04 Februari 2009

Gamang Memberi Arti ?

Bagian pertama

Ketika sampai dirumahnya Umar menemukan Win sudah ada di ruang tamunya, duduk di sofa tamunya yang lembut, menunggunya. Umar memang mempunyai rumah yang indah yang lengkap dengan perabotan mewahnya sekaligus halaman yang luas.
“Hmmm. Asslam Win,” sapa Umar
“Hai, Wasslm. Wah saudaraku yang luar biasa ini sudah datang rupanya,” jawab Win.
“Kaifa haluk ?” tanya Umar
“Ahlan wa sahlan, syukron akhi, antum ?” Jawab Win.
“Alhamdulillan baik, ada apa Win, tumben kau kemari, ada yang bisa kubantu,” tanya Umar kembali.
“Hah, jangan begitu kau Umar, aku hanya ingin bercerita kepadamu. Tapi kau jauh berubah sekarang ya, rumahmu mewah sekali, ketika aku ke sini tadi hampir aku tidak percaya ini rumahmu. Anak dan istrimu juga cantik dan gagah-gagah. Kau buat aku iri kawan, iri dengan semuanya. Ketika melihat anakmu yang perempuan aku teringat anakku yang kecelakaan. Aku merindukannya Mar,” kata Win sambil berkaca-kaca air matanya.
“Sabar Win, inget Tuhan…ah sudahlah jangan lah kita berdiskusi kembali tentang Tuhan, aku sudah tahu jawabanmu,” cepat-cepat Umar berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mar, kau ingat tentang pembicaraan kita sebelum aku pergi ke Denmark dan kau ke Mesir tentang Kemerdekaan, waktu itu kita berdebat keras bahwa kemerdekaan menurut kamu adalah ketika kita merdeka dari yang namanya kemiskinan dan kebodohan tanpa harus menjadi sebuah Institusi atau Negara selama mereka tidak melakukan pembudakan. Tapi aku bersikeras bahwa kemerdekaan itu harus diraih bila sudah punya institusi yang mengayomi kepentingan kita, setelah itu baru kita mengejar ketertinggalan, apapun pengorbanannya” kata Win.
“Ha ha, ya aku ingat itu. Kau tetap tidak mau mengakui argumenku bahwa bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah setiap keluarga di dunia ini punya keinginan Merdeka, gila kan kalau ini terjadi, jangan-jangan nanti akan ada Negara Cahaya dan Langit..ha ha ha.” Ujar Umar.
“Ah, aku masih tidak setuju dengan kau Mar. Kau tidak tahu apa-apa tentang kemerdekaan, bagiku lebih baik kita jadi sebuah keluarga yang punya kehormatan dengan mengorbankan yang harus dikorbankan sebagai pahlawan, bukankah itu lebih heroic. Kehormatan Mar, kehormatan…tak ngerti kau Mar tentang hal itu karena kau terlalu banyak baca Kitab sejak dulu,” jawab Win.
“Win, apa yang kau inginkan dari kemerdekaan ? Apa Win ? Bukankah yang kita tuju tetap kepada memerdekakan diri kita dari kemisikinan dan kebodohan dari pada kau sebar itu konflik lantas kita harus masuk ke dalam lingkaran setan berupa dendam dan intimidasi, berpikirlah kau Win,” kata Umar lantang, rupanya ia sudah terbawa kembali masa lalu ketika mereka berdua muda berdebat.
“Itulah kau Mar sejak dulu tidak pernah lepas dari mata kudamu, ya itu dengan Agama gilamu itu, lepas Mar, berpikir merdeka. Kita ini punya darah pejuang, darah anti dijajah orang lain, kita ini punya kelebihan sama orang-orang bodoh di bawah kita itu. Sekarang gimana caranya kita menguasai orang-orang bodoh itu untuk kemudian kita bakar semangat mereka untuk merdeka lantas kita jadi pemimpin dan kemudian kembali membodohi mereka. Jangan lupa kita siapin pengganti kita dari anak-anak kita, ha ha,” ujar Win sambil tertawa.
Umar terheran-heran dengan Win, pemikiran-pemikiran ini pernah ia dapat dari Illuminati sewaktu pertama kali, walau ia mengikutinya ia tetap mempertanyakannya dihatinya, rupanya aku masih punya filter, tapi Win Gila ini menelan habis cerita itu dan bahkan ia sudah punya kemampuan untuk menambah-nambahnya.
Umar menarik nafas panjang kemudian berkata ““Dari dulu aku selalu mengatakan bahwa Islam tidak pernah mengijinkan kita untuk berjuang dengan ashobiyah atau golongan, kau pernah dengar hadistnya kan. Win semakin gila kau Win, lebih dari dulu..he he,” sahut Umar.
“Terserah kau lah. Mar, aku mau minta bantuan kamu untuk itu. Aku mau pimpin Keluarga ini, aku mau turunkan dulu bapak-bapak kita yang sudah tua itu, mereka sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertindak, mereka sudah pikun semua. Aku mau buat cheos keluarga ini sebelum kemudian menghancurkan keluarga Langit,” kata Win bersemangat.
“Ah, kau Win. Kau mau mengambil hakku ya..he he. Tapi sebelum itu kau harus lihat dulu tayangan ini,” kata Umar dengan corak wajah yang tiba-tiba menyendu.
Umar bangkit dari tempat duduknya dan menghidupkan TV serta alat pemutar Video kemudian berkata “Win, aku ada wawancara dengan keluarga kita yang hidupnya tidak seberuntung kita yang aku filmkan, aku melakukan ini tempo hari untuk mejadi bahan penelitianku tentang kondisi keluarga kita yang sudah mulai kehilangan kebersamaannya ini,” kata Umar.
Di layar Televisi terlihat bahwa Umar berjalan-jalan dipinggiran kota, ia mengunjungi sebuah rumah gubuk yang terlihat memiriskan hati bagi orang yang melihatnya.
Tok tok tok, suara pintu diketuk oleh Nur.
“Asslm,” kata Umar.
“Wasslm, siapa ya,” jawab orang yang ada di dalam rumah itu.
“Umar Nek, ini cucu Nenek. Masih ingat kan ? “ ujar Umar.
Terdengar suara batuk-batuk dari dalam rumah tersebut. Krreekk, pintu reot itu terbuka perlahan dan terlihat seorang wanita tua yang sudah agak bungkuk, wajah dan tangannya ditutupi keriput yang menandakan ketuaannya, rambutnya yang sudah memutih semua di tutupi oleh pakaian bersih yang sangat tua tanpa model yang amat dekil, tapi matanya masih terlihat tajam.
“Uh, siapa ni. Nenek da lupa, masuk, masuk, duduk, duduk” kata Nenek lirih.
Terlihat di TV Umar menyalami nenek tersebut sambil mencium tangannya. Win berkata “Wah, kau seperti masih dalam zaman feodal saja..he he,”
Umar hanya melirik saja kepada Win sambil tersenyum sinis.
Kembali ke layar televise, terlihat Umar duduk di sebuah kursi tua yang terbuat dari rotan, kondisinya sudah amat mengharubirukan. Rumah gubuk itu ternyata hanya mempunyai 3 ruangan, ruang tamu bergabung dengan dapur berukuran 4 x 5 m, kemudian sebuah ruangan yang menjadi kamar bagi nenek itu dan sebuah kamar mandi sepertinya dipojok kanan rumah. Ketika nenek itu sedang mempersiapkan minuman bagi mereka berdua tanpa sengaja kameraman memperlihatkan bahwa di dalam kamar nenek itu seorang anak yang sepertinya berumur 9 tahun sedang tertidur dengan pulas.
Melihat hal ini Umar teringat kembali masa-masa kecilnya dahulu yang penuh dengan kehangatan dari nenek dan kakeknya memeliharanya. Walau bedanya ialah anak itu dalam keadaan yang serba kekurangan sedangkan ia dapat dikatakan berkecukupan.
Umar sejak kecil memang sudah yatim piatu sejak berumur 5 tahun, kedua orang tunya telah menjadi korban konflik antara Keluarga Cahaya dan Keluarga Langit. Semenjak itu pula ia di asuh oleh kakek dan neneknya dengan segenap kasih sayang sehingga ia terbebas dari akibat psikologis seperti korban konflik lainnya. Kakek dan Neneknya selalu menyuruhnya untuk dekat kepada Tuhan, tidak boleh mendendam dan memberikannya semua keindahan sebuah keluarga. Ia diasuh oleh keduanya sampai ia pergi ke Mesir. Keduanya meninggalkan dunia ini ketika ia baru 3 bulan di Mesir dan mendengar bahwa keduanya meninggal karena kecelakaan. Semenjak itulah ia di Mesir berusaha untuk dapat menyambung hidup dengan segala upayanya melanjutkan kuliahnya.
Sejarah hidupnya inilah yang mendekatkan dirinya dengan Win, seperti juga dirinya hal ini terjadi juga dengan Win, tapi bedanya Win masa kecilnya agak berbeda dengannya sejak kecil sudah harus membawa dendam dihatinya. Kalau ia diasuh oleh Kakek Neneknya dengan menghilangkan dendam dari hatinya tapi Win hidup dengan pamannya bersama sepupu-sepupunya dalam dendam. Ia megetahui ini karena mereka SD satu bangku, masuk pesantren dari SMP dan SMA juga bersama-sama. Dibalik kebuasannya sebenarnya dalam diri Win masih ada sedikit kelembutan dan kebaikan yang selama ini dicoba ditutupinya juga karena ia terkadang kelepasan dalam setiap ucapan dan tindakkannya. Dan ini menyebabkan ia harus bisa bersikap seperti apa yang ia ucapkan dan tindakannya. “Kasihan kau Win, malah kau sekarang masuk ke dalam perangkap Illuminati, padahal kalau kau tahu kau hanya sebagai pion yang akan dikorbankan tentu kau akan berpikir 1000 kali mengikuti wanita setan itu. Walau aku masuk tapi aku masih punya hal-hal yang kupersiapkan untuk kepentingan aku, aku menggunakan mereka untuk kepentinganku,” ujar Umar dalam hatinya.
“Kamu siapa, tapi wajah kamu sepertinya mengingatkan aku akan seseorang ?” tanya Nenek.
“Saya Umar Nek, anaknya Indah, saya dulu sering main ke sini bersama kakek dan nenek. Mungkin nenek ingat sama dengan Ida, Nenek saya,”kata Umar.
Terlihat nenek itu berpikir keras,tiba-tiba wajahnya semeringah “Iya, nenek inget sekarang, ya ya kamu, da besar dan ganteng lagi sekarang ya…,” katanya. Kemudian nenek bangkit dari duduknya dan memeluknya serta mencium dahinya.
“ Iya Nek, sudah hampir setahun aku ada disini, dan baru bisa mendapatkan alamat Nenek sekarang. Dengan siapa sekarang, Nek ? Kemana om Adi dan Ali, kenapa nenek tidak tinggal bersama mereka, dan itu siapa yang di kamar?” tanya Umar setelah Nenek itu mengenalinya, karena memang Umar sejak dahulu selain sama kakek dan neneknya dekat dengan keluarga ini.
Nenek itu tiba-tiba sesegukan menahan sedihnya, air mata mulai keluar berjatuhan tanpa bisa tertahan lagi, kemudian ia berkata “Umar, semuanya sudah habis karena konflik, semuanya sudah diambil Tuhan, hanya Tari satu-satunya yang tinggal bersama Nenek, dial ah yang mengurus Nenek. Tapi nenek tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya, nenek tidak punya apa-apa, untuk menyabung hidup nenek mendapat bantuan dari saudara-saudaramu hingga sekarang bisa berjualan alakadarnya di pasar dekat rumah ini Umar,” jawab Nenek.
Mendengar hal tersebut hati Umar menangis, tanpa terasa ia meneteskan air matanya. Ia teringat kakek neneknya yang juga berjuang baginya untuk mendapatkan pendidikan yang baik, tapi ini. Ini merupakan sebuah siksaan bagi nenek yang sudah tua ini. “Konflik…konflik…konflik…kenapa kita semua mau ke dalam konflik, apakah kalau kita tidak mau konflik kemudian dikatakan pengecut. Kenapa orang-orang yang gila konflik itu tidak berlaku seperti Mahatma Gandhi yang telah memerdekakan India tanpa harus dengan perang yang mengorbankan orang ribuan. Atau kenapa harus konflik kalau kami yang masih seiman ini masih bisa bersama untuk menjunjung perdamaian. Layakkah perang ini terjadi kalau masih bisa ada kedamaian yang bisa dicapai ? Laknatullah kau yang telah menyukai konflik,” tiba-tiba Umar berteriak dalam hatinya.
Ketika ia tersadar dari teriakan hatinya ia sadar bahwa mungkin ia juga telah terjerumus kedalam konflik ini atau sedang terjerumus. Ketika masuk kedalam kelompok Illuminati ia sudah mengadakan kesepakatan untuk tidak terjebak dengan konflik yang ada pada keluarganya saat ini. Tapi ia telah berulang kali membantu untuk kepentingan Illuminati untuk membuat cheos berbagai keluarga dan membuat hancur berbagai organisasi. Tapi khusus untuk dari kalangan yang seiman dengannya ia hanya memberikan informasi penting tentang actor-aktor yang berperan serta perencanan dari organisasi yang akan dihancurkan tersebut, tapi ia juga tahu actor-aktor yang menghancurkan agamanya itu. Hal inilah yang membuat ia berdua muka. Mukanya tiba-tiba memerah dan tangannya gemetar menahan amarah dan penyesalan yang ada pada dirinya.
Nenek itu bangkit dari kursinya dan mengambil sesuatu dari kamarnya, “Cucunda, nenek diberi fhoto oleh salah satu keluarga kita bagaimana keluarga kami dibantai oleh orang-orang yang tidak dikenal, bahkan pelakunya sampai saat ini belum ditangkap. Tapi dari bukti-bukti ini dilakukan oleh Keluarga Langit…hu hu,” tiba-tiba nenek itu menderu tangisnya.
Foto-foto itu memang menggambarkan kebiadaban dari penbantaian tersebut, bahkan rasanya ini di luar kemanusiaan atau bahkan sengaja dibuat untuk membuat panas situasi orang yang melihatnya. Foto yang disorot oleh Kameranya temannya Umar memperlihatkan bahwa mayat-mayat tersebut sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, bahkan bagian dari terpotong-potong itu terlihat hangus, wajah mereka juga semuanya sekarang sudah tidak dikenal lagi. Terlihat terdapat 4 mayat orang dewasa dan 1 mayat anak kecil.

