Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

24 November 2008

Perbedaan Hasan Tiro dan Daud Beureuh

Indonesia sebenarnya tidak hanya Aceh saja yang melakukan pemberontakkan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), selain Aceh juga ada tokoh-tokoh muslim lainnya seperti Karto Suwiryo, Kahar Muzakkar, Amor Fattah, Ibnu Hadjar, sedangkan dari Aceh adalah Daud Beureuh.

Daud Beureuh Mendukung Kemerdekaan RI dan Mengutamakan Saudara Seiman
Hal yang menarik adalah ternyata Daud Beureuh itu adalah seorang pendidik, ialah yang memulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam melalui Pendidikan, dengan mendirikan Madrasah Sa'adah Ahadiyah di Blang Paseh di Sigli. Bahkan beliau amat aktif untuk terus mensosialisasikan pemikiran tentang pembaharuan pendidikannya. Selain itu ia juga mendirikan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Indonesia), yang kemudian menjadi penggerak untukmelakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Kedatangan Soekarno ke Aceh tahun 1948 mendapatkan sambutan yang luar biasa dari ribuan rakyat Aceh, ada yang menarik dari dialog antara Soekarno dan Daud Beureuh:

Soekarno: "Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekaran berkibar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan tanggal 17 Agustus 1945"

Daud Beureuh: Saudara Presiden, kami rakyat Aceh dengan segala senang hati memenuhi permintaan itu. Namun Daud Bereuh mengatakan bahwa Perang yang dilakukan ini adalah perang Jihad melawan kuffar Belanda.

Bahkan dalam sebuah surat kabar "Semangat Merdeka" yang terbit di Kuta Raja, 23 Maret 1949, ia tetap menyatakan kesetiaannya kepada NKRI:

"Perasaan kedaerahan di Aceh itu tidak ada. Sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk sebuah Aceh Raya dan lain-lain karena kita disini adalah bersemangat Republiken. Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita anggap sebagai tidak ada saja, dan karena itu tidak kita balas saja. Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI bukan dibuat-buat serta diada-adakan. Tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh pasti tahu bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah negara per negara tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kemerdekaan yang abadi"

Hebatnya lagi Daud Beureuh memegang kata-kata ini sampai akhir hayatnya, ia tetap komitmen untuk lebih tunduk kepada NKRI yang ia anggap sebagai saudara seiman dan sebagai Ulil Amrinya.

Namun demikian keunikan seorang Daud Beureuh memang layak dijadikan sebagai contoh, ketika ia melihat Soekarno terus menerus membuat sakit hati orang Aceh, maka ketika ia mendengar bahwa Karto Suwiryo memproklamirkan Negara Islam Indonesia maka ia bersegera mendukungnya dan menyatakan bahwa Negara Islam Indonesia salah satunya adalah Aceh, dari sini terlihat betul bahwa Daud Beureuh tidak mau melepaskan diri sedikitpun dari saudara seimannya dengan mengatakan bahwa Negara Islam Aceh, luar biasa.Ia hanya menginginkan sebuah daerah yang betul-betul yang menyelenggarakan syariat Islam dengan kaffah, tidak ada niatnya sedikitpun menjadi penguasa.

Setelah ia mencanangkan ini tentunya ia melakukan perlawanan terhadap pemerintah NKRI, ia naik kegunung, lagi-lagi daerah dataran tinggi gayo dijadikan sebagai basis perlawanannya, ia menyentuh rakyat Gayo dengan pemikiran Islam, walau demikian pada awalnya ia didukung rakyat luas, lama-kelamaan mereka kembali berhasil direkrut oleh NKRI dengan janji untuk memberikan daerah istimewa kepada NAD, serta merangkul teman-teman dari DI/TII , antara lain pendekatan yang dilakukan oleh M. Jasin, Kolonel Infantri. Dengan metode warkatul ikhlas maka perdamaian di Aceh dapat terjadi. Tepatnya pada tanggal 9 Mei 1962, yang diikuti dengan sebuah perjanjian Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh, yang puncaknya ikrar mereka di Blang Padang, Kutaraja.

Hasan Tiro Menuju MoU Helsinky dengan Korban Ribuan Rakyat Aceh

Silahkan dibaca dari wawancara dengan Saudara Nedzar dari hasil penelitiannya, maaf saya bisa saja mencarikan dari sumber lain, tapi dari Suadara Nedzar rasanya sudah cukup bagus.

Perbedaan Daud Beereuh dan Hasan Tiro

Pertama, ini amat penting, Daud Beureuh adalah seorang pemikir Islam sejati, seorang Pendidik dan seorang pemberani. Ia mau melakukan perubahan-perubahan dalam pemikirannya untuk Islam, ia mengatasnamakan perjuangannya berdasarkan kehendaknya atau ternyata lebih kepada Ashobiyah, ia lebih menekankan kepada konsep perjuangan dengan sebutan "Penjajah Jawa-Indon", sedangkan Daud Beureuh tetap konsisten dengan penegakkan syariat Islam di Aceh seperti halnya yang ada pada zaman Iskandar Muda.

Dalam banyak kesempatan ia selalu berujar:

"Anda harus tahu, kami di Aceh ini punya impian. Kami mendambakan masa kekuasaan Kesultanan Iskandar Muda, pada masa Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu, pemerintahan memiliki 2 cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalankan menurut ajaran Agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan modern. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu"

Kedua, Daud Beureuh memimpin langsung perjuangannya di Aceh, ia naik kehutan, berjuang dengan memimpin langsung, sedangkan Hasan Tiro berjuang dari Swedia, bagi rakyat Aceh ini merupakan sebuah kehinaan, terlebih lagi bagi masyarakat dataran tinggi Gayo yang dulu melihat sosok seorang Daud Beureuh atau DI sebagai pemberani akhirnya melihat GAM sebagai pengecut saja.

Ketiga, Daud Beureuh selalu hidup dalam kesederhanaan, ia lebih menyukai Agama Islam, ia lebih mencintai untuk menyebarkan Islam di Aceh. Hasan Tiro penuh dengan politik, silahkan lihat buku-bukunya yang semuanya ternyata lebih mengangkat ashobiyah dan lebih kepada memecahkan Negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Ia lebih menyukai kemewahan di Swedia dibandingkan tinggal di Aceh.

Keempat, Daud Beureuh tahu ia kapan harus berhenti, ia lebih mencintai rakyat Aceh, ketika terjadi DI/TII, ia lebih mendahulukan damai daripada peperangan terus, akhir hayatnya ia dipuja rakyat Aceh. Berbeda dengan Hasan Tiro semasa hidupnya ia tidak memperdulikan berapa banyak korban yang jatuh dari rakyat Aceh, bahkan sampai ribuan jiwa orang Aceh. Ia lebih mengetengahkan 'Hilangkan Penjajah Indon-Jawa, dibandingkan 'Merdeka atau Syahid', karena ia tahu, bahwa sesama muslim itu lebih mendahulukan perdamaian dibandingkan saling membunuh. Ini yang selalu saya pikirkan, apakah ribuan orang itu syahid atau mati dengan sia-sia ?

Kelima, MoU Helsinky tentunya amat ditentang oleh Daud Beureuh jika ia masih hidup, Daud Beureuh amat benci dengan Kuffar dan Yahudi, bandingkan dengan Hasan Tiro ia rela menjual tanahnya ke Uni Eropa dan USA, MoU tersebut seolah-olah menyerahkan permasalahan internal muslim kepada orang asing.

