Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

28 Maret 2009

Melihat Kembali Strategi Partai Aceh (PA)

Ketika membaca sebuah postingan yang berisikan wawancara antara salah seorang pendukung dari Partai Aceh yang mencoba menerangkan visi dan misi PA yang selama ini masih merupakan misteri menjadi terobati.
Bila disimpulkan dari wawancara tersebut adalah; pertama, PA itu tidak akan berkoalisi dengan partai lain baik lokal maupun nasional; kedua, menegakkan sebuah hukum yang berlandaskan kepada hukum pada zaman Iskandar Muda sesuai dengan budaya rakyat Aceh; dan ketiga, menegakkan KKR bagi korban konflik yang selama ini terjadi.

Rincian wawancaranya sebagai berikut:
Perundingan Helsinki yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Mardeka pada tanggal 15 Agustus 2005, yang nyaris gagal karena pihak GAM mempertahankan point 1.2.1. Lalu sepenting apa kehadiran partai lokal bagi Aceh?. Mengapa Partai Aceh harus menang?.Apa yang akan dilakukan oleh anggota parlemen hasil pemilu nanti ? Peuneugah Aceh melakukan wawancara dan merangkumnya untuk Anda:

Zulkifli alias Doly, Juru bicara Pusat Penguatan Perdamaian.

Apa hal yang pertama dilakukan oleh Partai Aceh setelah duduk diparlemen?

Bila dipemilu nanti Partai Aceh menang atau dominan menguasai Parlemen di Aceh,maka yang pertama kali dilakukan adalah membuat qanun atau undang-undang Pemerintahan Aceh sesuai dengan amanat MoU Helsingki. Qanun tersebut akan berpedoman pada meukuta Alam Al-Asyi. Dulunya Aceh pernah jaya di masa Sultan Iskandar Muda , dimana saat itu pemerintahan yang berpedoman hukum Meukuta Alam Al-asyi.

Apakah pembuatan undang undang tersebut tidak bertentangan dengan hukum yang sudah ada ?

Pembuatan atau merancang undang-undang baru di Aceh tidak akan bertentangan dengan undang-undang yang telah ada. Itu termasuk dalam amanat MoU yang telah disepakati bersama antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka. Undang-Undang yang kita buat untuk Aceh yang sesuai dengan kehidupan rakyat Aceh, baik agama, sosial maupun budaya masyarakat Aceh itu sendiri. Dalam menjalankan undang-undang ini, kami akan mengutamakan bill of riat yaitu masyarakat yang menentukan aspirasinya sendiri. Kebijakan pemerintahan ada di tangan rakyat dan kami tidak mengedepankan daspora (pemaksaan kehendak). Jika Partai Aceh menguasai parlemen Aceh di 2009 ini, kami akan memperjuangkan harkat martabat dan HAM. Khusus di Aceh, kami akan merevisi Undang Undang yang berkaitan dengan KKR atau komisi kebenaran dan rekonsiliasi dan pengadilan HAM . Pengadilan HAM harus berjalan seperti yang tercantum di dalam MoU Helsinki.

Mengapa hal itu menjadi penting ?

KKR itu harus dijalankan di Aceh karena bisa mengatasi untuk tidak terulang dan terjadinya konflik kembali. Konsepnya seperti di Afrika Selatan. Cuma namanya saja yang berbeda. Setelah konflik Aparheid selesai, maka disitu ada TRC(Truth Of Commision) yang bertugas dan bisa menegakkan HAM. Kami juga dari Partai Aceh akan memperjuangkan KKR di Aceh karena lewat jalur itu bisa menjunjung tinggi HAM maupun harkat dan martabat rakyat Aceh.
.

Apa yang membedakan parlemen yang ada sekarang dengan parlemen yang diisi oleh Partai Aceh ?

Yang dapat kita lihat saat ini adalah, parlemen yang sekarang tidak membuat sebuah perubahan yang drastis terhadap masyarakat Aceh, padahal banyak janji-janji yang diberikan kepada rakyat selama kampanye oleh wakil rakyat selama ini. Sementara parlemen di masa yang akan datang, akan melakukan perubahan yang nyata terhadap masyarakat Aceh. Untuk memberi hasil yang nyata itu, ya seperti saya kata tadi, yaitu membuat Undang Undang.Selama ini, belum pernah masyarakat merasakan perubahan yang dilakukan anggota dewan dari partai nasional, karena mareka mengunakan atau hanya merevisi undang undang yang telah ada tanpa perubahan yang mendasar. Itu sudah menjadi komitmen kami, (Partai Aceh), untuk sebuah perubahan maupun hidup yang baru bagi masyarakat Aceh kedepan. Jadi, ini akan jauh berbeda antara parlemen sekarang dengan parlemen di masa yang akan datang.

Apakah perbedaan ataupun perubahan tersebut dapat dilakukan oleh partai lokal lain di luar Partai Aceh ?

Jika nanti parlemen dikuasai oleh partai lokal lain selain Partai Aceh, maka itu pun tidak jauh berbeda seperti partai nasional yang selama ini. Saya sangat pesimis akan ada perubahan yang berarti di Aceh. Dan Aceh tetap seperti Aceh yang dulu.

Bukankah Partai Aceh dapat melakukan koalisi dengan partai lokal lain sehingga memperoleh suara mayoritas ?

kami tidak akan pernah mau berkoalisi walaupun itu dengan partai lokal lain karena mareka tetap akan berkoordinasi dengan Partai Nasional.Dengan kata lain, partai lokal selain Partai Aceh adalah perpajangan tangan partai nasional sehingga tidak mungkin kami berkoalisi.

Itu berarti Partai Aceh harus mempoleh suara terbanyak sehingga menjadi mayoritas di parlemen,lantas bagaimana peluang Partai Aceh untuk menjadi pemenang ?

Kita sangat menyadari bagaimana upaya pemburukan citra yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu terhadap para kombantan, baik secara tersadari atau tidak. Semuanya itu adalah untuk memberi image yang negatif, sehingga membuat simpati rakyat akan berkurang dan berdampak pada pemilu. Walaupun demikian, kami yakin, kami akan menang dan menguasai parlemen pada pemilu 9 April nanti. Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, baik yang ada di kota maupun di pelosok-pelosok untuk mengungguli kursi di parlemen nantinya. Kami melihat,antusias masyarakat terhadap Partai Aceh luar biasa karena masyarakat Aceh ingin melihat perubahan yang nyata yang belum pernah dirasakan selama ini.(tim Peuneugah Aceh )


Benarkah ? “PA Tidak Berkoalisi Dengan Partai Manapun”
Ketika membaca statement ini maka terlihat jelas bagaimana keegoismean Partai Aceh yang tidak akan melakukan koalisi dengan partai manapun baik lokal maupun nasional, ini bisa dianggap sebuah bentuk tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi, bentuk dari sebuah egoism yang menurut saya kebablasan. PA masih saja berpikir bahwa ia akan memenangkan Pemilu ini dengan mutlak, memasang target yang antusias sekali seolah-olah tidak memerlukan partai lain dalam perjuangannya.
Selain keegoismean juga terlihat kebodohan PA sebagai partai politik, sekaligus kepintarannya juga. Menarik bukan untuk dikaji bagaimana sesungguhnya strategi ini akan dibawa kemana oleh PA.
Perolehan suara PA di daerah ALA dan ABBAS kemungkinan besar PA tidak akan memperoleh suara yang signifikan, walaupun mereka nantinya akan melakukan serangan fajar yang sudah barang tentu daerah ALA dan ABBAS akan mempersiapkan diri untuk menghadapinya kelak. Pada daerah ALA dan ABBAS sepertinya partai nasional akan menguasai percaturan politik, seperti daerah ALA dan ABBAS. Sebuah daerah yang merasa dengan adanya GAM/KPA/PA maka kehidupan mereka menjadi tidak lebih baik lagi, belum lagi suku Jawa yang sudah mendiami beberapa daerah yang kini sudah menjadi kampung sendiri untuk tidak memilih GAM/KPA/PA tersebut.
Keegoismean PA ini juga akan mengakibatkan pengarahan sebuah bentuk wacana dari ketidakpercayaan antara partai lokal sendiri atau bisa saja merupakan sebuah strategi atau politik untuk dapat memberikan suara masyarakat kepada partai lokal lain yang tidak sejalan dengan PA bukan kepada Parnas karena parlok-parlok yang ada sekarang sudah dibuat sedemikian rupa untuk bisa menyerap seluruh aspirasi rakyat Aceh dengan berbagai macam ideology atau sehingga sebutannya ”Asal Bukan Parnas”.
Bila usaha pengarahan suara kepada parlok ini gagal maka isu egoism dari PA ini akan dapat menyatukan atau koalisi antara Partai Lokal selain PA dengan partai nasional lainnya sebagai upaya bentuk dari penyatuan visi dan misi mereka. Yang perlu diingat adalah bahwa pada akhirnya adalah PA akan tetap berkoalisi dengan semua partai tersebut dengan sebuah kenyataan bahwa partai-partai lokal lain yang sebenarnya seide dengan PA telah saling berkoalisi dengan partai nasional. Harapan dari PA dengan berkoalisinya mereka dengan parnas diharapkan PA bisa menggolkan apa yang sebenarnya menjadi keinginannya.
Jadi apa yang dilakukan oleh PA dengan statement ini merupakan strategi untuk bisa menguasai parlemen dengan berusaha ‘seolah-olah tidak mau koalisi’, padahal inti tujuannya adalah menarik suara ke partai lokal lainnya atau mengkoalisikan parlok dan parnas sehingga mereka bisa membuat komitmen kepentingan mereka.

Benarkah ? “Menegakkan Hukum Sesuai Dengan Hukum Iskandar Muda”
Setelah mengupas strategi yang digunakan PA dengan statementnya untuk meraih suara dari berbagai komponen masyarakat, kini kita akan coba kupas upaya PA menarik simpati masyarakat dengan sebuah janji menegakkan hukum seperti zaman Iskandar Muda.
Bila kita melihat sejarah maka hukum yang akan ditegakkan adalah sebuah bentuk Negara federasi yang terdiri dari berbagai pemerintahan-pemerintahan otonom yang luas dengan menggunakan hukum islam di dalamnya atau dengan sebutan demokratisasi Islam. Sebuah sistem Kesultanan Islam di bumi serambi Mekkah tersebut. Bahkan bisa juga dikatakan dengan mendekati hukum ”Wahabiah”, karena dalam sejarah dapat terlihat bagaimana Iskandar Muda begitu keras dengan “penjajah” atau “kuffar” atau “asing” pada waktu itu baik dari segi perdagangan maupun dari segi kebudayaan. Dan inilah yang membuat Iskandar Muda begitu ditakuti oleh kerajaan lain karena kemandiriannya dan karena ketegasannya yang tentunya tidak bergeser sedikitpun dari ayat suci Al Qur’an sesuai dengan adat istiadat rakyat Aceh yang berdasarkan Kitabullah dan Hadist Nabi Muhammad SAW.
Bila ini menjadi sebuah janji dari PA maka partai-partai Islam tentunya akan menjadi bagian dari perjuangan ini, karena partai-partai Islam tentunya juga menginginkan hal yang sama untuk berdirinya syariat Islam di Aceh sesuai dengan cita-cita mereka untuk menjadikan Aceh sebagai contoh sebuah daerah di Indonesia yang berdasarkan syariah Islam.
Tapi yang terjadi adalah bahwa PA tetap saja tidak bisa bersatu dengan partai Islam lainnya, bahkan mereka cenderung eksklusif dengan menolak berkoalisi dengan partai manapun yang ada atau ideology manapun dengan alasan menginginkan perubahan yang terjadi di Aceh. Disini kita akan melihat bagaimana nasionalisme atau kesukuan Aceh yang amat tinggi bermain untuk bisa mendapatkan simpati dari rakyat Aceh pada umumnya. Menurut saya ini sama saja dengan sebuah konsep “Penjajah Jawa – Indon”, namun dalam bentuk gerakan politik, dan sekali lagi ini sama sekali tidak sesuai dengan karakteristik rakyat Aceh yang lebih mendahulukan Islam dibandingkan apapun bagi mereka yang sudah berabad-abad terpatri di dada semua rakyat Aceh.
PA kembali dalam dilemma, satu sisi mencoba menegakkan hukum Islam, tapi disisi lain PA tetap ashobiyah dengan alasan menginginkan “perubahan”, tentunya semua nantinya hanya akan melihat bahwa GAM/KPA menjadi PA hanya merubah topeng dalam perjuangannya. Serta konsepnya yang begitu membenci suku lain selain Aceh semakin kental dalam PA, dan tentunya ini amat berbahaya dalam perkembangan Aceh ke depan nantinya.
Dalam masa Iskandar Muda tidak pernah ada sebuah aturan yang membenci sebuah suku apapun, terlebih lagi mereka memeluk agama Islam, bahkan ketika itu pada zaman sebelum Iskandar Muda di Kute Reje sudah ada yang namanya Kampung Jawa, ini tentunya merupakan sebuah bentuk dari bagaimana terbukanya Aceh dengan kerajaan manapun asalkan mereka mengucapkan 2 kalimah syahadah.
Yang menarik lagi adalah dalam pemerintahan Irwandy sekarang ini terlihat bagaimana upaya dari Aceh untuk dapat menarik investor-investor asing untuk mau menanam modal di Aceh, akan tetapi sampai saat ini belum terlihat bagaimana bentuk kerjasamanya dan bagaimana Irwandy dapat menjaga marwah rakyat Aceh seperti zaman Iskandar Muda dalam melakukan hubungan kerjasama dengan mereka nantinya. Belum lagi Aceh pasca tsunami ini ternyata telah menjadi media internasional hingga mendapatkan bantuan dari asing dan berbagai misi bantuan. Sehingga akan dirasakan bahwa bantuan-bantuan mereka pada bangunan-bangunan yang ada di Aceh sekarang ini. Bahkan GAM/KPA/PA itu sendiri sampai sekarang masih berhutang budi dengan banyak Negara selama ini sewaktu mereka memperjuangkan GAM dari luar negeri. Nah, pertanyaannya adalah apakah mereka juga akan menerapkan hukum Iskandar Muda di bumi Aceh dengan kondisi sekarang ini dan hutang budi GAM/KPA/PA kepada berbagai Negara ?

