diciptakan Tuhan. “Tuhan telah menghina makhluk ciptaanNya sendiri, Tuhan tidak adil, ia tidak sayang kepada ciptaannya” gumamnya dalam hati karena saking kesalnya terhadap yang namanya Tuhan tersebut.
Semenjak itu ia berjanji bahwa ia akan melawan Tuhan, ia sekarang sudah tidak peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah, yang menurut persepsinya benar maka itu yang akan dikerjakannya.
Win akhirnya menjadi manusia yang amat pragmatis, betul-betul pragmatis, tidak ada lagi yang menjadi pegangan hidupnya dalan menjalani kehidupan ini. Baginya yang penting kalau semua keinginannya tercapai.
Yang menjadi keluarga tersebut semakin hancur adalah ternyata istrinya, Wan Azizah atau yang seringkali dipanggil Wan, yang juga mengikuti jejak dari suaminya, yang dahulunya selalu mengikuti perintah Tuhan sekarang ia menjadi perempuan bebas yang ingin menjalankan semua yang diinginkannya.
Namun kerap kali mereka bertengkar bukan karena cemburu ketika suaminya main dengan perempuan lain atau sebaliknya, mereka mempertengkarkan baik atau buruknya kegilaan mereka, mereka mempertengkarkan bagaimana caranya mencapai tujuan kegilaan mereka itu.
“Abang harus tahu kalau abang mau main dengan perempuan harusnya abang kasih tahu saya,” kata Wan.
“Loh, untuk apa saya kan bebas melakukan hubungan dengan siapapun, lagian kalau saya katakana sama kamu maka yang ada kamu akan marah, kamu akan cemburu, hidup kita semakin pusing,” jawab Win.
“Bukan itu Bang, kalau saya tahu siapa perempuannya maka saya akan lebih mudah mencari target laki-laki lain yang akan saya tiduri, minimal suami perempuan dari yang abang tiduri itu yang akan saya dekati,” ujar Wan dengan senyuman nakal setan dibibirnya.
“Astagfirullah, he salah…he he. Wan…Wan… kamu ini ternyata lebih gila dari aku ya, okelah Wan, Tuhan memang tidak pernah mencintai ciptaannya jadi kenapa kita harus mencintai ciptaannya juga. Peduli setan dengan anak-anak mereka, peduli setan dengan kehidupan mereka, yang penting kita nikmati hidup ini. Wan, jangan lupa pakai pelindung ya kalau kau sedang kesetanan dengan laki-laki lain, biar aman.. ha ha ha,” tawa laki-laki aneh itu yang sudah menyerupai iblis.
Keluarga ini kini sudah tidak memperdulikan lagi mana yang baik dan benar, mereka hanya tahu satu hal, mencapai semua hasrat mereka, tidak peduli itu baik atau salah karena bagi mereke sudah tidak ada lagi yang namanya agama, bagi mereka Tuhan itu tidak adil, bagi mereka Tuhan itu bodoh.
Sampai suatu saat Win bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik parasnya. Bagi Win ia menjadi penasaran karena ketika menggunakan jilbab sungguh cantik perempuannya itu, lantas ia membayangkan bagaimana kalau perempuan itu tidak memakai baju sehelaipun. Dalam pikirannya ia membayangkan tubuh wanita itu yang sintal, buah dadanya yang ideal, bokongnya yang pasti akan memuaskan hasratnya, betisnya yang menandakan kenikmatan bagian perempuannya, bahkan kulitnya yang kuning langsat keputihan itu semakin membangkitakan gairah setannya yang sudah menghancurkan banyak keluarga itu.
Gairahnya semakin memuncak ketika ia mengamati wajah wanita itu, bibir yang ranum tidak terlalu tipis dan tebal serta kemerahannya alami, pipinya yang memerah, raut wajahnya seperti daun sirih, hidungnya yang bangir, matanya seperti mata kucing yang menusuk orang-orang yang ditatapnya, sejadi-jadinyalah laki-laki itu menjadi tergila-gila.
“Assalamu’alaikum,” sapa Win. Perempuan itu lantas menatap Win kemudian menundukkan kepalanya dan menjawab “Wassalammu’alaikum, maaf anda siapa dan apa yang bisa saya bantu suami saya sedang menunggu saya di depan,”.
Win bergumam dalam hati “Huh, siapa lagi-laki yang beruntung itu, andai saja aku bisa membunuhnya,”. Kemudian ia menjawab “Oh, tidak saya hanya kagum dengan kecantikkan anda, saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat lagi. Kalau tidak keberatan nama anda siapa dan apa pekerjaan anda ?”.
“Nama saya Nurul Azizah, panggil saya saja Nur, saya bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit,” jawab Nur.
Mendengar pekerjaan Nur, Win menjadi senang karena ia merasa ada kesempatan untuk merusak wanita ini, karena masih ada kesempatan untuk dapat bertemu lagi dengan perempuan cantik itu. Lantas ia bertanya kembali dengan sopan “Alhamdulillah, saya sedang mencari-cari seorang dokter yang kiranya bisa mengobati penyakit kronis saya, sampai saat ini saya belum menemukan seorang dokterpun yang cocok, siapa tahu kita berjodoh, kalau boleh tahu dimana Rumah Sakitnya. Perempuan itu kemudian memberika sebuah kartu nama dari dompetnya dan kemudian berkata “Maaf, itu suami saya sedang di depan, saya harus segera berangkat, silahkan Bapak datang ke kantor saya.”
Hari ini Win begitu senang karena ia mendapatkan mangsa baru, ia pulang dengan bersiul-siul bahkan janjinya dengan perempuan selingkuhan yang akan ditidurinya ia batalkan karena ia begitu senang hari ini. Sampai di rumah ia melihat istrinya sedang tidur, ketika melihat istrinya ia teringat perempuan itu dan hasratnya menjadi tinggi, ia pun lantas mulai menggangu istrinya untuk kemudian menidurinya. Wan menjadi kaget karena Win begitu bersemangat hingga Win dan Wan melakukan hubungan suami istri itu dengan dahsyat. Walau bagi orang pintar dapat melihat bahwa sebenarnya persetubuhan itu adalah antara Win, Wan yang dibayangi oleh Nur dalam pikiran Win.
Setelah itu ia menceritakan kepada istirnya bahwa ia telah menemukan gadis pilihan korbannya saat ini dan menurutnya perempuan itu membuatnya menjadi gila karena ingin meniduri tubuh cantiknya itu. Wan di dalam hati merasa sedih karena setelah menidurinya suaminya malah menceritakan wanita lain, tapi ia hanya tertawa dan kemudian mengingatkan suaminya agar tidak lupa menanyakan nama suami dan pekerjaannya agar ia bisa mendekati suaminya.
Win kemudian menyadari bahwa ia harus mengarang sakit yang akan dideritanya, ia menjadi bingung karena kalau berhubungan dengan seorang dokter maka ia tidak akan bisa berbohong tentang penyakitnya ini. Tapi kemudian ia terigat dengan wanita cantik yang tidak jadi ditidurinya karena terkena penyakit menular TBC, tanpa pikir panjang ia kemudian mendatangi wanita itu dan menidurinya. Lantas ia menunggu selama beberapa minggu dan didapatinya tubuhnya yang sehat itu kini sudah terasa agak lemah dan mulai batuk-batukkan, mulai melemah. Ia tersenyum dengan rasa sakitnya lantas ia pun pergi menuju rumah sakit yang dokternya perempuan idamannya itu.