Bila rakyat Aceh berpikir jernih, maka sudah barang tentu nama Hasan Tiro itu tidak bisa diangkat menjadi Wali Nanggroe, yang lebih cocok itu adalah Daud Beureuh. Pola pikirnya jelas memperjuangkan dan melindungi rakyat Aceh, dibandingkan dengan Hasan Tiro.

Bila anggota GAM berpikir, tentunya ia tidak lagi bertujuan kemerdekaan, sudah cukup tingkah polah Hasan Tiro untuk mengorbankan rakyat Aceh, belum lagi jika mereka menerima dana dari MoU Helsinky, dana yang berasal dari darah rakyat Aceh.

Bila kita melihat sejarah, sepertinya Aceh ini tidak akan pernah aman, terkecuali punya pemerintahan yang kuat seperti Iskandar Muda, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana Aceh bisa menjadi kuat apabila ternyata GAM memperjuangkan perjuangannya kepada Ashobiyah, bukan kepada penegakkan syariat Islam. Saat ini seharusnya Irwandy CS bukan saatnya lagi memperjuangkan anggotanya saja, akan tetapi lebih memperjuangkan rakyat Aceh dengan betul-betul menegakkan syariat Islam.

Orang Gayo melihat pemberontakkan ini hanya membawa kesedihan dan kesengsaraan bagi rakyat Aceh, sedangkan Aceh daerah pesisir barat dan selatan lebih melihat ini perjuangan sekelompok orang saja, dan ini semakin terlihat setelah adanya MoU Helsinky.

Sebenarnya ada cara yang akan membawa Aceh kepada damai, membelah Aceh menjadi 3 provinsi, setiap Aceh diwajibkan menegakkan syariat Islam, setiap provinsi bisa melakukan otonomi khusus pada daerahnya masing-masing. ALA dan ABBAS merupakan salah satu solusi kita menuju perdamaian Aceh sejati, jika memang ingin mensejahterakan rakyat Aceh, bukan lagi hanya mementingkan kepentingan golongan saja.

21 November 2008

Dialog Dengan Bang Jems (Indonesia Pecah ?)

Ulasan Bang Jem:

Saat ini, kebanyakan gubernur, kepala daerah, parpol dan pimpinan militer di Indonesia, dari segi usia (40 thn keatas), adalah hasil didikan era suharto. Dengan doktrin2nya suharto, persatuan Indonesia menjadi yg utama.

Walaupun ada protes2 dan permintaan di daerah2 untuk lebih independen supaya tdk semua hasil daerah dinikmati jakarta, tetapi karena pemimpin2nya masih teguh memegang prinsip kesatuan, maka wacana independensi daerah masih bisa diredam.

Tetapi 20-30 thn yg akan datang, pemimpin2 sipil & militer, adalah hasil pendidikan jaman reformasi. Doktrin persatuan tidak lagi menjadi prinsip utama, digantikan prinsip demokrasi & keadilan. Dikhawatirkan, pada saat itu, pusat (jakarta) akan semakin berat menahan desakan dari daerah2 yg ingin memisahkan diri, apalagi dgn adanya dukungan putra2 daerah yg sudah menjadi pemimpin massa, sipil & militer di daerahnya masing2.

Militer juga tidak mungkin memiliki sumber daya yg cukup utk mempertahankan kesatuan negara dgn kendala geografis sebesar ini. Misalkan Aceh menyatakan merdeka, disaat yg sama papua & riau juga memerdekakan diri, apa mungkin militer bisa meredam konflik di banyak lokasi bersamaan.

Partai politik yg dulunya solid, misalkan Golkar, mulai tampak tanda2 perpecahan internal, adanya fraksi JK, Akbar, Agung dll.

Pihak luar negeri, ada yg diuntungkan dgn perpecahan Indonesia. Tidak semuanya against perpecahan NKRI, contohnya Australia waktu kasus Timtim.

Kalau balajar dari sejarah, Rusia & Yugoslavia adalah contoh negara yg "menukarkan" persatuan negaranya utk mendapatkan demokrasi. Singapore & Malaysia, mempertahankan persatuan dgn otoriter, persetan dgn demokrasi.

Menurut anda, apakah perpecahan Indonesia adalah sesuatu yg masih mungkin dihindari ?

Jawaban Kosasih Bakar:

Bung Jems, salah satu kesalahan anda adalah anda tidak melihat dari sisi Islam, ini jelas anda sudah terdoktrin dengan pikiran-pikiran Hasan Tiro yang pragmatis tersebut.
Saya akan mencoba memberikan analisa saya bahwa NKRI akan tetap bersatu:

Pertama, NKRI sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, bila mengikuti Al Qur an dan Al Hadist tentunya akan lebih mengutamakan persatuan bukan perpecahan seperti yang dilakukan oleh Hasan Tiro, pencetus penghalalan darah sesama muslim.Bahkan trend muslim sekarang adalah menuju khilafah Islam tanpa memandang batasan-batasan negara dan suku atau bangsa. Ukhuwah Islamiyah bukan Ukhuwah Chauvisme Aceh.

Kedua, upaya dari pihak Pemerintah untuk memberikan otonomi daerah ternyata telah berhasil meredam keinginan dari daerah terebut untuk melakukan pemisahan diri, karena mereka diberi hak untuk mengelola wilayahnya sendiri, mereka diberikan hak untuk membangun daerahnya sesuai dengan budayanya. Bukan seperti yang GAM lakukan (ingin mencontoh Soeharto, mengignor keinganan masyarakat ALA dan ABBAS), mencoba menyatukan tapi memandang perbedaan, Nasionalisme Semu atau GAM Pragmatism.

Ketiga, baik sadar atau tidak ternyata salah satu program Pemerintah, Transmigrasi, upaya untuk menyebarkan kepadatan dari Pulau Jawa ke pulau lainnya ternyata telah membuahkan hasil semangat nasionalisme bagi NKRI. Suku Jawa itu mempunyai karakteristik yang unik, selain mereka muslim, mereka bukan tipe pemberontak, mereka mau bekerja keras dan ke Ladang, mereka juga mampu beradaptasi dengan penduduk sekitarnya dan cepat melakukan perpaduan kebudayaan (melalui perkawinan misalnya).

Keempat, perasaan nasionalisme di Indonesia masih sangat kental, mereka merasakan dijajah oleh Belanda, belum lagi contoh Negara Tim-Tim yang sudah merdeka malah semakin kacau negara tersebut.

Kelima, sedikit tentang GAM, sudah sangat jelas mereka itu tidak mempunyai ideologi yang jelas, bahkan ada indikasi mereka sudah disusupi oleh Yahudi untuk mengacaukan Negara yang berpenduduk paling besar Islamnya. Jadi GAM adalah sebuah Gerakan yang berupaya untuk menghancurkan Islam. (sudah memang Aceh dari Tamil ini, lihat Sri Lanka tidak pernah aman)

Jadi jelas Bang Jems, selama masih ada syahadat di bumi Indonesia ini, selama bangsa ini menghormati sejarahnya, maka GO TO THE HELL dengan PECAHNYA INDONESIA

17 November 2008

Aceh Melihat Indonesia

Edisi 661 | 17 Nov 2008 | Cetak Artikel Ini

http://www.perspekt ifbaru.com/ wawancara/ 661

Tamu kita Nezar Patria, seorang peneliti mengenai Aceh. Kita akan berbincang mengenai perkembangan Aceh.

