Aceh merupakan sebuah wilayah yang begitu dihormati sejak adanya Raja-raja Eropa dahulu kala, namun semuanya menjadi hancur ketika segelintir orang Aceh mencanangkan sebuah peperangan yang membawa rakyat Aceh kedalam kebodohan dan dendam.
21 Januari 2009
Skenario GAM Jilid ke 2
GAM ASHOBIYAH sebebarnya saat ini sedang melihat dengan seksama apakah mereka dapat merdeka dengan jalan sekarang ini, dengan jalan DIPLOMASI PURA-PURA. Ketika mereka melakukan diplomasi ini nyata-nyata sebagian dari anggota mereka atau GAM GILA HARTA merasakan bahwa keamanan telah membuat mereka menjadi lebih sejahtera, di saat-saat ini mereka juga mendapatkan berbagai pendekatan dari NKRI untuk dapat mengajak mereka menjadi satu dengan NKRI dengan segala daya tawarnya.
GAM TENGKU yang merupakan salah satu gerakan GAM yang mendahulukan agamanya daripada Harta, melihat bahwa ternyata banyak ketidakadilan dari GAM GILA HARTA sehingga mereka juga mengubah arah perjuangannya, sepertinya tidak lagi untuk kembali MERDEKA SEMU, akan tetapi mereka kini lebih bagaimana agar ISLAM dapat kembali berkibar dengan baik di Aceh.
GAM ASHOBIYAH ketika melihat ini semua rasanya menjadi bimbang dengan tujuan mereka awal dan bagi mereka ini merupakan harga mati, karena nasionalisme mereka sudah demikian tinggi dengan mimpi-mimpi kejayaan Aceh Masa Lalu, mimpi-mimpi Iskandar Muda, atau yang sering kali saya katakan PERANG BODOH, karena perang ini sama hal nya dengan 'Mengejar Mimpi Masa Lalu menjadi Masa Depan dengan Mengorbankan Masa Sekarang'. Inilah inti sebenarnya kebodohan dari perjuangan GAM.
Melihat hal ini semua sebenarnya ada skenarion dari GAM ASHOBIYAH yang lebih tragis lagi, yaitu mereka akan mencoba mengobarkan PERANG TJUMBOK Jilid ke 2, dengan cara mengadudomba GAM GILA HARTA dengan GAM TENGKU. Pertama kali yang akan mereka angkat adalah bagaimana upaya untuk mendiskreditkan PKS atau Partai Islam lainnya, sepertinya utamanya PKS. Mereka mencoba menggosok-gosok PKS. Setelah ini berhasil kemudian mereka akan menggosok-gosok Partai Aceh dengan berbagai provokasi yang tentunya akan membuat semuanya menjadi kacau pada ujungnya. Sehingga akan membuat 2 kutub semakin mengkutub.
Bagi GAM ASHOBIYAH ini akan menjadi hukuman bagi GAM GILA HARTA sekaligus menghilangkan batu-batu perjuangan dari GAM Tengku yang tentunya sekarang sudah mempunyai sebuah pemikiran lain tentang perjuangannya. Walau demikian sepertinya GAM GILA HARTA tersebut sebagian akan kembali menjadi pendukung GAM ASHOBIYAH dan mereka sudah membangun kekuatan atau kasanya ada sebagaian kader GAM ASHOBIYAH yang sudah ditanam sejak awal untuk skenario ini.
Perlu diingat bahwa mereka sudah tahu karakter orang Aceh dengan melihat sejarah masa lalu bahwa akan ada perbedaan pandangan antara TENGKU dan PENGUSAHA/PENGUASA. Bahkan pada akhirnya mereka akan mendapatkan keuntungan dari PERANG tersebut, sebuah cheos yang mau tidak mau membuat rakyat Aceh kembali berhadapan dengan TNI. Inilah yang dinamakan dengan politk tingkat tinggi GAM ASHOBIYAH.
Pertanyaannya sekarang adalah mencegah bagaimana hal ini tidak terjadi, saya akan mencoba memberitahukan caranya.
Pertama, ada baiknya kita terus mengikuti skenario ini, sehingga kita dapat mengetahui siapa lawan dan kawan, boleh sedikit terpancing akan tetapi jangan sampai terlalu dalam. Tentukan terlebih dahulu siapa yang akan didukung, namun tetap berikan masukan-masukan untuk mencegah terjadinya konflik lebih besar. Skenario ini membutuhkan orang-orang yang bermuka dua, dalam artian bisa kesana dan kesini.
Kedua, perseteruan ini yang bermuara dari media massa akan berlanjut kepada fisik dengan berbagai terapi yang akan terus membuat mereka semakin panas. Disnilah GAM Tengku dan GAM GILA HARTA harus bersabar, adalah berbahaya kalau anda kemudian terpancing.NKRI dalam hal ini sebenarnya sebagai pihak yang akan diuntungkan karena jika mereka ingin menghabiskan GAM GILA HARTA dan GAM TENGKU akan menjadi lebih mudah, namun beda halnya dengan GAM ASHOBIYAH yang sudah menunggu mereka semua dijadikan korban karena telah menkhianati perjuangan serta merekrut anggota baru yang militansinya akan timbul karena perang telah mengorbankan kembali Rakyat Aceh.
Oleh karena itu, bila saja NKRI bisa bersabar ketika perang ini terjadi atau sekarang sudah mulai melakukan berbagai upuya pencegahan atau memilih GAM mana yang akan dihabiskan, tentunya ini akan menjadi kemenangan bagi NKRI. Bahkan dengan modal pendukung ALA dan ABBAS utamanya yang juganya telah menanti lahirnya provinsi ini sebagai sebuah konsekwensi dari tidakamannya Aceh kembali. dan disinilah Irwandy CS akan bermain sedemian rupa untuk dapat menghilangkan upaya ini.
Inilah kenapa saya mengatakan GAM itu sudah tidak ada giginya, bahkan jikalau NKRI terpancing maka yang terjadi adalah lahirnya ALA dan ABBAS dan korban dari GAM akan berjatuhan. GAM ASHOBIYAH rasanya kemudian sudah tidak mementingkan ALA dan ABBAS karena mereka hanya akan menganggap itu sebagai provinsi saja, mereka akan berjuang terus lintas Privinsi tersebut. Oleh karena itu ALA dan ABBAS harus mampu mensejahterakan rakyat Aceh.
GAM ASHOBIYAH juga sepertinya sedang berupaya untuk adanya pergantian kepemimpinan mereka, dari konflik ini mereka akan mengumumkan PIMPINAN BARU MEREKA. Mereka akan kembali dari awal membuat GAM Ver Baru. Yang saya kuatirkan hanya korban dari rakyat SIPIL.
Bagi saya GAM Ver Baru itu harus dimusnahkan, tapi rasanya sulit karena mereka tentunya akan mengontrol perjuangannya di LN. Sekarang yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana agar kita bisa mencegah terjadinya perang yang mengorbankan rakyat sipil. Maka rakyat Aceh jangan mau diadudomba, tapi jadikan perbedaan itu sebuah tantangan, dan WASPADA terhadap GAM GILA HARTA, bagi saya jangan PILIH PARTAI ACEH (baca: gabungan susupan GAM GILA HARTA dan GAM ASHOBIYAH) perkuat Partai dengan Nuansa ISLAM di Aceh untuk menegakkan syariat Islam lebih berdiri di Aceh.
Catatan:
Saat ini PKS sudah terus digosok dan sekarang PA juga sedang terus digosok, sebagai upaya untuk mencari simpati rakyat Aceh tentunya. Untuk PKS tentunya sudah punya gerakan politik sendiri yang sepertinya mereka akan lebih bisa mendapatkan simpati rakyat. GAM Tengku rasanya sudah waktunya untuk betul-betul berafiliasi ke sana, sebagai upaya untuk menghilangkan citra GAM ASHOBIYAH dan GILA HARTA dari diri mereka.
Sudah barang tentu bagi NKRI hal yang terbaik adalah menggosok PA, karena sesungguhnya ada perpecahan yang terjadi di situ, perlu adanya sebuah klarifikasi GAM GILA HARTA dan GAM ASHOBIYAH, perlu ada upaya mengetahuinya, sekaligus ketika terjadi konflik maka akan lebih mudah mengorbankan GAM ASHOBIYAH. Inilah yang harus diupayakan NKRI.
Sehingga saran SAYA,
"SUDAHLAH GAM ASBOBIYAH ANDA HENTIKAN PERJUANGAN ANDA, MARILAH MEMBANGUN ACEH TANPA ADA LAGI PEMIKIRAN 'ACEH MERDEKA'"
"GAM TENGKU MARI KITA BERSATU MEMBANGUN ISLAM DI DUNIA, BUKAN LAGI PERANG BODOH"
"GAM GILA HARTA ANDA HARUS CEPAT SADAR KARENA BILA TIDAK RAKYAT ACEH AKAN MENGHUKUM ANDA DAN HILANGKAN MEMBANGUN KEKUATAN BERONTAK LAGI DARI PIKIRAN ANDA"
"NKRI AGAR JANGAN KORBANKAN LAGI RAKYAT ACEH CUKUP DENGAN ALA DAN ABBAS, MAKA ACEH AKAN AMAN SELAMANYA"
Lebih Fasis Mana, GAM atau PKS ?
Ini adalah lanjutan dari tulisan saya berkenaan dengan GAM Tengku dan GAM Ashobiyah.
Alasan saya kepada anggota GAM yang berasal dari Golongan Tengku, bahwa GAM perjuangannya berangkat dari Fasisme, mereka hanya mementingkan golongannya saja, mereka tidak lagi berorientasi kepada penegakkan syariat Islam di Aceh, tapi sekarang mereka transformasi menjadi lebih mementingkan golongannya saja dengan ditutupi oleh Kemerdekaan Semu, juga dibakar selalu dengan korban yang berjatuhan dari rakyat SIPIL, padahal ini semua juga kesalahan GAM tersebut. GAM juga melupakan bahwa mereka juga menyisakan dendam denagn orang-orang yang telah mereka korbankan karena dianggap sebagai pendukung NKRI.
Kepada GAM Tengku, Islam itu tidak pernah mempersolakan mana yang Jawa, Gayo atau Aceh, perjuangan Tengku yang dahulu sudah tercapai, syariat Islam sudah bisa ditegakkan di Aceh. Namun sekarang GAM telah berafiliasi dengan USA dan Uni Eropa serta GAM sudah GILA HARTA dengan MoU Helsinky. GAM Ashobiyah itu telah bermetamorfosis menjadi kaum MUNAFIQUN yang lebih mementingkan PERUTnya. Mereka sudah membuat MoU Helsinky sebagai projek mereka bukan sebagai kepentingan rakyat Aceh. kepada mereka kah kita harus berserah diri.
Para Tengku sekarang lihat bahwa PKS seolah-olah dijadikan sebagai musuh bersama, padahal mereka hanya hendak mengangkat citra Islam di Aceh, hanya menginginkan Islam dapat menjadi pegangan hidup masyarakat Aceh, tentunya ini merupakan sebuah niat tulus dari Tengku-tengku semua.
Mereka menghina PKS tapi mereka menyanjung GOLKAR karena mereka berhutang budi kepada JK, mereka juga nanti harus siap mendukung Wali Baru mereka SBY dalam Pemilihan Presiden 2009, karena telah memberikan budi kepada mereka. Karena apa Tengku, hanya karena UANG atau GILA HARTA. Dengan orang sedemikiankah kita serahkan hidup kita ?
Masa perjuangan dahulu ketika NKRI masih dipegang oleh Soeharto, GAM dari golongan Tengku lah yang paling berjasa, kita semua sangat begitu menghormati Daud Beureuh dalam perjuangannya. Alasan kita juga ketika ikut perjuangan GAM adalah ingin mengeakkan syariat Islam, tapi GAM ASHOBIYAH itu malah memimpim PERANG ini dari luar negeri, malah dikabarkan menikahi seorang Yahudi. Tentu seperti bumi dengan langit bila dibandingkan dengan Daud Beureuh yang tidak pernah meninggalkan perangnya.
Karena konsep perang FASIS mereka maka rakyat Aceh menjadi korban, mereka menganggap JAWA itu binatang dan penjajah, mereka menganggap orang Aceh lebih tinggi daripada orang Jawa hanya karena kebanggaan bahwa mereka tidak pernah dijajah. Tapi mereka lupa bahwa ASHOBIYAH tidak pernah dibenarkan Islam bahkan dikatakan barang siapa yang hanya memperjuangkan golongannya maka ia bukan golongan Muhammad. Dan mereka juga lupa mereka telah mengorbankan rakyat Aceh yang dahulu ditakuti sekarang seperti menjadi orang-orang yang penuh dengan penderitaan lahir dan bantin, selalu terintimidasi, bahkan yang lebih menderita lagi adalah anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik malah menjadi hancur potensinya. Hanya karena kefasisan mereka maka semuanya dihantam tanpa mau memikirkan akibatnya di masa yang akan datang. Masa 30 tahun, bahkan mungkin lebih Aceh dalam penderitaan seharusnya tidak terjadi apabila kita sebagai muslim lebih mendahulukan agama kita.
Alih-alih menjaga perdamaian, malah oknum-oknum GAM ini sepertinya mendiskreditkan PKS, sungguh sebuah perbuatan yang hanya membuat orang berpikir bahwa memang ada yang salah dengan para korban konflik ini. Kita juga korban konflik, tapi kita masih mendahulukan agama kita, bukan mendahulukan Harta. Hanya karena mereka sekarang GILA HARTA dan lantas ketakutan tidak mendapatkan suara karena PKS dianggap Partai ancaman lantas mereka kehilangan pemikiran.
Padahal PKS sudah terbukti mampu bekerjasama dengan partai manapun baik nasionalis maupun Islam, paradigma mereka juga sudah mulai berubah. Mereka lah yang masih murni untuk memperjuangkan tegaknya sayariat Islam di Aceh, seperti halnya perjuangan kita dahulu Tengku.
Yang lucunya mereka hanya membenci PKS, tidak ada sebuah kata-kata untuk Golkar dan Demokrat, karena mereka sudah punya tugas baru JILAT dan GILA HARTA kepada Golkar dan SBY. Mereka hutang budi dengan MoU Helsinky, sekarang mereka sudah punya mobil bagus, rumah bagus, proyek bagus dan usaha bagus. Tapi mereka tidak pernah mementingkan kepentingan rakyat Aceh. Dan saya yakin ini tentunya sudah tidak sesuai dengan konsep awal perjuangan kita semua, hanya untuk kekuasaan segelintir ORANG GILA HARTA, hanya karena mereka PEGANG SENJATA.
Fasisme mereka sudah mengorbankan ribuan orang Aceh yang matinya belum tentu masuk syurga, karena niatnya perlu dipertanyakan, kalau niat mereka JIHAD maka sekarang bukan saatnya lagi. Kalau niat mereka FASIS Aceh maka mereka belum tentu masuk syurga, perjuangan ASHOBIYAH yang amat dibenci Allah.
Sudah saatnya kembali menjadi Tengku, berjuang demi menegakkan syariat Islam di Aceh.
PKS Partai Tengku, GAM GILA HARTA dan JILAT PARTAI GOLKAR
Kepada anggota mailing list, akhir-akhir ini kita dapat melihat sebuah pemandangan bagaimana terpecahnya Aceh, seperti halnya dengan Perang Tjumbok, sebuah perang yang dikatakan oleh Yusran Habib dalam bukunya 'Status Aceh Dalam NKRI', dengan sebutan PERANG YANG MEMALUKAN.
Namun anda GAM Golongan Tengku tidak usah takut, motto anda adalah 'Hidup Mulia atau Mati Syahid', kepada anggota GAM dalam perjuangannya untuk menegakkan Syari'ah Islam, sekarang anda sudah jelas mana yang menjadi musuh mana yang tidak, yang memberikan syariat Islam adalah Megawati SP, memberi kedamaian adalah SBY dan JK memberikan ketenangan. Tapi sebagai Muslim kita tidak berhutang apa2 , dan ini sesuai dengan perjuangan kita tegaknya Syariat Islam di NAD, ayat Qur'an yang mengatakan untuk mematuhi Pimpinan kita, bukan karena MENJILAT atau GILA HARTA.
Sudah saatnya anda berbelot dari GAM PRAGMATIS, bergabung dengan NKRI, apalah artinya GAM itu hanya beberapa ribu orang yang bersenjata dengan KONSEP PERANG BODOHnya dan SDM yang PENUH DENDAM, terlebih lagi GAM PRAGMATIS itu adalah kumpulan dari para PENJILAT dan GILA HARTA.
Karena saya yakin bahwa dahulu yang memperjuangkan GAM dengan gagah berani adalah orang-orang Islam yang menginginkan berdiri tegaknya syariat Islam di Aceh, militansi anda tidak bisa dibandingkan dengan GAM PRAGMATIS yang ternyata niatnya hanya ASHOBIYAH, atau kemerdekaan SEMU. Bergabunglah kembali dengan umat Islam NKRI, bisa melalui PKS atau partai Islam lainnya. Sudah cukup NIAT anda tersampaikan, sekarang lah bagaimana kita dapat merealisasikan ini semua, membawa ACEH dalam Naungan ISLAM. PKS menurut saya adalah Partai Tengku yang paling cocok, menegakkan syariat Islam.
Tabi BEDA dengan GAM ASHOBIYAH itu, mereka telah terjun ke dalam PERJUANGAN yang tidak diridhoi oleh Allah SWT jika ini diteruskan.
Untuk GAM selain dari Golongan Tengku, dapat saya katakan ANDA MUNAFIK SEMUA, PENJILAT PANTAT, karena sudah saatnya anda menjilat Pantat Partai Golkar karena anda dapat harta dari MoU Helsinky melalui tangan JK, dan juga jangan lupa pilih Wali Nanggroe anda SBY bukan HASAN TIRO dalam PEMILU 2009 nanti, karena anda berhutang budi kepada mereka. Kau pujalah GOLKAR, Kau jiulatlah JK dan teman-temannya.
Sudah saya katakan, anda itu semakin hina sekarang, anda itu tidak punya taring apa-apa kecuali dengan sebutan GILA HARTA, lebih baik kepada anggota GAM yang masih mau mendirikan syariat Islam, sekarang lah saat nya untuk BERPISAH dari GAM, kembali ke khittah, sebagai seorang Tengku.
Islam mempunyai sebuah kebanggaan, karena tidak pernah tunduk kepada yang namanya MANUSIA, hanya tunduk kepada ALLAH, beda dengan KUFFAR, YAHUDI dan ILLUMINATI juga GAM mereka TUNDUK kepada HARTA dan PENJILAT PANTAT serta MUNAFIK bertopeng KEMERDEKAAN BODOH.
Dahulu mereka MENGHINA GOLKAR, sekarnag mereka MEMUJI GOLKAR, dahulu mereka menghina SBY sekarang memuji SBY. MUNAFIK, karena GILA HARTA. Lebih baik PKS, tidak pernah MUNAFIK.
GAM TENGKU, sudah saatnya kita PISAH dari GAM ASHOBIYAH, paling tidak kita kembali PERJUANGAN DAUD BEUREUH bukan HASAN TIRO.
01 Desember 2008
Filosofi Kata Aceh Masih Dipertanyakan ?
Kali ini saya akan mencoba untuk menggali asal mula nama Aceh dari beberapa literatur sejarah yang ada, beserta pemikiran-pemikiran saya yan sudah saya ungkapkan, juga kemudian saya akan mencoba mengkupas Kerajaan Iskandar Muda yang kita banggakan itu.
Namun sebelum saya menuliskannya ada hal penting yang perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa pada masa Sultan Iskandar Muda dari beberapa tulisan orang-orang Eropa yang pernah melakukan kunjungan kesana mengatakan bahwa bahasa utama saat itu adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Aceh, ini perlu ditegaskan karena bahasa Aceh sepertinya masih hanya digunakan oleh orang-orang Pidir atau Pidie.
Kemudian yang perlu diingat lagi adalah nama Aceh itu merupakan sebutan dari orang-orang yang melakukan kunjungan ke daerah pesisir utara Sumatera sendiri, bukan sebutan dari Sultan Iskandar Muda atau orang-orang yang ada di daerah yang dikunjungi oleh yang mendatangi Aceh tersebut mengatakan bahwa mereka adalah orang Aceh.
Nama adalah penting menurut saya, nama merupakan sebuah Sejarah, seperti hal Rosulullah kita dinamakan Muhammad, artinya yang selalu dipuji, atau ketika anak-anak kita diberi nama, selalu yang terbaik. Saya yakin tidak mau orang-orang di Aceh memberikan namanya dengan sebutan Tengku Asu.
Asal Mula Kata Aceh
Saya akan mengutip dari buku Kerajaan Aceh, Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Denys Lombard, hal 30-31.
“Meskipun beberapa kali ada usaha untuk mengenali nama Aceh dalam naskah-naskah Zaman Kuno dan Pertengahan, namu dapat ditegaskan bahwa nama itu baru disebut dengan pasti sekali dalam Suma Oriental yang dikarang di Malaka pada sekitar tahun 1520 oleh Tome Pires, seorang Portugis. Untuk sebutan pertama itu kami temukan pengejaan achei (regno dachei), tapi dalam karya agung Barros berjudul Da Asia yang terbitnya beberapa puluh tahun kemudian sudah terdapat penyengauan akhir yang kemudian hampir selalu bertahan dalam abad ke-16, 17 dan 18, yaitu Achem, lalu Achin, Atjhin, dan lain sebagainya (dari nama itu terbentuk dalam bahasa Prancis kata sifat atjhinais yang jelek sekali akan tetapi masih dipakai dalam karyta-karya tertentu dalam karya kita”
…..
“Penyengauan akhir yang terdapat dalam hampir semua pengejaan nama oleh orang Eropa boleh jadi akibat dari perlawatan bangsa Portugis yang bisa saja menjadi terbiasa mencatat pengembusan huruf terakhir yang tidak mereka kenal dengan cara demikian. Mengenai hal itu perlu dikemukan bahwa nama pelabuhan niaga dekat Aceh yang oleh naskah-naskah Melayu berhuruf Arab ditulis Pasi dan yang tulisannya sekarang adalah Pasai (“Pasay” menurut transkrip ilmihanya), juga telah mendapatkan perlakuan yang sama: kebanyakan pelawat abad ke 16 dan ke 17 menulis Pasem atau Pacem.
Filosofi Kata Aceh
Dari kutipan tersebut, menurut pemikiran saya kata Achei tersebut merupakan kata yang berasal dari Melayu, karena saat itu yang digunakan adalah bahasa Melayu. Dan bahasa Melayu ini lebih dekat kepada bahasa Gayo, bukan kepada bahasa Aceh, karena bahasa Aceh sampai saat itu masih belum digunakan, masih pada daerah Pidir saja.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa bangsa Eropa pada kenyataannya selalu melakukan peperangan dengan Kute Reje waktu itu sejak berabad-abad yang lalu, sehingga mereka pastinya akan mencoba memberikan sebutan yang tidak baik kepada daerah yang sulit ditaklukkannya tersebut.
Lantas pada masa tersebut memang selalu ada pertikaian antara kaum bangsawan dengan kaum Sultan, bahkan seringkali dilakukan dengan cara pembunuhan oleh Sultan terhadap para bangsawan yang sudah mulai tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya. Kaum Raja itu kebanyakan berasal dari Melayu (= baca Gayo) dan bangsawan kebanyakan berasal dari persatuan kaum bangsawan non Melayu tersebut yang berasal dari orang Keling (orang India atau Kalingga), Gujarati, Tamil. Kemudian mayoritas orang Rum (orang dari Roma, artinya Istambul), orang Turki, Arab dan Parsi akan menjadi Tengku atau Ahli Agama.
Sebagai contoh ketika Sultan Iskandar Muda diangkat menjadi Sultan,dalam kebijakannya ia membunuh banyak bangsawan yang sudah dianggap tidak memperhatikan rakyatnya.
Saat itu, para bangsa Eropa yang datang tentunya dalam berhubungan langsung dengan Sutannya, orang Melayu dibandingkan para Bangsawannya, karena mereka mengetahui bahwa kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para bangsawan tersebut. Kemudian dalam interaksi mereka tersebut keluarlah kata ‘maaf’ ASU, yang kemudian menjadi sebutan bagi bangsa-bangsa Eropa. Sebuah sebutan yang cocok bagi lawan sekaligus kawan, juga sebagai bahan memcah belah untuk mengambil keuntungan dari pertikaian antara Bangsawan dan Penguasa.
Hal inilah kenapa saya mengatakan ada kemungkinan bahwa asal Aceh itu berasal dari Asu, tapi kesemuanya tentu perlu diteliti lagi, saya hanya ingin menjaga agar anak cucu kita ketika mengetahui keasliannya kemudian tidak berani menatap langit lagi ke depan.
Dan ini pulalah yang menyebabkan terjadi permusuhan tradisional antara Sultan (Melayu atau Gayo) dengan Bangsawan atau Teuku (Pidir, Keling, Tamil, Gujarati) serta Tengku (Arab, Parsi, Persia). 2 golongan ini yang terus bertengkar sampai anak cucunya, sampai sekarang. Sedangkan Tengku pada dasarnya lebih dekat kepada Sultan, namun seiring dengan berjalannya zaman maka pernik-pernik kehidupan akan berjalan yang menyebabkan Tengku kadang ada di Sultan dan Teuku.
Bisa saja apa yang saya ungkapkan merupakan sebuah retorika berpikir, tapi retorika inilah yang harus mulai diteliti oleh orang Aceh sendiri, agar kita semua tidak menderita karena pertikaian yang terjadi oleh nenek muyang kita yang harus ditanggung oleh kita semua.
Ini pula yang seringkali saya katakana bahwa Sultan pasti akan menguasai Aceh ini kembali, namun pertikaian akan terus terjadi dengan bangsawan.
Jadi ada ALA atau tidak ALA, Aceh akan dapat ditaklukkan oleh Gayo, ketika anak-anak Gayo sudah mulai mendapatkan pendidikan yang cukup ia pasti akan mencari asal mula leluhurnya, dan dalam dirinya sudah tersimpan permusuhan tradisional, genetic muyang datunya telah di bawanya. Akan lebih banyak muncul orang-orang seperti saya yang akan meminta kembali kebanggaan Muyang Datunya dahulu sebagai Penguasa Aceh, aka nada orang-orang seperti saya yang terus mengejek kata Aceh dengan berbagai cara, menghina para Teuku dan mencoba menggaet Tengku, ini pasti akan terus terjadi.
Belum lagi ketika saya akan mulai menulis Sultan Iskandar Muda kemudian mencocokkannya dengan kebudayaan yang ada pada Gayo, serta pengambil kebudayaan oleh Aceh, akan semakin terlihat, itu yang saya katakan kepada teman mailing list lainnya, jika dari Gayo telah lahir tokoh Antropologi dan Linguistik semuanya akan terbuka dengan jelas, karena sebenarnya pekerjaan mereka hanya melem kembali pecahan-pecahan kertas untuk menjadikannya satu dan memperlihatkan siapa sebenarnya orang Gayo itu.
Aceh Ke Depan
Aceh ke depan bila tidak dipisahkan rasanya akan sama seperti sekarang selalu dalam pertempuran, karena memang adalah sulit untuk dapat menghilangkan permusuhan tradisional yang sejak zaman dahulu telah memakan korban yang banyak antara Bangsawan dan Penguasa. Kita dapat bayangkan bagaimana seorang Penguasa menggunakan kekuasaanya untuk menghabiskan bangsawan dan bangsawan mencoba bertahan dan menyerang balik sang penguasa dengan harta kekayaannya dan tipu dayanya. Dan golonga Tengku selalu dalam kebingungan untuk membela siapa.
Aceh Berhasil Merdeka
Katakan saja Aceh berhasil Merdeka, mereka berhasil menguasai semua Bupati dari GAM di seluruh Aceh, KPA berhasil menarik simpati semua rakyat Aceh karena programnya berhasil, Partai Lokal berhasil memenangkan hampir 70% di seluruh Aceh, selanjutnya mereka berhasil mendeklarasikan kemerdekaan atas nama seluruh rakyat Aceh melalui legislative dan UUPA yang sudah mendukung serta MoU Helsinky sebagai jaminan internasionalnya.
Karena kita selalu dalam keraguan untuk mengatakan hal ini, maka katakana saja Aceh berhasil merdeka perseteruan ini tidak akan berhenti, terlabih lagi sekarang sudah bertambah suku serumpun Melayu, Jawa, di Gayo, yang sudah bersatu dengan suku Melayu (Sultan, Gayo), mereka akan menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap GAM. Sedangkan Tengku rasanya akan mendukung GAM dengan alasan mereka berjanji akan mengakkan syariat Islam di Aceh.
Bisa dibayangkan dataran tinggi Gayo akan menggelora kembali, bahkan amat menggelora, bisa saja GAM meminta bantuan kepada PBB untuk menghacurkan separatis Gayo yang dianggap sebagai kepanjangan tangan dari TNI atau NKRI, seperti halnya sekarang terjadi di Timur-Timur. Suku Gayo akan habis, dan peperangan dimenangkan oleh yang dulu disebut Bangsawan.
Bahasa Gayo akan musnah, seperti hilangnya bahasa Melayu dari Kuta Raja sekarang ini, digantikan oleh Bahasa Tamil atau Aceh. Bila ini terjadi maka akan hilanglah kebudayaan Gayo karena akan semakin diakui sebagai kebudayaan Aceh. Karena sudah barang tentu bahasa nasional adalah Bahasa Aceh bukan bahasa Gayo.
Kepada serinenku, coba pikirkan ini jika anda mendukung GAM, tanyakan kepada diri sendiri dan nasib anak cucu kita nanti.
Aceh satu di bawah NKRI
Saya yakin tidak akan pernah aman seperti yang terjadi sejak zaman dahulu sampai dengan sekarang, sudah kultur dari orang Tamil untuk terus melakukan pemberontakkan. Sudah Kultur orang Aceh yang malas, ini pernah dituliskan dalam sebuah kunjungan dari bangsa Eropa yang amat marah melihat Aceh yang begitu berpotensi dengan pertanian, mereka melihat bahwa Kuta Raja waktu itu tidak dikelola dengan baik oleh orang Aceh. Karena mereka yang datang dari Eropa itu masih bergantung kepada pertanian di negerinya.
Atau seperti sekarang ini pada pesisir Aceh Timur yang berpotensi untuk ditanami
Sawit, akan tetapi investor kesulitan mencarikan SDM yang mau mengelolanya, karena perkebunan sawit merupakan perkebunan terpadu yang memerlukan keseriusan, dan ini jauh berbeda dengan Aceh bagian Barat dan Selatan dengan bahasa Padangnya. Ironisnya lagi ketika mereka memang malas, mereka tidak mau orang Jawa untuk membantu penanaman sawit di kebun mereka. Akhirnya terbengkalai lah daerah tersebut.
Ini sepertinya akan terus terjadi, ketika GAM sudah tidak bisa lagi memberikan anggotanya materi, ketika mereka malas karena tidak punya kehlian untuk hidup kecuali mengangkat senjata maka yang terjadi adalah kembali memberontak, Aceh kembali menggelora.
Sebenarnya ada keahlian dari mereka, yaitu berdagang, jasa, mereka berikan keterampilan ini bukan sebagai petani, mereka tidak akan pernah mau. Jadikan daerah Aceh pesisir timur seperti halnya Singapura.
Sedangkan Gayo tetap merasakan ketidakamanan selam satu dengan Aceh, mereka terus akan menuntut ketidakadilan yang pasti akan terus terjadi, puluhan tahun sudah terjadi. Bupati-bupati dari daerah ini akan terus melakukan perlawanan karena ketidakadilan tersebut, saya jamin itu. Anak cucu Gayo harus selalu hidup dalam politik PERANG BODOH, bukan memikirkan pendidikan lagi, mereka diajarkan syakwasangka akan ganasnya GAM. Belum lagi dengan keturunan Gayo dan Jawa yang akan semakin besar proporsinya, mereka akan membentuk kelompok sendiri untuk meneriakkan ketidakadilan terhadap mereka.
Pemekaran Aceh
Inilah sebuah solusi yang paling baik saat ini menurut saya, semua akan bersaing, para Bangsawan sudah punya rumahnya sendiri, para penguasa sudah punya rumahnya sendiri, para Tengku bisa berdiri dimana ia dibutuhkan.
Alasan-alasan yang tidak menyetujui ide pemekaran adalah sebuah alasan yang bodoh, lebih kepada keinginan untuk kepentingan golongannya saja, tidak mau memikirkan filosofi orang Aceh itu sendiri serta belajar dari pertikaian yang sudah terjadi sejak zaman dahulu kala.
Kita akan melihat sesame Raja Gayo sekarang akan bertikai untuk memperebutkan kekuasaan, karena mereka semua merasa keturunan penguasa. Tapi ini akan menjadi lebih baik, karena tentunya mereka punya ikata budaya yang kuat, tidak akan sampai terjadi pertumpahan darah seperti halnya dengan bangsawan pertikaiannya. Terlebih lagi sekarang sudah PILKADA, ancaman ini akan semakin kecil, yang ada keamanan terjamin, perpolitikkan di Gayo semakin canggih.
Kita lihat para bangsawan akan berlomba-lomba menawarkan jasa dan kepintara mereka dalam melakukan loby, mereka akan membangun kotanya dari perdagangan, mereka akan berupaya mengeruk sebanyak mungkin keuntungan dari hasil perdagangan mereka. Dendam akan hilang dari mereka, syak wasangka akan hilang dari mereka, merka akan terus berjuang.
Lihat lima tahun ke depan para bangsawan dan Penguasa sekarang saling berkompetisi untuk menyatakan bahwa daerah saya yang paling maju, tidak ada lagi perseteruan tradisional yang tidak pada tempatnya, karena semua sudah punya wadanya masing-masing.
Anak Gayo akan bangga mengatakan ia orang Gayo. Orang Aceh akan bangga mengatakan ia dari Tamil, orang Aceh akan bangga mengatakan ia dari keturunan Jamnee.
Inilah keindahan yang saya bayangkan kalau Bapak Irwandy bisa berpikir jernih dan cinta kepada rakyat Aceh semuanya. Karena memang Aceh itu tidak akan aman bila terus dijadikan satu, yang terbaik lihat sama tinggi sama rendah dan berikan mereka haknya.
Bukannya saya mengancam ,tapi pemuda-pemuda Gayo sekarang sudah mulai bangkit, kalau pun Aceh jadi satu atau Merdeka maka yang ditakutkan Aceh tidak akan aman selamanya terus bersiteru satu dengan yang lain.
Berijin.
www.cossalabu.blogspot.com
Tulisan saya selanjutnya saya akan mengupas Sultan Iskandar Muda dikaitkan system pemerintahannya dengan adat istiadat Gayo, mudah2an bisa selesai.
27 November 2008
Apakah ada Indikasi GAM disusupi Zionis dan CIA ?
Bila kita melihat GAM sejak awal berdirinya hingga saat ini, kemudian diintegrasikan dengan ketokohan dari Hasan Tiro maka sepertinya bisa saja hal ini terjadi. Ada baiknya setelah ini dengan terpilihnya Presdien Baru USA maka semuanya akan terbuka, akan terbuka wajah dari topeng Hasan Tiro dan pendukungnya.
Pertama. ketika GAM berdiri pada waktu itu Hasan Tiro menjadi Dubes RI untuk USA, sehingga sedikit banyak ia berinteraksi dengan orang-orang USA. Pada waktu itu NKRI dan Aceh dalam keadaan kurang baik karena adanya pemeberontakkan Daud Beureuh, yang pada akhirnya dapat diselesaikan dengan Ukhuwah Islamiyah.
Kedua, proyek untuk Aroen ternyata dimenangkan oleh pihak USA, pada saat itulah Hasan Tiro melakukan pemberontakkan mengatasnamakan ketidakadilan yang terjadi di Aceh, mempertanyakan kenapa tidak ada rakyat Aceh yang menjadi pekerja disana.
Ketiga, selama masa konflik daerah Arun dan sekitarnya relatif aman, sumber daya alam disedot terus oleh USA hingga kini sudah habis, ada suatu keanehan disini, seharusnya jika memang GAM ingin ketidakadilan itu tidak berlanjut ia memfokuskan kepada daerah Arun tersebut sehingga tidak berjalan lagi proyek disana, tapi ternyata semuanya masih aman-aman saja.
Keempat, adanya indikasi bahwa Aceh ini dijadikan proyek oleh oknum TNI, banyak perdagangan senjata yang dilakukan antara TNI dengan GAM pada era Soeharto.
Kelima, sosok Hasan Tiro jelas amat diragukan, terlebih lagi ia telah menikahi yahudi, terlebih lagi ia seringkali disebut sebagai orang yang berbisnis senjata.
Keenam, Hasan Tiro selalu menggunakan Uni Eropa dan USA sebagai pengawasnya, berbeda dengan Daud Beureuh yang lebih mengutamakan kepentingan dari berbagai golongan rakyat Aceh untuk berdamai dengan NKRI tanpa ada campur tangan pihak asing.
Bila dilihat dari keenam faktor ini rasanyadominasi Yahudi dan USA pada permasalahan Aceh adalah menjadi sangat besar, atau dapat dikatakan Aceh adalah proyek USA dan Soeharto dengan Hasan Tiro untuk membuat instabilitas di Aceh hingga pengurasan SDA Arun dapat selesai dengan baik, dan saling berbagi.
Sekarang ini sepertinya juga seperti itu Hasan Tiro, dkk ingin menjual negeri ini kepada USA dan UE melalui MoU Helsinky. Tapi sepertinya kali ini Pemerintah NKRI tidak memberikan kesepakatan, malah ada kemungkinan dengan lemahnya USA dan UE dengan urusan dalam negeri masing-masing maka yang akan terjadi GAM akan ditinggal atau akan dihabisi oleh NKRI bila mereka melakukan kesalahan-kesalahan .
Ada yang menarik bagi rakyat ALA dan ABBAS, saat ini kita perlu menunjukkan sebuah keseriusan untuk hal ini, karena sepertinya giliran daerah ini yang akan dihabisi SDAnya oleh orang-orang tersebut, mereka hendak menjual tambang-tambang yang ada pada daerah tersebut, ini semua perlu dipikirkan.
Sebagai awal diskusi ini, silahkan anda membaca tulisan sayat tentang indikasi GAM disusupi oleh CIA/Zionis.
Kepada orang Gayo seluruhnya, berhati-hatilah dengan ajakan Gayo Merdeka, karena ternyata semakin ada indikasi yang jelas beberapa orang/oknum ingin menjadikan daerah Gayo sebagai tempat konflik baru, seperti halnya yang mereka telah lakukan dengan menggunakan GAM.
Dengan GAM mereka berhasil menghabiskan para Tengku sekaligus dengan aman menggerus SDA Aceh di Arun.
Kemudian dengan Gayo Merdeka mereka berniat kembali membuat dataran tinggi Gayo tidak aman, sekaligus menggerus SDA di Gayo, jadi berhati-hatilah kepada orang Gayo. Rasanya ALA dan ABBAS memang menjadi satu-satunya jalan untuk mempertahankan tanoh Gayo dari penjualan kepada Kuffar CIA dan Uni Eropa.
GAYO MERDEKA AKAN MENJADIKAN GAYO seperti ACEH, tidakkah kalian kasihan dengan anak cucu kita wahai orang Gayo, memang kurang ajar Ateh itu, kalaupun kita berperang bukan dengan Jawa tapi Gerakan Ateh Merdeka.
Selamat merenung.
21 November 2008
Propaganda GAM Sejati Dengan Agama (Dialog Dengan Muhammad Al Qubra)
"Rabbisyrahli sadri wayasirli amri wahlul uqdatam minlisani yafqahu qauli"
Andaikata kutau persis bahwa tanggapan balikku ini hanya dibaca oleh Kosasih Bakar, sungguh tak perlu kutanggapi. Tapi sebagai pendakwah yang berislah, insya Allah tulisan ini bermanfaat buat orang lainnya. Berdakwah versi Islah (muslihun) relatif beresiko dunia, kecuali pendakwah berkhidmad(fasad fil ardh atau mufsidun)
Jawaban Kosasih Bakar:
Bismillahirrahmanir rahiim
“Saya bukan lah seorang pendawah, karena berdawah itu amat berat tanggung jawabnya, dalam berdawah kita mengajak seseorang itu dengan hujjah yang jelas tanpa ada paksaan”
Saya kembali menangis membaca tulisan dari Bung Muhammad AL Qubra, dengan kembali membawa Agama Islam dalam memperjuangkan Gerakan Aceh Merdeka serta mengatasnamakan tanah leluhur, semakin membuat saya yakin bahwa sebenarnya GAM ini tidak mempunyai ideologi yang benar bagi rakyat Aceh. Dan ironisnya sudah begitu banyak korban dari rakyat Aceh dengan sia-sia. Saya akan membagi dalam tulisan ini menjadi 3 bagian, yaitu Pluralisme Dalam Islam, Nasionalisme, Arti Jihad, Konflik Aceh Dalam Perspektif Internasional. Setelah itu baru saya akan berusaha membahas tulisan Muhammad Al Qubra bila belum terangkum dalam tulisan saya sebelumnya.
Pluralisme
Marilah bersama kita lihat bersama sebuah ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang pluralisme dan kebersamaan. Seperti:
Ide tentang pluralisme dalam Al-Quran sudah disebutkan sejak penciptaan manusia. Tuhan sebagai Dzat yang transenden menciptakan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan, dan dari keduanya dijadikanlah manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS 49:13)
Seandainya terjadi perselisihan antar sesama mukmin hendaklah dikembalikan kepada Al_Qur’an dan Assunah, karena keduanya adalah pegangan setiap mukmin. Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian akan selamat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya”. (HR. Abu Dzar)
Jadi, adalah teramat jelas berdasarkan ayat-ayat itu bahwa sesungguhnya semua manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, yang membedakannya adalah keimannya. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu ketika lahir di dunia ini, apakah ia bersuku Aceh, bersuku Jawa, bersuku Gayo atau lainnya. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan berkulit putih atau hitam atau sawo matang, yang mereka tahu hanyalah menangis sebagai awal kehidupan mereka.
Bahkan semakin membuat saya terhenyak dan mengeluarkan air mata adalah ketika tahu bahwa Hasan Tiro dan penerusnya melalui Gerakan Aceh Mereka telah menghalalkan darah sesame muslim yang tumpah di bumi Indonesia, sebuah bumi dengan mayoritas terbesar penduduknya Islam, sebuah Negara yang kaya dan terdiri dari berbagai macam suku, sebuah Negara yang seringkali dikatakan sebagai Macan Asia Yang Tidur, Negara tersebut kini masih dalam kesulitan-kesulitan yang mendera karena berbagai ragam kesulitan-kesulitan baik KKN, separatism, Krisis Moneeter dan lain sebagainya.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (Perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)
Terbayang oleh saya ketika GAM berperang mengatakan “Allahu Akbar,” kemudian di sisi yang lain TNI yang notabene muslim juga mengatakan “Allahu Akbar,” merinding saya membayangkannya. Dalam perang semua bisa terjadi, jangan katakana kejahatan perang hanya dilakukan oleh TNI, kejahatan perang juga dilakukan oleh GAM. Seperti GAM menceritakan bahwa Rakyat Aceh diperkosa, dibunuh, dicincang oleh TNI, begitu juga sebagian rakyat Aceh mengatakan bahwa mereka juga diperkosa, dicincang, dibakar oleh GAM. Semua berlomba untuk mengabadikan setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing lawannya.
Kesalahan dari GAM adalah ketika ia membenci Suku Jawa, karena merasa NKRI itu diwakilkan oleh Jawa, padahal NKRI itu terdiri dari banyak suku bangsa. Mereka berupaya membangun nasionalisme rakyat Aceh tersebut melalui hal tersebut, kesalahan konsep ini berakibat fatal ketika ternyata rakyat Aceh sudah banyak yang berasal dari suku Jawa sejak zaman Iskandar Muda, bahkan pada zaman kemerdekaan. Sekaligus ini menafikkan salah satu sunnatullah bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah berbagai ragam untuk saling mengenal.
Hal ini semakin menarik, dikala permusuhan tradisional antara Aceh dan Gayo mencuat, ketika sejarah memperlihatkan bahwa Aceh dan Gayo itu mempunyai bahasa yang amat berbeda, ketika Aceh dan Gayo mempunyai adat yang berbeda, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Gayo tidak mau dikatakan Aceh atau Aceh tidak mau dikatakan Gayo, atau ketika mereka saling memperolok dengan sebutan ‘Gayo Re’ dari orang Aceh atau ‘Aceh Pungo’ dari orang Gayo yang sudah demikian tertanam sejak zaman nenek muyangnya.
Ketika dipertanyakan siapa suku asli di Aceh, maka sudah jelas jawabannya adalah suku Gayo, akan tetapi ketika dipertanyakan sejauh mana kemurnian suku Gayo sekarang ini atau siapa yang benar-benar suku Gayo? Abad pertama yang menceritakan tentang Kerajaan Linge seringkali dikatakan sebuah generasi pertama dari suku Gayo. Namun, abad-abad berikutnya dan seterusnya sudah tentu generasi itu melakukan perkawinan silang, terlebih lagi dengan sifat orang Gayo yang labih menyukai untuk perkawinan angkap atau mengambil menantu dari luar daerahnya. Ini sangat memungkinkan, karena dalam suku Gayo tidak diperkenankan menikah dalam satu kampong dan hukumannya adalah di parak dahulu. Keterbukaan orang Gayo memang luar biasa. Setelah selama hampir 19 abad dengan banyaknya perkawinan maka yang akan menjadi pertanyaan adalah siapa suku Gayo itu ? Jawaban yang termudah adalah suku yang tetap menggunakan bahasa Gayo dan tetap mempertahankan adat Gayo untuk menjalani kehidupannya.
Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABBAS) merupakan salah satu akibat dari konsep kemerdekaan GAM tersebut, sebuah konsep yang pragmatis. Selama ini hampir dalam setiap statemennya GAM mengatakan bahwa isu ALA dan ABBAS disebarkan oleh pihak-pihak NKRI tanpa pernah mau melihat kenyataan bahwa memang pada daerah tersebut sering terjadi ketidakadilan yang kerap kali diterima, banyak hal sebenarnya, sebagai contoh ketika masih zaman Orde Baru setiap pimpinan yang ditunjuk dari Pusat kebanyak orang-orang Aceh pada daerah Gayo, ini tentu menandakan bahwa usaha mereka menganggap orang Gayo itu lemah dan tidak mampu dalam mengelola daerahnya, atau dampak lainnya adalah ketika SDM yang ada di Gayo amat rendah, sampai sekarang masih bisa dihitung yang S2 atau S3 nya, belum pernah ada seorang Menteri dari Gayo, padahal sebenarnya ada beberapa tokoh dari Gayo yang jelas bisa menduduki jabatan ini, ini adalah akibat dari permusuhan tradisional antara Gayo dan Aceh seperti halnya yang terjadi antara suku Sunda dan Jawa sampai saat ini.
ALA dan ABBAS merupakan salah satu strategi untuk dapat mengamankan Aceh di masa yang akan datang, dengan ALA dan ABBAS maka konsep Aceh Merdeka akan hilang, adalah tidak memungkinkan Aceh Merdeka hanya sebanyak 30% dari wilayah Aceh sekarang. Kembali kembali kepada suku Jawa, ironisnya pada daerah ALA dan ABBAS sudah begitu banyak transmigran yang ada, bahkan telah melakukan perkawinan antar suku, sehingga ikatan batin dari kedua-dua suku tersebut sudah amat mengental.
Sesungguhnya ini juga yang ditakutkan bila GAM berhasil memerdekakan diri mereka dengan konsep 4 negara bagian, akan timbul peperangan sebelumnya antara suku Jawa dengan suku-suku lain yang ada, ini akan mengakibatkan ketidakamanan kembali, yang akan terjadi adalah peperangan antar etnik. Kemudian apa yang akan terjadi dengan anak-anak yang merupakan hasil dari perkawinan silang, haruskah mereka memilih kepada suku siapa, ama atau inenya ? Setelah ini selesai pertentangan antara Gayo dan Aceh juga tidak akan berhenti, karena sebagian orang Gayo sudah amat keras mengatakan Asal Linge Awal Serule, mereka adalah penguasa Aceh dahulunya. Ini akan terus berlanjut, kemudian akan timbul yang namanya Gayo Merdeka yang sudah barang tentu akan didukung oleh suku Jawa. Terbayang oleh saya sebuah peperangan yang tidak akan pernah habis dari bumi Aceh yang kita cintai karena Faham Chauvinisme (Kesukuan yang tinggi) dari suku Aceh. Yang akan terjadi adalah Geonesida (pemusnahan satu suku) Jawa, lantas kemudian Gayo.
Selain dengan perang, maka salah satu jalan untuk menghilangkan satu suku adalah dengan budayanya, seperti halnya Kute Reje diganti dengan Banda Aceh, ini adalah satu contoh bagaimana Aceh akan menghilangkan kembali sejarah Gayo. Bisa dibayangkan nama-nama yang diberikan pada daerah Aceh dahulunya sekarang sudah berganti, nama-nama yang didapat dari perjalanan Sengeda bersama Gajah Putih, seperti Biren, dsb. Inilah yang mereka lakukan, GAM akan menjadikan bahasa Aceh sebagai bahasa nasional bahkan mengganti semua sebutan-sebutan yang berbau Gayo, bila ini terjadi maka anak cucu kita tidak akan pernah mengenal Gayo lagi seperti halnya kita sekarang tidak betul-betul mengetahui Kerajaan Linge denagn sesungguhnya. Ada sebuah anekdot, ketika 50 tahun nanti sewaktu Aceh Merdeka dan tidak mampu menghilangkan Chauvinismenya maka anak-anak dari orang Gayo akan menanyakan kepada orangtuanya “Ama, Gayo itu apa sih,” (dalam bahasa Aceh), lalu ayahnya menjawab “Gayo itu adalah batu hitam yang dulu berasal dari daerah bernama atu lintang,”. Sungguh menyedihkan bukan. Apakah Tanah leluhur kita akan dijual dengan semudah itu, wahai serinenku yang mendukung GAM.
Belum cukupkah kita yang menguasai seluruh Aceh kini hanya tinggal di dataran tinggi, dan seringkali mereka takut kepada kita seperti halnya melihat orang yang tertinggal atau tidak berpendidikan, Penguasa Daerah Pesisir Utara Sumatera. Tidakkah kita pernah berpikir kenapa kita sampai terusir ke atas gunung, tidakkah kita berpikir ini semua karena kita memang seringkali perang oleh Aceh, kita selalu termakan oleh tipu Aceh. Serinenku, mari kita berpikir jauh sekali ke depan. Sudah kita hancur oleh Perang Bodoh ini, kemudian kita menjual tanah leluhur kita dengan mengorbankan sejarah kita yang seringkali mereka korbankan.
Nasionalisme Semu
Satu hal yang mungkin tidak disadari banyak orang, temasuk umat Islam, adalah kenyataan bahwa nasionalisme sebenarnya adalah ide yang diperalat oleh Barat untuk menjajah dan mendominasi dunia (Abdus SamiØ£¢Ã¢‚¬Ã¢„¢ Hamid, 1998). Negara-negara Kapitalis seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, telah menggariskan langkah politik untuk memperkokoh atau mempertahankan eksistensi dan pengaruhnya dengan cara memecah belah sebuah kekuatan politik dan merekayasa berbagai konflik dan kekacauan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Bila kondisi chaos sudah tercipta, nasionalisme akan datang dengan kedok Ø£¢Ã¢‚¬Ø¥“hak menentukan nasib sendiriØ£¢Ã¢‚¬?, atau isu Ø£¢Ã¢‚¬Ø¥“bangsa yang berdaulat dan merdekaØ£¢Ã¢‚¬?, dan sebagainya. Nasionalisme dijadikan landasan untuk menuntut kemerdekaan sekaligus untuk legitimasi perpecahan dan separatisme. Contoh kontemporer yang sangat gamblang, adalah masalah Timor Timur, yang secara sukses telah diceraikan dari Indonesia oleh Barat dengan tekanan-tekanan dan senjata mematikan : jajak pendapat (baca : nasionalisme) .
Rasulullah SAW pun telah mengharamkan ikatan ashabiyah, termasuk?Ø¢ nasionalisme :
Ø£¢Ã¢‚¬Ø¥“Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud)
“Dari Watsilah Ibnul Asqa’; saya bertanya kepada Rasulullah SAW. apakah seseorang yang mencintai kaumnya termasuk ashabiyyah? Rasulullah menjawab: Tidak; tapi yang termasuk ashabiyyah ialah bila ia menolong kaumnya dalam kezaliman.”
Faham Chauvinisme ialah faham yang mengagungkan tanah air secara berlebih-lebihan.
Nabi Muhammad SAW. bersabda “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru keoada ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang atas dasar ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena membela ashabiyyah” (H.R. Abu Dawud). “Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena mempertahankan diri dan berperang karena riya. Manakah yang termasuk di jalan Allah? Rasulullah menjawab: Barangsiapa yang berperang untuk menjunjung tinggi kalimah Allah maka ia di jalan Allah.”
Gayo bukan Chauvinisem adalah amat jelas, Gayo adalah suku terbuka, bahkan bisa menerima Jawa, Padang, Batak, bahkan Aceh itu sendiri sebagai kemudian disebut orang Gayo. Inilah kelebihan suku Gayo, walau sudah berabad-abad lamanya sejak zaman Kerajaan Linge bahasa Gayo itu tetap eksis, budaya Gayo masih tetap eksis, bahkan perpaduan Gayo dengan Padang di Blang Kejern tetap memenangkan suku Gayo yang menjadi pemegang adat. Bandingkan dengan Aceh Selatan yang masih tetap menggunakan bahasa Padang sebagai bahasanya.
Selanjutnya ketika kita membaca hadist-hadist tersebut apa yang terpikirkan oleh kita pertama kali adalah sungguh menyedihkan para pejuang GAM yang telah meninggal, mereka adalah jauh dari syahid, mereka mati dalam keadaan sia-sia. Ketika mereka dikatakan membela kehormatan mereka, tapi mereka telah melupakan arti perdamaian, seluruh rakyat Indonesia juga sama seperti apa yang dirasakan oleh rakyat Aceh, tapi karena merasa sebagai saudara seiman mereka tidak mau melakukan pemberontakkan seperti apa yang dilakukan oleh Hasan Tiro, karena mereka tahu ini tidak baik, mereka tahu bahwa Allah amat membenci hal ini.
Segala sesuatu yang dimulai dari niat yang salah, akan menjadikan hasil yang salah pula.
Jihad
Jihad adalah berjuang – membunuh dan dibunuh – demi Allah semata, dalam rangka menjadikan Kalimah-Nya tertinggi. Adalah sebuah kewajiban yang ditahbiskan di dalam Al Qur'an (lihat al Baqarah 2:216)
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (yaitu, Syirik) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. (QS Al Anfal 8:39)
Rasulullah, sallallahu 'alayhi wassallam, bersabda,
"...siapapun yang berjuang di bawah panji-panji emosi, menjadi marah karena sikap berat sebelah ('asabiyah), menyeru ke arah 'asabiyah, atau mendukungnya dan kemudian meninggal, maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah." [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (6/21), dari Abu Hurairah]
Kembali saya tertegun dengan Ayat Al Qur’an dan hadist ini, semakin takut saya nanti Hasan Tiro di akhirat seperti apa pertanggungjawabann ya kepada Allah SWT dan orang-orang yang termakan dengan isu perjuangannya yang pragmatis tersebut.
Ntah apalagi yang harus dikatakan karena semuanya begitu jelas.
Konflik Aceh
Seluruh rakyat Indonesia merasakan apa yang dirasakan oleh Rakyat Aceh, Indonesia bagian Timur juga merasakan hal yang sama dirasakan rakyat Aceh. Mereka merasakan pada zaman Soeharto semuanya tertekan dengan kebijakan-kebijakan Soeharto yang sangat pragmatis atas dasar menyelamatkan nasionalisme Indonesia.
Semua rakyat Indonesia juga tahu bagaimana dwi fungsi ABRI telah menyebabkan pemerintahan otoriter, Soeharto dengan kaki tangannya (baca TNI). Semua rakyat Indonesia merasakah hal yang sama.
Terkait dengan Aceh, semua orang juga tahu yang pertama kali meminta agar Aceh dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer adalah Ibrahim Hasan, orang Aceh yang kalau pulang ke Aceh diam-diam karena takut ia diliecehkan oleh orang Aceh sendiri.
Namun, yang tidak pernah diungkap adalah ternyata ada sebagian rakyat Aceh, khususnya orang Aceh yang tidak mau dikatakan Aceh (baca Gayo) melakukan pendekatan kepada TNI, malah memanggil TNI lebih banyak ke daerah untuk mempertahankan keamanan wilayahnya dari GAM. Bila dibandingkan dengan orang Aceh yang lain, maka korban dari daerah dataran tinggi Aceh relative lebih sedikit, bahkan yang menjadi masalah bagi mereka adalah beban psikis akibat perang ini, mereka tidak bisa lagi menjual hasi tani mereka, banyak yang dipaksa menyerahkan pajak nanggroe. Ini semakin terasa ketika banyak transmigran yang ada di dataran tinggi Aceh harus diperkosa, dirampok, dibunuh, dihina oleh GAM, dan ini juga terjadi kepada orang Gayo yang tidak mengikuti keinginan dari GAM, mereka memaksa anak-anak orang Gayo untuk dapat menjadi anggota GAM dengan ancaman keluarga mereka akan disiksa.
Selama puluhan tahun telah terjadi konflik, hingga tsunami tiba. Seharunsya rakyat Aceh sadar ini adalah peringatan dari Allah atas tumpahnya darah sesame muslim di bumi Aceh yang kita cintai. Ketika mesjid-mesjid diselamatkan dari tsunami, ketika Masjid Raya dinaikkan Allah bagi mereka yang masuk kedalamnya, ketika banyak orang China yang mengucapkan syahadat, ketika rumah-rumah masyarakat yang hancur seperti dipilih oleh tsunami, apakah ini bukan peringatan dari Allah SWT.
Kemudian dikatakan bahwa tsunami telah menghancurkan senjata-senjata yang ada di pinggir laut, ini karena semua rakyat Aceh tahu dimana Polisi dan TNI menyimpan gudang senjatanya. Tapi apakah mereka tahu seberapa banyak senjata GAM yang dibawa oleh air laut, yang tersebar di pinggir-pinggir pantai. Wahai Pimpinan GAM kenapa engkau tidak membuka ini kehadapan public, biar Aceh ini tidak lagi dalam kekerasan, biar Aceh ini aman dari slogan-slogan yang membuat rakyat Aceh menderita kembali. Tidakkah kalian takut dengan bencana yang akan diberikan Allah khusus kepada orang-orang seperti ini ?
Lalu saya membaca tulisan Muhammad Al Qubra tentang Puja Kusuma yang dihubung-hubungkan dengan Penyembaan Berhala, apakah ia tidak berpikir ia selama ini telah menyembah Hasan Tiro ? Berhala Hasan Tiro. Ia juga yang kerapkali berkomentar bahwa perkataan yang hak digunakan untuk yang batil, apakah saya atau dia yang menggunakannya. Belum lagi tentang penyembahan kepada Garuda Pancasila, tapi ia tidak pernah berpikir telah menyembah Bintang dan Bulan melebihi apapun. Siapa yang menggunakan perkataan hak untuk yang batil ?
Orang Islam dari manapun akan menangis atau bahkan tertawa hingga menangis ketika mendengar Hasan Tiro berjuang melawan Thogut NKRI, sesama muslim, bila NKRI itu Kolonialis Belanda yang notabene menjajah, maka Jihad itu bisa dilakukan seperti orang-orang di Iraq, Palestin, Khasmir, Morro, Afganistan, Chencya, tempat itu semua adalah medan jihad dimana semua mujahidin berdatangan dari penjuru dunia, tapi di Aceh ? Astagfirullahal’adzim, apakah ketika sebagian mereka sudah berlatih di Libya kemudian perang ini dikatakan Jihad. Sekali lagi, jangan bodohi lagi orang-orang Aceh, kenapa tidak berikan damai saja kepada kami semua.
Coba simak kata-kata ini
“Hasan Tiro pulang ke Acheh atas pengertian politik made in Indonesia. Artinya melakukan penipuan terhadap Indonesia. Kenapa bisa menipu? Bolehkah orang beriman menipu? Menipu itu tak boleh terkecuali menipu demi mencari redha Allah pasti dibenarkanNya. Ketika seseorang menanyakan kepada Rasulullah orang yang hendak dibunuh tanpa dibenarkan Allah dan Rasulnya. Rasulullah menjawab bahwa selama beliau disana tidak ada orang yang lewat. Memang Rasulullah berpindah tempat satu langkah saat itu, tapi menggeser satu langkah adalah untuk menipu orang tersebut bukan? Kenapa Rasulullah tidak mengatakan yang sebenarnya? Andaikata Rasulullah mengatakan yang sebenarnya justru Rasulullahpun ambil bagian dalam pembunuhan tersebut. Orang semacam anda terlalu bodoh untuk memahami hakikat perjuangan”
Muhammad Al Qubra mengatakan bahwa Rasulullah adalah penipu, bahkan Allah juga membenarkan penipuan, maka orang seperti ini yang bisa dipegang omongannya? Ia bahkan telah membawa nama Allah ketika menceritakannya. Ia sepertinya tidak mengetahui arti dari strategi dan tipu, apakah Nabi pernah menipu orang ? Perlukah saya jelaskan ini kepada majelis semua ? Nabi yang terkenal sebagai orang yang dipercaya tidak pernah menipu orang, laknatullah kau Muhammad Al Qubra. Jangan kau samakan itu tipuan Rasulullan dalam becandapun tidak pernah menipu, jangan samakan dengan Hasan Tiromu itu, kau sendiri yang sudah menjelaskan ia berpindah dengan melangkahkan kakinya, ia jujur. Ini adalah kesantunan budi dari Rosulullah. Hasan Tiro melakuakan itu ? Tidak mungkin. Rasulullah tidak pernah meninggalkan medan jihad, Rosulullah tidak pernah lari dari perang yang dipimpinnya, jangan kau terlalu banyak ungkit yang lain-lain Kau Muhammad Al Qubra, karena perjuangan mu ini sudah salah. Hasan Tiro memimpin perang dari Swedia, inikah pemimpin kalian ?
Dan jangan katakan juga bahwa TNI itu musuh rakyat Aceh, TNI bukan musuh masyarakat Gayo, pergi kau ke Gayo banyak TNI di sana, bilang kau GAM dan katakan orang Gayo bodoh karena mau dengan TNI, kau lihat apa yang akan diperbuat orang Gayo disana. Jangan macam-macam Kau dengan orang Gayo wahai Aceh Pungo. Lantas kau pergi ke Aceh Barat dan Selatan, dengarkan apa kata mereka yang mengatakan bahwa Hasan Tiro menipu, GAM penipu telah membawa uang orang Meulaboh untuk beli senjata. Jika tipu seperti ini kau samakan dengan apa ayng dikerjakan Rasulullah tadi maka Laknatullah Kau. Maaf, saya terbawa emosi.
Baiklah, kemudian dikatakan bahwa NKRI penipu, setuju, sebelum era reformasi semua rakyat Indonesia ditipu. Walau demikian uniknya lagi ternyata masih banyak juga yang mengatakan bahwa era Soeharto lebih baik, ntahlah, wallahu’alam bishowab. Permasalahannya adalah ternyata GAM telah melakukan penipuan-penipuan dalam MoU helsinky, siapapun tahu bahwa MoU itu hanya menguntungkan GAM dan anggotanya dan sudah terealisasikan di masyarakat, bukan. Sekarang siapa yang menipu siapa ?
Coba simak ayat yang dibawa untuk Perang Aceh:
Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS, 90:10).
Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan untuk membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS, 7:157 & QS, 90:12-18).
Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan sistem Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25).
QS 7:157 ternyata lebih menceritakan kita semua harus mengikuti Rosulullah, kemudian untuk QS 90:12-18 lebih mengisahkan tentang 2 jalan yang untuk haq dan batil, sedangkan QS Al Hadid:25 menceritakan tentang senjata untuk melakukan peperangan.
Rupanya Muhammad Al Qubra melalui QS 90:12-18, QS Al Hadid:25, mencoba untuk mengatakan bahwa dengan melepaskan diri dari perbudakan, memelihara anak yatim dan menegakkan agama Allah boleh dilakukan dengan kekerasan. Dan ini yang memang harus dilakukan oleh muslimin seluruh dunia, tapi ini tidak sesuai konteksnya di Indonesia.
Pertama: Indonesia merupakan sebuah Negara muslim terbesar di dunia, masih banyak orang-orang yang mengatakan Laa ILaha Illallah, masih banyak yang mengucapkan syahadat. Nah, tentunya ayat-ayat tersebut harus dilakukan sebuah kajian lebih lanjut,
Kedua, terlebih lagi yang diperjuangkan GAM itu bukan menegakkan kalimat Allah Laa Ila Illallah, akan menegakkan thogut Negara Aceh, tentunya amat sangat berbeda. Bila kita mengaitkan Islam tentunya yang diharapkan adalah tegaknya Khilafah Islamiyah, tapi rasanya itu memerlukan waktu yang panjang. Butuh sebuah persamaan persepsi menuju ke sana.
Ketiga, Sudah banyak ayat dan hadist yang mengatakan bila ada permusuhan diantara kamu maka didahulukan perdamaian bukan peperangan, dan penumpahan setetes darah muslim itu amat berat pertanggungjawabann ya.
Keempat: bila memang perjuangan GAM itu menegakkan kalimah Allah, maka sudah barang tentu akan banyak mujahidin internasional yang berbondong-bondong ke Aceh untuk mencari syahid. Malah yang datang ke Aceh adalah Mujahidin-mujahidin dari Indonesia dan internasional yang membantu mengangkat mayat-mayat rakyat Aceh, seluruh rakyat Indonesia.
Selanjutnya saya hanya ingin menyampaikan kepada majelis semua, agar berhati-hati dengan GAM, karena ada kemungkinan telah disusupi olah Yahudi, paling tidak kita pernah tahu bahwa istri Hasan Tiro adalah Yahudi, serta perjungan GAM juga sepertinya didukung USA. Sampai kapanpun Yahudi dan Kafirun tidak akan pernah membiarkan Negara terbesar penduduknya ini damai untuk dengan Islamnya.
Terakhir, siapa yang sakit jiwa Omar Poteh kah ? Atau Kosasih Bakar ? Orang yang gila perang dan membunuh orangkah ? Atau orang yang menginginkan perdamaian abadi dengan ALA dan ABBAS serta tidak ingin Aceh Merdeka ? Silahkan para pembaca memikirkannya ?
Berijin.
Sosok Pimpinan dan Mereka Strategi GAM (Dialog Dengan Bang Jems 2)
Bukankah indah dan cantik melihat sosok pemimpin yang berbeda pendapat yang tajam,bermusuhan dlm kampanye, namun setelah selesai pemilihan umum, mereka mengakui kekalahannya dengan sportif dan menghormati pihak yang menang. Persahabatan tetap dijaga dengan baik.Bisakah kita dan pemimpin2 kita mencontoh ini?. Ini adalah contoh perpolitikan di eropa , apakah di negri kita bisa mencontoh yg demikian ? , wallah hua'lam missawab
Jawaban Kosasih Bakar:
Amat sangat bisa Bang Jems, kecuali Gerakan Aceh Merdeka, tentunya tidak semua Aceh, mereka semua termakan Hasan Tiro yang berasal dari Aceh keturunan Tamil, lihat muyang datunya tidak pernah memberikan keamanan sampai sekarang di Sri Lanka. Baca saja posting-portingnya, lihat agenda tersembunyinya, lihat polanya, semua orang yang awam saja tahu itu.
Tokoh nasionalisme kita dahulu sudah jelas-jelas melakukannya, Soeharto dulu melepaskan jabatannya tanpa ada Gerakan dari TNI, walau waktu itu banyak TNI yang masih loyal dengan Soeharto. Soekarno juga melakukan hal yang sama. Bung Hatta terlebih lagi, Moh Natsir apalagi. Jadi tidak usah tanyakan itu kepada bangsa ini, yang jadi masalah adalah tipe-tipe pemberontak seperti Hasan Tiro.
Masa tuanya yang seharusnya dilalui dengan kedamaian dan keindahan malah menjadikan dirinya sebagai Juru Kampanye Partai Aceh, jadi jangan salahkan kami bila kami tidak suka Hasan Tiro, karena sampai tuanya masih saja menjadi pemicu penderitaan rakyat Aceh.
Hasan Tiro telah memberikan persamaan pemberontakkan di Aceh dengan Jihad, Naudzubillah Min Dzalik.
Hasan Tiro telah mengorbankan ribuan rakyat Aceh hanya untuk obsesi pragmatisnya dan instinknya saja. Ia tidak pernah menanyakan kepada rakyat Gayo apa keinginan dari mereka, ia tidak pernah menanyakan kepada Jamnee apa keinginan mereka, siapapun akan tahu ia tipe pemberontak yang lebih kepada kepentingan pribadinya.
Ketika ia damai apa yang rakyat Aceh dapat, malah kenikmatan hidup dari Panglima Sago dan anggotanya, inikah pemimpin anda ? Jawab !
Ketika dalam keadaan damai ada wacana dari orang terdalam sendiri dengan mengatakan, kepada seluruh anggota GAM, sekarang saatnya kita untuk bekerja keras untuk mencapai PERDAMAIAN ABADI (merdeka), inikah pemimpin yang anda banggakan ?
Ketika dalam keadaan damai kemudian menghitung perencanaan- perencanaan menuju kemerdekaan, seperti:
1. Kita harus bangun kekuatan, melalui dan BRR, tentunya setelah membentuk KPA terlebih dahulu, kekuatan kita sudah habis disapu tsunami, kita perlu merubah pola perjuangan kia sekaligus mempersiapkan hal yang terburuk.
2. KPA agar segera melakukan kembali membangun jejaring sebelum terbentuknya Partai Lokal, ntah apapun namanya. Rekrut sebanyak mungkin orang untuk masuk ke KPA, berikan mereka dana atau proyek. Tugas utamanya meyakinkan masyarakat, khusus Aceh Pedalaman dan Pesisir Barat Selatan yang ingin berpisah KPA agar betul-betul menggarapnya.
3. KPA juga bertanggungjawab untuk memenangkan PILKADA yang kadernya berasal dari GAM, gunakan semua kemampuan yang ada, bila perlua gunakan isu-isu, Perdamaian karena GAM, berikan mereka uang atau sedikit intimidasi jika memungkinkan tapi ingat jangan sampai dikatakan kita melanggar perjanjian Helsinky.
4. Setelah Partai Lokal terbentuk, kita harus dapat memenangkannya di seluruh wilayah Aceh, ini tujuan utama kita, karena bila ini berhasil maka kita bisa mendeklarasikan kemerdekaan Aceh tanpa harus meneteskan darah sedikitpun, kita akan mengguankan MoU Helsinky sebagai tempat kita untuk meminta pengakuan dari PBB.
Hal-hal yang perlu diwaspadai:
1. Pemekaran Wilayah ALA dan ABBAS, ini sangat riskan, sekali lagi kita akan takut-takuti Pemerintah Jawa - Indonesia dengan MoU Helsinky, walau sebenarnya MoU ini hanya kesepakatan belaka saja, tapi karena waktu Partai Lokal hadir dan akan ada Pemilu rasanya sampai disitu kita akan redam Pemekaran ALA dan ABBAS, KPA agar bertindak dengan benar untuk hal yang satu ini.
2. Gerakan-gerakan Partai Nasional agar diantisipasi betul, yang paling haryus diantisipasi adalah Parnas yang berideologi Islam seperti PKS, PPP, PAN dan PBB, karena rakyat Aceh dasarnya sangat Agamis, masuk kedalam jaringan mereka lalu cari kelamahan mereka dan hancurkan Partai mereka melalui wacana-wacana di masyarakat Aceh.
3, TNI, ini adalah musuh utama kita, mereka lebih terstruktur dan mempunyai loyalitas yang tinggi, sulit untuk diprediksi, dan mereka sama liciknya dengan kita. Ada baiknya untuk sekarang kita tersenyum saja dengan mereka, jangan terlalu membuat masalah, tenangkan diri, karena tujuan kita hanya satu Mendeklarasikan Kemerdekaan melalui partai Lokal.
4. Masyarakat, wacana yang paling penting adalah mengatakan bahwa Perdamaian di Aceh ada karena GAM, isu ALA dan ABBAS hanya dilakukan segelintir elit masyarakat, kalau perlu kita berikan uang yang banyak untuk daerah-daerah yang akan mekar tersebut.
Rencana Cadangan:
1. Jika ALA dan ABBAS sulit untuk diajak bersatu, maka kita lepaskan saja ALA, kita berfokus kepada ABBAS, daerah ALA sudah terlalu banyak suku Jawanya dan rakyat Gayo itu memang dari dulu tidak bisa satu dari Aceh, ABBAS sepertinya masih bisa kita lakukan pendekatan.
2. Tetapkan salah satu sayap GAM yang siap melakukan perjuangan kemerdekaan Aceh kembali, ini penting, minimal kita sudah bisa bangkit pasca tsunami.
Bayangnkan teman-teman, bila ini terjadi, rekaan ini hanya lah ada bila kita menganilisis MoU Helsinky, mendengarakan suara-suara dari KPA, melihat kejadian-kejadian di Aceh.
Jadi adalah tidak heran ketika saya mengatakan hilangkan saja MoU Helsinky itu tidak usah digunakan jika memang GAM menginginkan perdamaian, sekarang hampir separuh jalan yang dilakukan GAM.
Yang saya kuatirkan adalah GAM akan hilang dari muka bumi ini, karena jika rencana mereka dilakukan sudah barang tentu TNI juga sudah mempunyai perencanaan, mereka sudah asti sudah mendata seluruh anggota GAM, mereka tidak perlu lagi dikatakan melanggar HAM, karena pemberontak itu sudah jelas.
Lantas bila ini terjadi, siapa yang susah, tentunya rakyat Aceh juga, kembali dalam zona perang. Jika ini yang diingin Hasan Tiro dan kawan-kawannya, maka jelas percepat pemekaran ALA dan ABBAS, ini dikatakan kepentingan segelintir elit adalah bohong, [pada umunya rakyat Gayo mau pisah, mereka sudah bosan dengan PERANG BODOH. Sekarang zamannya Pilkada, siapa yang dekat dengan rakyat maka dia yang terpilih, begitu juga pemimpin di ALA.
Jadi Bung Jems, sebenarnya pemimpin yang dari mana yang seperti yang anda katakan itu ?
Rintihan Rakyat Aceh
Ya Allah Ya Tuhanku, berikanlah pencerahan hati kepada orang-orang Aceh, untuk tidak lagi melakukan pembunuhan sesama muslim yang memang engkau larang dan amat sangat kau larang tersebut. Mohon berikan kami kedamian seperti di Madinah, tidak ada lagi pertikaian-pertikai an.
Ya Allah, ya Tuhanku, Palestin adalah Kiblat kami yang pertama, mohon kiranya berikan kami merebutnya kembali seperti ketika Umar merebutnya dengan memberikan kedamaian, begitu juga ketika Sholahuddin merebut Masjidil Aqsho, kemudian membebaskan setiap umat beribadah.
Ya Allah, Ya Tuhanku berapa banyak para syuhada yang telah dibunuh oleh Anjing-anjing Israel bahkan kemudian berupaya mengadu domba antara Fatah dan Hamas hanya untuk menunjukkan kuasa mereka, begitu juga dengan halnya kaum muslimim yang teru sdi adu domba hanya untuk kepentingan Zionis Yahudi dan mencegah kejayaan Islam di bumi ini.
Ya Allah, Ya Tuhanku bom-bom isytihad sudah satu per satu meledak mengantarkan para syuhada dengan keharuman dan seluruh tanda kesaksianmu, mereka berjuang hanya karena ingin mendapatkan syurgamu, mereka hanya ingin berjuang membela penindasan-penindas an yang dilakukan oleh orang-orang Kafir serta membela tanah leluhur para Nabi-nabi,
Ya Allah, Ya Tuhanku, begitu banyak orang-orang Kafirun, Munafikun yang terus berupaya menghangcurkan Islam dengan berbagai cara Ya Allah, mereka bahkan mau menjadi antek-antek Yahudi dan orang-orang Kafir lainnya, mereka tahu Ya Allah bahwa Indonesia adalah Negara Islam terbesar di dunia ini Ya Allah, mereka terus memberikan ketidakamanan dan mengadudomba umat Islam yang ada di Indonesia Ya Allah, hancurkan mereka Ya Allah, biarkan Islam bangkit di seluruh dunia ini.
Ya Allah, Ya Tuhanku, bila ada yang mengangkat soal Palestina ini untuk kemudian menyamakan dengan kemerdekaan Aceh, kutuk lah ia Ya Allah. ia telah menyamakan Palestina dengan Aceh yang notabene telah mengadu domba sesama Islam untuk dihalalkan darahnya, mereka yang berjuang bukan untuk kepetingan Agama Mu Ya Allah, hanya mencari kemerdekaan yang Semu.
Ya Allah Ya Tuhanku, bila ada yang menyamakan Palestine dengan Aceh, rajamlah ia Ya Allah, nyata-nyata ia telah merendahkan perjuangan para syuhada, nyata-nyata ia telah menghina setiap tetes darah para syuhada, nyata-nyata ia telah menyalahkan arti perjuangan Intifadha.
Ya Allah, Ya Tuhanku, bila ada yang menyamakan Palestine dengan Aceh, hancurkan ia Ya Allah, ia telah berani menyamakan sebuah perjuangan suci dengan perjuangan yang sekian lama hanya memberikan kehancuran bagi rakyat Aceh, yang sekian lama telah mengadudomba sesama muslim di Aceh.
Ya Allah, Ya Tuhanku, belum cukup kiranya tsunami untuk menyadarkan orang-orang seperti ini, belum cukup kiranya penderitaan yang dialami rakyat Aceh, belum cukup kiranya ketika engkau memperlihatkan kekuasaan Mu disana, tolonglah kami Ya Allah, sudah cukup rakyat Aceh ini terus diadudomba hanya untuk kekuasaan yang tidak engkau ridhoi itu.
Ya Allah, Ya Tuhanku, kenapa tidak engkau berikan tsunami lagi hanya kepada orang-orang yang memang selalu membuat ketidaknyaman rakyat Aceh, kenapa tidak kau berikan tsunami hanya kepada orang-orang yang menyamakan perjuangan suci di Palestine dengan perjuangan di Aceh, berikan kami perdamaian abadi Ya Allah.
Ya Allah, kami serahkan segalanya kepada Engkau, hanya Engkau tempat kami berlindung, hanya kepada Engkau tempat kami meminta dan memohon, berikan kami kedamaian dan ketenangan, berikan kami kekuatan dan pemimpin yang bisa memimpin kami untuk menghancurkan orang-orang yang selalu membuat keonaran dan kemunkaran di bumi Aceh. jadikan kami orang-orang yang terhormat bukan pengkhianat atau pembunuh sesama muslim.
Amin.
Allahu Akbar.
13 November 2008
GAM dan Asy-syahid (Dialog dengan Muhammad Al Qubra)
Mari kita ber afala ta'qilun dan afala yatazakkarun! !!
Anda nampaknya hanya membenarkan Amrozi tapi menyalahi GAM.(baca Gerakan Acheh Merdeka). Hampir diseluruh bumi ini kaum dhu'afa diperlakukan secara tidak adil oleh system yang berlaku, Proses tersebut berlangsung terus sampai munculnya pemimpin dikalangan kaum dhu'afa atau rakyat jelata yang senantiasa dirugikan oleh system tersebut. Kami orang - orang Acheh - Sumatrapun menerima perlakuan yang tidak adil dari penguasa Indonesia. Disamping itu para penguasa Indonesiapun mengeruk hasil bumi Acheh - Sumatra untuk memperkaya diri golongan mereka, sementara rakyat Acheh menderita kemiskinan, dimana kebanyakan dari mereka tinggal di gubuk -gubuk derita. Sementara para transmigran yang datang dari Jawa hidup di rumah - rumah yang cukup lumaiuan serta dilengkapi dengan listrik. Mereka ini digunakan penguasa Indonesia sebagai peluru yang tidak berbunyi, dimana pada suatu saat mereka dapat bersuara mayoritas untuk Indonesia Jawa sebagaimana yang terjadi di Takengon.
Dr Hasan Tiro muncul untuk memberikan kesadaran kepada rakyat Acheh. Lalu kami menyatakan pada Dunia bahwa kami merupakan sebuah negara yang berdaulat. Kami dianugerahi minyak bumi yang lebih dari cukup dari keperluan bangsa kami. Kami akan memberikan sebagian hasil bumi kami untuk para yang menderita dimana saja dibelahgan bumi ini. Demikianlah kira - kira pernyataan Wali kami itu, lebih kurang. Pernyataan tersebut di jawab oleh tentara dan polisi Indonesia dengan peluru. Kalau anda katakan bahwa tentara itu muslim, kenapa mereka tidak membawa kami ke mahkamah Internasional, kalau memang tidak ada mahkamah Islam. Kenapa juga mereka berkaok - kawok keseluruh dunia bahwa negara mereka negara Demokrasi.
Sebahagian pejuang kami Syahid ditangan serdadu Indonesia, lalu anak mereka (baca anak Yatim) tidak cengeng tapi mengikuti jejak ayah mereka untuk melawan kebiadaban tentara dan polisi Indonesia. Dipihak sipiul jawa ada juga yang mati ditangan TNA. Hal ini disebabkan tidak menggubris peringatan TNA agar minggir dari Acheh - Sumatra. Mereka bersedia sebagai peluru yang tidak berbunyi. Orang inilah saya katakan bahwa andaikata mereka termasuk orang yang beriman, mereka akan mendapat balasan yang baik dari Allah swt tapi prediksi saya sepertinya tidak ada yang briman dikalangan mereka.
Singkat ceritanya, Tsunami muncul lalu mematikan banyak tni yang berjaga - jaga dipinggir laut, sementara TNA aman di gunung. Sebetulnya nampak bahwa musibah itu Diturunkan Allah untuk menghancurkan tni bukan TNA. Andaikata musibah itu untuk menghancurkan TNA tentu gunung yang diledakkan bukan bukan laut. Musibah itu juga untuk meluluh lantakkan orang - orang kota yang menikmati kesenangan dan tidak mau peduli atas penderitaan orang - orang kanmpung, Kebanyakan penduduk kota itu bukan orang Acheh - Sumatra tapi orang - orang Jawa dan orang - orang yang pro Indonesia.
Hikmah lainnya dibalik tsunami itu, terbukanya kesempatan kepada pihak luar negeri untuk menyaksikan kondisi Acheh - Sumatra. Akibatnya tni dan poklisi tidak bisa lagi berbuat semena - meda terhadap rakyat jelata Acheh - Sumatra. Justru itu mereka senantiasa membuat propokasi agar orang luar negeri keluar dari Acheh, supaya mereka dapat meneruskan sandiwaranya.
Entah bagaimana akhirnya tentara AS dan Australia berhasil juga dipropokasikan keluar hingga mereka dapat menjalankan kemunafikannya. Akhirnya terjadilah kesepakatan MoU Helsinki. Sebetulnya andaikata pihak menengah proaktif terhadap perdamaian Helsinki, Acheh tidak akan mengalami kondisi yang anda saksikan sekarang ini. Maksud saya Pihak Indonesia tidak menepati janji. Mereka tetap berdaya upaya untuk mempertahankan jajahannya di bumi Acheh - Sumatra.
Adalah keliru sekali ketika anda katakan bahwa sedikit orang Indonesia yang mati dalam peristiwa Bali tersebut tapi orang kafir yang banyak. Kalau begitu tujuan mereka untuk membunuh orang kafir? Adakah perintah Allah dan Rasulnya untuk membunuh orang yang berlainan agama dengan kita? Yang ada perintah dari Allah dan Rasulnya, melawan kedhaliman sebagaimana kedhaliman terselubung dengan kedok NKRI. Allah juga memerintahkan kita untuk memerangi orang yang memerangi kita. Sementara kepada orang yang berlainan agama Allah berfirman : "Lakum dinukum waliadin" Kalau Amrozi ngebom Bali untuk memprotes kedhaliman sex bebas di daerah tersebut, sebagai teror terhadap penguasa Indonesia masih wajar tapi kalau tujuannya untuk membunuh orang kafir, bermakna dia itu keliru 180 derajat. Tapi benarkah sebagaimana anda katakan? Siapakah anda? Pengikut Amrozikah atau orang Acheh yang anti kepada perjuangan Acheh
Kalau benar sebagaimana keterangan anda, dapat dipastikan bahwa Amrozi cs tidak pernah sama dengan GAM dan sayapun menarik balik pernyataan sebelumnya. Kalau tujuan Amrozi cs untuk membunuh orang kafir, sekali lagi saya katakan kelompok mereka itu keliru 180 derajat. Allah tidak akan redha terhadap golongan yang demikian. Berarti mereka sangat dangkal pemahaman Islamnya. Mereka mengira bahwa bahwa tentara dan polisi Jawa itu Islam? Islam bagaimana mereka itu? Mereka itu lah yang diperintah Allah untuk diperangi andaikata kita punya kekuatan. Mereka itu memang bukan kafir tapi Munafieq "Waminanna simayyaqulu amanna billahi wabil yaumil akhiri wama hum bimuk minin" (QS, 2 8) Tak perlu saya terjemahkan bukan?.
Andaikata di Jawa muncul seorang pemimpin yang beriman, sudah saatnya untuk berevolusi, bukan reformasi (baca tambal - sulam) Indonesia itu bagaikan sebidang tikar lapuk. Tidak boleh diobati lagi system tersebut (baca harus dibeli tikar lain). Lihatlah reformasi ala Amin Rais, kemana juntrungnya sekarang ini? bukankah sudah membaur lagi dalam kedhaliman paska Suharto? Kapankah rakyat jelata Jawa menikmati hasil kemerdekaannya kalau memang mereka mengira Indonesia itu sudah merdeka?
Sekarang tepatnya saya sebut saja "kalian".
Kalian linglung sekali disatu sisi kalian menyatakan harus berdamai dengan sangkaan kalian bahwa tentara Jawa orang Islam juga tapi di lain sisi anda mengecam MoU Helsinki
Benar GAM bukan memperjuangkan agama Islam. Sebab Islam itu masuk ke Acheh duluan lalu orang Acheh mengislamkan Orang jawa kemudiannya tapi mereka tidak menerima Islam sepenuhnya kecuali mereka campur dengan paham Jawa kuno, macam gado -gado atau jamu gendongnya Megawati. Dengan tabi'at "Ewuh pakewuh" yang dimilikinya akhirnya menikam bangsa Acheh dari belakang setelah mereka ditarik dari sumur yang begitu dalam. Pahamkah kalian yang kumaksudkan di alinia ini?
Kalian benar-benar lugu. Pertama sekali yang harus dilakukan GAM, membebaskan Acheh - Sumatra dari penjajahan Indonesia - Jawa. Selagi Acheh - masih di jajah Indonesia Jawa, agama di Acheh tetap tidak bisa jalan, mengertikah kalian? Lihatlah sekarang sandiuwara yang dimainkan oleh pihak Indonesia hipokrit untuk menerapokan Syariat Islam di Tanah Rencong. Lalu apa yang terjadi? . . . . . . .Mereka menerapkan hukum laba - laba. Tahukah kalian apakah hukum laba - laba itu? Silakan baca tulisan berikut ini agar kalian paham apakah yang dimaksudkan hukum labalaba dan mengapa musti membebaskan diri dulu dari penjajahan bukan langsung menerapkan hukum Islam:
HUKUM LABA-LABA MODEL YUDHOYONO & MEGAWATI
(Muhammad Al Qubra)
ACHEH - SUMATRA
HUKUM LABA-LABA MODEL SUSILO BAMBANG YUDHOYONO TURUNAN DARI UU NO.18/2001 MADE IN MEGA CS DAN AKBAR TANDJUNG CS
Hukuman cambuk untuk penjudi memang hal yang wajar. Namun perlu dipertanyakan dulu beberapa hal yang sangat penting.
1. Bagaimana mungkin diterapkan hukum cambuk kepada penjudi, sementara pembunuh yang paling dhalim dari penjudi dibiarkan begitu saja (pembunuhan semena-mena yang dilakukan TNI/POLRI)
2. Bagaimana mungkin hukum itu di terapkan kepada orang biasa sementara kalau pelakunya pejabat pemerintah bebas sama sekali dari hukuman. Hukuman yang demikian namanya "hukum laba-laba".
Lihatlah jaringan laba-laba yang pertama sekali berada di tempat kotor, artinya di negara yang dhalim seperti Indonesia. Ketika njamuk, belalang dan serangga lainnya yang lewat terjaring dengan mantap. Namun ketika burung yang lewat dapat menembusinya. Lalu datanglah kambing, anjing dan babi untuk menginjak-injak hukum tersebut. Demikianlah yang sudah berlaku di Indonesia Munafiq dan dhalim itu
Hukum "labalaba" hanya diberlakukan kepada rakyat jelata, sementara anggota keluarga dan kawan dekat pejabat negara bebas dari hukumannya (baca segala jenis burung yang mantap terbangnya). Kambing, anjing dan babi diumpamakan sebagai pejabat negara mulai dari camat, bupati, gubernur, menteri-menteri. Akhirnya datanglah serigala-serigala haus darah (baca TNI/POLRI) untuk merobek hukum itu sendiri.
Kalau rakyat jelata sudah agak sadar melihat ketimpangan- ketimpangan pemerintah hipokrit itu, mulailah antek-antek Yudhoyono itu bersandiwara untuk menerapkan "syariat gadongan". Hal ini membuat masyarakat internasional salah paham terhadap orang-orang Islam Acheh.
Pemimpin pemimpin Islam Acheh dan rakyatnya yang sudah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri (membebaskan diri dari pemerintah Indoinesia Munafiq itu yang sudah begitu lama mempraktekkan hukum "labalaba" di kepulauan Melanesia itu), tau persis akan sandiwara yang sedang dimainkan antek-antek "pencuri 7" itu.
Pemimpin-pemimpin Islam Acheh dan rakyatnya yang sudah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri, tau persis bahwa jangankan sekarang, setelah merdekapun bukan hukum dulu yang diprioritaskan, melainkan Finansial hidup rakyatnya. Sebab semua ketimpangan sosial itu berpunca pada finansial hidup rakyat itu sendiri.
Bagaimana mungkin hukum diterapkan kepada kaum dhu'afa sementara mereka tau persis bahwa itu adalah hukum "Laba-laba". Bagaimana mungkin rakyat tidak melanggar hukum sementara pembesar-pembesar negara tidak berbuat adil terhadap mereka. Negara adalah milik rakyat, namun hanya sebahagian orang yang bersekongkol dengan pembesar-pembesar negara sajalah yang menikmati fasilitas negara.
Mereka (baca penguasa Indonesia munafiq) mengurus harta negara macam mengurus harta milik moyangnya, sementara orang-orang yang menuntut keadilan mendapat perlakuan yang hina dari antek-anyek penguasa dhalim tersebut. Demikianlah yang diaplikasikan di Acheh sejak dari Sukarno sampai Yudhoyono sekarang ini.
Islam sejati adalah Islam rahmatan lil alamin. Pemimpin Islam sejati tidak hanya memikirkan kesejahteraan orang-orang Islam saja tapi segenap manusia apapun latar belakang agamanya. Justru itu andaikata suatu negara dipimpin oleh orang-orang Islam sejati (yang mewarisi keimamahan Rasulullah saww), sudah barang pasti rakyat di negara tersebut mendapat keadilan seluruhnya. Bukan saja manusia yang menikmati kemerdekaan, namun binatangpun terlindung dari perbuatan semena-mena. Lucunya justru di Norwegia dan beberapa negara eropa lainnya yang kita saksikan fenomena tersebut.
Sayang nya diabad ke 21 ini dan juga abad-abad sebelumnya, tidak kita saksikan realita itu di kawasan Asia dan afrika, kecuali di Republik Islam Iran.
Sayangnya lagi republik yang satu ini senantiasa mendapat fitnah dari negara-negara kawasan Asia - Afrika lainnya. Hal ini dapat di mengerti oleh orang-orang yang mau "berafala ta' qilun dan afala yatazakkaraun" .
Bagi pemimpin pemimpin dan orang-orang yang berpendidikan, sudah waktunya untuk melupakan perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil demi tergalangnya persatuan yang dapat menghambat "sandiwara-sandiwar a" yang dimainkan antek-antek dari "yazid-yazid" moderen dimanapun kawasan yang penduduknya mengaku diri Islam, termasuk di Acheh yang sedang kita sorot ini.
Islam sejati, jangankan kepada orang Islam yang berbeda aliran, kepada orang yang berlainan agamapun, dilarang memudharatkannya, sebaliknya saling menghormati dalam kontek kemanusiaan.
Justru itu sayang seribukali sayang ketika kita menyaksikan banyaknya orang yang mengaku diri "Islam", namun membunuh orang Islam lainnya disebabkan berlainan mazhab.
Demikian jugalah serigala-serigala yang haus darah (baca TNI/POLRI) yang sedang mengadakan pembunuhan besar-besaran di Acheh - Sumatra.serta seluruh orang-rang yang bersatupadu dalam system muafiq tersebut., Sesungguhnya mereka tidaklah termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman, melainkan munafiq. Kendatipun mereka tinggi pendidikannya sampai mendapat titel DR, Propessor, Kiyai dan bahkan banyak yang mengaku diri sebagai "Ulama".
Mereka nampaknya pintar, namun tidak teguh iman. Justru itulah mereka tak mampu memahami kesalahan mereka yang fatal dibidang Tauhid/Aqidah/ Idiology.
Mereka tidak mampu melihat realita sejarah yang "haq", di mana kita dapat menemukan representantnya untuk kita teladani. Repre sentant itulah yang mampu menterjemahkan Al Qur-an secara benar.
Bagaimana mungkin buku resep obat dapat digunakan dengan efektif tanpa mendapat penjelasan dari dokternya. Tanpa dokter, buku resep obat itu tidak dapat digunakan secara tepat guna.
Sekarang kebanyakan orang Indonesia sudah tertutup mata hatinya disebabkan begitu lamanya mereka bersekongkol dalam system yang munafiq tersebut yang sudah begitu banyak mereka bunuh orang-orang yang tidak berdaya (baca kaum dhuafa yang dibunuh sejak dari pemerintahan "Yazid - Sukarno", Suharto, Gusdur, Megawati dan "yazid - Yudhono"), yang sedang bersandiwara sekarang ini.
Kenapa mereka tidak mampu berfikir padahal mereka jauh lebih pintar dari orang yang mengatakan bahwa mereka tidak mampu berfikir? Jawabannya terpampang di pintu gerbang Ilmu: " Dilarang masuk orang-orang yang tidak beriman" (QS.56:79) Justru orang Islam munafiqlah yang membuat citra Islam tergadai marwahnya di mata Internasional. Pertama sekali Internasional melihat kenapa orang-orang Islam itu saling membunuh sesamanya. Mereka sepertinya tidak mengetahui bahwa tdak pernah terjadi di permukaan planet Bumi ini, orang-orang Islam saling membunuh sesamanya.
Yang sering terjadi Justru Orang Islam munafiq membunuh orang Islam sejati, sehingga terjadilah perlawanan dari orang-orang Islam sejati untuk membela diri.(baca TNI/POLRI vs TNA, komunitas Syah Reza Palevi vs komunitas Imam Khomaini, Yazid bin Muawiyah vs Imam Husein bin 'Ali, Mu'awiyah bin Abi Sofyan vs Imam 'Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah dan Zuber bin Awam vs Imam Ali, Marwan bin Hakam vs Muhammad bin Abubakar, pemimpin yang dipilih rakyat vs pemimpin yang ditunjuk Rasulullah saww sendiri dan yang terdahulu sekali Qabil vs Habil)
Sepak terjang orang-orang munafiq itu dapat kita saksikan dalam surah Al Baqarah dari ayat 8 s/d 20 plus surah Al munafiqun dan masih tersebar lagi di berbagai surah blainnya. Banyak orang terkecoh dengan apa yang berkomat kamit di mulut mereka, sementara mereka lupa dalam sepak terjangnya. Padahal mereka memahami bahwa syarat tauhid itu ada tiga:
Pertama. Mengucap dengan lidah.
Kedua: Mentasdiqkan dengan hati dan yang menentukan adalah:
Ketiga: Aksi, Aplikasi atau sepak terjang dalam realita hidupnya:
-- Apakah mereka bersekongkol dalam system Munafiq ?
-- Apakah mereka termasuk dalam golongan yang menghambat perjuangan suci ?
--Apakah mereka mengenal betul pemimpin yang "haq" dita'ati di jamannya ?
Apakah dia sekedar berbicara dengan lidah tanpa dibuktikan dengan realitanya kedalam golongan mana dia bergabung dalam hidupnya ? Golongan "Habilkah" ataub golongan "Qabil".Apakah dia menaiki "Bahtera Nabi Nuh" atau tidak, menaiki "Bahtera Ibrahim" atau "Namrud", "Bahtera Musa wa Harun" atau "Fir'aun", "Bahtera 'Isa bin Maryam" atau "Kaisar-kaisar" di Roma, bahtera Muhammad atau Abu Sofyan, bahtera Ali atau Mu'awiyah, bahtera Hussein atau Yazid, Bahtera Ayatullah Khomaini atau Syah Pahlevi, bahtera Hasan Muhammad di Tiro atau Yazid-yazid moderen (baca Sukarno, Suharto, Gusdur, Megawati dan Yudhoyono)
Demikianlah penjelasan saya semoga siapapun yang menamakan diri orang Acheh menghindarkan diri dari propokasi antek-antek "yazid- - Yudhoytono". Sudah sa'atnya untuk bertaubat sebelum nyawa berada dikerokongan. "Memang pahit bak pel Keunine, namun itulah yang dapat menjembuhkan penyakit malarianya kalian" (Husaini Daud Sp)
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
(Acheh - Sumatra)
Jawaban Kosasih Bakar
Mari kita Ber Istigfar dan Memohon Perlindungan dari Allah SWT dengan Segala Kebodohan kita
Saya tidak membenarkan atau menyalahkan Amrozi CS, karena dalam permasalahan tersebut masih banyak fakta yang belum terungkap. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ini merupakan salah satu operasi intelijen untuk menyebarkan war of terorism atau war of Islam. Imam Samudra sendiri mengatakan keheranannya atas ledakan bom yang begitu besar serta mobil yang digunakan ternyata berbeda dengan apa yang telah disepakati dalam pertemuan terakhir mereka dalam melakukan aksi. Namun, saya tidak bisa menyamakan aksi mereka dengan aksi GAM dengan alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya.
Perlakuan ketidakadilan terhadap kaum dhuafa sepertinya tidak terjadi di Aceh saja, akan tetapi terjadi diberbagi tempat di belahan bumi ini. Kemiskinan itu merupakan salah satu sunnatulah yang tidak bisa dihilangkan dari muka bumi ini. Dan hal ini tidakhanya terjadi di NAD saja, akan tetapi di seluruh Indonesia, saya rasa sebagai orang yang mengikuti berita anda tahu akan hal ini. Bila ditelusuri lebih dalam lagi apa yang menyebabkan hal ini terjadi maka ada banyak faktor yang mengikutinya.
Sebagai salah satu contoh pendidikan, ketiadaan keterampilan hidup dan keamanan.
Ketika GAM mendeklarasikan untuk perang dengan saudara seiman, maka GAM sudah tahu ia sudah menjadikan seluruh Aceh sebagai zona Perang, apa tujuannya tentunya Kesejahteraan Rakyat Aceh, merasa diperlakukan tidak adil. Tujuannya terlihat begitu indah, akan tetapi tanpa memperhatikan dampak yang diakibatkan di masa yang akan datang. Inilah yang menjadi perhatian saya pertama kali, ketika seseorang itu dikatakan Jihad adalah apa tujuannya ? Siapa lawannya ? Hal yang terpenting dari Jihad adalah menegakkan kalimat Allah, ’Laa Ilaha Illallah’ bukan ’Tuhan Kita Hasan Tiro’, ketika anda mengatakan ini jelas sudah anda telah mengangkat thogut dalam diri anda. Islam tidak pernah menghambakan diri kepada Manusia. Bahkan dalam Islam sendiri itu ayat Al Qur’an menjelaskan bahwa kita harus mentaati Allah, Rosulullan dan Ulil Amri, siapa Ulil Amri kita, silahkan jawab sendiri, dengan melihat kondisi kita sekarang, kita tetap di bawah naungan NKRI. Mungkin pada abad 14 atau 15 sudah barang tentu ulil amri anda adalah Iskandar Muda atau Raja Gayo, karena waktu itu tidak ada yang namanya suku Aceh, yang ada hanya pendatang dari tamil, arab dan china atau negeri lainnya.
Saya punya cerita untuk anda kenapa Pidie tidak mau disebut Aceh Pidie, karena Aceh itu sebutan yang diambil dari bahasa Melayu atau Gayo, ”ASU” atau binatang dalam bahasa Indonesianya. Nama Aceh baru ada pada literatur orang Portugis tahun 1520, ketika itu mereka tidak bisa mengatakan ASU dengan benar sehingga mengatakannya secara sengau ’Atjeh’. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa hal ini terjadi, kenapa orang yang di pasisir itu dikatakan Asu, ternyata ini dibuktikan bahwa pada daerah pesisir itu untukurusan dagang berdagang didaerah tersebut sering melakukan hal-hal tercela, tipu menipu sampai-sampai Kerajaan Linge atau Sultan Iskandar Muda mengeluarkan hukum-hukum keras terhadap mereka.
Kembali kepada GAM (baca Gerakan Actjeh Merdeka), jika tujuan dari GAM adalah menegakkan syariah Islam pada awalnya, dan ketika itu juga TNI yang datang adalah Non Muslim, sehingga saya merasakan ini adalah skenario untuk menjadikan Aceh sebagai daerah Perang. Karena dunia internasional mengetahui bahwa Aceh akan berpotensi menjadi besar dari sisi SDM maupun SDA nya. Saya mengerti betul ini. Seharusnya Hasan Tiro sebagai seorang pemimpin waktu itu juga menyadari hal ini, bahwa ia telah di peta konflikkan dengan saudara seimannya.
Pendekatan perlawanan GAM dengan metode stigmata terhadap suku Jawa juga salah, karena Islam jelas tidak membedakan seseorang pun dari suku manapun, kecuali ketaqwaannya. Permasalahannya lagi adalah pada daerah tengah, barat dan selatan Aceh itu sudah banyak transmigran yang masuk, sehingga setiap konflik antara Aceh dan Jawa sebenarnya akan membahayakan.
Pendekatan perlawanan GAM dengan metode dendam juga menjadi amat salah, karena Islam tidak pernah mengajarkan seseorang itu berjihad dengan tujuan dendam. Sejarah Rosul sudah menunjukkan bagaimana ia mengawini Hamdun, yang telah membunuh Hamzah, pamannya. Atau bagaimana seorang Khalid Bin Walid ketika menjadi Panglima Quraisy yang telah membunuh banyak muslimin beralih menjadi Panglima Muslim yang berbalik banyak membunuh orang Kafir.
Pendekatan ini semakin salah lagi dengan adanya MoU Helsinky, isinya betul-betul untuk mantan GAM, hanya ini yang saya sesalkan. Seharusnya jika para pemimpin GAM itu juga pintar mereka tidak melakukan kesalahan apa yang dilakukan oleh Hasan Tiro, dipetakonflikkan dengan NKRI. Berbahanya MoU ini adalah GAM dipetakonflikkan dengan seluruh rakyat Aceh, dan semakin hari semakin terlihat hasilnya akibat MoU tersebut, seperti KPA-KPA, BRR dsb...dsb.. Makanya kami memberikan solusi pemekaran wilayah untuk mencegah itu semua, karena mantan anggota GAM itu kebanyakan tidak mempunyai keterampilah hidup dan berpendidikan, mereka juga kebanyakan berasal dari korban konflik, sehingga pendekatan mereka lebih kepada dendam.
Saya juga tidak setuju dengan apa yang dikatakan tentang bahwa orang-orang Jawa hidup nyaman, ketika mereka ke NAD mereka adalah transmigran, anda kiranya tahu kehidupan seorang transmigran, mereka membuka hutan terlebih dahulu, berkebun, baru menerima hasilnya tahun-tahun mendatang setelah melakukan kerja keras. Bandingkan dengan orang Aceh sendiri yang pada dasarnya berdagang, atau bahkan mungkin tidak mau berkebun seperti orang Gayo atau Jawa. Ini juga sebuah kesalahan.
Ketika tsunami datang, sebenarnya korban bukan saja dari TNI, TNA juga, banyak gudang-gudang senjata TNA sudah hilang, musnah ditelan air. Karena sesungguhnya jalur GAM melakukan penyelundupan senjata itu dari laut, bukan dari darat. Dan banyak dari daerah-daerah tersebut yang tidak bisa dimasuki TNI, jadi sekali lagi kerugian lebih banyak pada GAM. Secara mudahnya semua senjata TNI itu akan mudah didatangkan kembali dari Jakarta.
Yang perlu anda ketahui untuk perspektif DUNIA INTERNASIONAL, Amerika dan Australia tidak akan pernah selamanya membiarkan negeri Islam damai, terlebih lagi Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dengan berontaknya Aceh, sudah barang tentu mereka akan senang, bukankah sudah lihat bagaimana AlQoida digunakan oleh Amerika untuk menghancurkan Uni Soviet. Bung, anda itu harusnya sebagai Muslim yang kaffah berpikir bagaimana mendirikan Khalifah Islamiyah, bukan mendirikan Negara Aceh.
Sedangkan untuk dukungan dari Mujahidin di Aceh sekarang juga jauh berkurang, karena apa, karena sekarang ketika syariat Islam dijalankan maka Pemerintah Irwandy sepertinya kehilangan taringnya, malah AIDS dan penyakit dekadensi moral lainnya sudah ada di Aceh. Atau para Mujahidin semakin menangis ketika ternyata sepak terjang GAM sekarang jelas berafiliasi kepada USA dan UNI EROPA.
Sekali lagi Hasan Tiro rupanya telah menjadikan perang ini menjadi PERANG BODOH.
Untuk diketahui sebelum ada PERANG BODOH ini, maka rakyat Gayo dalam keadaan baik-baik saja, mereka berkebun. Namun setalah ada PERANG BODOH ini, menjual hasil kebunnya saja susah, mendapatkan sembako saja susah, kenapa karena ada PERANG BODOH.
Belum lagi Barat dan Selatan, yang sudah ditipu oleh GAM, uang yang diberikan dilarikan dan dibelikan senjata, tanyakan saja langsung kepada orang sana. Belum lagi keluhan mereka yang mengatakan bahwa GAM yang ada disini merupakan GAM yang berasal dari pantai timur Aceh, mereka merasa muak. Mereka hanya ingin bekerja. Inikah yang dinamakan dengan PERJUANGAN GAM.
Dalam Islam, perdamian adalah nomor 1, tapi MoU itu hanya mauin-main dan hanya untuk kepentingan GAM, anda tidak betul-betul ingin berdamai. Silahkan anda lihat sendiri. MoU Helsinky, KPA, Partai Lokal dan Referendum. Atau apakah adil ketika MoU itu mempermasalahkan tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh TNI, tapi tidak pernah mempermasalahkan pelanggaran HAM oleh GAM. Apakah itu adil ? Atau ketika KPA-KPA dengan adanya MoU tersebut seolah-olah berkuasa penuh untuk segalanya.
Saya hanya menawarkan satu hal untuk Aceh aman, pemekaran wilayah ALA, ABBAS dan ACEH (itupun kalau mau orang Pidie dikatakan Aceh Pidie). Banyak keuntungan dari pemekaran wilayah ini, semua sudah duduk sama tinggi, saling menghormati.
Saya bukan pendukung siapapun, bagi saya kematian Amrozi adalah urusan Amrozi SC dengan Allah SWT. Karena tidak seorang pun tahu dia akan masuk syurga atau neraka, karena itu adalah urusan Allah. Jadi ketika MUI mengatakan mereka tidak syahid atau Baasyir mengatakan mereka syahid, yang benar mereka semua tidak tahu apapun tentang itu, karena itu urusan Allah tergantung dengan niat mereka masing-masing.
Inilah yang saya takutkan jika Aceh Merdeka, maka yang terjadi adalah sifat sukuisme yang sangat tinggi, walaupun sesungguhnya suku Aceh itu tidak ada, tidak seperti suku Gayo dan Jawa yang jelas keturunan mereka dari mana. Ketika mereka merdeka maka yang pertama kali mereka lakukan memusnahkan suku Jawa dan Gayo dan Jamnee, dengan cara mengadu domba mereka satu dengan yang lain. Inikah yang dinamakn Jihad ? Membenci kepada hanya satu suku, Jawa – Indon. Menyedihkan.
Merdeka dulu baru menerapkan Hukum Islam, lucu sekali ya. Seharusnya anda tahu sekarang resistensi dengan GAM itu sudah meningkat, ALA dan ABBAS sebagai bukti nyata yang tidak bisa dipungkiri. Belum lagi perpecahan diantara anda sendiri. Memang GAM itu haus darah? Mengorbankan rakyat Aceh untuk maksud dan tujuannya, atau jangan sampai kami menyesal dengan GAM bahwa ternyata dengan MoU sedang menyusun kekuatan kembali untuk kembali memberontak, dengan korban kembali rakyat Aceh.
Tapi rakyat Aceh sudah sadar, zaman sudah berubah, setiap pemberontakkan oleh GAM akan dibayar. Kalau nanti milisi itu hanya ada di tengah Aceh, maka jangan salahkan milisi itu akan ada pada setiap sudut Aceh. Karena kami tahu Gerakan anda sekarang hanya untuk mengenyangkan perut anda sendiri. Itu pula yang menyebabkan saya katakan ubah MoU itu, tidak ada maksud lain. MoU itu bukan Al Qur’an, bukan sebagai Kitab Suci siapapun. Mari diubah untuk kemshalatan Rakyat Aceh, bukan untuk kepentingan golongan.
Mengenai sarang laba-laba, rasanya anda terlalu naif. Sarang laba-laba adalah banyak digunakan untuk obat, bahkan sering kali dikatakan sebagai bahan terkuat yang digunakan dalam anti peluru jika diolah dengan benar. Atau sarang laba-laba adalah yang menyelamatkan Rosulullan dari kejaran Kaum Quraisy ke Gua Hiro.
Namun, jika mau menggunakan analogi tersebut bisa saja, tapi rasanya analogi tersebut bisa digunakan bagi setiap orang yang berkuasa dengan yang tertindas. Sehingga bisa saja dikatakan hal ini ketika GAM memaksa meminta pajak nanggroe kepada rakyat Aceh, atau GAM memaksa atau mendoktrin koban konflik untuk masuk menjadi GAM, dsb.. dsb