Sesampai di rumah sakit ia langsung mendaftar dan menanyakan kalau ia ingin ke dokter yang nernama Nur Azizah, ia pun akhirnya mendapatkan no urut untuk dapat memeriksakan kesehatannya kepada dokter Nur tersebut. Akhirnya gilirannya tiba, ia menemukan dokter itu sedang berbincang dengan asistennya seorang laki-laki muda yang tampangnya cukup menarik. Melihat Win datang Nur lantas menyuruh asistennya itu untuk mengambilkan sesuatu. “Selamat datang Pak Win, saya masih ingat anda, anda sakit apa?”, tanyanya. Kali ini terlihat Nur lebih berani memandang wajah Win yang memang menggoda setiap perempuan yang menatapnya. Win yang melihat perubahan dari Nur menjadi semakin menjadi-jadi keberaniannya, “Maaf Nur, saya sudah batuk-batuk seperti ini sejak tahunan, menurut beberapa dokter saya terkena TBC tapi sudah saya coba berobat tetap saja tidak sembuh-sembuh walau tubuh saya masih kuat sampai saat ini. Mendengar hal tersebut Nur segera memeriksa Win dengan cermat dan seksama.
Win betul-betul menikmati ketika Nur memeriksa seluruh tubuhnya, ia merasa dirinya berada ditempat lain dan membayangkan dirinya meniduri Nur, sungguh ia memang sudah menjadi gila. Setelah itu Nur terlihat menuju ke kamar mandi yang ada diruangannya, dengan cepat Win mengikutinya dan tanpa sengaja ia melihat Nur membuka hijabnya dan jas dokternya, terlihat olehnya pakaian ketat di dokter dengan rambut panjang terurai dan leher yang jenjang. Namun matanya tidak lepas dari tattoo pada belakang lehernya seperti sebuah mata yang memandang dirinya. Ia kemudian teringat dengan lambing Illuminati, sebuah lambang organisasi rahasia milik organisasi terjahat saat ini yang kerap kali membuat kekacauan di dunia ini.
Tiba-tiba Nur membalikkan dirinya dan melihat bahwa Win sedang menatapnya, Win menundukkan kepalanya. Anehnya tiba-tiba Nur memanggil dirinya untuk mendekatinya dan tanpa panjang lebar mereka pun melakukan hubungan suami istri di kamar mandi itu. Win yang terkaget-kaget itu lantas tiba-tiba menjadi bergairah kembali dan betul-betul memuaskan hasratnya dan perempuan gila itu.
“Nur, saya kira kamu perempuan yang taat agamanya karena kamu menggunakan jilbab,” ujarnya ketika mereka kembali ke meja setelah hasrat mereka berdua telah dilepaskan.
“Ha ha Win, saya memakai jilbab ini hanya sebagai kedok ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang fanatic, bagi saya jilbab ini hanya menutupi kebobrokan saya, menutupi hedonism saya, menutupi hasrat saya kepada kamu ketika pertama kali melihat kamu. Oh ya, jangan lupa minum ini ya selama sebulan dan jangan berhenti” jawabnya.
“Ha ha, saya membayangkan kalau saya akan kesulitan dalam mendapatkan kamu, baiklah. Oh ya, tanda apa di belakang lehermu dan kapan bisa ketemu lagi ?” tanya Win.
“Oh, itu tanda saya ikut organisasi Illuminati, dan dengan jilbab ini juga saya bisa menutupinya, mau ikutan Win ?” jawabnya. “Huh, banyak Tanya sekali orang ini, mungkin dia tidak tahu bahwa tingkatan tertinggi dari organisasi ini adalah tato di tenguk saya, kalau saja dia tahu siapa saya tentu ia akan takut dengan saya,” gumamnya dalam hati.
Dalam hati Win berkata “Hmm, benar ia ikut Illuminati,”. “Baik lah saya mau coba ikut saya sekarang benci dengan Tuhan, bagi saya Tuhan itu tidak adil, rasanya orang-orang Illuminati bisa terima itu kan,” ujarnya.
“Hmm, rasanya orang bodoh seperti anda, yang hatinya penuh dendam tidak akan bisa jadi pimpinan, anda paling hanya bisa menjadi pion. Rasanya tidak mungkin anda membuat kehancuran di dunia ini untuk kepentingan membangun peradaban baru kami kalau ada dendam, bodoh. Kami saja yang menciptkan dendam tidak pernah memasukkan ke dalam hati kami, bagi kami dendam itu adalah alat untuk menjadikan kalian dalam perang sehingga kami akan ambil keuntungan dari perang itu. Dan kamu sekarang sudah dalam genggaman saya, penyakit kamu akan saya control. Sedangkan saya imun dengan berbagai penyakit karena ada obat khusus untuk kami yang tidak akan kamu dapatkan…ha ha ha ” gumamnya dalam hati. Lantas kemudian ia berkata “Ia Win sayang, kamu betul memang Tuhan itu tidak adil makanya kami ada organisasi ini untuk membuktikan bahwa kitalah Tuhan itu, dan mereka saat ini sudah dibodoh-bodohi dengan yang namanya agama, mereka sudah kehilangan akalnya. Kamu bisa masuk ke organisasi kami,”
Win akhirnya mengikuti organisasi tersebut, ia mendapatkan banyak ilmu lagi bagaimana menghancurkan sebuah peradaban manusia dan membangun peradaban baru sesuai dengan keinginan dari dirinya dan organisasinya. Sungguh ia semakin tenggelam dengan kebenciannya kepada Tuhan. Sampai-sampai ia beranggapan bahwa Tuhan itu adalah seperti dirinya, yang bisa dilawan, yang bisa disakiti. Dan makhluk lainnya adalah makhluk bodoh karena masih mempercayai dengan adanya Tuhan.
Bagian kedua
Win yang sebenarnya bernama lengkap Erwin Abdullah itu kini sudah mulai mahir dalam menguasai berbagai pengetahuan untuk dapat menggerakkan massa sesuai dengan keinginannya, pandai dalam mengangkat berbagai isu untuk kepentingan organisasi, semuanya dia dapat dari Illuminati.
Win sekarang sudah berubah dari seorang yang membenci Tuhan perorangan, kini sudah bergabung dengan pembeni-pembneci Tuhan lainnya, bahkan ia dengan cepat mendapatkan kepercayaan untuk selalu memimpin sebuah operasi yang bertugas membuat cheos dalam sebuah daerah.
Keahliannya dilengkapi dengan kevulgaran dalam organisasi tersebut yang tidak lagi memperdulikan batasan antara laki-laki dan perempuan, sehingga siapapun dapat berhubungan dengan siapapun tanpa peduli lagi. Win benar-benar mendapatkan syurganya disana, ia melihat bahwa organisasi ini benar-benar telah melanggar setiap batasan yang telah di atur oleh Tuhan dari agama manapun yang ia ketahui. Ia benar-benar bisa melakukan hubungan dengan Nur kapanpun dan dimanapun ketika hasrat mereka timbul. Dan yang lebih membahagiakan Win ternyata Nur memprioritaskan dirinya dalam hal apapun, ntah itu materi maupun fasilitas lainnya. Ia dapat menyalurkan hasratnya untuk menghancurkan peradaban manusia ini sesuai dengan hasrat dan kini menjadi hobynya.
Sedangkan istrinya ikut dalam jaringan tersebut dalam level yang lebih rendah lagi akan tetapi dengan tugas yang amat buruk lagi, istrinya menjadi ikon untuk kebebasan yang bertopengkan kedamaian, Wan kini menjadi agen perubahan menuju kebebasan tanpa batas dengan mengatasnamakan kemanusiaan. Kebebasan yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak individu seorang manusia dalam tanpa memperdulikan akibatnya terhadap masyarakat dan di masa yang akan datang.
Suatu saat tiba-tiba Nur memanggil Win dengan ke rumahnya, bila ini terjadinya biasanya Nur ingin memberikannya tugas khusus kepadanya dan mendiskusikan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan dari tugasnya tersebut.
“Win, aku punya tugas baru untuk kamu, keluarga si A yang selama ini selalu dalam keadaan kacau tampaknya sudah mulai berdamai. Dan kebetulan kamu dekat dengan keluarga tersebut,” Nur buka bicara.
“Keluarga siapa Nur ? Terus apa hubungannya dengan aku dan tugasku apa?” ujar Win.