Menurut Nezar Patria, selama ini Aceh banyak dilihat dari kacamata Indonesia, mungkin perlu juga kita balik cara pandangnya bagaimana Aceh melihat Indonesia. Sudut pandang yang pertama mengasumsikan satu dominasi tetapi kalau dengan sudut pandang kedua saya kira itu platform nya adalah akomodasi. Mungkin menarik misalnya bagaimana orang Aceh memaknai Indonesia, memaknai hidup bersama dalam satu platform Republik, dan apakah sebetulnya cita-cita yang ingin kita raih lewat ke-Indonesia- an bersama warga Indonesia.

Nezar Patria mengatakan fase-fase Aceh bersama Republik Indonesia sering sekali dilupakan baik oleh gerakan yang menentang Republik maupun gerakan yang mempertahankan Republik. Padahal kalau dikembalikan kepada fase-fase setelah tahun 1945 – 1953, fase dimana Aceh menunjukkan kesetiaan dan loyalitas luar biasa mendukung kaum Republikan pada waktu itu mungkin bisa dijadikan platform, bahwa Aceh pernah bersama-sama dengan Indonesia untuk satu cita-cita. Tapi kenapa sekarang cita-cita itu seperti tenggelam. Orang sepertinya lupa bahwa Aceh bersama dengan suku bangsa yang lain untuk mendirikan satu nation yang kita sebut dengan Indonesia. Aceh pernah membuktikan bersama dengan suku-suku lain/daerah lain di Republik ini melebur mencoba mempertahankan apa yang kita sebut Indonesia. Tapi bagian itu seringkali seperti dilupakan, baik oleh mereka yang mempertahankan maupun melawan Republik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Nezar Patria.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kondisi Aceh belakangan ini karena banyak media melaporkan ketegangan mulai terjadi kembali di Aceh setelah tiga tahun perjanjian Helsinki yaitu ditandai dengan beberapa peristiwa besar seperti penculikan, pembunuhan, dan lain-lain?

Memang ada ketegangan yang boleh dikatakan meningkat dalam enam bulan terakhir di sepanjang Pantai Timur Aceh, dari Banda Aceh sampai ke Langsa, Aceh Timur. Pada umumnya ada banyak aksi penculikan, perampokan dengan motif uang. Jadi kita bisa katakan aksi itu termasuk kriminal, bukan aksi protes politik tidak setuju dengan perdamaian dan lain-lain. Ketegangan yang terjadi di Aceh itu sifatnya kriminal.

Apakah hal itu memang tidak perlu dikhawatirkan?

Saya kira tidak perlu dikhawatirkan secara serius, maksudnya, tidak akan dapat mengancam perdamaian. Yang diperlukan yaitu satu tindakan tepat untuk mengantisipasi atau menangani aksi kriminal ini. Harus secara tepat karena kita tahu banyak pelaku aksi kriminal, seperti yang sudah ditangkap dan diinterograsi polisi adalah bekas anggota kombatan (istilah untuk pasukan tempur darat - Red) yang pernah bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kalau ditangani secara tidak tepat maka seakan-akan gerakan itu memiliki motif-motif lain yang tidak setuju dengan perjanjian damai Helsinki, dan sebagainya.

Bagaimana Anda melihat bentuk perjuangan GAM sekarang karena dulu kita melihat mereka mengangkat senjata tapi sekarang perjuangan mereka lebih ke politik? Apakah tujuan akhir dari perjuangan GAM masih seperti dulu atau tidak seperti ingin melepaskan diri dari Indonesia?

Saya kira setelah mereka sepakat dengan perjanjian Helsinki maka persoalan merdeka bukan lagi menjadi platform GAM. Mungkin mereka sudah menafsirkan bahwa yang dibutuhkan sekarang bukan lagi merdeka seperti yang dicanangkan sejak awal, tetapi mencoba mengisi yang mereka yakini sebagai self government, seperti yang mereka sebut dalam tahap-tahap perundingan di Helsinki tiga tahun yang lalu. Saya belum menemukan satu pernyataan politik dari pimpinan-pimpinan GAM seperti Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Zakaria Zaman bahwa mereka akan terus berjuang untuk memerdekakan Aceh dari Republik Indonesia (RI). Sama sekali tidak ada pernyataan seperti itu. Saya pikir secara politik kelihatannya hal itu bukan lagi menjadi platform bagi GAM, apalagi setelah mereka bertransformasi dari gerakan bersenjata ke gerakan politik.

Kalau menurut Anda, kemana arah perjuangan gerakan politik GAM sekarang karena kalau dulu jelas ingin melepaskan diri dari Indonesia?

Seperti yang sering mereka ungkapkan dengan bahasa mereka sendiri bahwa mereka ingin memulihkan hak-hak ekonomi dan politik rakyat Aceh, dan membuat apa yang mereka sebut sebagai bangsa Aceh itu kembali bermartabat dan berdaulat atas diri mereka sendiri. Saya tidak tahu sebenarnya masyarakat yang mereka bayangkan ke depan bagi Aceh. Namun kalau dari arah politik, dari arah program yang mereka cita-citakan maka platformnya kurang lebih pada keadilan dan kesejahteraan buat rakyat Aceh.

Beberapa bulan lalu Hasan Di Tiro datang dan Anda adalah salah seorang yang pernah menulis tentang tokoh ini. Di Indonesia tokoh ini didekati secara paradoksal yaitu bagi kawan-kawan di Aceh bisa merupakan semacam energi untuk mendorong sebuah perjuangan, tapi di Indonesia tidak lebih sebagai pemimpin dari GAM. Bagaimana Anda melihat sosok Hasan Di Tiro?

Hasan Di Tiro dalam pandangan saya pribadi adalah sosok yang kontroversial. Masa mudanya dihabiskan untuk perjuangan kemerdekaan RI. Dia sangat anti kolonial, dia bergabung dengan barisan pemuda Indonesia di Lamhok, Pidie, pada tahun 1930-an. Lalu sewaktu sekolah di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta pada 1946-1947, dia banyak menulis artikel yang mendukung perjuangan kemerdekaan RI. Kita tahu masa-masa itu Indonesia sedang mencari arah, dan masing-masing kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan sepertinya menyodorkan proposalnya masing-masing seperti kelompok nasionalis, agama, komunis. Hasan Di Tiro berada di jalur agama, Islam sesuai yang berkembang di Aceh dimana cita-cita Islam begitu kuat menjadi energi perlawanan terhadap kolonial. Dia dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi. Ketika ketidakpuasan terjadi dalam soal merumuskan dasar negara, misalnya, dia condong dekat dengan kelompok Masyumi. Kemudian ketika Teungku Daud Beureueh mendeklarasikan pemberontakan Darul Islam (DI) maka dia pun bergabung ke sana. Memang ada pergeseran cita-cita Hasan Di Tiro, dari orang yang pro menjadi kecewa terhadap Republik.

Kapan Anda melihat mulai terjadi pergeseran itu?

Kalau kita lihat dari karya-karyanya, kekecewaan itu dimulai ketika dia protes terhadap kekerasan yang dilakukan oleh Tentara Republik sewaktu memberantas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh yaitu pada peristiwa di desa Pulot dan Cot Jeumpa di tahun 1958, dimana sekelompok tentara menembaki rakyat sipil. Waktu itu Hasan Di Tiro sedang sekolah di Amerika Serikat (AS). Dia mendengar berita itu, lalu membuat satu surat protes kepada Perdana Menteri Ali Sastro Amidjojo meminta kasus itu segera diselesaikan atau dia akan membawa ke masyarakat internasional.