Benarkah ? “Menegakkan KKR Untuk Korban Konflik”
Ini merupakan sebuah point penting sekaligus berbahaya bagi rakyat Aceh maupun perdamaian di Aceh sekaligus sebagai sebuah upaya untuk dapat meraih simpati rakyat Aceh atau sekaligus menjaga maaf “kebencian terhadap TNI” di Aceh atau menjaga benih-benih nasionalisme Aceh tersebut.
Ketika kita melihat TImur-Timur ketika mereka lepas dari kemerdekaan maka akan ada sebuah kesepakatan antara Pemerintah RI dengan untuk menutup segala hal yang terjadi pada masa konflik di Tim-Tim.
Ada beberapa hal yang kemungkinan akan terjadi ketika hal ini dilakukan, karena korban konflik rakyat Aceh pada dasarnya terdiri dari 2 bagian yaitu korban konflik oleh TNI danjuga korban konflik oleh GAM. Masa konflik telah menyebabkan rakyat Aceh menjadi amat tertekan karena disisi lain harus berhadapan dengan TNI akan tetapi disisi lain juga harus berhadapan dengan GAM. Sehingga akibatnya adalah mereka menjadi korban karena dianggap mata-mata dari 2 belah pihak yang bertempur tersebut. Belum lagi kaum transmigran Jawa atau suku Jawa yang sudah lama tingal di Aceh menjadi korban dari kekejaman GAM karena konsep PERANG BODOH nya tersebut itu “Penjajahan Jawa – Indon”. Atau korban dari suku Gayo yang selama ini dianggap musuh atau pengkhianat oleh GAM karena salah satu wilayah di Aceh yang terus memasukkan saudaranya Jawa ke dataran tinggi Gayo, begitu juga di beberapa daerah di ABBAS.
Tentunya ketika PA berkuasa maka yang terlebih dahulu di angkat adalah korban rakyat Aceh oleh TNI, namun perlu diingat adalah bahwa korban dari suku Jawa dan Gayo tentunya tidak akan tinggal diam, mereka akan terus menuntut keadilan bagi korban-korban mereka. Bila ini terus dibiarkan dan PA tidak bisa berbuat adil maka yang akan terjadi adalah sebuah potensi konflik kembali karena ketidakadilan-ketidakadilan yang tentunya akan membawa sebuah potensi konflik horizontal pada rakyat Aceh ke depannya.
Bahkan ada kemungkinan besar bahwa permasalahan HAM ini akan coba diangkat oleh PA ke mahkamah internasional, atau dengan sebutan menginternasionalisasikan permasalahan Aceh kembali. Sehingga mereka akan mengangkat kembali bukti-bukti bahwa Aceh selama ini dijajah NKRI dengan menafikkan bukti bahwa Daud Beureuh telah melakukan musyawarah dengan seluruh komponen rakyat Aceh untuk tetap dalam satu bingkai wilayah NKRI, karena seluruh rakyat Aceh pada waktu itu berpikir sebagai saudara seiman, saudara kita.
Hal yang perlu diingat adalah walaupun PA menang, Aceh masih dalam naungan NKRI, TNI masih tersebar di seluruh wilayah Aceh, dan yang paling penting adalah pada waktu itu Aceh dalam wialyah NKRI sudah final, tidak akan berubah sedikitpun dan TNI lah pihak yang paling berhak untuk menjaga hal ini di Aceh. Tentunya RI tidak akan dengan mudah melepaskan Aceh dari kedaulatannya, belum lagi ALA dan ABBAS yang terus menguat di masyarakat Gayo dan Jawa bahkan di sebagian Aceh sendiri. Jumlah suku Jawa di dataran tinggi Gayo dan pada daerah ABBAS tidak bisa dianggap remeh oleh siapapun, dan mereka juga telah sadar bahwa sejarah telah membuktikan bahwa GAM begitu membenci mereka, tentunya mereka sudah mempersiapkan diri mereka untuk menjadi tumbal perjuangan ALA daripada mereka diusir dari dataran tinggi Gayo atau menjadi korban pembersihan suku di daerahnya sendiri. Begitu juga dengan sebagian suku Gayo yang sudah melakukan perpaduan budaya dengan perkawinan dengan suku Jawa, belum lagi mereka yang selama ini merasakan sebagai korban konflik yang dicanangkan Hasan Tiro, belum lagi ketidakadilan yang selama ini terus dilakukan orang Aceh terhadap Gayo, semua itu tidak akan mudah hilang dalam satu generasi pada masyarakat Gayo dan Jawa. Atau ketakutan yang dirasakan oleh suku-suku lain melihat kesukuan terlalu tinggi dari suku Aceh dengan nasionalisme, utamanya suku Batak yang selama ini dikatakan dekat dengan suku Gayo atau serumpun, kemudian suku Jamnee atau padang yang bila kesukuan semakin tinggi karena konsep PERANG BODOH itu maka dapat dikatakan Aceh kembali menjadi tidak aman.
Semua ini besar kemungkinan akan terjadi, karena sudah barang tentu petinggi GAM tidak mau dikatakan melanggar HAM, dan ketika PA menang maka ia akan membersihkan dirinya sebagai pihak penguasa, tapi mereka juga sadar mereka bukan penguasa tertinggi karena mereka tetap di bawah naungan NKRI. Belum lagi TNI yang tentunya akan terus melakukan loby-loby untuk dapat mencegah petinggi mereka dihukum karena bagi mereka ini adalah PERANG. Akan sangat banyak kemungkinan kekacauan yang akan terjadi di Aceh nantinya jika hal ini tidak dilakukan dengan adil dan transparan, permasalahannya apakah kedua belah pihak yang bertikai mampu untuk mengakkan keadilan ntah pihak dari GAM atau TNI ?

Peran Partai Lokal Dalam Disintegrasi RI
Sedikit agak menyimpang dari pembahasan awal, kita akan mencoba memprediksi bahwa ternyata Partai Lokal akan menghilangkan nasionalisme yang ada di NKRI. Dalam pembahasan MoU Helsinky sudah jelas banyak pihak dari Jakarta yang tidak menyetujui bila GAM diberikan sebuah kewenangan untuk mendirikan sebuah partai lokal dengan alasan apapun karena itu hanya akan membuat adanya sebuah potensi disintegrasi bangsa.
Namun, dalam kenyataannya tetap saja Pemerintah NKRI melalui MoU Helsinky tersebut mensahkan adanya sebuah partai lokal di Aceh, dengan alasan Aceh menginginkan adanya sebuah self government di Aceh. Hal mudah yang dapat dipikirkan adalah bagaimana kiranya jika semua daerah menginginkan sebuah partai lokal berdiri pada daerahnya masing-masing, dengan adanya 44 partai nasional saja hal ini telah membuat rakyat menjadi teramat sulit untuk menentukan pilihan, belum lagi apabila kemudian seluruh pemerintah daerah meminta sebuah partai lokal dalam setiap provinsi. Dan ini mulai terdengar ketika provinsi Papua dan Sumatera Barat telah meminta adanya partai lokal pada daerah mereka masing-masing.
Ketika partai lokal berhasil memenangkan Pemilu di Aceh maka sudah barang tentu ini akan menjadi contoh bagi daerah lain, ujungnya adalah sebuah Negara dalam Negara yang amat jauh dari NKRI yang selama ini dipertahankan oleh pendahulu-pendahulu kita sejak kesepakatan bersama dengan Daud Beureuh, yang mereka minta adalah Daerah Aceh menggunakan syariat Islam, menggunakan sebuah kepemerintahan seperti zaman Iskandar Muda tapi tetap dalam kesatuan wilayah NKRI. Aceh bisa saja khusus, tapi Aceh harus tetap dalam NKRI. Ini adalah point utama yang terpenting dalam memberikan solusi bagi rakyat Aceh yang beragam.
Tapi ironisnya saat ini ketika Aceh dalam syariat Islam, maka banyak pihak yang tidak menginginkannya hanya karena ini bukan dari GAM, ironis bukan. Kegoan-keegoan inilah yang tidak pernah bisa lepas dari GAM, dan pada akhirnya GAM akan semakin hilang karena kekerdilannya bila tidak segera mengubah pola pemikirannya itu.

Peran ALA dan ABBAS Menjaga Keutuhan NKRI
Para tokoh ALA dan ABBAS sudah sejak awal mengatakan bahwa mereka adalah pejuang NKRI, pejuang dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI, ini penting. Ketika rakyat Aceh dalam DOM maka dataran tinggi Gayo bukan bergabung dengan GAM, mereka lebih memilih untuk bergabung dengan TNI untuk menjaga keberlangsungan anak cucu mereka, sehingga seringkali orang Gayo selalu dianggap pengkhianat oleh GAM begitu juga dengan kebencian dari ABBAS yang merasa daerah mereka menjadi daerah tumpahan dari GAM dalam perjuangannya baik senjata maupun ketidakamanan disana atau ketertekanan.
Bagi penggiat ALA dan ABBAS memilih partai lokal sama saja dengan “Bunuh Diri”, sama saja dengan mementahkan kembali perjuangan ALA dan ABBAS yang selama ini telah mereka usahakan demi kesejahteraan rakyat Aceh di daerah mereka masing-masing.
Bagi pendukung ALA dan ABBAS memilih partai lokal sama saja dengan memberikan persetujuan kepada GAM/KPA/PA dalam perjuangannya atau sama saja dengan menyetujuinya yang berarti menjilat ludah sendiri pendukung ALA dan ABBAS.
Sudah saatnya kiranya Pemerintah Pusat NKRI memaknai sikap dari rakyat ALA dan ABBAS ini sebagai bentuk upaya untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI, tidak ikut dalam perjuangan dengan konsep Ashobiyah yang dilarang oleh Allah SWT lebih kepada mengangkat kesejahteraan bagi rakyat Aceh di daerah pemekaran tersebut.
Pertempuran di Aceh Ke Depan
Di masa yang akan datang pertempuran yang akan terjadi adalah pertempuran antara nasionalisme Aceh dengan nasionalisme RI, pertempuran antara Islam dengan Pluralisme dan pertempuran antara Liberalisme dengan Sosialisme. Aceh ternyata sudah sedemikian beragam pemikirannya.
PA merupakan salah satu partai lokal yang menjadi ikon bagi perjuangan GAM dengan mengangkat perubahan-perubahan dengan nasionalisme Aceh dan semangat menuju masa Iskandar Muda. PKS dikatakan sebagai salah satu partai nasional Islam yang sesuai dengan karakter dari rakyat Aceh, begitu juga dengan partai lainnya yang bernuansa Islam.
Golkar, Demokrat dan PDI-P, masing-masing mempunyai sumbangsih khusus bagi rakyat Aceh. Bagi rakyat Aceh Golkar dengan JK sudah memberikan sumbangsih dalam melakukan perdamaian di Aceh, melakukan lobby-lobby langsung kepada petinggi-petinggi GAM untuk menghentikan peperangan bodoh yang selama ini terjadi. Sedangkan SBY bagi rakyat Aceh dikatakan sebagai satu-satunya Presiden yang sampai saat ini dianggap memenuhi setiap janjinya bagi rakyat Aceh. Sedangkan PDI-P bagi sebagian rakyat Aceh dianggap sebagai pemberi kedamaian ketika rakyat Aceh dalam keadaan ketakutan-ketakutan, bahkan bagi pendukung ALA dan ABBAS, Megawaty adalah sosok konsisten seorang pimpinan dalam mendukung pemekaran ALA dan ABBAS.

Kesimpulan
Partai Aceh (PA) masih belum bisa melepaskan diri dari keegoannya, dan ini tentunya amat mengancam seluruh pihak yang ada di Aceh. Seharusnya PA bisa lepas dari Ashobiyah dan bisa melakukan koalisi dengan partai manapun di Aceh jika mereka memang betul-betul dianggap sebagai partai masyarakat Aceh dan akan membawa Aceh dalam sebuah perdamaian. Statemen-statemen ini telah memperlihatkan kekerdilan dari PA sendiri yang tentunya waktu akan membuktikan bahwa PA akan habis karena kekerdilannya itu sendiri.
Seharusnya mereka bisa berkoalisi dengan PKS atau partai Islam lainnya dalam penegakkan syariat Islam di Aceh, berkoalisi dengan partai nasional atau lokal lainnya sebagai upaya untuk menjaga keragaman yang ada pada rakyat Aceh, bisa membawa Aceh dalam kedamaian dengan semangat Iskandar Muda tentunya.
Belum lagi GAM/KPA/PA yang amat berhutang budi dengan asing dalam perjuangannya yang ditandai dengan berbagai lobby yang dilakukan Hasan Tiro selalu mengandalkan asing, bahkan dengan jelas dalam MoU Helsinky menyerahkan permasalahan Aceh kepada Uni Eropa bila terjadi pelanggaran perjanjian, kembali ini adalah sebuah upaya untuk menginternasionalisasikan permasalahan Aceh nantinya.
Aceh sebagai wilayah yang kaya tentunya akan menjadi rebutan dari asing tersebut, kemudian kita akan memberikannya dengan mudah demi semangat ashobiyah. Nah semangat inikah semangat Iskandar Muda ?
Iskandar Muda, sosok Muslim sejati yang bersikap keras kepada kuffar, menjaga persaudaraan sesama muslim, menjaga kewibawaan Aceh, sosok inikah yang nantinya akan dikumandangkan oleh GAM/KPA/PA ?
Belum lagi permasalahan korban konflik yang akan menjadi potensi konflik, wallahu’alam bishowab.
Permohonan maaf saya jika saya mengatakan bahwa ternyata statement-statement dari Partai Aceh ini hanya omong kosong belaka saja, dan masalahnya cuma satu karena mereka belum bisa melepaskan pemikiran ashobiyah mereka dan mereka merasa terlalu sombong dengan kesukuan mereka atau merasa menjadi manusia yang paling tinggi dibandingkan manusia lain di Indonesia ini hingga mereka melupakan bahwa merekalah yang telah membawa rakyat Aceh ini dalam ketertinggalan seperti sekarang ini.
Alih-alih menegakkan syariat Islam, mereka telah membuat rakyat Aceh kehilangan jati diri Islamnya karena konflik. Alih-alih mempertahankan Islam di Aceh, mereka telah membuat banyaknya Tengku meninggal di Aceh. Alih-alih mempertahankan SDA Aceh diambil, mereka telah membuat aman Arun habis SDA sampai sekarang. Alih-alih menjadi Aceh berwibawa, mereka telah membuat Aceh menjadi jatuh dimata masyarakat nasional maupun internasional. Sekarang ini, alih-alih membuat Aceh aman, mereka menjual Aceh untuk kepentingan mereka ke depannya.
Tapi mudah-mudahan semua itu tidak terjadi karena masih banyak dari anggota PA yang masih mencintai Aceh dengan setulus-tulusnya, memperjuangkan Aceh menuju sebuah wilayah yang diperhitungkan karena SDA yang kaya dan SDM yang kuat untuk menjaganya dan menggunakannya untuk kepentingan rakyat Aceh sendiri.