“Ini adalah sebuah keluarga yang bisa berpotensi dapat menghancurkan tujuan organisasi kita di daerah sana, mereka adalah keluarga yang pada awalnya amat teguh dalam memegang agama bodohnya, dan ini sudah terkenal sejak puluhan tahun silam. Sebenarnya kami sudah berhasil untuk membuat cheos keluarga tersebut dengan berbagai cara, namun kini sepertinya ada kejenuhan dalam keluarga tersebut untuk bertempur terus, dan mereka tampaknya mulai berdamai, kita harus dapat membuat cheos lagi Win,” kata Nur.
“Wah itu berikan saja kepada saya tugas itu Nur, saya amat menyukai tugas ini, tapi kenapa kamu bilang mereka dekat dengan keluargaku ?,” tukas Win memotong percakapan Nur.
“Win, sabar, saya belum selesai. Mereka adalah bagian dari keluarga kamu, sejak lama kami sudah memperhatikan bahwa kamu adalah dapat menjadi potensi bagi kami, dan ternyata kamu lebih hebat dari perkiraan kami semua. Kamu memang sudah benar-benar benci dengan yang namanya Tuhan. Ini adalah keluarga besar Cahaya, bukankah kami bagian dari keluarganya ?” tanya Nur.
“Hmmm…iya, memang keluarga yagn terkenal itu adalah bagian dari keluarga saya,” kata Win singkat. Lantas ia terdiam, “Huh, kenapa saya harus menghancurkan keluarga saya, walau saya hancur seperti ini tapi apakah saya sanggup untuk menghancurkan mereka kembali. Padahal mereka baru saja berdamai semuanya. Mereka baru saja bisa saling sapa dengans senyum dan bisa menikmati hidupnya dengan baik. Huh, saya jadi teringat anak saya yang mirip dengan eyangnya….,” ujar Win dalam hatinya.
Nur yang melihat gelagat Win itu melihat ada keraguan dari hatinya Win, lantas ia dengan serta merta mendekati Win dan menciumnya untuk kemudian mengajaknya ke hubungan yang selalu mereka sukai itu. Win yang sedang gundah tersebut sesaat melupakan apa yang dipikirkanya dan mereka pun bergulat untuk mencapai hasrat mereka masing-masing.
Win dan Nur memang tidak pernah bosan melakukan hubungan gila ini, ntah ada setan apa dalam diri mereka masing-masing berdua, jika bertemu pasti mereka akan seperti itu terus.
Rupanya Nur menyadari bahwa Win akan lebih mudah diajak mengikuti keinginannya setalah mereka melakukan hubungan intim tersebut.
“Gimana Win Sayang…dengan tugas yang tadi, aku tahu mereka adalah keluargamu, tapi bukankah kita tidak pernah mengenal yang namanya kebenaran yang bodoh, agama, keluarga, karena ini adalah kebodohan-kebodohan yang hanya membuat kita tidak mampu berbuat tegas, dan membangun dunia baru sesuai dengan keinginan kita semua,” bisiknya ke Win lembut. “Win, Win, kau harus mau, memang kau memuaskan aku, tapi kalau kau tidak mau maka aku harus menyingkirkanmu, peyakitmu memang sepertinya sudah sembuh tapi aku masih memelihara 1 ekor virus lagi yang kemudian akan berkembang biak dalam tubuhmu” kata Nur dalam hatinya.
Win terlihat tertidur pulas ketika Nur mengatakan hal tersebut, ia pura-pura tidur, rupanya ia mencoba memikirkan dengan tenang apa yang dibisikkan wanita idamannya itu.
“Vanesia, ayahmu disuruh menghabiskan keluarga kita sendiri, apa yang harus ayah lakukan. Semua yang ayah lakukan sampai ayah seperti ini karena ayah begitu membenci Tuhan kita yang telah membawa kamu dari sisi Ayah. Haruskan ayah menghancurkan keluarga ayah sendiri…”, katanya dalam hati.
Win membalikkan tubuhnya dari Nur, seolah-olah dalam pura-pura tidurnya ia membutuhkan ruang lagi untuk dapat memikirkan tugas barunya, dan ia tidak ingin melihat Nur melihat air matanya tumpah memikirkan tugas barunya itu. Dan ia pun tertidur ketika memikirkan hal itu terus.
Win memang adalah sosok yang amat mencintai keluarganya, walau ia menghancurkan keluarga orang lain tapi ketika ia disuruh menghancurkan keluarganya sendiri, ini merupakan hal yang berat dalam hidupnya karena sebenarnya keluarganya sudah membesarkannya dengan kasih sayang.
Keesokkan paginya ketika ia bangun dari tidurnya, dilihatnya wanita idamannya masih tertidur dengan tanpa memakai sehelai benangpun sehingga kecantikkannya terlihat dan kembali membangkitkan hasrat Win. Tapi kemudian ia teringat tugas yang diberikan oleh Nur, ia mengurungkan niatnya untuk kembali mengganggu Nur, yang sebenarnya Nur juga suka kalau ketika paginya kembali melakukannya.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dan melihat dirinya dalam kaca tersebut. “Vanes, apa yang harus ayah lakukan ?” ujarnya. Kemudian ia mandi dan kemudian pulang menujua ke rumah, dalam perjalanan pulang ia berpikir mungkinkah ini ia lakukan. Terjadi perang besar kembali dalam dirinya seperti ketika anaknya pergi meninggalkannya.
“Tuhan kau tidak adil, anakku kau ambil, gara-gara kau aku masuk dalam organisasi yang melawanMu. Sekarang aku mendapat tugas untuk membuat berantakkan keluargaku yang baru saja damai ini. Tuhan kenapa engkau menimpakan ini semua kepadaku ? Ketika Engkau menghilangkan kebahagiaanku, kini aku juga harus menghilangkan kebahagiaan keluargaku melalui tanganku. Kenapa harus aku ? Kenapa ? Apakah kau menantangku seperti engkau menantangku dengan mengambil anakku dari sisiku ? Jawab Tuhan, Jawab….,” teriaknya dalam hati. Tiba-tiba air matanya tumpah dan ia pun menangis sejadi-jadinya dengan nanar mata yang marah sambil mendongakkan kepalanya. Mata yang penuh dendam, mata yang penuh keamarahan, mata yang penuh dengan kesedihan dan mata yang penuh kesinisan.
Setelah sampai ke rumah ia mengganti bajunya dan keluar lagi. Hari ini berencana akan menghabiskan waktunya untuk melakukan semua apa yang membuatnya senang, semua yang tidak disukai oleh orang lain, semua yang dilarang oleh Tuhan.
Keesokkan harinya ia datang kepada Nur dengan wajah yang lebih sinis dan kejam lagi, fase kedua dalam hidupnya menuju kebencian kepada Tuhan sudah ia lewati. “Nur, aku siap dengan tugas mu,” sesampai ia di ruangan Nur bekerja di rumah sakit.
Nur tersenyum, kemudian berkata “Wah, itu baru pemimpin baru dari peradaban baru,”. Walau dalam hati Nur bergumam “Iya lah aku tau kau pasti mau, kau penuh dendam, kau akan selalu jadi pionku yang paling aku andalkan, egomu terlalu besar dengan dendammu,”. “Oh ya Win, nanti malam kita diskusikan di rumahku ya tentang strategi yang akan kita atur, ada tamu ku kamu keluar dulu ya, sampai nanti malam,” katanya ketika masuk seorang laki-laki muda yang berwajah menarik.
Malam harinya kembali Win ke rumah Nur untuk mendiskusikan permasalahan penghancuran keluarganya sendiri. Ketika mereka akan membahasnya Nur memberikan beberapa dokumen tentang Keluarga Cahaya, nama keluarganya tersebut dan upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk dapat menghancurkan keluarga tersebut. Ketika membacanya Win terlihat mengerutkan keningnya karena ia melihat bagaimana ternyata penghancuran keluarganya dilakukan secara sistematis, “Sungguh ini adalah sebuah pekerjaan yang benar-benar luar biasa,” ujarnya dalam hati.