Jadi sebetulnya pada awal masa gerakan, Hasan Di Tiro memberikan kritik kepada Indonesia tentang kesewenang-wenangan Indonesia bukan hanya pada kekerasan yang terjadi di Aceh saja.

Ya, mungkin juga di dorong oleh pertarungan politik di tingkat nasional antara kelompok agama, kelompok nasionalis, kelompok komunis. Waktu itu Soekarno kelihatannya lebih condong ke kelompok nasionalis dan komunis, sementara ada ketidakpuasan dari kelompok yang berada di garis agama. Sewaktu pemberontakan DI/TII, jelas sikap Hasan Di Tiro memihak kepada Darul Islam.

Saya pikir sedikit sekali orang yang mengetahui tentang siapa Hasan Di Tiro selain sebagai pemimpin perjuangan GAM karena sedikit sekali media masa bercerita tentang sosok dari tokoh ini. Saya yakin Anda mengenal lebih dalam dengan tokoh ini. Tolong Anda bisa ceritakan?

Pertemuan saya dengan Hasan Tiro bukan dalam bentuk fisik, tetapi pertemuan lewat karya-karya dia. Lima tahun terakhir ketika situasi di Aceh begitu panas dan banyak orang mau mati untuk satu cita-cita yang dideklarasikan oleh GAM menimbulkan pertanyaan buat saya pribadi. Mengapa orang mau mati untuk satu cita-cita itu, ada apa sih?

Bahkan Anda sebagai orang Aceh mempertanyakan itu?

Ya, saya orang Aceh generasi muda yang dibesarkan di bawah Orde Baru dimana saya tidak pernah kenal siapa itu Hasan Di Tiro. Hasan Di Tiro yang singgah di kepala saya sewaktu kecil dimana saya bersekolah SD sampai SMA di Banda Aceh adalah sosok seperti yang ditiupkan oleh Orde Baru, bahwa dia tokoh pemberontak yang dulu terkenal dengan sebutan GPLHT atau Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro. Pada tahun 1977-1978 di kampung-kampung termasuk kampung saya, saya pernah melihat poster Hasan Di Tiro sebagai "Most Wanted Person" dicari Hidup atau Mati. Saat itu poster Hasan Di Tiro dengan beberapa jajaran pimpinan-pimpinan Aceh Merdeka, dulu tidak disebut GAM tapi disebut Aceh Merdeka (AM). Dulu kita semua takut dengan sebutan AM itu karena ada penangkapan dan orang tidak berani protes. Pada masa itu semua informasi sangat dikendalikan. Kadang kalau kita pakai baju dengan tulisan AM, padahal itu merk suatu produk sudah ditanya, "Wah, kamu anggota Aceh Merdeka?" Langsung kita ganti baju itu karena takut. Belakangan setelah lima tahun terakhir saya mencoba mengumpulkan dan membaca yang pernah ditulis Hasan Di Tiro, saya sedikit takjub melihat sosok ini. Dalam artian dia sebetulnya adalah produk dari yang kita sebut sebagai mencari keIndonesiaan. Pertama, dia adalah sosok yang ikut bergulat dalam perjuangan kemerdekaan. Dia ikut dalam barisan pemuda Indonesia di Lamhok, dia sekolah di Yogya bertemu dengan kelompok nasionalis dan dia mengeluarkan artikel yang sangat Republikan di tahun 1946 – 1950 sampai kemudian dia kecewa dengan pemerintahan Soekarno terkait bagaimana Soekarno memperlakukan Aceh. Ada suatu yang unik dari Hasan Di Tiro, walaupun dia sekolah di Yogya dan mengeluarkan artikel yang Republikan, anti kolonial dan pro dengan revolusi kemerdekaan Indonesia, tetapi dia selalu memberikan konteks Aceh. Misalnya, saat menulis artikel perang kemerdekaan maka dia selalu merujuk pada apa yang dilakukan oleh orang-orang Aceh melawan kolonial. Heroisme orang Aceh selalu ditekankan dalam artikel itu. Sebetulnya dia sudah sangat Aceh pada awalnya.

Jadi untuk menumbuhkan non nasionalisme Aceh itu sebetulnya bukan dari kemarin saja, tapi sejak awal perjuangan dia sudah mengusung itu?

Belum secara tegas, dia selalu berfikir masih dalam konteks ke Indonesia. Dia mewakili perasaan Old State Aceh pada waktu itu. Dia cukup yakin bahwa Aceh ini sebelumnya adalah negara yang berdaulat sampai kemudian Belanda datang lalu terjadi perlawanan, lalu kemerdekaan. Berita kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta di Jawa sampai ke Aceh kurang lebih satu bulan setelah proklamasi, dan ada rapat besar untuk memutuskan apakah Aceh akan mendukung deklarasi kemerdekaan itu atau tidak. Para pemimpin Aceh dengan tegas menyatakan bahwa yang dideklarasikan oleh Soekarno dan Hatta adalah kelanjutan dari perjuangan para pahlawan Aceh seperti Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Tjut Nyak Dien, dan sekarang gelombang perlawanan melawan kolonial itu dipimpin oleh saudara kita Ir. Soekarno. Jadi dengan deklarasi itu sebetulnya sudah ada pernyataan politik kesepakatan dari para elit Aceh pada waktu itu untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.

Sedikit melompat, Saya kira fase-fase Aceh bersama Republik itu sering sekali dilupakan baik oleh gerakan yang menentang Republik maupun gerakan yang mempertahankan Republik. Padahal kalau dikembalikan kepada fase-fase setelah tahun 1945 – 1953, fase dimana Aceh menunjukkan kesetiaan dan loyalitas luar biasa mendukung kaum Republikan pada waktu itu mungkin bisa dijadikan platform, bahwa Aceh pernah bersama-sama dengan Indonesia untuk satu cita-cita. Tapi kenapa sekarang cita-cita itu seperti tenggelam. Orang sepertinya lupa bahwa kita bersama dengan suku bangsa yang lain untuk mendirikan satu nation yang kita sebut dengan Indonesia. Aceh pernah membuktikan bersama dengan suku-suku lain/daerah lain di Republik ini melebur mencoba mempertahankan apa yang kita sebut Indonesia. Tapi bagian itu seringkali seperti dilupakan, baik oleh mereka yang mempertahankan maupun melawan Republik.

Bagaimana Anda melihat kedatangan Hasan Di Tiro kemarin, apa makna peristiwa tersebut?

Terakhir Hasan Di Tiro pulang ke Aceh 32 tahun yang lalu, tahun 1976 setelah sekian lama merantau. Dia pulang ke Aceh sebetulnya dengan satu agenda. Dia ingin menawarkan jalan keluar atas marginalisasi ekonomi dan politik yang waktu itu terjadi di Aceh. Kita mungkin harus trace back ke belakang sedikit, sebelum dia mendeklarasikan GAM sebetulnya sentimen nasionalisme Aceh sudah terbangun dalam karya dia yang ditulis dalam bahasa Aceh yang berjudul ‘Atjeh Bak Mata Donya’ yang artinya ‘Aceh di Mata Dunia’ pada 1964. Ini kelihatannya hasil dari riset sejarah yang dia lakukan selama berdiam di New York. Dia menemukan beberapa fase – fase penting dari sejarah Aceh yang menegaskan bahwa Aceh sebetulnya adalah kerajaan yang berdaulat sebelum Belanda datang di tahun 1873. Di karya ‘Aceh di Mata Dunia’ tersebut dia mengatakan bahwa saat Kerajaan Aceh dalam melawan Belanda sudah membuat hubungan–hubungan diplomatik dengan negara–negara yang pada waktu itu adalah negara–negara besar seperti Kerajaan Perancis, lalu dengan AS, Spanyol dan Turki. Hasan Di Tiro mendapatkan informasi itu dari harian New York Times yang terbit pada tahun 1873. Saat itu New York Times mengeluarkan lima edisi yang berisi tentang peperangan di Selat Malaka dimana Kerajaan Aceh pada waktu itu mengirimkan utusan–utusannya keluar dan berjuang gigih melawan invasi Belanda. New York Times dalam 5 seri editorial itu kelihatan memberikan support terhadap apa yang dilakukan oleh Kerajaan Aceh dalam melawan Belanda pada waktu itu. Hasan Di Tiro melihat bahwa ini adalah suatu bentuk pengakuan internasional terhadap Kerajaan Aceh sebagai negara yang independen dan berdaulat. Nah setelah itu fase perang yang terjadi di Aceh dari 1873 sampai 1911. Peperangan melawan Belanda digelorakan oleh para pejuang Aceh, begitu banyak yang gugur termasuk para ulama–ulama dan juga hancurnya Kerajaan Aceh. Di situ dia ingin menanamkan bahwa sebetulnya sebelum bergabung dengan RI, Aceh adalah suatu entitas politik yang berdaulat. Setelah tahun 1964 itu, dia mengulang lagi apa yang ditulisnya pada tahun 1974 lewat satu pidato di New York, tapi tidak jelas betul pidato tersebut dilakukan dimana. Dari dokumen yang saya sempat baca, dia menulis satu paper atau artikel yang juga sangat menarik yaitu ‘Peringatan 100 tahun perang di Bandar Aceh ketika Belanda masuk invasi ke Aceh pada Mei 1874. Dia menulis artikel tersebut untuk memperingati 100 tahun maka berarti artikel itu terbit tahun 1974, dan dia berpidato dihadapan sahabat–sahabat dan kenalan–kenalannya di AS yang waktu itu diorganisir oleh Institute of Aceh in America. Di sana dia mengulang apa yang ditulis dalam "Aceh di Mata dunia", cuma dia memberikan satu konteks bahwa Aceh kembali memikirkan patroitisme nenek moyang.

Apakah pergulatan pemikiran yang Anda sebutkan tadi itu terbaca atau tidak di masyrakat Aceh?

Pada waktu itu Hasan Di Tiro dan masyarakat Aceh dipisahkan oleh dua samudera, jadi sangat jauh. Dia pulang ke Aceh pada tahun 1976 dengan membawa pemikirannya tadi. Dia mulai menyebarkan beberapa karyanya dan juga merekrut para pemuda–pemuda Aceh yang waktu itu merupakan lapisan paling maju yaitu yang bersekolah di Sumatera Utara dan juga di luar negeri. Misalnya, dia bertemu dengan Husaini Hasan yang bersekolah di Universitas Islam Sumatera Utara dan ada juga beberapa orang lainnya yang belajar di Universitas Sumatera Utara (USU). Mereka sebetulnya sudah mempunyai kontak yang erat juga karena pada masa itu Aceh baru saja pulih dari pemberontakan Darul Islam tetapi kekecewaan terhadap pemerintah pusat atau Jakarta masih tersisa di beberapa intelektual muda. Jadi ketika Hasan Di Tiro pulang, dia bertemu lagi dengan kelompok-kelompok pemuda tersebut, seperti Muchtar Hasbi yang kemudian dikenal sebagai Perdana Menteri pertama GAM. Dia seorang Doktor jebolan Universitas di Thailand. Dia mendukung apa yang disampaikan Hasan Di Tiro bahwa jalan keluarnya adalah kita harus memisahkan diri dari Republik karena pemberontakan Darul Islam terbukti tidak menyelesaikan persoalan–persoalan mendasar hubungan Aceh dan Jakarta.

Apakah setelah itu dideklarasikan GAM?

Lalu, pada tahun 1976 bersama dengan tenaga baru tersebut dia mendeklamasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan platform baru bukan lagi seperti Darul Islam tetapi untuk ke arah negara Aceh yang merdeka. Jadi ada tulisan platform dari Darul Islam ke nasionalisme Aceh. Dia menulis satu buku yang cukup menarik ‘Demokrasi untuk Indonesia’ di tahun 1958 yang sebetulnya protes terhadap konsep persatuan dan kesatuan yang ditiupkan oleh Soekarno. Menurut dia, kalau konsep itu dipaksakan maka suku mayoritas yang akan selalu dominan dan menentukan apa itu Indonesia. Nah pada waktu itu dia mencoba membeberkan dan mencoba mengkritik semua segi–segi yang menurut dia memiliki kandungan dominasi etnis tertentu di Indonesia yang akan menentukan apa itu ke-Indonesiaan. Dia menawarkan seharusnya ada demokrasi yang lebih regional sifatnya atau federalisme seperti yang dia tawarkan pada tahun 1958 sebelum beranjak ke tahun 1964 menuliskan tentang Atjeh Bak Mata Donya. Jadi saya kira menarik untuk melihat bagaimana dia bergeser dari federalisme kemudian melihat bagaimana usulan dia itu tidak ada respon yang sangat kuat, lalu dia mencoba menggali kembali apa sih sebetulnya energi buat orang-orang Aceh ini untuk berdiri kembali menjadi satu nation. Dia coba gali patrotisme Aceh yang pernah terjadi pada tahun 1873 sampai 1911 ketika melawan Belanda dan terus berlanjut dengan perjuangan-perjuang an dengan konsep yang lebih modern di bawah pemberontakan Darul Islam dan hubungan Aceh dengan gerakan-gerakan nasionalis pada waktu itu. Ini kita bicarakan dari sudut pandang Hasan Di Tiro. Saya kira sejarah Aceh tidak semata-mata seperti itu, ada juga hubungan-hubungan lain yang terjadi bahkan kemerdekaan yang berlangsung di Jawa atau Sumatera pada umumnya juga dipelopori oleh sentimen antikolonial yang kuat. Itu digerakkan oleh organisasi yang progresif, Syarikat Islam yang pada waktu itu juga sampai ke Aceh pada tahun 1912 dan memberikan visi-visi yang modern di tengah perjuangan yang tidak lagi dalam format Kesultanan. Cita-cita untuk sebuah Republik, atau satu identitas untuk politik yang lebih modern sudah muncul pada masa-masa itu. Hanya saja dia tidak sempat berkembang karena perang yang bergejolak melawan Jepang. Lalu, ketika agresi kedua Belanda, Aceh tidak ikut terkena agresi. Jepang dilucuti di Aceh pada waktu itu, lalu mereka bergerak ke Medan untuk membantu kawan-kawan yang berjuang di Medan Area, istilah pada waktu itu. Nah bantuan dari pasukan Aceh pada tahun 1947 itu sampai 1949 cukup signifikan.

Terakhir, bagaimana sebenarnya memahami Aceh setelah apa yang Anda paparkan tadi?

Selama ini Aceh banyak dilihat dari kacamata Indonesia, mungkin perlu juga kita balik cara pandangnya bagaimana Aceh melihat Indonesia. Sudut pandang yang pertama mengasumsikan satu dominasi tetapi kalau dengan sudut pandang kedua saya kira itu platformnya adalah akomodasi. Mungkin menarik misalnya bagaimana orang Aceh memaknai Indonesia, memaknai hidup bersama dalam satu platform Republik, dan apakah sebetulnya cita-cita yang ingin kita raih lewat ke-Indonesia- an bersama warga Indonesia. Ini seringkali kita lupa, misalnya, momen mengenai misalnya hari ini hari Pahlawan. Mungkin menarik melihat di tengah pergolakan hubungan antara pusat dan daerah khususnya di Aceh dan Papua. Kita coba memaknai Indonesia dari sudut pandang lokal. Yang pertama bahwa yang berharga dari Indonesia buat orang-orang Aceh dan kita semua, saya kira pergulatan yang terjadi pada masa-masa revolusi kemerdekaan dan ide-ide tentang nasionalisme yang dibawa oleh gerakan-gerakan anti kolonial, sesungguhnya menyumbang banyak beberapa titik temu yang bisa menyatukan termasuk tentang cita-cita negara yang adil dan sejahtera yang mungkin kita masih perjuangkan sampai saat ini. Mungkin itu perlu dihidupkan kembali. Sebetulnya yang dicari oleh orang-orang Aceh adalah yang pertama keadilan karena mereka merasa bergabung dengan Republik hampir 60 tahun yang dirasakan adalah ketidakadilan lebih banyak. Hubungan Aceh dengan Jakarta akhir-akhir ini saya kira sebetulnya hubungan cinta dan benci.

Ulasan Muhamad Qubra:

"Sebetulnya yang dicari oleh orang-orang Aceh adalah yang pertama keadilan karena mereka merasa bergabung dengan Republik hampir 60 tahun yang dirasakan adalah ketidakadilan lebih banyak. Hubungan Aceh dengan Jakarta akhir-akhir ini saya kira sebetulnya hubungan cinta dan benci" (Nezar Patria)

Apa yang dikatakan Nezar tbelum tepat menurut kacamata kami Acheh yang mendambakan kebenaran dan anti kolonialis. Hal ini nampak, bila difokuskan pada kalimat terakhirnya sebagaimana tetera diatas. Asumsi saya ini memang masih perlu dianalisa juga. Namun demikian disini saya hendak menjelaskan bahwa ketika kita berbicara tentang dua komunitas (baca, Acheh dan Indonesia- Jawa), mustahil kita dapat berbicara secara adil dan benar, kecuali cendrung memilah agar dua kutup yang berlawanan tersebut tidak membahayakan pribadi yang berbicara tersebut.

Penjelasan Nazar tentang kekerasan yang sedang berlaku itu bukan kesalahan pelakunya tapi akibat dari ketidak jujuran pihak Indonesia itu sendiri dalam mengaplikasikan hasil perjanjian di Helsinki. Nezar tidak mampu berikir seperti itu. Boleh jadi disebabkan memang dia itu buta terhada persoalan MoU Helsinki sendiri atau disebabkan takdapat mengatakan yang sebenarnya disebabkan dia sudah terkontaminasi ide hiokritnya Indonesia atau boleh jadi disebabkan pengaruh lingkungan tempat dia berdomisili sekarang.

Keliru sekali kalau dikatakan bukan Merdeka platformnya Perjuangan sekarang. Sepertinya Nezar itu tidak menganalisa apa itu yang dimaksudkan politik. Secara gamblang politik berarti "tipu menipu" untuk mencapai tujuannya. Kalau proses tipu - menipu itu tidak terlibat pihak militer, proses tersebut akan berjalan secara wajar tapi realitanya di Acheh sekarang bukan saja terlibat pihak militer tapi malah dominan. Justru itu mustahil Acheh dapat diperjuangkan melalui jalur politik.

Adalah omong kosong kita berbicara keadilan dan kesejahteraan buat rakyat Acheh dalam bingkai Indonesia. Apakah anda buta melihat Indonesia itu, bagaimana sepakterjangnya? Sejak dari Sukarno (orang pertama, memanipulasikan sejarah Acheh - Sumatra) lalu dilanjutkan oleh Suharto (rajanya korutor dan pembunuh berdarah dingin yang tak pernah diadili) bahkan dilanjutkan oleh Gusdur, Megawati dan juga Yudhoyono - Kalla, Indonesia itu tak pernah adil dan takpernah sejahtra bagi rakyatnya kecuali penguasa dan konco-konconya. Bagaimana mungkin orang Acheh dapat meraih keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai Indonesia? Orang - orang yang berbicara demikian di Acheh sesungguhnya mereka itu lugu walaupun sekolahnya tinggi macam Nezar ini. Inilah konsekwensi dari menimba ilmu hanya dari dapur "Yazid bin Muawiyah" semata tanpa memiliki ”Ilmunya Imam Hussein” atal ”Abu Dzar Ghifari”.


Dialinia Nezar berikutnya, terindikasi benarnya klaim saya bahwa Nezar itu menimba ilmu hanya dari ”dapur Yazid.” Dia tak mamu memahami sosok Hasan Tiro yang sesungguhnya, kenapa? Pertama sekali memang Hasan Tiro menimba ilmu didapur "Yazid bin Muawiyahnya Indonesia" namun pada diri beliau memiliki konsep keadilan yang sangat kental. Justru itulah beliau menulis buku Federasi Indonesia. Namun ketika beliau sadari bahwa "penyakit" yang dibawa Belanda telah terkontaminasi bagi hamir seluruh pemuka Indonesia kala itu, beliau sadar bahwa untuk berbicara keadilan dan kesejahteraan kita harus keluar dulu dari korizon Indonesia. Kalau kita masih berada dalam "orbit" Indonesia, kita terperangkap dalam "sandiwara ketoprak" yang dimainkan dibelakang layar.
Hal tersebut beliau sadari setelah berada diluar Indonesia (baca Amerika Serikat). Di AS beliau bebas berfikir, disamping juga memiliki kesempatan untuk mencari ilmu versi Abu Dzar Ghifari. Ideology Karbala merupakan "Platformnya" , hingga gagasan Gerakan Acheh Merdeka muncul untuk meluluhlantakkan "Yazidnya Indonesia". ,Beliau menganalisa perjuangan Imam Hussein, dan wajar kalau Imam Hussein dan sahabat setianya bersama keluarga Imam, syahid semuanya kecuali Zainab Asy - Syughra dan anaknya Imam Ali Zainal bin Hussein, sebagai penyampai risalah "Karbala" buat pengikut Islam sejati khususnya dan kemanusiaan ada umumnya. Memang perjuangan beliau dapat dipatahkan oleh tentara Yazid bin Muawiyah kala itu sebagaimana tentara Yazidnya Indonesia sekarang ini mematahkan perjuangan kami orang Acheh - Sumatra dibawah iuminan Hasan Tiro, tapi sesungguhnya Imam Hussein berhasil "menyiram pohon Islam" dengan darah dan airmata. Beliau berhasil mnyamakan pesan kepada penduduk Dunia bahwa Yazid dan segenap pengikutnya bukan orang Islam tapi Munafiq (baca bukan pengikut Habil tapi Qabil).

Demikian juga perjuangan DR Hasan Muhammad Tiro, walaupun dikalahkan oleh penguasa Yazidnya Indonesia di "medan politik" tapi sesungguhnya, beliau berhasil memberitahukan masyarakat Dunia (kecuali yang "tuli dan bisu" dari kebenaran, alias kloprip) bahwa orang - orang yang bergabung dalam system Indonesia Yazid, bukan orang Islam tapi orang munafiq. " Waminannasimayyaqul u amanna billahi wal yaumil akhiri, wamahum bimuk minin" (QS, 2: 8)

System pacasila itu adalah bagaikan sebuah bahtera yang dibangun Yazid bin Muawiyah, dimana juga dinyatakan mereka sebagai system Islam. Dari prototipe system Yazidlah, muncul system - system lain yang hipokrit diseluruh Dunia, hingga orang non Islam mengira bahwa orang Islam kalau dapat kesempatan untuk berkuasa, pasti jadi koruptor (itu adalah realita, kata mereka). Nah mengapa korutor takdapat dienyahkan dari system Indonesia dan malah hari ini masih menular "penyakit kesejahteraan" tersebut ke Tanah Rencong? Itulah sebabnya justru orang - orang dungu yang masih berbicara keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai Indonesia.

Di internet dan di berbagai media massa, orang - orang pintar tapi dungu tersebut bagaikan cendawan di musim hujan, menyampaikan kebohongannya untuk meninabobokkan rakyat jelata yang tidak mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari "jubbah" Abu Dzar Ghifari. Sesekali kita perlu menanggapi untuk meluluhlantakkan perspectif yang dapat menipu rakyat jelata di Tanah Rencong.
Selanjutnya klik disini untuk melihat emikiran DR Hasan Tiro yang sebenarnya:

http://www.youtube. com/watch? v=8KnbK-ajC5A&feature=related
http://www.youtube. com/watch? v=H8mbiUwHpIY&feature=related
http://www.youtube. com/watch? v=ESahsqp5nwM&feature=related

(al qubra di ujung Dunia)

ULASAN KOSASIH

Ketika saya membaca wawancara dari Nezar maka terbertik oleh saya sebagai pandangan seorang Peneliti yang memang tidak mempunyai kepentingan apapun, atau bias dikatakan sebagai pihak yang netral. Begitu banyak informasi yang didapat dari Nezar tersebut yang kiranya bisa menambah wawasan kita tentang Aceh dari sisi lain.

Namun ketika saya membaca ulasan Muhammad Qubra, hati saya menjadi tertawa dengan segala pernyataannya, yang sudah mengindikasikan ia amat pro dengan Gerakan Aceh Merdeka (=GAM), sudah barang tentu setiap pernyataannya adalah berupaya menolkan kembali apa yang dikatakan oleh Nezar tersebut, dengan berbagai cara seperti: memperlihatkan kekejian pihak NKRI dan berupaya menutupi kekejian GAM, lalu memberikan gambaran-gambaran tentang bagaimana heroiknya GAM dalam memperjuangkan rakyat Aceh tanpa melihat bahwa karena ada pemberontakkan GAM rakyat Aceh menjadi sangat sengsara, bahkan berupaya memberikan persepsi bahwa seolah-olah semua Rakyat Aceh menginginkan kemerdekaan dengan mengesampingkan fakta bahwa ternyata jika bagian Aceh di tengan, ALA dan bagian Aceh Barat dan Selatan, ABBAS sudah menginginkan pisah dari NAD karena pemberontakkan ini, sekaligus berupaya menghilangkan fakta bahwa bila mereka berpisah maka NAD hanya mendapat 30% daerah Aceh.

Ketika saya membaca ulasan dia:

“Namun demikian disini saya hendak menjelaskan bahwa ketika kita berbicara tentang dua komunitas (baca, Acheh dan Indonesia- Jawa), mustahil kita dapat berbicara secara adil dan benar, kecuali cendrung memilah agar dua kutup yang berlawanan tersebut tidak membahayakan pribadi yang berbicara tersebut “

Seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa Aceh dan Indonesia-Jawa merupakan 2 kutub yang terpisah dan tidak bisa disatukan, seolah-olah ia tidak mengetahui bahwa saat ini pernikahan silang antara Rakyat Aceh (contohnya Gayo, Alas, Jamnee, dsb) dengan orang Jawa sudah demikian banyak, sehingga akhirnya ia baru menyadari bahwa ternyata hanya di daerah pesisir timur saja yang tidak ada Jawanya. Inipun berakibat tidak adanya investor yang mau masuk ke daerah tersebut karena tidak ada yang mau bekerja untuk pekerjaan Terpadu menanam sawit, dan lain sebagainya. Orang Aceh pada daerah tersebut tidak mau pekerjaan tersebut akan tetapi mengambil orang Jawa pun tidak mau. Kembali ini upaya untuk menutup-nutupi kenyataan yang ada.

Jadi sudah jelas kepada Rakyat Aceh semuanya seperti apa GAM itu sebenarnya, jadi adalah wajar jika kita semua yang menginginkan perdamaian abadi akan amat menyedihkan dengan pemikiran-pemikiran seperti ini.

Ia juga menggambarkan ketakutannya dengan TNI dengan menyebutkan bahwa sekarang militer begitu dominan di NAD, sehingga GAM tidak bisa lagi mengintimidasi Rakyat Aceh dengan sembarangan. Sebenarnya ia mencoba memberikan gambaran bahwa ternyata MoU Helsinky itu kiranya telah membawa GAM ke dalam kenyataan bahwa ternyata GAM hanya lebih memperjuangkan isi perutnya sendiri dibandingkan dengan rakyat Aceh secara keseluruhan, namun demikian harus dibayar mahal dengan ancaman tsunami khusus bagi anggota GAM yang akan berontak, karena sekarang sudah jelas bagi rakyat Aceh mana yang GAM dan bukan GAM, karena sekarang setiap anggota GAM akan mengaku GAM karena akan mendapat tanah, rumah dan uang sesuai dengan perjanjian Helsinky.

Di dunia manapun yang dinamakan pemberontak adalah harus dihancurkan, seharusnya ketika Hasan Tiro mencangkan pemberontakkan dengan merangkul Tengku atau ideology Islam terdepan mengetahui betul bahwa hal ini tidak diridhoi Allah, karena ia telah menghalalkan darah sesame muslim hanya karena kalah tender di Arun, kenapa ia tidak memperjuangkan Aceh ketika ia masih di Jokja atau sebelumnya, akan tetapi ketika kalah tender baru ia memberontak. Hasan Tiro telah melanggar setiap aturan yang telah disepakati kakeknya Tengku Cik Di Tiro, bahwa muslim adalah saudara.

Sekali lagi bingkai politik bagi kemakmuran rakyat Aceh adalah dengan membagi tiga Aceh, sehingga GAM tidak lagi berpikir untuk merdeka dan anak cucu kami dapat belajar dan bekerja dengan baik mengejari cita-citanya, bukan lagi meneruskan Perang Bodoh dan sia-sia ini. Saya hanya menyayangkan ribuan orang yang mati itu tidak masuk syurga, mereka merasa berjihad tapi malah berperang karena dendam, Hasan Tiro harus bertanggung jawab untuk hal yang satu ini. Dengan pemekaran wilayah seluruh dunia tahu bahwa ternyata rakyat Aceh yang menginginkan kemerdekaan itu sedikit sekali, tapi mereka dengan menggunakan internet seolah-olah sudah merasa paling pintar, padahal mereka telah menyebarkan kebohongan yang semakin membuat rakyat Aceh menderita.