Jika Pluralisme Menguasai Aceh

Saat ini di Aceh berkembang berbagai ideology yang diusung oleh partai-partai, baik partai lokal (parlok) maupun partai nasional (parnas). Ideologi yang diusung antaranya adalah sosialisme, nasionalisme Aceh, nasionalisme Indonesia, demokratisme, islam dan lain sebagainya yang menawarkan berbagai perspektif masing-masing dalam memajukan Aceh.
Namun, seringkali dilupakan oleh Pemerintah Aceh adalah bahwa sekarang ini Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang menegakkan syariat Islam, tentunya peran agama Islam juga seharusnya amat mempengaruhi demokrasi yang saat ini ada di Aceh. Peran Islam seharusnya menjadi yang terdepan dan tidak terkalahkan dengan peran-peran lainnya.
Sebagai salah satu contoh adalah sebuah partai lokal yang mengusung sosialisme pluralisme, sebuah tawaran untuk membawa Aceh ke dalam perubahan-perubahan seperti penguasaan terhadap aset nasional bagi kepentingan rakyat Aceh, persamaan hak setiap komponen dan golongan masyarakat yang terkadang tanpa batasan, dan lain sebagainya. Ada juga sebuah partai yang membawa ideology nasionalisme Aceh dengan begitu kuat, partai yang mungkin kepanjangan dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang hampir kurun 30 tahun telah berusaha menanamkan pengaruhnya di Aceh dengan mengangkat isu kemerdekaan Aceh serta konsep Penjajah Jawa – Indon. Belum lagi partai-partai nasionalis yang mengangkat isu nasionalisme dalam kerangka NKRI, peran NKRI dalam menjaga perdamaian dan lain sebagainya. Kemudian juga partai-partai ideology Islam juga ikut dalam pemilu tersebut dengan isu-isu penegakkan kembali syariat Islam di Aceh, pemberdayaan rakyat Aceh menjadi lebih mandiri dan lain sebagainya.
Maka hari ini rakyat Aceh seringkali diminta untuk melihat kampanye-kampanye, jargon-jargon, janji-janji, bermacam ideology pilihan, tawaran materi, dan masih banyak lagi yang mencoba mengajak rakyat Aceh ke dalam pemikiran mereka masing-masing.
Sejarah Aceh Dalam Syariat Islam
Sejarah Aceh sudah membuktikan bahwa sesungguhnya Aceh sejak berabad-abad dulu dan besar dengan syariat Islam, seperti yang pernah dikatakan oleh Tengku Daud Beureuh bahwa Syariat Islam di Aceh sudah berjalan selama berabad-abad dan sesuai dengan kultur rakyat Aceh. Sejarah Aceh juga telah memperlihatkan bahwa Aceh bisa sedemikian ditakuti oleh asing seperti Belanda dan Jepang atau Portugis atau penjajah lainnya, seperti yang kita ketahui dengan ‘Perang Sabilnya”. Dalam buku “Sejarah Aceh” karya Dennis Lombart diceritakan bagaimana seorang Belanda ditanyakan ingin masuk Islam atau tidak ? Dengan tawaran ini ia diancam akan dibunuh jika menolak untuk masuk ke dalam agama Islam. Atau dalam “Kekeberen”, bagaimana akhirnya anak dari Reje Linge berhasil merebut Kute Reje dari seorang Ratu China, yang kemudian mengajaknya masuk Islam atau akan membunuhnya, yang akhirnya menjadi istri dari anak Reje Linge tersebut dan memimpin kerajaan di Kute Reje.
Aceh dikenal sebagai tempat perdagangan yang mandiri dan punya nilai tawar serta punya kehormatan di masa lalu yang ditandai dengan hubungan komunikasi antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan-kerajaan di Eropa dan China, penghormatan-penghormatan yang diberikan terhadap Aceh juga terlihat dari kemampuan kerajaan Aceh untuk dapat menyebarkan pengaruhnya pada pesisir timur Sumatera dan selat Malaka.
Aceh juga dikenal dengan peperangan-peperangan dalam merebut kekuasaan pada internal mereka masing-masing, perebutan kekuasaan atau pengaruh antara para Penguasa dengan para Pedagang, dalam buku Dennis Lombart dan Hikayah Aceh juga terlihat bagaimana Sultan Iskandar Muda membunuh para pedagang yang sudah tidak lagi berorientasi kepada rakyat dalam segala jerih upayanya untuk berusaha. Atau kisah Perang Tjambok, peperangan antara Tengku dengan Teuku atau Penguasa atau para Pedagang, kesemuanya memperlihatkan bagaimana pluralisme Aceh masih dalam kerangka syariat Islam.
Bahkan uniknya lagi, salah satu hal yang membuat Gerakan Aceh Merdeka mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat adalah juga sebuah keinginan untuk menegakkan syariat Islam di Aceh, mendirikan Negara Islam Aceh.

Aceh Kini
Setelah selama 30 tahun dalam konflik yang berkepanjangan yang di canangkan oleh Hasan Tiro rakyat Aceh hidup dalam tekanan dan intimidasi baik dari GAM yang menginginkan kemerdekaan maupun dari TNI yang berusaha mempertahankan kedaulatan NKRI.
Pada masa itu yang terjadi adalah penurunan kualitas rakyat Aceh sendiri, baik dari sisi pendidikan, mental konflik yang menggejala, yaitu mental ketakutan dalam pengambilan keputusan dan hidup dalam ketidakpastian, kemiskinan yang terus bertambah, motivasi kerja yang menurun, dapat dibayangkan semua itu akan mengakibatkan stamina dan vitamin rakyat Aceh menjadi anjlok turun ke bawah, semua itu membuat semuanya menjadi tidak karuan lagi.
Hal yang perlu diingat adalah pada masa konflik tersebut banyak pemuda-pemuda Aceh yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah ke Luar Negeri, ntah itu dibiayai oleh GAM atau LSM-LSM bahkan Pemerintah sendiri yang melihat Aceh sampai saat ini sebagai sebuah ancaman baik secara ideology maupun secara nasionalisme. Pemuda-pemuda Aceh tersebut telah berubah cara pandangnya dari yang berpikir islami menjadi berpikir liberalism bahkan sosialisme pluralisme yang tentunya akan berujung kepada pemikiran-pemikiran yang menjauh dari Islam.
Belum lagi tsunami yang terjadi telah membawa rakyat Aceh menjadi media internasional atau menjadi tempat bagi LSM-LSM asing untuk mulai menanamkan pengaruhnya bagi masyarakat Aceh dengan modal bantuan kepada masyarakat Aceh. Sering kali terdengar upaya-upaya dari beberapa LSM asing yang memberikan bantuan sekaligus mengiringinya dengan ideology atau pemikiran mereka. Teringat saya ketika pertama kali ke Aceh pasca tsunami saya merasakan bahwa ada isu bahwa penculikkan anak-anak Aceh oleh orang-orang yang tidak dikenal, atau seringkali dikatakan pada waktu itu ada upaya-upaya pemurtatadan yang dilakukan oleh asing. Bahkan ketika saya ke Aceh 1 tahun kemudian, seorang tukang becak mengatakan ia melihat Aceh sekarang sudah amat berubah, sudah tidak seperti Aceh yang dulu lagi, ia mengatakan suatu hal yang menurut saya sangat tendensius dengan mengatakan bahwa bisa saja di Banda Aceh ini kelak agama saja yang muslim akan tetapi tingkah polahnya seperti Yahudi, sebuah kekuatiran yang menurut saya amat luar biasa.
Dan kini semuanya hampir terbukti, pilkada ini akan memperlihatkan bagaimana sesungguhnya karakter rakyat Aceh saat ini, apakah mereka tetap dengan ideology Islamnya atau mereka kembali menjadi sebuah daerah yang sama dengan daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia, daerah yang tidak menegakkan syariat Islam. Bagi saya ini merupakan kemunduran bagi rakyat Aceh, padahal sejarah telah berulangkali membuktikan bahwa yang paling cocok dengan rakyat Aceh adalah keislaman bukan lainnya, ntahlah.

Ketika Aceh Jauh dari Syariat Islam
Baru-baru ini dalam mailing list ini saya membaca sebuah postingan yang mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang memperjuangkan diakuinya Gay atau Lesbi atau Homo Seksual di Aceh, para penyakitan itu terlihat di media-media dengan bebas mengekspresikan kebebasan mereka sebagai penyakitan-penyakitan yang harus diakui oleh rakyat Aceh.
Padahal adalah hal yang jelas kalau Aceh dalam syariat Islam, dimana kaum penyakitan seperti itu hukumnya adalah dicambuk atau dipenjara bahkan di Afganisthan (baca: Taliban) hukumannya adalah ditiban dengan tembok. Tapi yang terjadi adalah mereka sepertinya bebas berkeliaran di bumi serambi Mekkah yang kita cintai ini, jadi dimana orang Aceh yang dahulu begitu ditakuti oleh orang-orang, yang begitu bangga dengan Islamnya ? Dimana ?
Belum lagi postingan yang mengatakan bahwa saat ini sudah ada pelacur di Aceh, sudah ada HIV/AIDS di Aceh, laki-laki dan perempuan sudah tidak tahu malu lagi berkhalwat, mau dikemanakan rakyat Aceh ini ? Penurunan-penurunan moral dari rakyat Aceh yang semakin lama semakin nyata ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua bahwa sudah saatnya syariat Islam ditegakkan dengan benar di Aceh, karena inilah yang sesuai dengan kondisi budaya dari bangsa Aceh sesungguhnya.
Alasan-alasan dari kaum pluralisme adalah dengan mengatakan bahwa ada pemaksaan dalam penegakkan syariat Islam di Aceh, seharusnya dimulai dengan da’wah terlebih dahulu, seharusnya… seharusnya… seharusnya… Wacana ini yang terus berkembang di Aceh. Seharusnya mereka malu dengan hal ini, seharusnya mereka melihat bahwa Aceh dapat berkembang maju dengan Islam, seharusnya mereka sadar bahwa budaya rakyat Aceh yang keras ini harus dilandasi dengan Islam karena apabila tidak maka mereka bisa saja melebihi Yahudi. Ketika provinsi-provinsi lain berusaha agar bisa menerapkan syariat Islam di Aceh maka ada beberapa gelintir orang yang terorganisir berupaya agar provinsi Aceh untuk lepas dari syariat Islam.
Saya yakin para pendahulu kita akan kecewa dengan hal yang satu ini, mereka akan menjadi sedih melihat anak cucunya menjadi tidak lebih baik lagi, semangat “Perang Sabil” atau semangat menegakkan Islam di bumi Serambi Mekkah itu kini sudah mulai luntur di penerus generasi Aceh, menyedihkan.
Aceh yang dahulu terkenal sebagai sebuah negera federasi, yang disokong oleh Kerajaan-kerajaan seperti Linge, Perlak, dan Kerajaan-kerajaan kecil lainnya dengan kebanggaan menegakkan adat istiadat sesuai dengan syariat Islam kini telah kehilangan jati dirinya, kini Aceh pasca konflik dan tsunami sepertinya berubah ingin mencari kebebasan dengan sebebas-bebasnya, mempersoalkan syariat Islam yang selalu menjadi jati diri Aceh, atau dalam pandangan saya dengan kata “Pluralisme Kebablasan”.
Pluralisme adalah sesuatu yang harus dihormati, Islam mengatakan hal yang demikian, tapi kalau sudah kebablasan maka harus dihentikan, harus diberikan hukuman, harus diberikan ketegasan. Apakah kita akan membiarkan homo seksual diakui di Aceh ? Apakah kita akan membiarkan perampokkan di akui di Aceh ? Apakah kita akan membiarkan korupsi berjalan di Aceh ? Apakah kita akan membiarkan AIDS/HIV terus berkembang di Aceh ? Apakah Aceh akan menjadi sebuah daerah dimana penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan? Kemana jati diri bangsa Aceh sesungguhnya ? Kemana ? Haruskah hilang karena pluralisme yang kebablasan ? Hilang karena sosialisme yang tidak islami ? Ketika Aceh jatuh dalam lingkaran itu maka kita akan melihat suatu bangsa yang kehilangan jati dirinya, akan mengalami kemunduran, akan mengalami sebuah kejatuhan cepat atau lambat.

Selamatkan Aceh Kita
Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 merupakan sebuah garis estafet Aceh akan dibawa kemana, karena para legislatiflah yang akan menentukan kebijakan Aceh di masa yang akan datang. Syariat Islam akan bisa hilang dari Aceh jika legislative menginginkannya, sudah waktunya kita menjaga agar syariat Islam bisa terus berdiri tegak di Aceh, sudah waktunya kita memperjuangkan apa yang sudah diperjuangkan oleh pendahulu-pendahulu kita.
Pernah terdengar bahwa salah satu jargon dari partai lokal adalah dengan mengatakan bahwa mereka harus bekerja keras, mereka harus menang agar rakyat Aceh bisa merdeka, atau mereka mencontoh kepada salah satu Negara yang perjuangannya dilakukan melalui sebuah partai, ketika perjuangan bersenjatanya gagal. Bahkan pernah juga terdengar bahwa penegakkan syariat Islam di Aceh adalah dipaksakan, mereka memaksakan kehendaknya tanpa melakukan dawah terlebih dahulu.
ALA dan ABBAS terus terpatri pada sebagian masyarkat Aceh yang merasa dianaktirikan selama ini. Bagi masyarakat Gayo selama ini orang Aceh terlalu menganggap mereka sebagai masyarakat terbelakang, memandang sebelah mata kepada orang-orang Gayo. Orang-orang Gayo sendiri menganggap orang Aceh itu selalu menipu orang Gayo. Bahkan dari sisi perjuangan GAM orang Gayo kebanyakan dianggap sebagai pengkhianat karena telah membawa transmigran Jawa ke dataran tinggi Gayo, tidak mau mendukung perjuangan GAM dahulu. Bagi orang Gayo sendiri GAM adalah pemberontak, dan malu bagi orang Gayo menjadi pemberontak. Mungkin ini juga kiranya terjadi di masyarkat ABBAS, ntahlah.
Aceh kini seperti ‘api dalam sekam’, banyak kubu yang menyimpan amunisi-amunisi untuk menunjukkan kekuatan. Aceh kini menuju pendewasaan, inilah saatnya rakyat Aceh belajr demokrasi sekaligus mempertahankan identitas dirinya sebagai bangsa Aceh dengan Islamnya, bukan lantas kemudian menjadi “Pluralisme Kebablasan” atau “Demokrasi Kebablasan”.
Aceh dengan self govermentnya sudah saatnya menjadikan dirinya tidak lagi terkotak-kotak mundur, akan tetapi terus maju dengan jati dirinya, Islam. Semangat inilah yang harus dibangun kembali oleh rakyat Aceh, semangat inilah yang harus ditularkan oleh rakyat Aceh kepada generasi mudanya, semangat Islam, sekali lagi semangat Islam, semangat Republikan.
Selamat berjuang.

11 Maret 2009

Islam di Aceh ?

Perjalanan dawah Nabi Muhammad SAW telah memperlihatkan bahwa Islam itu adalah politik, karena dawah itu politik, bagaimana menyebarkan agama Islam di muka bumi ini dengan santun dan baik, dengan tidak melupakan arti dari La Ikrafiddin atau tidak ada pemaksaan terhadap agama, sekaligus membangun kebanggaan menjadi seorang Muslim dengan tidak melupakan bahwa non Muslim harus dijaga.

Apakah Islam itu sebuah Partai ?
Islam itu bukan sebuah partai, karena Islam itu merupakan sebuah keimanan atau addin, sehingga Islam lebih tinggi dari sebuah partai. Islam dapat hinggap dimanapun, ia dapat hinggap di ilmu pengetahuan, dapat hinggap di organisasi pemuda, dapat hinggap di setiap insan, bahkan setiap ciptaan Allah. Jadi Islam lebih luas daripada sebuah Partai.

Apakah Islam Memerlukan Partai ?

Ada sebuah hadist Nabi yang mengatakan bahwa kejahatan yang terorganisir tentunya akan dapat mengalahkan kebaikan yang terorganisir, nah dalam konteks ini diperlukan sebuah partai untuk memperjuangkan Islam. Saat ini di Indonesia sudah sedemikian banyak partai Islam, namun yang benar-benar dapat dijadikan sebagai gambaran tentang Islam itu sediri dalam sebuah partai amat sedikit partainya. Makanya diperlukan sebuauh pemikiran untuk memilih sebuah partai yang tepat yang bisa memperjuangkan Islam.

Kenapa harus Partai ?
Islam ke depan harus berpikir progresif, ia harus mampu menguasai legislatif atau kekuasaan, karena untuk memperjuangkan Islam adalah melalui kekuasaan, da mendapatkan kekuasaannya melalui Partai. Inilah kenyataan yang terjadi saat ini.
Partai inilah yang bisa menjadikan Islam dapat menjadi sebuah aturan atau dapat menegakkan syariat Islam di manapun ada partai tersebut.

Mencontoh Kepada Iran
Iran terkenal dengan gerakan revolusi Islamnya di dunia ini dengan menumbangkan rezin Syah Palevi yang dikatakan sekuler dan didukung barat. Saat ini dengan menggunakan kekuatan politiknya Iran berhasil membuat negara ini diperhitungkan oleh negara-negara lain, bahkan ia adalah salah satu negara yang amat ditakuti Barat dan sekutunya bahkan Israel.
Kekuasaan tertinggi ada pada sebuah Perwalian Negara yang dipegang oleh Ayatullah Khoemeni sebagai pemimpin tertinggi spritual Negara, dengan ini ia menjaga agar negara ini selalu dalam koridor Islam. Kemudian kepemerintahannya diselenggarakan oleh seorang Presiden yang dipilih langsung rakyat setelah melalui seleksi dari Perwalian Negara tersebut.
Uniknya lagi golongan-golongan unik selalu terwakilkan di parlemen Iran. Komunitas Yahudi, komunitas Muslim Sunny, komunitas lain-lain yang ada di Iran. Hasilnya adalah Iran menjadi sebuah negara yang relatif stabil dan keislamannya dapat dipertahankan (gerakan revolusioner Islamnya).
Bahkan pada elemen masyarakatnya ada yang dinamakan dengan Basyil atau sebutan kepada tentara sipil Iran atau Bela Negara di Indonesia sebagai kepanjangan dari Wali Negara, yang bertugas untuk menjaga arahnya revolusi Iran yang sudah terbentuk.
Jika diperhatikan bersama maka jelas bahwa Iran merupakan sebuah negara Muslim yang juga mempergunakan Islam sebagai jalur politiknya.
Sedangkan negara-negara Arab lainnya kebanyakan hanya menggunakan Islam sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya dengan mengedepankan syariat Islam, yang juga seringkali hanya menjadi topeng saja. Sekali lagi bukan ini yang diinginkan Islam.

Islam di Aceh Kemana ?
Islam di Aceh sudah merupakan urat nadi rakyat Aceh selama berabad-abad, sudah seharusnya syariat Islam menjadi pegangan rakyat Aceh, karena sejak dahulu kala sebenarnya ini sudah berjalan dalam adat istiadat masyarakat Aceh. Bila kita kemudian mundur dengan gerakan Islam ini, maka Aceh akan menjadi mundur karena kemajuan Aceh adalah dengan syariat Islam.
Kita harus mengetahui mental dari orang Aceh yang keras, terkenal dengan tipu Aceh, sejarah telah membuktikan bagaimana pertikaian yang terus terjadi antara Tengku dan Teuku, perbedaan karakater di Aceh, kesemuanya itu sejak dahulu kala dapat diredam dengan berlakunya syariat Islam di Aceh sejak berabad-abad. Bayangkan jika ini hilang dari Aceh maka yang ditakutkan adalah Aceh kembali ke dalam kejahiliyahan atas nama Sosialisme dan Kesejahtaraan atau Liberalisme dan Kebebasan. Hanya ini yang saya takutkan jika bukan Islam yang menguasai Aceh.
Itulah yang menyebabkan saya mengatakan lebih baik Aceh itu dimenangkan oleh PKS, dari sisi budaya juga dari sisi potensi konflik, kita semua ke depan akan merasakan Aceh yang aman, damai, tentram dan islami. Banyak dari pemikir Islam menginginkan agar ada sebuah negeri yang menjadi contoh berkembangnya Islam, dan saat ini Aceh lah yang bisa dijadikan contoh dari sisi hukum dan kesempatan, jika ini hilang maka hilanglah semua yang diperjuangkan Tengku kita dahulu dan tokoh Islam yang berjuang demi Aceh. Ideologi inilah yang sekarang diperjuangkan, tinggal nantinya bagaimana kita mengaplikasikannya kepada rakyat Aceh.

Kesimpulan
Perjuangan penegakkan Islam salah satu cara strategisnya adalah melalui Partai Politik. Jangan sampai Aceh kembali ke dalam jahiliyah dan konflik berkepanjangan, sejarah telah membuktikan bahwa Islam yang membuat Aceh menjadi berwibawa.

03 Maret 2009

Demokrasi, PKS Maju Terus

Hanya PKS Yang Sesuai Dengan Karakteristik Rakyat Aceh
Akhir-akhir ini dalam setiap kesempatan di mailing list saya seringkali melihat banyaknya pendiskreditan terhadap PKS atau Partai Keadilan Sejahtera dengan berbagai cara dan persepsi, ada yang langsung meneror PKS, ada yang memfitnah PKS, ada pula yang membangun sebuah wacana usang PKS.
Bagi saya ini adalah tidak lebih daripada dinamika politik yang semakin panas di Aceh berkenaan dengan Pemilu yang sebentar lagi akan diadakan, PKS merupakan salah satu Partai yang akan menuai suara di kalangan pemuda, intelektual, dan masyarakat perkotaan.
Daerah ALA sampai saat ini terlihat masihlah akan diperebutkan Parnas, karena Partai Lokal terlihat sulit menembus di sana, GOLKAR dan PKS juga Demokrat akan bersaing keras. Begitu juga dengan ABBAS, partai lokal hanya akan menunjukkan eksistensinya di pedesaan, seperti yang terjadi ketika Hasan Tiro datang maka Partai Aceh tidak mendapatkan sambutan dari masyarakat Meulaboh dengan gegap gempita seperti halnya di Aceh bagian timur. Kedatangan Hasan Tiro bisa dikatakan sebagai uji coba bagaimana tanggapan rakyat Aceh terhadap Partai Aceh. Namun kedepan sejalan dengan percaturan politik di Aceh makan Parlok-parlok ini rasanya akan mendapatkan peralawanan yang cukup berat dari Parnas, untuk Aceh bagian Timur perlawanan terkeras di dapat dari PKS.
Belum lagi ketika Kuntoro mengatakan bahwa PA hanya akan mendapatkan 30% jika tidak melakukan intimidasi, menurut saya akan kurang dari 30%. Kuntoro sebagai Pemimpin dari BRR tentunya adalah orang yang langsung berinteraksi dengan KPA yang notabene GAM, notabene PA. Tentunya ia tahu betul karakter dari orang-orang Aceh, bagaimana proyek yang tidak dikerjakan dengan benar, bagaimana memanipulasi uang proyek, siapa saja yang melakukan kecurangan, ini perlu diingat. Kuntoro sebenarnya terlalu berbaik hati mengatakan 30%, walau ia sebenarnya mungkin ingin mengatakan hanya 20% jika PA tidak menggunakan intimidasi.
Sebagai gambaran kasarnya adalah Irwandy dan Nazar ketika memenangkan Pilkada hanya mendapatkan suara sebanyak kurang lebih 30% saja, itupun dukungan dari SIRA lebih besar, ketika mereka terpecah antasa Partai SIRA dengan PA tentunya ini akan memecah suara tersebut juga. Memang hal yang patut diperhitungkan adalah ketika KPA dengan uang dari BRR menggunakan berbagai pendekatan terhadap masyarakat, tapi kenyataannya adalah terbalik, yang terjadi adalah kebencian masyarakat terhadap PA, utamanya kepada petinggi-petingginya yang telah hidup mewah tapi melupakan masyarakat, semua ini tentunya akan berhubungan antara satu dengan yang lain. Keserakahanlah yang telah membuat PA menjadi hancur selama ini, kesempatan yang ada telah disia-siakan.
Isu ALA dan ABBAS juga tentu berpengaruh terhadap pemilih yang ada di Aceh, jika mereka memilik Partai Lokal, seperti PA maka sudah barang tentu keinginan mereka untuk berpisah akan menjadi NOL kembali, karena dalam persepsi mereka pemekaran ini tinggal menunggu waktu saja, menunggu pergantian kepemimpinan baru, menunggu perubahan situasi yang di Aceh sebenarnya masih sangat labil dengan pemberontakkan kembali GAM, yang terjadi sebelum ini ada upaya dari GAM Konservatif untuk “Lempar Batu Sembunyi Tangan”.
Hal mendasar yang juga sering dilupakan adalah bahwa masyarakat Aceh sudah bosan dengan konflik, mereka kini berupaya untuk mencegah kembalinya konflik di Aceh, dan mereka sadar bahwa PA bukan pilihan mereka karena ada diantara kader-kader mereka yang mengatakan bahwa sekarang ini adalah waktunya untuk memperjuangkan kemerdekaan Aceh melalui legislative, memberikan janji kalau PA menang maka Aceh akan merdeka. Tapi mereka lupa rakyat Aceh tidak butuh lagi kemerdekaan tapi butuh kesejahteraan, mereka bosan konflik. Kembali isu ini akan menjadi tamparan bagi PA sendiri.
Inilah menurut saya kenapa Kuntoro mengatakan hal yang demikian, walau menuru saya bukan 30% tapi hanya 20% saja PA mendapatkan suara.
Kembali ke PKS, perubahan paradigma PKS sekarang adalah mereka telah berupaya untuk merubah Partainya yang dahulu dikatakan eksklusif menjadi partai terbuka, dapat dilihat dari iklan-iklannya, dari yang mengangkat Soeharto menjadi icon kampanyenya, menjadikan berbagai golongan masyarakat sebagai iconnya tidak hanya wanita berjilbab dan pemuda yang berjanggut, ini adalah perubahan serius yang ingin mengatakan bahwa PKS adalah partai bagi setiap kalangan. Walau kemudian mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan juga yang tidak menginginkan PKS menjadi besar tentunya, inilah politik.
Jika kita melihat Islam yang diusung PKS sekarang lebih sudah sesuai dengan karakteristik bangsa Aceh dan bangsa Indonesia pada umumnya. PKS menjadi lebih terbuka dan nyaman untuk siapapun.
Saya menjadi teringat ketika awal saya melihat PKS, PKS ini selalu ditakuti Partai besar lainnya karena mesin politiknya yang luar biasa, loyalitas anggotanya, selalu membantu yang tertimpa musibah dan juga mampu menggunakan metode-metode kampanye inovatif dan modern.
Kenapa PKS sesuai dengan karakteristik rakyat Aceh ?
Islam, hanya itu jawabannya, Islam adalah Agama yang sempurna, semua muslimin tentunya percaya dengan yang satu ini, ntah itu Irwandy Yusuf, Hasan Tiro, atau yang lainnya selama mengucapkan 2 kalimat syahadat.
Sejarah juga telah membuktikan bahwa yang membesarkan Aceh itu adalah Islam bukan sosialisme, bukan nasionalisme, bukan Pancasila tapi hanya Islam. Dan PKS adalah partai yang bisa membawa rakyat Aceh ke sana. Karakteristik ini lah yang dilupakan oleh GAM, mereka lebih mengedepankan nasionalisme semu yang tidak pernha dikenal rakyat Aceh sebelumnya dengan konsep Penjajahan Jawa - Indon. Mereka melupakan sepak terjang pendahulu-pendahulunya yang lebih mengutamakan Islam sebagai setiap langkah kehidupan, bukan nasionalisme. Ini adalah sebuah potensi awal yang dimenangkan oleh PKS.
Kemudian dari sisi Hablumminallah, PKS telah berhasil menguasai kalangan intelektual Aceh yang ada di kampus-kampus, mereka juga partai yang paling rajin terjun ke masyarakat, bukan dengan janji tapi dengan bakti, bukan dengan intimidasi tapi dengan kesantunan, bukan dengan kemerdekaan tapi dengan kesejahtaraan dan syariat Islam, semuanya tentunya akan membuat PKS menjadi semakin besar saja. Keberanian dari PKS tentunya juga tidak terlepas dari keislaman mereka yang begitu kuat, juga dengan prinsip hidup mereka yang ikhlas dan selalu berusaha untuk bersih.
Menuju kesempurnaan merupakan tujuan dari setiap orang, namun menuju kesempurnaan dengan menghargai perbedaan adalah lain cerita, inilah Islam. La Ikrafiddin.

Sempurna
Coba kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, siapa yang ingin SEMPURNA ? Sudah barang tentu semua orang ingin mencapai kesempurnaan, bahkan Nabi pun diturunkan sebagai contoh yang sempurna bagi umatnya.
Anda tahu kenapa Linux dan Windows terus saja bersaing, namun Windows selalu menjadi pilihan bagi orang yang menyukai kesempurnaan, karena Windows lebih sempurna daripada Linux, tapi Windows mempunyai lisensi yang menyebabkan ketidaksukaan dari berbagai pihak yang mengembangkan open source. Inilah sebuah kenyataan bahwa kita semua menginginkan kesempurnaan.
Bahkan filosofi kehidupan ini adalah menuju kesempurnaan, ketika manusia diciptkan Allah, maka ia ada 2 pilihan yaitu surga dan neraka, keduanya adalah jalan menuju kesempurnaan. Ketika seseorang dihukum di neraka maka ia menyempurnakan dirinya untuk bisa memasuki surga, sedangkan surga itu merupakan symbol dari kesempurnaan itu sendiri.
Ketika kita menulis, kita membutuhkan kesempurnaan, darimana, dengan adanya seorang editor, orang yang berpikir diluar penulis, sehingga diharapkan bisa menangkap apa yang kurang dari sebuah tulisan.
Ketika Ibu melahirkan anaknya, apa yang ia tanyakan “Lengkapkah jarinya ?” lihatlah semuanya menginginkan kesempurnaan.
Jadi kalau anda semua hidup maka anda harus bisa menuju kepada kesempurnaan, bukan kemudian menjadi cacat.
Lantas kemudian apakah kesempurnaan ketika kita memperjuangkan kemerdekaan Aceh ? Bukan itu bukan kesempurnaan, tapi itu adalah kebodohan, kenapa ? Karena mereka harus belajar dari sejarah bahwa Negara itu hilang dan tumbuh, yang terpenting sekarang adalah humanism dan bagaimana menggapai sebuah peradaban. Sehingga dalam Islam itu melarang ashobiyah, karena Allah menghargai perbedaan dan bukan menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk saling menumpahkan darah, terlebih lagi bila sesama muslim.
Kesempurnaan bagi seorang muslim adalah menjadi “Insan Kamil”, sedangkan menuju kesanan bukan dengan kesempurnaan akan tetapi butuh onak dan duri atau cobaan-cobaan baik senang dan sedih. Sekali lagi sempurna itu adalah tujuan, bukan proses.

Situasi Aceh Memanas
Ketika situasi Aceh memanas maka anda dapat melihat daerah ALA dan ABBAS, mereka mempersiapkan diri masing-masing untuk mencegah terjadinya intimidasi terhadap mereka, menguatkan keamanan pada masyarakat, menjaga stabilitas daerahnya sendiri. Ini penting, Seperti halnya ketika masa pemberontakkan dahulu tokoh-tokoh Gayo meminta agar diperbanyak TNI di ALA untuk menjaga keamanannya, menjaga masyarakatnya, ini patut dicontoh oleh orang Aceh manapun.
Nah, untuk partai bagaimana caranya ? Tentunya mereka akan membentuk sebuah Satgas, seperti yang dilakukan oleh partai-partai besar lainnya, ntah itu PDI P, Golkar, PKB dan bahkan partai kecil lainnya. Mereka paling tidak mempunyai kekuatan sipil untuk bisa mempertahankan diri mereka, terlebih lagi di Aceh terdapat partai lokal bekas GAM atau PA, yang tentunya jiwa mereka itu adalah jiwa “turun gunung”, mereka belum bisa menjadi warga sipil biasa. Jadi satgas tersebut harusnya tidak melakukan perbuatan anarkis, tapi kalau anda membela diri itu tentunya akan dihormati secara hukum. Satgas itu harus bisa bekerjasama dengan TNI dan POLRI agar anda tidak kesalahan atau menjadi tempat provokasi bagi yang tidak menginginkan perdamaian di Aceh. TNI dan POLRI merupakan tempat satu-satunya untuk anda menjaga keamanan, tapi juga persiapkan diri anda untuk menghadapi setiap hal yang akan terjadi, jadi kalau anda semua belajar ilmu beladiri adalah hal yang wajar, jangan katakana dengan belajar ilmu beladiri maka dikatakan militerisasi, tapi anda harus bersabar dengan orang-orang seperti itu.
Kemarin saya sempat dalam sebuah diskusi dengan beberapa orang Aceh, awal dari diskusi itu adalah mengenai pemekaran wilayah, yang akhirnya terjadi sebuah perdebatan sehingga lawan debat saya mengatakan bahwa saya adalah milisi, bahwa saya adalah cuak, lantas saya jawab dengan cepat kepada mereka bahwa “Cuak-cuak itu sekarang meminta ALA dan ABBAS,”. Sengaja saya katakana itu karena mereka harus sadar bahwa tidak semua rakyat Aceh sama dengan pemikiran nasionalisme semu mereka semua itu. Daud Beureuh dan tokoh Aceh pada masanya adalah sebagai contoh, yang kemudian diikuti oleh tokoh Gayo dan tokoh ABBAS.
Peringatan dari saya kembali, bahwa akan banyak provokasi-provokasi kepada anda semua, dengan mengatasnamakan Islam dan Nasionalisme, Aceh dan Non Aceh, Nasionalisme dan Ultranasionalisme, pemekaran dan non pemekaran, keadilan korban konflik. Dan ini semua adalah provokasi usang yang tidak usah ditanggapi, karena ini adalah dari mereka-mereka yang baru belajar politik dan hanya menginginkan Aceh kembali ke dalam konflik.
Terakhir, selalu saya katakana kalau Aceh sekarang ini dalam dilemma, jangan bawa Aceh kembali ke dalam konflik. Pemekaran wilayah saat ini tinggal diketuk palunya bila keamanan tidak berhasil di Aceh. MoU Helsinky dan UU KPU diperdebatkan berkenaan dengan datangnya pemantau asing Pemilu ke NKRI. Yang terpenting sekarang adalah berdiskusi bagaimana membangun Aceh dengan baik. Juga seringkali saya katakana membuat Aceh tidak aman itu bagaikan membalikkan telapak tangan, tapi rakyat Aceh harus bisa melawan itu semua. Keyakinan saya NKRI tidak main-main lagi dengan perdamaian di Aceh, tapi masalahanya adalah GAM Konservatif yang ingin mengorbankan kembali rakyat Aceh ke dalam konflik untuk membangun kembali generasi kedua GAM, dengan pemimpin baru mereka.