Melihat fhoto-fhoto ini Umar tak kuasa lagi menahan sedih dan amarahnya, terlihat di layar Televisi itu ia segera keluar rumah tersebut, ntah apa yang dilakukannya.
Umar yang menonton hanya dapat menarik nafas panjang, karena diluar ia memukulkan tangannya ke pohon pisang hingga pohon itu tumbang, karena untuk meluapkan kemarahannya ia telah memukul dengan keras berkali-kali pohon itu menumpahkan segala kemarahannya dan rasa bersalahnya.
Tak lama kemudian Umar memasuki rumah tersebut dengan raut muka yang sudah agak tenang.
“Umar, kedua pamanmu menurut otopsi Pemerintah darahnya telah habis sebelum dibakar, rasanya mereka telah menguras darah dari kedua pamanmu sebelum dibunuh,” lanjut nenek itu sambil sesenggukan.
“Iya Nek, sabar ya Nek, nanti Umar akan cari tahu siapa yang telah membunuh keluarga nenek, harus sabar ya. Ini Nek, ada sedikit rezeki dari saya untuk Nenek, mudah-mudahan Nenek bisa menggunakannya untuk usaha dan ini juga bisa membantu Tari untuk sekolah sampai SMA,”
“Umar, terima kasih Umar, kamu baik sekali, semoga Allah akan memberikan kamu berkah dan rahmatnya. Ingat Umar, jangan tergoda bisikan syetan, semua kekerasan yang sekarang terjadi di daerah kita adalah bisikan iblis yang terkutuk, dimana manusia sudah menjadi serakah, manusia sudah menjadi binatang dan yang lebih bahaya lagi manusia sudah menjadi sombong seperti iblis, sehingga ia merasa dirinya paling mulia dibandingkan manusia lainnya dan merasa pantas untuk bisa menghina manusia lain yang bukan dari golongannya. Terakhir pesan nenek Umar, jangan kamu sekali-kali menyimpan dendam, karena Nabi tidak pernah mengajarkan kita dendam, itu semua adalah perbuatan syetan. Nenek bisa lihat kamu masih ada gundah dengan semuanya, ingat pesan nenek ya Umar..” nenek itu kembali sesenggukan lebih keras kali ini. Seolah-olah nenek itu tahu apa yang ada di hati Umar, seolah-olah ia mengerti apa kegundahan Umar.
Mendengar hal itu Umar tak kuasa memeluk neneknya itu, ia juga meneteskan air matanya. Tak lama kemudian ia membelai pipi nenek itu kemudian kepalanya dan mengecup keningnya, selanjutnya berkata “Iya Nek, terima kasih Nek. Doakan Umar. Asslm,” salam Umar kemudian ia bersama temannya meninggalkan rumah tersebut.
Umar lantas mematikan TV tersebut, dan berkata “Win, gimana Win, kamu da lihat kan akibat konflik, tidak saja fisik tapi juga psikis, dan kita yang menjadi salah satu korbannya, kita juga merasakan kan Win,” ujar Umar.
Win yang sejak tadi diam karena batinnya kembali terlibat konflik hanya menganggukkan kepala saja.
Seperti juga Umar, ketika ia melihat anak kecil tadi ia juga teringat dirinya. Ia telah megarungi hidup yang berat karena konflik, karena ia merupakan korban konflik. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh Keluarga Langit, dendam sudah tertanam dalam hatinya. Ia selalu berniat suatu saat ia harus berhasil menjadi orang yang punya kekuasaan untuk menghancurkan Keluarga Langit bagaimanapun caranya.
Terlintas kembali olehnya dokumen rahasia yang diberikan Nur kepadanya bagaimana upaya dari Illuminati untuk membuat 2 keluarga itu terus bertempur dengan alasan Keluarga Langit memang tidak layak diberikan ada dengan semua ulahnya, ini menyebabkan ada sedikit kesal dalam diri Win. Dokumen yang dibacanya juga menceritakan bahwa Keluarga Cahayalah yang sesungguh lebih baik daripada Keluarga Langit, kemunduran Keluarga Cahaya selama ini karena mereka telah terjajah puluhan tahun lamanya. Bahkan dokumen tersebut juga menunjukkan data-data kebiadaban yang terjadi selama konflik berlangsung.
Semuanya seolah-olah berupaya menunjukkan bahwa yang menyebabkan terjadinya konflik ini adalah karena Keluarga Langit menjajah Keluarga Cahaya, yang menyebabkan kemunduran. Dan yang terpenting menurut Illuminati bahwa Langit harus dienyahkan, dan kedamaian hakiki itu tidak akan pernah ada selama ada Keluarga Langit di muka bumi ini. Hal inilah yang menyebabkan Illuminati selalu berupaya berulangkali dengan strateginya untuk dapat mengobarkan perang kembali untuk mengembalikan kejayaan dari Keluarga Cahaya. Dan adalah hal yang wajar jika yang nantinya sebagian keuntungan akan diberikan kepada actor-aktor yang berjasa, demikianlah yang terpikir di otaknya si Win yang egoismenya kini sudah menjadi Tuhan.
Memikirkan ini semua maka semakin tertutup hati Win, semakin dendam kepada Keluarga Langit dan kepada Tuhan semua itu menjadi tertutup, ia tidak peduli lagi dengan korban tambahan yang harus dikorbankan. Semua itu semakin menjadi ditambah dengan keangkuhannya, yang sudah terlukiskan dengan segala perbuatan dan perkataannya. Yang pasti apapun yang akan diberitahukan kepadanya untuk mencegah konflik kembali adalah seperti masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sungguh ironis…

Bagian kedua
Umar yang melihat Win terdiam saja dengan dingin setelah melihat film tersebut hanya bisa diam juga seperti patung melihat sahabatnya sepertinya sudah tidak lagi mempunyai hati nurani dan akal yang dapat dipergunakan untuk kebaikan keluarganya. Hanya konflik saja yang dipikirkannya. “Sungguh wanita setan itu telah berhasil mempengaruhinya dengan sebaik-baiknya,” dalam hati Umar berkata.
“Win…,” dengan sedikit membentak Nur menghardik Win.
Win yang terdiam, tiba-tiba sadar dari lamunannya. “Afwan Akhi, maaf, apa tadi yang kau katakana ?” tanyanya.
“Apa tanggapan kau tentang film tadi, konflik yang berkepanjangan ternyata hanya membawa anak-anak kembali menjadi seperti kita dahulu, selalu dalam kesulitan dan selalu dalam dendam,” tanyanya kembali.
“Oh, itu tadi adalah salah satu pengorbanan dari keluarga kita untuk mempertahankan kehormatan kita, mereka yang meninggal itu adalah pahlawan keluarga kita,” jawab Win singkat.
“Tapi apa yang mereka dapat kecuali mereka kembali dalam kesusahan, engkau tidak dengan kata-kata terakhir dari nenek kita tadi agar kita tidak memdendam, karena itu adalah perbuatan setan. Lagian menurut aku kalau sesama saudara muslim itu berperang amat dibenci Allah. Win membunuh 1 orang nyawa muslim sama dosanya dengan kita membunuh semua muslim yang ada di dunia ini, bila ada satu orang muslim yang terluka maka kita akan merasakannya juga, apakah kau mau memotong tanganmu sendiri ?” kata Umar.
“Kalau memang tangan itu adalah penyakit maka aku akan rela memotongnya, agar penyakit itu tidak menyebar,” jawab Win.
“Lantas apa engkau yakin bahwa tangan itu memang sakit sehingga engkau mau memotongnya ?” tanya Umar kembali.
“Iya, mereka adalah penyakit, kita seperti sekarang karena tingkah pola mereka, kalau mereka hilang tentu kita akan lebih aman, dan itu lebih baik kita hidup dengan satu tangan daripada hidup 2 tangan dengan satu tangan berpenyakit,” jawab Win dengan lantang karena ia merasa mendapatkan angin segar untuk dapat menekan setiap perkataan dari Umar saat ini.
“Sungguh kau sudah gila Win, kalau kau mau memotong tanganmu sendiri walau engkau tidak tahu mereka itu penyakit atau bukan sudah barang tentu engkau akan rela membunuh keluargamu sendiri untuk mendapatkan ambisi gilamu itu,” kata Umar sambil menggeleng-geleng kepalanya.
“Gini Win, aku tidak suka dengan pemikiran kamu ini, mereka saudara kita, mereka mengucapkan syahadat, dan lagi yang kita perjuangkan sekarang adalah ashobiyah, barang siapa yang melakukannya maka ia tidak akan masuk ke dalam golongan Nabi Muhammad,” tukas Umar.
“Aku tidak peduli Mar, engkau suka atau tidak suka, aku tetap dengan prinsip aku, kalau perlu aku mati menghancurkan mereka,” kata Win dengan berapi-api.
“Istigfar Win. Kau harus tahu Win sebenarnya yang membuat kita berkelahi dengan mereka hanya karena pepesan kosong yang seharusnya bukan dijadikan alasan untuk perang. Hanya karena dulu nenek moyang kita memperebutkan harta warisan, lantas berlanjut sampai sekarang, kau tahu itu kan. Satu lagi kita merasa paling hebat sejak zaman dulu dari mereka, tapi apa yang kita dapat sekarang mereka sudah berlari menuju bulan kita malah menggali sumur kematian keluarga kita sendiri. Pikirkan ini Win” jawab Umar.
“Aku sudah tidak peduli lagi Mar, aku hanya ingin merebut kembali harta warisan itu, kalau dari belahan lain tidak bisa sekarang adalah giliran aku untuk mendapatkannya,” ujar Win dengan sedikit bersungut-sungut mulutnya menunjukkan kekesalan dirinya.
Umar hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat Win yang begitu keras kepala, sampai-sampai semua perkataannya sepertinya menjadi sia-sia. Kembali ia menarik nafas panjang. “Huh, aku rasa selain nafsu gilamu kau memang sudah berhutang budi terlalu banyak Win dengan Illuminati, apa yang sudah diberikannya uang, harta, tubuhnya atau apa, menyedihkan kau Win,” kata Umar dalam hatinya.
Tiba-tiba Umar bertanya dengan lembut kepada Win,“Win, apakah menurut hati kecilmu hanya untuk mengejar sebuah kehormatan keluarga lantas kita bisa mengorbankan semuanya, bahkan mengorbankan keluarga kita yang lain, itu satu. Yang kedua, untuk tanah warisan itu siapa yang punya Win, hanya Tuhan yang punya, apakah engkau tahu ratusan tahun yang lalu itu tanah kepunyaan siapa ? Jawab Win, apakah aku salah ketika aku katakana ini semua hanya pepesan kosong, jawab Win. Terakhir, sudahkah kau berpikir panjang ke depan atas apa yang terjadi saat ini, untung ruginya bagi keturunan kita kelak ?,”
Tiba-tiba Umar melanjutkan kata-katanya “Sebelum kau menjawab Win, kau ingat apa yang di bilang nenek di video tadi yang mengatakan bahwa darah kedua pamanku habis, itu menandakan bahwa kedua pamanku sudah terkena ritual dari salah satu sekte setan yang menganggap orang itu lebih rendah dari pada dirinya, mereka menggunakan darah dari pamanku untuk pesta agama mereka, dan sekte itulah yang telah merusak semua generasi keluarga kita selalu dalam konflik. Sekarang masihkah kau tidak percaya kalau kita semua ini hanya dijadikan pion untuk mereka mengeruk keuntungan dari pertikaian keluarga cahaya dan keluarga langit,”
Win terlihat galau pada wajahnya, ia mulai meneteskan air matanya, namun matanya masih menunjukkan dendam membara yang ada pada hatinya. Tangannya terlihat mengetuk-ngetuk pinggiran sofa yang didudukinya. Kakinya juga demikian mengantuk-ngatuk ubin yang ada di bawahnya. Seperti halnya iblis yang merasa kehilangan muka ketika Tuhan menciptakan Adam dan menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam. Sejak dari dulu yang menyebabkan manusia ini hancur adalah rasa sombong dan dendam, seperti halnya iblis, seperti apa yang dikatakan nenek tadi.
“Tidak Umar,” teriak Win. “Aku tidak peduli semua, kalau perlu semua akan kuhancurkan, aku hanya mau Keluarga Langit hancur karena mereka telah mengambil hak keluarga kita dan aku dendam kepada mereka, mereka membunuh keluargaku, aku mau bunuh mereka semua, aku mau…aku mau… aku lebih baik dari mereka….” sambil bangkit dari duduknya dan berbicara dengan tersengal-sengal menumpahkan semua kemarahannya dengan berteriak-teriak.
“Win, tenang kau, ini rumahku, jangan bikin malu kau,” tegur Umar secara berbisik keras sambil menarik tangan Umar untuk segera duduk kembali dan menenangkan diri.
“Tenang sobat, tenang, kita teman bukan,” lanjut Umar menenangkan Win.
Win terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sebentara ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Memang wataknya sulit berubah, mungkin ini terjadi hampir kepada semua korban konflik yang ada di dunia ini, perkembangan korteks yang tidak normal dan menimbulkan gangguan emosional. Ini pulalah yang nantinya pada daerah konflik itu akan besar potensi konfliknya karena mereka sudah sedemikian rupa telah dibuat menjadi orang yang bersifat reaksioner dan pendendam. Perlu ada sebuah penanganan khusus bagi anak-anak korban konflik, Umar merupakan contoh mata bagaimana ia bisa keluar dari trauma konflik, adanya kasih sayang dari kedua kakek neneknya. Sehingga ia mampu untuk keluar dari lingkaran itu.
Hati Umar ingin sekali bisa menyadarkan Win bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, bahwa ia akan dijadikan korban dan semua yang ia kumpulkan akan musnah seperti halnya dengan mudah ia mendapatkannya. Ketika istrinya memanggil Umar untuk makan malam, maka Umar lantas mengajak Win untuk makan malam bersama keluarganya yang telah menunggunya. Sejenak Win dan Umar melupakan semua hal yang mereka berdebatkan, mereka membicarakan hal-hal lain berkenaan dengan keluarga Umar, anaknya yang baru bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, istrinya yang kesulitan ke pasar karena tersesat, Umar yang sungkan dengan wanita-wanita Indonesia yang terlalu ramah dan masih banyak hal lain.
Namun sesekali terlihat bahwa wajah Win terbersit kesedihan yang selalu dicoba ditutupinya ketika datang, ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bahagia dengan hidupnya. Ia menceritakan istrinya yang kini sudah terkenal, sebagi figure masyarakat, masuk ke dalam kalangan artis dan elit. Istri Umar yang bernama Anisah itu mungkin tidak dapat melihatnya, tapi Umar jelas dapat melihat perubahan wajah pada sahabatnya itu.

bersambung..

26 Januari 2009

Ketika Egoisme Menjadi Tuhan

Bagian pertama

Kehilangan anaknya bagi Win merupakan sebuah pukulan yang terberat dalam hidupnya, sejumlah harapan bagi anaknya sudah ada di dalam bayangannya, bahkan sebelum anaknya lahir ke dunia yang menurutnya penuh dengan ketidakadilan ini.
Semenjak ia kehilangan anaknya ia selalu menyalahkan Tuhan dengan berbagai cara, ia tidak menerima Tuhan dengan seenaknya saja merenggut anaknya darinya. Sampai-sampai ia berpikir bahwa Tuhan adalah bodoh karena telah menciptakan semua makhluknya tapi hanya untuk disakiti, hanya untuk diperlombakan mana yang baik dan mana yang benar, yang buruk hanya akan masuk neraka dan yang baik hanya akan masuk syurga. Menurutnya ini adalah permainan bodoh yang diciptakan Tuhan. “Tuhan telah menghina makhluk ciptaanNya sendiri, Tuhan tidak adil, ia tidak sayang kepada ciptaannya” gumamnya dalam hati karena saking kesalnya terhadap yang namanya Tuhan tersebut.
Semenjak itu ia berjanji bahwa ia akan melawan Tuhan, ia sekarang sudah tidak peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah, yang menurut persepsinya benar maka itu yang akan dikerjakannya.
Win akhirnya menjadi manusia yang amat pragmatis, betul-betul pragmatis, tidak ada lagi yang menjadi pegangan hidupnya dalan menjalani kehidupan ini. Baginya yang penting kalau semua keinginannya tercapai.
Yang menjadi keluarga tersebut semakin hancur adalah ternyata istrinya, Wan Azizah atau yang seringkali dipanggil Wan, yang juga mengikuti jejak dari suaminya, yang dahulunya selalu mengikuti perintah Tuhan sekarang ia menjadi perempuan bebas yang ingin menjalankan semua yang diinginkannya.
Namun kerap kali mereka bertengkar bukan karena cemburu ketika suaminya main dengan perempuan lain atau sebaliknya, mereka mempertengkarkan baik atau buruknya kegilaan mereka, mereka mempertengkarkan bagaimana caranya mencapai tujuan kegilaan mereka itu.
“Abang harus tahu kalau abang mau main dengan perempuan harusnya abang kasih tahu saya,” kata Wan.
“Loh, untuk apa saya kan bebas melakukan hubungan dengan siapapun, lagian kalau saya katakana sama kamu maka yang ada kamu akan marah, kamu akan cemburu, hidup kita semakin pusing,” jawab Win.
“Bukan itu Bang, kalau saya tahu siapa perempuannya maka saya akan lebih mudah mencari target laki-laki lain yang akan saya tiduri, minimal suami perempuan dari yang abang tiduri itu yang akan saya dekati,” ujar Wan dengan senyuman nakal setan dibibirnya.
“Astagfirullah, he salah…he he. Wan…Wan… kamu ini ternyata lebih gila dari aku ya, okelah Wan, Tuhan memang tidak pernah mencintai ciptaannya jadi kenapa kita harus mencintai ciptaannya juga. Peduli setan dengan anak-anak mereka, peduli setan dengan kehidupan mereka, yang penting kita nikmati hidup ini. Wan, jangan lupa pakai pelindung ya kalau kau sedang kesetanan dengan laki-laki lain, biar aman.. ha ha ha,” tawa laki-laki aneh itu yang sudah menyerupai iblis.
Keluarga ini kini sudah tidak memperdulikan lagi mana yang baik dan benar, mereka hanya tahu satu hal, mencapai semua hasrat mereka, tidak peduli itu baik atau salah karena bagi mereke sudah tidak ada lagi yang namanya agama, bagi mereka Tuhan itu tidak adil, bagi mereka Tuhan itu bodoh.
Sampai suatu saat Win bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik parasnya. Bagi Win ia menjadi penasaran karena ketika menggunakan jilbab sungguh cantik perempuannya itu, lantas ia membayangkan bagaimana kalau perempuan itu tidak memakai baju sehelaipun. Dalam pikirannya ia membayangkan tubuh wanita itu yang sintal, buah dadanya yang ideal, bokongnya yang pasti akan memuaskan hasratnya, betisnya yang menandakan kenikmatan bagian perempuannya, bahkan kulitnya yang kuning langsat keputihan itu semakin membangkitakan gairah setannya yang sudah menghancurkan banyak keluarga itu.
Gairahnya semakin memuncak ketika ia mengamati wajah wanita itu, bibir yang ranum tidak terlalu tipis dan tebal serta kemerahannya alami, pipinya yang memerah, raut wajahnya seperti daun sirih, hidungnya yang bangir, matanya seperti mata kucing yang menusuk orang-orang yang ditatapnya, sejadi-jadinyalah laki-laki itu menjadi tergila-gila.
“Assalamu’alaikum,” sapa Win. Perempuan itu lantas menatap Win kemudian menundukkan kepalanya dan menjawab “Wassalammu’alaikum, maaf anda siapa dan apa yang bisa saya bantu suami saya sedang menunggu saya di depan,”.
Win bergumam dalam hati “Huh, siapa lagi-laki yang beruntung itu, andai saja aku bisa membunuhnya,”. Kemudian ia menjawab “Oh, tidak saya hanya kagum dengan kecantikkan anda, saya hanya ingin mengenal anda lebih dekat lagi. Kalau tidak keberatan nama anda siapa dan apa pekerjaan anda ?”.
“Nama saya Nurul Azizah, panggil saya saja Nur, saya bekerja sebagai seorang dokter di Rumah Sakit,” jawab Nur.
Mendengar pekerjaan Nur, Win menjadi senang karena ia merasa ada kesempatan untuk merusak wanita ini, karena masih ada kesempatan untuk dapat bertemu lagi dengan perempuan cantik itu. Lantas ia bertanya kembali dengan sopan “Alhamdulillah, saya sedang mencari-cari seorang dokter yang kiranya bisa mengobati penyakit kronis saya, sampai saat ini saya belum menemukan seorang dokterpun yang cocok, siapa tahu kita berjodoh, kalau boleh tahu dimana Rumah Sakitnya. Perempuan itu kemudian memberika sebuah kartu nama dari dompetnya dan kemudian berkata “Maaf, itu suami saya sedang di depan, saya harus segera berangkat, silahkan Bapak datang ke kantor saya.”
Hari ini Win begitu senang karena ia mendapatkan mangsa baru, ia pulang dengan bersiul-siul bahkan janjinya dengan perempuan selingkuhan yang akan ditidurinya ia batalkan karena ia begitu senang hari ini. Sampai di rumah ia melihat istrinya sedang tidur, ketika melihat istrinya ia teringat perempuan itu dan hasratnya menjadi tinggi, ia pun lantas mulai menggangu istrinya untuk kemudian menidurinya. Wan menjadi kaget karena Win begitu bersemangat hingga Win dan Wan melakukan hubungan suami istri itu dengan dahsyat. Walau bagi orang pintar dapat melihat bahwa sebenarnya persetubuhan itu adalah antara Win, Wan yang dibayangi oleh Nur dalam pikiran Win.
Setelah itu ia menceritakan kepada istirnya bahwa ia telah menemukan gadis pilihan korbannya saat ini dan menurutnya perempuan itu membuatnya menjadi gila karena ingin meniduri tubuh cantiknya itu. Wan di dalam hati merasa sedih karena setelah menidurinya suaminya malah menceritakan wanita lain, tapi ia hanya tertawa dan kemudian mengingatkan suaminya agar tidak lupa menanyakan nama suami dan pekerjaannya agar ia bisa mendekati suaminya.
Win kemudian menyadari bahwa ia harus mengarang sakit yang akan dideritanya, ia menjadi bingung karena kalau berhubungan dengan seorang dokter maka ia tidak akan bisa berbohong tentang penyakitnya ini. Tapi kemudian ia terigat dengan wanita cantik yang tidak jadi ditidurinya karena terkena penyakit menular TBC, tanpa pikir panjang ia kemudian mendatangi wanita itu dan menidurinya. Lantas ia menunggu selama beberapa minggu dan didapatinya tubuhnya yang sehat itu kini sudah terasa agak lemah dan mulai batuk-batukkan, mulai melemah. Ia tersenyum dengan rasa sakitnya lantas ia pun pergi menuju rumah sakit yang dokternya perempuan idamannya itu.
Sesampai di rumah sakit ia langsung mendaftar dan menanyakan kalau ia ingin ke dokter yang nernama Nur Azizah, ia pun akhirnya mendapatkan no urut untuk dapat memeriksakan kesehatannya kepada dokter Nur tersebut. Akhirnya gilirannya tiba, ia menemukan dokter itu sedang berbincang dengan asistennya seorang laki-laki muda yang tampangnya cukup menarik. Melihat Win datang Nur lantas menyuruh asistennya itu untuk mengambilkan sesuatu. “Selamat datang Pak Win, saya masih ingat anda, anda sakit apa?”, tanyanya. Kali ini terlihat Nur lebih berani memandang wajah Win yang memang menggoda setiap perempuan yang menatapnya. Win yang melihat perubahan dari Nur menjadi semakin menjadi-jadi keberaniannya, “Maaf Nur, saya sudah batuk-batuk seperti ini sejak tahunan, menurut beberapa dokter saya terkena TBC tapi sudah saya coba berobat tetap saja tidak sembuh-sembuh walau tubuh saya masih kuat sampai saat ini. Mendengar hal tersebut Nur segera memeriksa Win dengan cermat dan seksama.
Win betul-betul menikmati ketika Nur memeriksa seluruh tubuhnya, ia merasa dirinya berada ditempat lain dan membayangkan dirinya meniduri Nur, sungguh ia memang sudah menjadi gila. Setelah itu Nur terlihat menuju ke kamar mandi yang ada diruangannya, dengan cepat Win mengikutinya dan tanpa sengaja ia melihat Nur membuka hijabnya dan jas dokternya, terlihat olehnya pakaian ketat di dokter dengan rambut panjang terurai dan leher yang jenjang. Namun matanya tidak lepas dari tattoo pada belakang lehernya seperti sebuah mata yang memandang dirinya. Ia kemudian teringat dengan lambing Illuminati, sebuah lambang organisasi rahasia milik organisasi terjahat saat ini yang kerap kali membuat kekacauan di dunia ini.
Tiba-tiba Nur membalikkan dirinya dan melihat bahwa Win sedang menatapnya, Win menundukkan kepalanya. Anehnya tiba-tiba Nur memanggil dirinya untuk mendekatinya dan tanpa panjang lebar mereka pun melakukan hubungan suami istri di kamar mandi itu. Win yang terkaget-kaget itu lantas tiba-tiba menjadi bergairah kembali dan betul-betul memuaskan hasratnya dan perempuan gila itu.
“Nur, saya kira kamu perempuan yang taat agamanya karena kamu menggunakan jilbab,” ujarnya ketika mereka kembali ke meja setelah hasrat mereka berdua telah dilepaskan.
“Ha ha Win, saya memakai jilbab ini hanya sebagai kedok ketika saya berhadapan dengan orang-orang yang fanatic, bagi saya jilbab ini hanya menutupi kebobrokan saya, menutupi hedonism saya, menutupi hasrat saya kepada kamu ketika pertama kali melihat kamu. Oh ya, jangan lupa minum ini ya selama sebulan dan jangan berhenti” jawabnya.
“Ha ha, saya membayangkan kalau saya akan kesulitan dalam mendapatkan kamu, baiklah. Oh ya, tanda apa di belakang lehermu dan kapan bisa ketemu lagi ?” tanya Win.
“Oh, itu tanda saya ikut organisasi Illuminati, dan dengan jilbab ini juga saya bisa menutupinya, mau ikutan Win ?” jawabnya. “Huh, banyak Tanya sekali orang ini, mungkin dia tidak tahu bahwa tingkatan tertinggi dari organisasi ini adalah tato di tenguk saya, kalau saja dia tahu siapa saya tentu ia akan takut dengan saya,” gumamnya dalam hati.
Dalam hati Win berkata “Hmm, benar ia ikut Illuminati,”. “Baik lah saya mau coba ikut saya sekarang benci dengan Tuhan, bagi saya Tuhan itu tidak adil, rasanya orang-orang Illuminati bisa terima itu kan,” ujarnya.
“Hmm, rasanya orang bodoh seperti anda, yang hatinya penuh dendam tidak akan bisa jadi pimpinan, anda paling hanya bisa menjadi pion. Rasanya tidak mungkin anda membuat kehancuran di dunia ini untuk kepentingan membangun peradaban baru kami kalau ada dendam, bodoh. Kami saja yang menciptkan dendam tidak pernah memasukkan ke dalam hati kami, bagi kami dendam itu adalah alat untuk menjadikan kalian dalam perang sehingga kami akan ambil keuntungan dari perang itu. Dan kamu sekarang sudah dalam genggaman saya, penyakit kamu akan saya control. Sedangkan saya imun dengan berbagai penyakit karena ada obat khusus untuk kami yang tidak akan kamu dapatkan…ha ha ha ” gumamnya dalam hati. Lantas kemudian ia berkata “Ia Win sayang, kamu betul memang Tuhan itu tidak adil makanya kami ada organisasi ini untuk membuktikan bahwa kitalah Tuhan itu, dan mereka saat ini sudah dibodoh-bodohi dengan yang namanya agama, mereka sudah kehilangan akalnya. Kamu bisa masuk ke organisasi kami,”
Win akhirnya mengikuti organisasi tersebut, ia mendapatkan banyak ilmu lagi bagaimana menghancurkan sebuah peradaban manusia dan membangun peradaban baru sesuai dengan keinginan dari dirinya dan organisasinya. Sungguh ia semakin tenggelam dengan kebenciannya kepada Tuhan. Sampai-sampai ia beranggapan bahwa Tuhan itu adalah seperti dirinya, yang bisa dilawan, yang bisa disakiti. Dan makhluk lainnya adalah makhluk bodoh karena masih mempercayai dengan adanya Tuhan.

Bagian kedua
Win yang sebenarnya bernama lengkap Erwin Abdullah itu kini sudah mulai mahir dalam menguasai berbagai pengetahuan untuk dapat menggerakkan massa sesuai dengan keinginannya, pandai dalam mengangkat berbagai isu untuk kepentingan organisasi, semuanya dia dapat dari Illuminati.
Win sekarang sudah berubah dari seorang yang membenci Tuhan perorangan, kini sudah bergabung dengan pembeni-pembneci Tuhan lainnya, bahkan ia dengan cepat mendapatkan kepercayaan untuk selalu memimpin sebuah operasi yang bertugas membuat cheos dalam sebuah daerah.
Keahliannya dilengkapi dengan kevulgaran dalam organisasi tersebut yang tidak lagi memperdulikan batasan antara laki-laki dan perempuan, sehingga siapapun dapat berhubungan dengan siapapun tanpa peduli lagi. Win benar-benar mendapatkan syurganya disana, ia melihat bahwa organisasi ini benar-benar telah melanggar setiap batasan yang telah di atur oleh Tuhan dari agama manapun yang ia ketahui. Ia benar-benar bisa melakukan hubungan dengan Nur kapanpun dan dimanapun ketika hasrat mereka timbul. Dan yang lebih membahagiakan Win ternyata Nur memprioritaskan dirinya dalam hal apapun, ntah itu materi maupun fasilitas lainnya. Ia dapat menyalurkan hasratnya untuk menghancurkan peradaban manusia ini sesuai dengan hasrat dan kini menjadi hobynya.
Sedangkan istrinya ikut dalam jaringan tersebut dalam level yang lebih rendah lagi akan tetapi dengan tugas yang amat buruk lagi, istrinya menjadi ikon untuk kebebasan yang bertopengkan kedamaian, Wan kini menjadi agen perubahan menuju kebebasan tanpa batas dengan mengatasnamakan kemanusiaan. Kebebasan yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak individu seorang manusia dalam tanpa memperdulikan akibatnya terhadap masyarakat dan di masa yang akan datang.
Suatu saat tiba-tiba Nur memanggil Win dengan ke rumahnya, bila ini terjadinya biasanya Nur ingin memberikannya tugas khusus kepadanya dan mendiskusikan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan dari tugasnya tersebut.
“Win, aku punya tugas baru untuk kamu, keluarga si A yang selama ini selalu dalam keadaan kacau tampaknya sudah mulai berdamai. Dan kebetulan kamu dekat dengan keluarga tersebut,” Nur buka bicara.
“Keluarga siapa Nur ? Terus apa hubungannya dengan aku dan tugasku apa?” ujar Win.
“Ini adalah sebuah keluarga yang bisa berpotensi dapat menghancurkan tujuan organisasi kita di daerah sana, mereka adalah keluarga yang pada awalnya amat teguh dalam memegang agama bodohnya, dan ini sudah terkenal sejak puluhan tahun silam. Sebenarnya kami sudah berhasil untuk membuat cheos keluarga tersebut dengan berbagai cara, namun kini sepertinya ada kejenuhan dalam keluarga tersebut untuk bertempur terus, dan mereka tampaknya mulai berdamai, kita harus dapat membuat cheos lagi Win,” kata Nur.
“Wah itu berikan saja kepada saya tugas itu Nur, saya amat menyukai tugas ini, tapi kenapa kamu bilang mereka dekat dengan keluargaku ?,” tukas Win memotong percakapan Nur.
“Win, sabar, saya belum selesai. Mereka adalah bagian dari keluarga kamu, sejak lama kami sudah memperhatikan bahwa kamu adalah dapat menjadi potensi bagi kami, dan ternyata kamu lebih hebat dari perkiraan kami semua. Kamu memang sudah benar-benar benci dengan yang namanya Tuhan. Ini adalah keluarga besar Cahaya, bukankah kami bagian dari keluarganya ?” tanya Nur.
“Hmmm…iya, memang keluarga yagn terkenal itu adalah bagian dari keluarga saya,” kata Win singkat. Lantas ia terdiam, “Huh, kenapa saya harus menghancurkan keluarga saya, walau saya hancur seperti ini tapi apakah saya sanggup untuk menghancurkan mereka kembali. Padahal mereka baru saja berdamai semuanya. Mereka baru saja bisa saling sapa dengans senyum dan bisa menikmati hidupnya dengan baik. Huh, saya jadi teringat anak saya yang mirip dengan eyangnya….,” ujar Win dalam hatinya.
Nur yang melihat gelagat Win itu melihat ada keraguan dari hatinya Win, lantas ia dengan serta merta mendekati Win dan menciumnya untuk kemudian mengajaknya ke hubungan yang selalu mereka sukai itu. Win yang sedang gundah tersebut sesaat melupakan apa yang dipikirkanya dan mereka pun bergulat untuk mencapai hasrat mereka masing-masing.
Win dan Nur memang tidak pernah bosan melakukan hubungan gila ini, ntah ada setan apa dalam diri mereka masing-masing berdua, jika bertemu pasti mereka akan seperti itu terus.
Rupanya Nur menyadari bahwa Win akan lebih mudah diajak mengikuti keinginannya setalah mereka melakukan hubungan intim tersebut.
“Gimana Win Sayang…dengan tugas yang tadi, aku tahu mereka adalah keluargamu, tapi bukankah kita tidak pernah mengenal yang namanya kebenaran yang bodoh, agama, keluarga, karena ini adalah kebodohan-kebodohan yang hanya membuat kita tidak mampu berbuat tegas, dan membangun dunia baru sesuai dengan keinginan kita semua,” bisiknya ke Win lembut. “Win, Win, kau harus mau, memang kau memuaskan aku, tapi kalau kau tidak mau maka aku harus menyingkirkanmu, peyakitmu memang sepertinya sudah sembuh tapi aku masih memelihara 1 ekor virus lagi yang kemudian akan berkembang biak dalam tubuhmu” kata Nur dalam hatinya.
Win terlihat tertidur pulas ketika Nur mengatakan hal tersebut, ia pura-pura tidur, rupanya ia mencoba memikirkan dengan tenang apa yang dibisikkan wanita idamannya itu.
“Vanesia, ayahmu disuruh menghabiskan keluarga kita sendiri, apa yang harus ayah lakukan. Semua yang ayah lakukan sampai ayah seperti ini karena ayah begitu membenci Tuhan kita yang telah membawa kamu dari sisi Ayah. Haruskan ayah menghancurkan keluarga ayah sendiri…”, katanya dalam hati.
Win membalikkan tubuhnya dari Nur, seolah-olah dalam pura-pura tidurnya ia membutuhkan ruang lagi untuk dapat memikirkan tugas barunya, dan ia tidak ingin melihat Nur melihat air matanya tumpah memikirkan tugas barunya itu. Dan ia pun tertidur ketika memikirkan hal itu terus.
Win memang adalah sosok yang amat mencintai keluarganya, walau ia menghancurkan keluarga orang lain tapi ketika ia disuruh menghancurkan keluarganya sendiri, ini merupakan hal yang berat dalam hidupnya karena sebenarnya keluarganya sudah membesarkannya dengan kasih sayang.
Keesokkan paginya ketika ia bangun dari tidurnya, dilihatnya wanita idamannya masih tertidur dengan tanpa memakai sehelai benangpun sehingga kecantikkannya terlihat dan kembali membangkitkan hasrat Win. Tapi kemudian ia teringat tugas yang diberikan oleh Nur, ia mengurungkan niatnya untuk kembali mengganggu Nur, yang sebenarnya Nur juga suka kalau ketika paginya kembali melakukannya.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dan melihat dirinya dalam kaca tersebut. “Vanes, apa yang harus ayah lakukan ?” ujarnya. Kemudian ia mandi dan kemudian pulang menujua ke rumah, dalam perjalanan pulang ia berpikir mungkinkah ini ia lakukan. Terjadi perang besar kembali dalam dirinya seperti ketika anaknya pergi meninggalkannya.
“Tuhan kau tidak adil, anakku kau ambil, gara-gara kau aku masuk dalam organisasi yang melawanMu. Sekarang aku mendapat tugas untuk membuat berantakkan keluargaku yang baru saja damai ini. Tuhan kenapa engkau menimpakan ini semua kepadaku ? Ketika Engkau menghilangkan kebahagiaanku, kini aku juga harus menghilangkan kebahagiaan keluargaku melalui tanganku. Kenapa harus aku ? Kenapa ? Apakah kau menantangku seperti engkau menantangku dengan mengambil anakku dari sisiku ? Jawab Tuhan, Jawab….,” teriaknya dalam hati. Tiba-tiba air matanya tumpah dan ia pun menangis sejadi-jadinya dengan nanar mata yang marah sambil mendongakkan kepalanya. Mata yang penuh dendam, mata yang penuh keamarahan, mata yang penuh dengan kesedihan dan mata yang penuh kesinisan.
Setelah sampai ke rumah ia mengganti bajunya dan keluar lagi. Hari ini berencana akan menghabiskan waktunya untuk melakukan semua apa yang membuatnya senang, semua yang tidak disukai oleh orang lain, semua yang dilarang oleh Tuhan.
Keesokkan harinya ia datang kepada Nur dengan wajah yang lebih sinis dan kejam lagi, fase kedua dalam hidupnya menuju kebencian kepada Tuhan sudah ia lewati. “Nur, aku siap dengan tugas mu,” sesampai ia di ruangan Nur bekerja di rumah sakit.
Nur tersenyum, kemudian berkata “Wah, itu baru pemimpin baru dari peradaban baru,”. Walau dalam hati Nur bergumam “Iya lah aku tau kau pasti mau, kau penuh dendam, kau akan selalu jadi pionku yang paling aku andalkan, egomu terlalu besar dengan dendammu,”. “Oh ya Win, nanti malam kita diskusikan di rumahku ya tentang strategi yang akan kita atur, ada tamu ku kamu keluar dulu ya, sampai nanti malam,” katanya ketika masuk seorang laki-laki muda yang berwajah menarik.
Malam harinya kembali Win ke rumah Nur untuk mendiskusikan permasalahan penghancuran keluarganya sendiri. Ketika mereka akan membahasnya Nur memberikan beberapa dokumen tentang Keluarga Cahaya, nama keluarganya tersebut dan upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk dapat menghancurkan keluarga tersebut. Ketika membacanya Win terlihat mengerutkan keningnya karena ia melihat bagaimana ternyata penghancuran keluarganya dilakukan secara sistematis, “Sungguh ini adalah sebuah pekerjaan yang benar-benar luar biasa,” ujarnya dalam hati.
Ketika ia asik membaca dokumen-dokumen itu Nur memasak makan malam, mempersiapkan dirinya secantik mungkin dengan wangi-wangian dan pakaian yang memperlihatkan kecantikan tubuhnya.
Win pun lantas menuliskan strategi barunya untuk dapat menghancurkan keluarganya, ia menuliskan di papan tulis yang ada pada ruang kerja tersebut “Hal yang pertama kali dilakukan adalah kembali mengadudomba keluarga tersebut dengan harta, mereka yang keakuan terlalu tinggi dari bagian-bagian keluarga tersebut dan mereka yang memegang teguh ajaran agamanya. Hal yang kedua, menghancurkan moral dari mereka karena selama mereka dekat dengan agama maka semakin sulit mereka untuk dihancurkan, karena inilah kunci mereka memang begitu ditakuti sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ketiga, harus bisa menanamkan bibit-bibit dendam kepada generasi keduanya, tentunya ini akan menjaga kesuburan konflik di antara mereka.”
Ketika Nur memasuki ruang kerjanya ia hanya tertawa dalam hati membaca tulisan Win itu, “Ha ha Win, Win apa yang kau tulis itu adalah benar sekali dan kami sudah melakukannya dengan keluargamu dalam beberapa puluh tahun ini, sehingga kami mengambil banyak keuntungan dari kebesaran nama dan kekayaan keluarga kamu itu, tapi yang kami butuhkan adalah actor utamarnya, dan kamu sadar tidak sadar adalah actor yang sudah kami persiapkan…he he, tapi rasanya kita perlu diskusi lebih detail, karena sepertinya banyak actor baru juga yang ada pada keluargamu”.
“Wah, hebat Win sayang, strategi mu ini luar biasa, rasanya kita bisa jalankan ini dengan baik. Jenius kau sayang…” rayu Nur.
Win kemudian kaget melihat Nur, kemudian ia tertegun dengan pakaian Nur yang demikian seksi itu serta wanginya yang kembali membangkitkan gairahnya. “Iya Nur, sinilah temani aku,” jawabnya.
Nur dengan gatalnya mendekati Win, akhirnya mereka bergulat kembali.
Setelah itu terlihat Nur begitu bersemangat untuk membahas strategi yang dituliskan Win itu.
“Win, menurut kamu bagaimana caranya bisa mengadudomba keluarga kamu itu ?” tanyanya.
“Ha ha, gampang Nur, keluarga kami memang besar tapi masing-masing dari keturunannya atau belahannya satu sama lain suka tidak akut, egoism kami suka sama-sama tinggi. Makanya sebenarnya inilah yang membuat kami akhir-akhir ini terus bertengkar karena memang kami tidak mau kalah. Ada belahan saudara kakekku yang bernama Merah, mereka itu paling tidak mau rugi, apalagi dalam bisnisnya, bahkan kadang kalau mereka tidak segan mengorbankan keluarga lainnya yang penting bisnisnya untung besar,” cerita Win.
Win kemudian menceritakan seluruh rahasia keluarganya, belahan Naga yang keturunan gila kekuasaan, belahan Pedang yang amat suka berperang, belahan Putih yang terkesan netral sesuai dengan kebutuhannya dan terakhir belah hijau yang memegang moral agamanya dengan amat teguh. Win juga menceritakan bahwa ia berasal dari belahan putih, belahan putih ini menurut Win terkadang bergabung dengan belahan yang menurutnya menguntungkan sehingga belahan ini banyak berhubungan dengan berbagai belahan karena masing-masing keturunannya pasti ada ikut dalam belahan lain.
Mendengar hal tersebut Nur dengan senyum manjanya merasa senang mendengarkannya,”Mmmhh, dulu kami menggunakan actor dari belahan Naga, tapi mereka rasanya kurang berhasil karena gabungan mereka dengan belahan Pedang kini terpecah, dan mereka sekarang kalah dengan belahan Merah juga tidak bisa mengancam lagi belahan Hijau. Memang tepat rasanya sekarang menggunakan belahan Putih karena dampaknya sepertinya akan dapat lebih menghancurkan keluarga pengacau ini…ha ha ha,” gumamnya dalam hati Nur.
“Win, terus apa yang akan kamu lakukan untuk dapat mengadudomba mereka semua, agar mereka hancur dan tidak lagi menjadi penghalang bagi membangun peradaban baru kita ?” Tanya Nur.
“Begini sayang, saya sudah lama hidup dalam keluarga ini. Sesungguhnya dalam hati mereka itu masih ada perasaan saling bersaudara yang tinggi, ini akan dibuktikan ketika mereka dalam kesulitan, bagian dari belahan itu tidak bisa melihat keluarganya dalam kesulitan. Ini semua karena mereka tidak mau kehormatan keluarga mereka hancur, bagi mereka ini hal utama,” jawab Win.
“Sepertinya yang harus kita lakukan pertama kali adalah menghilangkan kehormatan keluarga ini, dengan cara menghancurkan kebanggaan mereka, ini yang menurut saya harus pertama kali dilakukan. Biarpun mereka seperti ini tapi kalau agama mereka dihina mereka akan mempertahankannya. Jadi ini satu hal lagi selain kehormatan mereka adalah agama mereka, ini perlu kita hancurkan atau kita adudomba 2 golongan besar ini dari keluarga saya. Gimana menurut Nur ?”tanyanya.
“Yah, untuk awal rasanya ini bisa dilakukan, 2 golongan ini akan kita panas-panasi terus, maka hal yang harus dilakukan rasanya adalah bagaimana caranya mendapatkan sebuah isu yang bisa membuat keluargamu itu terbelah menjadi 2, apa ya isunya…?” jawab Nur.
“Gini sayang, kalau masalah kehormatan keluargaku mungkin kita bisa mengadunya dengan keluarga besar Langit, karena sebenarnya saingan kami, Keluarga Cahaya adalah Keluarga Langit. 2 keluarga besar ini sejak dari dulu bersaing,” ujar Win.
“Hi hi, engkau betul Win, tapi masalahnya mereka sekarang sedang berbaikan. Itulah masalahnya, mungkinkah ini kita utak-utik lagi, karena sepertinya keluargamu sudah merasa jenuh dengan perangnya dengan keluarga Langit yang tidak berujung pangkal ini, rasanya keluargamu sudah mulai rasional atau kebanggaanya menjadi berkurang..ha ha ha” jawab Nur.
“Bisa sayang, masih bisa, tapi perlu diingat bahwa sekarang ini yang menyebabkan keluarga kami menjadi seperti itu adalah belahan Merah dan Hijau, mereka berhasil mempengaruhi belahan-belahan lainnya. Jika belahan Merah meyakinkan bahwa perang ini malah membuat keluarga kita menjadi tidak sejahtera sedangkan belahan Hijau mengatakan bahwa keluarga Langit juga saudara seiman kita dan mereka meyakinkan bahwa mereka telah melakukan pendekatan untuk keuntungan 2 keluarga di masa yang akan datang. Tapi Nur musti ingat bahwa belahan Pedang masih gusar dengan dendam-dendam yang bergelora dihati mereka, dan belahan Putih masih tersebar di berbagai belahan sehingga kekuatan mereka sebenarnya tidak bisa diperhitungkan, kami hanya punya jaringan di belahan lain” ujar Win.
“Mmmhh, belahan Putih itu lah yang sekarang menurut analisa kami bisa kembali menggoyang perang antara 2 keluarga besar ini Win, walau belahan Putih tidak kuat tapi mereka mempunyai jaringan di belahan lain, bahkan ada diantara anggota keluarga belahan Putih yang memegang peranan cukup besar di belahan lainnya” gumam Nur dalam hati. “Kemudian apa lagi sayang ?” tanya Nur.
“Nah, sudah jelaskan sayang, kita harus bisa membangkitkan kehormatan keluargaku dengan dendam-dendam dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Langit, dan kita juga harus mampu untuk bisa mengadu domba diantara sesama belahan pada keluargaku, utamanya belahan Merah dan belahan Hijau,” terang Win kembali.
Tiba-tiba terdengar alunan lagu Metallica dari HP Win yang berbunyi.
Serta merta Win mengangkat HP nya dan berkata “Hallo,”.

Bagian ke tiga

Terdengar dari suara dibalik sana “Asslm, Win apa kabar ? Lama kita tidak jumpa, gimana kabar keluargamu Wan dan Vanes ?”
“Wasslm, siapa ini ?” tanya Win.
“Wah sudah lupa kau dengan saudaramu Umar ya..he he,” kata Umar di balik HP Win.
“Ough, Umar. Mmmh, Wan baik-baik saja sekarang ia jadi seorang public figur Mar, tapi anakku Vanes sudah tiada, ia meninggal karena kecelakaan,” jawab Win Parau.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun, sabar Win, semua yang diciptakan Tuhan pasti akan kembali kepadanya, semua kita awalnya dari tiada, sabar ya Win,” kata Umar.
Melihat Win terlihat sedih wajahnya Nur kemudian berbisik kepada Win “Siapa Win ?”
“Teman ngaji aku dulu,” jawab Win sambil berbisik kembali, tiba-tiba terlihat matanya memancarkan kemarahan ketika Umar menyebut-nyebut Tuhan.
“Umar, Tuhan mu itu tidak adil, semua dia renggut dari aku, engkau tahu aku kan, baru saja aku mereguk kebahagiaan dengan anakku dan tiba-tiba ia renggut dari aku. Aku sudah muak dengan kata-kata Tuhan,” tiba-tiba suara Win mengeras.
“Win, Istigfar. Anak dan istri adalah cobaan untuk kita, lagian kita ini awalnya tidak ada Win, hanya kebesaran Tuhan yang menyebabkan kita sekarang ada, hanya kasih sayang Tuhan,” ujar Umar seperti menggurui Win.
“Itu lagi, Tuhan itu bodoh Mar, kenapa Dia menciptakan manusia, apakah hanya untuk menunjukkan kesombongannya dengan memperlihatkan siapa yang baik akan masuk surga dan jahat masuk neraka, Tuhan sombong, Tuhan bodoh, Tuhan tidak adil,” teriak Win dengan emosi yang memuncak.
Umar sedikit kaget dengan teriakan Win di ujung telponnya, sesaat ia menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata “Win, Tuhan berhak untuk sombong karena memang ia yang ada, dan yang lainnya tiada. Tapi kalau engkau katakan Tuhan bodoh dan tidak adil, rasanya kamu kelebihan Win,” jawab Umar dengan suara yang agak berat.
Nur yang juga kaget melihat teriakan Win, kemudian memeluk Win dan menenangkannya, karena kalau sedang marah biasanya dengan pelukan wanita Win akan lebih tenang lagi.
“Coba kau pikir Mar, kalau manusia diciptakan untuk masuk ke neraka dan saling membunuh bukankah itu bodoh,” tukas Win cepat.
Umar sempat terdiam dengan perkataan Win, kemudian berkata “Win, harusnya kau bangga diciptakan Tuhan dengan kondisi sekarang ini, kau sebenarnya sudah mirip dengan Tuhan walau kau bukan Tuhan. Kau diberikan kebebasan untuk berpikir, kau punya otak. Kau mau berbuat salah atau benar itu adalah keputusanmu. Bebas kau menentukan pilihan. Tuhan adil kan Win, Tuhan tidak pernah memaksakan apa yang dikehendakinya,” ujar Umar agak mengeras.
“Naam, ana setuju, Tapi kenapa ia tidak memberikan hidayah kepada setiap orang, kenapa dia tidak mengislamkan semua orang, kalau ia sayang, bukankah Ia sanggup untuk itu atau Ia lemah. Dan yang paling membuatku gusar adalah Ia telah mengambil anakku yang baru saja menghirup dunia, kenapa tidak anak orang lain yang sudah besar saja,” jawab Win.
“Wah, sudah gila anak ini,” gumam Umar dalam hati. “Win itulah yang aku katakan kita bukan Tuhan ada hal-hal yang Tuhan pegang kuasa sebagai ujian buat kita, dan ia mempunyai hak yang lebih untuk menentukannya, tapi tetap memberikan kita kebebasan untuk memilih. Dan kamu harus tahu Win perasaan adil itu relative, bagi mereka yang kaya hidup mereka akan menderita kalau mereka tidak punya kendaraan, tapi bagi orang miskin itu tidak penting yang penting mereka bisa makan, mereka bahagia. Win, ingat syukur Win. Dan itu pulalah yang menyebabkan Tuhan boleh sombong karena hanya dia yang tahu isi hati manusia. Win kau sudah sombong Win, kau sudah serupa dengan Iblis, Istigfar Win” jawab Umar agak lembut.
“Tidak, aku akan tantang Tuhan kalau aku bisa hidup bukan di jalannya. Aku akan tantang Tuhan kalau aku sanggup menentukan hidup dan mati seseorang juga seperti ia mengambil anakku. Aku juga akan buktikan bahwa aku lebih baik masuk neraka menentangnya dari pada memuja-mujanya seperti orang bodoh,” kata Win lantang.
Nur menoleh ke Win ketika mengatakan itu, dan dalam hati berkata “Huh, Win, jangan asal bicara kau, jangan terlalu dendam, aku jadi takut kau akan berlebihan dalam melakukan aksi nantinya,”
Umar terkaget-kaget mendengar ulasan Win, dengan sedikit menahan amarah karena kesal ia berkata “Istigfar Win, kita ini makhluk lemah, melawan tsunami saja kita tidak bisa, belum nanti ketika kita mati dan dihadapkan di depannya, atau ketika kita masuk neraka. Istigfar Win, bolehlah kau tak takut neraka. Tapi asal kau tahu Win siksaan paling rendah dineraka itu seperti kita berdiri di batu bara sampai otak kita mendidih,” jawab Umar dengan suara parau.
Win sedikit bergidik juga mendengar ucapan dari Umar. Sesaat ia teringat dengan pesan guru ngajinya tadi tentang bagaimana dikatakan bahwa api neraka itu panasnya jutaan kali dari panas api yang sekarang kita gunakan.
“Ah peduli neraka,” katanya dalam hati. “Terserah kau lah Mar, tapi seperti yang kau katakan Tuhan kan tidak akan memaksakan kehendaknya, sekarang aku akan tantang Tuhan bahwa aku akan melakukan kerusakan di muka bumi ini, aku akan melakukan apa yang dilarangnya, aku mau tahu apakah ia bisa menghentikanku atau tidak,” kata Win.
Sambil menghela nafas panjang Umar berkata “Wallahualambishowab, mudah-mudahan kamu mendapat hidayah dari Tuhan dan selalu dalam perlindungannya. Ya sudah Win, nanti kita lanjutkan lagi. Asslm”. “Win, Win, tidak usahlah kau tantang Tuhan. Bukan itu ukurannya kau menang dari Tuhan, kalau saja Tuhan seperti kau tentu Iblis Laknat itu sudah lama jadi debu dibakarnya. Kau sepertinya lama-kelamaan menjadi Iblis, tapi kau bukan Iblis malah seperti sampah bagi manusia,” katanya dalam hati.
“Wasslm,” saut Win diujung telepon.
Umar adalah teman Win ketika ia sekolah, mereka berdua menamatkan pesantren secara bersamaan, ketika Umar melanjutkan kuliahnya di Mesir, rupanya Win lebih tertarik melanjutkan kuliahnya di dunia filsafat di Denmark.
Nur yang sejak dari tadi membelai-belai kepala Win dengan manja sepertinya ingin kembali melakukan pergulatan, dan terjadilah. Akhirnya mereka berdua tertidur kelelahan hingga keesokkan harinya.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Win pulang ke rumahnya agar tidak terlihat orang banyak, karena bagi masyarakat sekitar Nur adalah sosok wanita muslimah yang amat dihormati dan dihargai, bahkan dianggap sebagai salah satu tokoh muslim yang terkenal darmawan dan ringan tangan dalam membantu setiap kesusahan kaum muslimin.
Wan rupanya tidak pulang juga ke rumah malam itu, mereka memang sudah berjanji untuk tidak membawa perempuan lain atau laki-laki lain ke rumah mereka, biarlah ini menjadi rumah kenangan mereka berdua dengan Vanesia.
Win pun mulai merancang jabaran strategi global yang telah disepakati tadi malam menjadi aksi-aksi dengan jadwal yang sudah tersusun serta actor-aktor yang bisa direkrutnya untuk memulai membangkitkan konflik antara Keluarga Langit dengan keluarganya dengan tujuan dapat menghancurkan keluarganya kelak dan ia bisa mengendalikan keluarga besarnya untuk kepentingan organisasi iblis yang bernama Illuminati.
Kemudian ia memeriksanya sekali lagi, setelah ia yakin lantas ia menelpon anggota timnya dan actor-aktor pilihannya yang akan membantunya nanti. Ia merencanakan untuk melakukan pertemuan awal sebagai upaya untuk dapat menyamakan persepsi sekaligus mendengarkan masukan-masukan untuk kemudian melakukan pembagian tugas dalam memulai aksi gila mereka itu.
Akhirnya ia membagi timnya itu menjadi beberapa kelompok dengan aksi yang bertahap. Ia membagi menjadi 4 bagian. Bagian Propaganda yang bertugas melakukan aksi propaganda, pengangkatan isu-isu dan wacana-wacana, terdiri dari kelompok media, kelompok masyarakat umum, kelompok pemuda dan mahasiswa, kelompok wanita, dan kelompok elit. Kemudian Bagian Perekrutan yang bertugas untuk dapat melihat actor-aktor baru yang bisa direkrut untuk menjadi bagian dari tim pada 2 keluarga untuk lebih mengkutubkan perseteruan sekaligus menjadi pemimpin ketika cheos sudah selesai. Lantas Bagian Umum yang bertugas untuk dapat membackup baik dari sisi administrasi maupun keuangan dan lain-lain. Terakhir, Sekretariat Khusus yang bertugas untuk dapat membantu koordinasi antara Win dengan anggota timnya atau hal-hal yang bersifat khusus dan rahasia.
Perencanaan untuk tahapan pertama adalah tahapan sosialisasi yang kiranya dilakukan oleh Bagian Propaganda, ini dilakukan selama 1 tahun secara umum jika memungkinkan atau diam-diam secara bawah tanah, tahapan ini juga memungkinkan untuk melihat-lihat actor-aktor baru yang akan direkrut bagi peradaban baru mereka, yang tentunya harus mengetahui betul kemampuan dan loyalitas mereka. Tahapan kedua adalah tahapan perekrutan juga dalam waktu 1 tahun, dalam perekrutan aktornya harus diberikan ujian-ujian yang kiranya akan mampu untuk dapat mengetahui loyalitas dari actor tersebut, sekaligus memulai propaganda untuk melakukan perang fisik kecil-kecilan sebagai api-api kecil yang kemudian akan dibumbui dengan dendam-dendam lama konflik. Tahap ketiga, pemberian senjata kepada masing-masng actor yang sudah loyal untuk diberikan kepada tiap-tiap anggotanya untuk menciptakan cheos, namun Win berpesan kepada timnya aga cheos ini dapat dikendalikan sesuai dengan keuntungan mereka.
Namun dalam catatan rahasia Win yang tidak diberikan kepada tim adalah bahwa pada tahun ke 2 sudah harus ada cheos dari keluarga Cahaya sebelum adanya cheos total. Win merancang agar dari cheos ini akan timbul pemimpin-pemimpin baru dari keluarganya yang nantinya akan mudah mengikutinya untuk mendirikan peradaban baru menurut versi gilanya itu. Setelah itu ia mengkoordinasikan dengan timnya dan juga mensosialisasikan system mereka dalam mengevaluasi, dalam berbagai cara baik menggunakan media maupun sesekali pertemuan langsung.
Kemudian ia menuju ke rumah sakit tempat Nur bekerja untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan dan rancangan kegiatannya serta dokumen-dokumennya. Nur ketika mendengar laporan dari Win amat senang dengan ceritanya, ia bergumam “He he pionku sudah mulai bekerja, bagus Win, kami sebenarnya bisa tapi kami tahu kami butuh actor lokal, kamu memang pilihan yang tepat,”
Waktu berlalu dan terus berlalu.
Tahun pertama rencana yang dilakukan Win dikeluarganya mendapatkan penentangan dari belahan merah dan belahan hijau dengan amat berat sesuai dengan perkiraannya. Memang ia tahu betul bahwa inilah permasalahan utamanya, belahan merah sudah tidak mau lagi hidup susah karena peperangan dengan Keluarga Langit dan mereka juga sudah melakukan kerjasama yang sudah menguntungkan, sedangkan belahan Hijau menganggap perang ini adalah perang yang sia-sia, utamanya menurut belahan itu keluarga Langit adalah saudara seiman bahkan mereka sudah melakukan berbagai kerjasama untuk dapat memajukan Agama mereka itu.
Sedangkan belahan Pedang sudah dapat dikuasainya, karena mereka hanya bisa berperang, terlebih lagi mereka sedang ada masalah dengan belahan Merah yang biasanya membantu perekonomian mereka, begitu juga dengan belahan Naga yang memang sekarang sepertinya sudah dilangkahi wewenangnya oleh belahan Merah dan Hijau atas provokasinya. Untuk belahan Putih ia menggunakan kebesaran namanya yang kiranya dapat meredam mereka semua untuk dapat mengikutinya, namun masalahnya adalah Umar, yang terus melakukan perlawanan dengannya, bahkan ia terus mencari dukungan dari belahan-belahan lain di keluarganya.
Bahkan si Umar inilah yang sepertinya menjadi lawan dari Win dalam setiap aksinya. Otak si Win berpikir keras apa yang harus dilakukan untuk ini.

Bagian ke empat
Sebagai langkah awal Win mencoba untuk mengetahui tentang Umar terlebih dahulu, yang nama lengkapnya adalah Umar Putih, nama Putih merupakan nama belakang dari keluarga besarnya. Sebenarnya Win juga ada gelar Putihnya dibelakang namanya, namun ia enggan menggunakannya karena ia merasa tidak leluasa bergerak bebas dengan nama keluarganya tersebut. Ketika ia melihat berkas Umar Putih dari database yang ada pada organisasi Illuminati yang amat lengkap dan selalu update tersebut.
Sekilas ia teringat ketika pertama kali masuk dalam organisasi ini, ia diterangkan tentang lambang dari organisasi Illuminate, sebuah mata yang seolah-olah melihat semuanya, inilah yang menjadi sebuah tujuan dari organisasi ini bagaimana mereka dapat menguasai informasi untuk kepentingannya. Dan inilah yang tertera pada tattoo dari Nur teman tidurnya itu.
Ketika ia menemukan dokumen tentang Umar ia terpesona dengan track record dari Umar, saat ini ternyata ia sudah mempunyai 2 orang anak dan berhasil mengambil gelar Doktor di Universitas terkenal di Mesir. ternyata di Mesir ia mengikuti banyak organisasi yang salah satunya adalah Ikhwanul Muslim, yang menurut Illuminati merupakan salah satu organisasi yang harus dimusnahkan.
Karena organisasi inilah yang pertama kali membuat permasalahan Palestina menjadi permasalahan dunia internasional dan menggalang dukungan bagi Negara-negara Arab. Bukan itu saja menurut organisasinya Ikhwanul Muslim ini merupakan salah satu organisasi berbahaya yang amat pintar menggalang masa dan mampu menarik simpati nasional dari mereka yang mengikutinya serta orang-orangnya juga mempunyai dedikasi yang kuat baik pekerjaan dan komitmen mereka terhadap organisasi. Bagi Illuminati gerakan organisasi ini lawan utama, karena mereka menggunakan pola yang hampir sama dengan gerakan mereka. Bedanya adalah Ikhwanul Muslim berusaha menggunakan nilai-nilai Ilahi untuk mencapat tujuannya sedangkan Illuminati sebaliknya.
Organisasi ini lah yang sesungguhnya menjadi perusak setiap rencana bagi Illuminati untuk membangun peradaban baru yang lebih rasional dan tidak dibodoh-bodohi oleh pemikiran sempit dari agama-agama. Yang membuat orang menjadi begitu menurut dengan pimpinannya tanpa ada kebebasan, tidak seperti mereka yang bebas itu.
Umar di Mesir menjadi Guru Teladan disana dengan nilai yang amat baik, bahkan ia menikahi anak dari salah satu Guru Besarnya yang kini sudah dibawanya bersamanya. Namun yang membuat ia bingung adalah ternyata nama Umar juga sebagai anggota kehormatan dalam Illuminati. Ketika ia mencoba akses ke situ ia tidak bisa memasukinya. Win tidak mengerti, dengan serta merta ia menelpon Nur.
“Halo Nur, ini aku Win, aku mau bertanya kepadamu,” ujarnya.
“Ya Win ada apa ?” tanya Nur terbangun dari tidurnya.
“Nur, ketika aku membuka arsip di Illuminati aku menemukan bahwa saudaraku Umar juga mengikuti organisasi kita bahkan ia menjadi anggota kehormatan. Tolong beritahu aku yang sebenarnya,” ujar Win dengan sedikit agak kesal.
“Sebentar ya Win, telpon rumahku berbunyi aku akan menjawabnya sebentar,” ujarnya. Mendengar hal tersebut Nur agak kaget bahwa Win bisa akses kepada informasi yang sebenarnya belum waktunya ia bisa mengetahui. Sesaat ia menelpon kepada stafnya yang bertugas untuk menjaga akses dari orang-orang yang bisa memasukinya, sebentar ia berbicara kemudian menutup telpon rumahnya. Kemudian cepat-cepat ia mengangkat telpon Win kembali.
“Win sayang, bagaimana kau bisa masuk ke akses arsip itu, apakah kau menggunakan namaku ya,” tanyanya manja dan tegas.
“Mmmh, iya, maaf aku tidak memberitahumu terlebih dahulu karena kepalaku sudah muak dengan makhluk yang namanya Umar,” jawab Win dengan sedikit perasaan bersalah dan kesal. Memang Win itu adalah manusia yang unik, kalau ia berbuat salah kemudian dikerasi maka ia akan menjadi lebih keras lagi, tapi kalau dilembuti ia akan sedikit melunak. Rupanya Nur sudah mengerti betul karakter dari Win. Sebuah karakter yang didapatkan dari anak-anak korban konflik yang kini sudah dewasa. Nur tahu betul bahwa anak-anak pada masa konflik mempunyai sedikit kelainan pada pertumbuhan otaknya, pada limbiknya. Dalam otak terdapat sebuah batang otak yang bernama korteks, ketika seseorang itu ketika kecilnya selalu dalam tekanan dan kekerasan maka korteksnya akan membesar dan ini mempengaruhi emosinya pada masa yang akan kehidupannya mendatang. Manusia ini sifatnya lebih kepada reaksi, ketika seseorang menghinanya maka reaksinya yang lebih awal terlihat bukan dengan pemikiran terlebih dahulu. “He he memang konflik adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan derajat orang tersebut, mereka akan lebih mudah di cocok hidungnya seperti kerbau, karena pikiran mereka sudah menjadi pendek, sungguh cara ini adalah cara yang paling efektif untuk dapat membuat orang semakin bodoh dan bergantung kepada kita..ha ha,” tawa Nur dalam hati.
“Lain kali jangan seperti itu ya Win. Begini Win, tadi aku ditelpon stafku dari kantor Illuminati, kamu tidak salah Win memang ada yang namanya Umar Putih, tapi itu bukan saudaramu, dia orang arab yang kini sedang ada tugas khusus di sini. Dia adalah salah satu actor senior kita yang mengetahui betul tentang permasalahan Timur Tengah, orang itulah yang membantu kita hingga kini bisa membuat Timur Tengah menjadi terpecah-pecah seperti sekarang, hanya kebetulan saja sama” jawabnya. Namun dalam hati Nur berkata dengan geram “ Dasar kurang ajar, bukan wewenangmu masuk ke situ, kalaupun aku kasih tahu bahwa Ia saudaramu tentunya kamu akan bingung dan tidak akan seserius ini bekerja. Lagian kamu tidak harus tahu semua strategiku, dengan menjadikan Umar sebagai lawanmu maka aku dapat mengetahui siapa-siapa yang kiranya melakukan perlawanan terhadap tujuan kita, dan kita dapat mengantisipasinya. Kalaupun aku kasih tau kau, maka cuma emosi di wajahmu dan dendam di otakmu, rasanya sulit aku membicarakan itu denganmu,”.
Terlihat memang kekaliberan dari Nur dalam memimpin organisasi ini, ia mampu untuk memanaj anak-anak buahnya dan tidak terbawa perasaan terlalu dalam. Dibalik kecantikkan, kesantunan dan kelembutannya memang tersimpan hati batu dan pemikiran iblis. Sungguh organisasi Illuminati memang telah menempa anggotanya menjadi manusia-manusia yang menuhankan akal sehingga tanpa perasaan dan juga tidak mempunyai aturan untuk menggapai tujuannya, mereka menghalalkan segala cara. Bayangkan saja bila ada seorang manusia sempurna secara fisik dan jenius yang tidak berperasaan dan menghalalkan segala cara menggunakan kejeniusannya untuk mencapai tujuannya, gold dan glory untuk membangun peradaban baru versi mereka, sungguh mengerikan.
Dan yang membuat organisasi ini semakin membahayakan adalah kemampuannya dalam melakukan perekrutan actor-aktor lokal, meyakinkan mereka, menghancurkan sifat moralitas mereka, secara sistematis membuat ketergantungan terhadap mereka dan memenuhi semua kebutuhan mereka sehingga ketika seseorang itu masuk ke dalamnya maka ia akan teramat kesulitan untuk keluar lagi, seperti sudah memasuki lingkaran setan. Yang lebih unik lagi mereka tidak pernah memusuhi pihak-pihak Polisi, mereka bahkan merekrut banyak dari mereka untuk kepentingannya. Bagi mereka menguasai media dan pihak-pihak militer atau keamanan merupakan salah satu agenda utama mereka. Kemudian Pemikiran gila mereka lagi adalah ‘No Drugs for us But Yes for others’, mereka punya tidak mau hancur karena narkotika tapi mereka membiarkan hancur orang lain dengan narkotika, edan.
Jadi ketika kita bertemu pimpinan dari kelompok mereka jangan bayangkan dengan wajah-wajah yang kejam, lusuh, kotor dan seperti pembunuh akan tetapi mereka terlihat intelek, santun, necis, agamis, penuh dedikasi dan terlihat bersih dari segala kekotoran dunia. Mereka seringkali ikut dalam organisasi social masyarakat untuk membantunya dan menikmati pertunjukkan seni dan budaya bahkan menjadi members tetapnya. Mereka mampu mengesampingkan sisi lain dari keliaran mereka pada tempatnya. Mmmhhh.
Keesokkan harinya Nur menelpon stafnya meminta aga stafnya menelpon Umar untuk mengadakan pertemuan di Perpustakaan Al Huda, sebuah tempat favorite mereka dalam melakukan pertemuan. Yang menarik dalam organisasi ini adalah ketika mereka melakukan pertemuan dengan yang hampir selevel maka mereka melakukannya pada tempat-tempat yang terkesan jauh dari kotornya dunia. Selain itu Nur juga tahu bahwa ia amat berkepentingan dengan pemikiran dari Umar yang lebih matang dan rasional dari Win.
Siang harinya Nur ijin kepada atasannya di rumah sakit untuk kemudian melakukan pertemuan dengan Umar. Sesampai di sana terlihat Umar sudah sampai terlebih dahulu dan sedang membaca buku.
“Halo, gimana kabar Sob, lama ga jumpa ?” sapa Nur sambil tersenyum.
“Hai, kabar baik Nur, semua baik-baik aja kok. Kamu sendiri gimana ?” tanya Umar.
“Baiklah, aku kan tidak terikat siapa-siapa, jadi hidupku ya suka-suka aku lah,” jawab Nur.
“Ha ha ha,” kedua-duanya tertawa lepas.
“Ada apa Nur, tumben-tumbenan kamu mengajak aku bertemu, biasanya kalau tidak begitu penting kau tidak mau bertemu. Dan lagi jadwal kita masih on time kan, tidak ada masalah,” ujar Umar.
“Begini Umar, kemarin Win telpon aku, dia bisa akses ke database tentang keorganisasian kita dan dia menggunakan namaku untuk akses, sungguh kurang ajar anak itu. Dia menemukan bahwa namamu ada pada Anggota Kehormatan, walau aku sudah klarifikasi bahwa itu Umar yang lain, aku hanya takut bahwa dia nanti akan memaksa kamu,” jawab Nur.
“He he, tenanglah Nur, tahu aku lah, tidak mudah terpancing,” jawab Umar.
“Hmm ia kau tidak terpancing tapi kau juga pion bagi kami, kau hanya gila harta dan kekuasaan tapi kau tidak seberani Win di lapangan. Kami berhasil meyakinkan kamu karena kami berhasil membantu kamu menyelesaikan kuliah sampai dapat gelar Doktor di Mesir, mengangkat derajat kamu dengan memasukkan kamu untuk mengajar pada Universitas paling ternama di kota ini dan kota-kota lain juga ke dalam member kelas elit,” gumam Nur dalam hati.
“Iya Umar, oh ya gimana hasil dari kerja kamu, laporannya donk.” tukas Nur.
“Hmm. Banyak yang tidak suka dengan cara-cara Win, ia terlalu mudah terpancing emosi dan dendam, kata-katanya kadang keluar dari control. Menurut saya ini berbahaya bagi tujuan kita. Tapi walau begitu ia berhasil mengambil hati belahan pedang dan naga, sedangkan belahan kami sendiri hanya seperempat saja,” jawab Umar. “Iya lah, kerjanya hanya menghina Tuhan terang-terangan, bodoh”, kata Umar dalam hati.
“Tapi gimana dengan dari orang-orang yang sekarang mendukung kamu melawan Win, kamu kan bisa cerita sedikit lah kepada ku, biar aku pandai mengambil langkah,” kata Nur. “Percuma kau kami kualihin atau sekalian saja kau kami bunuh,” gumam Nur.
“Inilah yang menjadi masalah ternyata mereka lebih banyak dari yang mendukung Win, kelihatan betul bahwa mereka sudah cape dengan perang ini, malah yang generasi kedua dari aku, mereka lebih aktif dan militant. Tapi yang menarik adalah kebencian mereka kepada kelompoknya si Win semakin meningkat, mereka tidak lagi memikirkan perang mereka, tapi bagaimana menghancurkan si Win. Aku terkadang harus mengerem mereka dengan berbagai cara. Ini sekarang masalah ku Nur,” jawab Umar.
“Lantas apa yang akan kamu lakukan,” tanya Nur. “Ha ha ini adalah pertanda baik bagi organisasi kami, sekali dayung 2, 3 pulau terlampui. Kami akan menghajar kalian semua dari atas dan bawah nantinya, Kami akan mengorbankan kau dan Win dalam sebuah konflik pribadi. Setelah itu kami akan mencari jalan untuk membuat konflik pribadi ini membesar dan terjadilah perang yang kami inginkan,” pikir Nur.
“Sekarang ini aku sedang mencoba masuk secara perlahan untuk bisa meyakinkan mereka untuk berjalan seperti yang sekarang ini, kedamaian, kebencian mereka kepada Win kijadikan sebagai salah satu propaganda aku, tapi tetap aku kontrol. Dan yang terpenting adalah tugasku adalah mengetahui perkembangan dari mereka yang tidak menginginkan adanya peperangan, bukankah begitu Nur. Nanti diakhir pertemuan ini akan aku berikan laporannya, mapping dan keadaan saat ini, per orang dan per sikon” jawab Umar.
Umar walau pintar namun ia merupakan orang yang menyimpan segala ambisinya sehingga ia terkesan menurut dengan apa yang ditugaskannya, yang penting kesejahterannya terpenuhi dan selama itu menguntungkannya, lain halnya dengan Win, ia cerdas tapi sering kali meletup-letup dan kadang tidak terkontrol karena sifatnya reaksioner. Memikirkan hal tersebut Nur hanya tertawa terpingkal-pingkal dalam hatinya karena ia merasa belum mendapat lawan yang cocok semuanya masih bisa diatasi sesuai dengan rencananya.
“Gini Umar, kamu harus bisa membangun loyalitas mereka kepada kamu. Ini tugas kamu tambahan, semua kebutuhan kamu untuk itu akan aku usahakan, dan aku juga sedang berpikir kalau kamulah nantinya yang aku perjuangkan untuk dapat memimpin Keluarga Cahaya setelah selesai masa konflik ini,” ucap Nur tiba-tiba.
Mendengar ucapan Nur, Umar agak terkaget-kaget karena ini tentunya amat menguntungkannya, bukan itu saja karena ini semua merupakan ambisinya yang selalu ia pendam-pendam. Ia sebenarnya selama ini sudah bosan diperintah oleh wanita ini, yang menurutnya membuatnya menjadi gila. Ia sudah berencana untuk dapat keluar dari organisasi gila itu, yang sudah memberikannya banyak hal tersebut. Tadinya ia mencoba untuk memanfaatkan Win sahabatnya, ternyata ia juga sudah masuk dalam lingkaran setan seperti dirinya itu, dan sekarang menjadi musuhnya juga.
“Ah, aku tidak berminat, tapi aku pikirkan terlebih dahulu ya Nur,” jawab Umar sedikit sungkan. Ia berusaha meredam gejolak dirinya, berusaha menahan kegembiraannya dengan ambisinya.
“Sudah lah, tidak usah dipikir panjang kali ini seperti yang sudah-sudah, aku tahu kamu mau kan,” tukas Nur dengan sedikit merayu. “Ayolah, maulah kau betul-betul jadi pion kami, selama ini kau selalu pintar mengelak, kali ini kami tawarkan kekuasaan yang besar kepadamu. Karena kali ini sekali kau masuk maka aku hanya dapat katakan selamat datang di level ke dua” ujar Nur dalam hatinya.
Nur melihat Umar bisa berpotensi untuk ke level selanjutnya. Seorang Umar adalah seorang yang amat rasionalis dan ambisius, inilah yang terpenting. Ia juga tidak gila wanita dan lain sebagainya, ia cerdas. Orang-orang seperti inilah yang bisa jadi pimpinan di organisasi Illimunati penuh ambisi. Tinggal mengarahkan bagaimana caranya mengeluarkan seluruh ambisi gilanya dan mendoktrinnya hingga rasionalitasnya bisa mengalahkan Tuhan.
“Baiklah, saya akan mencoba membuat planningnya untuk kemudian dibicarakan dengan kamu,”ujar Umar dengan datar, walau matanya terlihat berbinar-binar menahan gembiranya dan tangannya bergetar ingin menunjukkan kegembiraannya.
Melihat hal tersebut Nur hanya tertawa dan berkata dalam hati “ Semua sesuai dengan rencana dan SELAMAT DATANG DI LEVEL KE 2.”

Bersambung…

bersambung..

21 Januari 2009

Skenario GAM Jilid ke 2

Setelah saya mengulas tentang bagaimana kefasisan GAM, kemudian saya juga akan mencoba mengangkat sebuah analisa bagaimana GAM ASHOBIYAH kembali membuat GAM JILID ke 2.

GAM ASHOBIYAH sebebarnya saat ini sedang melihat dengan seksama apakah mereka dapat merdeka dengan jalan sekarang ini, dengan jalan DIPLOMASI PURA-PURA. Ketika mereka melakukan diplomasi ini nyata-nyata sebagian dari anggota mereka atau GAM GILA HARTA merasakan bahwa keamanan telah membuat mereka menjadi lebih sejahtera, di saat-saat ini mereka juga mendapatkan berbagai pendekatan dari NKRI untuk dapat mengajak mereka menjadi satu dengan NKRI dengan segala daya tawarnya.

GAM TENGKU yang merupakan salah satu gerakan GAM yang mendahulukan agamanya daripada Harta, melihat bahwa ternyata banyak ketidakadilan dari GAM GILA HARTA sehingga mereka juga mengubah arah perjuangannya, sepertinya tidak lagi untuk kembali MERDEKA SEMU, akan tetapi mereka kini lebih bagaimana agar ISLAM dapat kembali berkibar dengan baik di Aceh.

GAM ASHOBIYAH ketika melihat ini semua rasanya menjadi bimbang dengan tujuan mereka awal dan bagi mereka ini merupakan harga mati, karena nasionalisme mereka sudah demikian tinggi dengan mimpi-mimpi kejayaan Aceh Masa Lalu, mimpi-mimpi Iskandar Muda, atau yang sering kali saya katakan PERANG BODOH, karena perang ini sama hal nya dengan 'Mengejar Mimpi Masa Lalu menjadi Masa Depan dengan Mengorbankan Masa Sekarang'. Inilah inti sebenarnya kebodohan dari perjuangan GAM.

Melihat hal ini semua sebenarnya ada skenarion dari GAM ASHOBIYAH yang lebih tragis lagi, yaitu mereka akan mencoba mengobarkan PERANG TJUMBOK Jilid ke 2, dengan cara mengadudomba GAM GILA HARTA dengan GAM TENGKU. Pertama kali yang akan mereka angkat adalah bagaimana upaya untuk mendiskreditkan PKS atau Partai Islam lainnya, sepertinya utamanya PKS. Mereka mencoba menggosok-gosok PKS. Setelah ini berhasil kemudian mereka akan menggosok-gosok Partai Aceh dengan berbagai provokasi yang tentunya akan membuat semuanya menjadi kacau pada ujungnya. Sehingga akan membuat 2 kutub semakin mengkutub.

Bagi GAM ASHOBIYAH ini akan menjadi hukuman bagi GAM GILA HARTA sekaligus menghilangkan batu-batu perjuangan dari GAM Tengku yang tentunya sekarang sudah mempunyai sebuah pemikiran lain tentang perjuangannya. Walau demikian sepertinya GAM GILA HARTA tersebut sebagian akan kembali menjadi pendukung GAM ASHOBIYAH dan mereka sudah membangun kekuatan atau kasanya ada sebagaian kader GAM ASHOBIYAH yang sudah ditanam sejak awal untuk skenario ini.

Perlu diingat bahwa mereka sudah tahu karakter orang Aceh dengan melihat sejarah masa lalu bahwa akan ada perbedaan pandangan antara TENGKU dan PENGUSAHA/PENGUASA. Bahkan pada akhirnya mereka akan mendapatkan keuntungan dari PERANG tersebut, sebuah cheos yang mau tidak mau membuat rakyat Aceh kembali berhadapan dengan TNI. Inilah yang dinamakan dengan politk tingkat tinggi GAM ASHOBIYAH.

Pertanyaannya sekarang adalah mencegah bagaimana hal ini tidak terjadi, saya akan mencoba memberitahukan caranya.

Pertama, ada baiknya kita terus mengikuti skenario ini, sehingga kita dapat mengetahui siapa lawan dan kawan, boleh sedikit terpancing akan tetapi jangan sampai terlalu dalam. Tentukan terlebih dahulu siapa yang akan didukung, namun tetap berikan masukan-masukan untuk mencegah terjadinya konflik lebih besar. Skenario ini membutuhkan orang-orang yang bermuka dua, dalam artian bisa kesana dan kesini.

Kedua, perseteruan ini yang bermuara dari media massa akan berlanjut kepada fisik dengan berbagai terapi yang akan terus membuat mereka semakin panas. Disnilah GAM Tengku dan GAM GILA HARTA harus bersabar, adalah berbahaya kalau anda kemudian terpancing.NKRI dalam hal ini sebenarnya sebagai pihak yang akan diuntungkan karena jika mereka ingin menghabiskan GAM GILA HARTA dan GAM TENGKU akan menjadi lebih mudah, namun beda halnya dengan GAM ASHOBIYAH yang sudah menunggu mereka semua dijadikan korban karena telah menkhianati perjuangan serta merekrut anggota baru yang militansinya akan timbul karena perang telah mengorbankan kembali Rakyat Aceh.

Oleh karena itu, bila saja NKRI bisa bersabar ketika perang ini terjadi atau sekarang sudah mulai melakukan berbagai upuya pencegahan atau memilih GAM mana yang akan dihabiskan, tentunya ini akan menjadi kemenangan bagi NKRI. Bahkan dengan modal pendukung ALA dan ABBAS utamanya yang juganya telah menanti lahirnya provinsi ini sebagai sebuah konsekwensi dari tidakamannya Aceh kembali. dan disinilah Irwandy CS akan bermain sedemian rupa untuk dapat menghilangkan upaya ini.

Inilah kenapa saya mengatakan GAM itu sudah tidak ada giginya, bahkan jikalau NKRI terpancing maka yang terjadi adalah lahirnya ALA dan ABBAS dan korban dari GAM akan berjatuhan. GAM ASHOBIYAH rasanya kemudian sudah tidak mementingkan ALA dan ABBAS karena mereka hanya akan menganggap itu sebagai provinsi saja, mereka akan berjuang terus lintas Privinsi tersebut. Oleh karena itu ALA dan ABBAS harus mampu mensejahterakan rakyat Aceh.

GAM ASHOBIYAH juga sepertinya sedang berupaya untuk adanya pergantian kepemimpinan mereka, dari konflik ini mereka akan mengumumkan PIMPINAN BARU MEREKA. Mereka akan kembali dari awal membuat GAM Ver Baru. Yang saya kuatirkan hanya korban dari rakyat SIPIL.

Bagi saya GAM Ver Baru itu harus dimusnahkan, tapi rasanya sulit karena mereka tentunya akan mengontrol perjuangannya di LN. Sekarang yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana agar kita bisa mencegah terjadinya perang yang mengorbankan rakyat sipil. Maka rakyat Aceh jangan mau diadudomba, tapi jadikan perbedaan itu sebuah tantangan, dan WASPADA terhadap GAM GILA HARTA, bagi saya jangan PILIH PARTAI ACEH (baca: gabungan susupan GAM GILA HARTA dan GAM ASHOBIYAH) perkuat Partai dengan Nuansa ISLAM di Aceh untuk menegakkan syariat Islam lebih berdiri di Aceh.

Catatan:
Saat ini PKS sudah terus digosok dan sekarang PA juga sedang terus digosok, sebagai upaya untuk mencari simpati rakyat Aceh tentunya. Untuk PKS tentunya sudah punya gerakan politik sendiri yang sepertinya mereka akan lebih bisa mendapatkan simpati rakyat. GAM Tengku rasanya sudah waktunya untuk betul-betul berafiliasi ke sana, sebagai upaya untuk menghilangkan citra GAM ASHOBIYAH dan GILA HARTA dari diri mereka.
Sudah barang tentu bagi NKRI hal yang terbaik adalah menggosok PA, karena sesungguhnya ada perpecahan yang terjadi di situ, perlu adanya sebuah klarifikasi GAM GILA HARTA dan GAM ASHOBIYAH, perlu ada upaya mengetahuinya, sekaligus ketika terjadi konflik maka akan lebih mudah mengorbankan GAM ASHOBIYAH. Inilah yang harus diupayakan NKRI.
Sehingga saran SAYA,

"SUDAHLAH GAM ASBOBIYAH ANDA HENTIKAN PERJUANGAN ANDA, MARILAH MEMBANGUN ACEH TANPA ADA LAGI PEMIKIRAN 'ACEH MERDEKA'"

"GAM TENGKU MARI KITA BERSATU MEMBANGUN ISLAM DI DUNIA, BUKAN LAGI PERANG BODOH"

"GAM GILA HARTA ANDA HARUS CEPAT SADAR KARENA BILA TIDAK RAKYAT ACEH AKAN MENGHUKUM ANDA DAN HILANGKAN MEMBANGUN KEKUATAN BERONTAK LAGI DARI PIKIRAN ANDA"

"NKRI AGAR JANGAN KORBANKAN LAGI RAKYAT ACEH CUKUP DENGAN ALA DAN ABBAS, MAKA ACEH AKAN AMAN SELAMANYA"


Lebih Fasis Mana, GAM atau PKS ?

