19 November 2008

Pragmatism Sebagai Pembenaran (Dialog dengan Nadzar)

--- On Tue, 11/18/08, m.nadzar wrote:
From: m.nadzar


Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia....! !!!!
pragmatisme sedang digulirkan di tengah tengah masyarakat Aceh guna menghasilkan suatu kepentingan pemilik ide untuk membelah suasana dan kondisi yang ujung ujungnya kepentingan suatu golongan dan politik..... .....

Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas dan fakta lapangan,atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas.

Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.

Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tidak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide mana kala ide tersebut lebih dari kemauan dan keinginan pemiliknya membuat suatu standart kepentingannya dan ide akan menjadi objek negative jika pihak yang berkeinginan menjadikannya pembenaran dangan suatu alasan kebebasan berfikir dan berkarya.... .

Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi suatu penelitian yang dihasilkan dengan mengambil kesimpulan final kebenarannya, keputusan yang di hasilkan akal yang terbatas tidaklah tepat di jadikan ide keyakinan diri seseorang menembus ke wilayah privat dan publik standard nilain kebenarannya masih berada terbatas pula...

Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide–baik individu, kelompok, dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah melalui pengujian kepada objet positif dalam seluruh ruang dan waktu. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri pada pola yang diragukan dari apa yang timbulkan oleh perubahan subjek penilai suatu ide yang di hasilkan seseorang dalam membuat perubahan pada suatu sisi kehidupan yang berbeda....


Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce , yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

Tentu saja, Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa ke Asia,Asia tenggara, hingga ke nanggroe Aceh William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan "nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama". Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes dan John Locke , Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme.
Pragmatisme, tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. Dalam konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia –yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia atas dasar kebebasan berpikir objek positif bebas pula subjek negatif mencampur adukkan antara batas hak dan kewajiban manusia sebagai ciptaan Tuhan, kebebasan akal mengolah tindakan, hendaknya membuka mata melihat lingkungan apakah suatu tindakan dari kebebasan berfikir itu menjadi ancaman lingkungan itu sendiri..

Atas dasar itu, mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang, yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya, sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme, sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia..... ........

Ulasan Kosasih

Ketika saya membaca tulisan ini saya langsung mencari di google tentang apa itu arti Pragmatisme, dari hasil search saya ternyata ada beberapa pandangan tentang pragmatism, sebagai berikut sebagai bahan perbandingan teman-teman untuk berdiskusi:

Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas. Pragmatisme adalah satu aliran falsafah yang berasal dari Amerika Syarikat pada lewat kurun 1880an. Sebagai salah satu ciri utamanya, aliran pragmatisme menekankan bahawa kehasilan, kepenggunaan, kepraktikalan adalah komponent utama untuk kebenaran.

Dari:

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0407/07/opini/1129962.htm

Abad ke-19 menghasilkan tokoh-tokoh pemikir, di antaranya ialah Karl Marx (1818-1883) di kontinen Eropa dan William James (1842-1910) di kontinen Amerika. Kedua pemikir itu mengklaim telah menemukan kebenaran. Marx, yang terpengaruh positivisme, melahirkan sosialisme dan James, seorang relativis, melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, yaitu industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan, kepraktisan, getting things done. Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria bagi kebenaran. James berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful. Karena kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang mendukung bisnis dan politik Amerika. Dengan adanya pragmatisme tidak ada sosialisme di Amerika. (Ada memang Partai Komunis Amerika dan toko-toko buku Marxisme. Tetapi, baik sosialisme maupun komunisme tidak pernah diperhitungkan dalam dunia politik). Kaum buruh Amerika juga menjadi pendukung kapitalisme karena mereka ikut berkepentingan. Hampir-hampir tidak ada ada kritik terhadap kapitalisme, kecuali dari gerakan The New Left pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Sekalipun William James menulis Varieties of Religious Experiences, tidak berarti bahwa dia mendukung kesadaran beragama. Selama pengalaman keagamaan itu berguna bagi yang bersangkutan, maka ia benar. Dengan demikian, pragmatisme adalah relativisme. Tidak ada kebenaran abadi dan mutlak, segalanya tergantung pada apakah "kebenaran" itu berguna atau tidak.

Dari: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10925

Pragmatisme: Sejarah Pragmatisme
Charles Sanders Pierce, sebagai bapak pramagtisme yang memaklumatkan pemikirannya pada tahun 1878 di Amerika, kemudian dia menulis sebuah buku dengan judul : “ How to Make Our Ideas Clear”. Secara kelahirannya, adalah William James yang mempopulerkan lewat tulisannya yang berjudul “Philosophycal Conceptions and Practical Result” tahun 1898. Aliran ini semakin berkembang, apalagi John Dewey dalam bukunya yang berjudul “Democracy and Education” ;” Reconstruction in Philosophy” ; dan “Experience in Education” serta “How We Think” menyoroti secara tuntas dan terbuka mengenai pragmatisme. Namun , John Dewey dan para pengikutnya lebih suka menyebut pemikirannya tentang pragmatisme sebagai Instrumentalisme”

Aliran ini tersebar luas dalam koridor filsafat modern. Pragmatisme merupakan inti dari filsafat pragmatik, dan menentukan nilai pengetahuan berdasarkan kegunaan praktisnya.