28 Februari 2009

Pihak-Pihak Yang Tidak Menginginkan Perdamaian di Aceh

Setelah hampir selama 2 minggu saya agak sibuk dengan pekerjaan saya, akhirnya saya bias kembali berdiskusi dengan teman-teman mailing list yang amat saya cintai ini. Ketika saya membaca sebagian isi dari mailing list ini isinya ternyata hampir sama saja, namun isunya sekarang agak lebih di bawa kepada mulai mendiskreditkan Pemerintah NKRI atau mulai “melempar batu sembunyi tangan”.
Namun pada situasi Aceh yang memang sekarang panas ini, hal ini adalah sangat wajar karena berbagai kepentingan bermain sekarang ini, sebagaimana halnya para Caleg berlomba untuk meraup suara atau pecinta perang mulai memainkan kartunya kembali atau para fakir mulai memikirkan kembali bagaimana kiranya mendapatkan uang agar tidak hidup kembali dalam kemelaratan.

Situasi Aceh
“Alangkah senangnya jika saya kembali di Aceh dan ikut merasakan penderitaan orang Aceh,” hal ini yang pertama kali saya ingin katakan ketika saya melihat situasi Aceh sekarang ini, sebagai orang yang tinggal di luar Aceh sebenarnya bukan hal saya untuk mengomentari ini, tapi karena ada beberapa anggota mailing list yang ikut berkomentar seolah-olah ia tinggal di Aceh selama ini, seperti halnya Hasan Tiro yang berkoar-koar di luar negeri sana tanpa mau melihat atau bahkan merasakan penderitaan rakyat Aceh sekarang ini.
Aceh sekarang memasuki babak baru, sebuah babak akhir untuk menghadapi sebuah kenyataan apakah Aceh akan kembali konflik atau Aceh di bawah kepemimpinan Irwandy bisa selamat mempertahankan perdamaian di Aceh.
Pihak-pihak yang sekarang ini bermain di Aceh dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
Pertama, Pemerintah Jakarta, inipun rasanya sudah tidak mungkin karena nama besar NKRI dipertahankan dengan perdamaian di Aceh, sudah barang tentu Pemerintah Jakarta tidak akan melakukan hal-hal bodoh berkaitan dengan yang satu ini.
Kedua, oknum TNI yang menginginkan Aceh kembali konflik sebagai bahan emncari rezeki mereka, namun karena dalam satu komando rasanya TNI agak sedikit berkurang bermainnya.
Ketiga, oknum Ultra Nasionalisme yang menginginkan Aceh mendapatkan perlakuan yang sama dengan daerah lain, namun bila dilihat dari sisi nasionalisme mereka maka perdamaian di Aceh merupakan salah satu hal yang bisa menjaga nama NKRI di seluruh dunia dan menjaga keutuhan wilayah tentunya lebih utama dibandingkan dengan perpanjangan peperangan.
Keempat, ultra ALA dan ABBAS yang menginginkan secepatnya terbentuknya ALA dan ABBAS dengan berbagai cara, mereka menginginkan agar pemerintah NKRI melihat bahwa GAM itu tidak dapat memegang janji mereka. Namun tokoh-tokoh ALA dan ABBAS sampai saat ini rasanya masih patuh kepada Pemerintah Jakarta untuk mereka menahan diri dan lebih mementingkan persatuan wilayah NKRI.
Kelima, penegakkan Negara Islam atau penegakkan syariat Islam di Aceh, ini pun sepertinya akan menurun karena Aceh sekarang benar-benar diberikan kebebasan untuk hal yang satu ini, malah sesama komponen Aceh yang kini saling bertengkar dengan berbagai kebijakan tentang hal yang satu ini, berdebat mengani dampak dan kapan pelaksanannya.
Keenam, kalangan moderat GAM yang dikomandoi oleh pemikir muda GAM, mereka adalah orang-orang yang memprakarsai adanya self government di Aceh dengan MoU Helsinkynya. Kepentingan mereka sekarang adalah bagaimana caranya memenangkan legislative untuk dapat memperjuangkan nasib anggota GAM yang sekarang memang dalam keadaan sulit dan terombang-ambing antara perut dan jiwa kemerdekaan serta kembali kepada Jakarta. Mereka rasanya cenderung untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada Pemerintah Jakarta untuk eksistensi mereka bila mereka tidak bisa memenangkan legislative, terlebih lagi Irwandy masih selama 3 tahun lagi memimpin Aceh. Mereka masih bisa menahan diri.
Ketujuh, kalangan konservatif GAM, dalam pemikiran mereka kemerdekaan tidak bisa diganggu gugat, nasionalisme semu mereka tampaknya akan terus dikumandangkan untuk membodohi rakyat Aceh untuk kembali ke dalam konflik. Dalam pemikiran mereka saat ini GAM Irwand CS adalah GAM pengkhianat, melenceng dari jalur kemerdekaan atau mereka merasa ditinggalkan karena ketidakadilan pembagian kekuasaan dan materi.

Sepak Terjang GAM Konservatif/Ashobiyah
Dari ketujuh pihak tersebut, kita akan tahu semua bahwa kemungkinan yang terbesar untuk melakukan ketidakamanan di Aceh adalah pihak ketujuh atau GAM konservatif, situasi Aceh yang memburuk ini akan dijadikan mereka sebagai ajang pemanasan untuk kembali membawa rakyat Aceh ke dalam konflik, hal yang akan mereka lakukan adalah sebagai berikut:
Pertama, “Aksi Adu Domba”, mereka akan terus menggesek-gesek antara lain adalah Partai berhaluan Islam atau Parnas dengan Partai Lokal, kemudian ultranasionalisme Indon dengan ultranasionalisme Aceh Merdeka di ALA dan ABBAS, meningkatkan konflik sukuisme antara Jawa, Aceh dan Gayo atau ALA/ABBAS dan sukuisme Aceh, mendiskreditkan Pemerintahan Aceh sekarang terutama Irwandy Nazar dengan musuh-musuh mereka, menyusup ke dalam LSM-LSM sekaligus memeceah SIRA, melakukan tindakan-tindakan “lempar baru sembunyi tangan” melalui provokasi media dan aksi-aksi penghasutan dan kekerasan terbatas.
Kedua a, membangun kembali militansi New Generation GAM di Aceh dalam jangka waktu yang bertahap. Dalam pemikiran mereka tentunya setiap aksi hasutan yang mereka lakukan tentunya akan membawa hasil sedikit banyaknya, maka mereka akan melakukan gerakan bawah tanah dengan nasionalisme Aceh yang tinggi. Bila tahapan pemilu ini mereka gagal maka mereka akan kembali bermain di tahapan pemilihan Gubernur.
Kedua b, bila adudomba mereka berhasil maka Aceh dapat dipastikan menjadi sebuah pengkaderan baru untuk new generation GAM kedua, mereka pun akan mengumumkan pemimpin baru GAM pengganti Hasan Tiro. Mereka tentunya akan menjadikan gugurnya banyak rakyat Aceh dalam scenario mereka sebagai pahlawan atau mati syahid menurut mereka (padahal mati sia-sia). Aceh kembali ke dalam konflik.
Bayangkan hanya dengan 2 pemikiran ini saja kita akan melihat bahwa ACeh akan mudah konflik, bukan Jakarta yang tidak ikhlas menuju perdamaian Aceh akan tetapi GAM Konservatif yang masih menginginkan ambisi mereka untuk menghancurkan perdamian dan membawa rakyat Aceh kembali ke dalam konflik, hanya karena apa ? “Hanya karena ego MERDEKA BODOH SIALAN mereka.

Terakhir dari saya, agar rakyat Aceh jangan mau diadudomba, kembalikan semuanya kepada pihak keamanan, jangan takut kepada intimidasi, segera laporkan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, perkuat keamanan sipil anda semua, persenjatai diri anda.
Sekarang ini ada isu yang mengatakan bahwa daerah ALA dan ABBAS ada milisinya, padahal mereka melakukan sebuah penjagaan terhadap keamanan mereka seperti halnya SISKAMLING, jadi jelas GAM Konservatif ini masih terus dengan isunya agar mereka leluasa mengumandangkan adudomba mereka.
NKRI sudah FINAL, KEMERDEKAAN BODOH harus ditinggalkan, MERDEKA DARI KEBODOHAN DAN KEMISKINAN itu yang utama bukan ASHOBIYAH.
Selamat Berjuang Menjaga Perdamaian.

13 Februari 2009

Arogansi Parlok Menjelang Pemilu

Mencaci Maki BIla Tidak Setuju
Sudah sangat nyata ada petentangan dari Parlok yang mendukung GAM dengan beberapa pihak ternyata dijadikan sebagai cacian dan makian. Padahal dalam hati saya hanya bisa berkata "Emang siapa Lo ? Tuhan juga bukan" atau saya memandang mereka ini dengan kasihan sambil berkata dalam hati "Yah, inilah akibat konflik berkepanjangan, sungguh kasihan...".
Ada yang berbahaya disini bagi mereka sebenarnya karena perlu diwaspadai bahwa sesungguhnya nama mereka yang semakin lama semakin mendapati bahwa mereka semakin tenggelam ke dalam kehancuran, mereka semakin kerdil dengan keakuan mereka, mereka melupakan bahwa Islam tidak pernah membicarakan ashobiyah.
Terlebih lagi ternyata kekerdilan jiwa mereka ditambah dengan dendam yang membara seolah-olah mereka mempunyai semangat nasionalisme Aceh yang tinggi, padahal mereka tidak lebih dari budak nasionalisme itu sendiri. Mereka sudah melupakan korban yang harus dikorbankan demi ambisi mereka, mereka mendahulukan ambisi mereka dibandingkan dengan humanisme dan keluhuran budaya Aceh.
Nasionalisme apa yang anda bawa ? Itulah yang selalu saya pertanyakan. Negara Aceh baru hidup pada abad 13 atau 14 sampai abad 19 yang merupakan sebuah perjalanan dalam setiap kehidupan peradaban manusia. Coba saja kita pikirkan apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba Yunani meminta kekuasaannya kembali atau ketika Mongolia meminta agar daerah jajahannya dikembalikan atau Jepang dan Belanda. Lucu bukan? Hal inilah yang menyebabkan Islam melarang adanya perjuangan secara ashobiyah walau Islam menghargai suku bangsa yang diciptakan untuk saling mengenal satu dengan yang lain, bukan malah menjadikan mereka seolah-olah lebih baik dari suku bangsa yang lain.
Hal inilah yang terjadi pada Yahudi, mereka menganggap bahwa bangsa mereka adalah yang paling tinggi derajatnya sehingga menganggap derajat bangsa lainnya rendah. Dalam sejarah Yahudi selalu di atas dan di bawah, mereka di atas ketika mereka di jalan Allah dan mereka di bawah ketika mereka mulai melawan kehendak Allah, pembasmian Yahudi di Eropa dan beberapa benua lainnya pada waktu yang lalu adalah karena watak mereka yang licik dan tidak bisa dipercaya.
Nah, semua-semua itu yang saya takutkan melekat pada bangsa Aceh, tidak semuanya tentunya, lebih kepada GAM dan antek-anteknya yang sekarang masih menginginkan kemerdekaan, yang masih menganggap Jawa itu suku yang lebih rendah daripada mereka, begitu juga Gayo secara diam-diam. Ketika orang Aceh melihat Gayo mereka seolah-olah melihat suku yang terbelakang sehingga mereka tidak sadar bahwa ternyata mereka secara pasti dan perlahan baik disadari maupun tidak disadari sedang menuju kemunduran-kemundur an bahkan ada kemungkina mereka bisa jadi akan tertumpas juga bila terus melakukan tindakan-tindakan yang ashobiyah.

Memaksakan kehendaknya secara arogan
Sebulan ini kita dapat melihat bagaimana arogansi dari Partai Lokal yang dengan seenak muyangnya menghina PKS, seperti dengan kejadian dari caleg PKS yang tertangkap di Panti Pijat atau banyak isu lain yang dikeluarkan melalui singkatan-singkatan yang tidak jelas tersebut.
Inilah yang saya katakan bahwa Partai Lokal ini baru belajar berpolitik, lihat PKS menjawab semua tudingan mereka dengan santun, inilah bakal calon partai besar yang akan menguasai Aceh kelak, insya Allah.
Padahal kalau dilihat kearoganan itu merupakan bentuk intimidasi dari mereka sendiri, sebuah bentuk yang memperlihatkan bahwa mereka tidak panjang akal, seorang manusia yang cerdas akan sebisa mungkin menghindar dari bentuk-bentuk yang memperlihatkan ketidakmampuannya melalui intimidasi ini. Kotor lagi intimidasinya.
Dapat dibayangkan apabila di Aceh tidak ada TNI atau Polisi atau Milisi tentu mereka akan semakin arogan dengan kekuasaan, seolah mereka adalah yang paling memperjuangkan rakyat Aceh padahal mereka sebenarnya sudah dianggap sampah oleh rakyat Aceh karena hanya pandai mengangkat senjata dan mengancam yang dapat dilakukan oleh setiap anak-anak yang baru besar dengan jiwa yang sedang marah. Ini harus diubah kalau Aceh mau maju nantinya ke depan.

Kenapa Parlok harus menang ?
Semua juga mengerti bahwa Partai Aceh harus menang karena ada beberapa hal mendasar yang saat ini mengancam anggota Partai Lokal, pertama, kenikmatan hidup yang selama ini sudah dinikmati akan hilang jika mereka tidak memenangkan legislatif karena mereka tidak punya kuasa apapun saat ini. Kedua, harga diri mereka sekarang sedang diujung tanduk bila mereka tidak menang legislatif baik di dunia internasional maupun di Aceh sendiri, menunjukkan kepada dunia luar bahwa memang Aceh itu ya bukan GAM, tapi manusia cerdas yang cinta perdamaian bukan menjadi pemberontak, atau kebosanan terhadap GAM selama ini. Saat ini ketika mereka memegang sebuah kekuasaan, mereka mendapatkan segalanya tapi mereka malah kehilangan simpati dari rakyat Aceh. Ketiga, memberi makan kepada anggota GAM yang sampai saat ini tidak mempunyai keterampilan hidup dan tidak bisa masuk TNI karena segala macam pernyaratan atau egoisme masing-masing. BRR sudah habis, kalaupun digunakan dana APBD untuk memberi makan mantan kombatan itu tentunya akan berujung semakin jatuhnya wibawa GAM di masyarakat Aceh. Keempat, kalaupun mereka kembali mengumandangkan perang kembali nampaknya rakyat Aceh sudah bosan dengan ini semua, mereka sudah memprediksikannya dengan baik. Bahkan perjanjian ini tentunya sudah dimanfaatkan oleh masing-masing pihak untuk saling mempelajari satu dengan yang lain dengan lebih dalam lagi.