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya berkenaan dengan GAM Tengku dan GAM Ashobiyah.

Alasan saya kepada anggota GAM yang berasal dari Golongan Tengku, bahwa GAM perjuangannya berangkat dari Fasisme, mereka hanya mementingkan golongannya saja, mereka tidak lagi berorientasi kepada penegakkan syariat Islam di Aceh, tapi sekarang mereka transformasi menjadi lebih mementingkan golongannya saja dengan ditutupi oleh Kemerdekaan Semu, juga dibakar selalu dengan korban yang berjatuhan dari rakyat SIPIL, padahal ini semua juga kesalahan GAM tersebut. GAM juga melupakan bahwa mereka juga menyisakan dendam denagn orang-orang yang telah mereka korbankan karena dianggap sebagai pendukung NKRI.

Kepada GAM Tengku, Islam itu tidak pernah mempersolakan mana yang Jawa, Gayo atau Aceh, perjuangan Tengku yang dahulu sudah tercapai, syariat Islam sudah bisa ditegakkan di Aceh. Namun sekarang GAM telah berafiliasi dengan USA dan Uni Eropa serta GAM sudah GILA HARTA dengan MoU Helsinky. GAM Ashobiyah itu telah bermetamorfosis menjadi kaum MUNAFIQUN yang lebih mementingkan PERUTnya. Mereka sudah membuat MoU Helsinky sebagai projek mereka bukan sebagai kepentingan rakyat Aceh. kepada mereka kah kita harus berserah diri.

Para Tengku sekarang lihat bahwa PKS seolah-olah dijadikan sebagai musuh bersama, padahal mereka hanya hendak mengangkat citra Islam di Aceh, hanya menginginkan Islam dapat menjadi pegangan hidup masyarakat Aceh, tentunya ini merupakan sebuah niat tulus dari Tengku-tengku semua.

Mereka menghina PKS tapi mereka menyanjung GOLKAR karena mereka berhutang budi kepada JK, mereka juga nanti harus siap mendukung Wali Baru mereka SBY dalam Pemilihan Presiden 2009, karena telah memberikan budi kepada mereka. Karena apa Tengku, hanya karena UANG atau GILA HARTA. Dengan orang sedemikiankah kita serahkan hidup kita ?

Masa perjuangan dahulu ketika NKRI masih dipegang oleh Soeharto, GAM dari golongan Tengku lah yang paling berjasa, kita semua sangat begitu menghormati Daud Beureuh dalam perjuangannya. Alasan kita juga ketika ikut perjuangan GAM adalah ingin mengeakkan syariat Islam, tapi GAM ASHOBIYAH itu malah memimpim PERANG ini dari luar negeri, malah dikabarkan menikahi seorang Yahudi. Tentu seperti bumi dengan langit bila dibandingkan dengan Daud Beureuh yang tidak pernah meninggalkan perangnya.

Karena konsep perang FASIS mereka maka rakyat Aceh menjadi korban, mereka menganggap JAWA itu binatang dan penjajah, mereka menganggap orang Aceh lebih tinggi daripada orang Jawa hanya karena kebanggaan bahwa mereka tidak pernah dijajah. Tapi mereka lupa bahwa ASHOBIYAH tidak pernah dibenarkan Islam bahkan dikatakan barang siapa yang hanya memperjuangkan golongannya maka ia bukan golongan Muhammad. Dan mereka juga lupa mereka telah mengorbankan rakyat Aceh yang dahulu ditakuti sekarang seperti menjadi orang-orang yang penuh dengan penderitaan lahir dan bantin, selalu terintimidasi, bahkan yang lebih menderita lagi adalah anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik malah menjadi hancur potensinya. Hanya karena kefasisan mereka maka semuanya dihantam tanpa mau memikirkan akibatnya di masa yang akan datang. Masa 30 tahun, bahkan mungkin lebih Aceh dalam penderitaan seharusnya tidak terjadi apabila kita sebagai muslim lebih mendahulukan agama kita.

Alih-alih menjaga perdamaian, malah oknum-oknum GAM ini sepertinya mendiskreditkan PKS, sungguh sebuah perbuatan yang hanya membuat orang berpikir bahwa memang ada yang salah dengan para korban konflik ini. Kita juga korban konflik, tapi kita masih mendahulukan agama kita, bukan mendahulukan Harta. Hanya karena mereka sekarang GILA HARTA dan lantas ketakutan tidak mendapatkan suara karena PKS dianggap Partai ancaman lantas mereka kehilangan pemikiran.

Padahal PKS sudah terbukti mampu bekerjasama dengan partai manapun baik nasionalis maupun Islam, paradigma mereka juga sudah mulai berubah. Mereka lah yang masih murni untuk memperjuangkan tegaknya sayariat Islam di Aceh, seperti halnya perjuangan kita dahulu Tengku.

Yang lucunya mereka hanya membenci PKS, tidak ada sebuah kata-kata untuk Golkar dan Demokrat, karena mereka sudah punya tugas baru JILAT dan GILA HARTA kepada Golkar dan SBY. Mereka hutang budi dengan MoU Helsinky, sekarang mereka sudah punya mobil bagus, rumah bagus, proyek bagus dan usaha bagus. Tapi mereka tidak pernah mementingkan kepentingan rakyat Aceh. Dan saya yakin ini tentunya sudah tidak sesuai dengan konsep awal perjuangan kita semua, hanya untuk kekuasaan segelintir ORANG GILA HARTA, hanya karena mereka PEGANG SENJATA.

Fasisme mereka sudah mengorbankan ribuan orang Aceh yang matinya belum tentu masuk syurga, karena niatnya perlu dipertanyakan, kalau niat mereka JIHAD maka sekarang bukan saatnya lagi. Kalau niat mereka FASIS Aceh maka mereka belum tentu masuk syurga, perjuangan ASHOBIYAH yang amat dibenci Allah.

Sudah saatnya kembali menjadi Tengku, berjuang demi menegakkan syariat Islam di Aceh.



PKS Partai Tengku, GAM GILA HARTA dan JILAT PARTAI GOLKAR

Kepada anggota mailing list, akhir-akhir ini kita dapat melihat sebuah pemandangan bagaimana terpecahnya Aceh, seperti halnya dengan Perang Tjumbok, sebuah perang yang dikatakan oleh Yusran Habib dalam bukunya 'Status Aceh Dalam NKRI', dengan sebutan PERANG YANG MEMALUKAN.

Namun anda GAM Golongan Tengku tidak usah takut, motto anda adalah 'Hidup Mulia atau Mati Syahid', kepada anggota GAM dalam perjuangannya untuk menegakkan Syari'ah Islam, sekarang anda sudah jelas mana yang menjadi musuh mana yang tidak, yang memberikan syariat Islam adalah Megawati SP, memberi kedamaian adalah SBY dan JK memberikan ketenangan. Tapi sebagai Muslim kita tidak berhutang apa2 , dan ini sesuai dengan perjuangan kita tegaknya Syariat Islam di NAD, ayat Qur'an yang mengatakan untuk mematuhi Pimpinan kita, bukan karena MENJILAT atau GILA HARTA.

Sudah saatnya anda berbelot dari GAM PRAGMATIS, bergabung dengan NKRI, apalah artinya GAM itu hanya beberapa ribu orang yang bersenjata dengan KONSEP PERANG BODOHnya dan SDM yang PENUH DENDAM, terlebih lagi GAM PRAGMATIS itu adalah kumpulan dari para PENJILAT dan GILA HARTA.

Karena saya yakin bahwa dahulu yang memperjuangkan GAM dengan gagah berani adalah orang-orang Islam yang menginginkan berdiri tegaknya syariat Islam di Aceh, militansi anda tidak bisa dibandingkan dengan GAM PRAGMATIS yang ternyata niatnya hanya ASHOBIYAH, atau kemerdekaan SEMU. Bergabunglah kembali dengan umat Islam NKRI, bisa melalui PKS atau partai Islam lainnya. Sudah cukup NIAT anda tersampaikan, sekarang lah bagaimana kita dapat merealisasikan ini semua, membawa ACEH dalam Naungan ISLAM. PKS menurut saya adalah Partai Tengku yang paling cocok, menegakkan syariat Islam.

Tabi BEDA dengan GAM ASHOBIYAH itu, mereka telah terjun ke dalam PERJUANGAN yang tidak diridhoi oleh Allah SWT jika ini diteruskan.

Untuk GAM selain dari Golongan Tengku, dapat saya katakan ANDA MUNAFIK SEMUA, PENJILAT PANTAT, karena sudah saatnya anda menjilat Pantat Partai Golkar karena anda dapat harta dari MoU Helsinky melalui tangan JK, dan juga jangan lupa pilih Wali Nanggroe anda SBY bukan HASAN TIRO dalam PEMILU 2009 nanti, karena anda berhutang budi kepada mereka. Kau pujalah GOLKAR, Kau jiulatlah JK dan teman-temannya.

Sudah saya katakan, anda itu semakin hina sekarang, anda itu tidak punya taring apa-apa kecuali dengan sebutan GILA HARTA, lebih baik kepada anggota GAM yang masih mau mendirikan syariat Islam, sekarang lah saat nya untuk BERPISAH dari GAM, kembali ke khittah, sebagai seorang Tengku.

Islam mempunyai sebuah kebanggaan, karena tidak pernah tunduk kepada yang namanya MANUSIA, hanya tunduk kepada ALLAH, beda dengan KUFFAR, YAHUDI dan ILLUMINATI juga GAM mereka TUNDUK kepada HARTA dan PENJILAT PANTAT serta MUNAFIK bertopeng KEMERDEKAAN BODOH.

Dahulu mereka MENGHINA GOLKAR, sekarnag mereka MEMUJI GOLKAR, dahulu mereka menghina SBY sekarang memuji SBY. MUNAFIK, karena GILA HARTA. Lebih baik PKS, tidak pernah MUNAFIK.

GAM TENGKU, sudah saatnya kita PISAH dari GAM ASHOBIYAH, paling tidak kita kembali PERJUANGAN DAUD BEUREUH bukan HASAN TIRO.

Perbedaan Pendapat Memecah, Didong Jalu Abad 21 ?

Postingan Win Wan Nur

Begini Serinen Kosasih, seperti yang sudah pernah aku katakan, kita ini cuma sekumpulan manusia yang bisanya mencari alasan, ketika itu aku katakan, adalah serinen Kosasih sendiri salah satu dari jenis manusia yang aku maksudkan.

Misalnya ketika China si komunis itu saya contohkan, Indonesia dengan China, amat jauh perbedaannya kata anda. China bisa besar seperti sekarang ini karena ia berhasil dengan system komunisnya ia berhasil membuat upah buruh lebih murah, ia berhasil membuat Negara lebih berkuasa daripada rakyat, tidak ada yang namanya demokrasi dalam berpolitik disana. Saya contohkan Korea Selatan, kata anda erekonomian di Korea Selatan itu didukung sejak awal oleh IMF, seperti halnya dengan Singapura... Lah Soeharto orang Jawa yang menjadi khalifah anda itu, dulu apa tidak begitu juga?

Ketika saya mengatakan itu, saya juga tidak sedang berbicara untuk meng-copy paste apa yang dilakukan Cina dan Korea. Karena Cina dan Korea sendiripun maju dengan cara yang berbeda. Yang saya maksudkan di situ adalah bagaimana semangat dan niat untuk maju itu ada. Sebenarnya itu sudah jelas dalam tulisan saya sebelumnya. Tapi tentu saja saya sangat maklum ketidak mengertian serinen, karena ibarat komputer untuk
mengerti penjelasan saya itu dibutuhkan paling tidak spek minimum, Prosesor Pentium Core 2 Duo dan sistem operasi Windows XP. Sementara saya lihat spek otak serinen Kosasih jelas sekali masih spek lama dengan sistem operasi Dos dengan program CW dan WS-nya.

Soal perseteruan antara Islam dengan non Islam itu yang kata anda akan selalu ada dalam hati setiap manusia, bukan cuma Islam non Islam, serinen. Apapun yang berbeda termasuk sesama saudara sekecil apapun yang namanya perseteruan itu pasti ada. Selalu bakal ada yang lebih dominan dan ada yang terpinggirkan. Dari dulu yang lebih dominan itu selalu kelompok yang setiap menghadapi masalah mampu mencari solusi
yang tepat sasaran. Bukan yang seperti anda ini yang hanya bisa mencari alasan.

Soal terpancing emosi?...Siapapun yang pernah lama mengenal saya, tahu kalau memang dari dulu itu gaya saya seperti itu. Dari dulu saya memang tidak pernah terlalu strik menahan diri, kalau memang situasi membutuhkan harus main fisik ya saya tidak lari.

Seperti soal anak PKS yang serinen permasalahkan. Itu bukan soal hilang akal atau karena emosi. Saya lakukan itu adalah karena saya adalah makhluk yang normal, yang masih punya mekanisme naluriah untuk mempertahankan diri. Apalagi serinen Kosasih Bakar, perlu anda tahu, serinenmu Win Wan Nur ini adalah orang Gayo, bukan pengikut Yesus yang ditampar pipi kanan malah memberikan pipi kiri.

Reaksi saya sedemikian kerasnya kepada si bagudung PKS itu adalah karena seperti saya sebutkan dalam postingan saya kemarin...tuduhan sebagai 'Agen Israel dan Antek Amerika 'dari seorang fanatikus semacam yang disampaikan oleh bagudung simpatisan PKS itu artinya adalah VONIS MATI.

Dan sejujurnya, saya justru merasa aneh ketika serinen yang orang Gayo empermasalahkan ini. Karena meskipun sudah lama tingga di Jawa, saya
tahu darah serinen adalah darah Gayo asli. Seharusnya serinen tahu, kalau darah saya yang orang Gayo ini jauh lebih rendah titik didihnya dibandingkan darah Jawa tetangga serinen di sana. Yang sudah dihina dan diinjak kepalanyapun masih bisa bilang 'inggih ndoro' dengan takzimnya.

Justru saya yang sangat heran dengan serinen...seperti keheranan-keheranan saya terhadap berbagai sikap serinen yang sama sekali tidak mencerminkan sikap orang Gayo sebelumnya. Kali inipun saya juga heran, serinen yang juga Gayo kok tidak mengerti hal yang sangat Gayowi seperti ini. Apakah tinggal di Jawa sudah merusak karakter Gayo serinen sedemikian parahnya?

Soal, mencaci maki anda...kan saya sudah bilang, meskipun kasar saya hanya melakukannya dalam hati. Serinen tahu kenapa?...itu karena saya tahu serinen itu orang Gayo dan itu sangat saya hargai. Karena saya tahu serinen ini orang Gayo, jadi semenyebalkan apapun serinen, segeram apapun saya pada serinen. Serinen Kosasih adalah serinen saya, sama-sama orang Gayo yang jumlah keseluruhannya di dunia ini tak
sampai seperempat juta. Jika perseteruan kita hanya sampai sebatas omongan seperti ini, sampai kapanpun tidak akan pernah keluar dari mulut saya ancaman semacam yang saya keluarkan untuk simpatisan PKS tadi.

Karena itulah serinen, anda bisa melihat standar ganda dalam ancaman saya. Kepada Anak PKS itu saya mengancam begitu kerasnya, tapi kepada serinen Kosasih yang karena saya tahu benar orang Gayo saya cuma memaki, itupun sekali lagi...CUMA DALAM HATI.

Ada dua alasan yang menjadi pertimbangan saya ketika melakukan itu; Pertama adalah karena saya sadar sekali kalau jumlah kita orang Gayo nyaris tidak ada dibandingkan lebih dari 6 milyar penghuni Planet ini. Jadi kalau kita memulai konflik sesama kita sendiri apalagi kalau konflik itu meningkat menjadi saling bunuh seperti di Atu Lintang dulu. Bisa-bisa dua generasi kedepan orang suku kita akan punah dan tinggal cerita hapalan di buku-buku sejarah.

Kedua, berbeda dengan PKS yang fundamentalis yang hanya merasa benar sendiri. Kita orang Gayo ini lain, meskipun kata Cik Yusra Habib Abdul Gani hanya bisa bersebuku dalam menyelesaikan masalah. Tapi di luar itu sebenarnya kitapun banyak memiliki nilai-nilai dan kearifan lokal warisan muyang datu kita yang menyediakan kita perangkat untuk menyelesaikan masalah kita sendiri secara damai, sepanas apapun
perseteruan itu.

Dari dulu, bukan kekerasan fisik, tapi kata-kata adalah media kita orang Gayo dalam melepaskan 'bol' dan emosi di dada. Jadi sepanas apapun kepala saya, sepedas apapun makian saya kepada serinen. Saya tahu, pada akhirnya seperti dalam 'Didong Jalu' kesenian kita...pada akhir acara, akan ada acara maaf-maafan dan mengakui kesalahan.