Kegunaan praktis disini, bukan berarti adanya pengakuan kebenaran obyektif dengan kriteria praksis, melainkan apa yang memenuhi kepentingan-kepentingan subyek individu.

Ulasan saya:

Setelah saya membaca tulisan-tulisan tersebut serta mencoba untuk mengerti apa yang diungkapkan oleh Tgk. Nadzar, cukup lama saya mencoba untuk memahaminya. Lalu saya membaca kembali tulisan Tgk. Nadzar, barulah saya kemudian mengerti inti permasalahannya.

Kembali tulisan ini seolah-olah ingin kembali membangun pencitraan terhadap GAM atau yang sekarang namanya adalah Partai Aceh. Padahal sesungguhnya yang pragmatis itu adalah GAM sekarang ini, mereka telah berhasil sampai pada keinginan diawal melakukan pemberontakkan, hanya untuk kepentingan perut saja, bukan kepentingan rakyat Aceh secara keseluruhan. Sekali lagi ini semua terlihat pada MoU Helsinky.

Seperti eranya Soeharto yang mencoba menghilangkan pemikiran-pemikiran yang datang mengkritisi setiap kebijakan dari Soeharto, demikian juga dengan GAM sekarang, masih tetap melakukan propaganda-propaganda yang bertujuan untuk cuci tangan atau menutp-nutupi kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan saat yang lalu, saat ini dan rencana terpendam mereka saat yang akan datang. Mereka menjadi pragmatis dengan mengatasnamakan Aceh Merdeka, mereka berupaya membangun nasionalisme yang sempit yang sama sekali tidak sesuai dengan karakter Aceh itu sendiri, hanya karakter dari Aceh Pemberontak saja. Dan ini dapat dikatakan pragmatis juga.

Ketika tulisan Nadzar mengatakan:

“Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi suatu penelitian yang dihasilkan dengan mengambil kesimpulan final kebenarannya, keputusan yang di hasilkan akal yang terbatas tidaklah tepat di jadikan ide keyakinan diri seseorang menembus ke wilayah privat dan publik standard nilain kebenarannya masih berada terbatas pula...”

Sama dengan halnya ia berkata bahwa dahulu Hasan Tiro telah menafikkan aktivitas intelelektualnya dan menggantikannya dengan identifikasi instinktif, Hasan Tiro telah memutuskan untuk memilih melakukan pemberontakkan atas nama Rakyat Aceh, padahal itu hanya berdasarkan kesimpulan dari seseorang saja dan instinknya saja. Ia tidak pernah memikirkan akibatnya yang akan terjadi pada masa setelahnya. Bahkan sudah banyak memakan korban yang sia-sia dalam waktu yang amat panjang, jelas ia menggunakan instink dalam mengambil keputusannya.

Bahkan bisa dikatakan pragmatism bila GAM melalui Partai Lokalnya tetap memperjuangkan kemerdekaan NKRI melalui Deklarasi Kemerdekaan setelah mereka berhasil menguasai legislative di NAD. Karena mereka lagi-lagi sudah berusaha melakukan pembenaran yang akan dilakukan dalam mencapai kemerdekaan yang mereka inginkan, jika secara bersenjata tidak mungkin, referendum seperti Tim-tim juga gagal, maka dengan menguasai legislative di seluruh NAD untuk kemudian Deklarasi adalah jalan yang paling mungkin, walau diperlukan kerja keras untuk mencapainya, katakana saja menuju Perdamaian Abadi (Kemerdekaan).

Atau dapat dikatakan pragmatis juga apabila dalam MoU Helsinky lebih banyak diberikan keuntungan bagi mantan GAM, dengan 2 dampak, yaitu GAM akan lebih makmur dan menyusun kekuatan kembali, sekaligus TNI dapat mendata para anggota GAM yang dengan suka rela mendaftarkan diri dan bangga menjadi anggota KPA saat ini, kemudian memperjuangkan Parta Aceh untuk usahanya tersebut.

Bahkan ketika Nadzar mengungkapkan:

Pragmatisme, tak diingkari telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya lama maupun baru. Dalam konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia –yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia atas dasar kebebasan berpikir objek positif bebas pula subjek negatif mencampur adukkan antara batas hak dan kewajiban manusia sebagai ciptaan Tuhan, kebebasan akal mengolah tindakan, hendaknya membuka mata melihat lingkungan apakah suatu tindakan dari kebebasan berfikir itu menjadi ancaman lingkungan itu sendiri..