Terus Gimana ?
Rakyat Aceh harus tetap tenang, selalu dekat dengan pihak keamanan, dalam masa panas ini akan ada isu-isu yang dinaikkan terlebih lagi pada daerah konflik, anda semua perlu bersabar dan menggunakan hati nurani anda untuk mendukung partai manapun yang anda sukai.
TNI atau Polisi relatif netral karena bagi mereka semua NKRI sudah final, sehingga peran mereka sekarang teramat besar untuk memberikan kebebasan kepada anda, sedikit ada intimidasi langsung laporkan. Ini penting sebagai peringatan bagi mereka.
Agar selalu mengingat hasil apa yang didapat dari konflik selama 30 tahun ini, hanya demi kepentingan GAM saja dengan MoU Helsinkynya, camkan ini dalam hati dengan baik-baik. Kalaupun tidak mau dikatakan perang bodoh maka dapat dikatakan sebagai perang sia-sia.
Dalam sebuah perang maka korbannya adalah rakyat biasa, mau tidak mau andalah yang menjadi korban, tanamkan dalam hati anda, kalau bisa hidup dengan damai kenapa harus perang ?
Lantas ingat juga bahwa Islamlah yang membawa Aceh berjaya bukan nasionalisme yang tinggi, kalau Aceh dahulu seperti sekarnag maka dapat dipastikan bahwa Aceh tidak akan pernah maju karena pola pemikiran mereka selalu konflik, keakuan mereka paling tinggi. Lihat dalam blog saya www.cossalabuaceh. blogspot. com pada label GAM dengan judul Konsep Perang Bodoh.
Maka pilihlah partai yang berideologi Islam, karena itulah Aceh bukan nasionalisme yang semu dan sia-sia selama ini, karena Aceh tidak akan pernah bisa disatukan dengan nasionalisme sampai kapanpun bila kita melihat banyaknya suku bangsa di Aceh yang sekarang bertambah dengan saudara kita dari Jawa. Hanya Islam dan adat istiadat yang membuat Aceh menjadi kuat sejak dulu.

07 Februari 2009

Layakkah Rakyat Aceh Kembali Konflik ? (tulisan pertama)

Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, sehingga saya mempunyai pemikiran untuk memberikan sedikit pencerahan kembali kepada saudaraku orang Aceh yang saya cintai. Dihadapan saya terdapat 5 buah buku dan banyak lagi yang kiranya telah memberikan saya sebuah inspirasi untuk dapat menulis, dan keinginan saya ini tidak lebih sebuah keinginan untuk dapat memberikan pemikiran-pemikiran baru.
Saya itu memang hobinya membeli buku tapi terkadang belum bisa membaca semuanya, saya sudah hampir membeli 1000 buku, tapi saya tahu mungkin teman-teman saya sudah lebih banyak yang mempunyai koleksi perpustakaan dibandingkan saya. Karena kita ada makhluk yang berakal tentunya tidak mau terus taklid buta atau ikut-ikutan yang terlabih lagi kepada berdasarkan sebuah dendam dan kebencian yang tidak jelas kepada sebuah golongan terlebih lagi itu kepada saudara kita seiman.
Saya teringat dulu bahwa saya pernah mengikuti sebuah Gerakan Islam yang tidak usah saya sebutkan namanya, bahkan saya sempat menjadi pimpinan diantara mereka, waktu itu saya baru SMA, perspektif saya terhadap seorang manusia waktu itu amat berbeda, saya menganggap bahwa diri saya lebih baik, lebih terhormat dari yang lainnya.
Uniknya hanya dengan mengikuti pergerakan itu selama 1 tahun pola pikir saya berubah dengan cepatnya, sepertinya tercuci otak saya, saya sudah bisa mengatakan bahwa orang itu kafir kalau tidak ikut dengan saya, seperti halnya GAM mengatakan bahwa ia merupakan manusia yang lebih tinggi dari Jawa karena mereka tidak pernah dijajah, ironis bukan.
Yang menarik Ine atau mama dalam bahasa Indon selalu menjadi seteru saya di rumah, dan ceritanya menjadi teramat panjang, ia selalu menjadi lawan saya dalam berbagai pemikiran dan perbuatan, dan ada satu hal yang selalu terngiang di benak saya waktu itu sampai sekarang terus tertanam adalah kurang lebih seperti ini dalam bahasa Gayo “Kosasih, enti mere I cekoki jema pemikirenmu lagu ini, ko enti e we kene jema, baca buku, perah pemikiren len keti nguk ko perbandingen urum pemikiren jema oya” atau dalam bahasa Indonnya “Kosasih, kamu jangan mau di cekoki, kamu jangan hanya menuruti saja, tapi baca buku, baca buku, kamu harus punya pemikiran lain untuk apa yang masuk ke dalam pemikiranmu”.
Namun atas sarannya itu waktu itu saya melepas kembali semua pemikiran saya tentang Islam, saya bukan Islam dan saya mencoba mencari tahu kenapa saya memilih Islam. Dan akhirnya saya menemukan bahwa Islam memanglah agama yang terbaik dan rasional. Sebuah agama yang damai dan santun serta tegas, saya semakin cinta agama saya namun sekarang saya sudah lebih menghormati perbedaan.
Semenjak itu tertanam dalam pemikiran saya, ini merubah saya menjadi orang bebas, pikiran saya pergi kesana dan kemari, saya mulai menyukai filsafat, saya mulai membaca ideology-ideologi yang ada di dunia ini, say abaca buku Karl Mark bahkan saya baca pemikiran Al Qoida, bahkan Injil, Taurat dan Talmud saya cari dan saya baca serta masih banyak yang lainnya.
Nah, 5 buku dihadapan saya sekarang adalah “The History of Java karya Thomas Stamford Raffles”, “Kerajaan Aceh karya Dennys Lombard”, “36 Strategi Cina Klasik karaya Wee Chow Hou”, “Novel berjudul Dunia Sophie karya Josten Gaarder” dan terakhir “Ayat-ayat Hitam Talmud, Surga Jiwa Yang Abadi karya Prof. Dr. Muhammad Asy Syarqowi”. Kelima buku inilah saya banyak mendapatkan inspirasi utnuk bisa berdisukusi dengan teman-teman yang saya hormati di Aceh.
Masalah pluralism dari perspektif agama silahkan melihat pada blog saya www.cossalabuaceh.blogspot.com dengan Label Aceh yang berjudul Nasionalisme Aceh Dipertanyakan, yang inti dari tulisan ini adalah bahwa Islam itu tidak pernah mempermasalahkan seseorang itu dari suku mana atau bangsa mana yang dilihat hanyalah ketaqwaan mereka, bahkan dalam tulisan ini saya juga mencoba mengangkat bahwa sesungguhnya upaya Zionis untuk menghancurkan Khilafah Islam yang dahulu Berjaya adalah dengan semangat ashobiyah ini. Dan sampai sekarang masih terlihat bagaimana ketika Gaza diserang maka Negara-negara Arab masih tetap tidak bisa bersatu. Ini pulalah yang menyebabkan yang namanya Zionis gerah dengan Ikhwanul Muslim yang bergerak berdasarkan lintas Negara budaya, saya mencoba menggambarkannya pada cerpen saya yang berjudul “Gamang Membawa Arti ?” atau pemikiran yang unik tentang itu pada cerpen yang berjudul “Ketika Egoisme Menjadi Tuhan”, silahkan lihat kembali pada blog saya. Sedikit saya menyentil pemikiran tentang bodohnya kesukuisme yang terlalu tinggi adalah juga pada cerpen saya yang berjudul “Anekdot Ketika Tuhan Menciptakan Manusia dari Jawa, Gayo dan Aceh”.
Baiklah, sekarang saya akan mencoba mengangkat tentang kenapa kita tidak perlu membenci Jawa atas nama budaya dan atas nama keimanan sebagai sesama muslim. Sebelum saya lanjutkan saya hanya ingin mengungkapkan agar kita jangan menjadi orang yang paranoid, ketika kita membenci Jawa akan tetapi ternyata banyak orang-orang Aceh yang hidup dan belajar di Jawa, berapa banyak saudara kita yang menikahi orang Jawa.

Budaya Blankon Jawa
Pemikiran Jawa yang selama ini selalu didengung-dengungkan adalah mengatakan bahwa Jawa dengan budaya blankonnya. Dari buku History Of Java dapat diketahui bahwa Jawa merupakan sebuah suku yang paling tua dibandingkan Aceh dan Gayo, sehingga kalau dikatakan bahwa pada tahun berabad-abad yang lau orang Jawa juga berkata “Saya tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun”, saya yakin itu. Hingga datangnya bangsa Eropa yang kemudian ingin menguasai Jawa dengan segala kemampuannya.
Kemudian untuk asal mula bangsa Jawa disebutkan bahwa mereka berasal dari tartar, namun mereka tidak mirip dengan bangsa China atau Jepang lebih mendekati kepada bangsa Birma (HoJ, hal 32). Dalam buku ini kemudian dijelaskan bagaimana adat istiadat mereka, bagaimana kerajaan mereka, dan perkembangan kehidupan mereka. Ketika kita berbicara dengan jumlah mereka yang sebanyak sekarang sudah jelas memberikan penjelasan bahwa mereka memang lebih dahulu dari pada bangsa Aceh dan bangsa Gayo saat ini.
Tingkah laku mereka adalah sangat sopan dan sederhana, bahkan cenderung tunduk. Mereka mempunyai rasa kesopanan dan tidak pernah bertindak atau berkata kasar. Meski mereka terasing namun mereka sabar, tenang dan cenderung tidak suka mengusik-ngusik urusan orang lain. Mereka berjalan dengan lambat dan tidak tergesa-gesa, namun dapat menjadi tangkas ketika diperlukan (HoJ, 35). Namun demikian tidak seperti Aceh mereka mempunyai tulisan sendiri dan sejarah yang panjang. Bahkan yang menarik dikatakan dari cerita mereka mengatakan bahwa
Hal inilah yang mungkin menyebabkan mereka dapat dijajah selama 350 tahun oleh Belanda, karena sifat mereka yang merupakan sebuah sifat seorang petani, mereka yang tidak pernah terjadi konflik yang berkepanjangan sesungguhnya juga dengan sifat feodalisme yang sudah berakar kepada mereka. Ketika penjajah datang mereka akan menerimanya dengan suka cita karena mereka tidak pernah mengalami konflik dengan pihak luar, persepsi mereka pihak luar itu baik. Dan ketika mereka sadar semuanya sudah terlambat penjajah tersebut sudah mempersiapkan berbagai macam cara untuk menguasai mereka sesuai dengan tradisi mereka seperti dengan adu domba antar kerajaan dan memanfaatkan sifat ketaatan dari mereka kepada raja mereka. Bukan kepada penjajah mereka taat sebenarnya pada waktu itu tetapi kepada raja mereka, hingga akhirnya penjajah tersebut mempermainkan diantara mereka dengan materi sehingga mereka kembali terpecah belah.
Kembali kepada kata “Saya tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun”, dari sebuah logika kita yang runtut menurut saya bangsa yang lebih tua itu tentunya sudah mengalami berbagai macam tragedy kehidupan bahkan telah mencapai sebuah peradaban terlebih dahulu dibandingkan dengan bangsa lainnya, ntah itu Aceh da Gayo. Kenapa bisa dikatakan seperti ini, karena perlu diingat bahwa factor pendukung yang paling penting dalam peradaban adalah jumlah penduduk. Ketika penduduk kita masih sedikit maka peradaban kita belum bisa mencapai seperti apa yang dikatakan dengan puncak peradaban, setiap orang yang mengerti tentang sejarah Mesir dan China pasti mengetahuinya dengan pasti. 2 peradaban yang dikatakan tertua dan mempunyai kebudayaan sendiri dengan segala kemunduran dan kemajuaannya kelak.
Demikian sekilas tentang karakteristik orang Jawa. Kembali kepada budaya blankon yang sering dihinakan kepada orang Jawa menurut saya ini merupakan bentuk perlawanan dari orang Jawa kepada penjajahan yang ada pada diri mereka, ketika mereka yang menggunakan karakter yang dikatakan santun, tidak mau mengganggu orang lantas 350 tahun di jajah sudah barang tentu mereka tetap menyimpan dendam di hati mereka. Ketika mereka tidak sanggup untuk melawan mereka hanya bisa mendongkol dan mempersiapka perlawanan dengan menyusun rencana dan strategi yang kiranya bisa diperjuangkan untuk tujuan mereka.
Tentunya ini berbeda dengan Aceh, yang ternyata melupakan karakteristik asli orang Aceh dengan keislamannya sehingga ketika mereka pertama kali ingin menjajah Aceh bukannya ramah tamah yang mereka terima seperti di Jawa tapi langsung ajakan masuk Islam atau mengikuti peraturan mereka dalam berdagang atau berperang jika tidak setuju. Sehingga akhirnya Belanda merubah praktiknya dalam menjajah Aceh dengan terlebih dahulu mengirimkan Snouck Hongronge untuk mendalami adat istiadat dari orang Aceh dan bagaimana dapat mengadudombanya sehingga kemudian didapatkan bahwa Aceh dapat dikalahkan dengan cara menghilangkan Islam kemudian memberikan mereka harta atau gila harta dalam sebutan mereka.
Menurut saya budaya blankon itu adalah budaya yang cerdas, budaya blankon itu sering kali digunakan untuk strategi perang, ketika kita lemah adalah hal bunuh diri untuk kemudia kita berperang, hal yang terbaik adalah meyerah atau pura-pura menyerah. Bahkan budaya tersebut masih digunakan oleh Pahlawan Besar Aceh yaitu Yang Terhormat Bapak Teuku Umar, yang masih dianggap sebagai Pahlawan Nasional.
Nah, strategi blankon ini menurut saya merupaka kecerdasan seseorang melihat dirinya untuk memenangkan sebuah peperangan dengan harapan dapat mempersiapkan terlebih dahulu diri untuk tujuan mereka atau meminimalisir korban dari pihak mereka yang lemah tersebut. Bahkan menurut saya MoU Helsinky juga sebenarnya merupakan sebuah strategi blankon, jika memang diarahkan untuk mencapai kemerdekaan Aceh.
Dalam sebuah strategi klasik China ada sebuah strategi yang mengatakan “Berpura-pura menjadi Gila tetap Pintar”, ada yang menarik dari strategi yang menarik dimana seseorang menjadi lemah atau gila untuk kemudian melancarkan sebuah serangan yang tidak bisa diprediksi sehingga mereka akan menjadi gila karenanya. Nah orang Aceh atau sebut saja GAM memang sudah saatnya masuk ke dalam strategi ini, ketika mereka sekarang berpura-pura tidak mampu bila mampu, berpura-pura tidak aktif bila ternyata aktif, berpura-pura masih jauh bila ternyata sudah dekat tapi bila jauh maka bertinda seolah sudah dekat. Saya ingin sekali mengupas taktik ini atau menurut beberapa orang dengan sebutan blankon Jawa ini, tapi nanti dilain kesempatan, sekarang saya hanya ingin membuka wawasan teman-teman mailing list.
Tapi ingat tentunya lawan anda sudah punya aksi sepertinya yaitu Strategi Penyerangan seperti “Memukul rumput untuk mengagetkan ular”, “Meminjam mayat untuk membangkitkan jiwa”, “Memancing harimau untuk keluar dari sarangnya”, “Membebaskan musuh untuk menangkapnya kembali”, “Melemparkan batu bata untuk mendapatkan batu giok”, “Menghancurkan gerombolan penjahat dengan menangkap pemimpinnya”. Nah sekarang ini musuh GAM bila bermain-main baru saja menggunakan strategi ini, dan mereka tinggal menunggu serangan langsung menuju ke jantung pertahanan anda semua.
Inilah bkankon jawa yang sering anda katakana ternyata sudah digunakan oleh strategi klasik China, bahkan digunakan juga oleh anda, jadi saran saya kedepan hilangkan saja sebutan itu karena akan menampar muka anda sendiri kelak.
Bagi saya peribadi silahkan anda semua bertempur, perbanyak strategi anda, tapi jangan korbankan rakyat, jangan anda bersembunyi di ketiak rakyat, jangan gunakan rakyat dengan perang bodoh anda itu kelak kalau dilanjutkan. Silahkan lihat dalam blogspot saya kembali pada www.cossalabuaceh.blogspot.com pada label Aceh dengan Judul Konsep Perang Bodoh atau pada label GAM dengan judul Skenario GAM Jilid ke 2.

Pemikiran Yang Menghancurkan Peradaban
Ketika saya membaca sebuah buku dengan judul Secret Societies, 21 Organisasi Perusak Dunia karya Michael Bradley maka saya terpesona dengan adanya organisasi ini, organisasi yang rela mengorbankan ribuan bahkan jutaan atau puluhan juta orang baik fisik maupun mental untuk kepentingan organisasinya dengan cara-cara yang sangat menyeramkan dan sangat menyakitkan serta sangat tidak adil menurut saya.
Dalam cerpen saya itu saya selalu menggunakan sebuah organisasi yang bernama Illuminati karena memang organisasi inilah yang paling merusak dunia ini. Organisasi yang didirikan oleh seorang anak Rabbi Yahudi yang dididik Katolik bernama Dr. Adam Weishaput, sebuah organisasi yang mencoba untuk berpikir membentuk sebuah peradaban baru dengan versi mereka, bahkan pemikiran mereka juga telah melahirkan sebuah ideology komunisem, tujuan mereka adalah menghapus pengaruh agama.
Organisasi ini dikatakan sudah mendapat sebuah strategi yang terbaik bagaimana untuk menghilangkanpengaruh agama, mencacah manusia dengan berbagai kelompok atau ideology, untuk kemudian saling berperang sehingga mereka merebut kekuasaan. Dikatakan dalam buku ini bahwa organisasi ini semakin berbahaya ketika Yahudi pada tahun 1781 mengijinkan Yahudi untuk begabung, bahkan kemudian mereka dikuasai oleh salah satu keluarga Yahudi terpandang Keluarga Rothchilds. Dapat dibayangkan pengaruh mereka dalam menguasai percaturan dunia, dan Aceh merupakan salah satu pion utamanya untuk membuat tidak stabil NKRI sebagai Negara berpenduduk terbesar di dunia ini, manjadikan Aceh sebagai contoh bahwa Islam bisa dijadikan sebagai pemecah belah.
Belum lagi ketika saya membaca Buku Talmud, salah satu kitab Yahudi yang saat ini diakui setelah Taurat, kitab yang merupakan hasil karya para rabbi-rabbinya. Dalam kitab ini dikatakan bahwa selain Yahudi adalah binatanh, bahkan dalam kitab ini ditunjukkan betapa jijiknya mereka sebenarnya dengan orang-orang non Yahudi.
Ternyata semua organisasi-organisasi perusak peradaban itu berpulang kepada perasaan bahwa mereka merasa paling baik, paling bermutu, merasa mempunyai kelebihan dibandingkan yang lainnya. Sebuah perasaan yang dahulu saya punya ketika saya mengikuti sebuah organisasi gerakan ekslusif islam tersebut. Yang membuat saya menjadi taklid buta, yang membuat saya menjadi tidak bisa berpikir bebas karena saya sudah menjadi merasa paling benar terlebih dahulu, tanpa mau melihat bagaimana sesungguhnya kebenaran itu didapatkan dan perbedaan keadaan dari masing-masing individu.
Yang kedua dari inti organisasi perusak peradaban itu adalah penghalalan segala cara bagaimana mereka rela mengorbankan nyawa-nyawa manusia, kebebasan berpikir manusia, penghalalan segala cara asal mereka mendapatkan tujuannya. Sehingga saya dalam beberapa tulisan berpikir bahwa memang GAM ini telah disusupi oleh Zionis bahkan CIA menurut saya, karena pola pemikiran mereka yang terlihat melupakan bahwa bangsa Jawapun beriman kepada Allah, juga konsep dengan merasa bangsa Aceh merupakan bangsa paling tinggi dibandingkan Jawa. Tidak peduli ketika Hasan Tiro harus mengorban puluhan ribu orang dalam PERANG BODOH ini. Tidak peduli dengan perang ini maka potensi konflik akan berkepanjangan utamanya anak-anak Aceh yang sekarang sesungguhnya sudah terganggu kejiwaannya, penuh dendam dan selalu merasa dalam intimidasi. Seharusnya yang dibangun sekarang adalah perasaan aman dan tentram, perasaan bagaimana menghargai setiap perbedaan di pecahkan dengan dialog bukan dengan kembali perang.
Sebenarnya saya mencoba mengangkat pemikiran-pemikiran saya ini dalam cerpen yang mungkin saya akan coba membuatnya menjadi novel yang bertemakan bagaimana bodohnya mencari permasalahan dengan perang bila ternyata dengan perdamaian bisa didapatkan. Pengorbanannya tidak layak bagi rakyat Aceh menurut saya.
Pemikiran-pemikiran inilah yang menurut saya harus dihilangkan dari Aceh, merasa jadi bangsa paling besar kemudian tidak lagi melihat humanism bahkan agama sebagai iman, Allah sendiri selalu berkata bahwa Ia tidak membedakan seseorang kecuali ketaqwaannya. Selalu saya katakan pemikiran seperti ini layaknya dihilangkan di Aceh karena ke depan bukan ini yang akan menjadi perhatian terlebih lagi di NKRI sudah ada otonomi khusus, bahkan Aceh sangat khusus, yang terpenting bagaimana membangun rakyat Aceh untuk bisa kembali memegang dunia ini, bukan kembali terjebak ke dalam konflik yang berkepanjangan. Bukan Aceh namanya kalau setengah-setengah, kalau A ya A, kalau B ya B, tidak ada setengah A dan B, kalau tidak cocok keduanya ya pergi, tapi jangan korbankan rakyat Aceh untuk konflik kembali.

Tataran Kenyataan
Saat ini rakyat Aceh membutuhkan sebuah pemimpin yang tegas, yang mampu mengambil sikap untuk mendahulukan kepentingan rakyat Aceh, bukan kepentingan GAM, kepentingan LSM, kepentingan organisasi lain kepanjangan dari zionis atau CIA yang hanya membawa Aceh ke dalam penjajahan ekonomi dan budaya, inilah tantangan Aceh ke depan.
Aceh akan dengan mudah kembali konflik, tapi jangan bayangkan kemudian PBB atau Uni Eropa akan datang membantu dengan cepat, lihat saja Gaza, atau sekarang Srilanka, tidak mudah masuk ke dalam urusan Negara orang lain. Belum lagi saat ini sepertinya citra NKRI sedang naik-naiknya di mata internasional. Kalaupun Aceh berontak maka itu akan dikatakan oknum, kalaupun dihabisi maka akan dikatakan oknum.
Bagi saya GAM Ashoibyah sekarang ini memang paling baik menggunakan strategi blankon jawa tersebut, karena keadaan anda yang lemah dan semangat rakyat sudah semakin mual dengan anda semua. Kalau pun anda mau berjuang tolong jangan korbankan rakyat Aceh kembali.
GAM sekarang membutuhkan figure-figur perjuangan baru menggantikan Hasan Tiro yang sudah uzur juga dengan teman-temannya yang semakin tua dan sudah lelah. Ini menurut saya sekarnag adalah fase yang paling mengkuatirkan di Aceh, dimana Aceh akan dijadikan sebagai ajang militansi terhadai GAM generasi ke 2. Dan korbannya kembali adalah rakyat Aceh.
ALA dan ABBAS sekarnag sepertinya juga sudah menanti ketidakamanan di Aceh, karena mereka juga sudah muak dengan GAM yang menurut mereka hanya membawa kemunduran di Aceh. Bagi golongan yang amat keras dari mereka mungkin lebih menginginkan sebuah peperangan hingga menunjukkan bagaimana GAM itu sendiri.
Malah menurut orang-orang ALA dan ABBAS mereka sekarang sedang dijajah oleh GAM, dijajah keamanan dan kenyamanan mereka, setiap sedikit ada api yang memancing mereka untuk terbakar rasanya mereka akan mudah terbakar dan mengatakan “Sudah dari dulu kami katakana kami mau bentuk prov sendiri, kami sudah bosan dengan perang, kenapa kamu larang-larang”.
Bagi NKRI, tentunya tidak masalah ada ALA dan ABBAS selama Aceh aman, inilah catatan penting mereka, selama AMAN. Kalau tidak aman maka segala peraturan yang ada tentunya akan ditrobos demi adanya NKRI yang bersatu, ini sudah final.
Strategi apapun yang kini digunakan GAM Ashobiyah maka hasilnya adalah kerugian buat mereka, anda tahu kenapa, karena kesombongan mereka. Orang yang sombong itu tentunya tidak akan melihat dengan jernih setiap aksi yang dilakukannya. Silahkan lihat kembali dalam blog saya www.cossalabuaceh.blogspot.com dengan label Aceh, judul Layakkah Rakyat Aceh kembali Konflik ?
Sekarang tugas dari Pemimpin Aceh dan Tokoh Aceh lainnya untuk bisa memberikan sebuah ketegasan tentang Aceh, lebih mementingkan orang Aceh secara keseluruhan bukan hanya kepentingan segelintir orang yang hanya membawa rakyat Aceh kembali kedalam konflik. Lebih mementingkan ukhuwah islamiyah, bukan lantas menghancurkan ukhuwah islamiyah dengan ashobiyah.
Kepada Irwandy agar segera menuntaskan ini semua. Seorang pemimpin itu harus tegas, anda telah tegas kepada ALA dan ABBAS sekarang waktunya anda tegas juga kepada GAM Ashobiyah.

SELAMAT TINGGAL GAM ASHOBIYAH, SELAMAT MEMPERTAHANKAN KEMBALI PERDAMAIAN, MARI MEMBANGUN RAKYAT ACEH.
PEMBANGUNAN ITU TIDAK SEMUANYA AKAN TERCAPAI, BUTUH PROSES, BUTUH PEMIKIRAN DAN YANG TERPENTING ADALAH BUTUH WAKTU.
BAGI ORANG GAYO KITA JUGA HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI KITA DENGAN ALA ATAU BUKAN ALA SELAMA DALAM NKRI, DAN TIDAK TERJEBAK DALAM KONFLIK BODOH DENGAN MENGATASNAMAKAN PENJAJAHAN INDON-JAWA.
MEMBENCI ORANG JAWA BAGI GAYO ADALAH BUKAN ADAT ISTIADAT GAYO, KARENA GAYO TIDAK PERNAH MEMBENCI SUKU APAPUN.
BERIJIN.

21 Januari 2009

Palestin, PKS, Aceh dan Umat Islam Jilid 2

Postingan Win Wan Nur

Menanggapi tulisan saya kemarin "Israel-Palestina, PKS dan Tangisan Umat Islam Indonesia", di beberapa milis banyak yang mempertanyakan kepada saya kenapa saya begitu emosinya terhadap anak PKS yang mengatakan saya menulis karena dibayar oleh agen Israel, sampai menyebutkan kalimat "memisahkan tubuh dan kepala" segala. Teman-teman yang benar-benar teman mengatakan "sudahlah Win...jangan buang-buang energi mereka memang sudah begitu".

Yang bukan teman dan bukan kemungkinan tapi pasti anak PKS juga, menyindir dengan gaya sok tua " Kemarahan saya itu justru menunjukkan kalau memang saya ada apa-apanya, kalau memang saya tidak seperti yang dituduhkan, kenapa harus marah?", begitu katanya. Ini adalah logika khas kaum fanatik gila yang sesama mereka memanggil ikhwan dan akhwat itu.

Saya begitu emosi dengan tuduhan itu adalah karena di kalangan kaum fanatik seperti kaum PKS ini, tuduhan sebagai agen Israel dan antek Amerika adalah sebuah VONIS MATI. Melemparkan tuduhan gila semacam ini kepada saya sama artinya dengan melemparkan saya ke tengah kawanan singa lapar. Ke tengah orang-orang fanatik yang percaya membunuh orang yang berseberangan pandangan dengan mereka akan mendapat pahala yang tinggi. Yang kalau dalam prosesnya sampai menyebabkan kematianpun, itu bukan kematian biasa. Tapi itu adalah 'syahid' nilai kematian tertinggi sehingga begitu sampai di surga mereka akan disambut 70 bidadari.

PKS ini adalah partainya kaum fasis, saya sebut begitu karena bagi mereka satu-satunya kebenaran adalah kebenaran versi mereka sendiri. Sementara definisi fasisme sendiri kurang lebih berarti : "isme yang mempromosikan supremasi dirinya [kelompoknya] lebih dari yang lainnya dimana supremasi itu sendiri dianggap merupakan kondisi yang terberi".

Karena definisi fasisme seperti itulah Hitler disebut fasis. Hitler fasis karena dia bilang kalau orang Jerman Aria itu ras nomor satu, ras paling unggul sementara ras-ras lainnya itu cuma 'monyet'. Suharto disebut fasis karena tindakan Suharto cenderung mensupremasikan kedudukan Jawa diatas suku bangsa lainnya. Jepang di jaman Hirohito itu disebut fasis karena mereka percaya bahwa mereka adalah anak tuhan di Asia, kaisar Jepang sendiri jadi Tuhannya, sementara orang asia lainnya kalau bukan monyet, paling jadi adik kecilnya. Israel dengan Zionismenya disebut fasis karena bagi mereka umat Yahudi adalah satu-satunya umat pilihan Tuhan di dunia, umat selainnya termasuk kita di Indonesia ini apalagi orang Palestina ya cuma monyet.

PKS sendiri, jelas adalah partai fasis! Semua tindak tanduk mereka ala wahabi yang serba ngarab dan dianjurkan sekali untuk ngarab. Lihat gaya berpakaian mereka. Atau lihat gaya mereka anak-anak ras mongoloid yang secara genetik memang tidak dianugerahi hormon yang memungkinkan jenggot tumbuh lebat memaksa diri menumbuhkan jenggot meskipun tumbuh hanya beberapa lembar saja, supaya terlihat mirip dengan orang arab. sesama merekapun mereka memanggil dengan sebutan "ikhwan" dan "akhwat". Bagi anggota PKS, orang lain yang non partainya yang tidak sepemikiran atau tidak menganut aliran Wahabi seperti mereka kalau bukan "anjing kurap" ya cuma "monyet".

Karena memang sama-sama fasis, kelakuan PKS ini persis sama dengan Soeharto pahlawan mereka. Baik PKS maupun Soeharto memiliki hobi yang sama yaitu membuat HANTU untuk menakut-nakuti orang yang berseberangan pandangan dengan mereka. Kalau Soeharto terkenal dengan hantu KOMUNIS dengan bahaya latennya maka PKS ini punya hantu peliharaan yang bernama 'Agen Israel dan Antek Amerika'.