Jadi serinen Kosasih, mungkin karena serinen lahir dan besar di luar, meskipun kecintaan serinen terhadap Gayo begitu besar tapi rupanya serinen belum terbiasa dengan langgam dan tradisi kita yang terbiasa melepaskan emosi dengan kata-kata. Karena itu, hari ini aku serinenmu yang lahir dan besar di Tanoh Gayo ini mengajari serinen, orang Gayo yang sudah parah terkontaminasi. ..Seperti apa tradisi dan kultur Gayo suku kita ini.

Untuk itu kepada serinen Kosasih aku ucapkan, selamat datang kedalam kultur Gayo...kultur asli muyang datu serinen.

Dan kalau serinen begitu seriusnya menanggapi berbagai komentar saya. Tidak demikian halnya dengan saya. Perlu serinen ketahui, kalau bagi saya sebenarnya adu kata-kata yang saya lakukan dengan serinen di milis dan berbagai media online ini hanyalah sebagai sarana pelepasan hobi saya saja.

Kita orang Gayo ini, seperti ceh-ceh legendaris semaacam Toet, Mahlil dan Lakiki memang sudah bawaan genetik menjadi ahli mengolah kata. Jadi meskipun dalam versi yang lebih modern dan gaya dengan internet sebagai medianya dan bahasa Melayu sebagai bahasa penyampainya. Tapi bagi saya, sebenarnya yang kita lakukan selama ini hanyalah 'Didong Jalu'. Tidak lebih seperti pertarungan antara Sidang Temas melawan
Bujang Arita.

Saya beranggapan begitu, karena sejak beberapa tulisan di awal kemunculan serinen, sejak serinen hanya menuliskan yang itu-itu saja bukan fakta tapi cuma kata-kata menghasut untuk membangkitkan kemarahan massa. Saya sudah tahu persis, semua yang serinen tuliskan di berbagai media online itu blas thok cuma propaganda yang sama
sekali tidak ada isinya. Dan apalagi belakangan saya tahu melalui informasi yang masuk kepada saya, kalau dalam permainan ini serinen Kosasih hanyalah PION, bukan lawan saya yang sebenarnya.

Kalau dalam tulisan serinen sebelumnya serinen mengatakan serinen merasa menang?...ya silahkan saja serinen merasa menang, karena saya tahu itu namanya perasaan yang berasal dari mekanisme dalam proses mental dan interpretasi serinen sendiri. Dalam 'didong jalu', penontonlah wasitnya, penonton yang bisa melihat Ceh mana yang merah muka dan Ceh mana pula yang keluar cirit-biritnya.

Tapi kedepannya, karena serinen Kosasih Bakar jelas sekali adalah Ceh yang masih sangat amatiran. Saya harap nantinya serinen tidak cepat tersinggung, apalagi sampai menangis menerima kenyataan soal pedasnya berbagai sindiran, karena itu semua salah serinen sendiri yang telah nekat berdidong masuk gelanggang melawan Win Wan Nur, Ceh ahli yang sudah sangat berpengalaman. Karena dalam perang kata-kata dalam didong
jalu, tidak ada yang namanya belas kasihan.

Selamat menyaksikan, inilah Didong Jalu di abad ke 21.
Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur. blogspot. com

Ulasan Kosasih Bakar

Wah, semakin seru nich didong jalu kita ya Bang. Tapi bagi saya ini bukan DIDONG lagi, karena didong bukan seperti ini. Tapi ini adalah kemahiran kita dalam menghujat lawan dengan cara sesantun mungkin.



Tenang saja Bang, ‘no hurt feeling’, ketika saya memasuki mailing list ini sebenarnya saya sudah banyak membuang waktu saya karena isinya adalah kebanyakan orang-orang yang pandai mencaci maki dan menggunakan Islam sebagai upayanya untuk memperjuangkan PERANG BODOHnya. Salah satu hal yang menarik hati saya adalah tulisan-tulisan Bang Win Wan Nur.



Mengenai saya pribadi bang, saya PION? Jawabannya ‘TIDAK’,Bang, saya bukan utusan atau wakil siapa-siapa. Tapi kalau ternyata banyak atau ada Saudara saya yang menjadi Raja atau Tuan saya dalam persepsi Bang Win Wan Nur, saya sampai saat ini bukan ‘hamba’ mereka, saya punya kehidupan sendiri hasil dari upaya saya sendiri, bukan dari siapa-siapa. Tentunya tidak bisa disalahkan juga karena mungkin ada hubungan saudara saya dengan yang dianggap Bang Win Wan Nur itu ‘Tuannya’ saya. Masukan itu adalah salah besar, harusnya anda mengkonfirmasikan kepada saya terlebih dahulu. Bahkan terkadang di tengah kesibukkan saya ini saya menyempatkan diri untuk melihat positngan Bang Win Wan Nur, pekerjaan saya juga bukan mengurusi hal-hal ini. Bang Win Wan Nur mungkin dengan aktif di mailing list ini untuk mencari dukungan jika kelak anda ingin kembali ke Aceh guna menjadi Legislatif, tapi saya rasanya TIDAK. Pekerjaan saya sudah tetap dan berkecimpung pada masalah pendidikan, awalanya yang membuat hati saya miris ikut mailing list ini juga lebih karena SDM orang Aceh yang semakin hancur dan potensi konflik yang tinggi juga banyaknya kepentingan yang ingin membuat Aceh menjadi hancur, utamanya Gayo.



Lantas kalau saya dikatakan sebagai Pentium rendahan dan anda pentium tinggi, alangkah baiknya anda melihat itu kembali, jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri. Bisa saja saya contohkan paragraph per paragraph tapi rasanya janganlah dengan sesama orang Gayo, itu hanya akan mendiskreditkan anda lebih jauh lagi.



Kemudian tentang keinginan saya, cuma satu, memang saya terkesan memprovokasi orang tapi dengan satu tujuan yaitu ‘Aceh tanpa Intimidasi’, yang berkembang di Aceh saat ini adalah mengatakan ‘Perdamaian merupakan buah hasil dari GAM’, ini adalah pembohongan publik, lantas ‘MoU Helsinky’ yang ternya juga memperlihatkan bagaimana GAM Gila Harta, ALA dan ABBAS dikatakan sebagai keinginan sebagian orang juga pembohongan publik, hal-hal ini lah yang ingin saya angkat. Karena saya tahu Bang Win Wan Nur bahwa Aceh semakin jauh dari KEMERDEKAAN, kalau pun KONFLIK lagi yang jadi korbannya adalah RAKYAT ACEH, seperti anda. Saya hanya ingin mengajak teman-teman Aceh untuk berpikir ke depan, tidak lagi bermimpi tentang Aceh Merdeka , tapi bermimpi tentang Merdeka dari Kebodohan dan Kemiskinan dengan harapan anak-anak kita bisa bersaing seperti yang Bang Win Wan Nur harapkan.



Terus, kalau dikatakan bahwa saya masih Pentium rendahan atau Ceh rendahan dan anda menganggap diri anda itu lebih tinggi rasanya tidak juga. Dan rasanya siapapun yang mengagung-agungkan dirinya sendiri tentunya ia kesepian dalam hidupnya. Dan bagi saya itu tidak penting bahwa saya buruk atau tidak karena rasanya biarkan orang banyak yang menilai saya, tentunya bukan dari kalangan saya sendiri akan tetapi dari kalangan yang memang tidak diragukan kapablenya. Dan anda menurut saya masih belum layak untuk dapat menilai capable orang lain.



Begini ya Bang Win Wan Nur, seseorang itu ketika ingin menilai capable seseorang maka yang pertama kali dilihat adalah kompetensi dan kualifikasinya, sebenarnya saya juga selama ini begitu memuji anda tapi dalam hati ini begitu mengasihani anda. Saya sama sekali belum melakukan perang dengan anda, saya hanya mencurahkan pemikiran saya dengan apa yang dikatakan oleh anda. Ketika saya melihat kualifikasi anda, maka saya hanya menangis dan menyesal bahwa ternyata tidak heran kenapa Serinen saya bisa seperti ini, begitu dendam kepada Soeharto, atau ketika saya melihat kompetensi anda dan tulisan anda saya semakin menyesal karena tulisan anda itu hanya seperti mengangungkan ’KEAKUAN’ anda, lantas pertanyaannya ’SIAPA ANDA ?’. Tulisan anda itu berputar-putar saja, anda itu menurut saya seharusnya membuat NOVEL. Tapi saya berterima kasih kepada anda karena anda telah memberikan pelajaran kepada saya sehingga saya akhirnya sedikit banyak bisa menulis seperti anda. Dari sisi penulisan anda jarang sekali mengutip sumbernya, jadi kalau anda mau melihat tulisan anda, maka lihat tulisan saya, walau tidak mirip tapi hampir sama. Seperti saya yang tidak melampirkan fakta, begitu juga anda yang hanya menceritakan pengalaman priobadi anda yang menurut saya tidak bisa dijadikan sebagai pegangan.



Pada awalnya saya mengharapkan anda bisa menjadi seperti Yusran Habib, tapi saya salah keakuan anda itu tidak bisa hilang dari diri anda, anda terlalu bangga dengan diri anda, saya mengasihani anda. Seorang pemimpin itu boleh bangga dengan dirinya tapi jangan berlebihan. Saya membaca tulisan Yusran Habib kemudian membaca tulisan anda memang ada yang berbeda, tapi itu wajar anda memang tidak selevel dengan dia, amat jauh.



Sebenarnya sebelum anda terlalu aktif dan tetap bertahan dengan hanya mempoting tulisan-tulisan anda sesekali, anda ingin menunjukkan kualitas anda, tapi sekali lagi anda mudah terpancing. Dan inilah sesungguhnya diri anda yang sebenar-benarnya.



Semakin lama tulisan-tulisan anda semakin bias, semakin lama anda hanya menceritakan pengalaman pribadi anda yang ditulis dalam mailing list umum. Anda sudah semakin kehilangan kekhasan anda dalam menulis, tapi ini dapat disadari karena anda mungkin dalam emosi yang sangat besar dengan makhluk yang namanya PKS itu. Saya semakin melihatnya ketika membaca facebook anda, bahkan sampai-sampai anda mengatakan bahwa PKS mengancam keselamatan anda karena anda dianggap sebagai antek-antek Yahudi dan Zionis.



Inilah kebingungan saya Bang Win Wan Nur, dari sini saya dapat menilai kalau anda itu belum layak jadi seorang pemimpin, hanya karena postingan email pribadi seseorang yang mengaku PKS maka anda dengan serta merta menghajar PKS, jadi sudah tentu anda tidak bedanya dengan Diktator lainnya, atau menurut saya dalam jiwa anda itu ada sifat diktator yang terpendam. Atau seperti yang sering kali saya katakan bahwa anda juga merupakan salah satu korban konflik, sehingga setiap anak korban konflik itu biasanya perkembangan otaknya agak terganggu, korteksnya membesar sehingga ada kelainan dalam limbiknya yang mengatur masalah emosi pada seorang manusia. Dan ini amat berbahaya, ini juga lah yang sering saya katakan kalau akan ada terus potensi konflik bila orang-orang seperti anda tidak segera diberikan penanganan khusus masalah emosi.



Khusus masalah PKS, Bang Win Wan Nur harus tahu kalau banyak dari GAM yang dulu ikut memperjuangkan Aceh Merdeka hanya menginginkan tegaknya syariat Islam di Aceh, dan dari tujuan perjuangan mereka sudah mendapatkannya. Bang Win Wan Nur tentu juga tahu kalau GAM sekarang sudah terpecah, dan banyak diantara mereka yang dahulu simpatisan GAM sekarang beralih ke Partai Islam dan salah satunya adalah PKS. Bukankah saya katakan sebagai contohnya Perang Tjumbok. Karena jika mereka terus menerus digosok maka orang-orang seperti ini akan keluar jiwa fundamentalisnya dan saya hanya tidak ingin Aceh kembali konflik. Karena kalaupun konflik yang akan jadi korban adalah GAM dan masyarakat Aceh, jangan mimpi lantas Uni Eropa dan USA atau PBB kemudian membantu anda, akan ada jarak waktu. Bukankah Palstin dapat dijadikan contoh. Karena anda ISLAM, itu saja alasannya. Ada sebuah ayat yang selalu digunakan oleh kaum fundamentalis firman Allah ” Tidak akan pernah senang Yahudi dan Ahlil Kitab sampai kamu mengikut pola hidup mereka”. Daripada mereka melihat Aceh Merdeka dengan kekuatan Islamnya maka lebih baik Aceh itu dalam keadaan konflik dan penurunan SDM serta penurunan keimanannya.



Kemudian Bang Win Wan Nur dengan gagah berani mendiskreditkan PKS dengan mengatakan bahwa PKS merupakan antek USA dan Yahudi, tapi disisi lain orang banyak mengetahui bahwa PKS merupakan gambaran dari Ikhwanul Muslim yang merupakan Gerakan yang paling dibenci Yahudi dan USA. Apakah Bang Win Wan Nur tahu kalau anda kemudian ditertawai orang ? Tidak saja oleh PKS tapi juga oleh antek Yahudi dan USA itu sendiri, bukannya alih-alih kemudian mencari siapa Bang Win Wan Nur, malah kemudian mereka menganggap rendah anda. Atau mereka yang lebih pintar hanya beranggapan seperti anda kepada saya, mereka paling berkata ’Ah, orang ini hanya mau diperhatikan, tapi ternyata orang ini bukan siapa-siapa,” atau berkata ”Huh, bodoh sekali orang ini, mau memancing-mancing kita, lagian apa untungnya kalau kemudian kita terpancing kepada dia, NKRI sudah final, tidak jelas orang itu,” atau yang amat pintar berkata ”sudah biarkan saja, nanti juga hilang dengan sendirinya” atau yang ahli psikologi mengatakan ’sudahlah, ada gangguan dengan emosi dia, hanya gara-gara email lantas kebakaran jenggot dan kemudian dalam pemikirannya merasa akan dibunuh, ini mungkin akibat trauma masa lalu,”. Sungguh ini yang saya tidak mau terjadi dengan Bang Win Wan Nur, karena anda Serinen saya.



Lantas masalah Soeharto, sudah sering saya katakan kalau saya benci Soeharto, tapi bukan lantas kemudian kami menggunakan kebencian itu untuk mengorbankan Rakyat Aceh, bukan itu. Lihatlah bagaiman orang-orang Jawa yang kamu benci itu telah berhasil membuat sebuah konsep demokrasi yang lebih bagus dari pada anda semua, bahkan dikatakan Indonesia sekarang merupakan negara yang paling demokrasi di dunia. Atau lihatlah Pemerintahan Jawa yang kamu benci itu ternyata sekarang bisa memberikan gebrakan dengan KPK nya, bisa menjadi DK Tidak Tetap PBB, tapi GAM, hanya pandai berperang, selalu diberikan janji palsu. Dahulu oleh NKRI sekarang oleh USA dan Uni Eropa, kenapa anda dari GAM tidak berpikir. Terlebih lagi dengan terpilihnya Obama, jauhlah harapan kemerdekaan anda, jika anda GAM. Karena memang Aceh itu sekarang ’nothing’, ditambah lagi dengan GAM Gila Harta.



Wah anda dengan bangga mengatakan bahwa kalau main fisik maka saya tidak akan lari, tapi anda sekarang tinggal di Bali, kenapa anda tidak tinggal di Banda Aceh ? Kenapa anda harus cari rezeki di wilayah yang anda benci ? Apakah anda tidak malu ?



Terakhir, untuk pion itu, kembali saya menjelaskan bahwa saya bukan suruhan siapa-siapa, kalaupun kemudian saya ditangkap oleh TNI atau GAM BODOH dengan alasan telah menimbulkan upaya provokasi maka tidak ada seorang pun yang menyuruh saya, murni karena ketidakadilan yang di dapat orang Aceh.



Permohonan maaf saya kepada Bang Win Wan Nur, saya sudah menerima tantangan upaya untuk menjatuhkan lawan atau black campaign lawan anda. Dan saya juga akan mulai belajar bagaimana mengeluarkan kata-kata yang seperti anda katakan ’tidak ada belas kasihan’, saya akan semakin belajar. Yang saya hanya ingatkan adalah ’nothing to loss with me’. Dan saya juga mempelajari sebuah ilmu yang menurut saya menarik, Tai Chi, bagaimana anda menggunakan kekuatan lawan untuk menjatuhkan lawan, dan saya banyak belajar dari anda. Dan yang membuat saya heran adalah bahwa ternyata anda sendiri yang menganggap bahwa anda adalah Ceh kelas tinggi tapi disisi lain anda yang mengatakan bahwa yang melakukan penilaian adalah penonton. Bingung.



Berijin.

Kosasih Bakar

www.cossalabu. blogspot. com