Ketika ia asik membaca dokumen-dokumen itu Nur memasak makan malam, mempersiapkan dirinya secantik mungkin dengan wangi-wangian dan pakaian yang memperlihatkan kecantikan tubuhnya.
Win pun lantas menuliskan strategi barunya untuk dapat menghancurkan keluarganya, ia menuliskan di papan tulis yang ada pada ruang kerja tersebut “Hal yang pertama kali dilakukan adalah kembali mengadudomba keluarga tersebut dengan harta, mereka yang keakuan terlalu tinggi dari bagian-bagian keluarga tersebut dan mereka yang memegang teguh ajaran agamanya. Hal yang kedua, menghancurkan moral dari mereka karena selama mereka dekat dengan agama maka semakin sulit mereka untuk dihancurkan, karena inilah kunci mereka memang begitu ditakuti sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ketiga, harus bisa menanamkan bibit-bibit dendam kepada generasi keduanya, tentunya ini akan menjaga kesuburan konflik di antara mereka.”
Ketika Nur memasuki ruang kerjanya ia hanya tertawa dalam hati membaca tulisan Win itu, “Ha ha Win, Win apa yang kau tulis itu adalah benar sekali dan kami sudah melakukannya dengan keluargamu dalam beberapa puluh tahun ini, sehingga kami mengambil banyak keuntungan dari kebesaran nama dan kekayaan keluarga kamu itu, tapi yang kami butuhkan adalah actor utamarnya, dan kamu sadar tidak sadar adalah actor yang sudah kami persiapkan…he he, tapi rasanya kita perlu diskusi lebih detail, karena sepertinya banyak actor baru juga yang ada pada keluargamu”.
“Wah, hebat Win sayang, strategi mu ini luar biasa, rasanya kita bisa jalankan ini dengan baik. Jenius kau sayang…” rayu Nur.
Win kemudian kaget melihat Nur, kemudian ia tertegun dengan pakaian Nur yang demikian seksi itu serta wanginya yang kembali membangkitkan gairahnya. “Iya Nur, sinilah temani aku,” jawabnya.
Nur dengan gatalnya mendekati Win, akhirnya mereka bergulat kembali.
Setelah itu terlihat Nur begitu bersemangat untuk membahas strategi yang dituliskan Win itu.
“Win, menurut kamu bagaimana caranya bisa mengadudomba keluarga kamu itu ?” tanyanya.
“Ha ha, gampang Nur, keluarga kami memang besar tapi masing-masing dari keturunannya atau belahannya satu sama lain suka tidak akut, egoism kami suka sama-sama tinggi. Makanya sebenarnya inilah yang membuat kami akhir-akhir ini terus bertengkar karena memang kami tidak mau kalah. Ada belahan saudara kakekku yang bernama Merah, mereka itu paling tidak mau rugi, apalagi dalam bisnisnya, bahkan kadang kalau mereka tidak segan mengorbankan keluarga lainnya yang penting bisnisnya untung besar,” cerita Win.
Win kemudian menceritakan seluruh rahasia keluarganya, belahan Naga yang keturunan gila kekuasaan, belahan Pedang yang amat suka berperang, belahan Putih yang terkesan netral sesuai dengan kebutuhannya dan terakhir belah hijau yang memegang moral agamanya dengan amat teguh. Win juga menceritakan bahwa ia berasal dari belahan putih, belahan putih ini menurut Win terkadang bergabung dengan belahan yang menurutnya menguntungkan sehingga belahan ini banyak berhubungan dengan berbagai belahan karena masing-masing keturunannya pasti ada ikut dalam belahan lain.
Mendengar hal tersebut Nur dengan senyum manjanya merasa senang mendengarkannya,”Mmmhh, dulu kami menggunakan actor dari belahan Naga, tapi mereka rasanya kurang berhasil karena gabungan mereka dengan belahan Pedang kini terpecah, dan mereka sekarang kalah dengan belahan Merah juga tidak bisa mengancam lagi belahan Hijau. Memang tepat rasanya sekarang menggunakan belahan Putih karena dampaknya sepertinya akan dapat lebih menghancurkan keluarga pengacau ini…ha ha ha,” gumamnya dalam hati Nur.
“Win, terus apa yang akan kamu lakukan untuk dapat mengadudomba mereka semua, agar mereka hancur dan tidak lagi menjadi penghalang bagi membangun peradaban baru kita ?” Tanya Nur.
“Begini sayang, saya sudah lama hidup dalam keluarga ini. Sesungguhnya dalam hati mereka itu masih ada perasaan saling bersaudara yang tinggi, ini akan dibuktikan ketika mereka dalam kesulitan, bagian dari belahan itu tidak bisa melihat keluarganya dalam kesulitan. Ini semua karena mereka tidak mau kehormatan keluarga mereka hancur, bagi mereka ini hal utama,” jawab Win.
“Sepertinya yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghilangkan kehormatan keluarga ini, dengan cara menghancurkan kebanggaan mereka, ini yang menurut saya harus pertama kali dilakukan. Biarpun mereka seperti ini tapi kalau agama mereka dihina mereka akan mempertahankannya. Jadi ini satu hal lagi selain kehormatan mereka adalah agama mereka, ini perlu kita hancurkan atau kita adudomba 2 golongan besar ini dari keluarga saya. Gimana menurut Nur ?”tanyanya.
“Yah, untuk awal rasanya ini bisa dilakukan, 2 golongan ini akan kita panas-panasi terus, maka hal yang harus dilakukan rasanya adalah bagaimana caranya mendapatkan sebuah isu yang bisa membuat keluargamu itu terbelah menjadi 2, apa ya isunya…?” jawab Nur.
“Gini sayang, kalau masalah kehormatan keluargaku mungkin kita bisa mengadunya dengan keluarga besar Langit, karena sebenarnya saingan kami, Keluarga Cahaya adalah Keluarga Langit. 2 keluarga besar ini sejak dari dulu bersaing,” ujar Win.
“Hi hi, engkau betul Win, tapi masalahnya mereka sekarang sedang berbaikan. Itulah masalahnya, mungkinkah ini kita utak-utik lagi, karena sepertinya keluargamu sudah merasa jenuh dengan perangnya dengan keluarga Langit yang tidak berujung pangkal ini, rasanya keluargamu sudah mulai rasional atau kebanggaanya menjadi berkurang..ha ha ha” jawab Nur.
“Bisa sayang, masih bisa, tapi perlu diingat bahwa sekarang ini yang menyebabkan keluarga kami menjadi seperti itu adalah belahan Merah dan Hijau, mereka berhasil mempengaruhi belahan-belahan lainnya. Jika belahan Merah meyakinkan bahwa perang ini malah membuat keluarga kita menjadi tidak sejahtera sedangkan belahan Hijau mengatakan bahwa keluarga Langit juga saudara seiman kita dan mereka meyakinkan bahwa mereka telah melakukan pendekatan untuk keuntungan 2 keluarga di masa yang akan datang. Tapi Nur musti ingat bahwa belahan Pedang masih gusar dengan dendam-dendam yang bergelora dihati mereka, dan belahan Putih masih tersebar di berbagai belahan sehingga kekuatan mereka sebenarnya tidak bisa diperhitungkan, kami hanya punya jaringan di belahan lain” ujar Win.
“Mmmhh, belahan Putih itu lah yang sekarang menurut analisa kami bisa kembali menggoyang perang antara 2 keluarga besar ini Win, walau belahan Putih tidak kuat tapi mereka mempunyai jaringan di belahan lain, bahkan ada diantara anggota keluarga belahan Putih yang memegang peranan cukup besar di belahan lainnya” gumam Nur dalam hati. “Kemudian apa lagi sayang ?” tanya Nur.