Ketika Hasan Tiro kembali ke Aceh sekian lama belum lama ini, dan ia mengutarakan pemikirannya untuk menjaga perdamaian di Aceh, terlihat jelas bagaimana seorang yang menjilat lidahnya sendiri telah kembali, orang yang menjilat lidahnya sendiri dapat dikatakan sebagai seorang Munafik, silahkan sekarang rakyat Aceh yang melihat siapa yang munafik. Orang yang dahulu mengumandangkan Perang Bodoh tanpa memikirkan akibatnya bagi rakyat Aceh, kemudian lari ke AS, kemudian mengirimkan senjata untuk memperpanjang konflik, kemudian meminta pajak nanggroe untuk beli senjata (saya takutnya ternyata uang Hasan Tiro itu adalah uang dari Rakyat Aceh yang dibelikan senjata, kemudian ia berbisnis senjata, dari situ ia hidup dengan segala kemewahannya di Swedia, bahkan ia sempat menikah dengan seorang Yahudi).

Saya hanya mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara terbesar yang mayoritas Islam Suninya, bukan Syiah, jadi ketika Hasan Tiro menjual isu Negara ini ke USA dan Uni Eropa, berarti ia telah menjual Islam secara keseluruhan. Karena Negara-negara tersebut tidak mau ada keamanan di Negara Islam terbesar ini, mereka menginginkan kekacauan di Negara ini, lebih kepada kebangkitan Islam di Indonesia, bukannya kepada kemerdekaan Aceh, jadi inikah yang ingin diperjuangkan oleh anak-anak Nanggroe, menjual agamanya untuk Hasan Tiro ? Atau bisakah kita menerima bahwa semua Islam di Indonesia adalah Munanfikun atau mengatakan bahwa orang Jawa itu Kafir, inikah yang akan diperjuangkan oleh anak-anak Nanggroe ? Apalah guna membawa kata-kataYazid, ternyata isunya hanya untuk menghancurkan umat Islam, kemana kebanggaan kita sebagai Muslim, akan hilang oleh propaganda Aceh Merdeka, apa yang dicari dari Aceh Merdeka, seperti sekarang ini ketika Gubenrnurnya Irwandy dan Mou Helsinky dijalankan maka setiap Panglima Sago punya mobil mewah dan tanah, begitu juga anak buahnya, bersombong ria mengatakan bahwa Aceh Damai karena GAM, menjijikkan.

Kepada orang Aceh yang berpendidikan, sudah saatnya kita berpikir jernih, sudah saatnya kita melawan intimidasi, sudah saatnya kita melangkah kedepan tanpa harus memikirkan Perang Bodoh yang telah membuat anak-anak kita bodoh, yang menghilangkan sebuah generasi penting sebagai estafet orang Aceh, untuk membangun Aceh.

Kepada rakyat Aceh yang telah diintimidasi, saatnya untuk melawan dan merapatkan barisan, kalau perlu gandeng TNI untuk keamanan kita, biar bagaimanapun TNI masih lebih bisa dirangkul daripada GAM, GAM sudah jelas punya kepentingan, TNI orang luar yang mereka paling tidak masih punya kode etik dan pimpinan yang bisa dipegang. Sedangkan GAM siapa yang bisa menjaminnya, pendidikan mereka rendah, pelatihan mereka juga rendah, kebanyakan mereka adalah anak-anak korban perang, sudah barang tentu mereka belum teruji mentalnya. Saatnya sekarang Rakyat Aceh dapat menentukan pilihan.








13 November 2008

PREDIKSI PEROLEHAN SUARA PARTAI ACEH

Kedatangan Wali ternyata sepertinya tidak membawa hasil yang diinginkan oleh Partai Aceh, ini terbukti dari hasil-hasil yang dapat dilihat pada kunjungan Wali ke NAD.

Wilayah Pantai Timur Aceh (cikal bakal Provinsi Aceh)
Kedatangan Irwandy pada daerah timur memang didatangi oleh banyak warga, salah satunya adalah hubungan kedaerahan yang cukup besar yang ditandai dengan asal dari Wali, yaitu Pidie. Sehingga banyak warga yang berbondong-bondong datang untuk melihatnya.

Wilayah Barat dan Selatan (Cikal bakal Provinsi ABBAS)
Nampaknya kedatangan Wali kurang mendapat renspon yang cukup baik, karena penduduk daerah tersebut sudah sejak lama antipati dengan GAM. Sehingga pihak Partai Aceh sampai mengikutsertakan anak sekolah untuk menyambut kedatangan Wali. Jumlah mereka yang datang hanya berkisar 400 an orang. Padahal Bupati dari Aceh Barat dan Selatan berasal dari GAM

Wilayah Tengah (Cikal bakal Provinsi ALA)
Tampaknya setelah melihat kondisi di ABBAS, Partai Aceh membatalkan kunjungannya ke Tengah, karena mereka sadar bahwa di Tengah itu semakin tidak dapat diperediksi.

Dari analisa mudah ini saja dapat diprediksikan:
Pertama, Partai Aceh hanya akan dapat bersaing di Wilayah Timur saja, sedangkan wilayah Barat, Selatan dan Tengah mereka sepertinya akan gigit jari.
Kedua, daerah perkotaan tampaknya akan sulit dimenangkan oleh Partai Aceh karena masyarakatnya sudah cukup maju dan tidak bisa diintimidasi oleh KPA atau GAM yang mengatakan bahwa keamanan sekarang adalah karena GAM yang mau berdamai, padahal sesungguhnya karena GAM yang sudah lemah posisinya karena tsunami dan kekurangan dana dan kesulitan ekonomi anggotanya. Khususnya daerah pedesaan tampaknya GAM akan berupaya melakukan intimidasi, untuk mengantisipasinya maka Partai-partai besar nasional, utamanya Golkar untuk dapat melakukan penetrasi beserta TNI untuk dapat menghasilkan Pemilu yang adil.
Ketiga, ternyata kedatangan Wali tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, malah hanya semakin memperlemah Partai Aceh, karena seharusnya Wali itu milik semua rakyat Aceh, tapi semakin jelas bahwa Wali milik GAM, pemberontak bagi NKRI.
Keempat, hal yang perlu diantisipasi adalah kekalahan yang akan dialami oleh Partai Aceh, akan menyebabkan anggota GAM kekurangan uang, dan ini bukan tidak mungkin akan menyebabkan terjadinya pemberontakkan kembali, bila ini terjadi akan ada kemungkinan tebas habis anggota GAM, dan terbentuknya ALA dan ABBAS.

Analisa Khsusus
Banyaknya masyarakat Aceh memilih Irwandy karena menginginkan perdamaian, dengan alasan yang penting mereka bisa mencari makan, sehingga dengan memilih orang dari GAM diharapkan tercipta perdamaian.
Namun permasalahannya sekarang masyarakat Aceh sudah tahu bahwa ternyata berkah itu hanya datang untuk anggota GAM melalui KPA, semuanya hanya untuk anggota GAM, seperti halnya yang disebutkan dalam MoU Helsinky.
Bila kita dapat menjaga harkat orang Aceh, menjaga kebebasan rakyat Aceh maka dapat dipastikan bahwa Partai Aceh akan kalah, karena sekarang rakyat Aceh tahu mana yang lebih mementingkan siapa. Bahkan rakyat Aceh juga tahu bahwa pembangunan di Aceh saat ini adalah hasil daru dunia internasional (NGO-NGO)dan bantuan seluruh rakyat Indonesia yang telah membantu mereka dalam musibah tsunami, bukan GAM.

Selamat berjuang rakyat Aceh, mari berjuang demi rakyat Aceh, bukan kepentingan sekelompok orang yang ternyata lebih memntingkan diri sendiri dan merasa paling berjasa.