Sekali lagi ketika Hasan Tiro berfikir untuk merdeka kembali ia pragmatis, seharusnya ia memikirkan dengan baik antara standar pemikiran dan standar perbuatan manusia (baca à memprediksikan apa yang akan terjadi ketika ia mulai melakukan pemberontakkan), hendaknya ia membuka mata melihat lingkungan apakah tindakan Hasan Tiro menjadi ancaman bagi lingkungan sekitarnya. Apakah pemberontakkan itu tidak meyusahkan rakyat Aceh keseluruhan, apakah pemberontakkan itu adalah upayan pihak-pihak asing untuk membuat Negara Islam yang terbesar di dunia ini menjadi tidak aman. Sungguh Hasan Tiro telah berpikiran amat pragmatis.

Selanjutnya Nadzar berkata:

Atas dasar itu, mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang, yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan mengkritisinya, sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme, sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia..... ........

Semua rakyat Aceh amat setuju dengan akhir dari tulisan ini, bagaimana caranya kita menjinakkan bahaya pragmatis dari Gerakan Aceh Merdeka, bila perlu kita hancurkan ide pragmatism nya dengan membagi Aceh menjadi 3, memekarkan wilayah untuk mencegah semakin mengentalnya ide pragmatis kemerdekaan GAM. Dan sudah saatnya GAM yang tidak mempunyai ideolagi yang jelas itu kita konstruksi lagi untuk tidak lagi menghalalkan darah sesame muslim ditumpahkan di Aceh, sudah cukup rakyat Aceh menderita.

Nah,saya menuliskan ini semua sebagai contoh kepada kita semua bahwa ternyata pragmatism itu merupakan sebuah filsafat yang bisa saja diartikan kedalam setiap kehidupan ini, ntah itu oleh GAM, Orde Baru, Orde Lama, bahkan secara pribadi atau dalam sebuah keluarga, tergantung bagaimana kita memandangnya.

Pragmatisme bahkan di AS berhasil meredam bahaya komunisme untuk tidak tumbuh disana, sehingga menghilangkan idelisme dari Komunis itu sendiri. Masyarakat dituntut untuk dapat menghadapi kenyataan yang realistis dan saat ini untuk dapat mengambil tindakan-tindakan dalam menghadapinya. Maka itu pula sebagian dari kaum pragmatis ini ingin disebut dengan “Instrumentalisme”, mereka memandang hidup ini sebagai bagian dari kegiatan-kegiatan atau saling berhubungan ketika menggapai sebuah tujuan. Bila dilihat sebenarnya ada persamaan antara Pragmatism dengan Islam, ini bisa dibuktikan dari tulisan William James menulis Varieties of Religious Experiences atau adanya gerakan Pragmatism Religius. Perbedaannya dengan Islam adalah dalam Islam masih ada sebuah idealism yaitu Surga dan Neraka, jadi setiap perbuatan yang dilakukan berujung-ujung ke pahala dan dosa untuk mencegah kebablasan yang mungkin terjadi dari kebebasan berpikir dan bertindak tersebut atau keimanan kepada Allah lah yang menjadi koridornya.

Saya hanya sarankan kepada teman-teman semua janganlah kita mengekang kebebasan berpikir karena itu adalah pembodohan, sedangkan Islam mengajarkan kita untuk membaca, mengetahui pemikiran musuh kita, agama adalah akal, menjadi Ulil Albab, tidak boleh taqlid, tidak ada pengkultusan individu, jadi Islam memberikan kita kebebasan untuk berpikir dan untuk tindakkannyalah yang dikoridori oleh Iman.

Jadi ketika kita mulai melakukan kajian filsafat, maka saran saya kepada teman-teman agar menuliskannya dengan menggunakan contoh sehingga mudah dimengerti dan didialogkan, jangan anda sendiri yang hanya mengerti. Dan juga perlu diingat oleh teman-teman filsafat itu amatlah luas dan unik, sungguh menyenangkan belajar filsafat itu karena kita dapat menyelami berbagai pemikiran yang ada pada manusia, dan yang terbaik dari mereka yang belajar adalah memberitahukan kapan sebuah filsafat tersebut dipergunakan dan keterkaitannya dengan filsafat-filsafat lain. Karena mereka semuanya adalah pemikiran-pemikiran manusia.

Sekali lagi berikan kepada rakyat Aceh itu pendidikan yang bagus, bukan lagi mencekoki dengan pemaksaan-pemaksaan pemikiran yang hanya menguntungkan golongan saja. Seperti halnya filsafat pragmatism, sebuah filsafat yang mengajarkan manusia untuk menghadapi permasalahan hidupnya secara realistis, mari ajarkan rakyat Aceh bahwa mereka adalah makhluk yang bebas untuk berpikir, saling berdialog untuk memberikan hujjah bukan untuk menang kalah akan tetapi menggapai kebenaran.

Tidak ada komentar: