Aceh merupakan sebuah wilayah yang begitu dihormati sejak adanya Raja-raja Eropa dahulu kala, namun semuanya menjadi hancur ketika segelintir orang Aceh mencanangkan sebuah peperangan yang membawa rakyat Aceh kedalam kebodohan dan dendam.
12 Februari 2009
Kebangkitan Gayo Tinggal Menunggu Waktu
Kekeberen Gayo yang juga merupakan peninggalan dari Muyang Datu masyarakat Gayo juga telah memperlihatkan bagaimana besarnya orang Gayo dahulu, sebuah suku yang berasal dari Ruum kemudian berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan pada pesisir selatan, menguasai Kute Reje pertama kali, bisa menjadi Reje di Perlak, menjadi Reje diberbagai tempat pada pesisir utara pulau Sumatera. Benar atau tidaknya cerita ini, menunjukkan bahwa suku Gayo itu tidak mau berada di bawah, suku Gayo itu tidak mau dijajah.
Namun, dibalik keunikan itu semua suku Gayo juga menjadi sebuah suku yang terbuka, mereka lebih mementingkan Islam dari pada kesukuannya. Suku Batak sudah lama bercampur dengan suku Gayo bahkan juga sudah menghasilkan keturunannya yang mempunyai marga, suku Padang juga telah melakukan perkawinan dengan suku Gayo bahkan mereka menetap pada daerah Blang Kjern sekarang ini, bahkan suku Aceh pun menjadi favorit bagi suku Gayo untuk menjadi menantu dengan kawin angkapnya. Bila dilihat dari ini semua adalah hal yang sangat biasa jika nanti suku Jawa juga melakukan percampuran kebudayaan melalui perkawinan dengan suku Gayo. Sungguh ini merupakan sebuah modal bagi suku Gayo untuk menjadi seorang pemimpin.
Lantas kemudian pertanyaannya adalah apakah ini tidak akan menghilangkan adat istiadat dari suku Gayo itu sendiri ? Tentu saja tidak, karena sudah terbukti selama suku Gayo menggunakan adat istiadat mereka maka mereka akan tetap bertahan dengan bahasa gayonya dengan adatnya. Kemudian juga dipertanyakan jika kemudian suku Gayo terus melakukan percampuran kebudayaan lantas dimana suku asli Gayo ?
Menurut saya suku asli Gayo itu sudah tidak ada lagi, secara rasional suku asli Gayo dikatakan berasal dari suku melayu tua atau dari bangsa Ruum, masih dalam penelitian dan perdebatan, dan ini terjadi sejak tahun 1000 an M, menurut Kerajaan Linge I. Lantas ketika persilangan perkawinan ini terjadi apakah masih ada suku asli Gayo selama berabad-abad mereka melakukan perkawinan dengan suku Batak, suku Padang, suku Aceh, etnik China, atnik Arab dan terakhir suku Jawa.
Kebanggaan masyarakat Gayo adalah ketika mereka menggunakan bahasa Gayo sebagai bahasa mereka sehari-hari, menggunakan adat istiadat Gayo dalam kehidupan mereka sehari-hari, itulah sekarang kebanggaan menjadi Gayo, bukan suku apa mereka, kebanggaan menjadi suku Gayo adalah ketika Islam menjadi pedoman hidup orang Gayo.
Menurut salah satu tokoh Gayo M. Yunus Melalatoa, mencatat sedikitnya ada 5 faktor yang menyebabkan terjadi perubahan kebudayaan sebuah masyarakat, antara lain; 1) faktor perubahan komposisi penduduk, 2) perubahan sumber daya alam dan lingkungan fisik, 3) penemuan teknologi baru, 4) adanya invasi; adanya penjajahan oleh kelompok lain, peperangan, dan 5) kontak dengan masyarakat lain dan kebudayaan masyarakat lain itu menggantikan kebudayaan setempat.
Faktor Perubahan Komposisi Penduduk
USA atau Amerika Serikat sekarang ini merupakan sebuah Negara yang paling menguasai dunia, namun penduduk asli mereka adalah Indian Cherooke, ibunya Presiden USA sekarang Obama. Namun kemajuan USA bukan karena suku Indian di mulai ketika masuknya imigran-imigran yang berasal dari Eropa dan Asia bahkan kemudian berkembang dengan lebih jauh lagi dari Afrika, dahulunya mereka di bawa sebagai budak. Sejarah Amerika juga memperlihatkan bahwa ketika itu mereka untuk mendapatkan dataran Amerika harus mendapatkan perlawanan dari suku Indian.
Atau Australia, sebuah Negara yang dahulu suku aslinya adalah suku Aborigin, lantas seperti halnya dengan suku Indian mereka juga merasakan ketidaknyamanan ketika pendatang memasuki wilayah mereka. Mereka juga melakukan perlawanan, tapi yang terjadi adalah terus masuknya para pendatang tersebut untuk mengolah hasil bumi yang ada pada Australia tersebut.
Kita akan lihat bahwa apa yang dikatakan oleh M. Yunus Melatoa adalah sangat benar bahwa ternyata perubahan komposisi penduduk akan membawa perubahan yang besar pada pola pikir masyarakat tersebut. Ini adalah hal yang teramat rasional sekali, ketika sebuah kelompok lain masuk maka sudah barang tentu ia membawa peradaban baru dari tempatnya berasal. Ini pada dasarnya akan membawa perubahan-perubahan menuju lebih baik atau menuju tidak baik, tergantung bagaimana penduduk yang terleih dahulu tiba itu atau penduduk yang datang berkoloborasi dalam interaksi kehidupannya. Atau juga tidak terlepas dari kebudayaan mereka dan agama yang mereka anut tentunya.
Keunikan dari suku Gayo adalah suku ini berhasil bertahan dengan kegayoannya sudah selama 20 abad lamanya, bahkan mereka juga tetap berhasil dengan bahasa dan istiadatnya hingga kini, dengan Islamnya. Mereka amat bangga dengan kegayoannya, walau akhir-akhir ini sepertinya terlihat pergeseran nilai-nilai Gayo pada masyarakat Gayo karena dampak dari teknologi informasi pada era globalisasi saat ini. Dan ini tidak hanya terjadi di Gayo tapi pada setiap belahan dunia saat ini. Sekarang kita akan melihat bagaimana suku Gayo dapat bertahan dengan adat istiadat dan bahasanya. Dan ada keyakinan saya kalau masyarakat Gayo akan tetap bertahan dengan adat istiadat dan bahasanya, kita akan lihat.
Perubahan Sumber Daya Alam Dan Lingkungan Fisik
Ketika dahulu masyarakat Gayo dari dahulu hingga sekarang pekerjaannya adalah pertanian maka ini memperlihatkan bahwa suku Gayo itu bergantung kepada alam, dengan alamnya yang subur, sehingga mau tidak mau itu akan memperngaruhi watak dan karakter mereka.
Karakter mereka yang bertani adalah anti konflik, dalam arti mereka tidak suka konflik, mereka lebih menyukai kehidupan mereka saat ini. Itulah yang menyebabkan sebagian orang mengatakan masyarakat Gayo itu pemalas dengan kondisi alam dan kesuburan tanahnya itu.
Namun, seperti malasnya mereka, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang cerdas, anak-anak yang bebas bermain dengan alamnya, anak-anak yang selalu riang gembira menikmati setiap keindahan alam dan rangsangan-rangsagan alam terhadap otaknya, terlebih lagi buat anak usia dininya.
Ini dibuktikan dengan sejarah yang sering kali mencatat bahwa setiap orang Gayo yang merantau ke negeri orang maka ia akan menjadi lebih besar. Banyak tokoh-tokoh Gayo sebenarnya di dunia ini, baik dalam dan luar negeri, terlebih lagi sekarang, baik mereka yang sedang menuntut ilmu maupun yang sudah bekerja. Keburukan mereka adalah ketika mereka sudah berhasil mereka sering kali lupa untuk pulang ke kampungnya, membangun kampungnya. Belum lagi belah-belah pada diri mereka yang sangat kuat, ada uken ada toa, ada bintang, ada ketol, ada bukit dan lain sebagainya. Semuanya semakin memperlihatkan bahwa sesungguhnya memang bangsa Gayo itu terdiri dari genetika yang berbeda-beda, mereka sangat kuat belah-belahnya. Yang bisa menyatukan mereka semua adalah satu yaitu Islam.
Keuntungan dari generasi Gayo saat ini adalah mereka relative aman dari konfli, orang Gayo harus berterima kasih kepada tetua-teua dahulu kita yang cepat sadar untuk tidak mengikuti konflik berkepanjangan yang dicanangkan oleh Hasan Tiro dengan konsep Perang Bodohnya, karena mereka labih mementingkan persaudaraan sesama muslim, mereka tidak mau terjebak dalam konflik yang menyebabkan anak cucu mereka menjadi hancur.
Generasi Gayo selangkah lebih maju dari generasi Aceh korban konflik saat ini, belum lagi mereka yang saat ini sudah bersekolah dengan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Potensi inilah yang harus terus kita kembangkan. Potensi inilah yang sekarang akan mampun mengambil kembali Aceh dari orang-orang Aceh sekarang.
Kemengan lingkungan ini agar segera dicermati oleh generasi-generasi muda Gayo untuk terus maju ke depan memajukan Gayo. Baiknya mereka mulai berpikir untuk kembali ke Gayo dan membangun tanoh Gayonya. Namun perlu diingat oleh mereka yang berada di Gayo agar member kesempatan bagi mereka yang di luar Gayo untuk sumbangsihnya, memberikan mereka jalan menuju pembangunan Gayo.
Atau jika perlu mereka mengambil alih Aceh dengan kecerdasan mereka, generasi muda Gayo dipastikan lebih sabar dan santun, selain intelektual mereka tinggi mereka juga akan pandai dalam mengendalikan emosi, sehingga mereka akan lebih cepat mencuat dari pada teman-temannya dari Aceh korban konflik.
Penemuan Teknologi Baru
Perubahan-perubahan di Gayo tidak terlepas dari masuknya teknologi, saat ini informasi begitu cepat masuk ke Gayo yang terkadang membutuhkan sebuah filter bagi mereka, jadi kembali ke adat adalah harus, penegakkan syariat Islam is amust.
Hal yang perlu diingat bahwa masuknya teknologi itu juga tidak mungkin dihindari, mereka akan datang sebegitu derasnya tanpa bisa dicegah. Ini menjadi kegalauan tidak hanya menjadi pemikiran dari tokoh-tokoh Gayo akan tetapi menjadi pemikiran dari berbagai tokoh dari berbagai daerah. Masuknya teknologi itu berdampak kepada perubahan pola pikir yang harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua yang mempunyai anak, seorang suami yang mempunyai istri, seorang istri yang mempunyai suami, seorang atasan yang mempunyai bawahan, seorang bawahan yang mempunyai atasan dan lain sebagai pada setiap tingkatan strata sosial masyarakat.
Invasi Kelompok Lain Dan Kontak Dengan Masyarakat Lain Dan Kebudayaan Masyarakat Lain Itu Menggantikan Kebudayaan Setempat
Orang Gayo merupakan karakteristik yang unik, saya sering kali menyebutkanya seperti filosogi tari guel, orang Gayo itu pintar untuk mengikuti sebuah kebudayaan yang ternyata dampaknya adalah membawa masuk budaya tersebut kedalam Gayo. Menurut saya ini bukan merupakan sebuah kebodohan atau ketakutan, ini merupakan sebuah kecerdasan seorang manusia, dalam sebuah ilmu kecerdasan dikatakan orang seperti ini mempunyai akal yang panjang, mereka jarang sekali ingin jatuh ke dalam sebuah konflik tapi mereka tidak pernah takut konflik karena malu mereka amat besar. Inilah keunikan suku Gayo.
Bila saja keunikan-keunikan ini terpelihara dari konflik maka akan lahir tokoh-tokoh besar dari Gayo, dengan memberikan mereka sedikit pengetahuan tentang bagaimana bisa mengaktulisasikan diri dengan baik. Bagaimana bisa mengungkapkan pemikirannya bagi kepentingan dirinya.
Sehingga Gayo tidak pernah dijajah siapapun, siapa yang menjajahnya malah menjadi sahabat atau temannya, bahkan dijadikan saudaranya. Hebat bukan suku Gayo kami ini. Suku apapun yang akan datang ke Gayo merasakan hal yang sama, ntah itu Aceh, Gayo atau Padang, mereka cenderung lebih tunduk kepada Gayo.
Suku Gayo juga lebih mengutamakan keselamatan mereka terlebih dahulu, mereka tidak mau ikut-ikutan dalam konflik yang berkepanjangan jika itu hanya merugikan mereka. Sejak dahulu saya ingin meneliti tentang orang Gayo, saya lahir dan besar di Jakarta, saya yakin filosofi bangsa Gayo ini adalah pantas untuk disejajarkan dengan filosofi bangsa-bangsa besar di dunia ini.
Dan perlu juga disadari bahwa salah satu yang membuat besar Aceh adalah suku Gayo. Karena kalau Aceh menggunakan pola pikiran GAM seperti sekarang ini sudah dipastikan Aceh tidak akan jaya seperti dahulu. Sifat mereka adalah seperti Banteng, tidak bisa dikatakan tidak, kalau A ya A, kalau B ya B bahkan mereka rela menipu untuk itu.
Beda dengan Gayo mereka pada dasarnya tidak pernah memperlihat sesungguhnya apa keinginan mereka, mereka begitu santun, dalam kemarahanpun mereka berpikir keras, mereka menguasai amarah mereka. Saya bahkan menilai Gayo itu perpaduan dari Padang dan Jawa dengan kekerasan Aceh pada tempatnya. Indah bukan. Sayang sifat malu orang Gayo terlalu besar sehingga mereka malu mengungkapkan pemikiran dan diri mereka, inilah yang nanti kedepan menjadi permasalahan tokoh-tokoh Gayo.
Gayo adalah suku besar, mereka sampai saat ini masih bertahan adat istiadat mereka.
Gayo Akan Menguasai Aceh
Dari pembahasan di atas dapat terlihat bahwa cepat atau lambat orang Gayo akan semakin maju selama mereka tidak terlibat konfilk dalam PERANG BODOH. Orang Gayo, Jamnee atau Aceh lain yang terbebas konflik, sekarang sudah melangkah di depan dibandingkan dengan orang-orang Aceh korban konflik yang rasanya mereka akan menjadi suruhan-suruhan orang orang-orang yang cerdas tersebut.
Namun permasalahannya adalah orang-orang Aceh sekarang sudah mengetahuinya dan mereka melakukan sebuah gerakan “Asal Bukan Gayo“, peran mereka sejak dahulu selalu dibatasi dengan harapan merekalah nanti yang akan maju ke depan.
Ironisnya lagi, sebagian dari mereka kini sedang mencoba membawa Gayo kembali ke dalam konflik, inilah yang menyebabkan ALA dan ABBAS selalu didengungkan oleh mereka karena mereka ketakutan dalam konflik kembali, terlebih lagi dengan konsep yang membenci sebuah suku yang kini hidup dengan damai di Gayo.
Tapi dari sisi kecerdasan with ALA or No ALA, Gayo akan menguasai Aceh, menguasai orang-orang yang baru tenang kalau di cocok hidungnya dengan uang dan harta, bagi orang Gayo ini adalah makanan empuk, belum lagi nanti keluar keberanian Gayo yang selama ini memang ditakuti oleh orang Aceh sejak zaman muyang datu Aceh dan Gayo itu ada.
Jelas, tidak ada alasan Gayo tidak akan menguasai Aceh, bahkan ada kemungkinan Indonesia ini bisa dikuasai oleh generasi penerus Gayo kelak.
Tidak ada ALA maka kita akan kuasai Aceh melalui tangan yang lain, inilah orang Gayo yang sering kali dikatakan pengkhianat oleh GAM karena keengganannya untuk masuk ke dalam GAM, panjang akal dan berani.
Waktunya orang Gayo sekarang ini harus mampu untuk menjadi yang terbaik, tidak terjebak Perang Bodoh, terus menuntut ilmu generasi mudanya, jangan mau dinjak-injak, jangan mau di tusuk hidungnya seperti kerbau karena masa kita akan segera tiba. Seluruh penjuru angin telah mendukung kita.
Masuk saja kalian ke PRA, ke PA atau ke SIRA, kuasai mereka, mereka itu orang yang mudah dikuasai sebenarnya, maka tidak heran sebentar lagi orang-orang Gayo akan menguasai Aceh. Tapi ingat orang Aceh itu akan terus menjegal kamu, makanyaaa pintar-pintarlah menyusun perencanaan, nanti kalau kau kepepet barulah kau berpikir bahwa ALA itu penting. Bayangkan perjuangan ALA akan terus berlanjut selam ketidakadilan ada. Sedangkaan GAM hanya akan menjadi musuh rakyat Aceh kelak jika konsepnya dengan Perang Bodoh ini dilanjutkan.
Bila Keislaman Masyarakat Gayo Kembali
Oleh : Subayu Loren
Masyarakat Gayo yang menyebut dirinya dengan “Urang Gayo”, adalah pemeluk agama Islam. Secara lahiriah ke-Islaman orang Gayo dapat dilihat dari pola perkampungan dengan bangunan Mersah, Joyah dan Mesegit. Bagi masyarakat Gayo, agama Islam dengan segala Akidah dan Kaidahnya merupakan acuan utama perilaku mereka yang bergandeng dengan norma Adat. Keterjalinan antara Agama (Milad) dan Adat ini terekam jelas dalam ungkapan “Edet mungenal hukum mubeza” atau “Edet Pegerni Agama”[1].
Ada banyak interpretasi tentang ungkapan “Edet Pegerni Agama”[2], salah satu pengertian yang cukup kuat mengungkap maksud ungkapan tersebut adalah bahwa masyarakat Gayo pelindung Islam. Dengan kata lain bila Agama mengatakan “satu”, maka orang Gayo mengatakan “tiga”[3]. Ambil contoh kasusnya tentang persaudaraan, dimana orang Gayo mengatakan dirinya sebagai satu Ayah dan Ibu, dan karenanya saling mengamankan. Di masa lalu, ketika adat masih berfungsi, Agama berjalan dengan baik. Silaturrahmi yang dilandasi kasih sayang, dan menjadi keseharian masyarakat Gayo ini dinyatakan dengan ungkapan “sara urang”[4] artinya satu persaudaraan.
Manifestasi ungkapan “sara urang” dapat dicerna dari terjaminnya keamanan “beberu” atau gadis dari berbagai ancaman kejahilan orang atau pihak lain. Perwujudan “sara urang” juga diperlihatkan dalam tata hidup lokal masyarakat “belah”, dimana tidak ada sawah yang tidak tergarap atau “talu”[5] meski pemiliknya adalah nenek-nenek yang sudah menjanda. Pemuda dan pemudi dengan telah mengambil tanggungjawab menggarap sawah, menyemainya, merawat sampai panen.
Kini, persaudaraan Gayo sebagaimana terangkum dalam ungkapan “sara urang” sulit ditemui, karena pranata Adat Gayo tidak lagi berfungsi dan berperan. Bahkan masyarakat Gayo sekarang jatuh ke dalam kekacauan. Kita biasa dengan pemandangan perkawinan antara pemuda dan pemudi di dalam sebuah kampung yang tidak lagi dianggap aib, sudah lumrah terjadi.
Bila terjadi kekecauan di internal urang Gayo, maka persaudaraan urang Gayo dengan masyarakat tetangganya terikut. Hubungan antara urang Gayo dengan tetangganya terangkum dalam ungkapan Adat “Beloh Sara Loloten, Mewen Sara Tamunen, Ke Bulet Lagu Umut, Ke Tirus Lagu Gelas” pun tinggal ungkapan. Konsepsi persaudaraan ini juga sedang menuju tahap kehancurannya. Bila di masa lalu, bila ada yang menyerang Gayo maka “Ureung Acheh” akan ikut membela, begitu kebalikannya bila ada pihak yang menyerang orang Aceh, maka Urang Gayo akan ikut membela. Sekarang dan di masa depan, jalinan hubungan persaudaraan Aceh dengan Gayo diprediksi tidak lagi seindah dulu. Penyebabnya baik masyarakat Gayo maupun Aceh sudah diintervensi pengaruh luar. Akibatnya, jangankan Aceh dengan Gayo akan terpisah, Gayo dengan Gayo sendiri telah terbelah.
Dengan demikian pula keamanan masyarakat Gayo tidak lagi terjamin seperti dulu. Di masa sekarang, bila terjadi peristiwa tragis, dimana ada orang yang me “roba”[6] saudara perempuan kita, masyarakat cenderung diam, tutup mulut. Padahal dulu, baru iseng mengganggu anak gadis, bisa menyebabkan perang. Karena jalinan seperti itulah, maka dikatakan Edet Gayo tersebut sebagai pagarnya Agama. Ketika Adat Gayo “hilang”, masyarakat Gayo sekarang diibaratkan seperti kebun kehilangan penjagaannya. Binatang dengan leluasa mengobrak abrik isi kebun. Sampai pada tahap ini, karena malu sudah hilang, maka perilaku orang Gayo pun tak lebih baik pula dari binatang. Serbuan budaya luar tidak hanya ditujukan untuk merusak Milad “Agama” tetapi ditujukan untuk merusak inti masyarakat Gayo, yaitu pengalihan “urang Gayo”, dari manusia kaffah kepada manusia bukan kaffah. Yang mementingkan Jasmani daripada Rohani. Penjelasan ini, amat terkait dengan maksud Adat Gayo sebagai pagar Agama.
Tidak lagi seperti sediakala, Adat Gayo diakui telah mengalami perubahan, karena tidak lepas dari pengaruh lingkungannya. M. Yunus Melalatoa, mencatat sedikitnya ada 5 faktor yang menyebabkan terjadi perubahan kebudayaan sebuah masyarakat, antara lain; 1) faktor perubahan komposisi penduduk, 2) perubahan sumber daya alam dan lingkungan fisik, 3) penemuan teknologi baru, 4) adanya invasi; adanya penjajahan oleh kelompok lain, peperangan, dan 5) kontak dengan masyarakat lain dan kebudayaan masyarakat lain itu menggantikan kebudayaan setempat[7].
27 November 2008
Gayo Merdeka atau Kepanjangan GAM
Subject: [IACSF] DEKLARASI GAYO MERDEKA
Kepada bangsa kami dan semua bangsa GAYO Dimanapun berada di
seluruh pelosok dunia:
Kami yang tergabung dalam Panitia Persiapan Gayo Merdeka (PPGM) dengan ini menyatakan bahwa akan tetap meneruskan perjuangan Gayo merdeka dan menuntut keadilan yang lebih luas dan merata di tanah leluhur kami, Gayo, dengan penghormatan terhadap hukum-hukum
international.
Diakui bahwasanya terdapat aspek positif dari Gayo merdeka, bangsa gayo lebih dulu merdeka dari pada bangsa Aceh dan bangsa jawa. Bangsa Aceh telah menjajah bangsa gayo ratusan tahun lamannya, bahkan sampai sekarang. Hak-hak kami telah di rampas oleh bangsa aceh pesisir, harta benda dan hasil bumi kami dirampok untuk kepentingan bangsa Aceh.
Kami para pejuang setia Gayo Merdeka telah berdiri tegak dan bersatu dalam barisan PPGM ini bertekad : melanjutkan perjuangan kemerdekaan; mengembalikan kedaulatan Negara dan Bangsa; mempersiapkan berdirinya suatu pemerintahan yang bebas dan demokrat di bumi gayo; memperjuangkan aspirasi bangsa gayo yang tertindas dan terabaikan. Semua maksud tersebut akan kami jalankan demi kebaikan bangsa kami agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia dalam kontribusinya untuk memperjuangkan perdamaian dunia, hak asasi manusia, kemerdekaan, keadilan, dan demokrasi.
Kami percaya bahwa tidak ada suatu alasanpun yang dapat menghalangi kelanjutan perjuangan ini. Aspirasi Bangsa gayo telah jelas tertulis dalam Proklamasi gayo Merdeka 20 Mei 1945, dan terpahat dalam setiap jiwa bangsa gayo, khususnya mereka yang telah berjuang tak kenal
lelah untuk mencapai cita-cita tersebut.
Dengan ini kami memanggil semua bangsa gayo di mana pun berada agar bangkit bersama dalam suatu barisan untuk merebut kembali kedaulatan serta martabat bangsa dan Negara gayo. Dalam rangka menyusun kembali perjuangan besar yang kita warisi ini, telah kita dirikan panitia Persiapan gayo Merdeka yang akan mengambil langkah-langkah penting dalam meraih maksud tersebut.
Atu lintang, 20 Nopember 2008
Panitia Persiapan Gayo Merdeka
Ulasan Kosasih Bakar:
Sebelum saya memberikan tanggapan tentang Gayo Merdeka, sebenarnya ada yang menarik di sini. Ini semua akan menjadi pembelajaran bagi orang Aceh semua.
PRRI
Kita sudah seringkali mendengar pemberontakkan yang dahulu dilakukan oleh para tokoh-tokoh nasional, saya akan mengambil contoh Moh Natsir, ia diindikasikan telah berupaya atau turut bergabung dalam PRRI, padahal ia merupakan seorang Muslim yang begitu sederhana dan kaffah, integritas dan kejujurannya amat sangat luar biasa. Hal ini sudah barang tentu membuat semua orang terkaget-kaget.
Namun, itu ternyata merupakan sebuah pembelajaran, seorang Moh Natsir yang sekarang resmi diangkat menjadi Pahlawan Nasional ternyata ingin mengingatkan Soekarno yang telah berafiliasi dengan Komunis. Didahului oleh Bung Hatta, maka ini terus berlanjut ketika Bung Karno mendekatkan diri kepada Komunis hampir semua tokoh Islam yang waktu itu lebih banyak dari Minang melakukan perlawanan-perlawan an. Salah satunya adalah PRRI.
Pemberontakkan itu ternyata tidak dilakukan oleh masyarakat Minang akan tetapi ternyata notabene TNI yang berasal dari Minang, sehingga korban relatif sedikit dan tidak ada. Mereka juga amat membenci Jawa waktu itu, namun sekali lagi karena Islam merupakan Rahmatan Lil Alamin maka perdamaian dapat terjadi, seperti halnya dengan DI/TII di NAD.
Wacana Gayo Merdeka
Ada yang menarik dari Gayo Merdeka ini, wacana ini sesungguhnya bisa jadi merupakan reaksi dari rakyat Gayo yang memang mereka benar-benar merasa tidak dihargai oleh NKRI yang melama-lamakan perpisahannya dengan NAD sehingga membuat rakyat Gayo ini menjadi semakin menderita, ini dapat dikatakan seperti apa yang dilakukan oleh Moh Natsir, mempertanyakan keseriusan SBY dan JK dalam memperhatikan wilayah yang selama ini terdepan dalam mempertahankan keutuhan NKRI di NAD.
Namun, disisi lain ada hal yang berbahaya disini, bila ini dilakukan maka yang akan bertepuk tangan adalah GAM, mereka akan langsung mengambil uluran tangan ini untuk kembali memperjuangkan Aceh Merdeka yang kiranya sekarang sudah ada Gerakan Gayo Merdeka yang mendukungnya.
Sekarang rakyat Aceh tinggal melihat akan kemana mereka tujuannya, jika mereka tujuannya seperti halnya Muh Natsir, tentunya sebagian rakyat Gayo akan mendukung mereka secara wait and see saja. Tapi bila ini bertujuan untuk berafiliasi dengan GAM maka akan rakyat Aceh lihat bahwa Gerakan ini ternyata sama saja dengan Panglima Tingga Gayo yang diberikan organisasi baru, mari kita lihat isi dari yang mendeklarasikan Gayo Merdeka tersebut.
Bahayanya Gerakan Gayo Merdeka
Namun bila Gerakan Gayo Merdeka didukung oleh GAM maka yang terjadi adalah ketidakamana bagi rakyat Gayo, karena GAM kemudian akan membuat sebuah peperangan antar suku dengan mengangkat Chauvisme Gayo, padahal dalam Gayo tidak mengenal Chauvisme, dalam Gayo hanya mengenal siapapun yang berbahasa Gayo dan menggunakan adat Gayo maka layak disebut dengan Bangsa Gayo. Ini semua terlihat dari berbagai hasil perpaduan yang ada di dataran tinggi Gayo saat ini, kebanyakan mereka sudah melakukan perpaduan budaya.
Bila chauvisme ini berhasil diangkat maka yang terjadi adalah geonesida, pertama kali yang dilakukan oleh GAM adalah mengadu antara Suku Gayo dengan suku pendatang, utamanya Jawa, maka perang akan berlanjut, citra ALA akan semakin hancur, TNI akan berpikir ulang untuk memberikan ALA, yang terjadi adalah peperangan antara Gayo dan TNI. Tapi rasanya skenario ini juga akan seperti buih air, karena tidak mungkin setelah sekian tahun bersama mereka akan mudah diadudomba. Kembali orang-orang tersebut akan diindikasikan sebagai kepanjangan GAM oleh NKRI.
Sikap Rakyat Gayo
Rasanya sudah jelas sikap rakyat Gayo, mereka agar pertama kali melihat aktor berdirinya Gerakan Gayo Merdeka, bila itu memang tokoh yang memperjuangkan kedamaian Gayo, maka yang terbaik dilakukan adalah wait and see, karena mereka sudah pasti tidak ingin mengorbankan rakyat Gayo ke dalam sebuah konflik yang selama ini selalu dijaga oleh para tokoh Gayo.
Namun bila itu berasal dari GAM maka jelas apa yang harus dilakukan oleh rakyat Gayo.
Pentingnya Aktor Dibalik Gayo Merdeka
Rakyat Aceh atau Gayo khususnya sudah barang tentu tahu betul mana yang memperjuangkan rakyat Gayo atau hanya memperkeruh keamanan pada rakyat Gayo. Kita rakyat Gayo harus tahu betul untuk yang satu ini, siapa aktornya.
Selama ini aktor-aktor yang memperjuangkan Gayo dalam keadaan aman adalah aktor-aktor yang menginginkan adanya ALA, sedikit selain dari itu, ada beberapa sebab, karena Gayo sudah amat heterogen, tentunya perjuangan model ini belum tentu disetujui yang lainnya.
Ulasan Kedua Kosasih Bakar:
Dalam istilah masyarkat Gayo atau Aceh pada umumnya, tidak ada MERDEKA ATAU MATI. Kemerdekaan itu datangnya dari Allah. Bukan dari Manusia.
Yang ada MATI SYAHID atau HIDUP MULIA, jadi setiap kematian itu hanya diperuntukkan untuk memperjuangkan kalimah Laa Ilaha Illallah.
Salah satu hal yang menyebabkan perjuangan GAM hancur adalah karena sifat perjuangannya Ashobiyah, kesukuan. Dalam Islam tidak dikenal membenci satu suku, yang ada bagaimana memeperjuangkan kalimah Allah, dan yang terpenting mengutamakan perdamaian ketika ada perselisihan dengan saudaranya seiman.
Inilah perbedaab orang Gayo dengan orang Aceh, GAM, mereka lebih rela untuk menumpahkan darah sesama muslim dari pada berdamai.
Mereka tidak melihat tokoh-tokoh muslim dahulu yang telah membentuk NKRI, salah satunya Daud Beureuh, mereka berjuang hanya kepentingan kelompoknya. Ini jelas bukan orang Gayo, ini jelas bukan yang diajarkan kepada Muslim.
21 November 2008
Gayo Bukan Chauvisme (Dialog Dengan Win Wan Nur)
Beberapa hari setelah kunjungan kami ke Borobudur, aku bersama klienku berkunjung ke Kraton Yogyakarta, dalam kunjungan ke keraton ini kami tidak bersama-sama dengan Pak Bekti. Di sini kami langsung
ditemani oleh Guide resmi Keraton yang berpakaian batik warna merah. Guide inilah yang menjelaskan setiap detail bangunan, pernak-pernik dan adat dalam keraton.
Dalam lingkungan keraton yang luasnya 1 kilometer persegi ini terdapat banyak sekali bangunan-bangunan dengan berbagai fungsi.
Di setiap bangunan dan halaman yang sangat bersih dalam lingkungan keraton ini aku melihat banyak sekali pekerja yang ternyata adalah para abdi dalem keraton. Mereka berpakaian biru dengan blangkon dan
sarung khas jawa. Mereka ada yang sekedar duduk khusuk seperti bersemedi, bersila langsung di atas pasir tanpa alas, ada yang menyapu halaman, membersihkan debu yang melekat di instrument musik dan perabotan milik keraton dan ada pula yang membaca buku-buku yang ditulis dalam huruf sanskerta dan bahasa jawa.
Pemandangan seperti ini jauh lebih menarik perhatianku daripada sekedar mendengarkan penjelasan guide tentang sejarah dan seluk-beluk keraton, bagiku Manusia adalah bagian paling menarik dari seluruh
alam semesta
Sebelumnya, aku sudah sering mendengar cerita tentang bagaimana taatnya para abdi dalem ini kepada sultan junjungan mereka. Tapi rasanya tentu berbeda kalau aku mendengarkan cerita itu langsung dari orangnya. Karena saat ini aku berada di keraton ini aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenallangsung manusia yang disebut Abdi Dalem ini. Aku ingin merasakan langsung emosi mereka merasakan sendiri bagaimana bentuk ketaatan mereka yang melegenda terhadap raja junjungan mereka.
Aku mendekati seorang Abdi Dalem yang sedang membersihkan debu di salah satu bangunan keraton, aku duduk di sampingnya dan mulai mengajaknya bercakap-cakap. Aku menanyakan nama dan bertanya
bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang Abdi dalem di keraton ini. Namanya Pak Muchlosid, dia mengaku telah menjadi Abdi dalem di keraton ini sejak beberapa tahun yang lalu.
Pak Muchlosid bercerita kalau sekarang di Keraton ini sekarang ada peraturan yang mensyaratkan bahwa yang boleh melamar untuk menjadi Abdi Dalem harus yang berumur di bawah 40 tahun. Mendengar ini aku
merasa penasaran dan menanyakan jumlah gaji yang diterimanya. Ketika itu kutanyakan, Pak Muchlosid dengan bangga mengatakan kalau dia tidak digaji apa-apa. Dia bekerja sebagai Abdi Dalem murni karena Lillahi Ta'ala. Pekerjaan sebagai Abdi Dalem yang dia lakukan sejak pagi hingga sore ini adalah bentuk pengabdiannya yang tulus dan tanpa pamrih kepada Sultan junjungannya. Pak Muchlosid pun tampak begitu bangga akan pengambdiannya ini, karena menurutnya sebenarnya banyak sekali orang lain yang berminat menjadi Abdi Dalem tapi ditolak. Kata Pak Muchlosid, dalam keraton ini Abdi Dalemlah yang membutuhkan Keraton, bukan sebaliknya.
Ketika kutanyakan bagaimana caranya dia menghidupi keluarganya kalau seluruh waktu produktifnya dihabiskan dengan bekerja di Keraton ini, Pak Muchlosid menjawab kalau unytuk itu dia memelihara ayam yang
dikelola oleh istrinya. Urusan ekonomi keluarga itu sama sekali bukan urusannya. Aku benar-benar takjub mendengar penuturan Pak Muchlosid ini, lebih takjub lagi ketika aku mendengar pengakuan yang sama keluar dari mulut Abdi Dalem lain yang kuajak bicara.
Sehabis dari keraton, kami berjalan-jalan di pasar burung. Pasar ini sangat bersih, sangat berbeda dengan Pajak Petisah di Medan atau Pasar Ampera dekat rumahku di Jakarta . Ketika aku bertanya mengenai hal ini kepada beberapa pedagang yang berjualan di sana , kenapa pasar ini bisa sedemikian bersihnya. Mereka mengatakan, itu karena mereka tidak ingin pasar terlihat kotor jika tiba-tiba Sultan datang berkunjung kesana.
Begitu dahsyatnya pengaruh Sultan dalam kehidupan Orang Jogja, begitu besarnya rasa taat dan rasa hormat mereka kepada raja junjungan mereka. Bahkan Islam, agama yang katanya sangat egaliter dan memandang setiap manusia dengan derajat yang samapun tidak mampu mengikis 'mentalitas borobudur' dari dalam diri orang Jogja. Dengan mentalitas seperti ini tidak heranlah kalau makna Demokrasi bagi orang Jogja yang merupakan salah satu pusat dunia intelektual di Indonesia ini adalah meminta Sultan untuk menjadi penguasa seumur hidup.
Sehabis dari pasar burung, kami kembali ke hotel. Sore harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dengan menumpang kereta api.
Saat berada dalam gerbong kereta yang membawaku menuju Surabaya . Aku merenungkan apa yang kurasakan dan kualami selama di Jogja. Membayangkan Borobudur yang megah, membayangkan Pak Muchlosid dan
para Abdi Dalem lainnya yang memiliki kesetiaan tanpa batas terhadap rajanya.
Kemudian aku mencoba membayangkan apa jadinya jika ada orang yang berencana membangun Borobudur di Aceh. Sekuat apapun aku berusaha aku tidak berhasil membayangkannya. Aku teringat pada ucapan seorang
antropolog Belanda bernama Snouck itu, Belanda yang paling dibenci di Aceh ini mengatakan. Orang Gayo adalah 'True Republican'. Berdasarkan hasil penelitiannya, Hurgronje mengatakan berkebalikan denan Jawa,
Orang Gayo adalah orang-orang yang bebas dari rasa takut terhadap raja atau pemimpinnya. Tidak seperti orang Jawa yang selalu mengatakan 'Inggih' terhadap semua titah rajanya, Orang Gayo selalu berani dan tidak pernah merasa ada beban jika mengatakan hal-hal yang berbeda dengan pendapat pemimpinnya.