“Nah, sudah jelaskan sayang, kita harus bisa membangkitkan kehormatan keluargaku dengan dendam-dendam dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Langit, dan kita juga harus mampu untuk bisa mengadu domba diantara sesama belahan pada keluargaku, utamanya belahan Merah dan belahan Hijau,” terang Win kembali.
Tiba-tiba terdengar alunan lagu Metallica dari HP Win yang berbunyi.
Serta merta Win mengangkat HP nya dan berkata “Hallo,”.
Bagian ke tiga
Terdengar dari suara dibalik sana “Asslm, Win apa kabar ? Lama kita tidak jumpa, gimana kabar keluargamu Wan dan Vanes ?”
“Wasslm, siapa ini ?” tanya Win.
“Wah sudah lupa kau dengan saudaramu Umar ya..he he,” kata Umar di balik HP Win.
“Ough, Umar. Mmmh, Wan baik-baik saja sekarang ia jadi seorang public figur Mar, tapi anakku Vanes sudah tiada, ia meninggal karena kecelakaan,” jawab Win Parau.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun, sabar Win, semua yang diciptakan Tuhan pasti akan kembali kepadanya, semua kita awalnya dari tiada, sabar ya Win,” kata Umar.
Melihat Win terlihat sedih wajahnya Nur kemudian berbisik kepada Win “Siapa Win ?”
“Teman ngaji aku dulu,” jawab Win sambil berbisik kembali, tiba-tiba terlihat matanya memancarkan kemarahan ketika Umar menyebut-nyebut Tuhan.
“Umar, Tuhan mu itu tidak adil, semua dia renggut dari aku, engkau tahu aku kan, baru saja aku mereguk kebahagiaan dengan anakku dan tiba-tiba ia renggut dari aku. Aku sudah muak dengan kata-kata Tuhan,” tiba-tiba suara Win mengeras.
“Win, Istigfar. Anak dan istri adalah cobaan untuk kita, lagian kita ini awalnya tidak ada Win, hanya kebesaran Tuhan yang menyebabkan kita sekarang ada, hanya kasih sayang Tuhan,” ujar Umar seperti menggurui Win.
“Itu lagi, Tuhan itu bodoh Mar, kenapa Dia menciptakan manusia, apakah hanya untuk menunjukkan kesombongannya dengan memperlihatkan siapa yang baik akan masuk surga dan jahat masuk neraka, Tuhan sombong, Tuhan bodoh, Tuhan tidak adil,” teriak Win dengan emosi yang memuncak.
Umar sedikit kaget dengan teriakan Win di ujung telponnya, sesaat ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata “Win, Tuhan berhak untuk sombong karena memang ia yang ada, dan yang lainnya tiada. Tapi kalau engkau katakan Tuhan bodoh dan tidak adil, rasanya kamu kelebihan Win,” jawab Umar dengan suara yang agak berat.
Nur yang juga kaget melihat teriakan Win, kemudian memeluk Win dan menenangkannya, karena kalau sedang marah biasanya dengan pelukan wanita Win akan lebih tenang lagi.
“Coba kau pikir Mar, kalau manusia diciptakan untuk masuk ke neraka dan saling membunuh bukankah itu bodoh,” tukas Win cepat.
Umar sempat terdiam dengan perkataan Win, kemudian berkata “Win, harusnya kau bangga diciptakan Tuhan dengan kondisi sekarang ini, kau sebenarnya sudah mirip dengan Tuhan walau kau bukan Tuhan. Kau diberikan kebebasan untuk berpikir, kau punya otak. Kau mau berbuat salah atau benar itu adalah keputusanmu. Bebas kau menentukan pilihan. Tuhan adil kan Win, Tuhan tidak pernah memaksakan apa yang dikehendakinya,” ujar Umar agak mengeras.
“Naam, ana setuju, Tapi kenapa ia tidak memberikan hidayah kepada setiap orang, kenapa dia tidak mengislamkan semua orang, kalau ia sayang, bukankah Ia sanggup untuk itu atau Ia lemah. Dan yang paling membuatku gusar adalah Ia telah mengambil anakku yang baru saja menghirup dunia, kenapa tidak anak orang lain yang sudah besar saja,” jawab Win.
“Wah, sudah gila anak ini,” gumam Umar dalam hati. “Win itulah yang aku katakan kita bukan Tuhan ada hal-hal yang Tuhan pegang kuasa sebagai ujian buat kita, dan ia mempunyai hak yang lebih untuk menentukannya, tapi tetap memberikan kita kebebasan untuk memilih. Dan kamu harus tahu Win perasaan adil itu relative, bagi mereka yang kaya hidup mereka akan menderita kalau mereka tidak punya kendaraan, tapi bagi orang miskin itu tidak penting yang penting mereka bisa makan, mereka bahagia. Win, ingat syukur Win. Dan itu pulalah yang menyebabkan Tuhan boleh sombong karena hanya dia yang tahu isi hati manusia. Win kau sudah sombong Win, kau sudah serupa dengan Iblis, Istigfar Win” jawab Umar agak lembut.
“Tidak, aku akan tantang Tuhan kalau aku bisa hidup bukan di jalannya. Aku akan tantang Tuhan kalau aku sanggup menentukan hidup dan mati seseorang juga seperti ia mengambil anakku. Aku juga akan buktikan bahwa aku lebih baik masuk neraka menentangnya dari pada memuja-mujanya seperti orang bodoh,” kata Win lantang.
Nur menoleh ke Win ketika mengatakan itu, dan dalam hati berkata “Huh, Win, jangan asal bicara kau, jangan terlalu dendam, aku jadi takut kau akan berlebihan dalam melakukan aksi nantinya,”
Umar terkaget-kaget mendengar ulasan Win, dengan sedikit menahan amarah karena kesal ia berkata “Istigfar Win, kita ini makhluk lemah, melawan tsunami saja kita tidak bisa, belum nanti ketika kita mati dan dihadapkan di depannya, atau ketika kita masuk neraka. Istigfar Win, bolehlah kau tak takut neraka. Tapi asal kau tahu Win siksaan paling rendah dineraka itu seperti kita berdiri di batu bara sampai otak kita mendidih,” jawab Umar dengan suara parau.
Win sedikit bergidik juga mendengar ucapan dari Umar. Sesaat ia teringat dengan pesan guru ngajinya tadi tentang bagaimana dikatakan bahwa api neraka itu panasnya jutaan kali dari panas api yang sekarang kita gunakan.
“Ah peduli neraka,” katanya dalam hati. “Terserah kau lah Mar, tapi seperti yang kau katakan Tuhan kan tidak akan memaksakan kehendaknya, sekarang aku akan tantang Tuhan bahwa aku akan melakukan kerusakan di muka bumi ini, aku akan melakukan apa yang dilarangnya, aku mau tahu apakah ia bisa menghentikanku atau tidak,” kata Win.
Sambil menghela nafas panjang Umar berkata “Wallahualambishowab, mudah-mudahan kamu mendapat hidayah dari Tuhan dan selalu dalam perlindungannya. Ya sudah Win, nanti kita lanjutkan lagi. Asslm”. “Win, Win, tidak usahlah kau tantang Tuhan. Bukan itu ukurannya kau menang dari Tuhan, kalau saja Tuhan seperti kau tentu Iblis Laknat itu sudah lama jadi debu dibakarnya. Kau sepertinya lama-kelamaan menjadi Iblis, tapi kau bukan Iblis malah seperti sampah bagi manusia,” katanya dalam hati.
“Wasslm,” saut Win diujung telepon.
Umar adalah teman Win ketika ia sekolah, mereka berdua menamatkan pesantren secara bersamaan, ketika Umar melanjutkan kuliahnya di Mesir, rupanya Win lebih tertarik melanjutkan kuliahnya di dunia filsafat di Denmark.
Nur yang sejak dari tadi membelai-belai kepala Win dengan manja sepertinya ingin kembali melakukan pergulatan, dan terjadilah. Akhirnya mereka berdua tertidur kelelahan hingga keesokkan harinya.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Win pulang ke rumahnya agar tidak terlihat orang banyak, karena bagi masyarakat sekitar Nur adalah sosok wanita muslimah yang amat dihormati dan dihargai, bahkan dianggap sebagai salah satu tokoh muslim yang terkenal darmawan dan ringan tangan dalam membantu setiap kesusahan kaum muslimin.
Wan rupanya tidak pulang juga ke rumah malam itu, mereka memang sudah berjanji untuk tidak membawa perempuan lain atau laki-laki lain ke rumah mereka, biarlah ini menjadi rumah kenangan mereka berdua dengan Vanesia.
Win pun mulai merancang jabaran strategi global yang telah disepakati tadi malam menjadi aksi-aksi dengan jadwal yang sudah tersusun serta actor-aktor yang bisa direkrutnya untuk memulai membangkitkan konflik antara Keluarga Langit dengan keluarganya dengan tujuan dapat menghancurkan keluarganya kelak dan ia bisa mengendalikan keluarga besarnya untuk kepentingan organisasi iblis yang bernama Illuminati.
Kemudian ia memeriksanya sekali lagi, setelah ia yakin lantas ia menelpon anggota timnya dan actor-aktor pilihannya yang akan membantunya nanti. Ia merencanakan untuk melakukan pertemuan awal sebagai upaya untuk dapat menyamakan persepsi sekaligus mendengarkan masukan-masukan untuk kemudian melakukan pembagian tugas dalam memulai aksi gila mereka itu.
Akhirnya ia membagi timnya itu menjadi beberapa kelompok dengan aksi yang bertahap. Ia membagi menjadi 4 bagian. Bagian Propaganda yang bertugas melakukan aksi propaganda, pengangkatan isu-isu dan wacana-wacana, terdiri dari kelompok media, kelompok masyarakat umum, kelompok pemuda dan mahasiswa, kelompok wanita, dan kelompok elit. Kemudian Bagian Perekrutan yang bertugas untuk dapat melihat actor-aktor baru yang bisa direkrut untuk menjadi bagian dari tim pada 2 keluarga untuk lebih mengkutubkan perseteruan sekaligus menjadi pemimpin ketika cheos sudah selesai. Lantas Bagian Umum yang bertugas untuk dapat membackup baik dari sisi administrasi maupun keuangan dan lain-lain. Terakhir, Sekretariat Khusus yang bertugas untuk dapat membantu koordinasi antara Win dengan anggota timnya atau hal-hal yang bersifat khusus dan rahasia.
Perencanaan untuk tahapan pertama adalah tahapan sosialisasi yang kiranya dilakukan oleh Bagian Propaganda, ini dilakukan selama 1 tahun secara umum jika memungkinkan atau diam-diam secara bawah tanah, tahapan ini juga memungkinkan untuk melihat-lihat actor-aktor baru yang akan direkrut bagi peradaban baru mereka, yang tentunya harus mengetahui betul kemampuan dan loyalitas mereka. Tahapan kedua adalah tahapan perekrutan juga dalam waktu 1 tahun, dalam perekrutan aktornya harus diberikan ujian-ujian yang kiranya akan mampu untuk dapat mengetahui loyalitas dari actor tersebut, sekaligus memulai propaganda untuk melakukan perang fisik kecil-kecilan sebagai api-api kecil yang kemudian akan dibumbui dengan dendam-dendam lama konflik. Tahap ketiga, pemberian senjata kepada masing-masng actor yang sudah loyal untuk diberikan kepada tiap-tiap anggotanya untuk menciptakan cheos, namun Win berpesan kepada timnya aga cheos ini dapat dikendalikan sesuai dengan keuntungan mereka.
Namun dalam catatan rahasia Win yang tidak diberikan kepada tim adalah bahwa pada tahun ke 2 sudah harus ada cheos dari keluarga Cahaya sebelum adanya cheos total. Win merancang agar dari cheos ini akan timbul pemimpin-pemimpin baru dari keluarganya yang nantinya akan mudah mengikutinya untuk mendirikan peradaban baru menurut versi gilanya itu. Setelah itu ia mengkoordinasikan dengan timnya dan juga mensosialisasikan system mereka dalam mengevaluasi, dalam berbagai cara baik menggunakan media maupun sesekali pertemuan langsung.
Kemudian ia menuju ke rumah sakit tempat Nur bekerja untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan rancangan kegiatannya serta dokumen-dokumennya. Nur ketika mendengar laporan dari Win amat senang dengan ceritanya, ia bergumam “He he pionku sudah mulai bekerja, bagus Win, kami sebenarnya bisa tapi kami tahu kami butuh actor lokal, kamu memang pilihan yang tepat,”
Waktu berlalu dan terus berlalu.
Tahun pertama rencana yang dilakukan Win dikeluarganya mendapatkan penentangan dari belahan merah dan belahan hijau dengan amat berat sesuai dengan perkiraannya. Memang ia tahu betul bahwa inilah permasalahan utamanya, belahan merah sudah tidak mau lagi hidup susah karena peperangan dengan Keluarga Langit dan mereka juga sudah melakukan kerjasama yang sudah menguntungkan, sedangkan belahan Hijau menganggap perang ini adalah perang yang sia-sia, utamanya menurut belahan itu keluarga Langit adalah saudara seiman bahkan mereka sudah melakukan berbagai kerjasama untuk dapat memajukan Agama mereka itu.
Sedangkan belahan Pedang sudah dapat dikuasainya, karena mereka hanya bisa berperang, terlebih lagi mereka sedang ada masalah dengan belahan Merah yang biasanya membantu perekonomian mereka, begitu juga dengan belahan Naga yang memang sekarang sepertinya sudah dilangkahi wewenangnya oleh belahan Merah dan Hijau atas provokasinya. Untuk belahan Putih ia menggunakan kebesaran namanya yang kiranya dapat meredam mereka semua untuk dapat mengikutinya, namun masalahnya adalah Umar, yang terus melakukan perlawanan dengannya, bahkan ia terus mencari dukungan dari belahan-belahan lain di keluarganya.
Bahkan si Umar inilah yang sepertinya menjadi lawan dari Win dalam setiap aksinya. Otak si Win berpikir keras apa yang harus dilakukan untuk ini.
Bagian ke empat
Sebagai langkah awal Win mencoba untuk mengetahui tentang Umar terlebih dahulu, yang nama lengkapnya adalah Umar Putih, nama Putih merupakan nama belakang dari keluarga besarnya. Sebenarnya Win juga ada gelar Putihnya dibelakang namanya, namun ia enggan menggunakannya karena ia merasa tidak leluasa bergerak bebas dengan nama keluarganya tersebut. Ketika ia melihat berkas Umar Putih dari database yang ada pada organisasi Illuminati yang amat lengkap dan selalu update tersebut.
Sekilas ia teringat ketika pertama kali masuk dalam organisasi ini, ia diterangkan tentang lambang dari organisasi Illuminate, sebuah mata yang seolah-olah melihat semuanya, inilah yang menjadi sebuah tujuan dari organisasi ini bagaimana mereka dapat menguasai informasi untuk kepentingannya. Dan inilah yang tertera pada tattoo dari Nur teman tidurnya itu.
Ketika ia menemukan dokumen tentang Umar ia terpesona dengan track record dari Umar, saat ini ternyata ia sudah mempunyai 2 orang anak dan berhasil mengambil gelar Doktor di Universitas terkenal di Mesir. ternyata di Mesir ia mengikuti banyak organisasi yang salah satunya adalah Ikhwanul Muslim, yang menurut Illuminati merupakan salah satu organisasi yang harus dimusnahkan.