Sikap Soeharto dan PKS terhadap orang yang mereka tuduh sebagai HANTU yang mereka buat sendiri itupun juga sama. Bagi mereka, tanpa perlu pengadilan apapun, orang yang sudah dicap sebagai hantu itu sudah layak untuk dilenyapkan. Seperti juga Soeharto, PKS dan para simpatisan fanatiknya juga tidak membutuhkan data dan fakta apapun untuk membuktikan tuduhannya. Cukup fantasi gila di kepala mereka.

Yang membedakan PKS dan Soeharto cuma pada tingkat kekuatan saja, jika Soeharto punya pasukan dan sampai hari inipun masih didukung penuh oleh militer di belakangnya. PKS ini masih 'Bayi Fasis' yang sedang membangun kekuatannya dengan membentuk lasykar-lasykar berani mati yang meneriakkan Allahu Akbar setiap kali mereka menghantam orang yang berseberangan.

Tapi kalau terus dibiarkan, PKS yang tumbuh besar dengan bibit-bibit fasis dalam dirinya ini akan terus tumbuh membesar dan menghancurkan seluruh peradaban. Unsyiah kampus tempat saya dulu pernah kuliah sudah merasakan.

Setelah tulisan ini saya posting, saya yakin orang-orang PKS akan kasak-kusuk sibuk sendiri seperti kucing garong yang dibakar ekornya. Mencari tahu siapa Win Wan Nur ini sebenarnya. Siapa di belakangnya, siapa yang mendanainya, apa kaitannya dengan Israel dan Amerika dan segala macam teori konspirasi tai kucing lainnya. Dan saya juga sudah bisa membayangkan kesimpulan akhirnya akan tetap Win Wan Nur itu agen Israel dan Antek Amerika.

Tapi kalau saya atau siapapun juga yang minta bukti kesimpulan atas tuduhan mereka itu berdasarkan data dan fakta, sampai mampus bahkan sampai mereka bongkar kuburan nenek moyang merekapun ya mereka tidak akan bisa menemukannya. Karena saya sama sekali bukan pengikut satu sekte apapun, bukan pengikut atau simpatisan partai politik apapun. Karena faktanya Win Wan Nur ini cuma warga biasa yang malas melihat gaya sok islam (wahabi), sok suci, gaya sok ngarab dan terutama kebiasaan sembarang tuduh mereka.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

Ulasan Kosasih Bakar

Alhamdulillah, Serinen Win Wan Nur sudah kembali kepada pola penulisannya yang pernah membuat saya kagum pertama kali, tulisannya sudah seperti syair yang menghentakkan pemikiran dan hati yang membacanya. Ijinkan saya untuk bisa mengeluarkan pemikiran saya tentang tulisan Serinen ku yang satu ini, seperti yang lainnya. Berijin Bang.

Sebelumnya saya hanya ingin mengeluarkan pandangan saya tentang serinen saya ini, bahwa siapapun yang mengatakan bahwa serinen saya ini antek USA dan Yahudi menurut saya sebuah tuduhan yang tidak bisa dibenarkan. Dalam berbagai tulisannya bahkan ia seringkali mengatakan bahwa ia rindu dengan pengaruh Islam di Gayo seperti halnya ia bangga dengan mengatakan ia adalah cucu dari dari seorang Tengku, bahkan ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dengan Kakeknya tersebut. Lebih membanggakan lagi ia seringkali mengucapkan arti dari namanya. Win Wan Nur merupakan bahasa Gayo yang kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah seorang anak laki-laki yang selalu dalam cahaya, tentunya cahaya Allah, selalu dalam penerangan hatinya. Siapapun yang memfitnahnya saya kurang setuju, karena memang Serinen saya itu sampai sekarang hanya manusia biasa yang selalu mencoba memberikan yang terbaik buat keluarganya.

Ketika Bang Win Wan Nur mengungkapkan kata ‘antek Yahudi dan USA’, maka saya teringat kembali dengan konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia ini, ntah itu di Afganisthan, Palestin, Iraq, Khasmir, Chencya bahkan di Moro, semuanya kerap kali mengatakan hal yang demikian.

Iraq yang merupakan Negara merdeka yang kemudian dilalap oleh USA dengan alasan pembohongan public yang sampai saat ini tidak terbukti, Saddam Hussein mempunyai senjata pemusnah missal, telah menghancurkan kemerdekaan bangsa tersebut. Konflik di Afganisthan, dengan Talibannya dan Usamah Bin Ladennya yang dahulu merupakan sekutu dekat CIA ketika masa perang dingin melawan Uni Soviet juga keluar kata-kata tersebut. Khasmir, sebuah daerah perebutan antara Pakistan dan India juga tidak terlepas dari kata-kata tersebut. Terlebih lagi Palestin, bagi HAMAS siapapun yang menyetujui perang yang dilakukan oleh Israel ke Gaza juga dikatakan dengan kata-kata tersebut.

Sungguh, kembali kata-kata tersebut kembali dijadikan sebuah icon perjuangan untuk mereka yang merasa ditindas dan tidak dihargai,utamanya kaum muslimin yang ada pada daerah konflik, kecuali GAM tentunya yang malah berulang kali meminta bantuan kepada Uni Eropa dan USA.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), merupakan sebuah partai yang terlahir terinspirasi dengan Gerakan Ikhwanul Muslim, dengan tokohnya Hasan Al Banna, yang juga merupakan sebuah gerakan yang melahirkan HAMAS di Palestina. Gerakan Ihkwanul Muslim ini kini sudah di larang oleh Mesir karena gerakan ini dianggap terlalu fundamental, terlalu agresif gerakannya. Ini Juga lah yang menyebabkan Mesir terlihat seperti takut dengan HAMAS, karena berpengaruh kepada kepentingan dalam negeri mereka, pengaruh dari Gerakan Ikhwanul Muslim. Belum lagi dengan tekanan-tekana yang diberikan oleh USA dan Israel itu sendiri. Dampaknya adalah Rafah yang terus ditutup.

Secara politis di Indonesia terdapat 2 pertempuran, yaitu pertempuran antara Nasionalisme dan Islam. Ini dapat dilihat dari banyak contoh bagaimana Nasionalisme dan Islam selalu bersiteru, ketika Pemilihan Gubernur DKI ada persiteruan antara PKS dengan gabungan partai-partai lain yang ada di Indonesia, hasilnya pun sungguh mencengangkan karena ternyata gabungan dari partai-partai besar itu hanya mengalahkan PKS dengan perbandingan 60:40, sebuah angka yang menurut saya sudah menunjukkan betapa kuatnya PKS di DKI Jakarta. Atau ketika PKS berhasil memenangkan Pilkada di Jawa Barat, Sumatera Utara dan daerah besar lainnya. Semuanya menunjukkan bahwa PKS ternyata mampu meraih dukungan dan simpati dengan segala kelebihan dan kekurangannya baik dari kalangan nasionalis maupun kalangan Islam sendiri.

Perlu juga diingat bahwa Indonesia berhasil meredam fundamentalis Islam adalah karena Negara ini telah memperbolehkan wadah mereka untuk beroganisasi, Negara ini menghormati gerakan Islam tersebut, Negara ini mengembangkan sikap saling menghormati, walau tentunya ini tidak bisa memuaskan semua pihak. Saya pernah menonton sebuah film tentang dunia intelijen yang berjudul ‘Body of Lies’, sungguh sebuah film yang amat menarik. Film ini mencoba mengangkat permasalahan intelijen Amerika dengan Negara-negara Arab, memperlihatkan bahwa fundamentalis itu bila dilawan dengan kekerasan hanya akan menyebabkan kehancuran, namun bila dilakukan dengan pendekatan dan memegang pimpinan mereka atau dengan memberikan ruang gerak kepada mereka maka ketika anda memegang ekornya anda dapat mengendalikan kepalanya.

Walau demikian pada kalangan fundamental itu sendiri ada bagian yang amat keras yang didiskripsikan dengan Al Qoida saat ini, Taliban, HAMAS yang sama sekali tidak mau tunduk kepada KUFFAR USA dan YAHUDI, sepertinya mereka masih belum bisa memegang ekornya.

Aceh juga demikian, dalam perang Tjumbok terlihat bagaimana antara Tengku yang pada waktu itu juga dikatakan Wahabi, dengan Uleebaleng atau Penguasa/Pengusaha. Gerakan Wahabi di Aceh sebenarnya merupakan inti dari Islam di Aceh sejak zaman dahulu, karena Aceh itu sebenarnya merupakan gerakan Wahabi. Dalam Kesultanan Aceh yang bukan Islam itu akan dipaksa menjadi Islam atau dibunuh. Ini bahkan terjadi dalam Kesultanan Aceh terdahulu, bahkan ada seorang Belanda dalam buku Dennis Lombert yang dikatakan oleh orang Aceh dipaksa memeluk Islam atau kalau tidak ia akan dibunuh. Namun Belanda ini ternyata mempunyai hati yang keras sehingga ia menolak dan siap dihukum mati. Oleh Sultan Aceh kemudian ia tidak jadi dihukum mati, namun ia dilontarkan ke lautan luas agar dimakan oleh Ikan. Inilah Islam di Aceh, memang sudah sejak dahulunya Wahabi, sehingga seringkali dikatakan Islam di Aceh dan Padang amat kuat dipegang teguh oleh orang-orangnya.

Kalau kita kembali ke Gayo terkadang adat istiadat itu melebihi Agama Islam, hal ini bisa dilihat dari adat istiadat mengatakan bahwa tidak boleh menikah dengan satu kampong atau akan diparak, adat istiadat melarang pernikahan antara sesupu atau diparak, belum lagi yang lainnya, setiap hukum yang diterapkan terkadang melebihi hukum Islam. Inilah yang dikatakan bahwa memang dasar Islam di Aceh itu adalah Wahabi. Inilah kenyataan yang memang harus diterima bahwa sejak dahulu Islam Wahabi itu merupakan bagian dari perkembangan Islam di Aceh, dan ini pulalah yang menyebabkan Aceh menjadi sukar untuk ditaklukkan dan berhasil mempertahankan kekuasaannya.

Beralih ke PKS atau singkatan dari Partai Keadilan Sejahtera, partai ini lahir dari intelektual muda Islam yang menginginkan agar Islam dapat dilakukan secara kaffah, Islam dijadikan sebagai satu-satunya ideology mereka yang memeluk muslim. Sebuah partai yang menggunakan metode dengan Gerakan Ikhwanul Muslim. Kemarin saya sempat membaca pada salah satu majalah popular dengan Judul ‘PKS Partai Pragmatisme’, yang ditulis oleh seorang akademisi yang membuat desertasinya tentang perkembangan PKS.

Ada yang menarik hati saya dalam artikel tersebut, artikel tersebut mencoba untuk menggambarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada PKS. Menurut penulis tersebut PKS yang dahulunya bernama Partai Keadilan telah berubah menjadi partai yang pragmatis, sebuah partai yang mencoba pragmatis bagi kepentingannya. Menurutnya ini dapat terlihat dalam pengambilan keputusan, ketika dahulu pendukung PKS ini menggunakan metode musyawarah dari sebagian pentolannya saja, namun sekarang pengambilan keputusannya berdasarkan pemungutan suara terbanyak dari masing-masing DPD, bahkan mereka juga sudah menggunakan teknik pengembangan organisasi yang modern. Jadi ketika dahulu mereka menggunakan system liqo’ yang tertutup, sekarang ini bersifat lebih modern pertemuannya yang terkadang sudah kurang memperhatikan lagi tentang hijab atau pemisahan laki-laki dan perampuan secara keras. Untuk kemitraan mereka juga sudah melakukan perubahan, jika mereka dahulu menginginkan kerjsama hanya dengan partai yang berideologi Islam, sekarang mereka lebih fleksibel dalam melakukan kerjasama dengan partai-partai nasionalis asalkan mempunyai kepentingan yang sama. Hal-hal inilah yang menyebabkan penulis ini menyebut bahwa PKS sudah menjadi partai Pragmatis, walau dalam uraiannya ia menyebutkan bahwa ini dimungkinkan karena lingkungan yang kondusif di Indonesia, namun apabila mereka ditekan maka ada kemungkinan wajah mereka yang lama atau fundamentalisnya akan kembali keluar. Memang pengaruh demokrasi sekarang sedang pacaran dengan PKS, PKS sekarang mencoba mengikuti Partai Keadilan di Turki, HAMAS di Palestina, HIzbullah di Lebanon dan lain sebagainya. Upaya mereka adalah sekarang bagaimana berdawah untuk mengambil dukunga suara terbanyak sebagai upaya menegakkan Islam di NKRI.

Fanatisme dalam Islam merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, Islam memang harus menjadi fanatis, Islam sesungguhnya mengajarkan kita untuk kaffah, Islam selalu mengatakan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak ada daerah abu-abu sesungguhnya bagi seorang muslim. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa lakukanlah apa yang diajarkan oleh Islam semampu kamu dan sepengetahuan kamu dengan tidak merendahkan Islam itu sendiri. Islam juga mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya berupa pahala dan dosa yang akan berimplikasi kepada hukuman syurga dan neraka. Filosofi-filosofi Islam ini menyebabkan seorang muslim bisa berdiri dimanapun dengan keyakinannya, ia bisa berdiri di daerah konflik, ia bisa berdiri di kalangan perkotaan dan borjuis, ia bisa berdiri dikalangan papa dan fakir bahkan ia bisa berdiri di kalangan penjahat sekalipun. Inilah Islam, karena menurut Allah hanya ia lah yang berhak nengatakan seseorang itu beriman kepadanya atau tidak. Dan untuk menyatukan keberagaman pemahaman tentang Islam tersebut kemudian dikatakan bahwa Ukhuwah Islamiyah, setiap muslim adalah saudara, ketika ada perselisihan antara 2 golongan muslim maka damaikanlah mereka, berlemahlembutlah kamu kepada saudara seimanmu dan berkeraslah kepada ahli kita, dan masih banyak lagi yang kesemuanya ingin menyatukan sesama muslim.

Serinen, orang yang selalu dalam cahaya Allah, tulisan-tulisan Bang Win Wan Nur biasanya selalu memperlihatkan sebuah perdamaian, memberikan pencerahan diantara perbedaan, akhir-akhir ini terlihat semakin mengusik hati yang membacanya, jujur saja Serinenmu ini pada awalnya terinspirasi dengan gaya penulisan anda, bahkan setiap kali ingin membalas tulisan Bang Win Wan Nur maka serinenmu ini selalu mencoba untuk mengikuti gayanya. Karena ada keunikan ditulisan anda, ada sebuah upaya untuk mempermainkan pemikiran orang-orang yang membacanya, dan ketika membacanya sepertinya mudah diingat.

Akhirnya saya hanya bisa berujar, perpecahan dalam setiap orang yang mengucapkan syahadat adalah KEBODOHAN dan KERUGIAN dan KEDZHALIMAN, perpecahan Muslim hanya akan membuat Yahudi dan Kuffat tertawa, ketidakaman di Aceh juga hanya akan membawa semua generasi kita kedalam tekanan yang kita tidak semua menginginkan karena hanya akan menimbulkan pembodohan.

Marilah kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah kita, kita hormati ketika muslim itu sudah tinggi tingkat keimanannya sehingga pada akhir zaman dikatakan sebagai orang aneh kembali, atau ketika muslim yang tingkatan keimananya masih setengah-setengah antara hubbun dunia dan hubbun akhirat sehingga mengikuti pola hidup sedsuai hatinya dan zamannya, atau muslim tingkat keimanannya masih hubbun dunia yang terkadang melupakan akhirat dan tersadar ketika ia dalam kesusahan, atau kepada muslim tanpa ada keimanan karena muslim karena keluar dari rahim wanita muslim. Karena sekarang ini adalah sosok dari Islam di dunia. Wallahu’alam bishowab.

Berijin.

Kosasih Bakar
www.cossalabuaceh.blogspot.com