Masyarakat dengan karakter jenis ini sampai kapanpun tidak akan pernah mampu membangun karya seni seagung dan seindah Borobudur .
Aku merenung sebentar, lalu kuperhatikan wajah-wajah klien perancisku yang 3 hari belakangan ini terus bersamaku. Wajah-wajah dari orang-orang yang mematuhi apapun yang aku katakan dalam setiap aktivitas
yang mereka lakukan.
Kemudian aku mengingat kembali wajah-wajah mereka yang sangat antusias mendengarkan aku bercerita saat kami mengobrol di Meja makan, saat aku bercerita tentang hal-hal kecil. Tentang diriku, keluarga dan juga tentang putri kecilku yang sekarang tumbuh besar dalam kesadaran sebagai seorang warga dunia yang tidak mengenal batas-batas artifisial yang disebut negara.
Aku juga mengingat saat akupun mendengarkan cerita mereka tentang kampung dan keluarga mereka, tentang budaya minum anggur mereka, tentang keju Perancis yang jenisnya ratusan banyaknya. Seperti mereka
yang penuh antusias mendengarkan ceritaku akupun mendengarkan cerita mereka dengan antusiasme yang sama. Saat itu aku dapat merasakan dengan jelas betapa indahnya hidup seperti ini, hidup dalam perasaan setara, tidak ada rasa lebih rendah atau perasaan lebih tinggi sebagai sesama manusia.
Mengingat itu tiba-tiba aku merasa bersyukur, aku sadar Gayo dengan karakter khasnya memang tidak akan pernah bisa membangun karya seni berbentuk fisik yang nyata dan bisa diraba seindah dan seagung Borobudur yang kini menjadi kekagumanku dan juga dunia. Sebuah artefak yang menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat yang membangunnya dulu.
Tapi kepadaku dan semua orang Gayo generasi sekarang, muyang datuku berhasil mewariskan karya seni lain yang tidak kalah indah dan agungnya dibandingkan Borobudur . Bedanya karya seni warisan muyang datuku ini hanya dapat dirasakan tapi tidak dapat dilihat dan diraba secara fisik. Karya seni Gayo yang indah dan agung itu adalah mentalitas Gayo yang oleh Hurgronje digambarkan sebagai mentalitas 'TRUE REPUBLICAN' yaitu perasaan setara dalam relasi antar sesama manusia.
Karya seni warisan muyang datuku ini adalah karya seni yang sama seperti yang bisa kita temukan dalam eindahan setiap relief peradaban modern di berbagai belahan dunia.
Inilah 'Borobudur Gayo' warisan muyang datuku yang paling berharga yang akan kujaga baik-baik dan akan kuwariskan kepada gayo-gayo keturunanku.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur. blogspot. com
Tanggapan Kosasih Bakar:
Pluralisme
Marilah bersama kita lihat bersama sebuah ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang pluralisme dan kebersamaan. Seperti:
Ide tentang pluralisme dalam Al-Quran sudah disebutkan sejak penciptaan manusia. Tuhan sebagai Dzat yang transenden menciptakan manusia dari sepasang laki-laki dan perempuan, dan dari keduanya dijadikanlah manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (QS 49:13)
Seandainya terjadi perselisihan antar sesama mukmin hendaklah dikembalikan kepada Al_Qur’an dan Assunah, karena keduanya adalah pegangan setiap mukmin. Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian akan selamat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya”. (HR. Abu Dzar)
Jadi, adalah teramat jelas berdasarkan ayat-ayat itu bahwa sesungguhnya semua manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, yang membedakannya adalah keimannya. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu ketika lahir di dunia ini, apakah ia bersuku Aceh, bersuku Jawa, bersuku Gayo atau lainnya. Mereka juga tidak tahu apakah mereka akan berkulit putih atau hitam atau sawo matang, yang mereka tahu hanyalah menangis sebagai awal kehidupan mereka.
Bahkan semakin membuat saya terhenyak dan mengeluarkan air mata adalah ketika tahu bahwa Hasan Tiro dan penerusnya melalui Gerakan Aceh Mereka telah menghalalkan darah sesame muslim yang tumpah di bumi Indonesia, sebuah bumi dengan mayoritas terbesar penduduknya Islam, sebuah Negara yang kaya dan terdiri dari berbagai macam suku, sebuah Negara yang seringkali dikatakan sebagai Macan Asia Yang Tidur, Negara tersebut kini masih dalam kesulitan-kesulitan yang mendera karena berbagai ragam kesulitan-kesulitan baik KKN, separatism, Krisis Moneeter dan lain sebagainya.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (Perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)
Terbayang oleh saya ketika GAM berperang mengatakan “Allahu Akbar,” kemudian di sisi yang lain TNI yang notabene muslim juga mengatakan “Allahu Akbar,” merinding saya membayangkannya. Dalam perang semua bisa terjadi, jangan katakana kejahatan perang hanya dilakukan oleh TNI, kejahatan perang juga dilakukan oleh GAM. Seperti GAM menceritakan bahwa Rakyat Aceh diperkosa, dibunuh, dicincang oleh TNI, begitu juga sebagian rakyat Aceh mengatakan bahwa mereka juga diperkosa, dicincang, dibakar oleh GAM. Semua berlomba untuk mengabadikan setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing lawannya.
Kesalahan dari GAM adalah ketika ia membenci Suku Jawa, karena merasa NKRI itu diwakilkan oleh Jawa, padahal NKRI itu terdiri dari banyak suku bangsa. Mereka berupaya membangun nasionalisme rakyat Aceh tersebut melalui hal tersebut, kesalahan konsep ini berakibat fatal ketika ternyata rakyat Aceh sudah banyak yang berasal dari suku Jawa sejak zaman Iskandar Muda, bahkan pada zaman kemerdekaan. Sekaligus ini menafikkan salah satu sunnatullah bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah berbagai ragam untuk saling mengenal.
Hal ini semakin menarik, dikala permusuhan tradisional antara Aceh dan Gayo mencuat, ketika sejarah memperlihatkan bahwa Aceh dan Gayo itu mempunyai bahasa yang amat berbeda, ketika Aceh dan Gayo mempunyai adat yang berbeda, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Gayo tidak mau dikatakan Aceh atau Aceh tidak mau dikatakan Gayo, atau ketika mereka saling memperolok dengan sebutan ‘Gayo Re’ dari orang Aceh atau ‘Aceh Pungo’ dari orang Gayo yang sudah demikian tertanam sejak zaman nenek muyangnya.