Karena organisasi inilah yang pertama kali membuat permasalahan Palestina menjadi permasalahan dunia internasional dan menggalang dukungan bagi Negara-negara Arab. Bukan itu saja menurut organisasinya Ikhwanul Muslim ini merupakan salah satu organisasi berbahaya yang amat pintar menggalang masa dan mampu menarik simpati nasional dari mereka yang mengikutinya serta orang-orangnya juga mempunyai dedikasi yang kuat baik pekerjaan dan komitmen mereka terhadap organisasi. Bagi Illuminati gerakan organisasi ini lawan utama, karena mereka menggunakan pola yang hampir sama dengan gerakan mereka. Bedanya adalah Ikhwanul Muslim berusaha menggunakan nilai-nilai Ilahi untuk mencapat tujuannya sedangkan Illuminati sebaliknya.
Organisasi ini lah yang sesungguhnya menjadi perusak setiap rencana bagi Illuminati untuk membangun peradaban baru yang lebih rasional dan tidak dibodoh-bodohi oleh pemikiran sempit dari agama-agama. Yang membuat orang menjadi begitu menurut dengan pimpinannya tanpa ada kebebasan, tidak seperti mereka yang bebas itu.
Umar di Mesir menjadi Guru Teladan disana dengan nilai yang amat baik, bahkan ia menikahi anak dari salah satu Guru Besarnya yang kini sudah dibawanya bersamanya. Namun yang membuat ia bingung adalah ternyata nama Umar juga sebagai anggota kehormatan dalam Illuminati. Ketika ia mencoba akses ke situ ia tidak bisa memasukinya. Win tidak mengerti, dengan serta merta ia menelpon Nur.
“Halo Nur, ini aku Win, aku mau bertanya kepadamu,” ujarnya.
“Ya Win ada apa ?” tanya Nur terbangun dari tidurnya.
“Nur, ketika aku membuka arsip di Illuminati aku menemukan bahwa saudaraku Umar juga mengikuti organisasi kita bahkan ia menjadi anggota kehormatan. Tolong beritahu aku yang sebenarnya,” ujar Win dengan sedikit agak kesal.
“Sebentar ya Win, telpon rumahku berbunyi aku akan menjawabnya sebentar,” ujarnya. Mendengar hal tersebut Nur agak kaget bahwa Win bisa akses kepada informasi yang sebenarnya belum waktunya ia bisa mengetahui. Sesaat ia menelpon kepada stafnya yang bertugas untuk menjaga akses dari orang-orang yang bisa memasukinya, sebentar ia berbicara kemudian menutup telpon rumahnya. Kemudian cepat-cepat ia mengangkat telpon Win kembali.
“Win sayang, bagaimana kau bisa masuk ke akses arsip itu, apakah kau menggunakan namaku ya,” tanyanya manja dan tegas.
“Mmmh, iya, maaf aku tidak memberitahumu terlebih dahulu karena kepalaku sudah muak dengan makhluk yang namanya Umar,” jawab Win dengan sedikit perasaan bersalah dan kesal. Memang Win itu adalah manusia yang unik, kalau ia berbuat salah kemudian dikerasi maka ia akan menjadi lebih keras lagi, tapi kalau dilembuti ia akan sedikit melunak. Rupanya Nur sudah mengerti betul karakter dari Win. Sebuah karakter yang didapatkan dari anak-anak korban konflik yang kini sudah dewasa. Nur tahu betul bahwa anak-anak pada masa konflik mempunyai sedikit kelainan pada pertumbuhan otaknya, pada limbiknya. Dalam otak terdapat sebuah batang otak yang bernama korteks, ketika seseorang itu ketika kecilnya selalu dalam tekanan dan kekerasan maka korteksnya akan membesar dan ini mempengaruhi emosinya pada masa yang akan kehidupannya mendatang. Manusia ini sifatnya lebih kepada reaksi, ketika seseorang menghinanya maka reaksinya yang lebih awal terlihat bukan dengan pemikiran terlebih dahulu. “He he memang konflik adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan derajat orang tersebut, mereka akan lebih mudah di cocok hidungnya seperti kerbau, karena pikiran mereka sudah menjadi pendek, sungguh cara ini adalah cara yang paling efektif untuk dapat membuat orang semakin bodoh dan bergantung kepada kita..ha ha,” tawa Nur dalam hati.
“Lain kali jangan seperti itu ya Win. Begini Win, tadi aku ditelpon stafku dari kantor Illuminati, kamu tidak salah Win memang ada yang namanya Umar Putih, tapi itu bukan saudaramu, dia orang arab yang kini sedang ada tugas khusus di sini. Dia adalah salah satu actor senior kita yang mengetahui betul tentang permasalahan Timur Tengah, orang itulah yang membantu kita hingga kini bisa membuat Timur Tengah menjadi terpecah-pecah seperti sekarang, hanya kebetulan saja sama” jawabnya. Namun dalam hati Nur berkata dengan geram “ Dasar kurang ajar, bukan wewenangmu masuk ke situ, kalaupun aku kasih tahu bahwa Ia saudaramu tentunya kamu akan bingung dan tidak akan seserius ini bekerja. Lagian kamu tidak harus tahu semua strategiku, dengan menjadikan Umar sebagai lawanmu maka aku dapat mengetahui siapa-siapa yang kiranya melakukan perlawanan terhadap tujuan kita, dan kita dapat mengantisipasinya. Kalaupun aku kasih tau kau, maka cuma emosi di wajahmu dan dendam di otakmu, rasanya sulit aku membicarakan itu denganmu,”.
Terlihat memang kekaliberan dari Nur dalam memimpin organisasi ini, ia mampu untuk memanaj anak-anak buahnya dan tidak terbawa perasaan terlalu dalam. Dibalik kecantikkan, kesantunan dan kelembutannya memang tersimpan hati batu dan pemikiran iblis. Sungguh organisasi Illuminati memang telah menempa anggotanya menjadi manusia-manusia yang menuhankan akal sehingga tanpa perasaan dan juga tidak mempunyai aturan untuk menggapai tujuannya, mereka menghalalkan segala cara. Bayangkan saja bila ada seorang manusia sempurna secara fisik dan jenius yang tidak berperasaan dan menghalalkan segala cara menggunakan kejeniusannya untuk mencapai tujuannya, gold dan glory untuk membangun peradaban baru versi mereka, sungguh mengerikan.
Dan yang membuat organisasi ini semakin membahayakan adalah kemampuannya dalam melakukan perekrutan actor-aktor lokal, meyakinkan mereka, menghancurkan sifat moralitas mereka, secara sistematis membuat ketergantungan terhadap mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka sehingga ketika seseorang itu masuk ke dalamnya maka ia akan teramat kesulitan untuk keluar lagi, seperti sudah memasuki lingkaran setan. Yang lebih unik lagi mereka tidak pernah memusuhi pihak-pihak Polisi, mereka bahkan merekrut banyak dari mereka untuk kepentingannya. Bagi mereka menguasai media dan pihak-pihak militer atau keamanan merupakan salah satu agenda utama mereka. Kemudian Pemikiran gila mereka lagi adalah ‘No Drugs for us But Yes for others’, mereka punya tidak mau hancur karena narkotika tapi mereka membiarkan hancur orang lain dengan narkotika, edan.
Jadi ketika kita bertemu pimpinan dari kelompok mereka jangan bayangkan dengan wajah-wajah yang kejam, lusuh, kotor dan seperti pembunuh akan tetapi mereka terlihat intelek, santun, necis, agamis, penuh dedikasi dan terlihat bersih dari segala kekotoran dunia. Mereka seringkali ikut dalam organisasi social masyarakat untuk membantunya dan menikmati pertunjukkan seni dan budaya bahkan menjadi members tetapnya. Mereka mampu mengesampingkan sisi lain dari keliaran mereka pada tempatnya. Mmmhhh.
Keesokkan harinya Nur menelpon stafnya meminta aga stafnya menelpon Umar untuk mengadakan pertemuan di Perpustakaan Al Huda, sebuah tempat favorite mereka dalam melakukan pertemuan. Yang menarik dalam organisasi ini adalah ketika mereka melakukan pertemuan dengan yang hampir selevel maka mereka melakukannya pada tempat-tempat yang terkesan jauh dari kotornya dunia. Selain itu Nur juga tahu bahwa ia amat berkepentingan dengan pemikiran dari Umar yang lebih matang dan rasional dari Win.
Siang harinya Nur ijin kepada atasannya di rumah sakit untuk kemudian melakukan pertemuan dengan Umar. Sesampai di sana terlihat Umar sudah sampai terlebih dahulu dan sedang membaca buku.
“Halo, gimana kabar Sob, lama ga jumpa ?” sapa Nur sambil tersenyum.
“Hai, kabar baik Nur, semua baik-baik aja kok. Kamu sendiri gimana ?” tanya Umar.
“Baiklah, aku kan tidak terikat siapa-siapa, jadi hidupku ya suka-suka aku lah,” jawab Nur.
“Ha ha ha,” kedua-duanya tertawa lepas.
“Ada apa Nur, tumben-tumbenan kamu mengajak aku bertemu, biasanya kalau tidak begitu penting kau tidak mau bertemu. Dan lagi jadwal kita masih on time kan, tidak ada masalah,” ujar Umar.
“Begini Umar, kemarin Win telpon aku, dia bisa akses ke database tentang keorganisasian kita dan dia menggunakan namaku untuk akses, sungguh kurang ajar anak itu. Dia menemukan bahwa namamu ada pada Anggota Kehormatan, walau aku sudah klarifikasi bahwa itu Umar yang lain, aku hanya takut bahwa dia nanti akan memaksa kamu,” jawab Nur.
“He he, tenanglah Nur, tahu aku lah, tidak mudah terpancing,” jawab Umar.
“Hmm ia kau tidak terpancing tapi kau juga pion bagi kami, kau hanya gila harta dan kekuasaan tapi kau tidak seberani Win di lapangan. Kami berhasil meyakinkan kamu karena kami berhasil membantu kamu menyelesaikan kuliah sampai dapat gelar Doktor di Mesir, mengangkat derajat kamu dengan memasukkan kamu untuk mengajar pada Universitas paling ternama di kota ini dan kota-kota lain juga ke dalam member kelas elit,” gumam Nur dalam hati.
“Iya Umar, oh ya gimana hasil dari kerja kamu, laporannya donk.” tukas Nur.
“Hmm. Banyak yang tidak suka dengan cara-cara Win, ia terlalu mudah terpancing emosi dan dendam, kata-katanya kadang keluar dari control. Menurut saya ini berbahaya bagi tujuan kita. Tapi walau begitu ia berhasil mengambil hati belahan pedang dan naga, sedangkan belahan kami sendiri hanya seperempat saja,” jawab Umar. “Iya lah, kerjanya hanya menghina Tuhan terang-terangan, bodoh”, kata Umar dalam hati.
“Tapi gimana dengan dari orang-orang yang sekarang mendukung kamu melawan Win, kamu kan bisa cerita sedikit lah kepada ku, biar aku pandai mengambil langkah,” kata Nur. “Percuma kau kami kualihin atau sekalian saja kau kami bunuh,” gumam Nur.
“Inilah yang menjadi masalah ternyata mereka lebih banyak dari yang mendukung Win, kelihatan betul bahwa mereka sudah cape dengan perang ini, malah yang generasi kedua dari aku, mereka lebih aktif dan militant. Tapi yang menarik adalah kebencian mereka kepada kelompoknya si Win semakin meningkat, mereka tidak lagi memikirkan perang mereka, tapi bagaimana menghancurkan si Win. Aku terkadang harus mengerem mereka dengan berbagai cara. Ini sekarang masalah ku Nur,” jawab Umar.
“Lantas apa yang akan kamu lakukan,” tanya Nur. “Ha ha ini adalah pertanda baik bagi organisasi kami, sekali dayung 2, 3 pulau terlampui. Kami akan menghajar kalian semua dari atas dan bawah nantinya, Kami akan mengorbankan kau dan Win dalam sebuah konflik pribadi. Setelah itu kami akan mencari jalan untuk membuat konflik pribadi ini membesar dan terjadilah perang yang kami inginkan,” pikir Nur.
“Sekarang ini aku sedang mencoba masuk secara perlahan untuk bisa meyakinkan mereka untuk berjalan seperti yang sekarang ini, kedamaian, kebencian mereka kepada Win kijadikan sebagai salah satu propaganda aku, tapi tetap aku kontrol. Dan yang terpenting adalah tugasku adalah mengetahui perkembangan dari mereka yang tidak menginginkan adanya peperangan, bukankah begitu Nur. Nanti diakhir pertemuan ini akan aku berikan laporannya, mapping dan keadaan saat ini, per orang dan per sikon” jawab Umar.
Umar walau pintar namun ia merupakan orang yang menyimpan segala ambisinya sehingga ia terkesan menurut dengan apa yang ditugaskannya, yang penting kesejahterannya terpenuhi dan selama itu menguntungkannya, lain halnya dengan Win, ia cerdas tapi sering kali meletup-letup dan kadang tidak terkontrol karena sifatnya reaksioner. Memikirkan hal tersebut Nur hanya tertawa terpingkal-pingkal dalam hatinya karena ia merasa belum mendapat lawan yang cocok semuanya masih bisa diatasi sesuai dengan rencananya.
“Gini Umar, kamu harus bisa membangun loyalitas mereka kepada kamu. Ini tugas kamu tambahan, semua kebutuhan kamu untuk itu akan aku usahakan, dan aku juga sedang berpikir kalau kamulah nantinya yang aku perjuangkan untuk dapat memimpin Keluarga Cahaya setelah selesai masa konflik ini,” ucap Nur tiba-tiba.
Mendengar ucapan Nur, Umar agak terkaget-kaget karena ini tentunya amat menguntungkannya, bukan itu saja karena ini semua merupakan ambisinya yang selalu ia pendam-pendam. Ia sebenarnya selama ini sudah bosan diperintah oleh wanita ini, yang menurutnya membuatnya menjadi gila. Ia sudah berencana untuk dapat keluar dari organisasi gila itu, yang sudah memberikannya banyak hal tersebut. Tadinya ia mencoba untuk memanfaatkan Win sahabatnya, ternyata ia juga sudah masuk dalam lingkaran setan seperti dirinya itu, dan sekarang menjadi musuhnya juga.
“Ah, aku tidak berminat, tapi aku pikirkan terlebih dahulu ya Nur,” jawab Umar sedikit sungkan. Ia berusaha meredam gejolak dirinya, berusaha menahan kegembiraannya dengan ambisinya.
“Sudah lah, tidak usah dipikir panjang kali ini seperti yang sudah-sudah, aku tahu kamu mau kan,” tukas Nur dengan sedikit merayu. “Ayolah, maulah kau betul-betul jadi pion kami, selama ini kau selalu pintar mengelak, kali ini kami tawarkan kekuasaan yang besar kepadamu. Karena kali ini sekali kau masuk maka aku hanya dapat katakan selamat datang di level ke dua” ujar Nur dalam hatinya.
Nur melihat Umar bisa berpotensi untuk ke level selanjutnya. Seorang Umar adalah seorang yang amat rasionalis dan ambisius, inilah yang terpenting. Ia juga tidak gila wanita dan lain sebagainya, ia cerdas. Orang-orang seperti inilah yang bisa jadi pimpinan di organisasi Illimunati penuh ambisi. Tinggal mengarahkan bagaimana caranya mengeluarkan seluruh ambisi gilanya dan mendoktrinnya hingga rasionalitasnya bisa mengalahkan Tuhan.
“Baiklah, saya akan mencoba membuat planningnya untuk kemudian dibicarakan dengan kamu,”ujar Umar dengan datar, walau matanya terlihat berbinar-binar menahan gembiranya dan tangannya bergetar ingin menunjukkan kegembiraannya.
Melihat hal tersebut Nur hanya tertawa dan berkata dalam hati “ Semua sesuai dengan rencana dan SELAMAT DATANG DI LEVEL KE 2.”
Bersambung…
bersambung..
Langganan:
Postingan (Atom)