Ketika dipertanyakan siapa suku asli di Aceh, maka sudah jelas jawabannya adalah suku Gayo, akan tetapi ketika dipertanyakan sejauh mana kemurnian suku Gayo sekarang ini atau siapa yang benar-benar suku Gayo? Abad pertama yang menceritakan tentang Kerajaan Linge seringkali dikatakan sebuah generasi pertama dari suku Gayo. Namun, abad-abad berikutnya dan seterusnya sudah tentu generasi itu melakukan perkawinan silang, terlebih lagi dengan sifat orang Gayo yang labih menyukai untuk perkawinan angkap atau mengambil menantu dari luar daerahnya. Ini sangat memungkinkan, karena dalam suku Gayo tidak diperkenankan menikah dalam satu kampong dan hukumannya adalah di parak dahulu. Keterbukaan orang Gayo memang luar biasa. Setelah selama hampir 19 abad dengan banyaknya perkawinan maka yang akan menjadi pertanyaan adalah siapa suku Gayo itu ? Jawaban yang termudah adalah suku yang tetap menggunakan bahasa Gayo dan tetap mempertahankan adat Gayo untuk menjalani kehidupannya.
Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABBAS) merupakan salah satu akibat dari konsep kemerdekaan GAM tersebut, sebuah konsep yang pragmatis. Selama ini hampir dalam setiap statemennya GAM mengatakan bahwa isu ALA dan ABBAS disebarkan oleh pihak-pihak NKRI tanpa pernah mau melihat kenyataan bahwa memang pada daerah tersebut sering terjadi ketidakadilan yang kerap kali diterima, banyak hal sebenarnya, sebagai contoh ketika masih zaman Orde Baru setiap pimpinan yang ditunjuk dari Pusat kebanyak orang-orang Aceh pada daerah Gayo, ini tentu menandakan bahwa usaha mereka menganggap orang Gayo itu lemah dan tidak mampu dalam mengelola daerahnya, atau dampak lainnya adalah ketika SDM yang ada di Gayo amat rendah, sampai sekarang masih bisa dihitung yang S2 atau S3 nya, belum pernah ada seorang Menteri dari Gayo, padahal sebenarnya ada beberapa tokoh dari Gayo yang jelas bisa menduduki jabatan ini, ini adalah akibat dari permusuhan tradisional antara Gayo dan Aceh seperti halnya yang terjadi antara suku Sunda dan Jawa sampai saat ini.
ALA dan ABBAS merupakan salah satu strategi untuk dapat mengamankan Aceh di masa yang akan datang, dengan ALA dan ABBAS maka konsep Aceh Merdeka akan hilang, adalah tidak memungkinkan Aceh Merdeka hanya sebanyak 30% dari wilayah Aceh sekarang. Kembali kembali kepada suku Jawa, ironisnya pada daerah ALA dan ABBAS sudah begitu banyak transmigran yang ada, bahkan telah melakukan perkawinan antar suku, sehingga ikatan batin dari kedua-dua suku tersebut sudah amat mengental.
Sesungguhnya ini juga yang ditakutkan bila GAM berhasil memerdekakan diri mereka dengan konsep 4 negara bagian, akan timbul peperangan sebelumnya antara suku Jawa dengan suku-suku lain yang ada, ini akan mengakibatkan ketidakamanan kembali, yang akan terjadi adalah peperangan antar etnik. Kemudian apa yang akan terjadi dengan anak-anak yang merupakan hasil dari perkawinan silang, haruskah mereka memilih kepada suku siapa, ama atau inenya ? Setelah ini selesai pertentangan antara Gayo dan Aceh juga tidak akan berhenti, karena sebagian orang Gayo sudah amat keras mengatakan Asal Linge Awal Serule, mereka adalah penguasa Aceh dahulunya. Ini akan terus berlanjut, kemudian akan timbul yang namanya Gayo Merdeka yang sudah barang tentu akan didukung oleh suku Jawa. Terbayang oleh saya sebuah peperangan yang tidak akan pernah habis dari bumi Aceh yang kita cintai karena Faham Chauvinisme (Kesukuan yang tinggi) dari suku Aceh. Yang akan terjadi adalah Geonesida (pemusnahan satu suku) Jawa, lantas kemudian Gayo.
Selain dengan perang, maka salah satu jalan untuk menghilangkan satu suku adalah dengan budayanya, seperti halnya Kute Reje diganti dengan Banda Aceh, ini adalah satu contoh bagaimana Aceh akan menghilangkan kembali sejarah Gayo. Bisa dibayangkan nama-nama yang diberikan pada daerah Aceh dahulunya sekarang sudah berganti, nama-nama yang didapat dari perjalanan Sengeda bersama Gajah Putih, seperti Biren, dsb. Inilah yang mereka lakukan, GAM akan menjadikan bahasa Aceh sebagai bahasa nasional bahkan mengganti semua sebutan-sebutan yang berbau Gayo, bila ini terjadi maka anak cucu kita tidak akan pernah mengenal Gayo lagi seperti halnya kita sekarang tidak betul-betul mengetahui Kerajaan Linge denagn sesungguhnya. Ada sebuah anekdot, ketika 50 tahun nanti sewaktu Aceh Merdeka dan tidak mampu menghilangkan Chauvinismenya maka anak-anak dari orang Gayo akan menanyakan kepada orangtuanya “Ama, Gayo itu apa sih,” (dalam bahasa Aceh), lalu ayahnya menjawab “Gayo itu adalah batu hitam yang dulu berasal dari daerah bernama atu lintang,”. Sungguh menyedihkan bukan. Apakah Tanah leluhur kita akan dijual dengan semudah itu, wahai serinenku yang mendukung GAM.
Belum cukupkah kita yang menguasai seluruh Aceh kini hanya tinggal di dataran tinggi, dan seringkali mereka takut kepada kita seperti halnya melihat orang yang tertinggal atau tidak berpendidikan, Penguasa Daerah Pesisir Utara Sumatera. Tidakkah kita pernah berpikir kenapa kita sampai terusir ke atas gunung, tidakkah kita berpikir ini semua karena kita memang seringkali perang oleh Aceh, kita selalu termakan oleh tipu Aceh. Serinenku, mari kita berpikir jauh sekali ke depan. Sudah kita hancur oleh Perang Bodoh ini, kemudian kita menjual tanah leluhur kita dengan harga murah dan dengan mengorbankan sejarah kita yang seringkali mereka korbankan.
Berijin.